Buletin Palawija
Not a member yet
162 research outputs found
Sort by
PENGENDALIAN TERPADU PENYAKIT KUDIS (Sphaceloma batatasSaw.) PADA UBIJALAR
Penyakit kudis yang disebabkan oleh Sphaceloma batatas merupakan penyakit penting dan banyak menimbulkan kerugian hasil yang cukup besar di negara-negara produsen ubijalar (Ipomoea batatas)di Asia, Australia, negara-negara Caribia, kepulauan Pacific dan Amerika latin. Di Indonesia penyakit kudis telah tersebar di sentra produksi ubijalar di Jawa,Bali, Sumatera dan Papua. Kehilangan hasil ubijalar akibat serangan penyakit kudis dapat mencapai 30%, tergantung varietas, umur tanaman pada saat terinfeksi dan kondisi lingkungan. Umumnya penyakit kudis berkembang didataran tinggi dan terutama pada musim hujan. Pengendalian terpadu penyakit kudis dapat dilakukan dengan mengkombinasikan beberapa cara pengendalian yang saling kompatibel dalam satu paket pengendalian yaitu: menanam varietas yang tahan (Muaratakus, Cangkuang, Sewu, Sari, Sukuh, Kidal, Papua Salosa dan Sawentar), menggunakan bibit sehat atau mencelup bibit dalam larutan fungisida Benomyl atau Mankozeb selama 15 menit, rotasi tanam dengan tanaman yang bukan inang jamur seperti tanaman kacang tanah, kedelai, jagung atau padi, sanitasi lahan dengan memusnahkan bekas tanaman yang terinfeksi dan menyemprot fungisida Benomyl (400 g ba/ha), Chlorotalonil 1300 g ba/ha, Captafol 1520 g ba/ha, fentin hidraxide 300 g ba/ha, tembaga oxiklorida 1500 g ba/ha dan Mankozeb 1500 g ba/ha, atau pestisida nabati (4 g/100 ekstrak bawang merah) apabila diperlukan
PENCEMARAN KADMIUM DAN PROSPEK PEMULIAAN TANAMAN KEDELAI BERKANDUNGAN KADMIUM RENDAH
Kadmium (Cd) merupakan logam berat pencemar lingkungan yang bersifat toksik. Kadmium dapat terakumulasi dalam kadar yang tinggi pada bagian tanaman kedelai (Glycine max L. Merr.) yang bila dikonsumsi akan berisiko pada kesehatan manusia, sehingga diperlukan usahausaha untuk membatasi akumulasi kadmium dalam tanaman. Penggunaan varietas unggul yang memiliki kemampuan mengakumulasi kadmium dalam konsentrasi yang rendah merupakan salah satu solusi yang cukup rasional. Varietas unggul merupakan komponen teknologi yang efisien dan ramah lingkungan dibandingkan dengan upaya perbaikan kondisi lingkungan. Di Indonesia, penelitian pemuliaan belum mengarah pada pencemaran kadmium pada tanaman kedelai. Namun dengan adanya ekstensifikasi pertanian dan sumber pangan sehat yang menyehatkan, maka penelitian tentang kadmium pada tanaman kedelai akan menjadi informasi yang dapat bermanfaat dalam perakitan varietas kedelai berkandungan kadmium rendah. Variabilitas genetik, pemilihan teknik skrining dengan kriteria seleksi yang tepat, pemahaman mekanisme ketahanan disertai dukungan pengetahuan level molekuler merupakan elemen penting dalam meraih keberhasilan perakitan kedelai berkandungan kadmium rendah
CYANIDE REDUCTION IN CASSAVA ROOT PRODUCTS THROUGH PROCESSING AND SELECTION OF CULTIVARS IN RELATION TO FOOD SAFETY
About 47% of cassava production in Indonesia was used for human consumption, both as a staple food and snacks. In terms of food safety, the natural presence of cyanogenic glucosides in cassava roots is of concern as they may release free cyanide (HCN), which is highly toxic. At high levels, it may cause acute poisoning, leading to death as well as iodine deficiency and neurological disorders for long-term ingestion. The cyanogenic glucosides content in different cultivars of cassava varied from 1 up to >1,000 mg HCN/kg fresh weight, while 10 mg HCN/kg dry weight was considered to be the safe level for consumption. Various processing methods were reported to be effective in reducing the cyanide content in cassava products. A decrease of 25-50% was observed during overnight soaking, while it was much higher (81%) when subsequent drying and milling into flour was performed. During boiling, steaming, deep-frying, baking and fermentation, a reduction of 45-50%, 17%, 13%, 14% and 38-84% was noted, respectively. Crushing the fresh roots and subsequent sun-drying was the most effective method with >95% of HCN removal. It suggests that low cyanide content of cassava cultivars (mostly sweet/local varieties) are obviously required for direct consumption purposes. This is particularly important for traditional food processors to be selective in obtaining fresh cassava as raw material and choosing proper processing methods. While for gaplek, starch, flour, and mocaf purposes, where washing, soaking, shredding, fermentation, pressing, drying and milling were involved, the bitter cultivars (mostly improved varieties) with relatively high cyanide content can be used. Therefore, breeding selection for cassava cultivars with low cyanide content and high potential yield is essentially needed. Selected improved varieties and promising clones seem to meet this criteria. Regulation for food industries to provide information on cyanide level in cassava food labels would also protect the consumers and promote safe cassava foods
VARIETAS KEDELAI UMUR GENJAH
Varietas kedelai (Glycine max L. Merr.) umur genjah banyak diminati karena dapat memberikan berbagai keuntungan seperti terhindar dari kekeringan dan hama serta meningkatkan indeks pertanaman dalam setahun. Umur kedelai ditentukan oleh faktor genetik dan lingkungan. Umur kedelai di Indonesia dikelompokkan menjadi sangat genjah (<70 hari), genjah (70–79 hari), sedang (80–85 hari), dalam (86–90 hari), dan sangat dalam (>90 hari), sedangkan pengelompokan umur masak kedelai di luar negeri (Amerika) didasarkan pada adaptasi dalam letak lintang. Masak fisiologis pada kedelai ditandai dengan >60% polong berwarna coklat, dipanen setelah >80% polong masak. Pada kedelai, terdapat tujuh loci dengan dua alel pada masingmasing lokus yang mengendalikan waktu berbunga dan umur masak kedelai, yaitu: E1, E2, E3, E4, E5, E6, E7 dan E8. Sampai 2011, terdapat lima varietas berumur masak di bawah 76 hari, yaitu Tengger, Meratus, Grobogan, Gepak Kuning, dan Gepak Ijo, dan varietas kedelai berumur genjah (74 hari) yaitu Gema. Hasil kedelai varietas genjah yang dihasilkan masih dapat ditingkatkan, sehingga perakitan varietas berumur pendek dengan produksi tinggi perlu terus dilakukan
ISU GLOBAL KEAMANAN PANGAN KACANG TANAH II: PROTEIN Ara h SEBAGAI ALERGEN
Konsumsi kacang tanah (Arachis hypogaea L.) dapat menimbulkan alergi dengan gejala ringan hingga berat, bahkan dapat menimbulkan kematian bagi pasien yang hipersensitif. Peristiwa ini umum terjadi di negara-negara barat, sehingga menjadi salah satu isu global keamanan pangan kacang tanah. Konsumsi kacang tanah dalam jumlah yang sedikit, mulai dari 100 μg mampu memicu terjadinya alergi. Hingga saat ini terdapat 13 protein kacang tanah, yaitu Ara h1 hingga Ara h13 yang sudah diidentifikasi dan dikarakterisasi. Mayoritas sumber alergen tersebut termasuk dalam seed storage protein. Di antara ke-13 protein Ara h tersebut, Ara h1, Ara h2 dan Ara h3 dikategorikan sebagai alergen utama karena dapat dikenali oleh > 50% serum IgE pasien. Ara h1 dan Ara h2 bersifat tahan terhadap perlakuan suhu dan enzim pencernaan. Tulisan ini mengulas secara komprehensif isu alergen yang disebabkan oleh protein Ara h dan beberapa pendekatan yang sudah dilakukan untuk mengurangi terjadinya alergi ditinjau dari aspek penurunan kandungan Ara h. Beberapa pendekatan untuk mengeliminasi Ara h pada kacang tanah antara lain pengolahan, rekayasa genetika, pemuliaan konvensional selektif dan perlakuan menggunakan enzim. Kombinasi dari beberapa perlakuan akan memberikan hasil lebih baik untuk menurunkan kandungan Ara h
RESPONS TANAMAN KEDELAI, KACANG TANAH, DAN KACANG HIJAU TERHADAP CEKAMAN SALINITAS
Salinitas yang tinggi merupakan salah satu cekaman lingkungan yang mengakibatkan tanaman mengalami cekaman osmotik, ketidak seimbangan hara, toksisitas ion tertentu, dan cekaman oksidatif. Cekaman tersebut mempengaruhi hampir semua proses fisiologis dan biokimia serta tahap pertumbuhan tanaman. Fase perkecambahan dan pertumbuhan semaian adalah fase kritis terhadap cekaman salinitas bagi sebagian besar tanaman, termasuk kedelai (Glycine max L. Merr.), kacang tanah (Arachis hypogaea L.) dan kacang hijau (Vigna radiata L. Wilczek), sehingga ketahanan tanaman terhadap cekaman salinitas dapat dievaluasi pada fase-fase tersebut. Toleransi tanaman legum terhadap cekaman salinitas beragam antar spesies maupun varietas. Batas kritis tingkat salinitas berdasarkan penurunan hasil pada tanaman kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau berturutturut adalah 5 dS/m, 3,2 dS/m,dan 1–2,65 dS/m. Pemahaman pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan tanaman sangat berguna untuk menentukan strategi pengelolaannya. Informasi mengenai mekanisme toleransi tanaman terhadap salinitas dari aspek morfologis, fisiologis, maupun biokimia tanaman sangat diperlukan dalam mengembangkan kultivar yang toleran. Penggunaan kultivar toleran merupakan salah satu upaya mengatasi masalah salinitas yang praktis dan ekonomis
PENGELOLAAN HARA KALIUM UNTUK UBIKAYU PADA LAHAN KERING MASAM
Produktivitas ubikayu (Manihot esculenta Crantz). nasional tergolong rendah (18,24 t/ha ubi segar), salah satu penyebab pentingnya adalah ketersediaan hara yang rendah dalam tanah, di antaranya K. Kecukupan hara K sangat menentukan pertumbuhan tanaman serta kuantitas dan kualitas hasil ubikayu, sebab K terlibat dalam berbagai proses fisiologi, di antaranya pertumbuhan sel, pembukaan stomata, pembentukan dan translokasi karbohidrat, pembentukan protein, dan senyawa fenol yang dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit. Pengelolaan hara K pada ubikayu di lahan kering masam perlu mendapat perhatian besar, sebab: (a) areal ubikayu telah dan terus berkembang ke lahan kering masam yang tersedia luas, khususnya di Sumatera dan Kalimantan yang antara tahun 2005 dan 2009 tumbuh secara signifikan, berturut-turut 17,6% dan 6,5%, dan (b) ubikayu relatif banyak membutuhkan hara K jika dibandingan dengan tanaman pangan yang lain (padi, jagung, kedelai, kacang tanah). Ketersediaan K (K-dd) pada lahan kering masam umumnya kurang dari 0,10 me/100 g tanah, padahal untuk ubikayu batas kritis K-dd adalah 0,15 me/100 g tanah; sehingga tambahan K melalui pemupukan mutlak diperlukan untuk meningkatkan ketersediaan K dalam tanah. Berdasarkan pola pertumbuhan biomas dan perakaran ubikayu, serta potensi erosi dan pelindian hara K yang tinggi pada lahan kering masam, maka pupuk K dianjurkan diberikan dua kali, masing-masing 50% pada umur satu dan tiga bulan Pupuk diaplikasi secara dibenamkan/ ditugal di samping tanaman pada kedalaman 5–10 cm. Selain melakukan pemupukan, upaya lain yang harus dilakukan untuk mengurangi kehilangan serta meningkatkan ketersediaan dan penyerapan hara K dalam tanah adalah: (a) menerapkan sistem pertanaman lorong dengan menanam pagar hidup untuk mengurangi erosi dan pelindian, dan (b) meningkatkan kandungan bahan organik tanah, sebagai sumber K dan agar tanah lebih banyak mengikat/menyediakan air/lengas untuk memperlancar pergerakan K ke permukaan akar melalui proses aliran masa dan difusi. Kadar kritis bahan organik dalam tanah untuk ubikayu adalah 3,2%
ULAT JENGKAL PADA KEDELAI DAN CARA PENGENDALIANNYA
Ulat jengkal (looper) pada tanaman kedelai (Glycine max L. Merrill) terdiri dari tiga jenis, yaitu Plusia chalcites (Esper) (=Chrysoideixis chalcites), Pseudoplusia includens (Walker), dan Thysanoplusia oricachlea. Pada tanaman kedelai di Indonesia ulat\ jengkal tergolong hama utama yang memakan daun. Kerusakan daun yang disebabkan oleh ulat jengkal dapat menyebabkan kehilangan hasil sampai dengan 18%. Pengendalian ulat jengkal harus dilakukan dengan cermat dengan memperhatikan ambang kendali agar tindakan pengendalian yang diambil tepat, hemat secara ekonomi dan aman bagi lingkungan, sesuai dengan konsep pengendalian hama terpadu (PHT). Komponen PHT ulat jengkal pada kedelai terdiri dari pengaturan pola tanam, penggunaan varietas tahan, pemanfaatan musuh alami dan penggunaan insektisida yang efektif
PENGARUH KEKERINGAN PADA BERBAGAI FASE TUMBUH KACANG TANAH
Di Indonesia kacang tanah umumnya ditanam di lahan kering (64%) dan selebihnya ditanam di lahan sawah irigasi setelah padi (36%). Kondisi tersebut menyebabkan kacang tanah berpeluang besar mengalami kekeringan pada sebagian maupun keseluruhan fase pertumbuhannya. Kekeringan pada fase vegetatif berpengaruh terhadap morfologi batang, daun, dan akar, tetapi tidak berpengaruh terhadap hasil. Kekeringan pada fase pembungaan hingga fase perkembangan biji (R1–R7) menurunkan jumlah bunga, menghambat pembuahan, perkembangan polong, dan biji sehingga menurunkan hasil 70–80%. Fase pertumbuhan R1–R7 merupakan fase kritis tanaman kacang tanah terhadap kekeringan. Penanaman varietas toleran kekeringan dapat mengurangi penurunan hasil. Varietas-varietas yang diketahui toleran kekeringan adalah Singa, Jerapah, Bison, Zebra, Sima, dan Talam 1
STRATEGI OPTIMALISASI PENGENDALIAN PENYAKIT BERCAK DAUN DAN KARAT PADA KACANG TANAH
Kacang tanah merupakan sumber lemak dan protein nabati yang penting bagi sebaian besar penduduk Indonesia. Meskipun demikian komoditas ini belum banyak disentuh oleh program-program pembangunan pertanian yang dilakukan oleh pemerintah sehingga produktivitasnya masih rendahyaitu 1,1 t/ha. Salah satu penyebab rendahnya produktivitas tersebut adalah akibat serangan penyakit karat oleh Puccinia arachidas. Pola perkembangan epidemi, penyakit bercak daun dan karat mengikuti penyakit pola bunga maremuk. Strategi pengendalian yang dapat dilakukan untuk menekan perkembangan epidemi penyakit di lapang adalah dengan cara menekan proporsi tanaman sakit pada saat awal, memperkecil laju inflasi dan mempersingkat waktu terjadinya epidemi. Hal tersebut dapat dilakukan melalui penerapan pengendalian penyakit secara terpadu (PPT) yang meliputi pengaturan pola tanam, rotasi tanam, saat tanam, menanam varietas tahan, sanitasi lingkungan, eradikasi tanaman sakit dan menyemprot fungisida apabila diperlukan. Optimalisasi hasil pengendalian dapat dilakukan melalui pendekatan kelompok-kelompok tani mencakup hamparan-hamparan luas