Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery)
Not a member yet
604 research outputs found
Sort by
Analisi Faktor yang Mempengaruhi Lansia datang ke Pelayanan Kesehatan
Sarana dan fasilitas dalam pelayanan kesehatan bagi lansia telah disediakan oleh pemerintah Indonesia melalui satuan terkecil di masyarakat yaitu puskesmas & posyandu lansia, akan tetapi pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh lansia baik untuk upaya promotif, preventif, dan kuratif masih belum optimal. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi lansia datang dan memanfaatkan pelayanan kesehatan. Tujuan penelitian mengetahui pengaruh faktor pengambilan keputusan, sumber pembiayaan, kualitas pelayanan, akses jarak, akses transportasi, persepsi terkait gejala yang mempengaruhi lansia datang ke pelayanan kesehatan. Metode yang digunakan adalah studi deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Nonprobability sampling dengan teknik accidental sampling. Populasinya lansia yang terdaftar di Posyandu lansia Dusun Wonosari Desa Pandansari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Partisipan penelitian ini adalah para lansia yang bertemu dengan peneliti saat pengambilan data didapatkan sampel sebanyak 50 responden. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner yang sebelumnya telah disiapkan. Hasil analisis data menggunakan chi-square didapatkan ada pengaruh antara pengambilan keputusan (p=0.031), sumber pembiayaan (p=0,021), kualitas pelayanan (p=0.021), akses jarak (p=0.006), akses transportasi (p=0.043) masing-masing terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh lansia. Hasil uji multivariat menggunakan regresi logistik didapatkan hasil tidak ada faktor yang paling berpengaruh terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh lansia (p>0.05). Berdasarkan hasil penelitian, perlu adanya perhatian terhadap pelayanan kesehatan primer khususnya posyandu lansia agar lebih optimal pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh lansia khususnya dalam upaya preventif dan promotif dengan memberdayakan masyarakat setempat melalui kader kesehatan posyandu lansia bekerjasama dengan tim kelompok kerja (pokja) lansia dari Puskesmas dan juga tenaga kesehatan yang bertugas di desa
Hubungan antara Prestasi Praktikum Laboratorium dengan Pencapaian Target Kompetensi Praktek Klinik KDPK Mahasiswa Tingkat I Kebidanan D3
Praktek di laboratorium sangatlah diperlukan dalam menunjang prestasi praktek laboratorium.Adanya penurunan antara prestasi praktek laboratorium dengan pencapaian target kompetensi KDPK sehingga menyebabkan rendahnya pencapaian target kompetensi praktek klinik KDPK yang disebabkan rendahnya kemampuan mahasiswa karena mahasiswa kurang latihan pada saat di laboratorium pada waktu laboratorium skill. Rancangan penelitian adalah analitik korelasional dengan populasi adalah mahasiswa sebanyak 40 mahasiswa dengan menggunakan teknik total sampling. Untuk variabel independen adalah prestasi praktek laboratorium, variabel dependen yaitu pencapaian target kompetensi praktek klinik KDPK.Pengukuran data menggunakan lembar check list dan rekapan perolehan target kemudian hasilnya dianalisa dengan menggunakan Mann Whitney. Hasil yg didapatkan dari penelitian ini prestasi praktek laboratorium sebagian besar adalah nilai AB (42,5%) sedangkan pencapaian target kompetensi praktek klinik KDPK sebagian besar target terpenuhi sebesar (90%). Diketahui nilai Mann Whitneyp = 0,731 maka nilai ini lebih dari α = 0,05.Hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan antara prestasi praktek laboratorium dengan pencapaian target kompetensi KDPK mahasiswa tingkat I kebidanan D3. Dengan adanya penelitian ini diharapkan mahasiswa terus melatih keterampilannya untuk mempersiapkan praktek klinik selanjutnya
Hubungan Status Nutrisi dan Gaya Hidup terhadap Tekanan Darah pada Remaja di Kelurahan Lidah Kulon Kota Surabaya
Pendahuluan: Tekanan darah tinggi memicu terjadinya banyak masalah penyakit jantung dan organ lain. Di Indonesia, terdapat prevalensi tekanan darah tinggi remaja yaitu 8,4% pada tahun 2013. Berbagai faktor dapat mendukung perubahan tekanan darah. Sebagai contoh yaitu status nutrisi dan gaya hidup.Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status nutrisi dan gaya hidup terhadap tekanan darah pada remaja di Kelurahan Lidah Kulon Kota Surabaya. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi terdiri dari sebanyak 1288 remaja di kelurahan Lidah Kulon. Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah konsekutif sampel dengan 297 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan spigmomanometer, stetoskop, statur meter, timbangan berat badan, kuesioner dan analisis menggunakan uji Chi Square dengan nilai signifikan ≤ 0,05.Hasil: Hasil menunjukkan bahwa status nutrisi dan gaya hidup terhadap tekanan darah remaja mempunyai korelasi dengan nilai (p = 0,000)Diskusi: Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa terdapat hubungan korelasi antara status nutrisi dan gaya hidup terhadap tekanan darah pada remaja di Kelurahan Lidah Kulon Kota Surabaya. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah penelitian dengan deteksi kesehatan dini seperti penelitian ini terutama kepada generasi muda karena hal ini dapat menjadi masalah yang serius di masa depa
Motivasi Ibu Mempengaruhi Keberhasilan Pelatihan Buang Air pada Anak Batita
Melatih anak untuk mandiri dalam buang air kecil atau besar merupakan suatu tahapan yang harus dilakukan oleh orang tua dalam pengasuhan anak. Latihan dan kemandirian anak terkait pola eliminasi ini biasanya berlangsung pada usia 18-24 bulan, namun saat ini masih banyak ditemukan anak berusia lebih dari 3 tahun masih belum dapat mengontrol saat ingin BAK dan BAB, dan fakta bahwa masih banyak orang tua lebih memilih memakaikan anaknya diapers sampai anak berusia lebih dari 3 tahun. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan motivasi ibu dengan keberhasilan pelatihan buang air pada anak batita. Desain analitik cross sectional. Jumlah populasi 38 orang ibu batita, besar sampel sebesar 35 responden dengan teknik simple random sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang diberikan kepada ibu atau pengasuh yang berisikan tentang kebiasaan buang air pada anak dirumah. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji SPSS. Hasil SPSS Rank Spearman didapatkan nilai Ï = 0.00 artinya dalam penelitian ini didapatkan bahwa motivasi ibu mempengaruhi keberhasilan pelatihan buang air pada anak Batita. Simpulan penelitian ini, motivasi ibu menentukan keberhasilan dan kemandirian anak dalam pola buang air, baik buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB). Diharapkan ibu atau pengasuh dirumah lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pola pengasuhan anak khususnya yang terkait dengan pola eleminasi buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK
Modal Sosial dan Persepsi Ancaman Sebagai Determinan Perilaku Pencegahan Infeksi Dengue: Studi Multilevel
Infeksi dengue merupakan salah satu permasalahan utama dalam kesehatan masyarakat di Indonesia. Berbagai upaya pencegahan dan pengendalian penyakit ini telah dilakukan dalam kurun waktu yang lama, tetapi jumlah kasus dan angka kematiannya cenderung mengalami peningkatan. Selain faktor individu, faktor sosial pun dinilai memiliki peranan penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi dengue. Penelitian cross sectional yang dilakukan di 8 kecamatan di Kabupaten Sukoharjo pada tahun 2018 ini bertujuan menganalisis pengaruh faktor individu berupa persepsi ancaman pengaruh kontekstual modal sosial terhadap perilaku pencegahan infeksi dengue. Sejumlah 200 subjek penelitian dipilih dengan teknik multistage random sampling. Keseluruhan data variabel bebas (persepsi ancaman dan modal sosial) serta data variabel terikat (perilaku pencegahan infeksi dengue) dikumpulkan dengan kuesioner, dan dianalisis menggunakan analisis multilevel. Temuan dalam penelitian ini adalah perilaku pencegahan infeksi dengue secara signifikan dipengaruhi oleh persepsi ancaman (b= 1.56; CI (95%) = 0.77 - 2.34; p= <0.001) dan modal sosial pada tingkat kecamatan memiliki pengaruh kontekstual terhadap perilaku pencegahan infeksi dengue (ICC 10.91%). Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa persepsi ancaman sebagai salah satu faktor individu dan modal sosial sebagai faktor sosial berpengaruh terhadap perilaku pencegahan infeksi dengue. Dengue is one of major problems in Indonesian public health. Various efforts to prevent and control this disease have been carried out in a long time, but the number of cases and the case fatality rate tends to increase. In addition to individual factors, social factors are also considered to have an important role in efforts to prevent and control dengue. This cross sectional study conducted in 8 sub-districts in Sukoharjo Regency, Central Java in 2018 aims to analyze the effect of perceived threat as individual factor and the contextual effect of social capital on the dengue preventive behavior. A total of 200 subjects were selected by multistage random sampling. Data for both independent (Perceived threat and social capital) and dependent variable (dengue preventive behavior) were collected by questionnaire, and analyzed with multilevel analysis. This study found that dengue preventive behavior was significantly affected by perceived threat (b = 1.56; CI (95%) = 0.77 - 2.34; p = <0.001) and the sub-district level social capital had a contextual effect on dengue preventive behavior (ICC 10.91%). Based on these findings, we concluded that perceived threat as an individual factor and social capital as a social factor affected dengue preventive behavior
The Correlation of Families Role and the Quality of Life (QOL) of Diabetes Mellitus Patients
Diabetes Mellitus is a disease that not only requires treatment but also lifestyle changes, so that often patients tend to despair with a long therapy program that will have an impact on the quality of life of patients. This study aimed to determine the correlation of family roles and the quality of life (QOL) of patients with Diabetes Mellitus. The design of this study was cross sectional analytic type. The population was all patients with diabetes mellitus and family on May-July 2018 at Dr Wahidin Sudiro Husodo General Hospital in Mojokerto as many as 96 people. The sample was 57 respondents taken by purposive sampling. The independent variable was family roles. The dependent variable was the quality of life. The instrument used a questionnaire of family roles and the quality of life. The data analysis used the Spearman statistical test. The results showed that 32 respondents (56.7%) or almost half of the respondents had enough family roles, almost all of the respondents or 38 respondents (66.7%) had a high quality of life of, and the results of p <α = 0.05 was 0.046 <0.05. There was a correlation between the role of family and the quality of life of patient with diabetes mellitus. The role of a good family can improve the quality of life of patients with Diabetes Mellitus. The better the role of the family, the higher the level of quality of life of the sufferer. Therefore the family can play a role in improving the quality of life Diabetes Mellitus sufferers
Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Merokok Anggota Club Motor PSFRB (Putra Sogok Family Racing Blitar)
Perilaku merokok mempunyai dampak yang negatif bagi perokok aktif, perokok pasif dan lingkungan. Bahan yang terkandung dalam rokok merupakan zat yang berbahaya bagi kesehatan. Berbagai faktor mempengaruhi peningkatan prevalensi perokok. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan sikap dan perilaku merokok anggota club motor PSFRB (Putra Sogok Family Racing Blitar). Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional. Jumlah populasi sebanyak 25 dengan tekhnik purposive sampling dan didapatkan 16 sampel. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 23 April–7 Mei 2017 dibengkel Putra Sogok Blitar. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner sikap dan perilaku terhadap merokok. Analisis data menggunakan uji Spearman Rho dan Kruskal Wallis dan Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara perilaku merokok dengan usia (p=0,004) dan sikap merokok dengan informasi (p=0,003), sedangkan pendidikan dan informasi tidak berhubungan dengan perilaku merokok, usia dan pendidikan tidak berhubungan dengan sikap merokok. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada tenaga kesehatan dalam melakukan intervensi yang tepat sesuai sasaran
Efektifitas Metode Double D terhadap Depressi Post Partum pada Ibu Nifas Fase Letting Go di Kelurahan Wonokromo Surabaya
Setiap ibu melahirkan beresiko terjadinya depresi post partum. Depresi post partum didefinisikan sebagai depressi non psikotik yang berupa gangguan mood pada pasca persalinan yang berlangsung hingga satu tahun lamanya (Almond, 2009; Apter, Devouche, Gratier, Valente, & Nestour, 2012). Di negara Amerika depresi post partum mencapai 10-20 % sedangkan di negara berkembang mencapai > 20 %. Depressi post partum berdampak pada status sosial ibu, gangguan kepercayaan diri bahkan berkeinginan untuk bunuh diri serta terganggunya perkembangan anak (Hansotte, Payne, & Babich, 2017). Studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Maret 2018 di kelurahan Wonokoromo Surabaya didapatkan 45 % ibu pasca melahirkan mengalami depresi post partum pada level ringan dan sedang. Adapun tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektifitas metode double D ( Dzikir dan doa ) terhadap penurunan tingkat depresi post partum fase letting go pada ibu post partum hari ke 7. Desain Penelitian ini menggunakan analitik kuantitaif quasi eksperimen dengan instrument kuesioner EDPS ( Edinburgh Depresi Post partum Scale). Sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan menetapkan kriteria inklusi yang berjumlah 84 responden dengan pembagian 42 responden sebagai kelompok kontrol dan 42 responden sebagai kelompok perlakuan. Uji analitik yang digunakan adalah mann whitney dengan nilai p< 0.005. Hasil uji analisis didapatkan p = 0.001 yang berarti efektif  metode double D ( Doa dan Dzikir ) terhadap penurunan tingkat depressi post partum pada ibu nifas fase letting go ( hari ke 7 ). Kesimpulan : Metode double D efektif menurunkan depressi post partum pad ibu post partum fase letting go Every mother giving birth is at risk of post partum depression. Post partum depression is defined as non psychotic depression in the form of mood disorders in postpartum that lasts up to one year (Almond, 2009; Apter, Devouche, Gratier, Valente, & Nestour, 2012). In America, post partum depression reaches 10-20%, while in developing countries it reaches> 20%. Post partum depression affects the mother's social status, self-esteem, and even suicidal ideation and disruption of child development (Hansotte, Payne, & Babich, 2017). A preliminary study conducted in March 2018 in the Wonokoromo Surabaya village found that 45% of post-partum mothers experience post partum depression at mild and moderate levels. The purpose of this study was to determine the effectiveness of the double D method (dhikr and prayer) to reduce levels of depression post partum letting go phase in post partum mothers day 7. Design This study used a quasi-quantitative analytic analytic questionnaire with the EDPS questionnaire instrument (Edinburgh Depression Post Partum Scale ). The sampling used was purposive sampling by establishing inclusion criteria totaling 84 respondents with the division of 42 respondents as the control group and 42 respondents as the treatment group. The analytical test used was Mann Whitney with a p value <0.005. The analysis test results obtained p = 0.001 which means effective double D method (Prayer and Dhikr) against decreasing the level of post partum depression in the postpartum mother letting go phase (day 7). Conclusion: The double D method is effective in reducing post partum depression in post partum letting go mothers
Aromaterapi Lavender dalam Upaya menurunkan Nausea dan Vomiting Pasien Kanker Payudara yang Menjalani Kemoterapi di RSUD Dr. Soetomo Surabaya
Kanker payudara merupakan jenis kanker yang umum terjadi wanita. umumnya pasien yang menjalani kemoterapi mengalami gejala akibat proses penyakit atau efek samping pengobatan seperti nausea dan vomiting. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh aromaterapi lavender terhadap nausea dan vomiting pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Metode: penelitian ini adalah penelitian true experimental dengan desain randomized pre-post test with control group. Sampel penelitian melibatkan pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi one day care di RSUD dr. Soetomo Surabaya. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok aromaterapi (n = 20) dan kelompok kontrol (n = 20). Aromaterapi lavender dilakukan mandiri oleh pasien dirumah setiap dua kali sehari selama tiga minggu berturut-turut (21 hari). Instrumen mengukur nausea dan vomiting menggunakan Rhodes Index Nausea, Vomiting and Retching. Data dianalisis menggunakan uji pair t test dan independent t test. Hasil: Skor nyeri pre kelompok aromaterapi 17.60 ± 3,05 dan post 8,40 ± 4,74 (p value <0,001). Independent t test menunjukkan nilai p value 0,001 (< 0,05). Kesimpulan: studi ini menunjukkan aromaterapi lavender inhalasi yang diterapkan secara berkesinambungan selama tiga minggu berturut-turut mampu menurunkan nausea dan vomiting pasien kanker payudara yang menjalani kemoterap Background: Breast cancer is the most common type of cancer suffered by women. Cancer patients generally experience side effects of chemotherapy such as nausea and vomiting. Aim : The purpose of this study was to determine the effect of aromatherapy on nausea and vomiting of breast cancer patients undergoing chemotherapy. Method: this study is a true experimental study with a randomized pre-post-test design with a control group. The study sample was breast cancer patients with one day care chemotherapy at RSUD dr. Soetomo Surabaya. The sample was divided into 2 groups, the aromatherapy group (n = 20) and the control group (n = 20) collected consecutively in August to September 2019. Inhalation lavender aromatherapy is performed independently by patients at home every 2 times a day for 3 consecutive weeks (21 days). The instrument measures nausea and vomiting using the Rhodes Index Nausea, Vomiting and restcing. data analysis using paired t test. Results: The aromatherapy group had a mean difference of pre-post test -9.20, higher than the control group 0.30. Paired t test showed that there were significant differences in mean pre and post test in the aromatherapy group with p value <0.001 compared to the control group p 0.741 (> 0.05). Conclusion: lavender aromatherapy inhaled continuously for three consecutive weeks can reduce the nausea and vomiting of breast cancer patients undergoing chemotherap
Efektivitas Terapi Tertawa tehadap Insomnia dan Tekanan Darah pada Lansia
Menua bukanlah suatu penyakit melainkan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi stressor dari dalam maupun dari luar tubuh. Masalah-masalah yang terjadi pada lansia diantaranya mudah jatuh, mudah lelah, gangguan kardiovaskuler, nyeri atau ketidaknyamanan, gangguan eliminasi, gangguan ketajaman pengelihatan, gangguan pendengaran, gangguan tidur, mudah gatal. Insomnia merupakan gangguan tidur yang sering ditemukan pada lansia yang dapat menurunkan kualitas hidup lansia. Lansia yang mengalami insomnia cenderung terjadi peningkatan tekanan darah. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan untuk mengatasi insomnia dan peningkatan tekanan darah pada lansia yang dapat dilakukan oleh lansia secara mandiri ataupun berkelompok yaitu dengan non farmakologi salah satunya adalah terapi tertawa. Tujuan menganalisis pengaruh terapi tertawa terhadap insomnia dan tekanan darah pada lansia di Panti Wredha Santo Yoseph Kediri. Desain penelitian ini mengunakan Quasi Eksperimental dengan menggunakan metode one group pre-test post-test design. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 14 lansia yang diambil secara kuota sampling dari 28 lansia yang ada. Penelitian dilaksanakan pada bulan juni-juli 2019. Pengumpulan data dengan mengukur insomnia dan tekanan darah sebelum dilakukan terapi tertawa. Analisis data mengunakan uji wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh terapi tertawa dengan insomnia berdasarkan uji wilcoxon (p=0.002), tidak ada pengaruh terapi tertawa dengan tekanan darah pada lansia berdasarkan uji wilcoxon (p=0.190). Terapi tertawa dapat digunakan sebagai penatalaksaan secara non faramkologi tindakan mandiri perawat dalam mengurangi insomnia yang terjadi pada lansia. Tekanan darah pada lansia tidak terdapat perubahan dengan terapi tertawa hal ini dapat dikarenakan perubahan fisiologi lansia salah satunya adalah fungsi kardiovaskuler. Aging is a natural process and is not a disease that can result in reduced endurance in dealing with stressors from within and from outside the body. Many problems that can occur in the elderly include fatigue, impaired balance that makes the elderly easy to fall, disorders of the cardiovascular system, pain or discomfort, disturbances in elimination of frequent urination or unable to hold urine, impaired vision, hearing, resting disorders and sleep, and itch easily. Insomnia is a sleep disorder or problem that is often found in the elderly which can reduce the quality of life of the elderly. Elderly people who experience insomnia tend to increase blood pressure. Management that can be done to overcome insomnia and increased blood pressure in the elderly is done independently or in a group that is by means of nonpharmacology for example is laughter therapy. The purpose of this study was to analyze the effect of laughter therapy on insomnia and blood pressure in the elderly at the St. Yoseph Kediri Nursing Home. The design uses Quasi Experimental with one group pre-test post-test design method. The samples of this study were 14 elderly taken by sampling quota from 28 existing elderly. The study was conducted in June until July 2019. Collection data by measuring insomnia and blood pressure (BP) before laughing therapy. Analysis data using Wilcoxon test. The results showed there was an effect of laughing therapy with insomnia based on the Wilcoxon test (p = 0.002) and there was no effect of laughing therapy with blood pressure in the elderly based on the Wilcoxon test (p = 0.190). Laughter therapy can be used as a non-faramchologic treatment of nurses' independent actions in reducing insomnia that occurs in the elderly. Blood pressure in the elderly there is no change with laughter therapy this can be due to changes in the physiology of the elderly one of which is cardiovascular function