Buletin Palawija
Not a member yet
162 research outputs found
Sort by
Kemampuan Daya Saing Komoditas Kedelai pada Wilayah Perluasan Areal Tanam Baru (PATB)
Swasembada kedelai nasional telah dicanangkan kembali untuk dicapai pada tahun 2020. Namun, saat ini areal tanam kedelai cenderung turun dan daya saingnya rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kesesuaian agroekonomi, dan mengidentifikasi permasalahan dan peluang pengembangan komoditas kedelai pada wilayah perluasan areal tanam baru (PATB). Penelitian dilakukan di lima wilayah yaitu Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, dan Lampung. Permasalahan dan peluang PATB kedelai diidentifikasi internal dan eksternalnya dengan teknik analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peta kekuatan PATB kedelai di masing-masing wilayah berbeda, sehingga diperlukan strategi khusus untuk masing-masing lokasi tersebut. Dengan menghitung indeks daya saing kedelai terhadap tanaman kompetitor di masing-masing PATB dapat disimpulkan bahwa saat ini daya saing kedelai masih lemah dengan tanaman kompetitor kedelai antara lain jagung, ubi kayu, kacang tanah, tembakau, cabai, bawang merah, dan tanaman tahunan. Kemampuan daya saing kedelai di masing-masing wilayah PATB bergantung kepada produktivitas kedelai, tingkat harga kedelai, produktivitas tanaman kompetitor dan tingkat harga komoditas kompetitor. Upaya untuk memperkuat daya saing sekaligus meningkatkan semangat berusahatani kedelai dapat dilakukan dengan penerapan regulasi harga dan atau peningkatan produktivitas kedelai
Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Genotipe Kedelai pada Pola Tanam Baris Tunggal dan Baris Ganda
Penelitian bertujuan untuk mengetahui respons beberapa genotipe kedelai terhadap pola pengaturan baris tanaman. Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan (KP) Kendalpayak, Malang mulai Februari hingga Juni 2017, menggunakan rancangan split plot tiga ulangan. Petak utama adalah pengaturan pola baris, yaitu B1 (baris tunggal = 40 cm ×15 cm) dan B2 (baris ganda = 60 cm ×(20 cm ×15 cm), anak petak adalah 15 genotipe kedelai, terdiri dari 12 galur, dan tiga varietas (Dena 1, Dena 2, dan Grobogan) sebagai pembanding. Pemupukan 50 kg Urea + 150 kg SP36 + 150 kg KCl/ha dilakukan pada saat tanam. Pengendalian gulma dilakukan pada umur 2-4 minggu setelah tanam (MST). Pengamatan tinggi tanaman, jumlah cabang dan daun, diameter batang, luas daun, dan indeks klorofil daun umur 3, 5, 7, dan 9 MST dilakukan secara destruktif. Pada saat panen diamati jumlah polong isi dan polong hampa, dan bobot biji per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan respons genotipe kedelai terhadap pengaturan pola baris tanaman. Genotipe IBK/Argop-276-3, Grob/Pander-395-2, dan Grob/IT-7-2 memberikan respons positif terhadap pola baris tunggal dengan hasil biji lebih tinggi dibanding ditanam dengan baris ganda. Genotipe Grob/Pander-397-6 dan Grob/Pander-428-1 memberikan respons positif terhadap pola baris ganda, dan mampu menghasilkan biji lebih tinggi daripada ditanam baris tunggal. Genotipe Grob/IT-7-5 memberikan hasil tinggi, baik pada pola baris tunggal maupun baris ganda
Pengaruh Pupuk Kandang dan Pupuk Anorganik terhadap Berbagai Varietas Kacang Hijau di Tanah Masam
Kacang hijau dipandang sebagai komoditas alternatif untuk dikembangkan di tanah masam. Identifikasi untuk mendapatkan teknologi budidaya yang sesuai, perlu dilakukan guna meningkatkan produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi varietas dan pupuk yang efektif, guna meningkatkan produktivitas kacang hijau di tanah masam. Penelitian dilaksanakan di rumah kasa Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Malang, Jawa Timur mulai bulan November 2014-Januari 2015. Penelitian ini menggunakan Rancangan Split Plot dengan tiga ulangan. Petak utama adalah empat macam varietas kacang hijau, yaitu: Kenari (V1), Murai (V2), Kutilang (V3), dan Vima 1 (V4). Anak petak adalah lima macam pemupukan, yaitu: tanpa pemupukan (P0), Phonska 300 kg/ha (P1), pupuk kandang sapi 1.500 kg/ha (P2), pupuk kandang sapi 3.000 kg/ha (P3), dan pupuk kandang sapi 5.000 kg/ha (P4). Dengan demikian, terdapat 20 perlakuan dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan varietas Kenari atau Vima 1 dan aplikasi 300 kg pupuk Phonska memberikan bobot biji kacang hijau tertinggi. Hasil tertinggi terdapat pada varietas Kenari dengan aplikasi 300 kg Phonska, yaitu sebesar 6,52 g
PENAMPILAN GALUR-GALUR KEDELAI TOLERAN NAUNGAN PADA UJI DAYA HASIL PENDAHULUAN DI DUA LINGKUNGAN
Pemilihan genotipe yang adaptif di lingkungan naungan dan sekaligus di lingkungan tanpa naungan mempunyai peran penting dalam pengembangan di bawah naungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan galur-galur kedelai toleran naungan yang mampu tumbuh, berkembang, dan berproduksi dengan baik pada lingkungan naungan maupun tanpa naungan, dengan nilai indeks toleransi terhadap cekaman (ITC) yang tinggi. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan kendalpayak, dengan menguji 146 galur dari sepuluh kombinasi persilangan dan 5 varietas pembanding pada dua lingkungan, yaitu lingkungan tanpa naungan dan naungan 50%. Lingkungan naungan diperoleh dari naungan buatan dengan menggunakan paranet hitam. Penempatan perlakuan pada masing-masing lingkungan didasarkan pada rancangan acak kelompok diulang tiga kali. Setiap unit percobaan ditanam pada dua baris dengan panjang 3 m, jarak tanam 40 cm x 15 cm, dua tanaman per rumpun. Pemupukan dilakukan pada saat tanam dengan Urea 50 kg, SP36 100 kg dan KCl 75 kg/ha. Pengamatan dilakukan terhadap umur berbunga dan masak, tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah buku, jumlah polong isi, bobot biji, dan bobot 100 biji. Pengukuran tingkat naungan dilakukan setiap hari dengan membandingkan antara intensitas di bawah naungan dengan di luar naungan. Pengamatan intensitas cahaya dilakukan setiap hari jam 12.00 -13.00 WIB, menggunakan Lux meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan naungan menyebabkan cekaman bagi galur-galur yang diuji dengan intensitas cekaman 20%, yang tergolong rendah. Galur/varietas yang diuji menunjukkan respon yang berbeda terhadap cekaman naungan. Berdasarkan nilai ITC, terdapat 48 galur dengan nilai ITC ≥ ITC Dena 1 (0,89) yang tergolong adaptif terhadap lingkungan naungan. Galur-galur terpilih tersebut teridentifikasi sebagai galur yang adaptif di dua lingkungan (tanpa naungan dan naungan)
Keragaan Karakter Agronomi dan Parameter Genetik Aksesi Ubi Jalar serta Toleransinya terhadap Hama Boleng
Plasma nutfah merupakan sumber gen yang digunakan dalam perakitan varietas. Informasi dari aksesi plasma nutfah mengenai keragaan, keragaman, daya pewarisan, dan kemajuan genetik harapan, serta toleransinya terhadap serangan hama dan penyakit perlu tersedia untuk merakit varietas baru. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi keragaan karakter agronomi dan paramater genetik aksesi ubi jalar (Ipomoea batatas L.) serta toleransinya terhadap hama boleng (Cylas formicarius). Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Muneng pada Mei–September 2014. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Bahan yang digunakan adalah 75 aksesi ubi jalar koleksi Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) dari berbagai daerah di Indonesia. Hasil analisis ragam menunjukkan perbedaan genotipe yang sangat nyata pada semua karakter yang diamati. Aksesi MLGI 0247 menunjukkan bobot umbi per plot tertinggi, sedangkan aksesi MLGI 0175 menunjukkan nilai terendah. Tujuh puluh lima aksesi yang diuji menunjukkan perbedaan ketahanan terhadap hama boleng yaitu satu aksesi ketahanan tinggi (HR), 19 aksesi ketahanan menengah (MR), 41 aksesi ketahanan rendah (LR), tujuh aksesi rentan (S), dan tujuh aksesi ekstrim rentan (ES). Empat aksesi (MLGI 0257, MLGI 0035, MLGI 0226, MLGI 0281) menunjukkan potensi hasil cukup tinggi dengan ketahanan terhadap hama boleng dengan kategori LR. Karakter diameter sulur, bobot tajuk, bobot umbi/plot, kadar bahan kering umbi, dan intensitas kerusakan umbi memiliki keragaman genetik yang luas, sedangkan panjang sulur, luas daun, indeks panen, jumlah umbi/plot, dan persen umbi boleng memiliki keragaman genetik yang sempit. Indeks panen dan bobot umbi/plot memiliki nilai keragaman genetik luas, heritabilitas, dan kemajuan genetik harapan yang tinggi, sehingga karakter tersebut berguna sebagai kriteria seleksi dan berpotensi memberikan respon positif dalam perbaikan hasil ubi jalar
PATOLOGI DAN TEKNIS PENGUJIAN KESEHATAN BENIH TANAMAN ANEKA KACANG
Patologi benih merupakan salah satu bidang ilmu dari penyakit tanaman (fitopatologi), didefinisikan sebagai studi tentang penyakit pada benih untuk mengetahui faktor penyebab penyimpangan fungsi benih. Bidang ilmu ini juga mempelajari hubungan antara patogen dan inangnya yaitu peran biji sebagai sumber penyebaran dan penularan penyakit, serta tindakan yang perlu diambil untuk mengendalikan kerusakan yang diakibatkannya. Diperlukan dukungan pengetahuan lain di antaranya fitopatologi umum, mikrobiologi, dan teknologi benih dalam mempelajari patologi benih. Benih sehat memiliki arti bahwa biji yang digunakan sebagai benih atau bahan tanam, harus bebas dari infeksi ataupun kontaminasi patogen yang terdiri atas beberapa jenis seperti jamur, bakteri, dan virus. Patogen yang menginfeksi benih aneka kacang terdiri atas beberapa jenis jamur, bakteri, dan virus. Berbeda dengan penyakit pada bagian vegetatif tanaman seperti daun dan batang, penyakit benih seringkali tanpa gejala kerusakan sehingga sulit diketahui secara visual. Benih membawa penyakit biasanya dideteksi dengan metode standar dari ISTA (Seed International Seed Testing Association), suatu lembaga resmi di dunia yang menetapkan standar mutu benih termasuk pengujian kesehatan benih. Metode pengujian yang umum dilakukan adalah secara konvensional (pemeriksaan secara visual atau cara kering, cara basah dengan perendaman atau ekstraksi benih, dan inkubasi pada media buatan), deteksi secara serologi dan molekuler, serta metode pertumbuhan benih di rumah kaca. Uji kesehatan benih berperan penting dalam perbaikan mutu benih (seed improvement), perdagangan benih (seed trade), dan perlindungan tanaman (plant protection). ..
Keragaan Pengering Hybrid Energi Surya dan Biomasa untuk Pengeringan Sawut Ubi Kayu Terfermentasi
Penggunaan pengering bertenaga hybrid memiliki keunggulan dapat memanfaatkan tenaga matahari dan biomasa sehingga dapat digunakan pada kondisi cuaca kurang baik, diantaranya untuk pengeringan sawut ubi kayu terfermentasi. Tujuan penelitian ini mengevaluasi keragaan Pengering Hybrid Energi Surya dan Biomasa arang kayu (PHESB) untuk mengeringkan sawut ubi kayu terfermentasi. Keragaan PHESB dievaluasi menggunakan model linier dan exponensial untuk menentukan laju pengeringan (% bb/jam), kapasitas pengeringan (kg/jam), dan kelayakan finansial penerapannya. Mutu hasil pengeringan dianalisis dengan uji homogenitas koefisien regresi (laju pengeringan) dari model pengeringan yang mempunyai tingkat koefisien derterminasi (R2) terbesar dari pengamatan kadar air sawut dalam arah tegak (atas, tengah, bawah) dan mendatar (depan, tengah, belakang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kadar air awal sawut ubi kayu 71,45% bb dan rata-rata suhu pengeringan 40,51 + 3,61 oC, penurunan kadar air sawut ubi kayu mengikuti model linier dengan R2 dari 0,969 sampai 0,984 dengan laju pengeringan homogen baik dalam arah tegak maupun mendatar. Karakteristik PHESB dapat dinyatakan dengan model linier y =-5,081x +78,30 (R2=0,978). Dengan model ini diperoleh kapasitas pengeringan 20,86 kg/jam untuk mencapai kadar air sawut ubi kayu 14% bb. Dengan harga alat pengering Rp. 40 juta/unit dan ongkos jasa pengeringan sawut ubi kayu basah Rp 600/kg diperoleh nisbah keuntungan dengan biaya pengeringan (B/C)<1,0. Secara teknis PHESB layak digunakan, tetapi secara finansial masih belum layak diterapkan dalam bentuk penjualan jasa pengering sawut ubi kayu