Jurnal Ilmu Ternak
Not a member yet
353 research outputs found
Sort by
Pengaruh Perendaman Daging Itik Pada Berbagai Konsentrasi Ekstrak Kunyit (Curcuma domestika) Terhadap Warna, Rasa, Bau, dan pH (Effect of Soaking Meat Ducks at various concentrations extract Turmeric (Curcuma domestika) The color, taste, smell, and pH)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat konsentrasi ekstrak kunyit(Curcuma domestika) pada daging itik terhadap warna, rasa, bau,dan pH. Pada penelitianini, diamati konsentrasi ekstrak kunyit (Curcuma domestika) 0%, 2.5%, 5.0 dan 7.5% pada daging Itik terhadap warna, rasa, bau, dan pH. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), dimana tiap perlakuan konsentrasi ekstrak kunyit (Curcuma domestika) diulang sebanyak lima kali untuk tiap peubah yang diukur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat konsentrasi ekstrak kunyit (Curcuma domestika) pada daging itik berpengaruh nyata (P< 0.05) terhadap warna, rasa, dan bau tetapi tidak berpengaruh terhadap pH. Konsentrasi ekstrak kunyit 5% memberikan hasil optimum terhadap warna, bau, dan rasa daging itikKata Kunci : Kunyit (Curcuma domestika), daging itik, warna, rasa, bau, pH
Identifikasi Bakteri yang Dominan Berperan pada Proses Pengomposan Filtrate Pengolahan Pupuk Cair Feses Domba (Identification of Dominant Bacteria in The Composting of Filtrate of Liquid Fertilizer Making Process of Sheep Feces)
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan mengetahui bakteri yang dominan pada proses pengomposan filtrate pengolahan pupuk cair feses domba. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Peubah yang diamati adalah temperatur, pH, dan bakteri dominan pada proses pengomposan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awal proses pengomposan temperature filtrate bervariasi antara 24 – 26oC. Setelah itu, temperatur filtrate naik menjadi 40 – 45oC sampai dengan hari ke 24, kemudian turun menjadi 33oC pada hari ke 30, dan akhirnya turun menjadi 26oC pada akhir proses pengomposan. Nilai pH filtrate pada awal proses pengomposan berkisar antara pH 5,0 – 6,0 sampai dengan hari ke 14, selanjutnya pH naik sampai 8 pada hari ke 24, lalu turun menjadi7 sampai dengan akhir proses pengomposan. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri menunjukkan bahwa pada awal pengomposan terdapat dua jenis bakteri dominan, yaitu : Enterobacter sp (1012 cfu/g), dan Escherichia coli (109 cfu/g); pada tahap pertengan hanya ditemukan satu baketri, yaitu Bacillus sp (109 cfu/g); dan di akhir pengomposan muncul lagi bakteri koliform dalam jumlah sedikit, yaitu : Enterobacter sp. (106 cfu/g) dan Escherichia coli (106 cfu/g)Kata kunci : feses domba, filtrate pupuk cair, pengomposan, bakter
Perbandingan Pendapatan Peternak Sapi Bali yang Melakukan Program Inseminasi Buatan (IB) dan Tidak Melakukan Program Inseminasi Buatan (IB) di Kec. Soppeng Riaja Kabupaten Barru (Farmer Income Comparisson of AI and non-AI Programme Participants at Soppeng
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pendapatan peternak sapi Bali yang melakukan Program Inseminasi Buatan (IB) dan tidak melakukan Program Inseminasi Buatan di Kecamatan Soppeng Riaja Kabupaten Barru. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru pada bulan April hingga bulan Juni 2012. Lokasi ini dipilih karena sebagian besar peternak telah mengikuti program IB. Jumlah sampel adalah 29 orang responden. Sumber data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Data diolah secara distribusi frekuensi dan dianalisa secara deskriptif kuantitatif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah pendapatan peternak sapi Bali yang melakukan IB lebih rendah dari pada peternak yang tidak melakukan IB yaitu Rp 7.608.754,-/ekor/tahun berbanding Rp 7.697.796,-/ekor/tahun.Kata kunci: inseminasi buatan pendapatan, peternak, sapi Bali
Penggunaan Berbagai Bahan Pengikat Terhadap Kualitas Fisik Dan Kimia Pelet Hijauan Makanan Ternak (Effect Of Binder On Physical And Chemical Quality Of Grass Pellet)
Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh berbagai bahan pengikat terhadap kualitas fisik (durabilitas dan densitas) serta kimia (kandungan protein kasar dan energi) pelet hijauan makanan ternak. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan terdiri atas 3 dosis jagung (20, 30, 40 %) dari tepung hijauan, molasses (20, 30, 40 %), gaplek (20,30, 40 %) dan tapioka (20,30, 40 %), masing-masing perlakuan dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dilihat dari sifat fisiknya, molasses merupakan bahan pengikat untuk pelet hijauan yang paling baikyaitu dengan campuran 40 % dari tepung hijauan memberikan durabilitas 89,5 % dan densitas sebanyak 370,2 kg per m3, kemudian gaplek (40 %) memberikan durabilitas 85,2%, densitas 326,7 % dan jagung (40 %) yang memberikan durabilitas 85,0 % dan densitas269,0 kg per m3. Bahan pengikat dari gaplek (20 dan 30 %), tapioka (20 dan 30 %), dan jagung (30 dan 40 %), menghasilkan kandungan protein kasar pelet hijauan yang tidak berbeda nyata yaitu masing-masing 13,4 %, 12,5 %, 13,4 %, 11,8 %, 12,0 % dan 12,7 %. Kandungan energi tertinggi diperoleh dari campuran bahan pengikat tapioka 30 dan 40 %yaitu sebesar 4222 dan 4374 kkal/kg, kemudian jagung (20,30,40 %) yaitu 3580,3597 dan3790 kkal/kg.Kata kunci : Bahan pengikat, durabilitas, densitas, kandungan kimia, pelet hijaua
Kualitas Fisika Kimia Sosis Ayam dengan Penggunaan Labu Merah (Cucurbita Moschata) sebagai Alternatif Pengganti Pewarna dan Antioksidan
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan labu merah sebagai pengganti warna dan antioksidan yang didasarkan pada kualitas fisiko kimia sosis ayam. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang alternatif labu merah sebagai bahan pewarna sekaligus berfungsi sebagai pengisi (filler) dan antioksidan alami, sehingga penggunaan bahan pewarna sintetis dapat seminimal mungkin. Labu merah kukus digunakan dengan persentase 10 %, 20, % , 30 %, dan 40 %, dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan diulang 3 kali. Variabel yang diukur meliputi : tekstur, kadar air, kadar protein, kadar lemak, dan uji Organoleptik untuk melihat penerimaan konsumen. Hasil penelitian menunjukkanpenggunaan labu merah hingga persentase 40% tidak nyata ( P>0,05) terhadap tekstur, kadar air, kadar lemak, kadar protein, tetapi nyata ( P<0.01) terhadap kualitas organoleptik. Sosis ayam dengan labu merah mempunyai kisaran kadar air 65.78 -68.43 %, kadar lemak 15.73- 12.10 %, kadar protein 16.40 – 10.15 %, tekstur 64.96 -53.05 mm/g.dt, dan sesuai SNI 3820-1995. Kesimpulannya, penggunaan labu merah hingga level 20 % dapat digunakan dalam pembuatan sosis ayam, karena level tersebut mempunyai skor tertinggi terhadap penerimaan konsumen. Tetapi, tekstur terbaik pada persentase 30 % dengan skor tertinggi.Kata kunci : fisikokimia, labu kuning pewarna, antioksida
Analisis Jumlah Bakteri dan Identifikasi Bakteri pada Pupuk Cair dari Feses Domba dengan Penambahan Saccharomyces cerevisiae (Analysis of Total Bacteria and Identification of Bacteria in Liquid Fertilizer with the Addition of Sheep Feces Saccharomyces cer
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan mengetahui jumlah bakteri dan identifikasi bakteri yangterkandung pada pupuk cair dari feses domba dengan penambahan Saccharomyces cerevisiae. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode diskriptif. Peubah yang diamati adalah jumlah bakteri awal pada feses domba dan jumlah bakteri serta identifikasi bakteri pada pupuk cair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jumlah bakteri awal pada feses domba sebesar 26 x 1012 cfu/g dan jumlah bakteri pada pupuk cair dari feses domba dengan penambahan Saccharomyces cerevisiae sebesar 33 x 107 cfu/g. Bakteri yang berhasil diidentifikasi Enterobacter sp., Bacillus sp., Escherichia coli.Kata kunci : feses domba, bakteri, pupuk cair, Saccharomyces cerevisia
Analisis Biaya Transaksi Peternak Sapi Perah : Studi Kasus pada Anggota Koperasi di Kabupaten Kuningan Jawa Barat (Analysis of Dairy Farmer’s Transactions Costs: A Case Study of Cooperative Member in Kuningan, West Java)
Dairy farmers are groups of people who face problems of low levels of well-being. General school ofthought (mainstream) views the problem of poverty is caused by low productivity factor. The use of productivity approach in solving the poverty problem of dairy farmers needs to be supplemented by another approaches in terms of non-productivity factors. This non-productivity approach which is rarel yused is transaction cost approach. Starting from this, the study is carried out by transactions cost approach. This study specifically aims to analyze the structure of the cost transaction and the factors leading to the emergence of transaction costs encountered by dairy farmers members of cooperative in Kuningan West Java. Methods to determine the structure of the transaction cost is performed by analyzing farming and the factors that affect dairy farmers transaction costs were analyzed using multiple regression analysis. Analysis of the cost transaction structure showed that the dairy farmer transaction costs consist of contract cost (3.06%), welfare cost (1.51%), maintenance of livestock resources cost (56.52%), as well as milk delivery and feed or inputs search costs (38.90%). Transaction costs to revenue ratio for credit dairy farmers is 0.0279 and the ratio for independent dairy farmers is 0.0218. Meanwhile, the ratio of transaction costs to the total cost for credit dairy farmers is 0.0160 and the ratio for independent dairy farmers is 0.0146. Afterwards, based on the results of multiple regression analysis of determinants of transaction costs, independent variable of revenue and education have significant effect on the amount of transaction costs.Key words: transaction costs, dairy farmers, member of cooperative
Kualitas Mikrobiologi Kolostrum Sapi Perah FH pada Waktu Pemerahan yang Berbeda di Peternakan Rakyat (Quality Of Microbiology From Bovine Colostrum PFH On Different Time in Milking at Dairy Farm)
Kolostrum Sapi Perah merupakan cairan kuning yang dikeluarkan oleh sapi induk laktasi setelah melahirkan selama sekitar24 sampai dengan 168 jam. Kolostrum sapi perah (bovine colostrum) mengandung zat-zat aktif untuk imunitas seperti immonoglobulin dan zat antimikrobial seperti laktoferin, lactoperoksida dan lisozim, serta vitamin dan mineral, sedikit mengandung lemak, serta mikroba. Kualitas mikrobiologi kolostrum ataupun air susu sapi dapat ditentukan dengan jumlah total mikroba dengan istilah TPC (Total Plate Count) dengan satuan CFU/ml. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas mikrobiologi kolostrum sapi PFH pada peternakan rakyat pada waktu pemerahan yang berbeda. Materi yang digunakan adalah 8 ekor sapi perah PFH milik peternak anggota KUBE PSP Maju Mapan yang dideteksi akan melahirkan dan diambil sampel mulai 24 jam awal melahirkan sampai dengan 7 hari setelah melahirkan. Variabel yang diukur adalah nilai TPC setiap waktu pemerahan mulai hari 1- 7. Metode yang digunakan adalah survey dan analisa laboratorium dari setiap sampel kolostrum yang ditampung setiap hari sampai dengan 7 hari. Analisa data dengan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji BNT. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa waktu pemerahan berpengaruh terhadap kualitas mikrobiologi kolostrum sapi perah PFH di peternakan rakyat, TPC kolostrum terendah terdapat pada awal pemerahan atau hari pertama setelah melahirkan. Pada pemerahan hari ke 4 –ke -7 terkadang terjadi jumlah fuktuasi TPC dari kolosrum, sedangkan untuk waktu pemerahan ke-1 - 3 terjadi peningkatan jumlah TPC. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa kualitas mikrobilogi kolostrum sapi perah PFH di peternakan Rakyat pada sapi peternak anggota KUBE PSP Maju Mapan dengan indicator nilai TPC, menunjukkan peningkatan dengan bertambahnya hari pemerahan sampai dengan hari ke-3 dan pada hari ke -4 - 7 jumlah TPC kolostrum fluktuatif (naik dan turun), pada hari ke 7 setelah pemerahan jumlah rerata TPC kolostrum menunjukkan nilai yang tertinggi dibanding hari yang lain.Kata kunci : bovine colostrums, Total Plate Count, waktu pemerahan, PFH, peternakan sapi pera
Performa Sifat-Sifat Produksi Susu dan Reproduksi Sapi Perah Fries Holland Di Jawa Barat (Milk Production and Reproduction Performance of FH Dairy Cattle in West Java)
Penelitian mengenai sifat-sifat produksi susu dan reproduksi pada sapi perah Fries Holland (FH) di Jawa Barat, telah dilaksanakan di tiga daerah yang potensial dalam peternakan sapi perah yaitu Kabupaten Garut, Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Sukabumi yang dapat mewakili atau menggambarkankondisi peternakan sapi perah di Provinsi Jawa Barat. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari data dasar performans produksi susu dan reproduksi sapi perah FH di Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, dengan teknik penentuan peternak secara proporsional, dan pengambilan sampel peternak dan ternaknya dengan metode random sampling. Perhitungan data yang diperoleh dilakukan dengan menggunakan analisis deskripsi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan performans sifat produksi susu sapi perah FH yang terdiri atas rataan produksi susu 4185,89 ± 990,43 kg/ekor/laktasi, rataan lama laktasi 317,97 ± 26,15 hari, dan lama kering 65,93 ± 14,79 hari. Rataan sifat reproduksi yang terdiri atas kawin pertama setelah beranak 86,45 ± 20,64 hari, lama masa kosong 119,10± 31,33 hari, jumlah perkawinan perkebuntingan (S/C) 1,88 ± 0,88 kali, lama bunting 276,20 ± 7,52 hari dan selang beranak 389,60 ± 25,40 hari. Performans produksi susu maupun performans sifat reproduksi sapi perah FH yang dipelihara di daerah Jawa Barat menunjukkan nilai-nilai performans yang sudah termasuk baik, mendekati standar bangsa sapi perah FH di daerah tropis.Kata Kunci : sapi perah FH, sifat produksi susu, sifat reproduks
Produktivitas Sapi Peranakan Ongole pada Peternakan Rakyat di Kabupaten Sumedang (Productivity of Peranakan Ongole Cattle on traditional farm system in Sumedang Region)
Penelitian ini dilakukan di Sumedang, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untukmengidentifikasi kemampuan lahan berdasarkan ketersediaan pakan dan pekerja, untuk menganalisis faktor yang berpotensi untuk pengembangan sapi potong, untuk mengidentifikasi produksi sapi potong, konsumsi pakan, dan pertambahan bobot badan hadian (ADG). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua tahapan: pertama, mengidentifikasi potensi lahan untuk mengembangkan sapi potong; kedua, untuk mengetahui konsumi pakan dan ADG. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi bahan kering 3,51 kg/ekor/hari atau setara dengan 1,27% dari bobot badan. Konsumsi pakan dan peningkatan bobot badan pada Peranakan Ongole menunjukan sistem pemeliharaan pada breeding sapi yang masih tradisional. Pertambahan bobot badan harian pada Ongole Cross sebesar 0,25 kg/hari.Kata kunci : konsumsi pakan, ADG, Peranakan Ongol