Jurnal Ilmu Ternak
Not a member yet
    353 research outputs found

    Modelling Growth Curves In Kampung Super Garut Chicken Fed With Pasak Bumi Meal (Euricoma longifolia Jack)

    No full text
    AbstractChicken growth will be showing a curve with certain mathematic model. The aim of this research was to predict growth curve model of kampung super garut chicken Fed With Pasak Bumi Meal (Euricoma longifolia Jack). This research used descriptive eksperimental method with 100, divided in five groups. Every groups fed with Pasak Bumi Meal in five categories is R0 (0%), R1 (0,025%), R2 (0,050%), R3 (0,075%) and R4 (0,100%). Chickens reared for 12 weeks, the collected data is body weight and body weight gain. Scatter plots data is used for estimated determination coefficient (R2), correlation coefficient (r), and standard error (SE). The results showed that; (1) addition of pasak bumi flour in ration at level 0,075% in ration resulted growth performance optimal; (2) The Gompertz model with the formula of  Y = 1965.2 exp (-3.7890e-0.1456t ) was the best model with coefficient determination (R2) of 99.94%, coefficient of correlation (r) of 99.97%, and standard error (SE) of 16.01%. (3) growth rate until 12 weeks ages still increase

    Cover

    No full text

    Kurva Produksi Telur di Awal Masa Peneluran pada Puyuh yang diberi Ransum dengan Kandungan Protein Berbeda

    Get PDF
    Penelitian bertujuan untuk mengkaji pola produksi dan aplikasi model regresi logistik produksi telur puyuh yang diberi ransum dengan level protein berbeda. Sebanyak 225 ekor puyuh didistribusikan dalam 3 perlakuan dan 5 ulangan; jumlah puyuh masing-masing ulangan 15 ekor. Perlakuan yang diberikan adalah level protein kasar (PK) dalam ransum sebesar 16,5% (P1), 18% (P2) dan 19,5% (P3). Data produksi telur diambil sejak awal peneluran pada masa adaptasi dan selama dua periode produksi telur (2×28 hari) pada masa perlakuan. Data dianalisis menggunakan program R. Perlakuan P2 dan P3 menghasilkan produksi telur yang lebih tinggi daripada P1 (P<0.05). Model logistik produksi telur puyuh menunjukkan bahwa puncak produksi tertinggi dicapai oleh P3 sedangkan rentang dan laju produksi terbesar dicapai P1. Data aktual produksi telur memiliki kesesuaian (fitness) yang tinggi (R2=0,92–0,97) dengan model logistik. Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa semakin tinggi protein kasar menghasilkan produksi telur yang tinggi. Model regresi logistik dapat digunakan untuk menganalisis pengaruh perlakuan biologis terhadap produksi telur puyuh serta memiliki kesesuaian yang tinggi dengan data aktual

    Metode Analisis Biaya Potong Pada Rumah Potong Hewan di Kabupaten Bandung

    Get PDF
    Biaya pemotongan ternak sapi disetiap RPH ternyata berbeda-beda besaran nilai dan cara penetapannya. Pada umumnya, dasar yang digunakan adalah perbandingan terhadap harga yang berlaku di suatu wilayah. Sampai saat ini, belum diperoleh informasi yang lengkap mengenai cara analisis biaya potong yang dapat dipertanggung jawabkan.Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metode analisis biaya potong di RPH kabupaten Bandung. Metode analisis biaya pemotongan hewan di RPH yang standar diperlukan guna dapat dipertanggungjawabkan dan menimbulkan iklim kondusif bagi para pihak, terutama bagi pelaku usaha dan kegiatan pelayanan RPH itu sendiri. Konsep “kontribusi minimal dari Nilai Tambah ternak” yang diterjemahkan sebagai “biaya potong sebesar 1% dari kenaikan nilai tambah ternak” kedalam bahasa matematikaSimpulan penelitian ini adalah : Konsep “biaya potong sebesar 1% dari kenaikan nilai tambah ternak” dengan metode “kontribusi minimal dari Nilai Tambah ternak”, dapat digunakan sebagai pedoman bagi penetapan retribusi RPH sapi potong. Metode ini dapat dikembangkan dan digunakan bagi ternak kerbau, kuda, kambing, domba juga Unggas dengan didahului oleh penelitian yang lebih spesifik bagi masing-masing komoditi ternak tersebut

    Pengaruh Silase Sinambung Jerami Jagung Terhadap Fermentasi Dalam Cairan Rumen Secara In Vitro

    Get PDF
    Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan silase sinambung jerami jagung terhadap, nilai pH, volatile fatty acid (VFA), amonia (NH3), produksi gas total dan produksi biomassa mikroba sebagai pakan ternak ruminansia secara in vitro. Rancangan percobaan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap Pola Faktorial 3x6 dengan 3 ulangan. Faktor pertama dalam rancangan penelitian ini adalah pakan perlakuan yaitu pakan kontrol (P1), jerami jagung (P2) dan silase sinambung jerami jagung (P3) dan faktor kedua adalah waktu inkubasi selama fermentasi in vitro yaitu 0, 2, 4, 6, 12 dan 24 jam (T1, T2, T3, T4, T5 dan T6). Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik pakan perlakuan maupun waktu inkubasi tidak memberikan pengaruh yang nyata (p>0,05) terhadap nilai pH, VFA, NH3, produksi gas total dan produksi biomassa mikroba serta tidak terdapat interaksi antara perlakuan pakan dengan waktu inkubasi. Secara numerik, kisaran pH perlakuan adalah 6,89 - 7,05; konsentrasi VFA sebesar 107–110 mM, konsentrasi amonia 23,92 – 29,88 mg/100 ml, produksi gas total sebesar 27,47 – 46,31 ml/200 mg dan produksi biomassa mikroba sebesar 40,60 – 56,80 mg/20 ml. Kesimpulan pada penelitian ini adalah baik jerami jagung maupun silase sinambung jerami jagung dapat digunakan sebagai pakan ternak karena mampu memenuhi kebutuhan nutrisi ternak ruminansia ditinjau dari produksi gas dan fermentasi pakan dalam rumen.Kata kunci: silase sinambung jerami jagung, amonia, VFA, produksi gas in vitro

    Performan Ayam Sentul Fase Developer yang Diberi Berbagai Tingkat Tepung Kunyit (Curcuma domestica, Val) Sebagai Imbuhan Pakan

    Get PDF
     Penelitian ini dilaksanakan di kandang Test Farm Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran, dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung kunyit (Curcuma domestica Val)    dalam ransum sebagai feed aditif terhadap performan ayam Sentul Debu periode developer.  Penelitian ini mengunakan 60 ekor ayam sentul betina umur 16 minggu  yang di tempatkan kedalam 20  unit kandang dan tiap kandang terdiri dari 3 ekor.  Metoda percobaan adalah eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap , terdiri atas empat perlakuan ransum dengan lima ulangan.   Perlakuan terdiri dari R0= Ransum basal, R1 = Ransum basal ditambah  tepung kunyit 0,1%, R2 = Ransum basal ditambah tepung kunyit 0,2% dan R3 = Ransum basal ditambah tepung kunyit 0,3%.  Peubah yang diamati adalah konsumsi ransum, umur pertama bertelur, dan bobot ayam saat pertama bertelur.   Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa penambahan  tepung kunyit dalam ransum memberikan pengaruh   yang   nyata terhadap konsumsi ransum,     bobot badan awal bertelur dan umur dewasa kelamin.  Kesimpulan dari penelitian adalah penambahan tepung kunyit hingga 0,3% dapat diberikan pada   ransum  ayam sentul periode developer  sebagai feed additive

    Cover

    No full text

    Pengaruh Pemberian Silase Campuran Indigofera sp. dan Rumput Gajah Pada Berbagai Rasio terhadap Kecernaan Serat Kasar dan BETN Pada Domba Garut Jantan

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasio terbaik Indigofera sp. dan Rumput Gajah dalam bentuk silase yang menghasilkan kecernaan serat kasar dan BETN tertinggi pada Domba Garut jantan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan lima perlakuan. Ransum perlakuan terdiri atas silase campuran Indigofera sp. dan Rumput Gajah dengan berbagai rasio yaitu T1 (0% dan 100%), T2 (10% dan 90%), T3 (20% dan 80%), T4 (30% dan 70%), dan T5 (40% dan 60%) serta pada tiap perlakuan ditambahkan Konsentrat dalam jumlah yang sama. Setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. Data hasil penelitian diolah menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian pemberian silase campuran Indigofera sp. dan Rumput Gajah memberikan pengaruh terhadap kecernaan serat kasar, namun tidak memberikan pengaruh terhadap kecernaan BETN pada Domba Garut jantan. Silase campuran Indigofera sp. 20% dan Rumput Gajah 80% menghasilkan nilai kecernaan serat kasar tertinggi

    Kemampuan Serbuk Serai (Cymbopogon citratus) Menekan Peningkatan Total Bakteri dan Keasaman (pH) Dendeng Domba Selama Penyimpanan

    Get PDF
    Serai memiliki potensi sebagai bahan alami untuk menekan peningkatan bakteri dendeng domba, karena senyawa aktifyang dikandung serai, yaitu tanin, flavonoid, minyak essensial, alkoloid, dan saponin bersifat antibakteri, sehingga berimplikasi dihambatnya peningkatan pH.  Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Pengolahan Produk Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran dengan tujuan untuk mengetahui dan mendapatkan konsentrasi serbuk serai yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan peningkatan pH dendeng domba. Penelitian dilakukan secara eksperimen menggunakan Rancangan tersarang (nested), yaitu waktu (awal penyimpanan dan seminggu penyimpanan) yang tersarang dalam 4 konsentrasi serai, yaitu 0,5%, konsentrasi serai 1,0%, konsentrasi serai 1,5%, dan konsentrasi serai 2%. Setiap perlakuan mendapat pengulangan 5 kali. Analisis sidik ragam digunakan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi serbuk serai terhadap pH dan total bakteri dendeng domba, untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan digunakan Uji Jarak Berganda Duncan. Konsentrasi bubuk serai tidak berpengaruh terhadap pH dan total bakteri dendeng daging  domba Waktu dalam konsentrasi bubuk serai berpengaruh terhadap pH dan total bakteri, kecuali waktu dalam konsentrasi bubuk serai 1,5% tidak berpengaruh terhadap pH dendeng daging domba

    Identifikasi Morfometrik Sperma Domba Lokal sebagai Dasar Aplikasi Sexing Sperma

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ukuran-ukuran sperma berdasarkan metode morfometrik sebagai dasar aplikasi sexing sperma pada Domba Lokal. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 20 ekor Domba Lokal yang ditampung semennya dan dibuat preparat differensial. Pengamatan morfometrik sperma dilakukan di bawah mikroskop pembesaran 10x40 menggunakan aplikasi DP2BSW. Parameter yang diamati meliputi ukuran panjang, lebar dan luas kepala sperma serta panjang ekor sperma. Pengukuran dilakukan terhadap 70 sd 200 sel sperma untuk setiap parameter. Data yang diperoleh dihitung nilai minimum, maksimum dan standar deviasi dari setiap parameter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sperma memiliki rataan panjang minimum 6,85±0,40 μm dan maksimum 10,27± 0,51μm; rataan lebar kepala sperma minimum 3,76±0,43 μm dan maksimum 6,71±0,43 μm; rataan luas kepala sperma minimum 23,28±2,90 μm2 dan maksimum 59,30±4,33 μm2; rataan panjang ekor sperma minimum 36,74±6,73 μm dan maksimum 69,53±3,42 μm. Berdasarkan hasil-hasil pengukuran tersebut, diketahui bahwa sperma Domba Lokal memiliki ukuran minimum dan maksimum yang selanjutnya dapat diidentifikasi sperma pembawa kromosom X dan Y serta proporsinya. Disimpulkan bahwa hasil morfometrik sperma Domba Lokal dapat dijadikan dasar untuk sexing sperma pada Domba Lokal. Kata kunci:  panjang, lebar, luas kepala sperma, panjang ekor

    301

    full texts

    353

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu Ternak
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇