MANAJEMEN IKM: Jurnal Manajemen Pengembangan Industri Kecil Menengah
Not a member yet
    296 research outputs found

    Sentra Industri Pengrajin Tas Selama Pandemi Covid-19 di Tanggulangin Sidoarjo

    Get PDF
    Industri merupakan kegiatan ekonomi yang dapat membantu kesejahteraan pelaku industri. Industrialisasi merupakan salah satu bentuk pendorong menuju modernisasi yang diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Perubahan pembangunan yang pesat akibat industri selain akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, juga akan berdampak langsung pada kehidupan sosial budaya masyarakat setempat. Sentra industri di Tanggulangin Sidoarjo menjadi pusat kawasan perindustrian yang menampilkan hasil tangan pengrajin pelaku industri. Penelitian ini bertujuan mengkaji kondisi usaha dan perekonomian pelaku industri pengrajin tas di Tanggulangin Sidoarjo selama pandemi Covid-19. Menggunakan metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara kepada 10 responden yang dipilih secara sengaja yang bekerja sebagai pengrajin tas di Tanggulangin Sidoarjo. Data yang terhimpun dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian membuktikan, semenjak masa pandemi, Indonesia mengalami banyak perubahan di berbagai sektor industri dan itu berdampak pada bidang perekonomian. Dengan adanya penyakit menular tersebut, pemerintah mengeluarkan kebijakan dengan membatasi interaksi sosial masyarakat seperti pekerjaan, pendidikan, tempat ibadah, dan lain sebagainya. Hal ini dapat menghambat kebutuhan ekonomi dan membuat sentra industri minim pengunjung. Industri kecil yang bersaing sehat harus bersaing pula dengan kebijakan baru dan penyakit menular ini sehingga pendapatan menurun drastis, maka pelaku industri menghadapi tantangan baru untuk mempertahankan industri kecilnya

    Strategi dan Penyaluran Dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan PT Angkasa Pura II pada UKM Kota Tangerang

    Get PDF
    Pentingnya Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di negara-negara sedang berkembang seringkali lebih dikaitkan dengan upaya pemerintah mengatasi berbagai masalah ekonomi maupun sosial, yaitu mengurangi pengangguran, pengentasan kemiskinan, dan pemerataan pendapatan. Tujuan Kajian ini secara umum mengkaji strategi dan penyaluran dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PT Angkasa Pura (AP) II pada UKM di Kota Tangerang. Kajian menggunakan metode survei dan pengamatan langsung di lapangan dengan metode deskriptif dan analitik dengan alat analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats (SWOT) terbobot. Responden meliputi Deputi Direktur PKBL, Asisten Deputi Perencanaan dan Penyaluran PKBL, Asisten Deputi Pengawasan dan Pelaporan PKBL dan Supervisor. Penelitian ini dilakukan dari November 2015 sampai Maret 2016. Berdasarkan hasil pengamatan dan data yang dikaji diperoleh analisis strategik penyaluran dana program kemitraan yang telah dilakukan dengan matriks Internal-Eksternal (IE), posisi pengembangan penyaluran dana program kemitraan berada pada kotak kuadran II (grow and build). Strategi perusahaan berdasarkan analisis SWOT berbobot difokuskan pada pengembangan mutu dan kapasitas SDM; strategi pengembangan pasar dari produk PKBL; pengembangan jaringan pembinaan UKM dengan pihak lain

    Pengaruh Fungsi Pengayom Pada Induk Koperasi Syariah BMT Terhadap Tingkat Kesehatan Koperasi Syariah (Studi kasus pada INKOPSYAH BMT)

    Get PDF
    Induk Koperasi Syariah Baitul Maal Wa Tamwil (Inkopsyah BMT) yang berperan sebagai APEX (Pengayom) BMT mempunyai fungsi utama yakni sebagai lembaga resmi dalam menangani sistem likuiditas para anggotanya (BMT) dan mempermudah segala urusan transaksi antar lembaga BMT maupun antar anggota BMT yang berlainan, serta membantu setiap anggota agar memiliki tingkat kepastian dan kenyamanan bagi setiap penggunanya. Fungsi tersebut sebagai berikut: (1) Melakukan fungsi penghimpunan simpanan wajib minimum (SWM) atau pooling of funds dan dana padanan (commited facility line), (2) Melakukan fungsi dukungan pendanaan (financial assistance), (3) Melakukan fungsi dukungan teknis (technical assistance), (4) Melakukan fungsi pelaporan (reporting) terhadap koperasi primer syariahnya, serta (5) Melakukan fungsi pengukuran dan pemeringkatan cepat (quick rating). Berdasarkan fungsi tersebut peran Inkopsyah BMT sebagai APEX BMT sangat diperlukan, karena keberhasilan anggota primernya menjadi koperasi yang berkualitas secara tidak langsung memerlukan peran Inkopsyah BMT sebagai pembimbing dan pengayom. Metode penelitian melalui (1) Angket, (2) Interview dan (3) Observasi, serta (4) Dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi pengayom Inkopsyah BMT belum memberikan pengaruh pada tingkat kesehatan anggota primer syariah, perlu dukungan terhadap sistem jaringan nasional yang difasilitasi oleh pemerintah berupa dibangunnya insfrastruktur sistem informasi atas penilaian Kesehatan koperasi primer, sehingga mempercepat proses update informasi dari Inkopsyah BMT menjadi lebih mampu dalam melakukan pengawasan serta pengendalian terhadap para anggotanya

    Strategi Pengembangan Program Wirausaha Baru Di Pondok Pesantren Menggunakan Analytical Network Process

    Get PDF
    Penelitian dilaksanakan untuk menyusun rekomendasi pengembangan Program WUB yang telah dilaksanakan, namun belum memberikan dampak maksimal. Metode analisis yang digunakan berupa Analytical Network Process (ANP). Hasil identifikasi permasalahan selama pelaksanaan program berupa ketidaksesuaian bantuan dengan kebutuhan dan skala ekonomi bisnisnya, juga metode dan materi pelatihan. Berdasarkan hasil analisis, terdapat beberapa prioritas kegiatan yang dapat dilakukan di masa mendatang, yaitu pendampingan, sosialisasi program, lanjutan bantuan alat dan pelatihan/bimbingan teknis, pembentukan Forum Komunikasi Pesantren Binaan Kemenperin serta pameran. Hasil perumusan strategi dengan ANP adalah peningkatan komunikasi pemerintah dengan pesantren dalam penentuan jenis pelatihan maupun spesifikasi alat, pendampingan kepada pesantren, membangun networking dan kolaborasi antar pondok pesantren, merumuskan kembali kurikulum, silabus dan metode pelatihan serta memberikan informasi terkait akses sumber bahan baku, sparepart dan pasar bagi pondok pesantren. Diharapkan program ini dapat mewujudkan Pesantren mandiri dan menjadi kekuatan ekonomi saat santri kembali ke masyaraka

    Evaluasi Bantuan Modal Pengembangan Usaha Mina Pedesaan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan di Kabupaten Bogor (Studi Kasus UKM Penerima Bantuan PUMP-P2HP Tahun 2012-2014)

    Get PDF
    Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) merupakan kegiatan pemberdayaan melalui fasilitasi bantuan pengembangan usaha bagi pengolah dan pemasar hasil perikanan dalam wadah Kelompok Pengolah dan Pemasar (POKLAHSAR). Tujuan penelitian: (1) Mengidentifikasi masalah mekanisme penyaluran, pemanfaatan dan pendampingan dalam program PUMP-P2HP, (2) Mengidentifikasi model bisnis kanvas POKLAHSAR, dan (3) Merumuskan alternatif strategi peningkatan daya saing kelompok UKM penerima Bantuan Langsung Masyarakat PUMP-P2HP di Kabupaten Bogor. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan kuesioner. Metode pengambilan contoh dilakukan secara sensus pada 13 POKLAHSAR. Metode analisis yang digunakan adalah model bisnis kanvas dan analisis SWOT (Strengths, Weakness, Opportunities dan Threats). Berdasarkan model bisnis kanvas, ditemukan unsur paling kuat dimiliki oleh POKLAHSAR adalah value preposition, karena memenuhi kebutuhan pelanggan dalam citarasa produk yang enak dan gurih, mutu bahan baku ikan yang baik dan harga yang ditawarkan cenderung lebih murah. Unsur yang kurang saat ini adalah channel, karena media yang digunakan saat ini hanya promosi dari mulut ke mulut, sehingga pemasaran tidak berkembang. Berdasarkan analisis SWOT diperoleh tujuh rumusan alternatif strategi, yaitu (1) memanfaatkan teknologi informasi untuk pemasaran atau promosi melalui sosial media atau e-commerce, (2) klasterisasi pusat pengolahan sesuai kebutuhan pasar, (3) meningkatkan efisiensi bahan baku, (4) menggunakan peralatan pengolahan secara optimal, (5) meningkatkan dan mempertahankan mutu produk, (6) mengikuti pelatihan manajemen pemasaran dan keuangan, (7) menjalin kerjasama yang baik dengan instansi pemerintah, dan (h) menjadi anggota koperasi perikana

    Analysis of Supply Chain And Value Added of Soybean Commodity In Grobogan Regency

    Get PDF
    Soybean as one of national important food commodities has a central role in national food policy and the fulfillment of community nutrition. Indonesia is the largest soybean market in Asia by importing as much as 67.28% or 1.96 million tons of domestic soybean needs, while the remaining 32.72% is produced through domestic soybean production. The length of the supply chain from producers to consumers causes the selling value of products to fluctuate and tends to decrease. This study aims to analyze: (1) Supply chain performance and the factors influencing the marketing channel choice of soybeans in Grobogan Regency. (2) Activities that add value carried out in the soybean supply chain and the distribution of value added of these actors in Grobogan Regency. This research was conducted in Grobogan Regency, Central Java. Primary data were collected through interview techniques using a questionnaire. The types and number of respondents consisted of 100 soybean farmers, 10 collecting traders and 3 processing industries. Analysis of the description of the soybean supply chain is carried out using the FSCN process framework. Marketing efficiency is measured from marketing margins, farmer\u27s share analysis, profit and cost ratio.The factors that determine the choice of farmers to the supply chain used, the quantitative approach to the multinomial logit regression model, and the added value analysis used is the Hayami method. Viewed from the marketing margin, farmer\u27s share, also the profit and cost ratio, channel four is more efficient than other channels.There are several factors that influence the decision making of soybean farmers to sell soybeans. Some of the factors are the knowledge that the farmers have, number of sales (harvest) and selling prices. All secondary soy products produced will be able to increase the income of businesses, including soybean farmer

    Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Ekuitas Merek Gerai Buah Durian Di Kota Medan (Studi Kasus: CV Si Bolang Durian)

    Get PDF
    CV Si Bolang Durian merupakan sebuah usaha gerai durian di Kota Medan yang sedang berkembang. Dalam meningkatkan daya saing perusahaan, CV Si Bolang Durian berupaya mencari perencanaan pemasaran yang lebih ideal. Penurunan penjualan yang terjadi pada tiap tahunnya menunjukkan angka yang cukup signifikan. Hal tersebut membuktikan bahwa perencanaan pemasaran CV Si Bolang Durian saat ini kurang ideal untuk bersaing dengan kompetitornya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi ekuitas merek dari gerai buah durian Si Bolang Durian (CV Si Bolang Durian). Analisis Structural Equation Model (SEM) dilakukan untuk mengetahui faktor-faktro apa saja yang mempengaruhi ekuitas merek dari gerai Si Bolang Durian. Selanjutnya menetukan strategi pemasaran yang tepat untuk meningktakan ekuitas merek dari hasil yang telah di dapat. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, seluruh variabel yang ada tidak semua memiliki t-hitung diatas 1,96. Variabel brand awareness, brand association dan brand loyalty (3,63, 4,66 dan 3,22) mengindikasikan bahwa brand equity dipengaruhi secara langsung oleh ketiga variabel tersebut. Sedangkan brand perceived quality yang memiliki t-hitung dibawah 1,96, yaitu 0,26 mengindikasikan bahwa brand equity tidak dipengaruhi secara langsung oleh variabel tersebut. Hal tersebut mengindikasikan bahwa untuk meningkat ekuitas mereknya, Si Bolang Durian harus meningkat ataupun membangun staretegi pemasaran yang tepat dari sisi brand awareness, brand association dan brand loyalty

    Strategi Keberlanjutan Pemanfaatan Biogas Industri Tapioka di PD XYZ

    Get PDF
    Limbah industri tapioka berasal dari proses pencucian dan proses ekstraksi yang kaya akan kandungan bahan organik seperti pati, serat protein, dan gula. Komponen limbah ini merupakan bagian sisa pati yang tidak terekstrak dan komponen selain pati yang terlarut dalam air. Salah satu upaya pemanfaatan gas hasil industri tapioka dapat digunakan sebagai sumber bioenergi. Pemanfaatan teknologi anaerobik dengan memberikan perlakuan tertentu terhadap limbah cair tapioka dapat meningkatkan produksi biogas dan kadar gas metan yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi status keberlanjutan biogas, mengetahui faktor eksternal dan internal biogas, dan memformulasi alternatif strategi keberlanjutan untuk menyokong implementasi biogas pada industri tapioka. Penentuan responden dilakukan secara purposive random sampling. Responden berasal dari divisi pemasaran, operasional, administrasi, keuangan, dan pakar pada bidang terkait dengan total 6 responden. Untuk memperoleh strategi terbaik, studi kasus pada perusahaan agroindustri tapioka di PD XYZ, Pesawaran, Lampung, menggabungkan analisis keberlanjutan, analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), dan analisis QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix).  Untuk skala multidimensi, biogas memiliki status “cukup berkelanjutan” dan dengan analisis SWOT dan didapatkan delapan faktor internal dan delapan faktor eksternal. Strategi terbaik ialah menyusun kerangka konseptual terintegrasi dengan melibatkan seluruh stakeholders dalam pengembangan biogas

    Strategi Pengembangan Agribisnis Rumput Laut Gracillaria di Karangantu Serang Banten

    Get PDF
    Pengembangan agribisnis rumput laut meliputi subsistem input (hulu), subsistem budidaya (onfarm), subsistem hilir, dan aspek kelembagaan. Susbsistem hulu terkait dengan input yang berhubungan dengan kegiatan usahatani atau budidaya. Pengembangan rumput laut memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan yang tersebar hampir diseluruh wilayah pesisir Indonesia dengan pemanfaatannya masih 50% dari seluruh potensi areal budidaya yang ada. Tujuan penelitian adalah (1) Identifikasi bentuk pengelolaan usaha budidaya rumput laut di Karangantu Kabupaten Serang Banten, (2) Analisis faktor-faktor yang memengaruhi peningkatan produksi dan pendapatan petani rumput laut di Karangantu Kabupaten Serang Banten, dan (3) Menyusun strategi pengembangan usaha rumput laut berkelanjutan di Karangantu Kabupaten Serang Banten. Metode penelitian deskriptif, diolah dan dianalisis menggunakan strengths, weaknesses, opportunities dan threats (SWOT) dan quantitative strategic planning matrix (QSPM). Hasil penelitian menunjukkan, terdapat tiga strategi paling prioritas dalam pengembangan agribisnis rumput laut di Karangantu, yaitu (1) kebijakan Pemerintah berupa peningkatan insentif bagi petani rumput laut yang dapat diwujudkan dalam bentuk subsidi produksi dan harga yang layak ditingkat petani, (2) adopsi teknologi tepat guna dan inovasi on farm dalam mencegah terjadinya kegagalan produksi rumput laut, berupa jaring pembatas atau alat pembatas antara tambak budidaya rumput laut dengan laut lepas, dan (3) menjalankan kegiatan usahatani secara efektif dan efisien

    Analisis Tekno Ekonomi Industri Kecil untuk Akses ke Lembaga Perbankan (Studi Kasus Pada Perusahaan Kecap Damai di Purwokerto)

    Get PDF
    In 1997 Indonesia experienced an economic crisis which is started with the decrease in value of Rupiah towards the US Dollar. Many industries were closed, but a lot of small and medium scale industries survived and still exist until now. One of them is “Damai” kecap industry in Purwokerto. For most of small and medium scale industries, the limited capital is one of the problems to developing their business. There were several requirements to gain access to banking services, such as current ratio (CR), debt equity ratio (DER) and value of warranty. To establish a kecap industry a working capital of Rp. 62.099.500,- is needed to fulfill a one-month operational cost. Fixed assets require approximately Rp. 211.350.000,- (excluding land), so the total capital needed is Rp. 273.449. 500,-. The marketing analysis shows that the break-even point (BEP) of the kecap industry is 14.625 bottles or approximately Rp. 68.471.671,-, and CR is 165,90%. It means that the kecap industry should be able (liquid) to settle current liabilities from its current assets. The banks ask for a minimum current ratio of 120,00%. DER of this kecap industry is 20,45%, which means that the kecap industry has enough capital to settle its liabilities. The banks ask for maximum DER of 200,00%. In order to enlarge its business, the industry needs to increase its capacity. It means that “Damai” kecap Industry needs an extra credit from bank or kecap industry can cooperate with the third party as investor. An industry needs a lot of time to gain credit from a bank. The “Damai” kecap Industry can obtain extra credit of  Rp. 100.000.000,- from its land and building because their value is more than Rp. 400.000.000,-

    278

    full texts

    296

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MANAJEMEN IKM: Jurnal Manajemen Pengembangan Industri Kecil Menengah
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇