Buletin Palawija
Not a member yet
162 research outputs found
Sort by
Identification of Peanut Germplasm Tolerance to Salinity Stress
Varietas toleran salinitas adalah kunci utama pengembangan kacang tanah di tanah salin, namun sampai saat ini belum ada perakitan varietas kacang tanah di Indonesia dengan spesifikasi toleran terhadap salinitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi toleransi 25 aksesi kacang tanah koleksi plasma nutfah Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi terhadap cekaman salinitas untuk menyediakan sumber gen persilangan tahan salinitas. Aksesi kacang tanah ditanam pada tiga level salinitas yaitu non salin, sedang (5-6 dS/m), dan tinggi (8-10 dS/m). Parameter yang diamati meliputi skor keracunan, kadar K dan Na pada akar dan tajuk, hasil polong dan biji, dan indeks toleransi cekaman (ITC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua aksesi teridentifikasi peka pada salinitas tinggi. Salinitas sedang merupakan level salinitas tertinggi yang masih dapat ditoleransi oleh 23 aksesi kacang tanah. Pada tingkat salinitas sedang, empat aksesi kacang tanah (MLGA 0211, MLGA 0222, MLGA 0546, MLGA 0570) teridentifikasi toleran, dua aksesi (MLGA 0473 danMLGA 0605) peka, dan 19 aksesi lainnya tergolong sedang. Toleransi terhadap salinitas berhubungan dengan kemampuan aksesi untuk membatasi serapan Na dan translokasinya ke tajuk sehingga rasio K/Na di tajuk tetap tinggi dan dapat meningkatkan proses fotosintesis tanaman. Rasio Na-akar/Na-tajuk sama efektifnya dengan indikator rasio K/Na tajuk, oleh karena itu dapat dijadikan kriteria baru dalam seleksi toleransi kacang tanah terhadap cekaman salinitas. Aksesi yang toleran berdasarkan kemampuan untuk membentuk polong dan biji serta kemampuan menahan efek salinitas dapat dimanfaatkan dan diintegrasikan dalam pemuliaan kacang tanah untuk toleransi salinitas
Paket Teknologi Budi Daya Kedelai pada Kebun Sawit Muda di Lahan Pasang Surut
Di Indonesia, kebun sawit muda di lahan pasang surut mempunyai potensi besar untuk pengembangan kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk merakit dan mengevaluasi paket teknologi budi daya kedelai pada lahan pasang surut di perkebunan sawit muda. Penelitian dilaksanakan di lahan pasang surut tipe C di antara tegakan kelapa sawit umur 2-3 tahun di Kecamatan Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Penelitian terdiri atas dua tahap: 1) penelitian skala plot untuk mengetahui respons beberapa varietas kedelai terhadap tingkat kejenuhan Al tanah, dan 2) evaluasi kelayakan paket teknologi yang dirakit dari hasil penelitian pertama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Tanggamus lebih adaptif dan mampu memberikan hasil lebih tinggi pada lahan pasang surut hingga kejenuhan Al 30% dibanding varietas Anjasmoro dan Panderman. Varietas Anjasmoro memiliki ukuran biji lebih besar dan pada kejenuhan Al 30% mampu memberikan hasil tidak berbeda dengan hasil pada kejenuhan Al 20%, yaitu 1,68 t/ha. Pada kebun sawit umur <3 tahun di lahan pasang surut dengan pH tanah <4,8 dan kejenuhan Al >38%, paket teknologi alternatif perbaikan Balitkabi dapat meningkatkan hasil kedelai menjadi 1,64 t/ha biji kering bila dibandingkan dengan paket teknologi eksisting petani (0,96 t/ha) dan paket rekomendasi Dinas Pertanian (0,92 t/ha). Dengan nilai MBCR 1,70 dan 3,44 masing-masing terhadap paket teknologi eksisting petani dan paket teknologi rekomendasi Dinas Pertanian, maka paket teknologi alternatif perbaikan Balitkabi ini layak diadopsi dan diterapkan oleh petani
Preferensi Petani dan Penyebaran Varietas Unggul Ubi Kayu di Indonesia
Pengembangan ubi kayu di Indonesia mempunyai beberapa kendala terutama preferensi dan penyebaran varietas unggul. Kendala tersebut mempengaruhi perbedaan tingkat adopsi varietas unggul di daerah sentra yang pada akhirnya berpengaruh terhadap produktivitas ubi kayu. Penelitian dilakukan untuk memahami perkembangan dan kondisi aktual preferensi petani, adopsi dan penyebaran, serta kontribusi ekonomi varietas unggul ubi kayu di Indonesia. Penelitian dilakukan berdasarkan data yang dikumpulkan secara lintas institusi (Balitkabi, BPTP, Dinas Pertanian) pada sentra produksi ubi kayu di Provinsi Lampung, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, serta Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2013 dan 2014. Metode penelitian yang digunakan adalah simple random sampling pada 856 petani responden. Hasil kajian memberikan gambaran terdapat keberagaman preferensi petani terhadap varietas ubi kayu yang tergantung dari pemanfaatan ubi kayu di suatu daerah. Tingkat adopsi petani di Lampung terhadap varietas unggul ubi kayu lebih dinamis, bahkan varietas unggul yang baru dilepas sudah diadopsi petani. Kontribusi ekonomi varietas unggul ubi kayu di Lampung ternyata tinggi (>Rp5 triliun). Di Jawa Timur dan Jawa Tengah, kontribusi ekonomi varietas unggul ubi kayu sedang (Rp1,5-2,2 triliun). Akan tetapi di Yogyakarta, kontribusi ekonomi varietas unggul rendah (Rp0,02 triliun) disebabkan luas areal penyebaran kurang. Program diseminasi atau sosialisasi varietas unggul ubi kayu kepada pengguna seperti petani/kelompok tani, penyuluh dan Dinas Pertanian perlu ditingkatkan sehingga petani dapat memilih varietas ubi kayu yang sesuai dan berproduktivitas tinggi
Kesesuaian Varietas, Jenis Pupuk Organik dan Pupuk Hayati untuk Peningkatan Produktivitas Kedelai di Lahan Pasang Surut
Lahan pasang surut merupakan kawasan potensial untuk perluasan areal tanam kedelai namun kemasaman dan kejenuhan Al tanah yang tinggi, serta ketersediaan unsur hara yang rendah merupakan masalah yang harus dihadapi. Oleh karena itu perlu pengelolaan kesuburan tanah yang memadukan ameliorasi, pemupukan, pemanfaatan mikroorganisme, dan varietas yang adaptif. Tujuan penelitian adalah menguji kesesuaian varietas, pupuk organik, dan pupuk hayati untuk peningkatan produktivitas kedelai di lahan pasang surut. Penelitian dilaksanakan di lahan pasang surut tipe C di Jambi pada musim kemarau (Juni-Oktober) 2017 seluas 5 ha. Penelitian menggunakan rancangan percobaan petak terbagi, empat ulangan (petani kooperator sebagai ulangan). Petak utama adalah empat varietas kedelai (Anjasmoro, Dena 1, Deja 2, dan Devon 1), dan anak petak adalah tiga kombinasi pupuk organik dengan pupuk hayati Agrisoy (1.500 kg/ha pupuk kandang, 1.500 kg/ha pupuk kandang + Agrisoy, dan 1.500 kg/ha pupuk organik Santap M + Agrisoy). Pupuk dasar 200 kg/ha Phonska dan 100 kg/ha SP36 diaplikasikan pada semua perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedelai varietas Anjasmoro, Dena 1, Deja 2, dan Devon 1 dapat dikembangkan dengan baik pada lahan pasang surut tipe C dengan pH tanah 4,5 dan kejenuhan Al 32,35%, dengan menggunakan amelioran dolomit 1,5 t/ha dan pupuk kandang 1,5 t/ha. Empat varietas tersebut mampu menghasilkan biji kedelai >2 t/ha dengan penambahan 200 kg Phonska + 100 kg SP36/ha. Pada lahan pasang surut yang sudah biasa ditanami kedelai, tidak diperlukan tambahan pupuk hayati berbahan baku rhizobium. Penggunaan pupuk kandang untuk budi daya kedelai di lahan pasang surut, dari aspek ekonomi dan teknis (kemudahan mendapatkannya) lebih layak daripada penggunaan pupuk organik Santap M
Evaluasi Teknologi Tumpangsari Kedelai dengan Padi Gogo dan Jagung
Tumpangsari (TS) kedelai dengan padi gogo atau jagung merupakan salah satu strategi meningkatkan luas panen dan produksi kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model tanam TS padi gogo (pg)+ kedelai (kd) dan TS jagung (jg)+ kedelai (kd) yang optimal. Penelitian dilaksanakan di IP2TP Kendalpayak mulai Oktober 2018 hingga Januari 2019. Perlakuan terdiri atas kombinasi empat model tanam dengan dua varietas kedelai (Dega 1 dan Dena 1) termasuk pemupukannya pada TS pg+kd dan TS jg+kd. Varietas padi gogo dan jagung berturut-turut Inpago 10 dan Bima 19. Model tanam (M) pada TS pg+kd terdiri atas: M1: 75% pg + 91% kd tanpa pupuk, M2: 37% pg + 91% kd tanpa pupuk, M3: 37% pg + 152% kd dipupuk 23-36-30 kg/ha N, P, K + 1 t/ha pupuk kandang (pukan), dan M4: 18% pg+72% kd dipupuk 23-36-30 kg/ha N, P, K + 1 t/ha pukan. Padi gogo ditanam bersamaan dengan kedelai, dengan dosis pemupukan 144,5-52,5-52,5 kg/ha N, P, K + 1 t/ha pukan. Model tanam pada TS jg+kd terdiri atas: M1: 150% jg ditanam 3 minggu setelah kedelai + 114% kd dipupuk 38-15-15 kg/ha N, P, K, M2: 150% jg + 114% kd dipupuk 107-15-15 kg/ha N, P, K + 2,5 t/ha pukan, M3: 150% jg + 227% kd dipupuk seperti pada M2, dan M4: 52% jg + 70% kd dipupuk 23-36-36 kg/ha N, P, K + 1 t/ha pukan. Dosis pemupukan jagung 167,5-52,5-52,5 kg/ha N, P, K + 1 t/ha pukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model tanam optimal pada TS padi gogo + kedelai adalah Model 1 dan Model 2 menggunakan kedelai varietas Dega 1, dengan keuntungan masing-masing Rp9.086.500 dan Rp8.896.500/ha. Model yang optimal pada TS jagung + kedelai adalah Model 1 menggunakan kedelai varietas Dega 1 dengan keuntungan Rp20.121.400/ha. Masing-masing model tanam tersebut mempunyai keunggulan dalam hal produktivitas dan perolehan keuntungan dibandingkan model lainnya yang diuji. Oleh karena itu, pada TS padi gogo + kedelai dengan Model 1 atau Model 2 atau pada TS jagung + kedelai dengan Model 1 lebih dianjurkan menggunakan kedelai varietas Dega 1 dibandingkan Dena 1
Prospek Pengembangan Kacang Hijau Berdasarkan Peta Bisnis di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur
Peluang peningkatan produksi kacang hijau di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terbuka luas walaupun ditemui adanya faktor pembatas dalam pengembangannya. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi permasalahan kacang hijau secara teknis dan sosial ekonomi, serta menyusun model dan strategi pengembangannya berdasarkan posisi peta bisnisnya. Penelitian dilakukan dengan metode survei menggunakan pendekatan PRA dan pengambilan sampel secara ‘purposive’. Pengolahan data dengan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kacang hijau potensial dikembangkan di Sumba Timur, tetapi terdapat kendala faktor internal dan eksternal (lingkungan). Potensi pengembangan kacang hijau di Sumba Timur ditunjukkan oleh faktor penguat berupa teknologi budi daya yang telah tersedia dan kesesuaian lahan untuk bertanam kacang hijau yang merupakan pengaruh internal usahatani. Pengaruh eksternal yang mendukung pengembangan kacang hijau adalah faktor peluang terdiri atas harga kacang hijau dan permintaan pasar yang tinggi. Selain itu juga ditemukan kelemahan pada faktor internal seperti produktivitas rendah, modal terbatas, kelompok tani pasif dan rasa puas petani dengan kehidupan yang ada (petani ‘laggard’). Pengaruh eksternal yang berpeluang menghambat pengembangan kacang hijau adalah rendahnya infrastruktur, kelangkaan tenaga kerja, serangan hama dan adanya tanaman kompetitor, misalnya jagung. Dengan menganalisis data yang diperoleh, disusun strategi dan prospek pengembangan kacang hijau pada kondisi skala usaha menguntungkan. Strategi jangka pendek yang dapat dilakukan adalah strategi (S-O), yaitu peningkatan kapasitas hasil melalui pengelolaan intensif menggunakan teknologi baru (varietas dan teknik budi daya). Model yang sesuai untuk pengembangan kacang hijau di Sumba Timur NTT adalah model pengembangan kawasan usahatani kacang hijau berbasis korporasi
Efektivitas Tiga Paket Teknologi Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Barito Kuala, Kalimantan Selatan
Lahan pasang surut merupakan salah satu lahan potensial untuk perluasan areal tanam kedelai, namun teknik budi dayanya perlu diperbaiki untuk memperoleh hasil maksimal. Penelitian untuk menguji tiga paket teknologi budi daya kedelai di lahan pasang surut dilaksanakan di Desa Simpang Jaya, Kecamatan Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan pada bulan Mei hingga Agustus 2014. Perlakuan terdiri dari dua varietas kedelai yaitu Panderman dan Anjasmoro, dan tiga paket teknologi yaitu paket teknologi petani (eksisting), konvensional, dan perbaikan. Penelitian menggunakan rancangan petak terbagi, tiga ulangan. Peubah yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah bintil akar, jumlah akar lateral, jumlah daun, komponen hasil dan hasil. Selain itu, dilakukan pengamatan terhadap serangan hama ulat grayak (Spodoptera litura), lalat kacang (Ophiomyia phaseoli), penggerek polong (Etiella zinckenella), penggulung daun (Lamprosema indicata), dan ulat jengkal (Plusia chalsites), serta penyakit karat daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi teknologi perbaikan dan teknologi konvensional budi daya kedelai di lahan pasang surut dapat meningkatkan produktivitas kedelai 50% dan 60% dibandingkan teknologi eksisting. Penggunaan varietas Anjasmoro pada agroekologi tersebut lebih sesuai dibandingkan varietas Panderman, karena produktivitasnya lebih tinggi. Meskipun teknologi perbaikan tidak lebih unggul dibandingkan teknologi konvensional dari aspek hasil maupun efektivitas pengendalian hama dan penyakit, namun teknologi tersebut lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan pestisida kimia. Untuk itu, perlu dievaluasi lebih lanjut tingkat kelayakan teknis dan ekonomi penggunaan biopestisida pada budi daya kedelai di lahan pasang surut
Respons Varietas Kedelai Unggul terhadap Cucumber mosaic virus Strain Soybean (CMV-S)
ABSTRAK Cucumber mosaic virus strain Soybean (CMV-S) merupakan salah satu jenis virus terbawa benih yang menyebabkan penurunan produksi kedelai dan dominan menginfeksi kedelai di Jawa. Penggunaan varietas kedelai unggul tahan merupakan cara terbaik mengendalikan infeksi virus. Namun, varietas kedelai unggul hasil pemuliaan yang ada saat ini umumnya untuk peningkatan produksi dan belum memprioritaskan ketahanan terhadap penyakit virus, sehingga diperlukan pengujian respons ketahanan varietas terhadap CMV-S. Varietas unggul yang diuji ketahanannya dalam percobaan di rumah kaca yaitu Argomulyo, Anjasmoro, Burangrang, Cikuray, Detam 1, Detam 2, Grobogan, Sinabung, dan Wilis. Respons ketahanan terhadap CMV-S diukur berdasarkan parameter penyakit (periode inkubasi, tipe gejala, indeks keparahan penyakit, titer virus) dan parameter pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, jumlah bunga, indeks sensitivitas cekaman). Data percobaan dianalisis secara deskriptif untuk parameter penyakit dan pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa periode inkubasi, ekspresi gejala, keparahan dan titer virus CMV-S bervariasi antarvarietas. Infeksi CMV-S dapat menghambat pertumbuhan tanaman pada semua varietas dan jumlah bunga yang lebih sedikit pada varietas Argomulyo, Anjasmoro, Grobogan, Sinabung, dan Wilis. Varietas Grobogan dikategorikan rentan, varietas Argomulyo, Anjasmoro, Cikuray, Sinabung, dan Wilis termasuk toleran, dan varietas Burangrang, Detam 1, dan Detam 2 termasuk tahan terhadap infeksi CMV-S. Indeks sensitivitas cekaman dari varietas kedelai yang diuji beragam, yang menunjukkan perbedaan genetik antarvarietas dalam merespons infeksi CMV-S. Tiga varietas unggul tahan (Burangrang, Detam 1, dan Detam 2) dapat digunakan sebagai tetua pada perakitan varietas tahan terhadap CMV-S