Buletin Palawija
Not a member yet
162 research outputs found
Sort by
Karakteristik Fisiko-Kimia dan Sensoris Susu Kecambah Beberapa Varietas Unggul Kedelai
Susu kedelai saat ini menjadi alternatif minuman sehat untuk semua kalangan. Selama ini susu kedelai diolah dari biji. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik fisiko-kimia dan sensoris susu kedelai dari kecambah dan biji (non kecambah) lima varietas unggul kedelai, yakni Anjasmoro, Burangrang, Devon 1, Demas 1, dan Gema. Perkecambahan dilakukan selama 48 jam pada kondisi lembab dan gelap. Susu kedelai dibuat dengan cara basah dengan perbandingan bahan terhadap air 1:8 (b/v). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dua faktor dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan kandungan protein dan vitamin C kecambah meningkat signifikan dibandingkan dengan bijinya. Susu dari kecambah kedelai memiliki warna (L*) lebih cerah, serta rendemen, kadar protein dan kadar vitamin C lebih tinggi dibandingkan susu yang diolah dari biji kedelai. Kadar protein susu dari kecambah kedelai berkisar 2,99 – 3,31% bb dan telah memenuhi persyaratan SNI. Di antara lima varietas yang diuji, varietas Gema, Demas 1 dan Devon 1 berpeluang digunakan sebagai bahan baku susu kecambah kedelai dengan keunggulan rendemen, kandungan protein dan vitamin C-nya. Rasa susu kedelai kecambah dari varietas Gema cukup disukai sementara varietas Demas 1 dan Devon 1 agak disukai
Keunggulan Kompetitif Agronomis dan Ekonomis Lima Belas Genotipe Kedelai pada Tumpangsari dengan Jagung
Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat keunggulan kompetitif agronomis dan ekonomis 15 genotipe kedelai pada tumpangsari jagung dengan kedelai. Penelitian dilaksanakan di KP Kendalpayak Malang pada Maret-Juli 2018, menggunakan 12 galur harapan kedelai dan tiga varietas pembanding, yaitu Dena 1 dan Dena 2 (toleran naungan) serta Grobogan (ukuran biji besar dan umur genjah). Perlakuan disusun berdasarkan rancangan petak terbagi, empat ulangan. Petak utama adalah pola tanam (monokultur dan tumpangsari jagung dengan kedelai), sedangkan anak petak adalah 15 genotipe kedelai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumpangsari menurunkan hasil kedelai dan jagung masing-masing 61,53% dan 31,05% dibandingkan monokultur. Pada pola tanam tumpangsari, hasil jagung tertinggi dicapai pada tumpangsari jagung dengan genotipe Grob/Pander-395-2, dan hasil kedelai tertinggi dicapai pada tumpangsari jagung dengan genotipe Grob/IT-7-2. Genotipe kedelai berpengaruh nyata terhadap nilai koefisien kepadatan relatif (K), nilai agresivitas (A), nisbah kesetaraan lahan (NKL), nisbah kompetitif (NK), dan kehilangan hasil aktual (KHA) pada tumpangsari jagung dengan kedelai. Genotipe Grob/IT-7-2 merupakan kompetitor terkuat, dan memiliki dominasi terbesar bagi tanaman jagung dalam tumpangsari jagung dengan kedelai. Namun, berdasarkan nisbah R/C, indeks keuntungan finansial (IKF), nisbah kesetaraan pendapatan (NKP), dan nisbah kesetaraan lahan (NKL), keuntungan terbesar dicapai pada tumpangsari jagung dengan kedelai genotipe Grob/IT-7-7
Serangga Hama Kedelai dan Musuh Alami di Lahan Pasang Surut Kalimantan Selatan
Kerusakan tanaman akibat serangan hama merupakan salah satu kendala pengembangan kedelai di lahan pasang surut. Informasi tentang komposisi spesies hama kedelai dan musuh alaminya merupakan kebijakan dasar pengelolaan hama terpadu di suatu lokasi, sehingga survei perlu dilakukan, untuk mengetahui dominasi dan status hama kedelai serta musuh alaminya di lahan pasang surut. Survei dilakukan pada bulan Juni sampai dengan November 2016 di Kalimantan Selatan. Serangga hama yang ditemukan di lokasi survei sangat tergantung dari umur/fase pertumbuhan tanaman saat dilakukan pencatatan. Komposisi jenis hama kedelai yang ditemukan di Provinsi Kalimantan Selatan adalah kutu kebul (Bemisia tabaci Gennadius), wereng daun (Empoasca kerri Pruthi), lalat kacang (Ophiomyia phaseoli Tryon), ulat grayak (Spodoptera litura Fabricius), belalang (Attractomorpha crenulata), perusak polong (Piezodorus hybneri Gmelin, Riptortus linearis Fabricius, Nezara viridula Linnaeus dan Etiella zinckenella Treitsche), dengan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H) 1,655 dan indeks dominansi Simpson (c) 0,214. Di antara hama-hama tersebut, S. litura, P. hybneri, R. linearis, N. viridula dan E. zinckenella merupakan hama penting di semua lokasi survei. Jenis musuh alami yang banyak ditemukan ada tiga jenis, yaitu Oxyopes sp., parasitoid dan Coccinella sp. dengan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H) 1,088 dan indeks dominansi Simpson (c) 0,415. Pengendalian hama pada tanaman kedelai di lahan pasang surut harus mempertimbangkan hama-hama utama dan musuh alaminya.
Pertumbuhan dan Produktivitas Beberapa Varietas Ubi Kayu dengan Tingkat Pupuk yang Berbeda di Lahan Tegakan Jati Muda
Penelitian dilaksanakan pada lahan jati umur 2 tahun di Perum Perhutani KPH Blora, Desa Bogem, Kecamatan Japah. Percobaan menggunakan rancangan petak terbagi, diulang empat kali. Petak utama adalah lima varietas ubi kayu yaitu: Adira 4, Malang 4, Litbang UK 2, Cecek Ijo, dan UJ 5. Anak petak adalah tiga dosis pemupukan yaitu: a) 100 kg Urea + 125 kg SP36 + 75 KCl (input rendah), b) 125 kg Urea + 150 kg SP36 + 100 KCl, (input sedang), c) 200 kg Urea + 200 kg SP36 + 125 kg KCl + 5000 kg pupuk kandang (input tinggi). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat pengaruh interaksi antara varietas dengan pemberian pupuk terhadap hasil ubi kayu. Hasil ubi kayu dengan input rendah, sedang, dan tinggi berturut-turut adalah 25,38 t, 27,29 t, dan 25,81 t/ha. Rata-rata hasil ubi tertinggi diperoleh Varietas Malang 4 (32,01 t/ha), kemudian diikuti Adira 4, Cecek ijo, UJ 5, dan Litbang UK 2, masing-masing 28,22 t, 27,64 t, 23,43 t dan 21,50 t/ha. Varietas Malang 4 memberikan hasil tertinggi dengan perlakuan input sedang (33,00 t/ha)
Pengembangan Model Simulasi Swasembada Kedelai Berbasis Web SIWAKA.INS
Model simulasi swasembada kedelai berbasis web yang mudah diakses dan dioperasikan perlu dikembangkan agar informasi yang diperlukan dalam proses pengambilan keputusan tersedia dengan cepat. Laboratorium Dinamika Sistem Balitkabi sejak Januari hingga Februari 2018 telah mengembangkan model simulasi swasembada kedelai berbasis web yaitu SIWAKA.INS yang merupakan pengembangan dari skrip program simulasi SIWAKA.SIM, yang dikembangkan menggunakan program simulasi open source Insightmaker.com. Tujuan penelitian adalah melakukan validasi model simulasi swasembada kedelai SIWAKA.INS. Hasil validasi menunjukkan bahwa model simulasi SIWAKA.INS cukup layak untuk diterapkan dalam memperkirakan tercapainya swasembada kedelai nasional dengan nilai R2=1 dan RMSE=4,88e-14 t. Hasil simulasi SIWAKA.INS menggunakan input model perluasan areal (PPA) 9,0%/tahun, peningkatan produktivitas (LAJUY) 9,5%/tahun, kehilangan hasil pascapanen (KHKDL) 7,5%/tahun, kenaikan penduduk (KB) 1,5%/tahun, dan peningkatan konsumsi kedelai (LAJUK) 1,0%/tahun, menunjukkan bahwa swasembada kedelai dapat tercapai pada tahun 2020-2045. Untuk periode tahun 2020-2024, simulasi tingkat swasembada kedelai mencapai 0,09-1,26 juta t, pada tingkat hasil kedelai 1,66-1,80 t/ha dan luas areal kedelai 1,66-2,35 juta ha. SIWAKA.INS bersifat open source dan dapat diakses di https://Insightmaker.com/insight/65139/SIWAKA-INS
Total Phenolic Content and Antioxidant Activity of Mung bean Seed Cultivars from Optimized Extraction Treatment
Secondary metabolites are produced by plants both during normal growth and under biotic and abiotic stresses. Apart from genetic and environmental factors, the secondary metabolite contents are also influenced by analytical methods. The aims of this study were to obtain suitable solvents and extraction treatments which produced high total flavonoid and phenolic contents as well as antioxidant activity in shiny and dull green mung beans. An extraction of 0.5 g sample with grade 80 mesh in 70% acetone was selected to estimate the contents of total flavonoids and phenolics. A treatment of shaking the sample in 70% acetone (1:10 w/v) for 2 h and followed by 18 h of maceration with twice extractions showed the highest amounts of flavonoid as well as phenolic contents. Total flavonoid and phenolic contents of 14 mung bean cultivars ranged from 1.28 to 2.35 mg CE/g and 3.74 to 6.58 mg GAE/g, respectively. Antioxidant activity represented by percentage of DPPH inhibition varied from 66.8 to 91.5%. A dull green mung bean cultivar Vima 1 had the highest total flavonoid and phenolic contents (2.35 mg CE/g and 6.58 mg GAE/g). Antioxidant activity of Vima 1 cultivar (91.5%) was not different from those of Perkutut (91.5%), Murai (90.1%) and Sriti (88.9%). The small quantity of sample (0.5 g) combined with the simple extraction treatment was effective in quantifying the different contents of total flavonoids and phenolics in mung bean seeds
Produktivitas Beberapa Genotipe Kacang Tanah dan Ketahanannya terhadap Penyakit Layu Bakteri Ralstonia Solanacearum
Di Indonesia, kacang tanah ditanam pada beragam tipe lahan yaitu lahan sawah pada musim kemarau, sawah tadah hujan pada awal atau pertengahan musim kemarau, dan lahan kering pada awal musim hujan. Pada lahan-lahan tersebut, penyakit layu bakteri menjadi kendala biotik utama dalam budi daya kacang tanah sehingga produktivitasnya rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat hasil galur-galur harapan kacang tanah dan ketahanannya terhadap serangan penyakit layu bakteri Ralstonia solanacearum. Penelitian dilaksanakan pada sembilan lokasi di enam daerah sentra produksi kacang tanah pada musim kemarau dan musim hujan mulai tahun 2014 hingga 2016, menggunakan rancangan acak kelompok, tiga ulangan. Perlakuan adalah 14 galur harapan dan dua varietas pembanding. Uji ketahanan terhadap serangan penyakit layu bakteri dilaksanakan di rumah kaca dan di Pati, Jepara, dan Wonogiri yang endemik layu bakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mutan 6 (tipe Spanish) dan BM/ IC//IC-172-1 (tipe Valencia) mempunyai potensi hasil tertinggi di sembilan lokasi, masing-masing 3,48 t/ha dan 3,44 t/ha polong kering. Hasil polong genotipe Mutan 6 unggul di dua lokasi, dan BM/IC//IC-172-1 unggul di tiga lokasi. Mutan 3, Mutan 5, BM/IC-154-2, Bm/IC/ /IC-170-8, dan BM/IC//IC-164-1 memberikan hasil polong tertinggi di satu lokasi, dan genotipe lainnya tidak unggul di semua lokasi uji. Genotipe Mutan 6 mempunyai daya adaptasi umum yang baik dan mampu beradaptasi di banyak ragam lingkungan. BM/IC//IC-172-1 mempunyai daya adaptasi yang baik di sembilan lokasi. Hampir semua genotipe yang diuji menunjukkan status rentan hingga agak rentan, sedangkan BM/IC-154-2 dan BM/ IC//IC-172-1 mempunyai status agak tahan ketika ditanam di tiga daerah endemik penyakit layu bakteri R. solanacearum.