Buletin Palawija
Not a member yet
    162 research outputs found

    Peluang Mendapatkan Sumber Ketahanan Untuk Hama Penting Pada Tanaman Kedelai

    Full text link
    Di daerah tropis seperti di Indonesia, tanaman kedelai sangat rentan terhadap berbagai jenis hama. Ragam serangga hama yang menyerang tanaman kedelai sangat banyak dipandang dari spesies maupun familinya. Serangan berat dapat menyebabkan kehilangan hasil 80% bahkan sampai ”puso”. Serangan dapat terjadi sejak tanaman tumbuh sampai menjelang panen, baik secara sendiri maupun secara bersamaan. Salah satu komponen pengendalian hama kedelai adalah penggunaan varietas tahan. Komponen penting dalam rangka membentuk varietas tahan hama adalah tenaga peneliti yang profesional, pengetahuan biologi serangga, tingkat populasi hama, sumber ketahanan (sumber gen tahan), dan metode atau teknik skrining yang tepat. Selain itu perlu penelitian yang lebih mendalam mengenai tingkat ketahanan yang ditemukan pada inang, status hama sasaran (key, occasional, incidental atau potential pest), adanya biotipe dan faktor penentu ketahanan. Berdasarkan beberapa evaluasi yang telah dilakukan di Balitkabi Malang sebelumnya, telah ditemukan sumber-sumber ketahanan terhadap hama pengisap polong, hama ulat grayak dan hama penggerek polong. Galur-galur tersebut adalah IAC-100 dan IAC-80-596-2 yang diketahui mempunyai ketahanan terhadap hama pengisap polong, hama penggerek polong, dan hama ulat grayak. Pada tahun 2003 telah dilepas kedelai varietas Ijen, yaitu galur B4F3WH-177-382-109 yang diperoleh dari persilangan antara varietas Wilis dengan Himeshirazu. Pada tahun 2004 telah ditemukan bahwa galur W/80-2-4-20 (hasil persilangan antara Wilis dengan IAC-80-596-2) mempunyai sifat ketahanan terhadap hama ulat grayak

    Teknologi Penanganan Pascapanen dan Pengolahan Ubikayu Menjadi Produk Antara untuk Mendukung Agroindustri

    Full text link
    Ubikayu setelah dipanen, mudah rusak baik secara fisiologis maupun mikrobiologis sehingga tidak tahan lama disimpan. Hal ini menimbulkan masalah dalam pemasaran dan pemanfaatannya karena dapat menyebabkan penurunan mutu sekaligus kehilangan hasil sampai 25%. Kerugian akibat kehilangan hasil dan jatuhnya harga seringkali dialami petani, terutama pada saat panen raya. Pembuatan gaplek yang umum dilakukan petani untuk pengawetan ubikayu, relatif belum memadai mutunya akibat kurang sempurnanya proses pengolahan. Untuk itu, diperlukan teknik penanganan pasca panen dan pengolahan yang tepat guna menekan kehilangan hasil, memperpanjang daya simpan sekaligus memperluas pemanfaatan ubikayu. Pemanenan ubikayu sebaiknya dilakukan pada saat umur optimal, tergantung varietas dan tujuan penggunaannya. Upaya mempertahankan mutu ubikayu segar dalam skala kecil dapat dilakukan dengan menggunakan serbuk gergaji basah dan sekam lembab yang terbukti efektif 1-3 bulan penyimpanan. Ubikayu segar juga dapat diolah menjadi produk antara yang relatif lebih awet disimpan, seperti gaplek/chips, pati, tepung dan serbuk ubikayu yang dapat dikendalikan mutunya melalui teknik pengolahan yang tepat dan pemilihan jenis/varietas yang sesuai. Produk antara ini lebih kecil volumenya dan fleksibel untuk digunakan sebagai bahan baku beragam produk pangan dan industri nonpangan. Hal ini akanberdampak pada peningkatan nilai tambah dan permintaan terhadap ubikayu sekaligus memacu usaha agroindustri berbasis ubikayu. Sebagai contoh, pengolahan tepung ubikayu memberi nilai tambah sebesar Rp 189/ kg pada tingkat harga ubi segar Rp 200/kg. Namun, untuk pengembangannya, diperlukan dukungan kebijakan dan strategi yang tepat dengan mempertimbangkan peran aktif petani, pengolah dan konsumen serta promosi dan penyuluhan yang intensif untuk memperbaiki citra produk pangan dari ubikayu

    PEMBENTUKAN VARIETAS UNGGUL KEDELAI HASIL TINGGI, BIJI BESAR DAN TOLERAN PENYAKIT KARAT

    No full text
    Dalam tulisan ini diuraikan dengan singkat strategi dan usaha untuk mendapatkan varietas unggul kedelai tahan karat, berbiji besar dan berpotensi hasil tinggi. Strategi yang digunakan pertama-tama adalah mengevaluasi dan seleksi genotipe dari plasma nutfah untuk memperoleh gen-gen yang tahan penyakit karat serta sifat lainnya. Selanjutnya dengan metode silang tunggal dilakukan hibridisas dengan tetuah pemilih yang menghasilkan galur-galur yang perlu diseleksi. Seleksi dan obserasi galur-galur tersebut telah menghasilkan galur MSC 9021-10-1, (persaingan antara genotipe introduksi AVRDC Taiwan yaitu G 10050 dengan Wilis) yang lebih tahan terhadap penyakit karat dibanding galur lain. Pengujian dilakukan dari 1993 hingga tahun 2000. Dari uji daya hasil pendahuluan, uji daya hasil lanjutan dan percobaan multilokasi, galur tersebut hampir konsisten sifat-sifatnya hasil, ketahanan terhadap penyakit karat, dan ukuran biji selalu lebih baik dari galur-galur lainnya. Galur MSC 9021-C-10-1 mempunyai potensi hasil 2,7 t/ha dengan ukuran biji 11,8 g/100 biji dan umur masak tergolong sedang (89 hari) serta agak tahan tahan terhadap penyakit karat

    PEMBENTUKAN VARIETAS UNGGUL KEDELAI TAHAN ULAT GRAYAK

    Full text link
    Ulat Grayak (Spodoptera litura) merupakan hama perusak daun utama pada tanaman kedelai di Indonesia. Tersedianya sumber gen dan metode seleksi merupakan hal penting dalam program pemuliaan untuk meningkatkan ketahanan terhadap ulat grayak.Pemuliaan kedelai untuk ketahanan terhadap ulat grayak telah dimulai tahun 1995, diawali dengan kegiatan skrining ketahanan terhadap sejumlah genotipe baik di lapang maupun laboratorium. Mekanisme ketahanan kedelai terhadap ulat grayak dapat ditilik dari faktor antixenosis (nilai preferensi) dan antibiosis (abnormalitas, mortalitas, umur larva, dan berat larva). Genotipe Sodendaizu, Himeshirazu, IAC 80 dan IAC 100 dinilai tahan terhadap ulat grayak, yang diindikasikan oleh nilai indeks antixenosis lebih rendah dari 1,0 dan diikuti oleh parameter antibiosis berupa tingginya pertumbuhan larva abnormal, mortalitas tinggi dan diikuti oleh pertumbuhan larva lebih lama. Berat larva umur 10 hari setelah investasi (HSI) dari genotipe IAC 80 (14,8 g) lebih rendah dibanding varietas wilis (180,1 g). Berat larva 10 his berkorelasi nyata dengan nilai indeks antixenosis (r = 0,68*). Karenanya berat larva umur 10 HSI berpeluang digunakan sebagai parameter seleksi ketahanan kedelai terhadap ulat gayak.Seleksi ketahanan galur kedelai terhadap ulat grayak di laboratorium dan dilanjutkan dengan oleh penilaian karakter agronomik di lapang diperoleh lima galur harapan (B4F3WH-177-382-109, B3F3KW-25-2-10, B4F5W80-177-8-1-4, B4F4W80/80-115-1-47 dan B5F3W80-327-42-174) dengan daya hasil sekitar 2,0 t/ha. Galur harapan tersebut masih perlu dinilai lagi ketahanannya terhadap ulat grayak dilapang

    PENINGKATAN PRODUKSI UBIKAYU DI LAHAN KERING IKLIM KERING

    Full text link
    Luas areal lahan kering di Indonesia yang dimanfaatkan untuk budidaya tanaman pangan 11 juta hektar,sedang luas panen uikayu sekitar 12t/ha sedang potensi hasil ubikayu diatas 60 t/ha. Di samping itu,komoditas ubikayu sangat adaptif terhadap berbagai iklim dan jenis tanah sehingga ubikayu berpeluang besar untuk ditingkatkan produksinya baik melalui ekstensifikasi maupun intensifikasidi lahan kering khususnya dilahan kering iklim kering. Namun demikian, untuk meningkatkan produksi ubikayu di lahan kering iklim kering banyak kendala yang harus dicari pemecahannya baik yang bersifat teknis maupun yang bersifat sosial ekonomi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan pengelolaan yang optimal klon unggul OMM-90-3-76 mampu menghasilkan 56 t/ha umbi segar dibanding varietas lokal yang dikelola petani hanya menghasilkan 11 t/ha. Pola tanam tumpangsari ubikayu + kacang tanah diikuti tanaman penutup tanah kanavalia tidak menurunkan produksi ubikayu dan bermanfaat untuk mengkonservasi kesuburan tanah. Penggunaan pupuk ZA disamping pupuk NPK dapat meningkatkan efisiensi pemupukan P dan meningkatkan produksi ubikayu. Penanaan ubikayu dua kali pada awal musim hujan dan menjelang akhir musim hujan dapat menghindarkan terkonsentrasinya panen raya ubikayu yang dapat memerosotkan harga jual ubikayu serta dapat menyediakan bibit ubikayu kualitas segar ,ada musim tanam berikutnya . Namun demikian pengembangan ubikayu di lahan kering tetap terkendala oleh permasalahan teknologi pasca panen dan pemasaran hasil yang masih memerlukan pemecahan dan banyak penelitian

    BERTANAM KEDELAI DI TANAH JENUH AIR: OPSI INOVATIF PENGELOLAAN AIR UNTUK KEDELAI DI LAHAN SAWAH IRIGASI

    No full text
    Tanaman kedelai masih dominan ditanam di lahan sawah dalam pola tanam padi-padi-kedelai atau padi-kedelai-kedelai. Selama dasawarsa terakhir ini telah dirasakan adanya kondisi iklim khususnya curah uhujan yang tidak menentu dalam arti saat, jumlah dan distribusi dan ditambah dengan adanya angin siklon El Nino basah sehingga tanah sawah mengalami kondisi jenuh . Di lapang menunjukkan bahwa pertanaman kedelai pada awal musim kemarau sering mengalami kondisi jenuh air pada awal pertumbuhan . untuk itu diperlukan upaya agar cekaman jenuh air tersebut tidak banyak berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai. Dari serangkaian penelitian di luar negeri memperlihatkan bahwa budidaya kedelai di tanah jenuh air memberikan peluang untuk meningkatkan produksi kedelai. Di Australia, budidaya tanah jenuh air dapat meningkatkan hasil kedelai sebesar 25%, sedangkan di daerah Thailand bagian tengah teknologi ini telah diterapkan oleh petani pada areal yang cukup luas dan hasil kedelai naik dari 2,0 menjadi 4 t/ha. Dari hasil penelitian di indonesia juga memberikan peluang.cekaman kondisi jenuh air ini pada umumnya terjadi pada fase vegetatif. Hasil penelitian komponen teknologi kedelai pada kondisi tanah jenuh air diperoleh bahwa tinggi permukaan air dalam saluran draenase 15cm dari permukaan tanah tidak menurunkan hasil kedelai,varietas unggul kedelai berbiji kecil(kawi)dan sedang(wilis)lebih toleran,cekaman tanah jenuh air meningkatkan jumlah bintil akar. Lebar bedengan yang optimal adalah < 2,00 m dengan cara tanam 4 baris beranjak 40cm antar baris dan 10cm dalam baris,sedangkan takaran , jenis dan saat pemberian pupuk anorganik belum menunjukkan hasil yang positif walaupun penambahan pupu Urea dapat meningkatkan hasil kedelai jenuh air ditanah oxisol.Bertanam kedelai di tanah jenuh air merupakan salah satu teknologi opsi inovatif untuk meningkatkan hasil kedelai walaupun di tanah kondisi jenuh air .walaupun begitu masih terlalu dini untuk menyatakan bahwa teknologi ini layak dikembangkan di lahan petani karena masih memerlukan klarifikasi komponen teknologi pada beberapa jenis tanah yang berbeda khususnya di lahan sawah

    Pengelolaan Air Pada Budidaya Kedelai di Lahan Sawah Tanah Vertisol

    Full text link
    Luas tanah Vertisol di Indonesia adalah 832.000 ha, sekitar 350.000 ha merupakan lahan sawah terdapat di P. Jawa dan digunakan untuk budidaya kedelai. Tanah Vertisol mengandung antara 30–95% lempung dengan tipe 2:1; akan mengembang bila basah dan mengkerut, keras, mampat dan pecah membentuk bongkahan dan retakan bila kering. Sifat fisik tanah tersebut menyebabkan kisaran tingkat ketersediaan lengas tanah antara kekeringan dan kelebihan air menjadi sempit sehingga pengelolaan fisik lahan merupakan fungsi dari status lengas tanah. Hasil kedelai pada lahan sawah Vertisol berpeluang ditingkatkan dengan pengelolaan lengas tanah. Nilai kritis kandungan lengas tanah Vertisol untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif kedelai sekitar 50% dari kapasitas lapang atau pF 3,3. Sedangkan pertumbuhan vegetatif dan generatif mencapai maksimal pada saat kandungan lengas tanah antara 75% hingga 87,8% air tersedia. Di lapang, kondisi tersebut sangat sulit dicapai secara tepat, namun bisa didekati dengan pengairan paling tidak setiap 10 hari sekali selama pertumbuhan tanaman sehingga tanaman tidak layu, tidak kerdil, tidak terserang gejala khlorosis serta banyak membentuk polong. Hasil penelitian pada musim kemarau menunjukkan hasil tinggi dengan tiga kali pengairan (pada saat tanam, awal berbunga dan pengisian polong) apabila masih ada hujan atau empat kali pengairan tanpa adanya hujan. Praktek ini memberikan hasil biji kedelai tinggi (3,13 t/ha), namun petani enggan mengeluarkan biaya tambahan untuk 4 atau 5x pengairan karena biaya bisa melebihi 30% dari total biaya produksi. Sedangkan budidaya kedelai pada musim hujan di lahan sawah tadah hujan mutlak memerlukan saluran drainase sebagai sarana pematusan lahan. Berhubung jumlah curah hujan tidak bisa diduga dan di sisi lain kadar lengas tanah optimal untuk pertumbuhan vegetatif, generatif dan hasil biji adalah antara 75–87,8%AT maka lebar bedengan atau jarak antar saluran drainase antara 3 hingga 4 m disarankan untuk dilakukan dengan pengalaman hasil biji yang diperoleh sama dengan kedelai yang ditanam pada bedengan yang lebih sempit

    Pebentukan Varietas Unggul Kacang Hijau Tanah Penyakit Embun Tepung

    No full text
    Kacang hijau (Vigna radiata) merupakan tanaman kacang-kacangan utama ketiga setelah kedelai dan kacang tanah. Tanaman ini rentan terhadap serangan penyakit pada semua stadia pertumbuhannya. Penyakit embun tepung tergolong penyakit yang dominan dan banyak dijumpai pada musim kemarau dengan suhu udara yang dingin. Dari persilangan buatan galur VC1973A dengan VC2750A, diperoleh galur MMC157d-Kp-1 yang mempunyai sifat tahan penyakit embun tepung, berdaya hasil tinggi, dan berumur genjah. Galur MMC157d-Kp-1 mempunyai biji besar dan warna hijau kusam, postur tanaman pendek, serta cocok dikembangkan di daerah sub optimal

    TEKNOLOGI PASCA PANEN UBI JALAR MENDUKUNG DIVERSIFIKASI PANGAN DAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI

    Full text link
    Upaya diversifikasi pangan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal, seperti ubi jalar merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras dan terigu. Sekitar 89% produksi ubi jalar di Indonesia digunakan untuk bahan pangan, sisanya untuk pakan ternak dan bahan baku industri. Ubi jalar kaya akan karbohidrat, vitamin, dan mineral. Khusus ubi jalar kuning/orange kaya akan betakaroten (prekursor vitamin A) dan ubi jalar ungu mengandung senyawa antosianin (antioksidan). Pemanfaatan ubi jalar masih terbatas pada jenis-jenis makanan tradisional yang citranya seringkali dianggap lebih rendah dibanding produk olahan terigu. Diversifikasi, baik pengolahan dari bahan segar maupun bahan antara akan memperluas pemanfaatannya, memberi nilai tambah, sekaligus memacu pengembangan agroindustri berbasis ubi jalar. Penanganan pasca panen (penentuan dan cara panen, penyimpanan segar) yang tepat sangat diperlukan agar bahan baku ubi jalar tersedia dengan mutu dan jumlah yang memadai. Dari bahan ubi jalar segar dapat diolah beragam produk, seperti ubi rebus/goreng, keripik, stik, jus, saos, dan selai. Sementara dari produk antara ubijalar, seperti tepung, tepung instan, dan pati dapat digunakan sebagai substitusi terigu (10–100%) pada produk kue kering, kue basah, roti, dan mie. Untuk meningkatkan kadar proteinnya, tepung ubi jalar dapat dicampur dengan tepung kacang-kacangan (tepung komposit). Pengembangan agroindustri ubi jalar mempunyai prospek yang baik. Teknologi pengolahan menjadi berbagai produk, baik untuk usaha rumah tangga, usaha kecil, maupun besar, telah tersedia. Selain secara ekonomis menguntungkan, sebagian pengolahan tersebut dapat memanfaatkan umbi-umbi kecil yang selama ini tidak dimanfaatkan. Pengembangan pengolahan ubi jalar dapat dilakukan dengan sistem kemitraan antara industri skala kecil/menengah (UKM) dengan industri besar dengan melibatkan semua stake holder mulai dari petani sampai pengolah untuk mendapatkan bahan baku dan produk olahan yang terjamin mutunya dan dapat bersaing di pasaran

    STATUS HAMA PENGISAP POLONG KEDELAI Riptortus Linearis DAN CARA PENGENDALIANNYA

    No full text
    Salah satu hama penting pada tanaman kedelai adalah hama pengisap polong Riptortus linearis. Serangan hama pengisap polong R. linearis dapat mengakibatkan kehilangan hasil kedelai hingga 80% bahkan puso apabila tidak dikendalikan. Sampai saat ini hama tersebut telah tersebar di sentra produksi kedelai terutama di daerah Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sumatera Selatan. Stadia pertumbuhan yang paling peka terhadap serangan hama pengisap polong adalah stadia pembentukan dan pengisian polong (R5–R6). Serangan pada stadia ini mengakibatkan kerusakan biji 15–20% dan kehilangan hasil paling tinggi (80%). Hama kepik polong R. linearis dapat hidup pada berbagai jenis tanaman inang seperti Tephrosia spp, Acasia vilosa, dadap, Desmodium, Solanaceae, dan Crotalaria. Pengendalian pengisap polong pada tanaman kedelai dilakukan berlandaskan strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Strategi PHT adalah melaksanakan beberapa komponen pengendalian yang kompatibel dalam satu kesatuan pengendalian dan didasarkan pada asas ekologi dan ekonomi

    131

    full texts

    162

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Palawija
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇