Buletin Palawija
Not a member yet
162 research outputs found
Sort by
Kedelai sebagai Bahan Pangan Kaya Isoflavon
Kedelai potensial sebagai bahan pangan fungsional, di samping sebagai sumber protein. Hal ini berkaitan dengan keberadaan 12 jenis isoflavon pada biji kedelai, baik dalam bentuk glikosida maupun aglikon. Senyawa isoflavon bermanfaat bagi kesehatan karena memiliki aktivitas antioksidan yang dapat mencegah kanker payudara, kanker kolon, osteoporosis, dan penyakit-penyakit degeneratif seperti penuaan dini, jantung koroner dan hipertensi, serta mengurangi sindrom menopause pada wanita. Kandungan isoflavon pada biji kedelai bervariasi dari 128 hingga 380 mg/100 g, dan yang dominan adalah genistein dan daidzein. Varietas unggul kedelai Devon 1 mengandung total isoflavon 221,97 mg/100 g dan varietas Devon 2 mengandung 30,37 mg/100 g untuk total genistein dan daidzein, sehingga masih terbuka peluang untuk meningkatkan kandungan isoflavon melalui perakitan varietas baru. Selain faktor genetis, kandungan isoflavon kedelai juga dipengaruhi oleh musim tanam, umur panen, pengairan, sinar UV dan kandungan unsur hara tanah, serta proses pengolahan. Perkecambahan dan fermentasi meningkatkan kandungan isoflavon, dan pemanasan dapat mengubah struktur kimia isoflavon. Tingkat konsumsi protein kedelai 25 g/hari atau setara asupan isoflavon 37-62 mg/hari diperkirakan dapat memenuhi 83% dari kebutuhan isoflavon harian yang dianjurkan
PELUANG PENGEMBANGAN KACANG TANAH DI LAHAN KERING NUSA TENGGARA TIMUR
Potensi pertanian lahan kering di Nusa Tenggara Timur cukup luas sekitar 1.528.308 ha dan di daerah ini cocok untuk dikembangkan kacang tanah. Tanaman kacang tanah masih dibudidayakan secara subsisten sehingga perlu diidentifikasi faktor-faktor penghambat dan pendukung dalam upaya pengembangannya. Penelitian dilakukan di Kabupaten Sumba Timur pada musim tanam 2015 dengan cara ‘Rapid Rural Appraisal (RRA)’. Metode analisis data yaitu analisis SWOT, tabulasi dan tingkat daya saing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kesesuaian lahan untuk kacang tanah total nilai bobot (TNB=2,0) dan biomassa kacang tanah termanfaatkan untuk pakan (TNB=1,1) menjadi faktor penguat internal pengembangan kacang tanah di NTT. Sedang penguat eksternalnya adalah pasar kacang tanah sudah terbentuk (TNB=2,3) dan permintaan kacang tanah tinggi (1,6). Meskipun ada penghambat seperti faktor benih kacang tanah bermutu rendah (TNB=1,2) dan ada ancaman seperti faktor kekeringan (TNB=1,2), tetapi pengaruhnya lebih kecil dibanding penguat dan potensi sumberdaya yang dimiliki. Strategi pengembangan yang digunakan adalah (1) pengelolaan usahatani yang saat ini harus dilakukan lebih intensif dengan penggunaan VUB kacang tanah dan teknologi tanam, (2) peningkatan skala usaha dengan memanfaatkan lahan-lahan kosong dan peningkatan indeks pertanaman (IP). Komoditas kacang tanah dapat berkompetisi dengan jagung dan sorgum dan peningkatan daya saingnya mudah dilakukan dengan penggunaan VUB kacang tanah yang telah tersedia sesuai dengan agroekologi dan preferensi petani di NTT. Nilai ekonomi dalam pendapatan komoditas kacang tanah saat ini berkontribusi sebesar 30% terhadap pengeluaran keluarga dan berpeluang dapat ditingkatkan
KERAGAAN POPULASI FAMILI HALFSIB HASIL PERSILANGAN UBIJALAR UNTUK PENGKAYAAN MIKRONUTRIEN
Hidden Hunger is a major health problem for the world populations, especially in developing countries. Sweet potato is one of the main staple crops to be enriched with micro nutrient content through biofortification program, to overcome the Hidden Hunger. The study aim was evaluated the offspring performance of the controlled crosses between the parent for the enrichment of micro nutrient content with other high yielding clones. A number of hybrid genotypes (297) scattered in 8 families of half sibs were evaluated by weight of storage root and vines, estimated of storage root and vines yields per hectare, and its micronutrient content (Fe and Zn). Augmented Randomized Block Design with 8 replicate blocks was applied for this trial. In each block is also planted parent clones as control cultivars. The results showed that cultivar test performance on all observed parameters was different to control cultivars, as well as among the cultivars test were also statistically different. This allows obtaining the selection of genotype based on storage root weight/plant and its micronutrient content. Among the 297 genotypes evaluated available of 140 genotypes had storage root yields ≥ 0.5 kg/plant and 6 of them had storage root weight of ≥ 1.5 kg/plant. Based on storage root weight and micro nutrient content selected 6 genotypes with the storage root weight range between 0.598 - 1.631 kg/plant and Fe and Zn content respectively ranged from 95 to 618 mg Fe/kg and 10-12 mg Zn/kg based on dry weight basis
PENGARUH AMELIORASI TANAH SALIN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KACANG HIJAU
Salinitas menghambat pertumbuhan dan menurunkan produktivitas tanaman. Ameliorasi tanah salin diperlukan untuk mengurangi pengaruh buruk salinitas tanah terhadap pertumbuhan tanaman. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tanggap kacang hijau terhadap ameliorasi pada tanah salin. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Balitkabi Malang pada Maret-Juni 2014 menggunakan rancangan acak kelompok faktorial, lima ulangan. Faktor I adalah dua tingkat salinitas tanah yaitu: tanah dengan DHL 2-2,3 dS/m dan DHL 2,8-3,2 dS/m. Faktor II adalah pemberian amelioran terdiri atas kontrol, 120 kg K2O/ha, 2,5 t/ha dolomit, 2,5 t/ha gipsum, 2,5 t/ha organik. Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, bobot kering tajuk dan akar, indeks kandungan klorofil daun, hasil dan komponen hasil, analisis tanah sebelum tanam dan sesudah panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan salinitas tanah 2,0-2,3 dS/m dan 2,8-3,2 dS/m berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan dan hasil kacang hijau. Semua peubah pertumbuhan dan komponen hasil mengalami penurunan akibat peningkatan salinitas kecuali kandungan klorofil daun yang relatif tetap. Pemberian amelioran gipsum dosis 2,5 t/ha berpeluang efektif memperbaiki pertumbuhan dan hasil kacang hijau. Penambahan amelioran yang mengandung K, Ca, dan Mg mampu meningkatkan kandungan hara K, Ca, dan Mg serta memperbaiki keseimbangan K/Na, Ca/Na, dan Mg/Na dalam tanaman, namun tidak efektif mengurangi pengaruh negatif salinitas. Diperlukan pencucian garam dari daerah perakaran untuk menurunkan tingkat salinitas agar sesuai untuk pertumbuhan tanaman. Kata kunci: salinitas, ameliorasi, kacang hija
PENAMBAHAN SENYAWA KITIN UNTUK PENINGKATAN VIRULENSI CENDAWAN ENTOMOPATOGEN Beauveria bassiana
Beauveria bassiana merupakan salah satu jenis cendawan entomopatogen yang memiliki kisaran inang cukup luas dan mudah dikembangbiakkan sebagai agens untuk pengendalian berbagai jenis hama.Perbanyakan cendawan entomopatogen di media alami terus menerus menyebabkan penurunan viabilitas sehingga berpengaruh langsung terhadap virulensi cendawan.Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari virulensi cendawan B. bassiana yang dikulturkan pada media tumbuh mengandung kitin.Perlakuan adalah jenis kitin yang diperoleh dari seranggaGryllus assimilis, Perna viridis, dan Scylla serrata.Masing-masing serangga sebagai sumber kitin dikeringkan menggunakan sinar matahariselanjutnya digiling hingga berbentuk tepung, setelah itu ditambahkan pada media tumbuh dari agar kentang dektrose.Cendawan B. bassiana dikulturkan pada media tumbuh di dalam cawan Petri berdiameter 9 cm kemudian diamati produksi konidia, viabilitas dan virulensi cendawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kitin dari serangga G. assimilis, P. viridis, dan S. serratatidak mampu meningkatkan produksi konidia,tetapi mampu meningkatkan viabiitas dan virulensi cendawan. Kitin dari seragga P. viridis konsentarsi 0,5% mampu memproduksi konidia terbanyak mencapai 20,5 x 107/ml dibandingkan kitin dari serangga G. assimilis maupun S. serrata. Selain itu, kitin dari P. viridis 0,5% juga mampu menyebabkan mortalitas tertinggi pada Spodoptera litura mencapai 60%.Kitin dalam bentuk tepung yang ditambahkan ke agar kentang dektrose menyebabkan peningkatan kepadatan media tumbuh sehingga memicu pertumbuhan dan perkembangan cendawan B. bassiana lebih lambat dibandingkan kontrol sebab kitin sulit larut dalam air.Oleh karena itu, untuk memperoleh jenis kitin dan konsentrasi yang tepat dalam meningkatkan virulensi cendawan B. bassiana masih diperlukan penelitian lebih lanjut
RANTAI PASOK BENIH SUMBER VARIETAS UNGGUL BARU KEDELAI
Pengelolaan rantai pasok didalam dunia bisnis telah menjadi konsep yang penting, yaitu proses distribusi. Produksi dan distribusi benih UPBS harus dilakukan dengan optimal memenuhi permintaan dari BPSB, Dinas, BBI, dan BPTP dengan memenuhi enam tepat (jumlah, varietas, waktu, tempat, mutu, dan harga). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui proses rantai pasok varietas unggul kedelai dan kontribusi ekonominya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai saat ini rantai pasok varietas unggul kedelai yang dilakukan pengelola benih sumber masih sebatas pada rantai 1 dan 2 yaitu suplier (UPBS Balitkabi dan BPSB) dan distributor (Direktorat Perbenihan) sementara untuk rantai retail (penangkar) dan customer (petani), UPBS Balitkabi tidak dapat memantau karena kewenangan ada di BPTP, BBI. Produksi benih sumber UPBS memberikan kontribusi cukup besar dalam mendukung ketersediaan pasok benih normal, dengan produksi benih BS sebesar 6,05 ton mencukupi untuk program PAT 1,7 juta hektar. Namun demikian untuk sampai menjadi benih sebar perlu adanya pengawalan sampai rantai paling bawah (petani), sehingga benih tidak digunakan diluar sasaran untuk konsumsi misalnya
PENGARUH PUPUK ORGANIK KAYA HARA SANTAP NM1 DAN SANTAP NM2 TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI PADA TANAH VERTISOL
Di Indonesia, rata-rata produktivitas kedelai Indonesia yang sebagian besar diusahakan pada lahan non-masam masih rendah. Hal ini disebabkan antara lain kesuburan atau kandungan hara dalam tanah rendah. Oleh karenanya pemupukan yang sesuai merupakan salah satu upaya penting yang harus mendapat perhatian dalam meningkatkanproduktivitas kedelai nasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pupuk organik kaya hara Santap NM1 dan Santap NM2 beserta kombinasinya dengan pupuk anorganik (Phonska berkandungan 15% N, 15% P2O5, 15% K2O, dan 10% S) dalam memperbaiki pertumbuhan dan hasil kedelai pada tanah Vertisol. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Ngale (Ngawi, Jawa Timur), mulai bulan Februari hingga April 2012. Percobaan menggunakan 12 perlakuan pemupukan (meliputi beberapa jenis, takaran, dan kombinasi pupuk) disusun dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Pada tanah Vertisol, penggunaan pupuk Santap NM1 dan Santap NM2baik secara terpisah maupun yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik (Phonska) meningkatkan jumlah bintil akar efektif, kandungan klorofil dalam daun, dan tinggi tanaman kedelai varietas Anjasmoro.Hal ini juga meningkatkan jumlah polong isi per tanaman, bobot 100 biji, dan hasil biji kedelai. Penggunaan pupuk organik Santap NM1 atau SantapNM2 pada takaran 1.500 kg/ha mampu menggantikan 50% takaran pupuk anorganik NPKS, setara dengan 150 kg Phonska dan memberi hasilkedelai 2,21–2,56 t/ha
RESPONS GENOTIPE KACANG TANAH TERHADAP HAMA KUTU KEBUL
Kutu kebul (Bemisia tabaci Genn.) termasuk salah satu hama penting pada kedelai dan kacang tanah yang dapat menyebabkan kehilangan hasilhingga gagal panen. Potensi hasil dari tiga puluh genotipe kacang tanah diuji di Kebun Percobaan Jambegede dan Muneng dan responsnya terhadapkutu kebul dilakukan di rumah kaca pada musim kemarau II 2014 menggunakan rancangan acak kelompok, diulang tiga kali. Respons genotipe terhadap kutu kebul dinilai menggunakan metode Teuber et al. 2002. Terdapat interaksi antara genotipe dan lingkungan untuk peubah hasil, sehingga seleksi dilakukan di setiap lokasi. Diperoleh 10 genotipeyang terpilih di kedua lokasi dengan potensi hasil di atas 3,5 t/ha. Kacang tanah memberikan respons beragam terhadap kutu kebul dari rentanhingga tahan. Terdapat empat genotipe kacang tanah yaitu: ICGV 87868-21 (G 13), ICGV 87868-21 (G 14), (ICGV 87868-26 (G 7) dan GH 116-26 (G 9) yang terindikasi tahan terhadap hama kutu kebul. Berdasarkan hasil polong, persentase kehilangan hasil, dan skor embun jelaga, 10 genotipe yang terpilih tersebar dalam tiga kelompok, yaitu:(1) tiga genotipe dengan hasil tinggi, kehilangan hasil tinggi, dan rentan kutu kebul, yaitu: Takar 1 (G 1), J/91283-99-C-192-17-12 (G 4), dan G/92088//92088-02-B-2-9-29 (G 25), (2) empat genotipe memilikihasil tinggi, kehilangan hasil tinggi, dan agak tahan kutu kebul, terdiri dari genotipe G/92088//92088-02-B-2-9-14 (G 15), J/91283-99-C-192-17-23 (G20), ICGV 93171-28 (G 24), dan G/92088//92088-02-B-2-8-1-27 (G 28), dan (3) tiga genotipe memiliki hasil tinggi, bersifat toleran dan agak tahan terhadap kutu kebul yaitu genotype GH 116-21 (G2), ICGV 87868-21 (G 13), dan ICGV 91230-24 (G 14). Genotipe terpilih ini disarankan untuk diujimultilokasi
SELEKSI GALUR KACANG HIJAU BIJI KECIL
Kacang hijau biji kecil biasa digunakan dalam industri kecambah, dan tersedianya varietas unggul kacang hijau biji kecil yang beragam memungkinkan petani untuk memilih varietas yang sesuai untuk dikembangkan di wilayahnya. Seleksi 10 seri persilangan kacang hijau generasi F2-F3-F4 dilakukan di KP Jambegede (Malang) pada tahun 2013-2014. Seleksi dilakukan dengan menggunakan metode pedigree dan SSD. Seleksi didasarkan pada penampilan tanaman di lapang, diantaranya keseragaman, keserempakan masak, letak polong, jumlah polong, dan ukuran biji. Galur-galur bersegregasi F2-F3-F4 kacang hijau yang diseleksi memiliki keragaman untuk umur masak, tinggi tanaman, ukuran biji, dan hasil biji. Persilangan dengan varietas Sampeong menghasilkan keturunan yang memiliki umur masak lebih genjah dari Sampeong dengan ukuran biji kecil hingga sedang, dan keragaan tanaman pendek hingga tinggi tergantung tetua yang digunakan. Dari 12.000 individu F2, terpilih 310 tanaman untuk diseleksi pedigree pada F3, selanjutnya terpilih 62 famili F3, hingga terpilih 8 galur F4. Dari 1280 tanaman F3 hasil SSD pada tanaman F2, terpilih 200 individu untuk digalurkan pada generasi F4, hingga terpilih 67 galur. Galur terpilih terbanyak berasal dari persilangan Vima 1/Sampeong//Vima 1 (20 galur), diikuti MMC 679-3C-GT-1/Sampeong (11 galur), serta Sampeong/MMC 679-3C-GT-1 dan MMC 672-3C-GT-1/Sampeong (masing-masing 10 galur). Hasil biji, jumlah polong, dan tinggi tanaman memiliki koefisien keragaman yang tinggi (28-49%), sedangkan umur berbunga dan umur masak keragamannya dibawah 10%