Jurnal Ilmu Ternak
Not a member yet
353 research outputs found
Sort by
Pengaruh Penggunaan Limbah Kubis dalam Silase Ransum Komplit Berbasis Limbah Tebu Terhadap Kecernaan Bahan Kering, Bahan Organik dan VFA Secara In-Vitro
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecernaan bahan kering, bahan organik, dan kandungan VFA, serta mengetahui persentase penggunaan limbah kubis sebagai sumber protein terbaik pada silase ransum komplit berbasis limbah tebu secara in vitro. Metode penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok yang terdiri 4 perlakuan dan 4 kelompok pengambilan cairan rumen sebagai ulangan. Perlakuan pada penelitian ini adalah penggunaan limbah kubis dengan level berbeda yaitu 0 %, 5%, 10% dan 15% pada silase ransum komplit berbasis limbah tebu. Hasil analisis keragaman menunjukan bahwa penggunaan limbah kubis sebagai sumber protein pada silase ransum komplit berbasis limbah tebu berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kecernaan bahan kering, bahan organik, dan VFA. Persentase penggunaan limbah kubis sebagai sumber protein terbaik pada perlakuan C dengan persentase penambahan 10%. Hasil yang diperoleh kecernaan bahan kering 43.97%, kecernaan bahan organik 47.83%, dan Kandungan VFA 149.85 mM
Uji Kimia Tepung Daun Kersen (Muntingia calabura) dan Implementasinya Dalam Ransum Ayam Broiler Terhadap Nilai Kecernaan
ABSTRAKPenelitian mengenai Uji Kimia Tepung Daun Kersen (Muntingia calabura) dan Implementasinya dalam Ransum Ayam Broiler Terhadap Nilai Kecernaan telah dilaksanakan di Labroratorium Sentral Universitas Padjadjaran untuk Uji Kimia tepung daun kersen dan Uji Kecernaan di laksanakan di Kandang Prodi Peternakan Universitas Khairun, Ternate. Rancangan yang digunakan dalam penelitian yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari R0 (100% ransum komersil); R1 (2% tepung daun kersen dan 98% ransum komersil); R2 (4% tepung daun kersen dan 96% ransum komersil); R3 (6% tepung daun kersen dan 94% ransum komersil); dan R4 (8% tepung daun kersen dan 92% ransum kontrol). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis of variance (Anova) dan jika ada perbedaan di uji lanjut menggunakan uji Dunken. Penambahan tepung daun kersen dalam ransum menunjukkan (1). Uji Kimia tepung daun kerssen tinggi kandungan EM yaitu 3988 kkal/kg; Protein Kasar 12,56; Lemak 8,24% dan Serat Kasar 14,85% (2) Rata-rata nilai kecernaan bahan organik yaitu R0 (77.84%); R1 (80.29); R2 (82.46); R3 (82.19) dan R4 (76. 24) persen menunjukkan perbedaan nyata (P<0.05). (3) Rata-rata nilai kecernaan bahan kering yaitu R0 (72.52); R1 (76.80); R2 (79.56); R3 (76. 18) dan R4 (70.80) persen berbeda nyata (P<0.05). (4) Rata-rata nilai kecernaan protein yaitu R0 (70.30); R1 (73.18); R2 (73.38); R3 (72.14) dan R4 (69.24) menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05). Penggunaan tepung daun kersen dalam ransum ayam broiler sampai 6% dapat memberikan performan yang optimal.Kata Kunci : Uji kimia, daun kersen, broiler, kecernaan bahan organik, kecernaan bahan kering, kecernaan protei
The Effect of Various Additive Materials on Physical Quality and Silase Chemical Rice Chemistry (Zea mays.L)
Purpose of this study was to determine the extent from the influence of various additives on the physical and chemical quality of silage of corn straw (Zea mays. L). This study was carried out using the experimental method and Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments consisting of P0: corn straw silage without additives, P1: corn straw silage + 0.5% Heryaki powder, P2: corn straw silage + 5% cassava flour and P3: corn straw silage + 5% sago flour and 5 replications. Data on physical quality (odor, color and texture) were analyzed descriptively while chemical quality data (pH and ammonia were analyzed using ANOVA variance, followed by Duncan's Multiple Distance Test. Giving additives of Heryaki powder, cassava flour and sago flour showed good results on the physical quality of corn straw silage (sour smell, brownish green and texture does not clot) and has a significant effect on honey and ammonia
Potensi disinfektan sebagai sediaan kebiri kimiawi pada ternak
Kastrasi kimiawi dapat digunakan sebagai alternatif dari kastrasi terbuka. Tujuan dari penelitian ini untuk menguji potensi bahan kimia disinfektan sebagai sediaan bahan kimia untuk kastrasi pada mencit. Penelitian ini menggunakan zat aktif disinfektan sebagai material kastrasi kimiawi pada mencit. Mencit dibagi menjadi 7 kelompok: kloroxylenol 4,8% (C4, n=4), povidon iodin 10% (P10, n=4), kloroxylenol 2,4% dan povidon iodin 5% (C2P5, n=4), kloroxylenol 1,2% dan povidon iodin 2,5% (C1P2, n=4), sodium hipoklorit (N5, n=4), NaCl 0.9% (N, n=4), dan akuadestilata (A, n=3). Disinfektan sebanyak 0,2 mL diinjeksi pada masing-masing testis pada setiap kelompok. Daya hidup mencit setelah kastrasi kimiawi pada kelompok perlakuan C4, C2P5, C1P2, kontrol A, dan kontrol N berada diantara 25-100%. Populasi mencit mati 100% dalam 24 jam pada kelompok perlakuan P10 dan sodium hipoklorit. Kastrasi kimiawi menggunakan disinfektan menyebabkan penurunan ukuran testis; perubahan profil eritsosit, limfosit relatif, neutrofil relatif; dan menyebabkan struktur anekhoik pada jaringan testis 7 hari setelah kastrasi kimiawi. Kombinasi kloroxylenol 1,2% dan povidon iodin 2,5% dapat digunakan sebagai agen kastrasi kimiawi pada mencit
The Correlation Between The Role of Leadership with Business Success of Cattle Farmers Grouo (Case On Group Farmers SPR Kahuripan, Tegalwaru District, Purwakarta Regency)
The research about the correlation between the role of leadership and business success of cattle farmers group was at members of cattle farmers group at Tegalsari village and Warung Jeruk village on SPR’s programme, District Tegalwaru, Purwakarta Regency. The aims of this research was to : (a) know the role of leadership the cattle farmers group at group of livestock Mekarjaya and Tegalsaluyu, (b) know the level bussines success of cattle farming at group of livestock Mekarjaya and Tegalsaluyu, and (c) to know the correlation between the role of leadership and business success of cattle farmers group on SPR’s programme at Mekarjaya and Tegalsaluyu’s groups. The method of research was survey with the technic sampling was proportional random sampling, in order to obtain thirty respondents. The data was analyzed by using rank Sperman correlation. The result of research showed that: 1) The role of leadership on farmer livestock Mekarjaya and Tegalsaluyu groups belong to good category. 2) the business success of cattle farming at group of livestock Mekarjaya and Tegalsaluyu belong to fair category. 3)There was positive strong correlation between the role of leadership with business success of cattle farmer group (rs= 0.87).
Kualitas Mikrobiologi dan Fisikokimia Dendeng Sapi yang Ditambahkan Simplisia Serbuk Jahe Merah
Dendeng adalah produk olahan pangan dari daging segar yang berasal dari ternak melalui penambahan-penambahan bumbu tradisional dan dikeringkan sebelum siap dikonsumsi, dendeng banyak diantara masyarakat mengolahnya dengan berbagai variasi penambahan bumbu khusus selain bumbu-bumbu tradisional lainnya, salah satunya dengan penambahan simplisia serbuk jahe merah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan mikroba dan kualitas fisikokimia dari dendeng sapi yang ditambahkan simplisia serbuk jahe merah pada level yang berbeda. Variabel yang diamati terdiri atas jumlah bakteri (total plate count, Escherichia coli, dan Staphylococcus aureus), sifat fisik (kondisi fisik (pH dan aktifitas air), dan analisis sifat kimia (kandungan malonaldehida dan antioksidan). Rancangan dalam penelitian ini menggunakan desain rancangan acak kelompok 5 perlakuan penambahan persentase pemberian simplisia serbuk jahe merah sebesar 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20% dengan 3 periode pembuatan yang berbeda. Hasil penelitian dari jumlah bakteri menunjukkan hasil yang berbeda nyata pada pengujian TPC (P<0,05) dengan setiap peningkatan perlakuan terjadi penurunan jumlah bakterinya, sedangkan pada pengujian Escherichia coli dan Staphylococcus aureus memiliki nilai yang negatif, kemudian hasil pada pengujian sifat fisik dan kimia menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05) baik pada pengujian nilai pH, aktifitas air, malonaldehida, dan antioksidan pada setiap perlakuannya. Dengan penambahan simplisia serbuk jahe merah, dendeng sapi memiliki aktifitas mikroba yang masih aman untuk dikonsumsi dan aktifitas fisikokimia masih dalam standar yang ditetapkan
Efek Level Tanin pada Proteksi Protein Tepung Keong Mas (Pomacea canaliculata) terhadap Fermentabilitas dan Kecernaan in vitro
Strategi pemenuhan asupan protein dalam rangka peningkatan produktivitas ternak ruminansia, selain berasal dari protein mikrobial (protein endogeneous) maka juga diperlukan protein exogenous melalui asupan pakan. Pakan berprotein tinggi umumnya berasal dari hewan. Keong mas berpotensi sebagai sumber protein hewani, akan tetapi protein tersebut perlu diproteksi agar tidak didegradasi oleh mikroba rumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek level tanin pada proteksi protein tepung keong mas terhadap profil fermentabilitas dan kinerja kecernaan secara in vitro. Penelitian in telah dilaksanakan dengan metode Rancangan Acak Lengkap empat perlakuan, meliputi perlakuan P0 = 0% tanin, P1= 1,5% tanin, P2= 3,0% dan P3= 4,5% tanin masing-masing diulang lima kali. Analisis in viro telah dilakukan untuk mengukur fermentabilitas melalui indikator produksi konsentrasi NH3 dan total VFA, serta analisis terhadap kecernaan bahan kering dan organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentabilitas tepung keong yang diproteksi tanin pada level 1,5% menurun, sedangkan kecernaannya meningkat. Disimpulkan bahwa tanin mampu melindungi protein tepung keong mas terhadap degradasi mikroba rumen. Kata kunci : keong mas, tanin, fermentabilitas, kecernaan, in vitr
Pengaruh Level Suhu Mesin Tetas Terhadap Daya Tetas dan Bobot Tetas Telur Puyuh Padjadjaran
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh level suhu mesin tetas terhadap daya tetas dan bobot tetas day old quail (DOQ) puyuh Padjadjaran. Penelitian secara eksperimental, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), 3 level suhu diulang sebanyak 7 kali. Level suhu mesin tetas terdiri atas T1 = 37,0 , T2 = 37,5 , dan T3 = 38,0 °C. Parameter yang diamati adalah daya tetas telur dan bobot tetas DOQ. Data penelitian diolah menggunakan analisis sidik ragam dan apabila memberikan hasil yang signifikan, dilanjutkan dengan Uji Duncan. Hasil penelitian memperlihatkan level suhu mesin tetas 37,5°C selama masa inkubasi menghasilkan daya dan bobot tetas DOQ puyuh Padjadjaran yang optimal
Traditional methods of processing livestock feed to reduce antinutrient factor content: a brief review
Anti-nutrients or anti-nutritional factors may be defined as those substances generated in natural feedstuffs by the normal metabolism of species and by different mechanisms. Anti-nutritonal factors are substances which either by themselves or through their metabolic products, interfere with feed utilization and affect the health and production of animal or which act to reduce nutrient intake, digestion, absorption and utilization and may produce other adverse effects Removal of undesirable components is essential to improve the nutritional quality of livestock feed and effectively utilize their full potential as ruminants feed ingredient. It is widely accepted traditionally methods that simple and inexpensive processing techniques are effective methods of achieving desirable changes in the composition of forage, legume and grain. Chopping, grinding, soaking, roasting, germination and chemical treatment could improve the quality of feed because of the reduce, removal or inactivation of some anti-nutritional factors. Traditional methods, both single and combination, have been proven capable of working by small-scale farmers in developing countries and can reduce the operational costs of processing feed ingredients to reduce ANF content and improve the quality of nutritional value.Keywords : anti nutritional factors, feedstuffs, traditionally methods, inexpensiv