Buletin Palawija
Not a member yet
162 research outputs found
Sort by
Tanggap Fisiologis dan Hasil Biji Berbagai Genotipe Kedelai terhadap Cekaman Salinitas
Genotipe kedelai (Glycine max L. Merr.) toleran cekaman salinitas merupakan komponen teknologi utama yang efektif dan efisien dalam pengembangan kedelai pada lahan pertanian yang terpengaruh salinitas. Selain itu, informasi karakter fisiologi dan hasil biji kedelai toleran salinitas bermanfaat bagi perakitan varietas toleran salinitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan data dan informasi perubahan karakter fisiologidan hasil biji kedelai akibat cekaman salinitas. Sebelas genotipe kedelai koleksi plasma nutfah Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi diuji pada empat cekaman salinitas tanah (0,5 dS/m, 5,8 dS/m, 8,4 dS/m dan 12,2 dS/m) pada percobaan di rumah kaca menggunakan rancangan percobaan acak kelompok, diulang tiga kali. Cekaman salinitas diberikan saat tanaman berumur 21 hari selama 31 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe yang diuji mempunyai tanggap yang berbeda terhadap tingkat salinitas tanah. Peningkatan salinitas tanah dari 0,5 dS/m hingga 12,2 dS/mmenurunkan kadar air relatif daun, kadar klorofil ab daun, kadar K+ akar dan daun, nisbah K+/Na+ pada akar dan daun, serta hasil biji, tetapi juga meningkatkan kadar Na+dan Cl– tanaman pada semua genotipe kedelai yang diuji. Genotipe G5, G8, G9, G10 dan G11 mempunyai: KARD, kadar klorofil ab, kadar K+ daun, nisbah K/Na akar dan daun, serta hasil biji lebih tinggi serta kadar Na+ dan Cl– akar dan daun lebih rendah dibandingkan genotipe/varietas lainnya
PENERAPAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT) PADA TANAMAN KEDELAI
Pengendalian Hama Terpadu, memberi ruang dan hak kehidupan bagi semua komponen biota ekologi, tanpa terjadinya kerusakan pada tanaman yang dibudidayakan. Sasaran pengendalian hama terpadu adalah mengurangi penggunaan pestisida dengan memadukan teknik pengendalian hayati dan pengendalian kimiawi. Pada tahun 1986 Pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 1986 yang menjadi Tonggak sejarah PHT di Indonesia, diawali dengan instruksi presiden nomor 3 tahun 1986 tentang larangan penggunaan 57 formulasi pestisida untuk tanaman padi. Perkembangan selanjutnya adalah UU No 12 Tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman yang menyatakan bahwa “ Perlindungan tanaman dilaksanakan dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT).Pengendalian hama pada tanaman kedelai hingga kini masih tertumpu pada penggunaan insektisida, cara pengendalian yang lain masih belum banyak di lakukan. Penggunaan insektisida secara berlebihan berdampak timbulnya resurgensi hama sasaran, dan pencemaran lingkungan pertanian, sehingga Pengendalian Hama Terpadu (PHT) perlu di lakukan Pengendalian Hama Terpadu pada tanaman kedelai merupakan teknik pengelolaan keseimbangan lingkungan pertanian melalui ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan ekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. Strategi PHT adalah mensinergikan semua teknik atau metode pengendalian hama dan penyakit yang kompatbel didasarkan pada asas ekologi dan ekonomi. Prinsip operasional yang digunakan dalam PHT adalah 1) Budidaya tanaman sehat, 2. Penyeimbangan komponen ekobiota lingkungan, 3) Pelestarian musuh alami, 4) Pemantauan ekosistem secara terpadu, 5) Mewujudkan petani aktif sebagai ahli PHT.
PENGELOLAAN CEMARAN KADMIUM PADA LAHAN PERTANIAN DI INDONESIA
Pencemaran logam kadmium menjadi isu penting pada pengelolaan lahan pertanian karena dapat mengakibatkan penyakit kanker, kerusakanjantung, hati, ginjal, paru-paru, mutagenesis, patah tulang hingga menyebabkan kematian pada manusia. Akumulasi kadmium pada tanaman menghambat pertumbuhan, penurunan hasil, dan mempercepat kematian tanaman. Pencemaran kadmium pada lahan pertanian di beberapa daerah di Indonesia telah melebihi ambang batas sehingga memerlukan perhatian serius baik oleh pelaku industri, petani, maupun pemerintah. Pencemaran ini berasal dari pembuangan limbah industri, aplikasi pestisida dan pupuk kimia secara berlebihan dan terus menerus, serta pembuangan sampah rumah tangga ke sungai. Remediasi lahan tercemar kadmium dapat dilakukan dengan cara pengelolaan limbah industri, efisiensi penggunaan pupuk anorganik dan pestisida, pengolahan tanah minimal, pengelolaan air, aplikasi kapur, bakteri, pupuk organik, penanaman gulma penyerap kadmium atau tanaman kacang tanah, dan peningkatan pengawasan pemerintah
Penekanan Klorosis dengan Pseudomonas fluorescens dan Belerang untuk Peningkatan Hasil Kacang Tanah di Tanah Alkalin
Klorosis pada tanaman kacang tanah di tanah alkalin dapat menurunkan hasil hingga 60%, karena tanaman mengalami kahat Fe dan S. Penekanan klorosis tersebut di antaranya dapat dilakukan dengan aplikasi belerang dan pupuk hayati berbahan baku Pseudomonasfluorescens. Penelitian bertujuan untuk menentukan keefektifan belerang dan P. fluorescens dalam menekan klorosis dan meningkatkan hasil kacang tanah di tanah alkalin. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Malangpada bulan Januari–Mei 2015, menggunakan rancangan acak kelompok dengan dua faktor perlakuan, tiga ulangan. Faktor pertama adalah 3 konsentrasi P. fluorescens (cfu/mL), terdiri dari: 1) P0=0, 2) P1=107, 3) P2=109 cfu/mL. Faktor kedua adalah 4 dosispemberian serbuk belerang (g/kg tanah) terdiri dari: 1) S0=0, 2) S1=1, 3) S2=2, 4) S3=3. Penelitian menggunakan tanah Alfisol dari Lamongan Jawa Timur dengan pH 9,5. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi nyata antara pengaruh penggunaan P. fluorescens dengan belerang terhadap penekanan klorosis dan peningkatan hasil kacang tanah. P. fluorescens mampu meningkatkan kadar Fe tersedia dalam tanah hingga 35%tetapi tidak mampu menekan klorosis dan meningkatkan hasil kacang tanah. Pemberian belerang dapat meningkatkan kadar SO4 2– di tanah, menurunkan pH tanah, menekan klorosis dan meningkatkan hasil 81% pada dosis 3 g/kg tanah di tanah alkalin ber-pH 9,5. Penekanan klorosis, peningkatan hasil polong dan indeks panen kacang tanah berkorelasi positif dengan peningkatan kadar SO4 2– di tanah dan penurunan pH tanah
Formulasi Bahan Pembawa Pupuk Hayati Pelarut Fosfat untuk Kedelai di Tanah Masam
Formula carrier (bahan pembawa) pupuk hayati merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan penggunaan pupuk hayati karena berperan penting dalam menjaga viabilitas dan efektivitas mikroba yang terkandung di dalamnya. Penelitian bertujuan untukmendapatkan satu formula bahan pembawa pupuk hayati bakteri pelarut fosfat yang mampu meningkatkan produktivitas kedelai dan menghemat penggunaan pupuk kimia di lahan masam. Penelitian dilaksanakan di laboratorium, rumah kaca dan lapangan (lahan kering masam Lampung Timur) pada MH 2012. Formula pupuk hayati yang diuji merupakan multi isolat bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas sp.) yang dikombinasi dengan beberapabahan pembawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula dengan viabilitas bakteri dari yang tertinggi berturut-turut, yaitu gambut + dolomit + arang> bokashi + dolomit> bokashi + dolomit + arang> gambut + dolomit> bokashi>gambut. Di lapangan, formula gambut + dolomit + arang memberikan peningkatan hasil kedelai setara dengan perlakuan amelioran dolomit 800 kg/ha dan bila dikombinasi dengan amelioran dolomit pada dosis yang sama maka diperoleh peningkatan hasil 64% (0,39 t/ha) dibanding hasil pada perlakuan tanpa dolomit. Formula tersebut bila dikombinasi dengan pemupukan100 kg SP36/ha memberikan hasil setara dengan pemupukan 200 kg SP36/ha, sedangkan kombinasinya dengan pemupukan 200 kg SP36/ha mampu meningkatkan hasil 163% (0,7 t/ha) dibanding hasil perlakuan kontrol (tanpa pupuk P)
PENINGKATAN DAYA HASIL GALUR MUTAN KACANG TANAH MELALUI PEMUPUKAN KALSIUM DI LAHAN KERING PULAU LOMBOK
Masalah cekaman kekeringan merupakan faktor pembatas utama pada usahatani kacang tanah di lahan kering. Upaya untuk mengatasi cekaman kekeringan pada usahatani kacang tanah adalah penggunaan kultivar toleran kekeringan dan penerapan pemupukan kalsium. Penenlitian ini telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh pupuk kalsium terhadap daya hasil galur mutan kacang tanah di lahan kering. Percobaan diawali dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap di rumah kaca. Percobaan di lapangan dilakukan di lahan kering petani dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Perlakuan yang ingin diketahui adalah menguji sumber kalsium dan dosis kalsium di rumah kaca terhadap pertumbuhan tanaman. Perlakuan di lapangan yang ingin diuji adalah pengaruh penggunaaan Gypsum pada galur mutan kacang tanah (G300-II dan G 200-I), dan varietas Singa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jenis kalsium Gypsum dengan dosis 300 kg per hektar mampu meningkatkan berat polong kering galur G200-I yaitu 1751,5 g/6 m2 atau 2,92 ton/Ha di lahan kering. Pemberian kalsium Gypsum mampu meningkatkan kadar Ca jaringan tanaman
TANGGAP TANAMAN UBIKAYU TERHADAP PUPUK FORMULA A DAN B
Ubikayu memiliki prospek bagus di masa depan karena empat hal, yaitu peningkatan kebutuhan bahan baku untuk(1) pangan, (2)pakan, (3) industri, dan (4) farmasi. Penelitian bertujuan meramu formula pupuk lengkap spesifik untuk ubikayu. Percobaan lapangandilaksanakan di dua lokasi, yaitu Desa Krebet, Kecamatan Masaran dan Kebun Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kabupaten Sragen. Rancangan percobaanadalah acak kelompok (RAK), dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah macam pupuk, ada lima macam, yaitu : Formula A, Formula B, NPK Holland 15-15-15, Phonska 15-15-15, dan Formula B+pupuk organik. Faktor kedua adalah takaran pupukterdiri atasempat level, yaitu 0, 0,5, 1, dan 1,5 kali rekomendasi. Takaran rekomendasi 400 kg/ha.Pupuk Formula A pupuk NPK 15-6-18, dan Formula B adalah NPKCaMg 15-10-18-5-5.Percobaan menggunakan varietas unggulUJ 5 untuk desa Krebet dan Kaspro untuk kebun BPP Sragen.Percobaandilaksanakan pada Desember 2011 hingga Setember 2012.Data yang diamati adalah tinggi tanaman, hasil ubi, dan kadar pati ubi, analisis kimia tanah dan pupuk, serapan hara N,P,K. Hasil penelitian menunjukkanpupuk Formula A dan Formula B meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil ubikayu seperti pupuk pembanding Holland ataupun Phonska. Hal ini menunjukkan bahwa pupuk Formula A dan Formula B memiliki kelayakan teknis sama seperti Holland maupun Phonska.Takaran pupuk dari masing-masing formula meningkatkan pertumbuhan dan hasil ubikayu. Hasil ubikayu berkisar antara 13– 32 t/ha untuk Desa Krebet dan antara 16 - 40 t/ha untuk kebun Balai Penyuluhan Pertanian Kabupaten Sragen. Hasil ubikayu tertinggiyang dapat dicapai 32,14 t/ha di desa Krebet dengan pemupukan 400kg/ha pupuk NPK Phonska dan 40,81 t/ha di kebun BPP Sragen dengan pemupukan 400 kg/ha Formula B dikombinasi dengan 5 t/ha pupuk organik. Rendemen pati ubikayu berkisar antara 20 - 29%untuk desa Krebet dan antara 23 -29% untuk ubikayu di kebun BPP Sragen. Peningkatan takaran pupuk mampu meningkatkan rendemen pati ubikayu. Rendemen tertinggi dicapai pada takaran 600 kg/ha dengan pupuk Formula A.Kesimpulan menunjukkan bahwa pupuk Formula A maupun Formula B memiliki kelayakan teknis dan cocok untuk tanaman ubikayu serta memiliki nilai kompetitif yang sebanding dengan pupuk Holland maupun Phonska.Untuk mempercepat penyebaran dan adopsi penggunaan pupuk Formula A dan Formula B disarankan perlunya sosialisasi dengan mengadakan demplot pupuk di tingkat kelompok tani di daerah-daerah sentra produksi ubikayu