Jurnal Ilmu Ternak
Not a member yet
353 research outputs found
Sort by
Edible Coating Chitosan as an Antimicrobial in the Thawing Process of Frozen Broiler Chicken Carcasses with Different Shelf Life
This study aims to determine the amount of chitosan edible coating concentration best used as antimicrobial during the thawing process of frozen broiler chicken carcass in different shelf lives. This study used a completely randomized factorial design (RALF) which consisted of two factors, namely factor 1: differences in shelf life (1, 2, and 3 months) and factor 2: concentration of chitosan edible coating (0.1 %, 1.5%) with 12 treatments and five replications. The total microbial count, pH, percentage of drip loss, and cooking losses of each sample were evaluated. The obtained data were analyzed using Two Way Analysis of Variance and further testing of the Duncan Multiple Range Test (DMRT). The results showed that frozen chicken carcasses using chitosan edible coating during thawing had a lower pH (P<0.05) than without chitosan. The use of 1.5% chitosan edible coating showed the best results (P<0.05) in inhibiting microbial growth, reducing drip loss and cooking shrinkage of frozen chicken carcass during storage of 1, 2 and 3 months. It was concluded that the use of chitosan edible coating was effective as an antimicrobial during thawing
Review efek ekstrak tanaman berbeda sebagai anti-toxocara
Toxocara canis and Toxocara cati are important zoonotic parasites of dogs and cats. The increasing use of medicinal plants as anti-parasitic agents are attributed to its advantages like less side effects, with lower risk of anthelmintic resistance, and as cheaper alternatives. Although there are still no reports of anthelmintic resistance in Toxocara spp, the tendency of it happening should always be anticipated. This review summarized the in vitro and in vivo studies of the anti-Toxocara activity of plants, to enumerate the different plant extracts and the isolated active compounds in relation to their activity. In vitro studies investigated were primarily done in Toxocara larvae, mostly second-stage larvae, while in vivo studies were performed in animals mainly to assess the effect of the plant extracts on larval migratory behavior. Among the all plants described in this review, family Asteraceae was the most studied for their anthelmintic activity against toxocara species. The isolated active compounds with promising results were pyrethrin, kaurenes, palasonin, certain piperamides and curcuminoids, asarone, ascaridole, quercetin, thymohydroquinone (TQ), and secondary metabolites like flavonoids, alkaloids, tannins, saponins, and glycosides. However, The mechanism of action of each active ingredient of the plant as an anti-toxocara requires further research
Phenotypic Characteristics of Local Pigs in the North Sulawesi
Local pigs are one of Indonesia's livestock germplasm and have an important role in the rural farming system in the North Sulawesi. The aim of this study was to identify the phenotypic characteristic of local pigs in the North Sulawesi. The study was carried out as a field level survey and investigation through direct observation of phenotypic traits of local pigs in eight villages which is located in the two main regions of the North Sulawesi, namely Minahasa Utara (Darunu, Sonsilo, Marinsow and Kalinaun) and Bolaang Mongondow (Pindolili, Baturapa, Sangtombolang and Tanjung Sidupa). A total of 212 pigs were used to observe the parameters of body weight, body length, heart grith, height at withers, head length and ear length. Data were analyzed using general linear model and discriminant analysis. The results showed that body weight and linear body measurement of local pigs in eight locations in the North Sulawesi were significantly different (p < 0.05) with the following traits; average body weight of 27.67±12.90 kg, body length of 70.62±14.21 cm, heart grith of 62.89±13.30 cm, height at withers of 44.73±8.86 cm, head length of 25.06 ±5.96 cm, ear length of 15.6±4.05 cm and hock circumference of 9.87±1.31 cm
Manajemen Pemberian Kolostrum dan Pakan Starter terhadap Kandungan Imunoglobulin-G (IgG) dan Pertambahan Bobot Badan Pedet Sapi Perah di PT UPBS Pangalengan
Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas manajemen pemberian kolostrum dan pakan starter pedet sapi perah di PT UPBS Pangalengan. Penelitian ini menggunakan dua puluh ekor pedet sapi perah FH yang lahir pada bulan September 2020 untuk dilihat pertumbuhannya selama enam bulan dan dua puluh ekor pedet yang lahir pada bulan Maret 2021 dilihat kandungan imunoglobulinnya sebelum dan setelah mendapatkan kolostrum. Parameter yang diukur yaitu kadar imunoglobulin G (IgG) total pada pedet sebelum dan setelah pemberian kolostrum, serta pertambahan bobot badan. Pengambilan darah pedet dilakukan sebelum pemberian kolostrum (satu jam setelah lahir) dan pengambilan darah berikutnya adalah ±24 jam setelah pedet lahir. Kadar IgG total yang ada dalam serum darah, diukur dengan menggunakan analisis Immunoturbidimetric Assay, dan pertambahan bobot badan dilakukan selama enam bulan. Hasil penelitian menunjukkan kadar IgG total dalam serum darah berbeda nyata (P<0,05) antara sebelum dan setelah pemberian kolostrum. Rataan kenaikan kadar IgG pedet setelah pemberian kolostrum adalah 12,18 g/L. Rataan pertambahan bobot badan pedet sapi perah berkisar antara 609,72–650 gram/hari. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa manajemen pemberian kolostrum dan pakan starter di PT UPBS Pangalengan sudah efektif
Motivasi Usaha Pemilik Usaha Sate Klatak di Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi usaha pemilik usaha sate klatak yang berada di Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul. Penelitian dilakukan pada bulan Mei hingga Juni 2021. Aspek Motivasi usaha yang diamati dalam penelitian ini mengambil dasar dari teori McClelland mencakup kebutuhan berprestasi (need of Achievement), kebutuhan berkuasa (need of Power), dan kebutuhan afiliasi (need of Affiliation). Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif dengan studi kasus. Data diambil dengan cara observasi partisipasi, wawancara secara mendalam (indepth-interview) dan dokumentasi. Dua orang informan kunci (key informan), yaitu pemilik usaha sate klatak Pak Pong dan sate klatak Kang Dayat dipilih sebagai sampel penelitian dengan menggunakan metode purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap dua orang informan kunci menunjukkan bahwa kebutuhan motivasi yang lebih dominan yang mendorong seseorang menjadi pemilik usaha sate klatak adalah kebutuhan berprestasi. Kebutuhan berprestasi yang dimaksud yaitu faktor mencari nafkan dan adanya keinginan menjadi mandiri. Hal ini didukung oleh adanya lingkungan keluarga yang juga memiliki usaha serupa sehingga memudahkan dan mensukseskan mereka dalam melakukan usahanya
Fermentabilitas dan Kecernaan Ransum yang Mengandung Bungkil Kacang Tanah (In Vitro)
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh ransum yang mengandung bungkil kacang tanah terhadap fermentabilitas dan kecernaan in vitro. Ransum perlakuan disusun dengan menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas 4 jenis yang mengandung 0, 6, 12, dan 18% bungkil kacang tanah. Setiap perlakuan diulang sebnayak 5 kali dan dilakukan analisis dengan menggunakan uji Duncan. Ransum perlakuan dievaluasi secara in vitro dan diukur konsentrasi VFA, N-NH3, persentase kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik dan populasi bakteri rumen. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan bungkil kacang tanah sampai taraf 18% dapat meningkatkan VFA, N-NH3, kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik dan bakteri rumen (P<0,05) daripada ransum yang tidak mengandung bungkil kacang tanah. Peningkatan terjadi sampai pada taraf 12%, kemudian menurun pada taraf 18%. Kesimpulan menunjukkan bahwa penggunaan bungkil kacang tanah dalam ransum dapat digunakan sebanyak 18%, namun penggunaan 12% memberikan fermentabilitas dan kecernaan yang terbaik
Pengaruh Pemaparan Gas Ozon terhadap Kadar Air, Lignin, Selulosa dan Hemiselulosa pada Azolla pinnata
Azolla pinnata memiliki protein berkisar antara 25%-30% sehingga berpotensi dijadikan bahan pakan untuk ruminansia, unggas maupun ikan. Kandungan serat kasar yang cukup tinggi mencapai 20% menjadi penghambat kecernaan nutrien. Gas ozon dikenal sebagai senyawa oksidatif yang dan mampu mengurai struktur lignin menjadi asam maleat dan asam oksalat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemaparan gas ozon terhadap kadar air, lignin, selulosa dan hemiselulosa pada Azolla pinnata. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Parameter yang diukur adalah kadar air, lignin, selulosa dan hemiselulosa. Perlakuan ozon yang digunakan adalah durasi pemaparan 0 menit (T0), 60 menit (T1), 120 Menit (T2), 180 menit (T3) dan 240 menit (T4). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pemaparan gas ozon tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air akan tetapi dapat menurunkan kandungan lignin, selulosa dan hemiselulosa dengan signifikan. Pemaparan selama 180 menit merupakan waktu yang optimal untuk menurunkan kadar lignin, selulosa dan hemiselulosa.
The Effect of Using CIDR and Various Doses of PMSG as Well as Genistein on the Reproductive Characteristics of Palu Fat-tailed Sheep
The objective of this study was to observe the reproductive characteristics of Palu fat-tailed sheep affected by animal parities given pregnant mare serum gonadotropin (PMSG) and genistein (GEN) as a synthetic phytoestrogen. This study employed 32 ewes arranged in a completely randomized experimental design. The first factor was parity (P2 and P3) and second factor was a hormonal treatment as follows; H0 (14 d-controlled internal drug release or CIDR implant as control), H1 (CIDR+PMSG at 15 IU/kg BW, im injection), H2 (CIDR+GEN 0.1 mg/kg BW, iv injection); H3 (CIDR+PMSG at 15 IU/kg BW and GEN at 0.1 mg/kg BW, iv injection). Results indicated that all animals exhibited estrous and the onset for H1 was significantly earlier than for H2 and H0. The duration of estrous for P3 was significantly longer than for P2, while that for H1 was significantly longer than for H2 and H0. Gestation rate was 93.75%, birth rate was 83.33% and length of gestation was 147.76±1.54 d. Birth weight for P3 was significantly higher than for P2. It is concluded that CIDR, PMSG, and genistein enhanced the estrous characteristics in Palu fat-tailed sheep but did not affect litter size and birth weight