Buletin Palawija
Not a member yet
    162 research outputs found

    Profil dan Peluang Pengembangan Ubi Jalar untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Agroindustri

    Full text link
    Ubi jalar merupakan tanaman pangan yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Sebagai sumber karbohidrat, ubi jalar banyak dimanfaatkan untuk bahan pangan, pakan maupun bahan baku industri. Sejalan dengan program diversifikasi pangan yang menjadikan sumber karbohidrat alternatif selain beras, perkembangan industri kimia berbasis ubi jalar, dan berkembangnya industri pakan ternak, kebutuhan ubi jalar dipastikan akan meningkat tajam sehingga diperlukan peningkatan produksi baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan areal komoditas tanaman tersebut. Ketersediaan lahan yang masih luas, teknologi produksi dan pasar yang masih terbuka merupakan potensi untuk pengembangan ubi jalar di Indonesia. Potensi sekaligus peluang tersebut dapat direalisasikan melalui upaya pelatihan, bimbingan berkelanjutan dan fasilitasi permodalan, penyediaan sarana produksi bagi petani serta kemitraan yang adil dengan pengusaha/industri berbasis ubi jalar

    Beberapa Jenis Beneficial Microbe Asal Lahan Kering Masam, Lampung Tengah

    Full text link
    Pemanfaatan lahan kering masam banyak dihadapkan pada beberapa kendala, ditinjau dari aspek fisis, kimiawi, dan biologis tanah. Pengelolaan lahan kering masam perlu dilakukan untuk meningkatkan produktivitasnya, antara lain dengan memanfaatkan aktivitas mikroba tanah yang terkandung di dalamnya. Populasi mikroba pada lahan kering masam Lampung Tengah tergolong rendah, namun mempunyai biodiversitas yang tinggi. Ada beberapa jenis mikroba yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman, yang keberadaannya perlu dikembangkan agar dapat dimanfaatkan dalam penyediaan unsur hara, terutama nitrogen dan fosfat. Beberapa jenis beneficial microbe dari lahan kering masam Lampung Tengah antara lain jenis bakteri penambat nitrogen non-simbiotik, bakteri dan jamur pelarut fosfat, serta mikoriza vesikular-arbuskular. Isolat-isolat murni dari beneficial microbe ini perlu dikembangkan dan diaplikasikan kembali ke lahan kering masam asalnya untuk meningkatkan produktivitas lahan, karena sudah bersifat adaptif dan toleran terhadap lingkungan tumbuhnya

    PENYAKIT VIRUS TANAMAN UBIJALAR DAN UPAYA PENGENDALIANNYA

    Full text link
    Di Indonesia, tanaman ubijalar (Ipomoea batatas) merupakan sumber karbohidrat yang penting sebagai bahan pangan, pakan maupun bahan baku berbagai industri pangan/non-pangan. Namun demikian karena bukan merupakan komoditas utama, penelitian dan pengembangan komoditas tersebut masih terbatas. Pada tahun 2011, rata-rata nasional hasil ubijalar adalah 12,2 t/ha, masih di bawah potensi hasil beberapa varietas unggul yang mencapai 30–35 t/ha. Salah satu penyebab rendahnya produktivitas ubijalar adalah adanya infeksi virus. Hingga kini di Indonesia, paling tidak terdapat enam jenis virus yang menginfeksi tanaman ubijalar yaitu: Sweet potato feathery mottle virus (SPFMV), sweet potato mild mottle virus (SPMMV), Sweet potato latent virus (SPLV), Sweet potato chlorotic fleck virus (SPCFV), Sweet potato virus-6 (SPV-6) dan Sweet potato virus-8 (SPV-8). Diduga Sweet potato virus disease (SPVD) yang merupakan infeksi ganda SPFMV+SPCSV juga telah ada di Indonesia. Di luar negeri infeksi virus telah terbukti secara nyata merugikan. Infeksi SPVD dapat mengakibatkan kehilangan hasil hingga 90%. Pengendalian penyakit virus dapat dilakukan dengan merakit varietas tahan/toleran, menanam bibit sehat, pengaturan lokasi/musim tanam, rotasi tanam, dan pengendalian vektor dengan pestisida. Pendekatan PHT dengan melaksanakan sekolah lapang bagi petani akan lebih meningkatkan efektivitas pengendalian penyakit virus

    Penentuan Kebutuhan Pupuk P Untuk Tanaman Kedelai, Kacang Tanah Dan Kacang Hijau Berdasarkan Uji Tanah Di Lahan Kering Masam Ultisol

    Full text link
    Ketersediaan P pada tanah masam umumnya rendah sehingga diperlukan pemupukan P. Pemupukan P yang didasarkan pada status kandungan P dalam tanah dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemupukan. Kebutuhan pupuk dapat diketahui melalui kalibrasi uji tanah. Kalibrasi uji tanah merupakan percobaan tentang tanggap tanaman terhadap pemupukan pada status hara tanah tertentu. Tingkat ketersediaan hara dalam tanah dinyatakan dalam tingkat rendah, sedang, dan tinggi, atau dalam suatu kisaran kandungan hara tertentu. Uji kalibrasi juga dapat dilakukan pada lokasi dengan status hara tanah bervariasi dari rendah sampai tinggi. Kandungan hara P dalam tanah dengan Bray I di lahan kering masam Ultisol termasuk pada kategori rendah untuk tanaman kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau masing-masing adalah <5 ppm P2O5, <9 ppm P2O5, dan <7 ppm P2O5. Metode Bray I dan Bray II adalah metode yang baik untuk menduga tingkat ketersediaan P untuk kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau pada tanah Ultisol

    ENDEMIK KEPIK HIJAU PUCAT, Piezodorus hybneri Gmelin (HEMIPTERA: PENTATOMIDAE) DAN PENGENDALIANNYA

    Full text link
    Kepik hijau pucat, P. hybneri Gmelin (Hemiptera: Pentatomidae) merupakan hama penting pada tanaman kedelai. Hama ini mulai menyerang kedelai sejak tanaman berumur 35 hari setelah tanam (HST). Imago dan nimfa merusak dengan cara menusukkan stiletnya ke kulit polong langsung ke biji untuk mengisap cairan makanan. Akibat serangan yang ditimbulkan tergantung pada fase pertumbuhan polong dan biji waktu terjadi serangan, serta banyak dan letak tusukan pada biji. Tanda kerusakan akibat serangan P. hybneri adalah bintik coklat pada biji atau kulit polong bagian dalam. Serangan pengisap polong ini menyebabkan kualitas dan hasil panen berkurang dan mengakibatkan daya kecambah biji menurun. Peningkatan serangan P. hybneri diduga berkaitan dengan makin luasnya pertanaman kedelai dan tersedianya tanaman inang (pakan) secara terus menerus sepanjang tahun. Upaya pengendalian P. hybneri yang selama ini dilakukan adalah dengan menggunakan insektisida, kultur teknik, dan penggunaan musuh alami. Pengendalian secara kultur teknik dapat dilakukan dengan tanam serempak, penggunaan varietas tahan, pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang, sanitasi selektif terhadap tanaman inang, dan penanaman tanaman perangkap. Selain itu, menggunakan pestisida secara bijaksana agar dapat meningkatkan peran musuh alami seperti laba-laba (Araneidae) dan semut (Formicidae) dalam menekan populasi P. hybneri di pertanaman

    PENINGKATAN EFEKTIVITAS Nuclear Polyhedrosis Virus (NPV) DENGAN BEBERAPA BAHAN PEMBAWA UNTUK MENGENDALIKAN HAMA POLONG KEDELAI Helicoverpa armigera

    No full text
    Ulat perusak polong, Helicoverpa armigera merupakan salah satu hama penting pada tanaman kedelai, dapat menurunkan stabilitas produksi kedelai. Kehilangan hasil akibat serangan hama tersebut dapat mencapai 90%. Sampai saat ini cara pengendalian terhadap hama tersebut masih mengandalkan insektisida kimia. Disamping biayanya lebih mahal, pengendalian secara kimiawi dapat mengganggu populasi parasitoid dan predator. Pemanfaatan NPV untuk pengendalian hama H. armigera di Balitkabi, menunjukkan bahwa NPV mempunyai prospek yang baik untuk mengendalikan H. armigera. Mortalitas ulat akibat terinfeksi HaNPV di laboratorium sangat tinggi bahkan hampir 100%. Di rumah kaca mortalitas mengalami penurunan yang cukup rendah, dan penurunan mortalitas lebih besar terjadi pada saataplikasi HaNPV di lapangan. Hal ini disebabkan karena HaNPV sangat peka terhadap sinar matahari khususnya sinar ultarviolet. Oleh karena itu diperlukan rekayasa formulasi untuk mengurangi tingkat penurunan mortalitas tersebut dengan suatu bahan pembawa yang diformulasikan dengan HaNPV. Di lapangan formulasi HaNPV dengan konsentrasi 15 x 1011 PIBs/ha dengan bahan pembawa Tween 80 sebanyak 40% dari volume semprot mampu mematikan ulat sampai 70%, dengan penurunan daya bunuh dari rumah kaca ke lapang sebesar 22%. Sedangkan waktu aplikasi yang dilakukan lebih sore dari biasanya mortalitas ulat dapat meningkat mencapai 86%

    Development processing of cassava into cassava flour and modified cassava flour in Lampung Province

    Full text link
    Fresh cassava rots are perishableif not treated immediately after harvest,because it has high of water content (65%). Processingof cassava into intermediate product such as flourcan be developed in the producing areas, because itis easily practiced by farmers with simple equipment.Flour can be further processed into a variety of foodproducts. Cassava flour processing technology is animprovement of cassava flour processing. Currently,modified cassava flour processing technologyhas beendeveloped by adding a starter during fermentation/immersion. This resulted in better quality of theflour, such as whiter colour, reduced spesific aromaof cassava, and the increase in peak viscosity. It canbe used as a substitute of wheat flour, rice flour orglutinous rice flour about 15–30%, for as cakes,muffins, and noodles. Application cassava flour, bothmodification and without modification is prospectiveto be developed in term of supporting food diversificationprogram in Lampung Province as a centerof cassava production in Indones

    EFIKASI CENDAWAN ENTOMOPATOGEN Lecanicillium lecanii (Zare & Gams) UNTUK PENGENDALIAN HAMA KEPIK COKLAT PADA KEDELAI

    Full text link
    Kepik coklat (Riptortus linearis) merupakan salah satu hama pengisap polong kedelai yang sangat penting karena mampu menyebabkan kehilangan hasil hingga mencapai 80%. Lebih dari 95% petani kedelai dalam mengendalikan hama tersebut hanya mengandalkan keampuhan dari insektisida kimia. Lecanicillium lecanii merupakan salah satu jenis cendawan entomopatogen yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama kepik coklat. Cendawan ini bersifat kosmopolit sehingga mudah ditemukan di daerah tropis maupun subtropis dan mempunyai inang meliputi; ordo Orthoptera, Hemiptera, Homoptera, Thysanoptera, Hymenoptera, Coleoptera, dan Lepidoptera. Cendawan tumbuh pada suhu 15–30 oC namun suhu optimum terjadi pada suhu 25 oC. Kelebihan cendawan tersebut mampu menginfeksi semua stadia kepik coklat, baik stadia nimfa, imago maupun stadia telur. Efikasi cendawan L. lecanii terhadap kepik coklat nimfa instar I dan II lebih tinggi dibandingkan terhadap imago. Meskipun stadia nimfa dan imago juga dapat terinfeksi oleh cendawan namun mobilitas kedua stadia serangga tersebut cukup tinggi sehingga suspensi konidia cendawan yang diaplikasikan kurang infektif. Aplikasi cendawan L. lecanii pada stadia telur lebih efektif dan mampu menekan perkembangan populasi kepik coklat hingga di bawah ambang kendali karena hama sudah ditekan lebih awal sebelum terjadi peledakan. Stadia telur belum mampu merusak polong kedelai, dan stadia telur tidak dapat dikendalikan menggunakan insektisida kimia. Pengendalian telur kepik coklat menggunakan cendawan L. lecanii dianjurkan pada telur yang baru diletakkan oleh imago (0–1 hari) atau pertama kali R. linearis datang di pertanaman kedelai varietas Wilis yaitu terjadi pada umur 35 hari setelah tanam (HST). Ditinjau dari beberapa efikasi L. lecanii maka cendawan tersebut sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai bioinsektisida dalam program pengelolaan hama terpadu kepik coklat

    STRATEGI PEMBENTUKAN VARIETAS UNGGUL KEDELAI ADAPTIF LAHAN PASANG SURUT

    Full text link
    Ekstensifikasi ke luar pulau Jawa merupakan salah satu cara dalam usaha peningkatan produksi kedelai di Indonesia, karena masih terdapat banyak lahan yang belum termanfaatkan secara optimal. Salah satu lahan tersebut adalah lahan pasang surut yang mencapai 20,192 juta hektar. Dalam pengembangan kedelai di wilayah ini, diperlukan suatu varietas adaptif lahan pasang surut karena habitat kedelai sebenarnya adalah di lahan yang bebas dari genangan air. Strategi pembentukan kedelai adaptif lahan pasang surut mengacu pada pemecahan masalah utama, yaitu genangan diikuti dengan pemecahan masalah lainnya seperti kemasaman tanah serta defisiensi unsur hara makro dan toksisitas unsur hara mikro. Oleh karena itu lingkungan seleksi memegang peranan utama dalam pembentukan varietas adaptif ini. Selain itu, kriteria seleksi juga sangat penting karena menentukan pemilihan galur-galur adaptif. Metode identifikasi juga penting karena menentukan mekanisme ketahanan yang dimiliki oleh genotipe terpilih, dan dapat dilakukan berdasarkan pada karakter fisiologis, morfologis, dan agronomis. Pada dasarnya arah pengembangan merupakan faktor utama strategi pembentukan varietas adaptif ditetapkan

    SIMULASI VIGOR DAYA SIMPAN BENIH KEDELAI MENGGUNAKAN MODEL SISTEM DINAMIK

    Full text link
    Salah satu permasalahan dalam pengembangan produksi kedelai (Glycine max L. Merr.) adalah daya simpan benih kedelai yang lebih pendek dibandingkan benih kelompok ortodoks lainnya. Oleh karena itu, pengembangan model simulasi vigor daya simpan benih kedelai yang disimpan secara terbuka sangat diperlukan. Salah satu penyebab pendeknya daya simpan benih kedelai adalah tingginya kandungan protein benih. Benih kedelai akan memiliki daya simpan yang panjang, jika viabilitas awal benih tinggi dan kadar air sebelum disimpan berada pada tingkat aman. Selain itu, penggunaan kemasan simpan yang kedap udara akan meningkatkan daya simpan benih karena mampu melindungi benih dari pengaruh lingkungan simpan. Pendugaan daya simpan benih kedelai dapat dilakukan secara cepat menggunakan model sistem dinamik berdasarkan simulasi vigor daya simpan benih (VDS). Model sistem dinamik simulasi vigor daya simpan benih kedelai dapat dijadikan alat bantu dalam penentuan mutu benih selama penyimpanan. Dengan menggunakan kemasan karung plastik, diperoleh tingkat koefisien determinasi (R2) model sistem dinamik penyimpanan benih kedelai sebesar 0,929 untuk kedelai varietas Detam-1, nilai R2 0,743 untuk kedelai varietas Anjasmoro, nilai R2 0,964 untuk kedelai varietas Wilis, dan R2 0,867 untuk kedelai varietas Tanggamus. Untuk mendukung aplikasi praktis model sistem dinamik penyimpanan benih kedelai, disarankan mengembangkan database konstanta kadar air keseimbangan benih kedelai guna meningkatkan kehandalan dari model (ratarata R2 >0,95)

    131

    full texts

    162

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Palawija
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇