Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery)
Not a member yet
    604 research outputs found

    Hubungan antara Lama Pengobatan dengan Jumlah CD4 pada Penderita HIV/AIDS yang menjalankan Program Pengobatan Antiretrovial (ARV)

    Get PDF
    HIV merupakan  masalah kesehatan yang mengancam Indonesia dan banyak negara di seluruh dunia. Desain penelitian yang digunakan adalah metode Cross-Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita yang menjalankan program pengobatan antiretrovial HIV/AIDS di Poli Cendana RSUD Ngudi Waluyo Kabupaten Blitar. dengan rata- rata kunjungan pasien adalah 40 orang perminggu. Peneliti menetapkan jumlah sampel yaitu 30 orang sesuai kriteria inklusi dan ekslusi. Analisis menggunakan Spearman untuk mengetahui hubungan lama pengobatan dengan jumlah CD4. Hasil penelitian menunjukkan responden berada pada usia dalam rentang 20-30 dengan prosentase terbesar sebanyak 33,3%. Berdasarkan jenis kelamin mayoritas laki-laki sebanyak 53,3%. Hasil pendataan juga menunjukkan sebagian besar menjalakan terapi dengan pemberian Duviral dan Nevirapine pada prosentase 76,7. Responden dalam penelitian ini juga mendapat dukungan keluarga yang baik (36,6%) meskipun terdapat juga dukungan keluarga yang buruk (3,3%). Tingkat kepatuhan tinggi juga terlihat dari distribusi responden yang menunjukkan prosentase sebesar 43,3% dan masih ada responden yang memiliki kepatuhan rendah. Hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan antara lama pengobatan dengan CD4 (p=0.007). Perlu evaluasi perhitungan jumlah CD4 sebelum pemberian ARV

    Coping Mechanism in Women with Breast Cancer

    Get PDF
    Background: Impaired coping mechanisms often occur in women with breast cancer. The purpose of this study is to determine the description of coping mechanisms in women with breast cancer who undergo chemorepy, radiation or both.Methods: The population in this study were women with breast cancer who underwent chemotherapy, radiation or both. Sampling was done by random sampling where the number of samples is 70. Taking data using the COPE Brief instrument.Result: Four indicators in the destructive category were acceptance (54.3%), denial (61.4%), emotional support (52.9%) and positive reframing (67.1%) while three indicators were mostly in the constructive category, namely self blame (60%), active (64.3) %), and Behavioral disengagement (72.9%).Conclusion: Four destructive indicators indicate poor avoidance and positive thinking in breast cancer patients, while 3 constructive indicators describe good problem solving. Assessment based on this indicator can be taken into consideration in the selection of appropriate interventions to improve coping mechanisms in breast cancer patients

    Prevalensi, Karakteristik dan Faktor Resiko Prediabetes di Wilayah Pesisir, Pegunungan dan Perkotaan

    Get PDF
    Latar Belakang : Prediabetes merupakan kondisi kadar glukosa darah diatas normal, tapi belum memenuhi standar diagnosis diabetes. Kondisi ini  bila tidak dilakukan perubahan gaya hidup, dapat jatuh pada diagnosis diabetes. Penelitian ini bertujuan memperoleh prevalensi, karakteristik dan faktor resiko prediabetes di wilayah pesisir, pegunungan dan perkotaan. Methode : Penelitian ini merupakan studi prevalensi pada populasi penduduk pegunungan, pesisir dan perkotaan yang melibatkan 90 subjek berusia 40 - ≥ 65 tahun  ( 30 di wilayah pegunungan, 30 subjek di wilayah pesisir dan 30 subjek di wilayah perkotaan) dilakukan di wilayah pegunungan, pesisir dan perkotaan  dipilih secara acak dengan teknik simple random sampling selama periode bulan Mei – Juni 2019. Pada subjek di lakukan anamnesa menggunakan Kuesioner  sesuai kriteria American Diabetes Association dan juga di lakukan pemeriksaan fisik  dan pemeriksaan laboratorium.Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 21.0 untuk Windows. Analisis deskriptif menggambarkan distribusi variabel penelitian dengan persentase dan rata-rata. Uji chi-square digunakan untuk menganalisis hubungan antara gaya dengan Prediabetes/diabetes. Hasil : Prevalensi prediabetes diperoleh dari hasil pemeriksaan GDA di wilayah pegunungan sebesar 83,3%, pesisir43,4%, perkotaan 73,4%.Karakteristik prediabetes di di wilayah pegunungan adalah jenis kelamin perempuan, usia 40-54 tahun, hipertensi, dan obesitas. Di wilayah pesisir adalah jenis kelamin perempuan, usia 40-54 tahun, hipertensi. Di wilayah perkotaan adalah jenis kelamin perempuan, usia 40-54 tahun, obesitas, dan tidak aktif beraktifitas. Faktor resiko di wilayah pegunungan adalah asam urat dan kolesterol (p <0,05), di wilayah pesisir adalah asam urat, kolesterol dan penyakit pembuluh darah lainnya (p <0,05), sedangkan di wilayah perkotaan adalah riwayat keturunan dan kolesterol (p <0,05). Kesimpulan: Prevalensi prediabetes di wilayah pesisir sebesar ( 43,3%), di wilayah pegunungan sebesar (83,3%), di wilayah perkotaan sebesar (73,4%) Diskusi : Diwilayah pegunungan prevalesi prediabetes lebih besar di bandingkan dengan wilayah perkotaan dan pesisir karena hipertensi dan obesitas. Hipertensi  juga merupakan faktor resiko tertinggi penyebab prediabetes pada masyarakat pesisir, sedangkan obesitas menjadi faktor resiko prediabetes di wilayah perkotaan. Perlu dilakukan strategi pencegahan baik terhadap prediabetes maupun progresivitas prediabetes menjadi diabetes dan diharapkan dapat menambah keahlian tenaga medis utuk mengenali prediabetes, mengidentifikasi orang –orang yang beresiko tinggi prediabetes dan memberikan penatalaksanaan yang tepat agar kejadian diabetes dan komplikasi dapat di kurangi Background : Prediabetes is a condition of blood glucose levels above normal, but does not yet meet the standard diagnosis of diabetes. This condition if lifestyle changes are not made, can fall on the diagnosis of diabetes. This study aims to obtain the prevalence, characteristics and risk factors for prediabetes in coastal, mountainous and urban areas.Method : This study is a prevalence study in mountainous, coastal and urban populations involving 90 subjects aged 40 - ≥ 65 years (30 in mountainous areas, 30 subjects in coastal areas and 30 subjects in urban areas) conducted in mountainous, coastal and cities were randomly selected by simple random sampling technique during the period May - June 2019. On the subject, anamnesia was performed using a questionnaire according to the American Diabetes Association criteria and physical examination and laboratory examination were also carried out. Statistical analysis was performed using SPSS version 21.0 for Windows. Descriptive analysis illustrates the distribution of research variables by percentages and averages. Chi-square test was used to analyze the relationship between style and Prediabetes / diabetes. Results : The prevalence of prediabetes was obtained from the results of GDA examination in the mountainous region of 83.3%, coastal43.4%, urban 73.4%. The characteristics of prediabetes in the mountainous region were female sex, age 40-54 years, hypertension, and obesity . In coastal areas are female sex, age 40-54 years, hypertension. In urban areas are female sex, age 40-54 years, obesity, and not active activity. Risk factors in mountainous regions are uric acid and cholesterol (p <0.05), in coastal areas are uric acid, cholesterol and other vascular diseases (p <0.05), whereas in urban areas are history of heredity and cholesterol (p <0.05). Conclusion : The prevalence of prediabetes in coastal areas is (43.3%), in mountainous areas is (83.3%), in urban areas is (73.4%). Discussion : Prevention strategies for both prediabetes and the progression of prediabetes to diabetes are needed and are expected to increase the expertise of medical personnel to recognize prediabetes, identify people at high risk of prediabetes and provide appropriate management so that the incidence of diabetes and complications can be reduce

    Pengaruh pemberian Paket “Affection†terhadap Aktivitas Seksual pada Pasangan Menopause

    Get PDF
    Menopause merupakan masa kritis kehidupan wanita, pada periode ini terjadi perubahan fisik maupun psikis. Pada periode inilah seorang wanita merasa dirinya menjadi tua dan takut tidak dapat memenuhi kebutuhan seksual suami, dengan bertambahnya usia masalah ini tidak harus terjadi. Tujuan penelitian adalah  menganalisis  Pengaruh  Pemberian  Paket  “Affectionâ€Â  Terhadap Aktifitas  Seksual  Pada  Pasangan  Menopause.  Metode  yang  digunakan adalah Quasy eksperiment dengan desain penelitian Pretest Post test One Group  Design.  Populasi  dan  sampelnya  adalah  wanita  menopause  yang memiliki suami dan tidak menderita penyakit yang dapat mempengaruhi aktifitas seksual, sebanyak 20 wanita di dusun Wonosari sebagai kelompok perlakuan dan 20 wanita di dusun Sukosari sebagai kelompok kontrol dengan tehnik Simple Random Sampling. Berdasarkan hasil uji paired sample t test pada kelompok kontrol nilai signifikansi sebesar 0.514 > alpha 0.05 (p > 0.05), bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan aktifitas seksual pada wanita menopause pada pre dan post intervensi. Pada kelompok perlakuan hasil uji t independent  nilai signifikansi sebesar 0.023 (p<0.05), bahwa terdapat pengaruh pemberian paket “Affection†terhadap peningkatan aktifitas seksual pasangan menopause. Aktifitas seksual wanita menopause pada kelompok perlakuan lebih tinggi daripada sebelum diberikan intervensi.  Oleh karena itu dianjurkan bagi petugas puskesmas untuk menindaklanjuti dengan me- ngembangkan program promosi kesehatan melalui penyebarluasan peman- faatan paket “Affection†bagi pasangan menapouse.  Menopause is a critical period of a woman’s life, during this period physi- cal and psychological changes might occur. During this period, a woman felt herself getting old and afraid if she cannot fulfill her husband sexual needs.  This  case  suppose  not  happend  eventhough  the  age  of  a  woman increasing.  The  purpose  of  the  research  is  to  analyze  Effects  of  Giving Affection  Packages  on  Sexual  Activities  in  Menopause  Couples.  That method used is Quasi experiment with Pretest Post test One Group Design research  design.  The  population  and  the  sample  is  menopausal  women who have  husbands and do not suffer from a disease that can affecting sexual activity, there were 20 women in Wonosari district as a treatment group  and  20  women  in  Sukosari  district  as  a  control  group  with  the Simple Random Sampling technique. Based on the results of study on paired sample t test in the control group with a significance value of 0.514 & gt; alpha  0.05  (p &  gt;  0.05),  there  was  no significant  difference  in  sexual activity in postmenopausal women in the pre and post intervention. On the treatment group the results of the independent t test significant value of 0.023 (p & lt; 0.05), there was an influence on giving “Affection†package to menopausal couples in the case of sexual activity. Women’s sexual activ- ity  on  menopausal  age  in  the  treatment  group  was  higher  than  before given intervention. Therefore It is recommended for puskesmas officers to follow up by developing health promotion programs through disseminat- ing the application of the “Affection†package for menapouse couples

    Efek Kartu Kendali Edukasi Inisiasi Menyusu Dini pada Ibu Hamil Trimester III

    Get PDF
    Pencapaian Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di Indonesia masih sangat rendah, hal ini disebabkan rendahnya pengetahuan ibu dalam pelaksanaan IMD. Terkait dengan hal  ini maka dibutuhkan instrumen yang tepat untuk menambah pengetahuan ibu hamil secara komperehensif.Tujuan : Penelitian ini bertujuan mendesain dan memvalidasi kartu kendali edukasi IMD pada ibu hamil trimester III yang dapat digunakan oleh bidan dalam meningkatkan pengetahuan IMD pada ibu kartu tersebut di desain dan diuji coba terlebih dahulu oleh beberapa tim ahli untuk divalidasi kepada beberapa orang sampel sebelum akhirnya digunakan kepada sampel pasien.Metode Penelitian : jenis penelitian ini adalah quasi eksperiment dengan desain one gruppretest – posttes with kontrol. Populasi penelitian ini adalah semua ibu hamil di Puskesmas Jumpandang Baru Makassar, tehnik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. jumlah sampel sebanyak 60 orang kemudian dibagi menjadi 2 kelompok.  Yang akan di berikan perlakuan satu kelompok menggunakan kartu kendali satu kelompok tanpa menggunakan kartu kendali Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang diberikan kepada responden sebelum dan sesudah edukasi. Analisis menggunakan uji Chisquare, Mannwhitney dan Friedman. kartu kendali edukasi divalidasi oleh 3 tim ahli yaitu ahli komunikasi, konselor laktasi dan kebidanan.Hasil Penelitian : terdapat pengaruh kartu kendali edukasi dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang IMD dengan nilai P = 0,000 yaitu pengetahuan kurang sebelum edukasi 40,5, setelah pemberian edukasi pertama menggunakan kartu pengetahuan ibu meningkat menjadi 50,17, pada edukasi edukasi ke dua menjadi 60,17 dan pada edukasi terakhir menjadi 73,17  Hal ini membuktikan bahwa kartu kendali edukasi dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil akan praktik IMDKesimpulan : kartu kendali edukasi IMD pada ibu hamil terbentuk dan terbukti dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang IMD secara signifikan.Saran : penggunaan kartu kendali edukasi dalam meningkatkan pengetahuan praktik IMD perlu dimulai sejak trimester II kehamilan

    Hubungan Pola Asuh Orang Tua Bekerja terhadap Perkembangan Kepribadian Anak Usia PRA Sekolah

    No full text
    Semakin  berkurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya karena keduanya sama-sama bekerja, mengakibatkan terbatasnya interaksi orang tua dengan anak. Perkembangan keperibadian anak menjadi menjadi terganggu, menjadi pribadi tidak mandiri dan asosial. Penelitian bertujuan mengetahui hubungan pola asuh orang tua bekerja terhadap perkembangan kepribadian pada Anak Usia Pra sekolah (umur 3 – 5 tahun). Merupakan penelitian deskriptif analitik melibatkan 60 responden ibu yang mempunyai anak pra sekolah (umur 3-5 tahun) di Kota Prabumulih. Instrumen penelitian berupa kuesioner, cek list dan lembar persetujuan kesediaan menjadi responden penelitian. Berdasarkan hasil uji statistik dengan fisher exact diperoleh nilai p sebesar 0.00 (< 0.05), sehingga disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan perkembangan perilaku anak pra sekolah. Pada Anak Usia Pra sekolah harus mulai ditanamkan sikap dan norma kehidupan yang menunjang pembentukan kepribadiannya pada masa mendatang. Kedua orang tua yang bekerja diluar rumah menyebabkan pola pengasuhan juga terbatas bahkan terputus,  untuk itu orang tua yang sibuk bekerja harus menyediakan waktu bercengkrama untuk menstimulasi anak berkembang secara optimal. Orang tua harus berupaya  membentuk pola asuh demokratif dan tidak memberikan kasih sayang berlebihan sehingga anak tidak manja dan kurang matang secara sosial

    Penerapan Edukasi Family Centered Maternity Care (FCMC) terhadap Keluhan Ibu Postpartum Melalui Asuhan Home Care

    Get PDF
    Pada masa nifas umumnya banyak masalah atau keluhan yang menyertai ibu postpartum. Pemberian asuhan dan edukasi masa nifas yang benar akan mengurangi adanya ketidaknyamanan dan infeksi puerperium. Salah satu jembatan untuk mengoptimalkan upaya edukasi postnatal adalah melalui keterlibatan keluarga. Ibu dengan dukungan keluarga  melalui  pendekatan Family Centered Maternity Care (FCMC)  diharapkan  memiliki  kemampuan  yang optimal  dalam  beradaptasi  secara  maternal pada masa nifas. Metode penelitian menggunakan menggunakan true experimental dengan pendekatan Pretest-Posttest Design dengan teknik sampling sampel random sistematik. Pengumpulan data menggunakan kuesioner kepada ibu postpartum fisiologis sebanyak masing-masing 12 ibu postpartum pada kelompok intervensi dan kontrol. Hasil penelitian menggunakan Wilcoxon menunjukkan berbeda signifikan jika nilai Z lebih kecil dari -1.960 atau dengan nilai signifikansi kurang dari 0.05. Hasil menunjukkan semua variabel berbeda signifikan antara kelompok intervensi dan kontrol yang menunjukkan adanya pengaruh pemberian edukasi terhadap keluhan ibu postpartum pada kelompok intervensi setelah diberikan eduaksi Family Centered Maternity Care  (FCMC) melalui asuhan home care

    Peran Perawat dalam Assessment Pengenalan Dini untuk Meningkatkan Outcome Pasien Stroke di Instalasi Gawat Darurat

    Get PDF
    Stroke penyakit kegawat daruratan medis yang sangat tergantung waktu dalam penanganannya. Assessment menentukan diagnosis stroke adalah kunci pokok manajemen stroke. Tujuan literature ini mengatahui bagaimana peran perawat dalam assessment untuk meningkatkan outcome pasien stroke. Metode literature review adalah mengumpulkan dan analisa artikel tentang assessment, diagnosis dan manajemen stroke di IGD. Sumber literatur dari text book, artikel elektronik seperti ScienceDirect, PubMed, Cochrane Library dengan kriteria dipublikasi periode 2000-2016, pencarian menggunakan kata kunciâ€recognition, assessment, stroke, emergencyâ€. Hasil penelusuran didapatkan 21 artikel tentang pengkajian/pengenalan gejala, diagnosis dan menajemen stroke, hanya 7 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Literatur review menunjukkan bahwa aktivasi protokol manajemen stroke segera dilakukan dengan pertama kali menentukan tipe atau diagnosis stroke pasien. Penentuan diagnosis penting untuk dilakukan sebagai dasar memberikan terapi. Penentuannya biasanya menggunakan CT-Scan untuk membedakan stroke akut atau gejala mirip stroke. Tidak semua rumah sakit tersedia CT-Scan sehingga sebagai alternatif dapat menggunakan ROSIER scale dengan sensitifitas 93% dan nilai prediksi positif 90% membedakan stroke akut dan bukan stroke. Terdapat 7 aitem penilaian yaitu kehilangan kesadaran atau sinkop, aktivitas kejang, kelemahan otot wajah/asimetris, kelemahan anggota gerak atas/asimetris, kelemahan anggota gerak bawah/asimetris, kesulitan bicara, gangguan lapang pandang. Total skor antara -2 sampai +5. Apabila pasien mendapat skor 1 atau lebih terdiagnosis stroke dan skor ≤ 0 maka bukan stroke kecuali skor total 0. ROSIER merupakan skala diagnosis simple, sensitif, spesifik dan cocok digunakan saat triage di IGD. Penggunaannya juga sangat cepat dan mudah sehingga semakin cepat identifikasi pasien stroke untuk mendapatkan tindakan yang dapat menurunkan angka kematian dan kecacatan

    Hubungan Kadar Ureum, Hemoglobin dan Lama Hemodialisa dengan Kualitas Hidup Penderita PGK

    Get PDF
    Penderita penyakit ginjal kronik mengalami penumpukan produk sisa dalam darah khususnya ureum yang menjadi toksin bagi tubuh. Anemia pada pasien PGK menyebabkan badan lemah dan penurunan perfusi jaringan. Terapi hemodialisa bisa menjadi stresor bagi pasien, karena terapi ini memerlukan waktu yang lama, keadaan ini berpotensi menurunkan kualitas hidup pasien. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan kadar ureum, hemoglobin dan lama hemodialisa dengan kualitas hidup penderita PGK di Ruang Hemodialisa RS dr Soepraoen. Desain penelitian ini menggunakan kolerasional dengan pendekatan cross sectional. Responden adalah penderita PGK dengan terapi hemodialisis di ruang hemodialisa RS dr Soepraoen Malang. Sampel sejumlah 92 responden yang memenuhi kriteria eksklusi dan inklusi. Variabel yang diteliti adalah ureum, hemoglobin, lama hemodialisa dan kualitas hidup. Analisa data menggunakan uji korelasi somers’d gamma. Berdasarkan hasil uji korelasi somers’d gamma menunjukkan ada hubungan antara ureum dengan kualitas hidup responden dibuktikan dengan nilai p= 0,025 , r = 0,4. Ada hubungan antara kadar hemoglobin dengan kualitas hidup responden dibuktikan nilai p= 0,012 , r = 0,4. Tidak ada hubungan antara lama hemodialisa dengan kualitas hidup responden dibuktikan nilai p= 0,609, r = 0,6. Hasil penelitian ini meningkatkan kemampuan berpikir kritis perawat yaitu perubahan ureum dan hemoglobin berdampak pada kualitas hidup pasien PGK. Patients with chronic kidney disease experience a buildup of waste products in the blood, especially urea which is toxic to the body. Anemia in CKD patients causes weak body and decreased tissue perfusion. Hemodialysis therapy can be a stressor for patients, because this therapy requires a long time, this situation has the potential to reduce the quality of life of patients. The purpose of this study was to determine the relationship of urea levels, hemoglobin and duration of hemodialysis with the quality of life of patients with CKD in the Hemodialysis Room of dr. Soepraoen Hospital. The design of this study uses a cross-sectional study. Respondents were CKD sufferers with hemodialysis therapy in the hemodialysis room at dr. Soepraoen Hospital, Malang. Sample were 92 respondents who met the exclusion and inclusion criteria. The variables were urea, hemoglobin, length of hemodialysis and quality of life. Data analysis uses the gamma correlation test. Based on the gamma correlation test results showed that there was a relationship between the ureum and the quality of life of the respondents as evidenced by the value of p = 0.025, r = 0.4. There was a relationship between hemoglobin levels with the quality of life of the respondents as evidenced by the value of p = 0.012, r = 0.4. There was no relationship between the length of hemodialysis with the quality of life of respondents as evidenced by the value of p = 0.609, r = 0.6. The results of this study improve the critical thinking skills of nurses, namely changes in urea and hemoglobin affect the quality of life of CKD patients.Â

    Video Hand Hygiene Kids meningkatkan perilaku Cuci Tangan Santri Cilik TPQ Masjid Awalulmu’minin Gamping Sleman Yogyakarta

    Get PDF
    Derajat kesehatan anak saat ini belum dapat dikatakan baik, karena masih ada permasalahan kesehatan khususnya pada anak usia sekolah. Hasil identifikasi didapatkan 35% santri yang pernah mendapatkan sosialisasi cuci tangan di sekolahnya. Tiga santri mengatakan sebelum makan jarang melakukan cuci tangan, dan sehabis buang air besar juga tidak menggunakan sabun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh media edukasi cuci tangan dengan video yang menyenangkan dan mudah terhadap kebiasaan perilaku cuci tangan Santri. Penelitian ini merupakan penelitian yang mengujicobakan intervensi pada subjek tanpa kelompok pembanding dengan desain pre and post without control. Populasi dalam penelitian ini adalah santri TPQ Awalulmu’minin Sembung. Sampel diambil dengan teknik total sampling dengan jumlah 28 responden. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2018. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner dan ceklist observasi perilaku cuci tangan. Didapatkan nilai rata-rata sebelum perlakuan adalah 7,57 dan setelah perlakuan meningkat menjadi 15,36. Seluruh responden mengalami peningkatan perilaku rata-rata sebesar 14,5 dan tidak ada satupun yang perilakuknya menurun setelah dilakukan intervensi. Uji statistik menggunakan uji Wilcoxon didapatkan nilai p value 0,000 lebih kecil dari 0,05. Hasil tersebut sama dengan penelitian yang dilakukan Rachmawati yaitu ada pengaruh penyuluhan cuci tangan dengan media video terhadap penerapan cuci tangan siswa SD Nogotirto. Hal ini membuktikan media edukasi video cuci tangan efektif meningkatkan perilaku cuci tangan mengunakan sabun dengan benar. Kesimpulannya ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan dengan metode pemutaran video terhadap peningkatan perilaku cuci tangan. Saran bagi pengurus TPQ untuk mempertahankan perilaku cuci tangan Santri dengan memutar video cuci tangan.  The current level of health of children cannot be said to be good, because there are still health problems especially in school-age children. The results of the identification found 35% of students who had received hand washing information at their school. Three santri said that they rarely washed their hands, and after defecating they did not use soap. The purpose of this study was to determine the effect of hand washing education media with a fun and easy video on the behavior of Santri hand washing behavior. This study is a study that tested interventions on subjects without comparison groups with pre and post design without control. The population in this study were the students of TPQ Awalulmu’minin Sembung. Samples were taken by total sampling technique with 28 respondents. Data retrieval was carried out in July-August 2018. The instrument in this study was a questionnaire and a checklist of observations of hand washing behavior. Obtained the average value before treatment was 7.57 and after treatment increased to 15.36. All respondents experienced an increase in behavior by an average of 14.5 and none of their behavior decreased after intervention. The statistical test using the Wilcoxon test obtained a p value of 0,000 less than 0,05. The results are the same as the research conducted by Rachmawati, namely the influence of hand washing with video media on the application of hand washing from Nogotirto elementary school students. This proves that the hand washing video education media effectively improves the behavior of hand washing using soap properly. In conclusion, there is the influence of providing health education with the method of video screening on improving handwashing behavior. Suggestions for TPQ administrators to maintain Santri hand washing behavior by playing hand washing videos

    571

    full texts

    604

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇