Buletin Palawija
Not a member yet
162 research outputs found
Sort by
Sweetpotato As A Food Crop
Sweetpotato as a food crop. Sweetpotato is among the world most important, versatile and under exploited crop in many part of the world, with more than 133 million tons in world annual production and being cultivated in more than 100 countries and it ranks ninth from the viewpoint of total production as a world crops. Sweetpotato contains approximately 30% dry matter and about 80–90% is made of carbohydrate and the rest are composed by protein, lipids, minerals, fibre and vitamins. Sweetpotato is also well-known as a source of minerals and vitamin. Regardless of these general nutritional excellences, sweetpotato is underexploited food item. In attempt to enhance the utilization as food, several food items was produced. The development of ready to serve products includes candied, canned, frozen, restructured products, etc
Ulat Pemakan Polong Helicoverpa Armigera Hubner: Biologi, Perubahan Status Dan Pengendaliannya Pada Tanaman Kedelai
Ulat pemakan polong, Helicoverpa armigera Hubner (Lepidoptera: Noctuidae), tersebar luas di daerah tropis dan dinyatakan sebagai hama penting pada tanaman kedelai di Indonesia. Saat ini, ulat pemakan polong menjadi masalah utama pada tanaman kedelai. Perilaku makan yang polifag mengakibatkan sulit untuk mengembangkan cara pengendalian yang efektif. Ulat pemakan polong diklasifikasikan sebagai pemakan daun, dan polong dan pada tanaman kedelai kerusakan utama yang diakibatkan adalah pada polong. Imago dewasa berukuran sedang berwarna coklat kekuningan dengan penciri adanya noktah hitam di bagian sayap. Sayap bagian dalam lebih cerah dengan lebar bentangan sekitar 40 mm. Ngengat betina dapat menghasilkan telur lebih dari 1200 butir yang diletakkan secara tunggal di bagian daun, batang, dan polong. Setelah 3–8 hari, telur menetas menjadi larva dengan warna menyesuaikan dengan warna daun yang dimakan. Larva mengalami beberapa kali pergantian warna selama perkembangannya menjadi dewasa – hijau, kuning, coklat dengan beberapa ragam kombinasi. Ulat pemakan polong umumnya memiliki tiga garis memanjang – putih pucat, gelap atau terang pada bagian sisi tubuhnya. Gejala kerusakan H. armigera pada polong kedelai mudah dikenali: lubang bekas serangan berbentuk bulat dan berada pada bagian berkembangnya biji. Saat larva memakan biji hanya bagian kepalanya yang berada dalam lubang dan jarang sekali ditemukan keseluruhan tubuh larva berada dalam polong. Ini berarti hama ini tergolong mudah makan sehingga satu larva dapat mengakibatkan banyak kerusakan pada beberapa polong kedelai. Perubahan status ulat pemakan polong menjadi hama penting pada tanaman kedelai mungkin disebabkan oleh: (1) program ekstensifikasi kedelai di era 1986, (2) program pemuliaan kedelai melepas varietas kedelai berdaya hasil tinggi dengan hanya 1–2 gen penyusun, (3) penggunaan insektisida sistemik secara intensif mematikan serangga bukan target termasuk musuh alami yang menimbulkan masalah resurgensi, (4) H. armigera juga menjadi resisten terhadap beberapa insektisida anjuran akibat pemakaian insektisida terus menerus pada tanaman inang kapas, tembakau, dan jagung. Untuk mengurangi dampak tersebut pendekatan penggunaan taktik taktik pengendalian harus kompatibel satu dengan yang lainnya dengan kerusakan kecil pada keseimbangan ekosistem alami dan ekonomis, misalnya penerapan modifikasi habitat atau kultur teknis seperti penanaman tanaman perangkap, musuh alami, dan varietas tahan apabila sudah tersedia
Iles-Iles Umbi-Umbian Potensial Sebagai Tabungan Tahunan
Tanaman iles-iles atau porang tumbuhnya tidak menghedaki syarat ekologis yang terlalu tinggi. Toleransinya terhadap naungan hingga 60% dan dapat dibudidayakan secara intensif maupun non intensif di pekarangan, kawasan wanatani, perkebunan karet, kelapa, sawit dan kakao yang tanaman lain tidak dapat tumbuh. Mengingat mie-baso dan krupuk sudah menjadi pangan nasional yang disukai semua kalangan masyarakat dari sembarang etnik, dan kombinasi tepung ubi-ubian termasuk iles-iles dengan aneka daging dan ikan dapat dibuat mie, baso, krupuk, dan makanan modern seperti agar-agar, konyuku dan shirataki yang bergizi ditambah dengan kegunaannya sebagai bahan baku industri, serta tersedia pasar, maka iles-iles sudah saatnya dipromosikan sebagai tanaman sumber pangan dan pendapatan alternatif
PEMULIAAN TANAMAN KEDELAI TAHAN KUTU KEBUL (Bemisia tabaci Genn.)
Kutu kebulmerupakan hama pengisap daun yang umumnyamenyerang tanaman kedelai (Glycine max Merr.)di musim kemarau. Kehilangan hasil akibatserangan hama ini dapat mencapai 80% bahkangagal panen. Pencegahan dan pengendalian kutukebul dapat dilakukan dengan prinsip PengendalianHama Terpadu (PHT). Salah satu kunci keberhasilannyaadalah penggunaan varietas tahan. DiIndonesia, hanya varietas Tengger yang dideskripsikancukup tahan kutu kebul. Masih sedikitnyavarietas kedelai yang tahan serangan kutu kebulmembuka peluang bagi pemulia tanaman kedelaiuntuk merakit varietas kedelai tahan kutu kebul. Informasi mengenai genotipe-genotipe kedelai yang tahan kutu kebul di Indonesia, memberi peluang lebih besar bagi keberhasilan program pemuliaan kedelai tahan kutu kebul. Keberhasilan perakitan varietas kedelai tahan kutu kebul di Turki dan diketahuinya mekanisme ketahanan serta kriteria seleksinya dapat dijadikan acuan bagi pemulia kedelai di Indonesia. Metode pemuliaan single seeddescent (SSD) dikombinasikan dengan metode bulk dapat digunakan pada pemuliaan kedelai tahan kutu kebul. Jumlah nimfa per daun atau jumlah infestasi kutu kebul per luasan daun dapat dijadikan sebagai kriteria seleksi.
KARAKTERISTIK KEDELAI TOLERAN LAHAN KERING MASAM
Banyaknya kendala yang membatasi pertumbuhan dan perkembangan tanaman seperti kemasaman tanah, keracunan unsur mikro dan kahat unsur makro mengakibatkan hasil biji di lahan kering masam tidak setinggi di lahan optimal. Oleh karena itu awal dari perakitan kedelai untuk lahan kering masam terutama diarahkan untuk perbaikan hasil biji. Secara genetik perbaikan hasil biji menghadapi kendala berupa rendahnya keragaman genetik dan heritabilitas yang tergolong sedang. Genotipe kedelai toleran lahan kering masam biasanya memiliki ukuran biji yang tergolong kecil. Di lain pihak, petani dan industri berbahan baku kedelai lebih senang menggunakan kedelai berbiji besar daripada kedelai berbiji kecil, sehingga selain perbaikan hasil biji juga diperlukan perbaikan ukuran biji. Kendala yang juga dihadapi dalam perbaikan ukuran biji adalah heritabilitas tergolong sedang, namun keragaman genetiknya tergolong luas. Kemajuan yang dicapai dalam perakitan varietas kedelai toleran lahan kering masam saat ini berpeluang untuk diperolehnya kedelai berdaya hasil tinggi dan berbiji lebih besar daripada varietas yang sudah dilepa
INVIGORASI BENIH KEDELAI
Produksi kedelai dalam negeri hanya mencukupi sekitar 40% dari kebutuhan nasional yang sebesar 2,0 juta ton/tahun, sehingga kekurangannya harus dipenuhi melalui impor. Peningkatan produksi harus selalu dilakukan dengan sasaran mencapai swasembada kedelai pada tahun 2014. Salah satunya adalah dengan perluasan areal tanam di lahan kering masam dan lahan marginal. Karakteristik benih kedelai yang mudah rusak dengan harga yang rendah dibanding benih komoditas lainnya terutama hortikultura menyebabkan pengusaha swasta tidak tertarik. Kondisi ini menyebabkan benih kedelai sulit ditemui di pasaran sehingga peredarannya di tingkat petani lebih banyak menggunakan sistem Jabalsim (jalur benih antar lapang dan musim), dimana penangkar lokal dengan fasilitas prosesing dan penyimpanan benih yang sederhana akan sangat berperan. Fenomena ini menyebabkan mutu benih yang beredar cepat menurun. Salah satu solusi untuk mengatasi hal ini adalah dengan teknologi invigorasi. Teknik invigorasi yang paling sesuai dan dapat digunakan untuk mengatasi masalah kemunduran benih kedelai adalah matriconditioning, yaitu priming dengan menggunakan serbuk arang sekam lembab (perbandingan benih : serbuk arang sekam : air = 9 : 6 : 7) selama 12 jam. Perlakuan matriconditioning yang dikombinasi dengan Rhizobium dapat meningkatkan populasi Rhizobium endogen, infektivitas dan efektifitas Rhizobium dan meningkatkan pertumbuhan dan hasil kedelai
POTENSI DAN PELUANG JAWA TENGAH SEBAGAI PENDUKUNG SWASEMBADA KEDELAI
Produksi kedelai di Indonesia hingga tahun 2010 masih belum mencukupi kebutuhan dalam negeri, sehingga pemerintah mencanangkan program peningkatan produksi untuk mencapai swasembada kedelai pada tahun 2014. Jawa Tengah, sebagai sentral produksi kedelai ke dua di Indonesia mempunyai potensi besar untuk mendukung program tersebut. Kontribusi Jawa Tengah terhadap produksi kedelai nasional selama ini mencapai sekitar 18%, apabila berpedoman pada angka tersebut, untuk mendukung swasembada kedelai tahun 2014 Jawa Tengah harus mampu memproduksi kedelai 414 ribu ton pada luas panen 262 ribu ha dengan rata-rata hasil 1,58 t/ha. Target tersebut dapat tercapai apabila areal panen kedelai yang ada di Jawa Tengah saat ini tidak berkurang, 10% bekas padi sawah yang tidak biasa ditanami kedelai dapat ditanami kedelai, 10% areal jagung dapat ditanam sisip kedelai, dan 5% areal ubikayu dapat ditanam tumpangsari dengan kedelai. Pada tahun 2014, dengan asumsi tersebut luas panen kedelai di Jawa Tengah akan dapat mencapai 365 ribu ha dengan produksi sekitar 572 ribu ton, dan mampu menyumbang produksi kedelai sekitar 25% dari kebutuhan nasional. Asumsi tersebut akan dapat tercapai apaila harga dan tataniaga kedelai dapat diperbaiki sehingga usahatani kedelai dapat bersaing dengan komoditas lain, terutama jagung dan kacang tanah
Bioekologi dan Pengendalian Penyakit Bercak Daun Pada Kacang Tanah
Penyakit bercak daun merupakan penyakit utama pada kacang tanah di negara-negara penghasil kacang tanah di dunia. Di Indonesia, kehilangan hasil dapat mencapai 50% dan 12–22% masing-masing pada varietas lokal dan varietas unggul. Gejala bercak muncul pada daun-daun bagian bawah dengan bercak kecil berwarna coklat. Bercak yang disebabkan oleh Cercospora arachidicola dicirikan dengan bercak yang berwarna coklat muda dengan cincin kuning di sekitar bercak sedangkan bercak yang disebabkan oleh Phaeoisariopsis personata berwarna coklat gelap hampir hitam tanpa cincin kuning.Perkembangan penyakit bercak daun sangat didukung oleh kelembaban udara yang tinggi 95%, dengan kisaran suhu 12–33 oC. Beberapa varietas kacang tanah yang sampai saat ini tahan adalah varietas Panter dan Domba. Jenis fungisida yang masih dapat dianjurkan untuk pengendalian penyakit bercak daun adalah fungisida dengan bahan aktif tiofanat metil, binomil, bitertanol, mancozeb, atau carbendazi
PEMULIAAN TANAMAN KEDELAI TOLERAN TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN
Alih fungsi lahan pertanian produktif dan perubahan iklim global menyebabkan menurunnya produksi kedelai (Glycine max Merr.) di Indonesia. Perluasan areal tanam kedelai untuk mengatasi hal tersebut pada umumnya mengarah pada lahan-lahan suboptimal, di antaranya adalah lahan kering. Oleh karena itu, perakitan varietas unggul kedelai toleran kekeringan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan perluasan areal tanam di lahan tersebut. Dalam perakitan varietas kedelai toleran kekeringan, mekanisme toleransi kedelai terhadap cekaman kekeringan memegang peranan penting, karena berhubungan dengan karakter-karakter yang mendukung toleransi tersebut. Pada umumnya karakter yang berhubungan langsung dengan toleransi kekeringan adalah karakter fisiologi dan morfologi. Namun, dalam pemuliaan kedelai, hasil biji merupakan karakter yang paling penting. Dengan demikian, perakitan varietas unggul kedelai toleran kekeringan sebaiknya dilakukan dengan menggabungan karakter fisiologi, morfologi, dan agronomi; karena ketiga karakter tersebut pada umumnya tidak bertautan secara genetik. Dengan penggabungan ketiga karakter tersebut penurunan hasil akibat cekaman kekeringan dapat ditekan
Inovasi Rekayasa Teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu Kedelai
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) kedelai memiliki makna filosofis sebagai suatu pendekatan dalam budidaya tanaman kedelai yang menekankan pada pengelolaan tanaman, lahan, air, organisme pengganggu tanaman (OPT), sosial ekonomi, dan kelembagaan wilayah secara terpadu. Inovasi rekayasa teknologi PTT kedelai mengandung empat pengertian, yaitu (1) perbaikan, (2) pembaharuan (innovation), (3) kreasi rancangan teknologi, dan (4) pengaturan kombinasi komponen teknologi untuk budidaya tanaman kedelai agar lebih efektif dan efisien. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dikerjakan dapat dirumuskan teknologi budidaya tanaman kedelai untuk agroekologi sawah irigasi teknis, sawah tadah hujan, lahan kering, lahan rawa lebak maupun lahan rawa pasang surut yang mampu meningkatkan produktivitas kedelai di masing-masing agroekologi tersebut. Penerapan PTT pada skala yang lebih luas pada daerah-daerah sentra produksi kedelai di lahan sawah dan lahan kering masam akan berhasil meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani kedelai, dan diharapkan pada gilirannya apabila diterapkan pada skala nasional akan mampu meningkatkan produksi kedelai di dalam negeri. Gairah petani kedelai akan meningkat bilamana didukung kebijakan dan sistem kelembagaan yang kondusif terhadap serapan kedelai produk petani dalam negeri. Alih teknologi sekaligus sosialisasi teknologi di tingkat petani dapat dirancang dan dilaksanakan di setiap agroekologi