Buletin Palawija
Not a member yet
    162 research outputs found

    PENGENDALIAN HAMA TERPADU PADA BUDIDAYA KEDELAI

    No full text
    Salah satu kendala untuk meningkatkan produksi kedelai adalah karena gangguan hama. Kehilangan hasil akibat serangan hama pada tanaman kedelai dapat mencapai 80%, bahkan puso apabila tidak dilakukan tindakan pengendalian. Usaha pengendalian hingga saat ini masih mengandalkan penggunaan pestisida kimiawi yang aplikainya masih belum memenuhi rekomendasi. Oleh karena itu upaya pengendalian hama harus didasarkan pada program Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan mengutamakan usaha peningkatan peran pengendalian alami (iklim, musuh alami dan kompetitor) dapat bekerja secara optimal.Keberhasilan PHT pada tanaman kedelai diperlukan informasi sifat-sifat biologi dan ekologi serta arti ekonomi yang ditimbulkan oleh hama pada tanaman kedelai. Guna memperoleh hasil penerapan PHT yang optimal di tingkat petani maka pemasyarakatannya dapat ditempuh melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT)

    Prospek Pengembangan Sistem Penjualan Jasa Alsintan Pengeringan Kacang Tanah Polong

    Full text link
    Salah satu kendala dalam mendukung upaya peningkatan dan keberlanjutan produksi kacang tanah di Indonesia yang memenuhi standar mutu FAO (kandungan aflatoksin maksimum 30 ppb) adalah relatif lambannya adopsi teknologi mekanis (Alsintan) di tingkat petani. Hal ini disebabkan oleh penerapan Alsintan relatif membutuhkan persyaratan yang lebih kompleks dibanding dengan penerapan teknologi prapanen seperti varietas unggul, cara pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit. Penerapan Alsintan di samping membutuhkan investasi yang relatif mahal juga membutuhkan tingkat kemampuan pengelolaan yang memadai agar pihak penjual jasa Alsintan dan petani pengguna masing-masing mendapatkan keuntungan (nilai tambah) yang wajar. Tanpa adanya pembagian keuntungan yang wajar tersebut, sulit memacu dan menjamin keberlanjutan penerapan Alsintan yang semakin maju. Oleh karenanya strategi yang tepat dalam penerapan penjualan jasa pengeringan kacang tanah polong adalah melalui pendekatan sistem yang mengacu dan mempertimbangkan tolok ukur: (1) Produktivitas, (2) Stabilitas, (3) Keberlanjutan dan (4) Kemerataan. Keempat kriteria pengembangan penerapan Alsintan tersebut dapat dioptimalkan melalui pengembangan sinergi Sistem Penjualan Jasa Alsintan (SIPUJA), yang secara simultan mempertimbangkan aspek perangkat kerasnya (Alsintan yang tepat guna) dan proses pelembagaannya di tingkat petani. Melalui pendekatan ini diharapkan dapat membuka peluang penerapan SIPUJA pengering kacang tanah polong yang hanya mengandalkan keunggulan komparatif (dari aspek substitusi tenaga kerja yang semakin berkurang di sektor pertanian) ke keunggulan kompetitif (dari aspek mutu dan keamanan pangan). Implementasi dari pendekatan ini baru pada tahap rekayasa alat pengering kacang tanah polong dan uji verifikasi selama tiga tahun (tahun 1998–2001) di tingkat pedagang pengumpul kacang tanah. Hasil perhitungan nisbah keuntungan dengan biaya (B/C) dapat mencapai 1,2 bila dioperasikan dalam bentuk penjualan jasa pengeringan kacang tanah polong. Kesimpulannya alat pengering tersebut dapat diterima dan layak penggunaannya untuk mempercepat proses pengeringan kacang tanah polong, dengan mutu yang lebih baik dibandingkan pengeringan cara tradisional. Inovasi ini lulus seleksi program ”Oleh Paten tahun 2001” yang diselenggarakan Menristek untuk didanai pengusulan paten sederhananya (Nomor permohonan Paten S00200100158)

    Perbaikan Varietas Unggul Kacang Hijau Tahan Penyakit Embun Tepung dan Bercak Daun

    Full text link
    Kacang hijau merupakan tanaman kacang-kacangan utama ketiga setelah kedelai dan kacang tanah. Tanaman kacang hijau peka terhadap serangan penyakit pada semua stadia pertumbuhannya. Penyakit embun tepung dan bercak daun tergolong penyakit yang dominan. Penyakit embun tepung banyak dijumpai pada musim kemarau, sedangkan penyakit bercak daun pada musim hujan. Dari evaluasi terhadap beberapa galur kacang hijau, diperoleh tiga galur yang memberikan hasil tinggi yaitu VC 3012B, VC 2750, dan EVO 947, masing-masing dengan sifat agak peka penyakit bercak daun, tahan penyakit embun tepung, dan tahan penyakit bercak daun. Galur VC 3012B dan VC 2750 mempunyai warna biji hijau mengkilat, sedangkan EVO 947 hijau kusam, dan ketiganya berbiji besar. Galur VC 3012B pada tahun 1998 dilepas sebagai varietas unggul dengan nama Kenari, dan pada tahun 2001 galur VC 2750 dan EVO 947 dilepas sebagai varietas unggul baru masing-masing dengan nama Perkutut dan Murai

    PERBAIKAN TOLERANSI GENOTIPE KEDELAI TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN

    No full text
    Di Indonesia, 40% dari total lahan pertanaman kedelai terdapat di lahan kering, sehingga air merupakan salah satu faktor pembatas. Pengairan pada lahan kering tergantung pada air hujan, sehingga setiap musim kemarau sering terjadi kekeringan terutama saat stadia pengisian polong/biji. Rendahnya produksi kedelai sering dijumpai akibat ketersediaan air tidak mencukupi selama pertumbuhan tanaman dan lebih lanjut berakibat menurunnya hasil biji. Masa kritis tanaman terhadap air pada masa pembungaan dan pengisian polong/biji. Pada tanaman kedelai, cekaman kekeringan saat pengisian polong/biji lebih berpengaruh terhadap hasil biji yang akan dicapai. Seleksi untuk mendapatkan varietas kedelai yang toleran terhadap kekeringan dan berdaya hasil tinggi dan lebih efisien dengan karakterisasi hasil biji pada saat periode pengisian polong/biji mengalami cekaman kekeringan. Kriteria yang dapat digunakan dalam penilaian toleransi kekeringan adalah indeks toleransi cekaman (ITC), indeks adaptasi (IA), dan indeks toleransi (IT). Kriteria seleksi ITC dan IA pada dasarnya dapat memilih genotipe-genotipe ysng toleran kekeringan dan berdaya hasil tinggi pada lingkungan tercekam kekeringan maupun lingkungan optimal. Hasil penelitian menunjukan bahwa genotipe MLG 2805, Wilis dan Lokon/MLG 3072-2, Davros/MLG 2984-2, dan Kipas putih/MLG 2805-1. Berdasarkan hasil ini, maka terdapat peluang besar untuk mendapatkan varietas kedelai toleran kekeringan

    Pembentukan Varietas Kedelai Adaptif Lahan Kering Masam

    Full text link
    Program perluasan areal tanam perlu mendapat perhatian khusus untuk percepatan peningkatan produksi kedelai di dalam negeri, dalam upaya mengurangi impor yang semakin meningkat. Sumberdaya lahan kering yang terdapat di Indonesia masih cukup luas bagi pengembangan areal pertanian termasuk perluasan areal kedelai. Potensi pengembangan areal kedelai di lahan kering Sumatera (termasuk lahan terlantar) diperkirakan seluas 5,7 juta hektar dan pada umumnya tergolong masam. Untuk mendukung pengembangan kedelai pada agroekologi tersebut diperlukan ketersediaan varietas yang sesuai (adaptif) pada lahan masam. Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian telah menghasilkan varietas baru kedelai yang sesuai pada lahan kering masam di Sumatera, yaitu Tanggamus, Sibayak dan Nanti, yang dilepas pada tahun 2001. Dari 22 lingkungan pengujian di lahan kering masam Sumatera (Lampung, Sumatera Selatan dan Sumatera Utara), varietas Tanggamus, Sibayak dan Nanti masing-masing memberikan hasil rata-rata 1,7 t/ha; 1,6 t/ha; dan 1,4 t/ha. Varietas Tanggamus memiliki adaptasi yang lebih luas dibandingkan dengan varietas Sibayak dan Nanti. Varietas Sibayak dan Nanti lebih adaptif masing-masing di lahan masam Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. Diseminasi varietas baru tersebut dan pembinaan sistem perbenihannya diperlukan untuk pengembangan tanaman kedelai di lahan kering masam

    PENANGGULANGAN KLOROSIS PADA KACANG TANAH DI ALFISOL ALKALIS

    No full text
    Di masa mendatang Klorosis daun Kacang Tanah di Alfisol Alkalis akan menjadi kendala peningkatan produksi kacang tanah. Klorosis dapat terjadi selama fase pertumubuhan tanaman dengan intensitas yang bebeda , dan sangat ditentukan oleh lingkungan tumbuh. Penyebab Klorosis sangat kompleks , faktor penyebab yang satu bisa merupakan akibat faktor yang lain. Melihat gejala pada daun, klorosis yang terjadi pada alfisol Alkalis disebabkan oleh kesehatan Fe, yang dipicu terutama oleh tingginya pH tanah dan rendahnya SO , dalam tanah. Upaya mengatasi klorosis pada kacang tanah dapat dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu penanaman varietas toleran, kecukupan hara, ameliorasi tanah. Hingga tahun 2000 varietas yang telah dilepas dan dinilai toleran terhadap klorosis adalah Kancil. Beberapa galur harapan toleran terhadap klorosis adalah ICGV 86031, G/PI 259747-92-B-28, K/PI 405132-90-B1-2-57, K/PI 390595/K-90-B2-54, K/SHM2-88-B-7, Lokal Tuban, dan ICGV 87055 . Pemupukan dengan FeSO4 takaran 30 kg/ha yang diberikan saat tanaman berumur antara 15 hingga 45 hari atau penyemprotan dengan larutan yang mengandung 1% FeSO4 + 0,1% asam sitrat + 3% ZA + 0,2% Urea sebanyak tiga kali pada 30, 45 dan 60 hari setelah tanam, atau pemberian 20 t pupuk kandang/ha berpeluang menurunkan klorosis dan meningkatkan hasil kacang tanah. Ameliorasi tanah untuk menurunkan pH dapat dilakukan dengan pemberian bubuk belerang (So) dengan takaran 400-600 kg S/ha sepanjang baris tanaman atau 1200 kg S/ha diberikan seminggu menjelang tanam dan dicampur rata dengan tanah efektif menurunkan intensitas klorosis dan meningkatkan hasil. Pemberian S mampu menurunkan pH tanah didaerah perakaran, meningkatkan persediaan SO4, memperbaiki pertumubuhan tanaman, meningkatkan indeks kandungan Klorofil dan efektif menurunkan klorosis hingga pada tingkat yang sangat rendah. Terdapat indikasi mekanisme S dapat menurunkan klorosis adalah melalui penghambatan translokasi unsur Ca ke bagian tanaman dari tanah dan mempertahankan nisbah Ca/Fe tetap rendah sehingga mengurangi inaktivasi Fe oleh C

    PERANAN VARIETAS TAHAN HAMA DALAM PENGENDALIAN HAMA TERPADU PADA TANAMAN KEDELAI

    Full text link
    Di indonesia, kedelai mempunyai peranan yang penting dalam usahatani tanaman pangan setelah padi .kedelai bukan komoditas strategis ,tetapi sangat dibutuhkan oleh sebagian besar penduduk untuk menu sehari-hari , pendapatan tunai bagi petani ,dan bahan baku industri .sejumlah serangga hama yang menyerang kedelai mulai saat tumbuh sampai menjelang panen adalah risiko produksi kedelai.Keberhasilan swasembada beras tahun 1984, merupakan salah satu contoh dan faktor yang mendorong penerapan pengendalian hama terpadu (PHT) pada tanaman padi di Indonesia, tetapi pada tanaman kedelai sebagai sistem pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), program PHT baru dimulai pada tahun 1990-an. Untuk mempercepat penerapan PHT,dilakukan melalui berbagai Latihan Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) kedelai dan pendidikan lanjutan bagi para PHP di beberapa perguruan tinggi. Program pemuliaan kedelai saat itu, masih ditekankan pada potensi hasil Program pemuliaan tahan terhadap hama belum mendapatkan perhatian karena sistem dan program penelitian masih bersifat fragmentasi dan tujuan jangka pendek. Dengan PHT diharapkan bahwa populasi hama dapat dipertahankan di bawah ambang ekonomi. Penurunan populasi hama dengan pestisida kimia lebih menekankan laju kematian,sedangkan penurunan populasi dengan penggunaan varietas tahan adalah menurunkan laju perkembangan hama (penurunan kesuburan,kepribadian serangga,dan memperlambat pertumbuhan serangga). Varietas tahan dapat dikombinasikan dengan cara atau komponen pengendalian yang lain,sehingga varietas kedelai tahan hama akan meningkatkan stabilitas PHT. Untuk membentuk varietas tahan hama diperlukan kerjasama lintas disiplin,keterpaduan program dan priorita

    Efisiensi Penggunaan Pupuk Kalium Pada Kedelai di Lahan Sawah

    Full text link
    Di lahan sawah, program intensifikasi tanaman padi telah berlangsung selama lebih dari 25 tahun dan akhir-akhir ini telah dilaporkan tentang kemunduran tingkat kesuburan tanah sawah yang cukup parah (kadar C-organik tanah, kadar NPKS yang rendah). Oleh karena kedelai di lahan sawah ditanam mengikuti pola tanam setelah padi, maka secara langsung maupun tidak langsung kondisi lahan sawah tersebut berpengaruh terhadap penampilan tanaman kedelai. Gejala kahat kalium sudah diindentifikasi sejak awal tahun 1980 pada lahan sawah Vertisol. Akhir-akhir ini gejala tersebut terlihat juga pada jenis tanah Entisol dan Alfisol. Penggunaan pupuk kalium untuk kalangan petani tidak sepopuler dibanding unsur hara Nitrogen sehingga aplikasi pupuk Kalium oleh petani masih minim. Disisi lain anjuran teknologi produksi kedelai khususnya aplikasi pupuk masih bersifat umum. Ada dua aspek yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pupuk kalium tersebut yaitu : pada aspek tanaman itu sendiri dan aspek tanah. Pada aspek tanaman diupayakan dengan pendekatan membuat varietas kedelai unggul baru yang efisien dalam menggunakan unsur hara. Untuk aspek tanah, salah satu melalui metode aplikasi dengan cara pupuk Kalium disebar pada permukaan lahan sebelum tanam. Takaran pupuk kalium anjuran berkisar antara 50–150 kg KCl/ha, tergantung tingkat kekahatan kalium. Pada kondisi tertentu aplikasi pupuk Kalium perlu dikombinasi dengan waktu irigasi dan penggunaan pupuk sulfur dan pupuk kandang (20 t/ha) dan pembakaran jerami karena dapat menambah ketersediaan hara kalium

    HAMA BOLENG PADA UBIJALAR DAN CARA PENGENDALIANNYA

    Full text link
    Hama boleng (Cylas Formicarius) merupakan hama utama pada tanaman ubijalar terutama yang diusahakan di lahan kering dan dapat menurunkan hasil sebanyak 10-80%. Hama tersebut juga dapat menyerang umbi yang disimpan didalam gudang. Permukaan kulit umbi yang terserang menjadi berlubang-lubang dan berbau busuk yang khas. Umbi yang terserang rasanya pahit dan berbahaya bagi kesehatan mamalia. Pengendalian terpadu hama boleng dilakukan dengan memadukan komponen-komponen pengendalian yaitu: 1) sanitasi lahan dari sisa panen (umbi dan batang yang terserang), dan Ipomoea liar; 2) bercocok tanam yaitu penggunaan bibit sehat, pembumbunan,pengairan, penggunaan mulsa , rotasi tanaman dengan tanaman dengan inang , dan tumpangan dengan tanaman lain; 3)varietas/klon yang toleran terhadapa hama boleng; 4)feromon seks atau dara (virgin female) C. Formicarius 5-10 ekor/100 m2 ; 5) pemanfaatan bahan nabati daun mimba (azadirachta indica) sebagai mulsa sebanyak 5-10 t/ha atau ekstrak serbuk biji mimba yang disemprotkan pada umur 45 hari dengan dosis 20 kg/ha; 6) pemanfaatan agensia biologi dengan jamur B. Bassiana ; 7) secara kimiawi dilakukan dengan perendaman stek dalam insektisida karbosulfan 0,05% selama 20 menit, atau menggunakan insektisida bentuk butiran yaitu karbofuran 1,5 kg bahan aktif/ha pada umur 45 har

    PEMBENTUKAN VARIETAS UNGGUL KACANG TUNGGAK

    Full text link
    Kacang tunggak tergolong komoditas yang secara alamiah beradaptasi baik pada lahan kering atau lahan marginal sehingga memiliki harapan yang baik untuk dikembangkan pada lahan kering dalam rangka peningkatan produktivitas lahan.Perbaikan varietas kacang tunggak diutamakan pada peningkatan potensi hasil, sedangkan umur panen,kualitas biji,dan ketahanan terhadap hama utama tidak dilakukan secara khusus melainkan bersamaan saat seleksi atau pengujian daya hasil. Untuk jangka pendek (3tahun), Perbaikan varietas kacang tunggak dilakukan dengan introduksi dan seleksi, sedangkan jangka panjang dilakukan melalui hibridisasi.Kegiatan penuliaan kacang tunggak di Balitkabi dimulai pada tahun anggaran 1987 yang meliputi karakterisasi plasma nutfah untuk sifat kualitatif dan kuantitatif, pembentukan populasi bersegregasi melalui hibridisasi yang dilanjutkan dengan seleksi galur, pengujian daya hasil, dan uji multilokasi. Persilangan dilaksanakan pada tahun 1991 dengan metode silang tunggal; seleksi mulai dilakukan pada generasi F2-F5 dengan metode pedigree dan bulk (tahun 1992-1994). Galur-galur homosigot terpilih mulai diuji daya hasilnya pada tahun 1994-1995 melalui uji daya hasil pendahuluan yang dilanjutkan dengan pengujian daya hasil lanjut/multilokasi hingga tahun 1997. Hasil,warna biji,serta toleransi terhadap hama polong digunakan sebagai tolok ukur.Perbaikan kacang tunggak dengan cara hibridisasi mendapatkan tiga varietas unggul yakni KT-6,KT-7,dan KT-8 yang hasilnya di atas hasil rata-rata varietas dan diatas varietas pembanding tertinggi KT-5 dengan warna biji coklat muda dan merah. Selain itu ketiga varietas tersebut tergolong toleran terhadap hama polong pada tingkat serangan sedang, dan varietas KT-7 juga teridentifikasi agak tahan terhadap penyakit virus CAMV. Sedangkan varietas KT-2,KT-4,KT-5 dan KT-9 merupakan varietas hasil program jangka pendek. KT-2 dan KT-5 teridentifikasi tahan terhadap virus CAMV

    131

    full texts

    162

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Palawija
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇