Buletin Palawija
Not a member yet
    162 research outputs found

    TEKNOLOGI BUDIDAYA TUMPANGSARI UBIKAYU–KACANG TANAH MENDUKUNG SISTEM INTEGRASI TERNAK–TANAMAN PADA LAHAN KERING MASAM

    Full text link
    Untuk pasokan bahan pangan dan industri pemerintah Indonesia berupaya meningkatkan produksi beberapa produk pertanian, di antaranya adalah ubikayu, kacang tanah, dan daging sapi. Dalam meningkatkan produksi ketiga komoditas tersebut, dihadapkan pada sejumlah permasalahan, di antaranya areal tanam/panen yang belum luas, penerapan teknologi yang belum optimal sehingga produktivitasnya rendah, kekurangan pakan, dan ketidak-cukupan modal untuk menyediakan sarana produksi. Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, upaya yang dinilai strategis adalah pengembangan pertanaman tumpangsari ubikayu dengan kacang tanah untuk mendukung sistem usahatani Integrasi ternak-tanaman pada lahan kering masam yang banyak tersebar di luar Jawa. Untuk ini diperlukan dukungan teknologi yang tepat agar usaha pertanaman menjadi produktif dan efisien. Berkenaan dengan itu kini telah tersedia komponen teknologi, yakni meliputi: (a) varietas unggul ubikayu, diantaranya Adira-4, Malang-4, Malang-6, UJ-5, dan UJ-3, (b) varietas unggul kacang tanah, di antaranya Kancil, Jerapah, Tuban, dan Bison, (3) tanah harus diolah, (d) pengaturan tanaman, yakni pada awal musim hujan menanam kacang tanah secara monokultur berjarak tanam 15 cm x 40 cm, ubikayu ditanam 20 hari kemudian secara sistem baris ganda dengan pengaturan jarak tanam (60 cm x 70 cm) x 260 cm; setelah kacang tanah pertama dipanen, kacang tanah kedua ditanam dalam lorong antara baris ganda ubikayu, (e) stek ubikayu dengan panjang 20-25 cm dan diameter 2-3 cm yang diperoleh dari pertanaman yang berumur 7–12 bulan, ditanam secara vertical, (f) pemupukan: (a) untuk ubikayu 170 kg Urea+85 kg SP36+70 kg KCl+5.000 kg pupuk kandang/ha, sedang (b) bagi kacang tanah adalah untuk kacang tanah pertama 50 kg Urea+100 kg SP36+100 kg KCl+1.500 kg pupuk kandang/ha atau 1.500 kg/ha pupuk organik kaya hara Santap rakitan Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, sedangkan untuk untuk kacang tanah kedua 35 kg Urea+70 kg SP36+70 kg KCl+1.000 kg pupuk kandang/ha; atau 1.000 kg pupuk organik kaya hara Santap. Jika kejenuhan Al lebih dari 30%, lahan harus dikapur untuk menurunkan kejenuhan Al hingga menjadi 30%, tetapi kalau kejenuhan Al kurang dari 30% pemberian kapur cukup 500 kg/ha. Pada sistem pertanaman tumpangsari tersebut, akan diperoleh pakan sebagai hasil samping tanaman berupa: (a) daun ubikayu segar 5,9 t/ha, (b) kulit ubikayu segar 8,1 t/ha, dan (c) brangkasan kacang tanah segar 17,9 t/ha

    Potensi Ekstrak Biji Mimba Sebagai Insektisida Nabati

    Full text link
    Resistensi hama terhadap insektisida merupakan fenomena global yang dirasakan oleh semua pemangku kepentingan (Stakeholders) terutama petani baik di negara maju maupun di negara berkembang seperti Indonesia. Mimba, Azadirachta indica merupakan salah satu insektisida nabati yang efektif dan relatif aman terhadap lingkungan. Tanaman mimba mengandung senyawa azadirachtin, salanin, meliantriol, nimbin, dan nimbidin yang dapat mempengaruhi aktivitas biologi serangga hama. Azadirachtin dapat mengganggu pertumbuhan serangga, bertindak sebagai penurun nafsu makan dan pemandul. Salanin bekerja sebagai zat penurun nafsu makan hama dan meliantriol sebagai penghalau hama (repellent). Serbuk biji mimba berpotensi cukup efektif untuk mengendalikan hama kutu kebul (Bemisia tabaci), ulat grayak (Spodoptera litura), dan hama penggerek polong, Maruca testulalis pada tanaman kacang-kacangan

    HAMA TUNGAU MERAH Tetranychus urticae PADA TANAMAN UBIKAYU DAN UPAYA PENGENDALIANNYA

    Full text link
    Ubikayu merupakan bahan pangan sumber karbohidrat sesudah beras dan jagung. Produktivitas ubikayu di Indonesia tergolong masih rendah yaitu sekitar 18 t/ha. Salah satu faktor penyebab rendahnya produktivitas ubikayu tersebut adalah adanya serangan hama tungau merah Tetranychus urticae. Sejauh ini petani belum mengendalian jasad pengganggu secara optimal. Untuk mengatasi masalah tersebut perpaduan antara dua atau lebih komponen pengendalian sangat diperlukan sehingga hasil dapat ditingkatkan, pendapatan petani meningkat serta kelestarian dan kesehatan lingkungan tetap terjaga. Beberapa komponen pengendalian yang dapat diterapkan untuk mengendalikan hama tungau merah adalah pengendalian secara kultur teknis dengan menggunakan varietas agak tahan seperti MLG 10113, MLG 10077, 07 DHL, Adira-4, OMM9601-140, OMM9601-142, OMM9601-70 dan MLG-10075, sanitasi lingkungan, secara mekanis dan pengendalian secara biologis dengan menggunakan pemangsa Oligota minuta dan beberapa dari famili Coccinellidae dan jamur patogen dari genus Neozygites (Zygomycetes: Enthomophthora) dan Hirsuta (Hypomycetes: Monilia), serta penyemprotan dengan pestisida nabati maupun kimia

    TELAAH PENYEBAB GEJALA “GAPONG” PADA KACANG TANAH

    Full text link
    Istilah “gapong” yang mulai dipublikasikan pada tahun 1930an digunakan untuk menamakan polong kacang tanah yang tidak berisi, polong berwarna hitam, kulit polong rapuh, dan kadang-kadang ditandai adanya polong busuk. Banyak petani di bekas Karesidenan Cirebon mengeluhkan gejala ini, karena menimbulkan kerugian ekonomi sangat besar, melebihi kerugian karena serangan penyakit daun. Hingga kini penyebab utama “gapong” masih belum diketahui sehingga cara penanganannya juga belum ditemukan. Hasil survei tanaman kacang tanah di Kab. Cirebon dan Majalengka pada musim kemarau tahun 2008 menunjukkan bahwa istilah “gapong” digunakan untuk menunjuk keadaan polong yang tidak sehat dengan beragam keadaan. Namun demikian apabila dipilah-pilahkan maka “gapong” dapat disebabkan oleh serangan nematoda, hama tanah, penyakit tular tanah, maupun karena luka mekanis (terluka oleh alat-alat pertanian) yang sangat memungkinkan untuk dikendalikan atau ditekan serangannya dengan menggunakan pestisida atau teknologi pengendalian lainnya. Sedangkan fenomena “gapong” yang mendasarkan pada keadaan polong yang berwarna hitam, kulit polong bagian luar melepuh seperti terbakar, berserabut dan rapuh serta diikuti oleh batang yang kaku, daun berukuran lebih kecil dan kaku, hingga kini masih belum dapat diatasi

    POTENSI DAN DUKUNGAN TEKNOLOGI UNTUK PENGEMBANGAN KEDELAI DI LAHAN KERING MASAM LAMPUNG TENGAH

    Full text link
    Potensi lahan kering masam untuk pengembangan kedelai di Lampung Tengah cukup besar. Petani di kabupaten ini sebagian besar bertanam jagung dan ubi kayu dengan area tanam sekitar 86 ribu ha dan 90 ribu ha/tahun. Dengan distribusi curah hujan yang mencapai 7–9 bulan basah dan 2–4 bulan kering/tahun, memungkinkan untuk bertanam kedelai monokultur setelah jagung atau tumpangsari ubi kayu + jagung /kedelai terutama di tanah ber pH >4 menggunakan varietas tahan masam. Petani akan tertarik bertanam kedelai apabila harganya cukup baik dan aspek agribisnisnya mulai dari penyediaan sarana produksi (up-stream agribusiness), teknik budidaya (on-farm agribusiness), hingga pengolahan hasil dan tataniaga (down-stream agribusiness) dapat diperbaiki dan bersinergi dengan baik. Apabila 60% petani jagung dan ubi kayu tertarik bertanam kedelai dan dapat mencapai hasil 70% dari hasil penelitian kedelai monokultur yang dapat mencapai 2,0 t/ha dan tumpangsari 1,0 t/ha, maka Lampung Tengah akan mampu memberi sumbangan produksi kedelai sekitar 100 ribu ton/tahun dengan tanpa mengurangi produksi jagung dan ubi kayu

    PEMULIAAN KACANG TANAH UNTUK KETAHANAN TERHADAP LAYU BAKTERI Ralstonia DI INDONESIA

    Full text link
    Penyakit layu bakteri Ralstonia solanacearum E.F. Smith adalah kendala biotik penting dalam budidaya kacang tanah di Indonesia. Penyakit tersebut sukar dikendalikan dengan hanya satu cara, sehingga perlu dilakukan pengendalian secara terpadu. Penggunaan varietas tahan merupakan komponen penting dalam pengendalian penyakit layu bakteri pada kacang tanah dan salah satu faktor yang dapat menunjang stabilitas hasil. Arti penting ketahanan terhadap penyakit bakteri telah disadari oleh pemulia kacang tanah di Indonesia, sehingga genotipe tahan layu selalu digunakan sebagai salah satu tetua dalam persilangan buatan. Namun, pada kenyataannya ketahanan pada varietas yang didapatkan belum ada yang melebihi atau menyamai ketahanan tetuanya sehingga area penyebaran varietas unggul yang dihasilkan menjadi terbatas. Untuk memperbaiki tingkat dan stabilitas ketahanan terhadap penyakit layu bakteri pada varietas unggul kacang tanah diperlukan beberapa informasi, diantaranya informasi terinci tentang status distribusi penyakit layu terkini, keragaman strain R. solanacearum di lintas sentra produksi, skrining ekstensif plasma nutfah kacang tanah untuk mendapatkan sumber ketahanan yang lebih tinggi dengan karakteristik agronomi yang lebih baik, studi sistematis genetika pewarisan gen pengendali karakter ketahanan untuk memperluas latar belakang genetik ketahanan dan mengetahui hubungan genetik antara ketahanan terhadap penyakit layu bakteri dan penyakit lain, ketahanan terhadap kekeringan, dan penyakit lainnya. Selain itu diperlukan kajian mekanisme dan komponen ketahanan kacang tanah terhadap layu bakteri R. solanacearum untuk memperbaiki teknik penilaian ketahanan dan identifikasi genotipe tahan. Studi yang menyeluruh dan sistematis tentang aspek-aspek penyakit layu bakteri tersebut akan meningkatkan efektivitas strategi pengendalian dan pengembangan varietas unggul kacang tanah dengan ketahanan yang lebih tinggi

    RESPONS TANAMAN KEDELAI TERHADAP LINGKUNGAN TUMBUH

    Full text link
    Tanaman kedelai (Glycine max L.) dapat memberikan respon positif dan negatif terhadap perubahan lingkungan tumbuh di atas tanah maupun di dalam tanah. Respon tersebut dapat diketahui dari perubahan perubahan fenotipik dan fisiologis tanaman. Lingkungan di atas tanah yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman kedelai terutama adalah lama dan intensitas penyinaran, suhu udara dan kandungan CO2 di atmosfer. Lama penyinaran yang optimal adalah 10-12 jam. Berkurangnya intensitas cahaya matahari menyebabkan tanaman tumbuh lebih tinggi, ruas antar buku lebih panjang, jumlah daun dan jumlah polong lebih sedikit, dan ukuran biji semakin kecil.Respon kedelai terhadap perubahan suhu tergantung pada fase pertumbuhan. Suhu yang sesuai pada fase perkecambahan adalah 15-22oC, fase pembungaan 20-25oC, dan pada fase pemasakan 15-22oC. Peningkatan CO2 atmosfer dari 349 µL menjadi 700 µL meningkatkan laju pertukaran karbon (C), menurunkan laju transpirasi, dan meningkatkan efisiensi penggunaan air. Kondisi lingkungan di dalam tanah yang berperan terhadap pertumbuhan kedelai terutama adalah tekstur tanah, kadar air tanah dan unsur hara, unsur-unsur toksik, kemasaman tanah, suhu tanah, dan salinitas. Kedelai tumbuh baik pada tanah bertekstur ringan hingga berat, namun tanah yang padat (BI >1,38 kg/m3) tidak sesuai untuk kedelai. Kebutuhan air tanaman kedelai pada fase generatif lebih tinggi dibandingkan pada fase vegetatif, sehingga pada fase generatif lebih peka terhadap kekeringan terutama pada fase pembungaan hingga pengisian polong. Kandungan air optimal adalah 70-85% dari kapasitas lapangan. Kandungan unsur hara tanah harus di atas batas kekahatan agar tanaman tumbuh optimal. Nilai kritis suatu unsur hara dalam tanah beragam tergantung jenis tanah dan metode analisis yang digunakan. Pengaruh suhu tanah terutama pada fase perkecambahan, dan suhu tanah optimal adalah 24,2-32,8°C. Kedelai agak sensitif terhadap kemasaman tanah, unsur-unsur toksik, dan salinitas. Nilai kritis pH, Al, Mn, dan salinitas berturut-turut adalah pH 5,5, Al-dd 1,33 me/100 g, Mn 3,3 ppm, dan 1,3 dS/m. Rhizobium berperan dalam memasok kebutuhan N tanaman kedelai, namun inokulasi tidak efektif pada tanah yang sering ditanami kedelai

    KONSERVASI KOLEKSI PLASMA NUTFAH UBI JALAR

    Full text link
    Konservasi koleksi plasma nutfah ubijalar (Konservasi koleksi plasma nutfah ubijalar Ipomoea batatas (L.) Lam) perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya erosi genetic dan menjaga kelestarian sumberdaya genetik tanaman. Keragaman genetik diperlukan oleh pemulia tanaman dalam perakitan varietas unggul baru. Jenis aksesi dalam koleksi beragam, terdiri dari: varietas unggul lama hingga yang terbaru, varietas lokal dari berbagai daerah di Indonesia, varietas/klon introduksi dari luar negeri, mutan dan klon-klon harapan. Konservasi dilakukan dengan cara memeliharasejumlah tanaman hidup di lapang, pada suatu hamparan lahan yang dibentuk  guludan-guludan dan di dalam pot-pot beton yang diisi dengan media campuran tanah dan pupuk kandang. Pemeliharaan tanaman dilakukan secara intensif. Beberapa permasalahan dalam konservasi tanaman di lapang adalah cekaman biotik seperti kekeringan dan genangan serta dan cekaman abiotik yaitu kutu kebul, penyakit virus ubijalar, hama boleng dan hama tungau puru. Pada tahun 2009 tanaman koleksi berjumlah 402 aksesi, namun hingga musim hujan 2011/2012 jumlah tersebut berkurang menjadi 274 aksesi karena kematian tanaman akibat cekaman-cekaman tersebut di atas. Alternatif cara konservasi lainnya yang dapat diterapkan adalah menyimpan kultur jaringan atau menyimpan biji dari persilangan terbuka. Kontribusi plasma nutfah dalam pemuliaantanaman adalah sebagai cadangan varietas dan sebagai bahan perbaikan varietas. Sebelum dimanfaatkan sebagai tetua donor, keunggulan suatu aksesi diuji melalui tahapan evaluasi, baik terhadap kualitas umbi maupun sifat toleransi/ketahanan tanaman terhadap cekaman biotik dan abiotik. Kontribusi plasma nutfah untuk mendukung kegiatan pemuliaan tanaman adalah dihasilkannya 19 varietas unggul ubijalar yang sudah dilepas sejak tahun 1977 hingga 2009.

    POTENSI NEMATODA ENTOMOPATOGEN UNTUK MENGENDALIKAN ULAT GRAYAK PADA TANAMAN KEDELAI

    Full text link
    Hama merupakan salah satu kendala mempertahankan dan meningkatkan produksi kedelai, khususnya di daerah beriklim tropis. Ulat grayak (Spodoptera litura F.) adalah hama penting pada tanaman kedelai. Strategi pengendalian ulat grayak menggunakan prinsip-prinsip pengendalian hama terpadu (PHT) yang ramah lingkungan. PHT menekankan penggunaan agens hayati dengan tujuan menyeimbangkan antara populasi hama dengan musuh alaminya. Oleh karena itu, musuh alami adalah komponen penting dalam PHT. Nematoda entomopatogen (NEP) dari genus Steinernema dan Heterorhabditis dengan bakteri simbionnya memiliki potensi besar sebagai agens hayati untuk mengendalikan ulat grayak. Dari semua stadia kehidupan NEP, hanya juvenil infektif stadia-3 (IJs) yang mampu bertahan hidup di luar tubuh inang dan membawa bakteri simbion (Xenorhabdus sp. untuk Steinernema dan Photorhabdus sp. untuk Heterorhabditis). Saat berada di bagian hemokul inang, bakteri dilepaskan, bakteri dengan cepat memperbanyak diri, dan 2–3 hari kemudian serangga inang mati. Mortalitas inang bergantung pada spesies NEP. Mortalitas sebesar 94,6, 90,4, 86,6, dan 58,6%, disebabkan oleh S. carpocapsae, S. glaseri, H. bacteriophora, dan H. indica 72 jam setelah inokulasi. Untuk keperluan uji laboratorium dan lapang skala kecil, NEP dibiakkan pada ulat Galleria mellonella. Pada satu ekor ulat G. mellonella dihasilkan H. bacteriophora, S. carpocapsae, dan S. glaseri masing-masing sebanyak 135.000, 128.000, dan 133.000 IJs

    DERAAN KEKERINGAN PADA TANAMAN UBIJALAR

    Full text link
    Isu perubahan iklim secara global merupakan salah satu tantangan bagi para ahli di bidang masing-masing yang berkaitan dengan iklim. Bidang pertanian menerima dampak yang banyak meresahkan petani. Kekeringan yang berkepanjangan mengakibatkan turunnya produksi pangan lebih dari 22%, bahkan di Papua penurunan produksi pangan lebih dari 50%. Sejak terjadi bencana kekeringan pada tahun 1997 yang berkelanjutan mengakibatkan, kematian yang tinggi pada pertanaman ubijalar (Ipomoea batatas (L.) Lam). Namun masih terdapat kultivar yang tersisa yang diharapkan merupakan kultivar yang secara genetis toleran terhadap deraan kekeringan. Sebagai reaksi terhadap bencana kekeringan telah dilakukan pengujian ketahanan ubijalar terhadap deraan kekeringan dan hasilnya sangat beragam antarkultivar. Hasil evaluasi ketahanan plasma nutfah ubijalar asal Papua yang telah dilakukan tahun 1998 telah diperoleh 14 kultivar yang toleran terhadap kekeringan dan mampu menghasilkan umbi pada perlakuan kekeringan. Penelitian ketahanan terhadap kekeringan di Balitkabi terus berlanjut hingga sekarang, namun indikator morfologis dan fisiologis belum dapat diketahui secara pasti. Pada kultivar ubijalar tertentu kelayuan tajuk dapat digunakan sebagai indikator peka terhadap kekeringan, pada kultivar lain indikator ketahanan ditunjukkan dengan sifat perakaran. Kandungan prolin kultivar ubijalar yang meningkat pada kondisi terdera kekeringan belum dapat digunakan sebagai indikator toleransinya terhadap deraan kekeringan walaupun pada jenis tanaman tertentu peningkatan kadar prolin dapat digunakan sebagai ketahanan terhadap kekeringan. Pada kultivar ubijalar yang peka terhadap kekeringan produksi umbi dapat turun lebih dari 50–70 % terhadap kondisi normal, sedang kultivar yang toleran penurunan produksi di bawah 20%. Dengan menanam kultivar yang toleran terhadap deraan kekeringan kerugian petani dapat ditekan

    131

    full texts

    162

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Palawija
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇