Jurnal Ilmu Ternak
Not a member yet
353 research outputs found
Sort by
Involusi Uteri dan Waktu Estrus pada Induk Sapi Perah FH Pasca Partus (Uterine Involution and Estrus Time on Dairy Cows FH Postpartum)
Paritas merupakan suatu periode dalam proses siklus reproduksi ternak dengan indikasi jumlah partus indukternak. Feliciano,dkk, (2003) menyatakan bahwa paritas digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu: (1) nuliparous (sapi perah dara), (2) primiparous (induk sapi perah yang sudah partus satu kali) dan pluriparous/multiparous (induk sapi perah yang sudah partus lebih dari satu kali). Tujuan penelitian adalah mengetahui involusi uteri dan waktu estrus kedua pada berbagai paritas induk sapi perah Fries Holland pasca partus. Manfaat penelitian adalah untuk melengkapi informasi dalam performan sapi perah Fries Holland pada berbagai paritas induk pasca partus. Penelitian ini menggunakan rancangan klasifikasi satu arah dengan mengamati 90 ekor induk sapi perah pasca partus yang terdiri dari 30 ekor induk paritas I, 30 ekor induk paritas II dan 30 ekor induk paritas III. Data pengamatan involusi uteri dan waktu estrus dianalisis dengan General Linear Model (GLM) dan dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) untuk mengetahui tingkat signifikansi involusi uteri dan waktu estrus kedua pasca partus antar paritas induk. Hasil penelitian performan involusi uteri pasca partus dari 30 ekor induk sapi perah pada setiap paritas induk tidak menunjukkan perbedaan nyata yaitu involusi uteri paritas induk I adalah 53,10 ± 10,63 hari, paritas induk II 47,56 ± 12,64 hari dan paritas induk III adalah 48,40 ± 9,93 hari. Sedangkan performan estrus kedua pasca partus dari 30 ekor induk sapi perah pada setiap paritas induk, ternyata induk paritas I nyata berbeda (83,5 ± 25,74 hari) dibandingkan induk paritas II (68,23 ± 22,83 hari) dan induk paritas III (74,1 ± 24,75 hari). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa paritas induk I, II dan III tidak memberikan pengaruh terhadap involusi uteri tetapi berpengaruh terhadap waktu estrus kedua pasca partus.Kata kunci: induk Fries Holland, paritas, involusi uteri, waktu estru
Penggunaan Pakan Fungsional terhadap Performan Produksi dan Kualitas Telur Ayam Arab (The Use Of Functional Feed toward the Performance of Production and Quality For Arabic Chicken’s Eggs)
AbstrakTujuan penelitian pakan fungsional yang mengandung probiotik Lactobacillus dan minyak ikan lemuru (Sardinela longiceps) sebagai sumber omega-3 dilakukan untuk mengevaluasi penggunaan dan level pakan fungsional terhadap performan produksi dan kualitas telur ayam arab. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan R0 (0%), R1 (5%), R2 (10%), R3 (15 %) dan R4 (20 %). Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan pakan fungsional yang mengandung probiotik Lactobacillus dan minyak ikan lemuru sebagai sumber omega-3 dalam pakan ayam arab berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap performan produksi dan kualitas telur secara fisik. Penggunaan pakan fungsional sampai level 20 persen menghasilkan performan produksi dan kualitas telur ayam arab secara fisik yang relatif sama dan penggunaan pakan fungsional memberi peningkatan kualitas telur ayam arab secara kimiawi yaitu protein kuning telur sebesar 16,08 persen dan menurunkan lemak kuning telur sebesar 26,99 persen.Kata kunci : pakan fungsional, performan produksi, kualitas telur, ayam Ara
Bioproses Biji Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L) D.C) oleh Rhizopus oligosporus terhadap Peningkatan Protein Murni dan Penurunan Asam Sianida (Bioprocess of Winged Bean Seeds (Psophocarpus tetragonolobus (L) DC) BY Rhizopus oligosporus to Improved
Penelitian telah dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas, Non Ruminansia danIndustri Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, JatinangorSumedang. Tujuan penelitian untuk mendapatkan dosis inokulum Rhizopus oligosporus dan waktu fermentasi biji kecipir yang optimum terhadap peningkatan kandungan protein murni dan penurunan asam sianida. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola tersarang (3x3). Perlakuan terdiri atas faktor A, yaitu dosis inokulum Rhizopus oligosporus (d1=0,1% b/b, d2=0,2% b/b, dan d3=0,3% b/b) dan faktor B yaitu waktu fermentasi (w1=24 jam, w2= 48 jam, dan w3=72 jam). Faktor B (waktu) tersarang pada faktor A (dosis), masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Peubah yang diamati adalah kenaikan kandungan protein murni dan penurunan asam sianida. Hasil penelitian diperoleh bahwa dosis inokulum Rhizopus oligosporus sebesar0,2% (b/b) dan waktu fermentasi 48 jam, merupakan dosis dan waktu optimal yang menghasilkan peningkatan kandungan protein murni tertinggi, yaitu sebesar 46,90% (dari15,70% menjadi 23,06%). Adapun penurunan kandungan asam sianida tertinggi diperoleh pada dosis inokulum Rhizopus oligosporus sebesar 0,3% (b/b) dengan waktu fermentasi 72jam, yaitu sebesar 97,29% (dari 45,48 mg/kg menjadi 1,23 mg/kg).Kata Kunci : Bioproses, biji kecipir, Rhizopus oligosporus, protein murni, sianida
Pengaruh Ekstrak Biji Mangga (Mangifera indica) Sebagai Antioksidan Terhadap Cita Rasa Dan Daya Simpan Bakso (The Effect of Mango Seed Extracts (Mangifera indica) as Antioxidant on The Flavor and Shelf Life of Meat Balls)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak biji mangga terhadap cita rasa dan daya simpan bakso. Penelitian ini menggunakan 2500 g daging sapi bagian paha (otot Biceps femoris) dan ekstrak biji mangga (Mangifera indica) varieta s mangga Arumanis Metoda penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan tersebut adalah penambahan ekstrak biji mangga sebanyak 0% (A), 0,1% (B), 0,2% (C), 0,3% (D) dan 0,4% (E). Peubah yang diamati adalah cita rasa, bilangan TBA dan daya simpan bakso. Hasil penelitian menunjukkan penambahan ekstrak biji mangga dalam pembuatan bakso sangat nyata (P <0,01) menurunkan nilai TBA dan meningkatkan daya simpan bakso, tetapi tidak mempengaruhi cita rasa.Penambahan ekstrak biji mangga sebanyak 0,4 % adalah yang terbaik dalam memperpanjang daya simpan bakso daging yaitu sampai 23,25 jam.Kata kunci : biji mangga, antioksidan, cita rasa, daya simpan, baks
Peran Penyuluh dalam Proses Pembelajaran Peternak Sapi Perah di KSU Tandangsari Sumedang (The Role of Extension Agent in Learning Process Dairy Farmer in KSU Tandangsari Sumedang)
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari peran penyuluh baik sebagai pendidik maupun sebagai fasilitator di dalam proses pembelajaran peternak sapi perah anggota KSUTandangsari Kabupaten Sumedang. Penelitian dirancang sebagai penelitian survei, dengan responden sebanyak 30 peternak. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Penyuluh dinilai peternak telah tergolong cukup perannya, baik dalam perannya sebagai pendidik maupun sebagai fasilitator, (2) Hal-hal yang relatif sudah baik dari penyuluh dalam perannya sebagai pendidik adalah: dalam cara penyampaian materi, materi yang diberikan sudah berhubungan dengan pengetahuan peternak, dan tingkat kemampuan dalam menjelaskan materi, (3) Hal- hal yang dianggap masih belum dilakukan dengan baik oleh penyuluh dalam perannya sebagai pendidik adalah dalam: kelengkapan materi aspek manajemen usaha, perhatiannya terhadap kesiapan mental peternak, dan pengulangan aktivitas demonstrasi, dan (4) Hal yang dianggap sudah baik dilakukan penyuluh dalam perannya sebagai fasilitator adalah dalam hal pengenalan sumber-sumber informasi. Hal yang kurang adalah dalam hal penyediaan sarana belajar.Kata kunci: Peran penyuluh, proses pembelajara
Analisis Kelayakan Usaha Peternakan Ayam Broiler Di Kecamatan Tapin Utara Kabupaten Tapin (Feasibility Analysis of Broiler Chicken Farming at Tapin Utara Subdistrict, Tapin District)
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan besarnya biaya, penerimaan, pendapatan dan kelayakan usaha peternakan ayam broiler di Kecamatan Tapin Utara. Data didapatkan dari wawancara dengan10 orang peternak ayam broiler responden di kecamatan Tapin Utara, kabupaten Tapin. Data dianalisis dengan menggunakan analisis biaya dan R/C ratio. Hasilnya menunjukan bahwa penerimaan total rata-rata adalah sebesar Rp. 56.833.250, total biaya tetap rata-rata adalah sebesar Rp. 3.235.706, sedangkan total biaya variabelrata-rata adalah sebesar Rp. 44.208.250. Pendapatan rata-rata adalah sebesar Rp. 9.389.294. Usaha ternak ayam broiler di Kecamatan Tapin Utara telah memenuhi standar kelayakan usaha, dengan analisa R/C usaha peternak yang dijadikan Responden seluruhnya > 1 (rata-rata 1,20).Kata kunci : biaya, efisiensi, peternakan ayam broile
Identifikasi Sifat Kuantitatif Itik Cihateup sebagai Sumberdaya Genetik Unggas Lokal
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat kualitatif dan kuantitatif itik Cihateup sebagai sumberdaya genetik unggas lokal. Metode penelitian yang digunakan adalah survey di sentra peternakan itik Cihateup Kampung Cihateup Kec. Rajapolah, Provinsi Jawa Barat. Pengolahan data menggunakan analisis statistika deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan bobot telur, indeks telur, bobot day old duck (DOD) serta bobot pertama bertelur itik Cihateup berturut-turut adalah 69,34 ± 2,39 g; 81,30 ± 1,19 % (termasuk kategori normal); 45,42 ± 2,40 g; dan 2,7 ± 0,05 kg. Seleksi itik Cihateup ditempat asalnya ini telah dilaksanakan dengan ketat sehingga kemurnian itik tersebut sebagai sumber daya genetik khas Provinsi Jawa Barat dapat lestari.Kata Kunci: Itik cihateup, sifat kuantitati
Pemanfaatan Gelatin Tepung Sagu (Metroxylon sago) sebagai Bahan Pakan Ternak Ruminansia (Utilization of Sago (Metroxylon sago) Gelatin as Feed Ruminant)
Telah dilakukan penelitian pemanfaatan gelatin sagu sebagai bahan pakan ternak ruminansia. Tujuan penelitian untuk mengetahui suhu, waktu dan ratio volume air yang tepat selama pemanasan sampai terbentuknya gelatinisasi. Justifikasi terjadinya proses gelatinisasi didasarkan atas rusaknya bentuk granula yang dilihat dengan mikroskop elektron dan mikroskop polarisasi. Perlakuan yang digunakan R1 (Tepung sagu 100 gram + suhu 80 0C); R2 (Tepung sagu 100 gram + suhu 85 0C); R3 (Tepung sagu 100 gram + suhu 90 0C); R4 (Tepung sagu 100 gram + suhu 95 0C); dan R5 (Tepung sagu 100 gram + suhu 100 0C). Parameter yang diamati adalah bentuk granula sagu yang diamati menggunakan mikroskop elektron dengan pembesaran 10.000 X dan mikroskop polarisasi dengan pembesaran 400 X. Hasil penelian menunjukkan bahwa proses gelatinisasi sempurna tepung sagu (Metroxylon sago) adalah pada suhu 90 OC dengan lama proses pembentukan gelatin selama 2.05 menit dan warna eksternal coklat gelap.Kata kunci : Sagu, gelatin, warna, suh
Aspek Nutrisi dan Karakteristik Organoleptik Keju Semi Keras Gouda pada Berbagai Lama Pemeraman
Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristik keju semi keras Gouda yang meliputi kadar air (Moisture on Fat Free Basis/MFFB), kadar lemak (Fat in Dry Basis/FDB) dan protein terlarut, serta mengetahui hubungan kadar air keju dengan kekerasan berdasarkan penetrometer, juga menentukan tingkat kesukaan keju semi keras Gouda, pada berbagai lama pemeraman keju secara organoleptik. Rancangan Acak Lengkap digunakan dengan empat perlakuan lama pemeraman keju semi keras Gouda, yaitu dua, empat, enam bulan, dan keju semi keras Gouda segar sebagai perlakuan kontrol, yang masing-masing diulang lima kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air (MFFB) keju semi keras Gouda semakin menurun dengan meningkatnya lama pemeraman, yang berarti keju Gouda semakin keras. Berdasarkan overall acceptance secara organoleptik yang meliputi penampakan, warna dan konsistensi, maka diperoleh keju semi keras Gouda yang paling disukai bila dilakukan pemeraman selama dua atau empat bulan, atau keju Gouda tanpa pemeraman (fresh Gouda), yang mengandung kadar air (MFFB) dengan kisaran 48,14 - 30,62%, kadar lemak (%bahan kering=FDB) dengan kisaran 43,54 – 33,44%, dan kadar protein terlarut 9,17 – 25,26%.Kata kunci : Keju semi keras Gouda, nutrisi, karakteristik organoleptik, lama pemeraman
Interaksi Kapang dengan Fungisida terhadap Sifat Fisik Kulit Kambing Pickle dan Wet Blue Selama Penyimpanan
Penelitian bertujuan mengkaji interaksi kapang pada kulit samak setengah jadi (pickle dan wet blue) dengan fungisida terhadap sifat fisik kulit jadi (leather) selama penyimpanan. Penelitian menggunakan isolat kapang spesies Aspergillus flavus Link dan Penicillium sitophila Mont serta 6 lembar pickle dan 6 wet blue). Setiap lembar dibelah menjadi 2 side and tiap side diambil 6 potong cuplikan. Perlakuan yang diterapkan 2 jenis kulit (Pickle dan Wet Blue), 2 spesies kapang (Aspergillus flavus Link dan Penicillium sitophila Mont), 3 perlakuan fungisida (kontrol, Busan 1009 dan Dodigen 262) dan 4 waktu penyimpanan (1, 30, 60 dan 90 hari) diulang 3 kali. Hasil dianalisis dengan RAK Faktorial dengan waktu penyimpanan sebagai blok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungisida pada kulit pickle berpengaruh sangat nyata (P0,05). Fungisida dan jenis kapang pada kulit wet blue berpengaruh sangat nyata (P0,05). Kulit pickle dan wet blue yang disimpan selama 90 hari pada suhu kamar tercemar kapang Aspergillus flavus Link dan Penicillium sitophilum Mont tanpa pemberian fungisida (kontrol) memungkinkan sifat fisik (kekuatan tarik dan kemuluran) bisa dipertahankan sesuai standar SNI.Kata kunci: Kapang, Fungsida, Pickle, Wet Blu