Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery)
Not a member yet
604 research outputs found
Sort by
Hubungan Sumber Informasi Dengan Keputusan Ibu Menyusui Memilih Kontrasepsi Mal di Desa Aek Nabara Kabupaten Padang Lawas Tahun 2018
Pengetahuan yang rendah tentang kontrasepsi menyebabkan PUStakut menggunakan alat kontrasepsi atau menunjukkan sikap yang negatif terhadap kontrasepsi. Salah satunya adalah tentang MAL.Alat kontrasepsi alami Metode Amenorhea Laktasi (MAL) sangat berpengaruh dengan minat  ibu nifas untuk menyusui bayinya selama 6 bulan tanpa makanan tambahan apapun, serta diberikan secara berkala pada bayinya. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan sumber informasi dengan keputusan ibu menyusui memilih kontrasepsi MAL di Desa Aek Nabara Kabupaten Padang Lawas.Penelitian ini menggunakan survei analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi berjumlah 38 orang, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total population sehingga sampel dalam penilitian ini sebanyak 38 orang. Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,008 (< 0,05).dari penelitian ini menunjukkan ada hubungan sumber informasi dengan keputusan ibu menyusui memilih kontrasepsi MAL di Desa Aek Nabara Kabupaten Padang Lawas tahun 2018. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi ibu menyusui yang menggunakan MAL dan menyadari betapa pentingnya menggunakan alat kontrasepsi dan keputusan memilih metode amenorhea lsktasi (MAL), supaya minat ibu-ibu lain menggunakan metode amenorhea laktasi (MAL) aksemakin meningkat. Low knowledge about contraception makes childbearing age couples afraid to use contraception or show a negative attitude toward contraception. One of them is about Lactation Amenorrhea Method (LAM). Natural contraceptives regarding the Lactation Amenorrhea Method is very influential with the interest of the postpartum to breastfeed her baby for 6 months without any additional food, and is given regularly to her baby. The purpose of this study was to determine the relationship of information sources with breastfeeding mothers decision to choose MAL contraceptive in Aek Nabara Village, Padang Lawas Regency. This research uses analytical survey with Cross Sectional approach. The population is 38 people, with sampling technique using total population so that the sample in this research is 38 people. Statistic test results obtained p value = 0.008 (<0.05). of this study indicates that there is a correlation between information sources with the decision of breastfeeding mother to choose MAL contraception in Aek Nabara Village Padang Lawas Regency 2018 Expected to be a source of information for breastfeeding mother using MAL how important to use contraception and decision to choose amenorhea method (MAL) as one of the contraceptives, so that the mother's interest to use lactation amenorrhea method (MAL) will increase
Upaya Keluarga dalam Membantu Klien Diabetes menjalankan Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2
Keluarga merupakan perantara yang efektif dan mudah untuk melaksanakan upaya kesehatan. Upaya yang dapat dilakukan keluarga penderita diabetes antara lain melakukan perencanaan makan, perencanaan olahraga, pengaturan obat dan edukasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya keluarga dalam membantu klien diabetes menjalankan pengelolahan diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga pasien diabetes melitus yang menjalankan pengobatan di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar, dengan besar sampel 34 orang yang diambil menggunakan teknik accidental sampling. Hasil penelitian upaya keluarga dalam membantu klien diabetes menjalankan pengelolaan diabetes mellitus tipe 2 menunjukan bahwa 73,5% kategori baik, 23,5% kategori cukup dan 2,9% kategori kurang. Upaya yang selalu dilakukan keluarga pasien diabetes adalah mengatur ketepatan obat sedangkan upaya yang kurang dilakukan adalah upaya keluarga dalam mengatur olahraga. Hal tersebut berkaitan dengan budaya kepercayaan setempat yang mempercayai bahwa orang sakit tidak boleh berolahraga. Penyuluhan dan tempat senam kaki diabetes perlu diadakan sebagai bentuk sarana bagi keluarga dalam meningkatkan upaya klien menjalankan pengaturan olahraga
Perbedaan Ansietas pada Pasien Hemodialisa Berdasarkan Perspektif Gender
Pasien yang menjalani terapi hemodialisa selama hidupnya akan bergantung dengan alat dializzer, prosedur hemodialisa harus dilakukan secara rutin dan berkelanjutan dengan frekuensi 2-3 kali dalam satu minggu. Profil data menunjukkan bahwa gagal ginjal kronis diIndonesia sedikit lebih banyak menyerang laki-laki daripada perempuan, individu yang mengalami gagal ginjal kronis dan sedang menjalani proses hemodialisa sangat berpotensi terhadap masalah gangguan emosional. Ansietas merupakan gangguan utama yang dapat timbul akibat prosedur hemodialisa, seseorang menjalani hemodialisa akan memiliki kekhawatiran, ketakutan, dan ketidakpastian akibat dari persepsi negatifnya.Peneliti telah mengidentifikasi perbedaan ansietas pasien hemodialisa berdasar perspektif gender melalui uji Kruskalwallis. Hasil menunjukkan bahwa didapatkan p-value sebesar P = 0.488, hal ini memiliki arti bahwa tidak ada perbedaan ansietas yang dialami baik oleh responden laki-laki maupun responden perempuan. Kemunculan ansietas secara umum pada pasien hemodialisa diakibatkan karena berbagai faktor seperti masalah finansial yang harus didukung dengan pemanfaatan asuransi kesehatan, tingkat pemahaman terhadap penyakit dan prosedur terapi, dan riwayat menjalani prosedur terap
Hubungan Tingkat Kecacatan dan Lama Menderita Kusta dengan Depresi Penderita dan Mantan Penderita Kusta
Sifat penyakit yang kronis dan kecacatan yang ditimbulkan dari penyakit kusta dapat mengganggu penampilan dan fungsi tubuh penderitanya, ditambah persepsi yang negatif dari masyarakat menimbulkan dampak negatif dalam kesehatan jiwa. Penderita akan merasa rendah diri, tekanan batin dan merasa tidak berguna baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat, kondisi ini yang dapat mencetuskan depresi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecacatan dan lama menderita dengan depresi penderita dan mantan penderita kusta di Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 26 responden diambil dengan teknik purposive sampling. Metode pengambilan data menggunakan kuesioner Zung Self-Rating Depression Scale (ZSDS) dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis tingkat kecacatan dan lama menderita dengan depresi sama-sama didapatkan nilai p<0,05 yang berarti ada hubungan antara tingkat kecacatan dan lama menderita dengan depresi penderita dan mantan penderita kusta. Depresi dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya pendidikan, jenis kelamin, status perkawinan, dukungan, pendapatan, dan karakteristik penyakit sendiri. Peningkatan ketahanan terhadap depresi melalui self efficacy sangat diperlukan untuk meningkatkatkan kepercayaan diri penderita dan mantan penderita dalam mengatasi masalahnya. The chronic nature of disease and disability resulting from leprosy can disrupt the appearance and function of the sufferer's body, and the negative perception of the community has a negative impact on mental health. Patients will feel inferior, inner pressure and feel useless in both the family and community environment, this condition can trigger depression. This study aims to determine the relationship between the level of disability and length of suffering with depression sufferers and former leprosy sufferers in Ponggok District Blitar. This type of research is observational analytic with cross sectional approach. The sample used by 26 respondents was taken by purposive sampling technique. The data collection method uses the Zung Self-Rating Depression Scale (ZSDS) questionnaire and analyzed using the Spearman correlation test. The results of the analysis of the level of disability and duration of suffering with depression both obtained p values <0.05 which means there is a relationship between the level of disability and duration of suffering with depression sufferers and former leprosy sufferers. Depression is influenced by many factors including education, gender, marital status, support, income, and the characteristics of the disease itself. Increased resistance to depression through self-efficacy is needed to increase the confidence of sufferers and former sufferers in overcoming their problems
Peningkatan Pemahaman Mahasiswa Blok Keperawatan Jiwa Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) Pada Materi Terapi Modalitas Keperawatan Jiwa
Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis yaitu dengan menerapkan model pembelajaran yang dipandang akomodatif bagi peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa maupun aktivitas belajar, yaitu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif. Tipe-tipe pembelajaran kooperatif diantaranya adalah Metode STAD (Student Teams- Achievement Divisions). Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Se- mester III Prodi S1 Keperawatan FIKES Universitas Muhammadiyah Malang, Kelas A. Kondisi lain yang terikat bahwa latar belakang mereka cukup beragam,mereka terdiri dari beragam suku, tempat asal, sehingga secara keseluruhan Semester III relatif cukup heterogen. Pengamatan dari ceklist merupakan data utama yang mengamati aspek: bekerjasama, menyampaikan gagasan, bertanya, memperhatikan pertanyaan teman, menanggapi, mampu mngerti secara mendalam tentang materi, berperan aktif dalam kelompok, dapat menjadi penengah, menjelaskan, menarik kesimpulan materi. Penelitian tindakan memiliki 4 tahapan yaitu: planning, doing action, observation dan reflection, yang berjalan melalui 2 siklus/ putaran (setiap putaran dilakukan 2 kali pertemuan). Tahap terakhir dari proses ini adalah: Reflection. Hasil dari observasi diorganisir dan dianalisis. Tahap ini dapat digunakan oleh instruktur untuk memberikan umpan balik berdasar hasil pengamatan. Berikutnya didiskusikan tindakan yang sudah sesuai untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa di mata kuliah Keperawatan Kesehatan Jiwa.  Many ways can improve to critical thinking skills of student are applying learning models that are considered accommodative for improving stu- dents’ critical thinking skills and learning activities by applying coopera- tive learning models. The types of cooperative learning include the STAD Method (Student Teams-Achievement Divisions). This action research was conducted in one class of third semester in Bachelor Graduate Nursing Program Study FIKES at the University of Muhammadiyah Malang, espe- cially Class A. Other conditions that were bound were that their back- grounds were quite diverse, they consisted of various tribes, places of ori- gin, so that overall Semester III was relatively heterogeneous. Data col- lected by observation sheets, among others, were observed: cooperation in groups, gave ideas, asked questions, pay attention to friend questions, gave responses, ability to understand material, participation in groups, ability to mediate if there are groups who misunderstand, ability to ex- plain and conclude material discussed. The action through 4 stages, are respectively: planning, action, observation, and reflection, carried out in two cycles (each cycle carried out twice meeting). The final stage of this process is Reflection. The results obtained in the observation phase are collected and analyzed. At this stage, the instructor can reflect on the results of observations and discussions to examine whether the actions taken can improve students’ understanding of the Mental Health Nursing course. The results of data analysts carried out in stages will be used as a reference for planning the next cycle. The results showed a decrease in misunderstanding, there were 3 people (11.11%) out of 27 students who did not reach comprehension of competency, because the accumulation of values  <80. There was an increase in the passing of the competency test to 19 people (88.89%) with the above scores 80.00. It is expected that this STAD method can be applied to other subjects so that overall competency test graduation increases
The Effectiveness of Playing Ball Stimulation to the Gross Motor Development of 24-36 months Children
Various research results reveal that early age is a golden period for the development of children in which 50% of the intelligence development occurs at the age of 0-4 years and 30% in the following 8 years. Early childhood education also needs to be considered since education plays an important role in the process of growth and development of the children. The purpose of this study was to determine the effectiveness of playing ball stimulation to the gross motor development in children aged 24-36 months.This study used a pre-experimental design with posttest only control group design. The population was 150 children in all Posyandu in the working areas of the PKM Kanigoro. The sampling technique used purposive sampling. The independent variable was playing ball stimulation, while the dependent variable was gross motor development. The instrument used KPSP.The results of Wilcoxon Signed Rank statistical test showed p = 0.005 (α = 0.05), indicated that playing ball stimulation could improve gross motor skills development of children. It is expected that the parents of the respondents more active in asking questions, watching carefully on how to provide stimulation to the children, especially in stimulating ball games, so that it could help them in increasing their children gross motor skills. The results of this study can also be used as an input for health workers to further improvement of counseling during posyandu activities, so that the gross motor development of children continues to increase well
Peran Petugas Kesehatan Dalam Upaya Pencegahan Kanker Serviks Melalui Peningkatan Cakupan Pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) di Kelurahan Campurejo Kecamatan Kota Kediri
Pada saat ini tenaga kesehatan mempunyai tugas besar dalam peranannya terhadap penanggulangan kanker cerviks. Salah satu masalah utama kesehatan reproduksi perempuan di Indonesia adalah kanker serviks. Angka kejadian di seluruh dunia mencapai 490.000 kasus kanker cerviks dan mengakibatkan 240.000 kematian tiap tahunnya, dan 80% dari angka itu yaitu sekitar 392.000 terjadi di wilayah Asia (Soebachman, 2011) Menurut data dari Indonesia (Kemenkes RI) pada tahun 2013, kejadian kanker serviks di Indonesia sebesar 0,8%. Provinsi yang memiliki estimasi jumlah penderita kanker serviks terbesar adalah Provinsi Jawa Timur dengan estimasi 21.313 kasus (Kemenkes RI, 2015). Program IVA akan mengurangi risiko terkena kanker serviks, dimana ibu-ibu dapat melakukan  pemeriksaan IVA sebagai upaya pencegahan sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan pemahaman tenaga kesehatan di wilayah Kota Kediri terhadap masalah kanker serviks, serta mengidentifikasi upaya-upaya apa saja yang dilakukan tenaga kesehatan dalam melakukan pencegahan terhadap kanker serviks melalui peningkatan cakupan pemeriksaan IVA di Kelurahan Campurejo Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis kualitatif interaktif (Milles dan Haberman). Dari hasil penelitian dapat dirangkumkan beberapa faktor yang menyebabkan keberadaan kanker serviks melalui pemahaman petugas kesehatan diantaranya yaitu: kebersihan organ intim, gonta-ganti pasangan, faktor genetik,hubungan seks di luar nikah,pernikahan dini. Peran dan strategi tenaga kesehatan dalan pencegahan kanker serviks yaitu melaui Promosi penyuluhan, membentuk tim, sosialisasi, lintas sektor, model kampung IVA, pemeriksaan gratis
Intervensi dukungan Kelompok Sebaya terhadap Kemampuan Menyelesaikan Masalah pada Remaja
Masalah remaja cenderung sulit untuk diatasi oleh remaja sendiri, hal ini terjadi karena remaja belum terbiasa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa meminta bantuan orang lain. Ketika remaja dapat menghadapi masalah tersebut dengan baik, maka akan menjadi modal dasar dalam menghadapi masalah selanjutnya sampai dewasa. Kemampuan remaja dalam menghadapi masalah inilah disebut dengan Adversity Quotient. Salah satu faktor pembentuk kemampuan menyelesaikan masalah (Adversity Quotient) yakni motivasi melalui kelompok sebaya (peer group). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh peer support group therapy terhadap Adversity Quotient pada remaja usia menengah. Desain penelitian adalah pre experiment design dengan pendekatan one-group pre-post test design dengan populasi sebanyak 488 remaja usia menengah, dan jumlah sampel yang dijadikan penelitian sebanyak 32 siswa yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon dengan α=0,05. Pada pretest sebesar 46,9% memiliki Adversity Quotient tingkatan moderate dan 50% pada parameter origin and ownership masuk dalam tingkatan moderate high. Pada posttest sebesar 56,2% memiliki Adversity Quotient tingkatan moderate high dan 62,5% pada parameter control, origin and ownership masuk dalam tingkatan moderate high. Hasil uji wilcoxon (Ï=0,000<α=0,05) menunjukkan bahwa peer support group therapy berpengaruh terhadap parameter dan tingkatan Adversity Quotient pada remaja menengah. Tiga pendekatan dasar ekspresi perasaan, dukungan sosial, dan keterampilan kognitif yang dapat memberikan dorongan untuk mempelajari keterampilan koping dan merubah perilaku kearah yang konstruktif. Remaja dapat melakukan dukungan kelompok sebaya untuk memberikan dukungan agar dapat meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap situasi kehidupan, dan mengajarkan keterampilan penyelesaian masalah
Hubungan Olahraga, Kopi dan Merokok dengan Kualitas Hidup Wanita Menopause yang Tinggal Di Wilayah Pedesaan
Menopause adalah berhentinya siklus menstruasi dan akhir tahun reproduksi wanita. Menopause alami dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, dan sosiodemografi. Ketidakaktifan fisik tidak hanya menempatkan kesehatan wanita pada risiko tetapi juga meningkatkan masalah menopause. Faktor gaya hidup seperti merokok dan minum kopi telah diamati terkait dengan waktu awal menopause. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan crossectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wanita menopause di wilayah Desa Bangkok Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri. Dengan teknik purposive sampling, sampel penelitian yang didapatkan adalah 50 wanita menopause yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel independen dalam penelitian ini adalah olahraga, kopi dan merokok. Sedangkan variabel dependennya adalah kualitas hidup wanita menopause. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner kualitas hidup menopause Hilditch & Bener. Penelitian dilakukan di Desa Bangkok Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri pada bulan Juni-Juli 2019. Data diperoleh secara langsung (data primer). Uji Chi-square digunakan untuk memperkirakan hubungan statistik yang signifikan. Nilai P yang signifikan akan dipertimbangkan ketika P kurang dari 0,05. Hasil penelitian adalah terdapat hubungan yang signifikan antara olahraga dengan kualitas hidup wanita menopause yang tinggal di wilayah pedesaan, dengan nilai p-value 0,016. Sedangkan untuk hubungan kopi dan merokok dengan kualitas hidup wanita menopause yang tinggal di wilayah pedesaan tidak signifikan, dengan nilai p-value masing-masing adalah 0,505 dan 0,804. Responden yang rutin melakukan olahraga memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Olahraga adalah sesuatu yang lebih dari sekadar gaya hidup. Olahraga merupakan bentuk terapi bagi wanita menopause yang dapat membuat hidup mereka lebih berkualitas. Natural menopause is influenced by genetic, environment, and sociodemographic factors. Physical inactivity not only puts women's health at risk but also increases the problem of menopause. Lifestyle factors such as smoking and drinking coffee have been observed to be related to the onset of menopause. This study aims to identify the correlation of exercise, coffee and smoking with the quality of life of menopausal women living in rural areas. The design of this research is analytic descriptive with cross sectional approach. The population in this study were all menopausal women in Bangkok Village, Gurah District, Kediri Regency. With a purposive sampling technique, 50 research samples were obtained. The independent variables in this study are exercise, coffee and smoking. The dependent variable is the quality of life of menopausal women. The research instrument was used the Hilditch & Bener menopause quality of life questionnaire. The study was conducted in Bangkok Village, Gurah District, Kediri Regency in June-July 2019. Chi-square test was used to estimate a statistically significant correlation. Significant P values will be considered when P is less than 0.05. The results of the study show that there is a significant correlation between exercise with the quality of life of menopausal women living in rural areas, with a p-value of 0.016. The correlation of coffee and smoking with the quality of life of menopausal women living in rural areas is not significant, with p-values of 0.505 and 0.804. The results showed that respondents who routinely do exercise have a better quality of life. None of them had severe complaints about the symptoms of menopause experienced, either in the vasomotor, psychosocial, physical, or sexual domains. Therefore, regular exercise is highly recommended for menopausal women to improve their quality of life
Pengaruh Durasi Terdiagnosa Kanker terhadap Sub Skala Primer Strategi Koping Pasien Kanker
Diagnosa penyakit kanker dipersepsikan oleh sebagian besar orang sebagai penyakit yang berbahaya dan mematikan. Respon penolakan, cemas, depresi dan ketakutan menjadi dominan, sehingga memengaruhi individu dalam menentukan strategi koping untuk mengatasi masalah pasca terdiagnosa kanker. Tujuan penelitian membuktikan adanya pengaruh durasi terdiagnosa kanker terhadap sub skala primer strategi koping pasien kanker. Desain yang digunakan cross sectional. Populasinya adalah pasien kanker dengan kesadaran composmentis di Yayasan Kanker Indonesia Cabang Jawa Timur yang berjumlah 32 orang, diambil dengan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan yaitu Coping Strategies Inventory Short Form (CSI-S). Uji statistik dengan regresi ordinal dilakukan pada variabel durasi terdiagnosa kanker terhadap 8 sub skala primer dan didapatkan 6 sub skala memiliki p < 0.05 yaitu sub skala pemecahan masalah, restrukturisasi kognitif, ekspresi emosi, penghindaran masalah, pikiran angan, dan self criticsm, sedangkan sub skala kontak sosial dan isolasi sosial tidak memiliki hasil yang signifikan p > 0.05. Durasi terdiagnosa kanker < 1 tahun lebih dominan terhadap strategi koping akibat reaksi penolakan, sedangkan diagnosa kanker > 1 tahun lebih adaptif terhadap sakitnya, sehingga strategi koping yang diambilpun lebih adaptif pula. Durasi terdiagnosa kanker dapat memengaruhi respon psikologis individu yang berdampak terhadap pengambilan keputusan strategi koping terhadap masalah yang dihadapi. Cancer is perceived by most people as a dangerous disease. The anxiety, depression and fear becomes dominant so it affects individuals in determining coping strategies in overcoming post-diagnosed cancer. The aim was to prove the effect of cancer diagnosed duration on primary sub-scale coping strategies in cancer patients. This study used cross sectional design. The population was composmentis cancer patients at Cancer Foundation Indonesia Branch in East Java, Surabaya. The samples were 32 respondents taken by total sampling method. The instrument used the Coping Strategies Inventory Short Form. Statistical tests by ordinal regression was done on variable duration diagnosed with cancer in 8 primary sub-scales and obtained 6 sub-scales having p <0.05, consist of problem solving, cognitive restructuring, emotional expression, problem avoidance, mind thinking, and self criticsm. Sub-scales social contact and social isolation did not have significant results p > 0.05. The duration of cancer diagnosed less than 1 year was more dominant in coping strategies due to rejection reactions, while more than 1 year was more adaptive to the illness situation and coping strategies taken was more adaptive too. The duration of cancer diagnosed can affect the psychological response of an individual that has an impact on decision-making on coping strategies on the problems faced