Jurnal Ilmu Ternak
Not a member yet
353 research outputs found
Sort by
Keragaan Sifat Kualitatif dan Kuantitatif Kerbau Lokal di Propinsi Banten (Performance of Qualitative and Quantitative Traits of Local Buffaloes at Banten Province)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat kualitatif dan kuantitaif kerbau lokal. Metode penelitian yang digunakan adalah survey, penentuan sampel berdasarkan purposive sampling. Lokasi penelitian adalah Kabupaten Serang, Pandeglang dan Kabupaten Lebak Propinsi Banten. Pengambilan data dilakukan melalui observasi dan pengukuran. Jumlah kerbau yang diteliti sebanyak 300 ekor terdiri atas 150 ekor kerbau jantan dan 150 ekor kerbau betina dewasa. Data dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan sidik ragam. Hasil penelitian diperoleh sifat kualitatif untuk warna kulit dan kaki adalah abu-abu gelap, bentuk tanduk umumnya melingkar ke bawah, garis kalung ganda, unyeng-unyeng ditemukan pada kepala, pundak dan pinggul. Ukuran-ukuran tubuh kerbau jantan dan betina berturut-turut: lingkar dada (cm) 171,98±5,00; 161,33±4,83; dalam dada (cm) 65,13±3,97; 59,53±5,76; panjang badan (cm) 122,10±6,40; 120,00±2,03; tinggi pundak (cm) 130,02±2,80; 118,99±3,20; tinggi pinggul (cm) 103,42±2,27; 105,28±2,87; lebar pinggul (cm) 32,50±1.61; 31,41±1,39; panjang kepala (cm) 41,99±1,42; 41,39±1,55; lebar kepala (cm) 20,21±1.83; 19,30±1,15; lebar ambing (cm) ; 47,15±5,20; lebar teracak (cm) 15,89±1,77; 14,84±1,07; dan lingkar skrotum (cm) 15,88±0,67. Tidak terdapat perbedaan yang nyata (P>0,05) ukuran tinggi pundak, tinggi pinggul, panjang kepala, lingkar skrotum serta lebar teracak pada kerbau jantan dan betina pada subpopulasi Serang, Pandeglang dan Lebak, akan tetapi terdapat perbedaan yang nyata (P<0,05) ukuran lebar pinggul, panjang badan, lingkar dada, dalam dada, dan lebar kepala. Kerbau yang berada di lokasi penelitian dari kajian sifat kualitatif dan kuantitatif dapat digolongkan sebagai kerbau lumpur.Kata Kunci: keragaan sifat kualitatif, sifat kuantitatif, kerbau loka
Peningkatan Kualitas Nutrisi Duckweed Melalui Fermentasi Menggunakan Trichoderma harzianum
Jumlah inokulum dan waktu fermentasi merupakan faktor penentu keberhasilan proses fermentasi dalam memperbaiki kandungan nutrien duckweed. Tujuan penelitian adalah untuk memperbaiki kandungan nutrien duckweed melalui penentuan jumlah inokulum dan waktu selama proses fermentasi. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial 3x4 dengan ulangan dua kali. Faktor pertama jumlah inokulum Trichoderma harzianum (1. 107 , 2.107 ,dan 3.107 spora per 100 gram substrat) dan faktor kedua waktu fermentasi (24, 48, 72, dan 96 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi dengan jumlah inokulum 3.107 spora per 100 gram substrat dan waktu 24 jam berhasil memperbaiki kandungan nutrien duckweed. Hal demikian ditunjukkan dengan peningkatan kandungan protein kasar substrat dari 18,19% menjadi 19,07% dan penurunan kandungan serat kasar substrat dari 15,1% menjadi 3,6%. Kata Kunci : inokulum, waktu fermentasi, duckweed, Trichoderma harzianum
Konsentrasi Amonia dan Asam Lemak Terbang Rumput Brachiaria humidicola (Rendle) Schweick pada Berbagai Interval Pemotongan (In Vitro)
Keberadaan gulma secara nyata menurunkan produksi dan kualitas hijauan. Pengendalian gulma secara fisik diharapkan dapat mempertahnakan kualitas dan produksi hijauan, dan mampu mengendalikan penyebaran gulma. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh interval pemotongan dari rumput B. humidicola yang diinvasi oleh C. odorata dan pengaruhnya terhapa konsentrasi ammonia dan VFA hijauan (in vitro). Penelitian telah dilakuak di laboratorium agrostology, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Analisis kecernaan in vitro dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Rancangan split plot dalam waktu telah digunakan pada penelitian ini. Perlakuan yang diberikan adalah sembilan metode penanaman yang berbeda dan interval pemotongan yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi amonia dan asam lemak terbang dari hijauan yang dipotong dengan interval pemotongan 60 hari lebih tinggi dibandingkan dengan pomotongan lainnnya. Kehadiran dan pengendalian C. odorata tidak berpengaruh pada konsentrasi amonia dan asam lemak terbang dari hijauan B. Humidicola.Kata kunci: ammonia, asam lemak terbang, interval pemotongan, in vitr
Reduksi Abamektin Pada Cacing Tanah (Lumbricus Rubellus) Melalui Proses Pengolahan Tepung Cacing (Abamectin Reduction At Eartworm (Lumbricus Rubellus) Trough Eartworm Meal Processing)
Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi residu abamektin pada cacing tanah (Lumbricus rubellus) melalui proses pengolahan tepung cacing dan untuk mendeteksi residu abamektin yang tertinggal pada tepung cacing dengan Batas maksimum Residu (BMR) dari FAO. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen di laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan dan 5 kali ulangan, yaitu KK= media + limbah kubis bebas pestisida abamektin,KL= media + limbah kubis dari lapangan, KA1=media + limbah kubis yang disemprot abamektin dengan dosis 0,1%, KA2= media + limbah kubis yang disemprot abamektin dengan dosis 0,2%, KA3 = limbah kubis yang disemprot abamektin dengan dosis 0,3%,Untuk mengetahui pengaruh perlakuan, data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa residu abamektin dalam tubuh cacing pada perlakuan KA3 (0,1345 ppm) dan KL (0,1196 ppm) berbeda nyata lebih tinggi dari perlakuan KA2 (0,0885 ppm) dan KA1(0,0653 ppm), sedangkan KK bebas dari residu abamektin. Residu abamektin pada tepung cacing yang mendapat perlakuan pengeringan dengan oven (KA1 =0,0203 ppm; KA2 = 0,0247 ppm; KA3 = 0,0428 ppm dan KL= 0,0374 ppm) maupun sinar matahari (KA1 =0,0217 ppm; KA2 = 0,0309 ppm; KA3 = 0,0557 ppm dan KL = 0,0864 ppm) tidak menunjukkan perbedaan yang nyata Kata kunci : feses sapi perah, serbuk gergaji, limbah kubis, cacing tanah, abamekti
Respons Ayam Broiler yang Diberi Ransum dengan Suplementasi Fitase, Zn dan Cu (Broiler Response Feed upon Phytase, Zn, and Cu Suplementation)
Seng dan tembaga bersifat antagonis di dalam media intestinal metallothionein. Zn mempunyai afinitas yang lebih tinggi untuk berikatan dengan histidin dan sistein, sedangkan Cu hanya berafinitas tinggi dengan histidin. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan interaksi antara mineral seng, tembaga, dan aktivitas alkalin fosfatase pada ayam broiler yang diberi ransum dengan suplementasi fitase, Zn dan Cu. Dua ratus delapan puluh delapan ekor DOC (Unsexed) yang dipelihara selama 42 hari, dialokasikan ke dalam rancangan acak lengkap dengan sembilan ransum perlakuan dan diulang sebanyak empat kali. Kombinasi ransum penelitian terdiri atas: R1 (Ransum kontrol positif), R2 (Ransum kontrol negatif), R3 (R2 + 132,70 ppm ZnO), R4 (R2 + 286,16 ppm CuSO4), R5 (R2 + 132,70 ppm ZnO + 286,16 ppm CuSO4), R6 (R2 + fitase 1000 FTU/kg), R7 (R2 + fitase 1000 FTU/kg + 132,70 ppm ZnO), R8 (R2 + fitase 1000 FTU/kg + 286,16 ppm CuSO4), R9 (R2 + fitase 1000 FTU/kg + 132,70 ppm ZnO + 286,16 ppm CuSO4). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa suplementasi kombinasi fitase 1000 FTU/kg, ZnO 132,70 ppm, dan CuSO4 286,16 ppm dalam ransum memberikan interaksi sinergis yang ditandai dengan peningkatan kandungan Zn dalam serum dan aktivitas alkalin fosfatase. Kata kunci : seng, tembaga, aktivitas alkalin fosfatase, ayam broile
Pengaruh Sistem Pengawinan dan Paritas Terhadap Penampilan Reproduksi Ternak Babi Di PT Adhi Farm, Solo, Jawa Tengah (The Effect of Mating System and Parity on Swine Reproductive Performance in PT Adhi Farm, Solo, Central Java)
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh sistem pengawinan dan paritas (beranak ke-) terhadap persentase kebuntingan, litter size dan interval antara penyapihan ke bunting kembali. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola Faktorial 2 x 5. Faktor pertama adalah sistem pengawinan (Alami dan IB) dan factor kedua adalah paritas (1, 2, 3, 4 dan 5). Khusus untuk mengetahui interval antara menyapih ke bunting kembali digunakan rataannya dan diuji dengan uji Turkey. Sistem pengawinan berpengaruh nyata (P< 0,05) terhadap laju kebutingan dan litter size lahir hidup dimana pengawinan cara alami (93,23%) lebih baik daripada cara IB (81,64%) dengan litter size lahir hidup masing-masing 10,12 dan 9,26 ekor. Paritas dan interaksinya dengan sistem pengawinan tidak berbeda nyata terhadap laju kebuntingan dan litter size lahir hidup. Interval antara penyapihan ke bunting kembali untuk paritas pertama hingga keempat masing-masing adalah 9,55; 9,08; 7,17; dan 5,64 hari.Kata kunci: sistem pengawinan, paritas, babi
Pengaruh Silang Dalam Pada Estimasi Respon Seleksi Bobot Sapih Kambing Peranakan Etawa (PE), Dalam Populasi Terbatas (Effect of In-Breeding on Estimation of Respon to Selection of Weaning Weight of Etawa Cross Bred (PE), in The Small Population)
Penelitian ini telah dilaksanakan di Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Citarasa Bogor pada bulan Juli 2004. Tujuan penelitian ini adalah untuk menduga respon seleksi bobot sapih, pada lima generasi yang akan datang dengan memperhitungkan efek in-breeding pada populasi terbatas. Data yang dianalisis berasal dari catatan bobot sapih sebanyak 93 catatan. Data berasal dari 93 ekor anak kambing PE, keturunan dari 20 ekor pejantan dan 62 ekor induk. Komponen ragam dan Nilai Heritabilitas diduga dengan menggunakan Animal Model, Maternal Genetic Effect dengan Restricted Maximum Likelihood (REML) program Variance Component Esti-mation-VCE 4.2 dan Nilai Pemuliaan diduga dengan Best Linier Unbiased Prediction (BLUP). Efek tetap yang dilibatkan dalam analisis adalah jenis kelamin, type kelahiran, paritas dan Tahun Musim. Hasil analisis data menunjukan nilai heritabitas sebesar 0,5 termasuk katagori tinggi. Nilai pemuliaan berkisar antara 2,09 kg sampai -1,90 kg. Respon seleksi bobot sapih pada generasi lima dengan memperhitungkan efek in-breeding pada alternatif pertama menggunakan jantan 16 ekor dan betina 16 ekor dengan intensitas seleksi 1,489 yaitu 5,993 kg. Pada alternatif kedua pada penggunaan jantan 2 ekor dan betina 40 ekor deng an intensitas seleksi 1,667 respon seleksi bobot sapih pada generasi lima dengan memperhitungkan efek in-breeding adalah 5,726 kg. Sedangkan pada alternatif ketiga pada penggunaan jantan 5 ekor dan betina 16 ekor, dengan intensitas seleksi 1,776 respon seleksi bobot sapih pada generasi lima dengan memperhitungkan efek in-breeding adalah 6,841 kg yang merupakan nilai tertinggi dari ketiga alternatif komposisi populasi ternak jantan dan betina. Berdasar dari hasil penelitian disarankan bahwa penggunaan alternatif ketiga akan lebih baik dan dapat sedikit menghindar dari efek in-breeding, terlebih lagi bila dipertimbangkan aspek ekonomi-nya.Kata kunci: Respon Seleksi, Intensitas Seleksi, Efek in-breeding, Kambing Peranakan Etawa (PE
Evaluasi Potensi Genetik Sapi Perah Fries Holland (FH) Di Koperasi Serba Usaha (KSU) Tandangsari Kabupaten Sumedang (Evaluation of Dairy Cattle Genetic Potency of Fries Holland (FH) in KSU Tandangsari Sumedang)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi genetik sapi perah Fries Holland (FH) di KSU Tandangsari Kabupaten Sumedang. Metode penelitian yang digunakan adalah survey di wilayah kerja KSU dimaksud. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi perah merupakan komoditas ternak yang dapat dijadikan sumber mata pencaharian peternak anggota koperasi, karena tersedianya sapronak serta kelancaran pemasaran dan pembayaran susu. Potensi genetik sapi perah FH di lokasi penelitian cukup baik karena telah ada upaya rintisan pembentukan bibit sapi perah FH lokal Tandangsari dengan standar produksi susu minimal 5000 liter per laktasi. Kegiatan pemuliaan sapi perah FH di koperasi ini hendaknya dijadikan unit usaha tersendiri yang didukung oleh pemerintah Kabupaten Sumedang secara administratif dan finansial sehingga dihasilkan bibit sapi FH lokal yang cocok dengan kondisi lingkungan dan sosial budaya peternak setempat.Kata Kunci: potensi genetik, sapi perah FH, KSU Tandang Sar
Kualitas Pupuk Cair Hasil Pengolahan Feses Sapi Potong Menggunakan Saccharomyces cereviceae (Liquid Fertilizer Quality Produced by Beef Cattle Feces Fermentation Using Saccharomyces cereviceae)
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan mengetahui kualitas pupuk cair hasil pengolahan feses sapi potong dengan penambahan Saccharomyces cerevisiae. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen di laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 macam perlakuan dosis Saccharomyces cerevisiae, yaitu P1= 0,2%,P2 = 0,4% dan P3 = 0,6% , masing masing diulang 6 kali. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan, data yang diperoleh dianalisis ragam dan uji Duncan. Peubah yang diamati kandungan N, P2O5, K2O pupuk cair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan dosis Saccharomyces cerevisiae dari 0,2% menjadi 0,4% dan 0,6% meningkatkan (P<0,05) kandungan N tetapi tidak berpengaruh terhadap kandungan P2O5 dan K2O pupuk cair yang dihasilkan. Tidak ada perbedaan kualitas pupuk cair antara 0,4% dan 0,6%. Kata kunci : feses sapi potong, pupuk cair, Saccharomyces cerevisiae, N, P,
Pengaruh Suplemen Zn-Proteinat, Cu-Proteinat Dan Kompleks Ca-Minyak Ikan dalam Ransum Berbasis Pucuk Tebu Amoniasi Terhadap Performans Domba Jantan Persilangan Priangan X Barbados
Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh suplemen Zn-Proteinat, Cu-Proteinat dan Ca-Minyak dalam ransum berbasis pucuk tebu diamoniasi terhadap pertumbuhan dan efisiensi ransum pada domba jantan persilangan Priangan x Barbados. Percobaan dilakukan terhadap 5 ekor domba jantan yang sedang tumbuh dengan menggunakan rancangan Bujur Sangkar Latin (BSL) 5x5, lima macam ransum yaitu R1 = campuran 50% pucuk tebu amoniasi + 50% konsentrat, R2 = R1 + 2% Zn-proteinat, R3 = R1 + 2% Cu-proteinat, R4 = R2 + 2% Cu-proteinat, dan R5 = R4 + Ca-minyak ikan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pemberian Zn-proteinat, Cu-proteinat dan komplek Ca-minyak tidak mempengaruhi konsumsi ransum, dan hanya pemberian Cu-proteinat (R3) yang berpengaruh meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi ransum.Kata Kunci : Zn-proteinat, Cu-proteinat, Ca-minyak ikan, pertambahan bobot badan, efisiensi ransu