Buletin Palawija
Not a member yet
162 research outputs found
Sort by
Strategi Pengembangan dan Peningkatan Produktivitas Kacang Tanah pada Lahan Kering Masam di Kalimantan Selatan
ngkat petani adalah sekitar 1 t/ha, sedang di tingkat penelitian dapat mencapai lebih dari 2 t/ha. Dengan demikian terdapat senjang hasil dan peluang peningkatan produktivitas kacang tanah yang besar. Swasembada kacang tanah untuk Indonesia sebenarnya dapat dicapai dengan beban teknis yang sangat ringan. Komponen teknologi inovatif dan berdaya saing hasil penelitian pada lahan kering yang dicirikan oleh jenis tanah Inceptisol-Entisol (Latosol, Regosol), Podsolik Merah Kuning (Ultisol) dan Oxisol (Latosol) dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) Tanah diolah sampai gembur, bersih dari gulma. (2) Penggunaan kapur pertanian atau Dolomit 500–1.000 kg/ha dan pupuk kandang/organik 5 t/ha. (3) Drainase/parit pematusan dibuat dengan jarak antara 4–5 m. (4) Kacang tanah varietas unggul adaptif (Badak, Trenggiling, Simpai) maupun lokal diberi perlakuan Marshal 25 ST dengan takaran 20 g/kg benih. (5) Sistem tanam baris tunggal dengan jarak tanam 40 cm x 10–15cm atau baris ganda 50 cm x 30 cm x 15 cm satu biji/lubang. (6) Pupuk diberikan pada saat tanam memakai 50 kg Urea + 50 kg P-alam + (50–75) kg pupuk KCl atau ZK Plus/ha. (7) Pengendalian hama dengan insektisida (Marshal 200 EC atau Curacron 500 EC dengan takaran 2–3 cc/l) pada umur 25, 35, dan 45 hst. (8) Pengendalian penyakit dengan fungisida (Topsin cair 1–2 cc/l atau Topsin padat 1– 2 g/l) pada umur 35, 45, dan 60 hst. (9) Pengendalian gulma secara mekanis, kultur teknis, biologis, atau kimiawi. (10) Pupuk daun pemacu pertumbuhan (Ogata D dan B, Gandasil D dan B) pada umur 15, 25, 35, 50, dan 65 hst. (11) Memakai ajuvan Alkyl aril alkoksilat dengan konsentrasi 0,04–0,06% bersamaan kegiatan pengendalian OPT dan aplikasi pupuk daun. (12) Penanganan panen dan pasca panen secara tepat. Kalimantan memiliki potensi lahan kering yang luas untuk pengembangan sistem produksi kacang tanah. Sebelum dilakukan pengembangan sistem produksi perlu dilakukan evaluasi kelayakan teknologi budidaya kacang tanah melalui program pengelolaan tanaman terpadu kacang tanah (PTT kacang tanah). Pengembangan kacang tanah pada skala agribisnis dan agroindustri harus dilaksanakan dengan pendekatan holistik mulai dari hulu sampai ke hilir
Arti Penting Penularan Virus Lewat Biji Kacang-kacangan dan Hubungannya dengan Sertifikasi dan Produksi Benih Sehat
Salah satu penyebab rendahnya produktivitas tanaman kacang-kacangan (kedelai, kacang tanah dan kacang hijau) di Indonesia adalah karena sebagian besar petani masih menggunakan benih asalan yang tidak terjamin kualitasnya. Benih sehat merupakan modal utama dalam usaha tani tanaman kacang-kacangan, namun sejauh ini kesehatan benih (terutama terhadap patogen virus) belum dimasukkan dalam program sertifikasi benih. Di Indonesia, diantara lebih dari 15 jenis penyakit virus yang menyerang tanaman kacang-kacangan, tujuh di antaranya ditularkan melalui biji. Penularan virus dari induk tanaman sakit terjadi melalui infeksi sel telur dan/atau tepungsari. Virus terdapat di dalam jaringan kulit biji atau embrio (kotiledon dan lembaga) biji terinfeksi. Sejauh ini belum ada usaha perlakuan benih secara fisik maupun kimiawi yang dapat menginaktifkan virus di dalam embrio tanpa mempengaruhi viabilitas benih tersebut. Penularan virus melalui biji terbukti memegang peranan penting dalam penyebarluasan dan perkembangan epidemi penyakit virus di lapang. Deteksi virus dalam biji dapat dilakukan dengan cara sederhana dengan mengamati langsung secara visual, uji ditumbuhkan, uji infektivitas hingga teknik serologi uji presipitasi, uji aglutinasi, immunosorbent electron microscopy, ELISA, RISA, dan nucleic acid hybridization. Permasalahan yang timbul dalam penerapan uji serologi adalah ketersediaan antiserum dan bahan bahan kimia. Benih yang relatif bebas virus dapat diproduksi dengan cara menghindari sumber infeksi awal dengan mulai dengan penggunaan benih sehat, menghilangkan tanaman terinfeksi dan sumber infeksi lain di lapang, mencegah masuk dan tersebarnya virus ke pertanaman dengan isolasi tempat dan waktu, pengendalian vektor serta menanam varietas tahan atau yang tidak menularkan virus lewat biji. Sertifikasi kesehatan benih (terhadap patogen virus) sebaiknya diterapkan secara bertahap dalam program sertifikasi benih. Untuk itu pemurnian dan produksi antiserum virus kacang-kacangan perlu dilakukan di dalam negeri oleh lembaga penelitian/perguruan tinggi/swasta bersamaan dengan peningkatan SDM dan fasilita