Jurnal Ilmu Ternak
Not a member yet
353 research outputs found
Sort by
Korelasi Fenotipik dan Genetik Produksi Susu dengan Sifat Reproduksi Pada Sapi Fries Holland
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi fenotipik dan genetic produksi susu dengan sifat-sifat reproduksi sebagai dasar untuk seleksi yang efektif terhadap kedua sifat tersebut pada sapi Fries Holland. Penelitian ini menggunakan catatan produksi laktasi pertama dan catatan reproduksi dari tahun 1989 sampai 2002. Parameter genetic dihitung menggunakan Animal Model dengan Restricted Maximum Likelihood (REML) dengan program paket yang digunakan adalah VCE 4.2. Selanjutnya korelasi fenotifik dihitung menggunakan program SAS. 6.12. Hasil penelitian ini menunjukkan korelasi fenotipik yang rendah antara produksi susu dengan selang beranak , angka kawin per kebuntingan, dan masa kosong, masing-masing sebesar 0,060, 0,066 dan 0,075, sedangkan korelasi genetiknya tinggi masing masing sebesar 0,479 ; 0,563 dan 0,609. Seleksi yang efektif untuk sapi Frisian Holland perlu mempertimbangkan sifat reproduksiKata kunci : Korelasi, fenotipik, genetic, produksi dan reproduks
Peningkatan Nilai Nutrisi Ampas Sagu (Metroxylon Sp.) Melalui Bio-Fermentasi
Telah dilakukan penelitian bio-fermentasi terhadap ampas sagu yang bertujuan meningkatkan kualitas nutrisi ampas sagu dengan menggunakan probion. Perlakuan yang dugunakan P1 (Ampas sagu Ihur 100 kg + Probion 100 g + Urea 100 g); P2 (Ampas sagu Tuni 100 kg + Probion 100 g + Urea 100 g); P3 ( Ampas sagu Ihur 100 kg + Probion 200 g + Urea 200 g); P4 (Ampas sagu Tuni 100 kg + Probion 200 g + Urea 200 g); P5 (Ampas sagu Ihur 100 kg + Probion 300 g + Urea 300 g); P6 (Ampas sagu Tuni 100 kg + Probion 300 g + Urea 300 g). Parameter yang diamati adalah pH media, suhu media, analisis proksimat (Protein kasar, Serat kasar, Lemak Kasar, Energi Metabolis dan Bahan Kering). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses fermentasi optimum yang tepat untuk media ampas sagu selama 21 hari dengan perlakuan terbaik dengan campuran probion 300 gram dan urea 300 gram, menghasilkan protein kasar 4,81 serat kasar 5,49, lemak kasar 0,73% dan energi metabolis 3860 kkal. Suhu fermentasi tertinggi pada perlakuan P5, hari ke-15 (36 0C) dan nilai pH terendah pada akhir penelitian 4,2.Kata kunci: Ampas sagu, probion, urea, fermentas
Respon Broiler Terhadap Pemberian Ransum Mengandung Dedak Padi Fermentasi oleh Kapang Aspergillus ficuum (Response of Broiler Fed on Diet Containing Fermented Rice Bran by Aspergillus ficuum)
Penelitian bertujuan untuk mengetahui respon broiler terhadap pemberian ransum mengandung dedak padi hasil fermentasi oleh Aspergillus ficuum yang diukur melalui konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, persentase karkas dan imbangan efisiensi protein. Penelitian menggunakan 300 ekor ayam broiler final stock Arbor Acres yang dibagi ke dalam 30 plot. Ransum disusun iso-protein dan iso-energi dengan kandungan protein kasar 22% dan energi metabolis 3100 kkal/kg. Penelitian dilakukan secara eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap , terdiri atas 6 ransum sebagai perlakuan setiap perlakuan diulang 5 kali. Ransum perlakuan terdiri atas R0 (0% dedak padi fermentasi), R1 (5% dedak padi fermentasi), R2 (10% dedak padi fermentasi), R3 (15% dedak padi fermentasi), R4 (20% dedak padi fermentasi), dan R5 (25% dedak padi fermentasi). Data hasil pengamatan dianalisis ragam dan perbedaan antar perlakuan diuji dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa broiler memberikan respon yang tidak berbeda terhadap pemberian ransum yang mengandung dedak padi hasil fermentasi oleh kapang Aspergillus ficuum, dapat disimpulkan bahwa dedak padi hasil fermentasi oleh kapang Aspergillus ficum dapat digunakan dalam ransum broiler sampai dengan tingkat 25% tanpa mempengaruhi konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, persentase karkas dan imbangan efisiensi protein. Kata kunci : dedak padi, Aspergillus ficuum, broiler, respo
Performan Ayam Pedaging yang Diberi Probiotik dan Prebiotik dalam Ransum (Performances of Broilers That Given Probiotics and Prebiotics in the Ration)
Penelitian ini bertujuan untuk melihat respon performan ayam pedaging dari penambahan probiotik, prebiotik dan kombinasi keduanya sebagai pengganti antibiotik dalam ransum. Sebanyak 480 ekor ayam pedaging umur sehari strain Arbor Acres, dibagi dalam 4 perlakuan ransum dan 3 ulangan (40 ekor/ulangan). Ransum perlakuan yang digunakan terdiri atas: R1 = Ransum basal + 0.01% antibiotik, R2 = Ransum basal + 0.2% probiotik, R3 = Ransum basal + 0.2% probiotik + 0.5% prebiotik dan R4 = Ransum basal + 0.5% prebiotik. Parameter yang diamati adalah : pertambahan bobot badan, bobot badan akhir, konsumsi ransum, konversi ransum, mortalitas, indeks produksi, Hasil penelitian menunjukkan performan ayam pedaging yang memperoleh probiotik dan prebiotik baik secara terpisah maupun kombinasi tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan pada semua perlakuan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan probiotik dan prebiotik dalam ransum tidak mempengaruhi performan ayam pedaging.Kata kunci : Performan, probiotik, prebiotik, ayam pedagin
Tingkat Kesukaan Bakso dari Berbagai Jenis Daging Melalui Beberapa Pendekatan Statistik
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan baso dari daging yang berbeda melalui beberapa pendekatan statistik. Sebagai perlakuan empat macam bakso yang dibuat dari daging sapi, ayam, kelinci dan domba, masing-masing berjenis kelamin jantan., sedangkan sebagai ulangan digunakan 15 orang panelis agak terlatih. Panelis dikelompokan sebagai ulangan Pada Uji Friedman dan Rancangan Acak Kelompok (RAK), sedangkan pada Uji Kruskal Wallis dan Rancangan Acak Lengkap (RAL), panelis diasumsikan sebagai ulangan yang seragam. Peubah yang diukur adalah tingkat kesukaan terhadap rasa, bau dan kekenyalan dengan skala hedonik sangat suka, suka, agak suka, biasa, dan tidak suka. Hasil penelitian menunjukan, bahwa tingkat kesukaan rasa, bau dan kekenyalan baso dari daging sapi dan domba lebih disukai panelis, kemudian diikuti baso dari daging ayam dan kelinci. Pendekatan statistik dengan uji Friedman, uji Kruskall Wallis, Rancangan Acak Lengkap dan Rancangan Acak Kelompok terhadap tingkat kesukaan umumnya tidak berbeda nyata, hanya pengujian rasa melalui uji Friedman menghasilkan perbedaan yang nyata (P< 0.05).Kata kunci : Tingkat Kesukaan, bakso, statisti
Performan Domba yang Diberi Ransum Mengandung Zn-Fitat dan Pb-Asetat (Performance of Sheep Fed Diet Containing Zn-phytate and Pb-acetate)
Penelitian ini mempelajari performan domba yang diberi ransum mengandung Zn-fitat dan Pb-asetat pada domba. Dua puluh ekor domba yang sedang tumbuh dengan bobot 14-21 kg dipelihara selama 42 hari dan dialokasikan ke dalam 5 perlakuan ransum percobaan. Seng-fitat dan Pb-asetat dibubuhkan ke dalam ransum percobaan sebagai berikut : 1) ransum basal, 2) ransum basal + ZnCl2, 3) ransum basal + Pb-asetat, 4) ransum basal + Zn-fitat, 5) ransum basal + Zn-fitat + Pb-asetat. Hasil menunjukan bahwa suplementasi Zn-fitat nyata tidak berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan harian dan konversi ransum (P>0,05), namun kehadiran Pb-asetat menurunkan konsumsi bahan kering (P<0,05). Kesimpulan suplementasi Zn-fitat tidak efektif dalam meningkatkan performans domba dan Pb-asetat menurunkan konsumsi ransum. Kata Kunci : seng (Zn), timbal (Pb), performan, domb
Persentase dan Kualitas Karkas Ayam Pedaging yang Diberi Probiotik dan Prebiotik dalam Ransum (The Carcass Percentage and Carcass Quality of Broilers Given Probiotics and Prebiotics in The Ration)
Probiotik adalah pakan tambahan dalam bentuk mikroba hidup yang menguntungkan, melalui perbaikan keseimbangan mikroorganisme dalam saluran pencernaan. Sedangkan Prebiotik merupakan substansi dari makanan yang tidak dicerna, dan secara selektif meningkatkan pembiakan dan aktivitas bakteri yang menguntungkan pada usus besar. Penelitian ini bertujuan untuk melihat persentase dan kualitas karkas ayam pedaging dari penambahan probiotik, prebiotik dan kombinasi keduanya sebagai pengganti antibiotik dalam ransum. Sebanyak 480 ekor ayam pedaging umur sehari strain Arbor Acres, dibagi dalam 4 perlakuan ransum dan 3 ulangan (40 ekor / ulangan). Ransum perlakuan yang digunakan terdiri atas : R1 = Ransum basal + 0.01% antibiotik (Zinc bacitracin), R2 = Ransum basal + 0.2% probiotik (Bacillus spp), R3 = Ransum basal + 0.2% probiotik + 0.5% prebiotik dan R4 = Ransum basal + 0.5% prebiotik (daun katuk). Parameter yang diamati adalah : persentase karkas, lemak abdominal, hati dan daging, kolesterol hati, serum darah dan daging. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayam pedaging yang memperoleh probiotik dan prebiotik baik secara terpisah maupun kombinasi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kualitas karkas. Kadar lemak hati, lemak paha dan kolesterol dada, secara nyata (P<0,05) lebih rendah pada perlakuan R3 dibanding dengan perlakuan kontrol (R1). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan kombinasi probiotik dengan prebiotik mampu menurunkan kadar lemak dan kolesterol karkas ayam pedaging.Kata kunci : Probiotik, prebiotik, karkas, ayam pedagin
Pengaruh Suplementasi Fitase, Seng Oksida (ZnO) dan Tembaga Sulfat (CuSo4) Terhadap Performans Ayam Broiler (The Effect of Suplementation Phytase, Zinc Oxide and Cupric Sulfate on Broiler Performance)
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi suplemen pakan berupa fitase, seng oksida dan tembaga sulfat yang menghasilkan performans broiler paling baik. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap sembilan perlakuan dan empat ulangan. Setiap unit percobaan terdiri atas delapan ekor broiler berumur satu hari (doc). Ransum perlakuan adalah R1(ransum kontrol positif); R2 (ransum kontrol negatif); R3 (R2 + 132,7 ppm ZnO); R4 (R2 + 286,16 ppm CuSO4); R5 (R2 + 132,7 ppm ZnO + 286,16 ppm CuSO4 ); R6 (R2 + Fitase 1000 FTU/kg); R7 (R2 + Fitase 1000 FTU/kg + 132,7 ppm ZnO); R8 (R2 + Fitase 1000 FTU/kg + 286,16 ppm CuSO4); R9 (R2 + Fitase 1000 FTU/kg + 132,7 ppm ZnO + 286,16 ppm CuSO4 ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi fitase, seng oksida dan tembaga sulfat pada ransum tidak mempengaruhi konsumsi. Kombinasi fitase 1000 FTU/kg, ZnO (132,7 ppm) dan CuSO4 (286,16 ppm) efektif dalam meningkatkan bobot badan akhir, pertambahan bobot badan dan konversi ransum ayam broiler.Kata Kunci : fitase, ZnO, CuSO4, performans, broile
Pengaruh Lama Penyimpanan Semen Cair Ayam Buras pada Suhu 5 0C terhadap Periode Fertil dan Fertilitas Sperma (The Storage Time Effect of The Local Chicken Chilled Semen at 5 0C on Fertility and Fertile Period of Sperm)
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana pengaruh lama penyimpanan semen cair ayam buras pada suhu 50C terhadap periode fertil dan fertilitas sperma. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan setiap perlakuan diulang 6 kali. Lama penyimpanan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penyimpanan 1 jam (0 hari), 24 jam (1 hari) dan 48 jam (2 hari). Peubah yang diukur adalah periode fertil dan fertilitas sperma. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis sidik ragam, dan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan diuji dengan menggunakan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukan bahwa lama penyimpanan semen cair ayam buras berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap periode fertil dan fertilitas sperma. Periode fertil dan fertilitas sperma ayam buras yang baik diperoleh dari penyimpanan semen cair selama 1 jam (0 hari).Kata Kunci : ayam buras, semen cair, periode fertil, fertilita
Pengaruh Inokulasi terhadap Pertumbuhan dan Produksi Hijauan Legum (Effect of Inoculation on Growth and Forage Production of Legumes)
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh inokulasi terhadap pertumbuhan dan produksi hijauan legum (Centrosema pubescens, Macroptilium atropurpureum, Pueraria javanica) yang dipotong pada umur 3 bulan. Perlakuan yang dikaji pada penelitian ini terdiri atas dua faktor yaitu: (1) inokulasi 2 macam (2) spesies legum (3 macam). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok pola faktorial dan diulang 4 kali. Peubah yang diamati meliputi tinggi tanaman dan produksi bahan kering hijauan legum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi interaksi antar perlakuan terhadap tinggi tanaman legum, tetapi tidak terjadi interaksi antar perlakuan terhadap produksi hijauan legum. Perlakuan inokulasi berpengaruh sangat nyata (P<0,01) tetapi spesies legum tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Perlakuan inokulasi berpengaruh sangat nyata (P<0,01) tetapi spesies legum tidak berpengaruh nyata terhadap produksi hijauan legum.Kata kunci : inokulasi, legum, pertumbuhan, produksi hijauan