Jurnal Ilmu Ternak
Not a member yet
353 research outputs found
Sort by
Viabilitas Oosit Pasca Vitrifikasi menggunakan Kombinasi Ethilen Glikol dan Dimetil Sulfoksida dengan Dua Level Konsentrasi yang Berbeda
Vitrifikasi merupakan metode kriopreservasi untuk membekukan sel secara cepat, tanpa disertai terbentuknya kristal es. Vitrifikasi dilakukan dengan menggunakan krioprotektan yang memiliki toksitas. rendah sehingga oosit dapat mempertahankan viabilitasnya. Dimetil sulfoksida (DMSO) dan ethylene glycol (EG) merupakan krioprotektan intraseluler dengan toksisitas rendah sehingga kombinasi kedua krioprotektan tersebut diharapkan dapat meningkatkan viabilitas oosit pasca vitrifikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi viabilitas oosit pasca vitrifikasi dengan menggunakan kombinasi dan DMSO dan EG pada konsentrasi yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Riset dan Bioteknologi, Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran periode September 2016-Desember 2016. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua kelompok perlakuan, yaitu media vitrifikasi dengan dua konsentrasi yang berbeda: 15% DMSO+15% EG dan media 17% DMSO+17%EG. Setelah seminggu penyimpanan, maka dilakukan proses warming untuk mengevaluasi viabiltias oosit pasca vitrifikasi. Hasil menunjukkan bahwa viabilitas oosit yang divitrifikasi dengan menggunakan 17% DMSO+17%EG nyata lebih tinggi apabila dibandingkan dengan 15% DMSO+15%EG. Kata kunci: vitrifikasi, Dimetil sulfoksida, Ethylen glikol, viabilitas oosit
Identification of Heavy Metal Plumbum (Pb) in Edible Offal
Plumbum (Pb) is a heavy metal that its presence is undesirable because it can lead to the formation of residues in animal or human body which cause health problems. Pb source can be derived from disinfectant, bedding materials, corrosion equipment, paint, animal feed, water and soil. Livestock farming is difficult to avoid Pb contamination, so it is important to do research on the identification of Pb in edible animal offal (pig liver, beef cattle tripe and lamb kidney). This research is an exploratory study on 12 samples of pig liver, 12 samples of beef cattle tripe and 12 samples of lamb kidney which sold in the traditional market in Bandung, the samples were analyzed using AAS machine at Balai Penelitian Veteriner in Bogor, data were analyzed descriptively. The results showed that 50% of beef cattle tripe contains residues of heavy metals Pb, accounted 0.98 ppm on average, while all samples of pig liver and lamb kidneys contain residues of heavy metals Pb with average residues 0.35 ppm and 0.50 ppm, respectively. This condition is safe because it below the MRL (Maximum Residue Limits) established by SNI which is 1.00 ppm
Pengaruh Waktu Inkubasi Pada Proses Sexing Sperma Berbasis Glutathione Terhadap Motilitas dan Membran Plasma Utuh Chilled Semen Domba Lokal
The aim of this study was to examine the effect of incubation time on sexing process based on glutathione to the motility and Intact Plasma Membrane (IPM) of chilled ram semen. The separation of X and Y sperm conducted by using BSA method. This research was experimental research using completely randomized design (CRD) with three treatment namely, 45 minutes (T1), 60 minutes (T2) and 75 minutes (T3). Data were analyzed using Anova followed by Duncan's multiple range test. Material used in this research was the fresh semen from ram with sperm motility ≥ 70% and 5 mM of glutathione. The result of this research showed that the highest percentage of motility in upper and bottom fraction belong to T1 (69,7% dan 68,8%), followed by T2 (66,4% dan 64,5%) and T3 (57,9% dan 57,6%). In addition, the result of this research that the highest percentage of IPM in upper and bottom fraction belong to T1(75% dan 71,3%), followed by T2 (69,9% dan 68,4%) and T3 (66,9% dan 65,5%). It can be concluded that the incubation time of 45 minute is the optimum time on sexing process based on glutathione so that the motility and IPM of chilled ram semen can be maintained.
Pengaruh Lama Perendaman dengan Menggunakan Sari Jahe Terhadap Kualitas Fisik (Daya Ikat Air, Keempukan, dan pH) Daging Domba
Daging domba umumnya dikonsumsi dalam bentuk olahan. Ketersedian daging domba dapat ditingkatkan namun daging domba dari ternak yang berumur tua masih belum dapat sepenuhnya diterima masyarakat karena dagingnya alot. Hal ini perlu diperkenalkan teknologi untuk meningkatkan kualitas fisik daging domba tersebut. Salah satunya yaitu dengan perendaman dengan menggunakan sari jahe. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai lama perendaman sari jahe pada daging domba terhadap daya ikat air, keempukan dan pH. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 3 perlakuan yaitu perendaman daging menggunakan sari jahe selama 10, 20 dan 30 menit. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 6 kali. Analisis varian digunakan untuk menentukan pengaruh lama perendaman sari jahe terhadap kualitas fisik, sedangkan perbedaan antar perlakuan digunakan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai lama waktu perendaman sari jahe pada daging domba berpengaruh nyata terhadap daya ikat dan air keempukan. Lama waktu perendaman selama 30 menit memberikan hasil yang paling optimum terhadap kualitas fisik daging domba.Kata kunci: Jahe, Daging Domba, Perendaman, Kualitas Fisi
Pengaruh Penggunaan Kombinasi Enzim Papain dan Jus Lemon Sebagai Koagulan Terhadap Kadar Air, Berat Rendemen, dan Nilai Kesukaan Fresh Cheese
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi enzim papain dan jus lemon sebagai koagulan pada pembuatan fresh cheese terhadap kadar air, berat rendemen, dan nilai kesukaan yang meliputi tekstur, rasa, warna, dan total penerimaan; serta menentukan fresh cheese yang paling disukai. Penelitian dilakukan berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan kombinasi enzim papain dengan konsentrasi tetap (0,1%) dan jus lemon dengan tiga tingkat konsentrasi 3%, 4%, dan 5%, dengan ulangan enam kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi enzim papain pada konsentrasi tetap (0,1%) dengan konsentrasi jus lemon sampai 5% pada pembuatan fresh cheese berpengaruh berbeda terhadap kadar air, dan menunjukkan penurunan kadar air dengan mengikuti pola regresi kuadratik Y = ; tetapi menunjukkan pengaruh yang sama terhadap berat rendemen. Penggunaan kombinasi enzim papain pada konsentrasi tetap 0,1% dengan jus lemon 5% menunjukkan nilai kesukaan fresh cheese yang paling disukai secara organoleptik.
Kualitas Semen Segar Sapi Bali (Bos javanicus) pada Kelompok Umur yang Berbeda
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas semen segar sapi Bali pada kelompok umur yang berbeda. Sampel yang digunakan berupa semen segar dari 8 pejantan sapi Bali di Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari Malang, Jawa Timur, terbagi menjadi 2 kelompok umur yaitu 4 dan 7 tahun. Rata-rata bobot badan sapi pada kelompok umur 4 tahun adalah 656,75±32,69 Kg, dan lingkar skrotum 27,5±1,64 cm sedangkan pada kelompok umur 7 tahun adalah 615,5±72,59 Kg dan 27,93±0,74 cm. Kualitas semen segar diamati dari 10 kali penampungan menggunakan vagina buatan. Parameter yang diamati meliputi volume (ml), pH, konsentrasi (x106/ml), motilitas (%), persentase spermatozoa hidup (L/D; %), abnormalitas primer (%) dan abnormalitas sekunder (%). Untuk mengetahui perbedaan antar 2 kelompok umur, data kualitas semen dibandingkan menggunakan t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok umur 4 dan 7 tahun masing-masing diperoleh volume 4,55±0,91 ml dan 5,18±1,58 ml, pH 6,51±0,06 dan 6,52±0,01, konsentrasi 962,30±390,50×106/ml dan 1079,00±90,56×106/ml, L/D 71,88±2,58% dan 72,02±1,35%, motilitas 68±3,11% dan 66,04±6,30%, abnormalitas primer 1,054±0,20% dan 0,93±0,14% serta abnormalitas sekunder 3,54±0,48% dan 4,24±0,31%. Volume dan abnormalitas sekunder secara statistik menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (P<0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pada kelompok pejantan sapi Bali umur 7 tahun menghasilkan volume semen dan abnormalitas sekunder lebih tinggi dibandingkan umur 4 tahun.Kata kunci: sapi Bali, pengaruh umur, kualitas semen sega
Performa Domba Lokal Jantan Yang Diberikan Tambahan Tepung Kunyit (Curcuma Domestica Val.) (Performance Of Local Sheep Male Given Additional Turmeric Flour (Curcuma Domestica))
Salah satu jenis tanaman obat yang berpotensi dikembangkan sebagai feed additive untuk meningkatkan kualitas pakan domba adalah kunyit (Curcuma domestica Val.). Tujuan penelitian untuk mengetahui dan mencari dosis tepung kunyit yang memberikan performa Domba Lokal jantan terbaik. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Domba Lokal jantan sebanyak 24 ekor, umur + 8-10 bulan dengan bobot badan + 20 kg. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan empat macam perlakuan, yaitu R0 = Konsentrat Tanpa penembahan tepung kunyit, R1 = Konsentrat dengan penambahan tepung kunyit 0,5%, R2 = Konsentrat dengan penambahan tepung kunyit 0,75%, dan R3 = Konsentrat dengan penambahan tepung kunyit 1%. Setiap perlakuan diulang sebanyak enam kali. Berdasarkan hasil analisis statistik menunjukkan bahwa penambahan tepung kunyit tidak berpengaruh nyata terhadap performa (Konsumsi, Pertambahan Bobot Badan, dan Konversi) Domba Lokal jantan (p < 0,05). Berpengaruh nyata terhadap pertambahan bobot badan, apabila menggunakan (p < 0,1). Kata kunci: Tepung kunyit, Performa, Domba Lokal janta