Buletin Palawija
Not a member yet
    162 research outputs found

    Pengembangan pangan berbasis kacang-kacangan dan umbi-umbian guna pemantapan ketahanan pangan nasional

    No full text
    Pemenuhan kebutuhan karbohidrat dan protein bangsa Indonesia hingga saat ini masih didominasi oleh padi-padian, termasuk beras dan terigu. Untukkeperluan tersebut Pemerintah terpaksa harus selalu mengimpor beras apabila sedikit terjadi goncangan dalam produksi beras di dalam negeri. Sedangkan impor terigu telah mencapai 4,5 juta ton per tahun.Impor sumber karbohidrat dan protein tersebut tentu menggunakan devisa yang besarnya signifikan. Upaya menekan impor beras dan terigu melalui peningkatan kemampuan produksi dalam negeri dan diversifikasipangan pada hakekatnya adalah meningkatkan ketahanan pangan nasional yang sekaligus pula meningkatkan kesempatan ekonomi bangsa Indonesia.Sejalan dengan itu, ketergantungan terhadap beras dan terigu dapat diperlonggar dengan penganeka ragaman pangan melalui perubahan citra bahan pangan pokok selain beras. Pengubahan citra bahanpangan selain beras yang secara alami inferior harus dilakukan melalui pengembangan atau pengolahan menjadi bentuk komoditas baru yang diperkaya dengan nutrisi sehingga lebih menarik.Umbi-umbian merupakan tanaman tradisional yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan masyarakat sebagai sumber karbohidrat yang dapat diandalkan sebagai komplemen dan suplemen beras, namun bahan pangan tersebut dalam bentuk segar memiliki kandungan kalori dan protein yang rendah. Karakteristik kalori ubi segar dapat dihilangkan dengan memprosesnya menjadi bahan kering berupa irisan atau tepung dengan kadar air setara beras dan aman disimpan. Kandungan protein yang rendah dapat di tingkatkan dengan menambahkan tepung kacang-kacangan sehingga menjadi tepung komposit kaya nutrisi. Dari tepung ubi-ubian atau komposit dapat dikembangkan aneka produk olahan dengan citra rasa baru yang menarik. Penganekaragaman pangan berbasis umbi-umbian dan kacang-kacangan merupakan alternatif yang paling rasional untuk memecahkan permasalahan pangan dan memantapkan ketahanan pangan

    PENYAKIT COWPEA MILD MOTTLE VIRUS PADA KEDELAI DAN STRATEGI PENGENDALIANNYA

    Full text link
    Cowpea mild mottle virus (CMMV) merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman kedelai. Virus tersebut dilaporkan telah tersebar luas di sentra produksi kedelai di Jawa, Sumatera, dan Lombok. CMMV termasuk dalam kelompok Carnation Latent virus (Carla-virus), dapat ditularkan secara mekanik, oleh vektor kutu kebul, Bemisia tabaci Genn. secara non-persisten, tetapi tidak ditularkan melalui biji kedelai. Selain kedelai, CMMV dapat menginfeksi kacang tunggak, tomat, kacang tanah, dan buncis, serta beberapa jenis gulma dari famili chenopodiaceae, leguminosae, dan solanaceae. Kehilangan hasil kedelai akibat infeksi CMMV berkisar 14,6–81,5%, tergantung varietas dan umur tanaman pada saat terinfeksi. Tanaman muda lebih rentan terhadap infeksi dibanding tanaman tua. Pada umumnya intensitas serangan CMMV pada pertanaman kedelai musim kemarau II meningkat seiring dengan meningkatnya populasi hama kutu kebul di lapangan. Pola perkembangan epidemi penyakit CMMV di lapangan mengikuti pola bunga majemuk. Pengendalian CMMV dapat dilakukan secara terpadu dengan menggunakan varietas tahan atau toleran, pengaturan waktu tanam, rotasi tanam, eradikasi tanaman sakit, dan sanitasi lingkungan serta pengendalian vektor dengan pestisida.

    PROFIL AGRIBISNIS DAN DUKUNGAN TEKNOLOGI DALAM AGRIBISNIS KACANG TANAH DI INDONESIA

    Full text link
    Tanaman kacang tanah pada lahan kering memberikan kontribusi pendapatan yang signifikan (60%) bagi petani, sehingga terus ditanam petani meskipun kurang mendapat perhatian yang memadai dari para pihak yang berkepentingan dalam agribusnis kacang tanah. Daya tampung tenaga kerja pada agribisnis kacang tanah untuk sektor industri primer relatif terbatas dengan laju pertambahan luas panen 1,3%. Akses terhadap teknologi belum tampak menggeliat dalam lima tahun terakhir ini. Kenaikan harga input dan upah tenaga kerja yang sangat tajam pada tahun 2005 dapat memperlemah akses terhadap teknologi. Kinerja teknologi petani memberikan hasil sekitar 1,5-1,7 t/ha polong kering yang dapat ditingkatkan menjadi 2,4-3,0 t/ha atau meningkat 30%-80% dengan perbaikan teknologi, namun teknologi inovatif tersebut masih tergolong padat karya dan padat modal bagi petani kacang tanah berskala kecil. Efisiensi usahatani kacang tanah dalam jangka pendek yang paling mungkin dapat dilakukan adalah melakukan penghematan penggunaan benih dari 100-150 kg/ha dengan tanam sebar pada alur bajak berjarak 20 cm antar alur, atau sebar acak menjadi 80-90 kg/ha dengan sebar pada alur bajak berjarak 40 cm antar alur bajak. Kegiatan panen dan pasca panen yang menyerap 20% tenaga kerja dapat diserahkan kepada penebas, mengingat terbatasnya tenaga dan tiadanya lantai jemur yang memadai di tingkat petani. Pengembangan kacang tanah dengan teknologi inovatif dalam jangka pendek perlu diutamakan pada daerah pemasuk industri pengolahan skala besar di Jawa Tengah dan skala menengah di Sumatera Utara. Guna mengendalikan mutu produk perlu sosialisasi standarisasi mutu kepada para pihak terkait sehingga produk olahannya dapat bersaing di pasar internasional

    ULAT GRAYAK Spodoptera litura Fabricius (LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE) PADA TANAMAN KEDELAI DAN PENGENDALIANNYA

    Full text link
    Di Indonesia ulat grayak, S. litura, dapat menyerang berbagai jenis tanaman kacang-kacangan. Bioekologi hama ini telah banyak diketahui termasuk arti ekonomi, dan upaya pengendaliannya. Pemahaman bioekologi ulat grayak perlu diketahui untuk dipakai sebagai salah satu pertimbangan guna menentukan strategi pengendalian ulat grayak yang efektif. Penggunaan insektisida untuk mengendalikan ulat grayak pada tanaman kedelai yang intensif telah banyak dilakukan, namun belum sepenuhnya dapat menekan populasi ulat grayak. Atas pertimbangan biaya, keamanan lingkungan, dan strategi pengendalian hama terpadu maka upaya mencari pengendalian alternatif antara lain: penggunaan musuh alami, dan varietas tahan telah dilakukan. Virus penyebab penyakit Nuclear Polyhedrosis Virus (NPV), pada ulat grayak merupakan entomopathogenic virus yang banyak ditemukan di lapangan dan berpeluang untuk dapat dikembangkan, karena relatif mudah cara penanganannya dibanding dengan penggunaan parasitoid dan predator

    PENINGKATAN KETAHANAN KACANG HIJAU TERHADAP HAMA GUDANG Callosobruchus chinensis: DARI PENDEKATAN KONVENSIONAL MENUJU BIOTEKNOLOGI

    Full text link
    Hama Callosobruchus chinensis menyebabkan kerusakan pasca penen yang serius pada komoditas kacang hijau. Perbaikan ketahanan kacang hijau terhadap hama C. chinensis telah lama dilakukan namun belum memberikan hasil yang memuaskan. Penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi gen-gen baru pada tanaman yang memberi ketahanan terhadap hama bruchus, mendapatkan beberapa kandidat gen yang berasal dari senyawa pelindung, yang dapat berupa senyawa proteic maupun aproteic. Penemuan senyawa metabolit sekunder pada tanaman yang bersifat insektisidal terhadap hama bruchus (khususnya amylase inhibitor, protease inhibitor, lektin, dan visilin) membuka peluang dilakukannya teknik transformasi gen, khususnya gen pengendali faktor ketahanan terhadap hama C. chinensis (seperti α –AI-1). Keberhasilan transformasi gen pengendali α –AI pada kacang merah maupun kacang polong menunjukkan bahwa transfer gen ke dalam spesies legum lain seperti kacang hijau memungkinkan untuk dilakukan. Dengan adanya ekspresi gen pengendali protein inhibitor pada biji kacang hijau maka kerusakan akibat serangan hama C. chinensis dapat diperkecil

    POTENSI, KENDALA, DAN UPAYA MEMPERTAHANKAN KEEFEKTIFAN CENDAWAN ENTOMOPATOGEN UNTUK MENGENDALIKAN HAMA TANAMAN PANGAN

    Full text link
    Cendawan entomopatogen merupakan bioinsektisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama. Beberapa jenis cendawan entomopatogen yang berpotensi untuk mengendalikan beberapa jenis hama penting antara lain; Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae, Nomuraea rileyi, Paecilomyces fumosoroseus, Fusarium sp., Hirsutella thompsoni, Aspergillus parasiticus, dan Verticillium lecanii. Kurang efektifnya cendawan entomopatogen untuk pengendalian hama pada tanaman pangan disebabkan karena (1) petani kurang mampu mengidentifikasi jenis hama di lapangan, (2) kurangnya kemampuan petani tentang cara perbanyakan dan penyiapan cendawan entomopatogen, (3) cendawan entomopatogen rentan terhadap sinar UV, dan (4) tanaman pangan bersifat semusim dan kurang komersial dibandingkan hortikultura. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keefektifan cendawan antara lain: (1) meningkatkan kemampuan mengidentifikasi jenis hama yang akan dikendalikan, (2) aplikasi cendawan dilakukan pada sore hari, (3) aplikasi dengan konsentrasi konidia minimal 10 7 /ml, (4) aplikasi diulang sebanyak tiga kali, dan (5) menambahkan bahan perekat dan pembawa pada suspensi konidia sebelum aplikasi

    HUBUNGAN STATUS HARA NPKS DALAM TANAH DAN TANAMAN TERHADAP HASIL BIJI KEDELAI DI LAHAN SAWAH ENTISOL

    Full text link
    Di Indonesia, sebagian besar (65%) kedelai di tanam di lahan sawah dengan jenis tanah Entisol, Vertisol dan Inceptisol dengan produktivitas beragam antara 0,50–2,00 t/ha. Keragaman tingkat kesuburan tanah menjadi salah satu faktor penentu keragaman produktivitas tersebut. Hasil penelitian yang telah dilakukan di lahan sawah Entisol di Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, dan Nusa Tenggara Barat memperlihatkan bahwa tidak terjadi banyak perubahan status hara NPKS tanah pada masing-masing lokasi selama lima tahun dengan kategori berturut-turut kahat, cukup, rendah dan sangat rendah. Hubungan antara kadar hara NPKS di dalam tanah maupun tanaman dengan hasil biji kedelai, tidak secara konsisten menunjukkan korelasi yang linier. Hal ini memberi indikasi yang cukup kuat bahwa ada faktor lain yang mempengaruhi hubungan tersebut, antara lain cara-cara budidaya, dan kadar unsur hara lain yang tidak dievaluasi (kadar C-organik). Status kadar hara NPKS di dalam tanah maupun tanaman menunjukkan tingkat keragaman yang kecil sehingga dapat disimpulkan bahwa suatu anjuran pemupukan dapat diterapkan dibeberapa daerah sentra produksi kedelai selama daerah tersebut termasuk jenis tanah Entisol

    PENULARAN VIRUS MOSAIK KEDELAI (SMV) DAN VIRUS KERDIL KEDELAI (SSV) LEWAT BENIH, DAN UPAYA MEMPRODUKSI BENIH KEDELAI BEBAS SMV DAN SSV

    Full text link
    Salah satu penyebab rendahnya produktivitas tanaman kedelai di Indonesia adalah karena serangan penyakit virus dan penggunaan benih yang kualitasnya tidak terjamin. Di antara lebih dari 10 jenis penyakit virus yang menyerang tanaman kedelai di Indonesia, dua diantaranya yaitu virus mosaik kedelai (Soybean mosaic virus= SMV ) dan virus kerdil kedelai ( Soybean stunt virus =SSV) ditularkanmelalui benih kedelai. Di dalam biji kedelai yang terinfeksi, virus SMV dan SSV terdapat di dalam jaringan kulit biji atau embrio (kotiledon dan lembaga). Penularan SMV and SSV melalui benih kedelai memegang peranan penting dalam penyebarluasan dan perkembangan epidemi penyakit virus di lapang. Untuk mendeteksi SMV dan SSV dalam biji kedelai dapat dilakukan cara sederhana dengan mengamati langsung secara visual, uji ditumbuhkan (growing-on test), uji infektivitas (invectivity test) atau menggunakan teknik serologi (uji presipitasi, uji aglutinasi, immunoelectron microscopy (IEM), enzyme linked immunosorbent assay (ELISA), radio immunosorbent assay (RISA), dan hibridisasi asam nukleat. Benih kedelai yang bebas virus SMV dan SSV dapat diproduksi dengan cara: (1) menghindari sumber infeksi awal, yaitu dengan menggunakan stok benih sehat, menghilangkan tanaman kedelai terinfeksi dan sumber infeksi lain di lapang, (2) mencegah masuk dan tersebarnya virus SMV dan SSV ke pertanaman kedelai dengan isolasi tempat dan waktu, pengendalian vektor, serta (3) menanam varietas tahan atau yang tidak menularkan virus lewat bij

    Hama Thrips pada Tanaman Kacang Hijau dan Komponen Pengendaliannya

    Full text link
    Thrips (Megalurothrips usitatus Bagnall) adalah serangga polyphag yang dapat menyerang bunga dan daun kacang hijau. Adanya populasi dan intensitas serangan Thrips yang tinggi akan menghambat pertumbuhan tanaman kacang hijau sehingga tanaman menjadi kerdil, pembentukkan bunga terlambat, kerontokan bunga, dan menurunkan hasil tanaman. Kehilangan hasil yang ditimbulkan bervariasi tergantung pada varietas dan fase kritis tanaman. Bila serangan Thrips terjadi pada fase kritis (mulai umur 2 minggu), kehilangan hasil pada varietas rentan mencapai 60%, sedangkan pada galur tahan hanya mencapai 28%. Upaya pengendalian Thrips pada tanaman kacang hijau dapat dilakukan dengan beberapa komponen pengendalian antara lain: penanaman galur kacang hijau tahan Thrips MLG-716, pemanfaatan Orius tantillus sebagai pemangsa dominan untuk nimfa dan Thrips dewasa, menanam kacang hijau pada MK I, dan penggunaan insektisida efektif bila cara pengendalian yang lain sudah tidak mampu lagi untuk menekan serangan Thrips. Dengan menggunakan beberapa komponen pengendalian di atas diharapkan tingkat kerusakan tanaman dapat ditekan, hasil dapat ditingkatkan dan keamanan lingkungan tetap terjaga. Di Indonesia, pada tahun 2000 produksi kacang hijau mencapai 290.000 t biji kering, dengan produktivitas rata-rata 0,895 t/ha (BPS, 2001). Penggunaan kacang hijau secara formal belum diteliti, tapi diperkirakan sekitar 90% hasil yang diperoleh langsung dijual. Berdasarkan ketersediaan produk bahan olahan di pasar, persentase terbesar urutan penggunaan kacang hijau adalah sebagai kecambah, bubur, makanan bayi, industri minuman, kue dan tahu (Sumarno, 1993). Produksi kacang hijau tersebut masih rendah, sementara permintaannya cenderung meningkat. Selama tahun 1989–1999 permintaan kacang hijau meningkat antara 2,74–32,41% per tahun, sehingga untuk memenuhi kebutuhan nasional, Pemerintah mengimpor sejumlah 309–73.191 t/tahun (Pinem, 2000)

    Lalat Kacang, Ophiomyia phaseoli Tryon (Diptera: Agromyzidae) pada Tanaman Kedelai dan Cara Pengendaliannya

    Full text link
    Lalat kacang (Ophiomyia phaseoli Tr.), berstatus hama penting pada tanaman kedelai di Indonesia. Serangan yang berlangsung sejak 4–10 hari setelah tanam (HST) mengakibatkan kematian tanaman, dan serangan setelah 10 HST menyebabkan tanaman kerdil dan polong yang terbentuk hanya sedikit. Lalat kacang tersebar di berbagai negara di dunia termasuk di berbagai daerah di Indonesia, dengan tingkat populasi dan serangan yang tinggi pada musim kemarau. Untuk dapat mengendalikan populasi dan serangan lalat kacang secara tepat, efektif, dan efisien, penelitian berbagai aspek ekobiologi lalat kacang dan cara pengendaliannya telah banyak dilakukan baik di Indonesia maupun di negara-negara lain. Faktor dominan yang menunjang pertumbuhan populasi lalat kacang di alam bebas adalah tersedianya tanaman inang sepanjang tahun secara berlimpah. Di lain pihak, faktor yang berperan dalam menekan populasi lalat kacang adalah musuh alami yaitu parasitoid dan predator. Periode kritis tanaman kedelai terhadap serangan lalat kacang adalah sejak tumbuh sampai tanaman berumur 10 HST. Puncak populasi imago terjadi pada saat tanaman berumur 5 HST atau 6 HST dan terdapat preferensi imago terhadap umur tanaman untuk meletakkan telurnya. Imago lebih menyukai tanaman umur 5 HST sebagai tempat untuk meletakkan telur. Telur diletakkan di permukaan atas kotiledon sebesar 98,16%. Pemantauan populasi imago dapatdilakukan pada pukul 06.00–08.00 saat tanaman berumur 5 HST atau 6 HST, dan pengamatan tanaman terserang dilakukan pada 7 HST atau 8 HST. Cara penentuan tanaman contoh yang akan diamati menggunakan metode diagonal. Keputusan pengendalian didasarkan pada ambang kendali yaitu populasi imago 14ekor/500 tanaman (=1,4 ekor/50 tanaman) pada saat tanaman berumur 5 HST atau 6 HST. Ambang kendali berdasarkan tanaman terserang saat tanaman berumur 7 HST atau 8 HST adalah sebesar 2,5%. Waktu aplikasi insektisida yang tepat adalah pada saat tanaman kedelai berumur 8 HST (= 4 hari setelah tumbuh), pada pukul 06.00–08.00. Berbagai teknologi pengendalian lalat kacang yang secara parsial efektif mengendalikan populasi dan serangan lalat kacang, ternyata di antara berbagai teknologi pengendalian tersebut terdapat perbedaan efektivitas dalam mengendalikan lalat kacang. Selain itu juga terdapat perbedaan efisiensi dalam mempertahankan kapasitas hasil kedelai Wilis. Teknologi pengendalian lalat kacang yang efektif dan efisien adalah cara kimiawi dengan menggunakan insektisida yang bersifat sistemik (monokrotofos), diaplikasikan pada pagi hari saat tanaman berumur 8 HST (= 4 hari setelah tumbuh), dan berdasarkan pemantauan populasi atau tanaman terserang. Usaha untuk mendapatkan varietas kedelai tahan lalat kacang dengan metode seleksi berdasarkan persen kematian tanaman, penting untuk dilanjutkan

    131

    full texts

    162

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Palawija
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇