Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery)
Not a member yet
604 research outputs found
Sort by
Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA)
Pendahuluan: Kanker serviks adalah kanker tertinggi keempat pada wanita dengan perkiraan 570.000 kasus baru pada tahun 2018 yang mewakili 6,6% dari semua kanker wanita. Tingkat kematian yang tinggi dari kanker serviks secara global dapat dikurangi melalui pencegahan, diagnosis dini, skrining yang efektif dan program pengobatan. Sampai tahun 2016, cakupan IVA di Indonesia sebesar 4,34% yang masih jauh dari target nasional sebesar 10% pada akhir tahun 2015.Metode: Jenis penelitian survey analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan pada 19 Maret sd 04 Mei 2018. Sampel adalah semua wanita usia 19-49 tahun yang berkunjung ke Puskesmas Kalasan, berdomisili di Kecamatan Kalasan, memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Sampel berjumlah 350 orang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Instrumen adalah kuesioner dan pengambilan data dengan wawancara. Analisis data menggunakan fisher exact test.Hasil: Pengetahuan tentang kanker serviks sebagian besar dalam kategori rendah (97,4%). Sikap positif terhadap deteksi dini kanker serviks adalah 96,3%. Sebesar 80,3% yakin kanker serviks akan sembuh jika ditemukan lebih dini. Sebanyak 92,3% tidak melakukan IVA test dalam 3 tahun terakhir. Faktor yang berhubungan dengan deteksi dini kanker serviks adalah pengetahuan (p-value = 0,003).Diskusi: Tidak ada hubungan antara sikap, kepercayaan dengan deteksi dini kanker serviks dikarenakan ada faktor lain yang lebih berpengaruh. Sesuai hasil penelitian diketahui 68,9% tidak melakukan IVA dikarenakan belum mengetahui tentang IVA
The Quality of Life of Adolescents with Type 1 Diabetes in Malang
Type 1 diabetes is a disease that can’t be cured but the quality of life of the patients can be maintained as much as possible. This study aimed to analyze the quality of life of adolescents with type 1 diabetes in Malang. This study used cross sectional design. The sampling technique used total sampling by taking all adolescents (10-19 years) with type 1 diabetes who are still active in IKADAR Malang which were 24 adolescents. The quality of life of adolescents with type 1 diabetes was measured by the quality of life for youth questionnaire. The result showed that the total score of the quality of life of adolescents with type 1 diabetes was 74.4±11.4 with the highest score was the impact on activities (92.3±12.4) and the lowest score was the parent issues (57.3±29.2). Higher score quality of life was in boys (75.5±12.9), age 10-14 years (75.3±11.7), disease duration 1-5 years (83.0±3.5) and last HbA1c was <7.5% (83.3±4.2). Healthcare providers especially nurse are expected to keep monitoring and improving the quality of life of adolescents with type 1 diabetes
Analisis Hubungan Gaya Hidup dengan Kualitas Hidup Wanita Pasangan Subur Akseptor KB IUD
Penggunaan KB IUD yang rendah dapat mempengaruhi kualitas hidup keluarga. Semakin rendah penggunaan kontrasepsi maka semakin rendah kualitas hidup. Berbagai faktor termasuk gaya hidup yang diterapkan diduga mempengaruhi kualitas hidup akseptor KB IUD. Tujuan penelitian ini menjelaskan hubungan gaya hidup dengan kualitas hidup wanita pasangan subur akseptor KB IUD. Metode: Desain penelitian ini korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah 120 akseptor KB IUD di Wilayah Kerja Puskesmas Mulyorejo Surabaya. Besar sampel 92 wanita usia subur akseptor KB IUD diperoleh dengan purposive sampling, dengan kriteria inklusi wanita usia subur 18-40 tahun, tinggal serumah dengan suami dan dapat berkomunikasi secara lisan dan verbal. Variabel independen gaya hidup. Variabel dependen kualitas hidup. Pengumpulan data menggunakan kuesioner gaya hidup dari Prihatiningsih dan kualitas hidup WHOQOL-BREF yang telah diterjemahkan untuk kualitas kehidupan dari WHO. Uji statistik dengan Spearman’s rho test. Hasil: Tidak hubungan signifikan antara gaya hidup dengan kualitas hidup (p=0,960, r=0,005). Pembahasan: Gaya hidup responden sebagian besar adalah gaya hidup sehat. Faktor gaya hidup yang berhubungan dengan kualitas hidup adalah aktivias fisik, lingkungan, perilaku konsumtif, dan managemen strees. Hal ini tidak bisa menjadi patokan untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang. Karena gaya hidup sehat tidak selalu penyumbang terbesar pada kualitas hidup, tapi ada faktor lain yang perlu diperhatikan. Karena dari hasil penelitian di dapatkan responden lebih mandiri, jadi tidak membutuhkan gaya hidup yang cukup untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Perlu dilakukannya penelitian lebih lanjut tentang faktor lain yang berhubungan kualitas hidup akseptor KB
Latihan Range of Motion untuk Perubahan Kualitas dan Kuantitas Nyeri Penderita Osteoarthriti
Osteoartritis merupakan suatu penyakit degeneratif kerusakan kartilago sendi yang progresif pada lansia. Keluhan tersering penderita osteoartritis adalah rasa kaku serta adanya nyeri, spasme otot dan disability. Salah satu terapi non farmakologis untuk mengatasi nyeri adalah latihan Range of Motion (ROM). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh latihan ROM terhadap kualitas dan kuantitas nyeri penderita osteoarthritis di Banyu Urip Lor RW 7 Surabaya. Desain penelitian ini adalah quasi eksperiment dengan pre-post test with control group, pada sampel 26 orang lansia yang menderita osteoartritis dengan menggunakan teknik purposive sampling. Latihan ROM dilakukan 3 kali seminggu selama 4 minggu. Analisis data yang digunakan adalah uji wilcoxon dan mann whitney. Hasil uji statistik Wilcoxon pada kelompok kontrol pre-post didapatkan P<0,05 (0,025) dan kelompok perlakuan pre-post didapatkan P<0,05 (0,001), artinya ada pengaruh latihan range of motion terhadap kualitas dan kuantitas nyeri penderita osteoarthritis. Hasil uji statistik Mann-Whitney didapatkan P<0,05 (0,006), artinya ada beda kualitas dan kuantitas nyeri antara kedua kelompok. Latihan ROM adalah latihan menggerakkan sendi seoptimal mungkin sesuai kemampuan klien. Latihan ROM dapat meningkatkan kelenturan dan kekuatan otot, serta merangsang sirkulasi darah. Implikasi hasil penelitian ini adalah latihan ROM dapat dilakukan oleh penderita osteoartritis secara rutin untuk mengurangi rasa nyeri. Osteoarthritis is a progressive degenerative disease of joint cartilage in the elderly. The most common complaints of people with osteoartritis are stiffness and pain, muscle spasm and disability. One of the non-pharmacological therapy for pain management is ROM exercise. The purpose of this study was to analyze the effect of ROM exercises on the quality and quantity of osteoarthritis pain in Banyu Urip Lor RW 7 Surabaya. The design of this study was quasi-experimental with a pre-post test control group, in a sample of 26 elderly people suffering from osteoartritis used a purposive sampling technique. The ROM exercise are done 3 times a week for 4 weeks. The data analysis used was Wilcoxon test and Mann Whitney test. The results of the Wilcoxon statistical test in the pre-post control group obtained P<0.05 (0.025), and the pre-post treatment group obtained P<0.05 (0.001), it means that there was an effect of ROM exercises on the quality and quantity of pain in patients with osteoarthritis. The results of the Mann-Whitney statistical test obtained P<0.05 (0.006), it means that there were differences in the quality and quantity of pain between the two groups. The ROM exercise are exercises to move the joints as optimal as possible according to the ability of the client. The ROM exercise can increase muscle flexibility and strength, and stimulate blood circulation. Implications of the results of this study ROM exercises can be performed by patients with osteoartritis regularly to reduce pain
Theory Of Goal Attainment (Imogene M. King) Sebagai Basis Analisis Faktor Patuh Minum Obat TB Paru Di Kabupaten Kediri
Ketidakpatuhan pasien adalah menjadi fakor penyebab kegagalan minum obat TB paru. Peran perawat sangat penting dalam peningkatan patuh minum obat melalui proses interaksi. Dari hal tersebut maka perlu dikembangkan model intervensi keperawatan berbasis sistem interaksi untuk meningkatkan kepatuhan yaitu teori sistem interaksi King. Tujuan Penelitian adalah untuk menganalisis faktor yang kepatuhan minum obat TB Paru kategori 2 berbasis teori sistem interaksi King di Puskesmas Kabupaten Kediri. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Pengambilan sampel dengan teknik total sampling sebanyak 27 orang. Hasil uji regresi logistik diperoleh hasil pada sistem personal p = 0,039 pada sistem interpersonal p = 0,628 dan pada sistem sosial p = 0,192 sehingga berdasarkan nilai α = 0,05 menjelaskan bahwa nilai p < 0,05 adalah H0 ditolak sebaliknya bila nilai p > 0,05 maka H0 diterima, dapat disimpulkan bahwa pada sistem personal memiliki hubungan terhadap kepatuhan minum obat TB paru sedangkan pada sistem interpersonal dan sosial dari interaksi King menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan terhadap kepatuhan minum obat TB paru. Disarankan sistem interaksi King mampu menjadi model peningkatan kepatuhan sehingga dapat diintegrasikan dalam clinical pathway pada pasien TB Paru di Poli Paru. Patient noncompliance is to be the causes failure factor take the pulmonary TB medicine. The role of the nurse is very required in term of increasing compliance with take medicine, through the interacting process, thus need to be implemented model of maintenance based on interaction system in improving the compliance theory of king interaction system to improve compliance with King's interaction system theory, with the advantage of prioritizing active participation of patients in deciding goals, making decisions, and interactions to achieve goals. The purpose of the research is to analyse the factors that compliance medicine in the King’s interaction system theory in Kediri district Puskesmas. The research design used was descriptive analytic with cross sectional approach. Data collection was conducted using questionnaires. Sampling as many as 27 people with a total sampling techniques. Logistics regression test results on the personal system p = 0.039 on the interpersonal system p = 0.628 and on the social system p = 0.192 so that based on the value of α = 0.05. Which means indicating that the personal system has a associate with the medication compliance lung TB. It is recommended that the interaction system King is able to become obedient improvement model so that it can be integrated in clinical pathway at pulmonary TB patients in pulmonary room. It is recommended that King’s interaction system cam be a model in improving compliance taking medicine, thus able to be integrated in clinical pathway in lung TB patients in pulmonary poly
Penurunan Hemoglobin pada Penyakit Ginjal Kronik Setelah Hemodialisis di RSU “KH†Batu
Penyakit Ginjal Kronik (PGK) adalah kondisi irreversible dimana fungsi ginjal menurun dari waktu ke waktu. Kondisi fungsi ginjal memburuk, kemampuan untuk memproduksi erythropoietin yang memadai terganggu, sehingga terjadi anemia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kadar Hb pre dengan post Hemodialisis pada pasien penyakit ginjal kronik di RSU “KH†Batu. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif yang menggunakan desain cross sectional dengan menggunakan teknik Quota Sampling. Sampel yang dipilih adalah 20 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Data diambil dengan cara melakukan pengecekkan kadar Hb secara langsung pada responden. Uji statistik menggunakan uji t-test berpasangan didapatkan nilai rerata kadar Hb pre Hemodialisis adalah 7,38 dan rerata kadar Hb post Hemodialisis adalah 7,10. Hasil uji t-test berpasangan didapatkan nilai p=0,039 (p<0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar Hb pre dengan post Hemodialisis pada pasien penyakit ginjal kronik, dimana kadar Hb post Hemodialisis lebih rendah daripada kadar Hb pre Hemodialisis. Hal tersebut dikarenakan sejumlah kecil darah biasanya tertinggal di dalam dialiser. Hal ini dapat menjadi sumber kekurangan zat besi dari waktu ke waktu, sehingga menimbulkan anemia. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang penanganan anemia pada pasien Penyakit Ginjal Kronik yang menjalani terapi Hemodialisis
Perbedaan Penggunaan Facebook dan Instagram terhadap Perilaku Seks Bebas Remaja Usia 15-17 Tahun
Pada era globalisasi ini banyak remaja menghabiskan waktu dengan jejaring sosial. Era dimana informasi seluruh dunia terbuka untuk semua orang. Insta- gram menjadi media sosial yang paling banyak digunakan sebesar 82%, se- dangkan Facebook pada urutan kedua yaitu sebesar 66%, dan di urutan terakhir ada Path sebanyak 49%. Instagram dan facebook banyak diminati oleh masyarakat khusunya remaja, sehingga akan menimbulkan perilaku negatif salah satunya seks bebas. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan facebook dan instagram terhadap perilaku seks bebas remaja usia 15-17 tahun. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah obser- vasional. Populasi dalam penelitian adalah remaja pertengahan usia 15-17 tahun sebanyak 20 orang, dengan tehnik sampling yaitu tottally sampling. Sampel yang didapat sebeasar 20 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara penggunaan facebook dan instagram terhadap perilaku seks bebas remaja, dengan demikian beberapa konten dalam facebook dan instagram seharusnya mempunyai batasan atau lock agar remaja yang dibawah umur 18 tahun tidak dapat mengakses konten pornografi, serta sejak dini remaja diikutsertakan dalam UKM PIK-R agar dapat mencegah free sex. In this globalization era, many teenagers spend time with social networks. The era where information throughout the world is open to everyone. Instagram is the most widely used social media at 82%, while Facebook is in second place at 66%, and in the last place there are 49% of Paths. Instagram is popular with many people, especially teenagers, so it will cause negative behavior, one of which is freesex. The purpose of this study was to analyze the differences between Facebook and Instagram on free sex behavior of adolescents aged 15-17 years. The design used in this study was observational. The population in the study were 20 middle age ado- lescents aged 15-17 years, with sampling techniques namely tottally sam- pling. The sample obtained was 20 respondents The results of the study prove that there is an Different between the use of facebook and instagram on adolescent free sex behavior, thus some content on Facebook and pro- grams should have a limit or lock so that adolescents under the age of 18 cannot access pornographic content, and early teens are included in PIK- R Organization can prevent Freesex
Pengaruh Modul Skin Personal Hygiene terhadap Sikap dalam pencegahan Skabies
Pondok pesantren adalah tempat pendidikan Islam, dimana santri tinggal bersama dengan santri lainnya, sehingga beresiko mudah tertular berbagai penyakit, seperti skabies. Skabies sering diabaikan karena tidak mengancam jiwa sehingga prioritas penanganannya rendah. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi pengaruh modul skin personal hygiene sebagai media pendi- dikan kesehatan pada sikap santri dalam mencegah terjadinya skabies di pondok pesantren Roudhotul Muta’alimin Muta’alimat Jabon Sidoarjo. Pra experiment (one group pre-post test) merupakan desain yang digunakan dalam penelitian ini. Seluruh santri yang tinggal di pondok pesantren Roudhotul Muta’alimin Muta’alimat Jabon Sidoarjo sebagai populasi, sebe- sar 72 orang, sampel berjumlah 60 orang dengan menggunakan simple ran- dom sampling. Instrumen penelitian berupa modul skin personal hygiene dan kuisioner. Wilcoxon Signed Ranks Test digunakan dalam menganalisa data. Berdasarkan hasil penelitian bahwa sikap responden setelah intervensi berupa pendidikan kesehatan dengan menggunakan modul diperoleh adanya perubahan sikap menjadi lebih baik, dengan hasil analisa signifikan yaitu nilai p =0,000. Pendidikan kesehatan dengan menggunakan modul skin per- sonal hygiene berdampak positif dalam perubahan sikap santri di Roudhotul Muta’alimin Muta’alimat Jabon Sidoarjo. Perlu diterapkan sikap menjaga kesehatan dan kebersihan kulit dalam mencegah penyakit skabies. Islamic boarding schools are places of Islamic education, where santri live together with other santri, so they are at risk of easily contracting various diseases, such as scabies. Scabies is often overlooked because it is not life threatening so the priority for handling it is low. The purpose of this study was to identify the effect of the skin personal hygiene module as a health education media on the attitude of students in preventing the occurrence of scabies in the Islamic boarding school Roudhotul Muta’alimin Muta’alimat Jabon Sidoarjo. Pre-experiment (one group pre-post test) is the design used in this study. All students who live in the Islamic boarding school Roudhotul Muta’alimin Muta’alimat Jabon Sidoarjo as a popula- tion, amounting to 72 people, a sample of 60 people using simple random sampling. The research instrument was a skin personal hygiene module and questionnaire. The Wilcoxon Signed Ranks Test is used in analyzing data. Based on the results of the study that the attitude of the respondents after the intervention in the form of health education using modules ob- tained a change in attitudes to be better, with the results of a significant analysis of the value p = 0,000. Health education by using the skin per- sonal hygiene module had a positive impact on the change in attitudes of santri at Roudhotul Muta’alimin Muta’alimat Jabon Sidoarjo. Attitudes need to be taken to maintain skin health and cleanliness in preventing scabies
Faktor yang Berhubungan dengan Pengetahuan Orang Tua tentang Stunting pada Balita
Stunting masih menjadi masalah gizi anak yang utama yang dapat menimbulkan dampak besar, namun masyarakat khususnya orangtua banyak yang belum memahami stunting dengan benar. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor yang berhubungan dan yang mempunyai pengaruh paling dominan terhadap pengetahuan orang tua tentang stunting pada balita. Penelitian ini menggunakan desain crosssectional dengan populasi yaitu orangtua yang memiliki anak balita usia 0-3 tahun di Posyandu Dusun Plosoarang, Sanankulon, Kabupaten Blitar. Sampel diambil dengan purposive sampling sebanyak 20 orang dengan kriteria inklusi orang tua yang mengantar ke posyandu dan minimal berpendidikan SMP. Pengukuran data menggunakan kuesioner meliputi data pengetahuan, usia, pendidikan terakhir, pekerjaan, dan informasi yang pernah diperoleh. Analisis bivariat menggunakan koefisien kontingensi. Analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda dengan nilai signifikan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan faktor yang berhubungan dengan pengetahuan tentang stunting yaitu usia (p=0,017), pendidikan (p=0,043), informasi (p=0,002). Analisis uji regresi logistik menunjukkan informasi menjadi faktor yang paling dominan terhadap pengetahuan (p=0,025). Faktor yang tidak berhubungan yaitu pekerjaan (p=0,078) dan pengalaman (p=0,822). Petugas posyandu agar memberikan informasi tentang stunting saat kegiatan posyandu misalnya melalui penyuluhan atau konseling. Orang tua diharapkan agar meningkatkan pengetahuan tentang stunting dengan mencari informasi melalui berbagai media yang ada. Stunting is still a major child nutrition problem that can have a big impact. But many people especially parents do not understand about stunting correctly. The aim of this study was to analyze the factors that are related and which have the most dominant influence on parental knowledge about stunting in toddler. This study uses cross sectional design with a population that is parents who have children aged 0-3 years old at Posyandu of Plosoarang village, Sanankulon, Blitar. Sampel were taken bu purposive sampling of 20 people with the inclusion criteria of parent who took to posyandu and at least junior high school education. Data measurement using a questionnaire includes data on knowledge, age, education, employment, and information ever obtained. Bivariate analysis uses contingency coefficients. Multivariate analysis using multiple logistic regression test. The Result showed factors related to knowledge about stunting are age (p=0,017), education (p=0,043), information (p=0,002). Logistic regression analysis showed that information was the most dominant factor in knowledge (p=0,0025). Unrelated factors were work (p=0,078) and experience (p=0,822). Posyandu officers are expectedto provide information about stunting during posyandu activities and parents are expected to increase knowledge about stunting by finding information through various media
Factors that Affect Coping Mechanisms in Chemotherapy Patients with the Approach of Callista Roy Adaptation Theory
Chemotherapy could cause pain in the patient, thus causing the condition of the body would gradually weaken. This condition would make the patient delay the therapy due to physical symptoms and emotional pressure (psychological), which affected the seriousness of patients in the treatment and strong coping mechanism required to maintain good conditions One of the empirical evidence of conceptual model theory "Holistic Adaptif System", Callista Roy put it, this model was used in chronic illnesses undergoing treatment, because theoretically successful handling by conducting adaptive coping mechanism behavior was an important variable in the physiological and psychological adaptation process to the stimulus that occurs. This study aimed to identify the behavior of patients using Callista Roy adaptology. This study aimed to analyze factors that influenced coping mechanisms in chemotherapy patients with the Callista Roy adaptation theory approach. This research design is analytical with a cross sectional approach. The population in this study were 95 patients. This research sampling technique was Consecutive Sampling. The sample size in this study was 78 respondents who met the criteria of the researcher. The research instrument used CAPS with an adaptation theory approach. The results showed that educational factors (p = 0.031) and job (p = 0.023) influenced the coping mechanism with the theory approach of Callista Roy adaptation to chemotherapy patients. The higher the level of education, the tolerance and control of stressors is better so that coping mechanisms become adaptive. Those who worked were more stress because they had to combine their work with scheduled care