Jurnal Ilmu Ternak
Not a member yet
353 research outputs found
Sort by
Evaluasi Tingkat Keberhasilan Inseminasi Buatan Double Dosis (Jam Ke 2 Dan Ke 8) Terhadap Kualitas Berahi Pada Sapi Persilangan Ongole
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi tingkat keberhasilan IB double dosis terhadap kualitas berahi pada selang waktu IB jam ke 2 dan jam ke 8 pada sapi Peranakan Ongole. Penelitian dilaksanakan di Desa Senggreng, Kabupaten Malang pada Juli-Oktober 2020. Materi yang digunakan sapi betina persilangan Ongole Crossbred sebanyak 25 ekor yang dipilih secara purposive. Semen yang digunakan adalah semen beku dari Limousine jantan produksi Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, yaitu dengan memilih sapi sesuai kriteria dan memiliki kualitas berahi yang baik. Hasil penelitian menunjukkan persentase lendir servik (ada, basah, banyak) NRR1 84,62%, NRR2 76,92%, CR 53,85% dan PR 76,92%. Persentase warna vulva merah yaitu NRR1 90%, NRR2 80%, CR 55,56% dan PR 80%. Persentase suhu >38oC NRR1 93,33%, NRR2 86,67%, CR 53,33% dan PR 66,67%. Indikator pH 8 menunjukkan persentase NRR1 92,86%, NRR2 92,86%, CR 57,14% dan PR 64,29%
ADF, NDF AND HEMICELLULOSA DIGESBILITY IN VITRO IN FERMENTATION LITTERS WITH DIFFERENT RIPENING PERIODS
The study aims to examine the length of chicken litter peram against digestibility Acid Detergent Fiber (ADF), digestibility Neutral Detergent Fiber (NDF) and digestibility hemicellulose in vitro.The research method was conducted by collecting chicken litter from 16 closed house cages, combined and fermented. The study used a Complete Randomized Design pattern in the direction of 4 treatments and 4 replays, the treatment is T0 = littering 0 weeks; T1 = 3 weeks litter ripening; T2 = 6 weeks litter ripening; T3 = 9 weeks litter ripening. The observed parameters are ADF digestbility, NDF digestibility and hemicellulose litter of fermented chickens using Van Soest method. The results showed that the long litter of fermented chickens had an effect on the digestiability value of ADF, NDF digestibility and hemicellulose digestibility. Litter treatment of fermented chickens by ripening increases the digestiability of ADF and hemicellulose litter of chickens while the digestitude of NDF treatment is lower than the treatment without acidification. The conclusion of the study was litter of fermented chickens with a length of 6 weeks, resulting in ADF digestibility of 54.15%, digestibility of NDF by 57.20% and digestibility of hemicellulose by 14.35%
Hubungan konsumsi protein kasar terhadap total protein darah dan kandungan protein susu kambing Peranakan Ettawa (PE)
Tujuan dari penelitian adalah untuk melihat berapa konsumsi protein kasar dari pakan, kadar protein dari darah dan kandungan protein dalam susu serta keeratan hubungan antara ketiganya. Penelitian telah dilakukan pada peternakan Kambing Peranakan Ettawa PT. Boncah Utama Farm pada tanggal 1 November sampai dengan 15 Desember 2020. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan jumlah 20 ekor kambing Peranakan Ettawa laktasi. Data konsumsi protein diambil setiap hari dari konsumsi pakan ternak. Analisis darah dan protein susu dilakukan tiga kali, yaitu awal penelitian, pertengahan dan akhir penelitian. Data yang didapat dianalisis secara deskriptif, hubungan keeratan model dengan korelasi dan persamaan hubungan dengan regresi. Peubah yang amati berupa konsumsi protein kasar, kadar protein darah, kandungan protein susu dan keterkaitan hubungan antara ketiganya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi protein kasar kambing PE adalah 239,16±0,32 g/ekor/hari, rata-rata kadar protein darah 7,03±0,42 g/dl, rata-rata protein susu kambing PE adalah 65,33±0,02 g/ekor/hari. Konsumsi protein pakan dengan kadar protein darah memiliki hubungan yang erat yaitu 0.792. Sedangkan hubungan Konsumsi protein pakan dengan produksi protein susu memiliki hubungan yang erat yaitu 0.788. Keterkaitan ketiganya menghasilkan Persamaan Y = 177.81 + 4.486X + 0.538X dengan nilai R 0.869 dan R kuadrat 0.756. Kata Kunci : Konsumsi protein kasar, total protein darah dan protein susu
Karakteristik Mutu Sei Sapi yang Diolah Secara Tradisional terhadap Berbagai Kombinasi Waktu dan Suhu Pengasapan
Sei sapi adalah produk olahan daging secara tradisional khas Nusa Tenggara Timur yang diolah melalu proses kuring dan pengasapan dengan menggunakan kayu kusambi sehingga menghasilkan citarasa yang khas. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan kombinasi waktu dan suhu pengasapan sehingga menghasilkan mutu sei sapi terbaik dan disukai. Penelitian secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan. Pengujian mutu fisik meliputi daya ikat air dan susut masak, mutu kimia meliputi kadar protein dan polifenol, sedangkan secara organoleptik meliputi warna dan rasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi lama waktu dan suhu pengasapan memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap daya ikat air dan susut masak daging sei sapi dan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar protein dan polifenol serta secara organoleptik: warna dan rasa lebih disukai pada pengasapan dengan lama waktu 80 menit dengan suhu 800C. Kesimpulannya pengasapan dengan kombinasi lama waktu 80 menit dan suhu 800C menghasilkan mutu yang terbaik, baik dilihat dari mutu fisik (daya ikat air dan susut masak), kimia (kadar protein dan polifenol) dan secara organeleptik paling disukai.Kata kunci: Daging sei sapi, waktu dan suhu pengasapan, mutu
Penampilan Reproduksi Sapi Betina F1 Persilangan Bali dan Pesisir di Kabupaten Padang Pariaman
Satu kajian telah dilakukan untuk mencermati penampilan sifat kualitatif dan reproduksi sapi betina F1 persilangan sapi lokal di Padang Pariaman Sumatera Barat. Hasil persilangan jenis sapi Bali dan sapi Pesisir ini dicermati untuk mengidentifikasi sifat reproduksi ternak sapi silangan. Metode penelitian menggunakan survey. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara kepada peternak sapi persilangan (Bali × Pesisir), dengan bantuan kuesioner. Pengambilan responden dilakukan dengan cara sensus yaitu peternak yang memelihara sapi betina silangan Bali × Pesisir. Sedangkan pemilihan sampel ternak dilakukan dengan metode porposive sampling. Peubah pada kajian ini yaitu sifat reproduksi meliputi Calving Interval, Service per Conseption, dan Service Period. Hasil menunjukan bahwa sifat reproduksi dari sapi betina F1 persilangan Bali × Pesisir seperti Calving interval dan Service periode masih kurang baik. Service per Conception pada sapi Bali × Pesisir di Nagari Ketaping adalah 1,49 ± 0,14 dan 1,52 ± 0,22 untuk Nagari Tapakis. Dengan demikian nilai Service per Conception pada sapi betina persilangan Bali × Pesisir di Nagari Ketaping dan Nagari Tapakis ideal
PENGARUH PENAMBAHAN PROBIOTIK HERYAKI DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMA PRODUKSI DAN KOLESTEROL TELUR PUYUH PADJADJARAN
Penggunaan probiotik Heryaki dalam penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruhnya dalam performa produksi dan kadar kolesterol telur puyuh Padjadjaran. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan enam perlakuan dengan empat kali ulangan dan setiap ulangan terdapat 7 ekor puyuh. Perlakuan diberikan dengan P0 = pakan 100% (full feed) tanpa penambahan probiotik, P1 = pakan 100% (full feed) + 0,1% probiotik, P2 = pakan 100% (full feed) + 0,2% probiotik, P3 = pakan 80% dari full feed tanpa penambahan probiotik, P4 = pakan 80% dari full feed + 0,1% probiotik, P5 = pakan 80% dari full feed + 0,2% probiotik. Parameter yang diukur adalah performa produksi dan kadar kolesterol telur. Analisa data menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Hasil penelitian menunjukkan P1 paling optimal (P<0,05%) pada performa produksi tetapi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar kolesterol telur
Produktivitas Induk Kambing Peranakan Etawah (PE) di Taman Ternak Kaligesing
Penelitian mengenai produktivitas induk kambing Peranakan Etawah (PE) telah dilakukan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan mengkaji produktivitas induk kambing PE di Taman Ternak Kaligesing. Metode penelitian menggunakan metode survey. Pengumpulan data primer dan data sekunder dilakukan melalui laporan tahunan, studi literatur serta wawancara kepada koordinator dan pegawai Taman Ternak Kaligesing. Pemilihan sampel ternak dilakukan dengan metode purposive sampling yaitu memilih indukan yang sudah beranak minimal dua kali. Parameter yang diamati diantaranya litter size, bobot sapih, umur pertama dikawinkan, service per conception (S/C), selang beranak dan masa kosong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa litter size 1,17 ekor, bobot sapih 10,4 kg, umur pertama dikawinkan 13,5 bulan, S/C 1 kali, selang beranak 9,7 bulan dan masa kosong 4 bulan. Dengan demikian secara umum produktivitas induk kambing PE di Taman Ternak Kaligesing sudah baik berdasarkakan parameter bobot sapih, S/C, umur pertama dikawinkan dan selang beranak, namun pada litter size dan masa kosong masih perlu perbaikan.
Pengaruh Frekuensi Pemberian POC Hasil Biokonversi Lalat Hermetia illucens terhadap Produksi Hijauan, Rasio Daun Batang, dan Rasio Tajuk Akar Rumput Pennisetum purpureum cv. Mott
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi pemberian pupuk organik cair hasil biokonversi lalat Hermetia illucens terhadap produksi hijauan, rasio daun batang, dan rasio tajuk akar rumput gajah mini (Pennisetum purpureum cv. Mott). Penelitian ini dilakukan di Lahan Laboratorium Tanaman Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran pada Januari sampai Maret 2021. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dengan 5 ulangan sebagai berikut : frekuensi 1 kali pemupukan (P1), frekuensi 2 kali pemupukan (P2), frekuensi 3 kali pemupukan (P3), dan frekuensi 4 kali pemupukan (P4). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa frekuensi pemberian POC berpengaruh nyata (P0,05) terhadap berat kering daun, batang, dan tajuk rumput gajah mini. Frekuensi pemupukan sebanyak 2 kali (P2) merupakan hasil yang terbaik untuk produksi hijauan, rasio tajuk akar, dan rasio daun batang rumput gajah mini
Pengaruh level tapioka dan lama fermentasi terhadap kadar tanin dan mineral pada silase kulit pisang kepok
The aim of this research was to determine the effect of tapioca level and fermentation length on the content of calcium, phosphor, and tannin in silage from kepok banana peels. This research used ses factorial completely randomized design (4x3) consist of two factors, namely level of tapioca starch (5, 10, 15%) and fermentation length (7,14, 21 and 28 days) with three replication for each factors. The results of the research showed that tapioca level had significant effect (P<0,05) on the content of moisture, calcium, phosphor and tannin. Fermentation length had significant effect (P<0,05) on moisture and tannin content, but had no effect on calcium and phosphor content. Interaction between treatments had significant effect (P<0,05) on moisture and tannin content. The best treatment combination in reducing tannin content was 10% tapioca inclusion and 21 days of fermentation lengt
Pengaruh Fermentasi Campuran Bungkil Inti Sawit dan Onggok (FBISO) Sebagai Pengganti Jagung dalam Pakan Terhadap Karakteristik Vili Usus Ayam Pedaging
ABSTRAKTujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perlakuan terbaik dari penggunaan fermentasi campuran bungkil inti sawit dan onggok (FBISO) sebagai pengganti jagung dalam pakan terhadap karakteristik vili usus halus ayam pedaging. Materi penelitian menggunakan ayam pedaging, jagung, bungkil inti sawit (BIS), onggok, bekatul, konsentrat ayam pedaging, Aspergillus oryzae, Saccharomyces cerevisiae, dan Cellulomonas sp. Metode yang digunakan yaitu percobaan lapang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang digunakan: P0= pakan kontrol tanpa substitusi menggunakan FBISO (0% dalam pakan), P1 = pakan dengan substitusi jagung menggunakan FBISO sebesar 16,67% (10% dalam pakan), P2= pakan substitusi menggunakan FBISO 33,33% (20% dalam pakan), P3= pakan substitusi menggunakan FBISO 50% (30% dalam pakan), P4= pakan substitusi menggunakan FBISO 66,67% (40% dalam pakan), P5= pakan substitusi menggunakan FBISO 83,33% (50% dalam pakan), P6= pakan substitusi menggunakan FBISO 100% (60% dalam pakan). Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perlakuan terbaik untuk lebar vili terdapat pada P1 (207,06±3,22 µm) yaitu penggunaan FBISO sebanyak 10% dalam pakan, namun tinggi vili (638,73±17,13 µm), kedalaman kripta (187,83±7,86 µm) dan luas permukaan vili (1142,02±34,74 µm2/vili) illeum terdapat pada P2 yaitu penggunaan FBISO sebanyak 20% dalam pakan ayam pedaging.Kata Kunci: Ayam pedaging, bungkil inti sawit, karakteristik vili usus, onggo