Jurnal Ilmu Ternak
Not a member yet
353 research outputs found
Sort by
Pengaruh Penambahan Molases Pada Proses Ensilase Terhadap Kualitas Silase Jerami Ubi Jalar (Ipomoea batatas)
Abstrak,Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan molases pada proses ensilase yang menghasilkan kualitas silase jerami Ubi Jalar (Ipomoea batatas) terbaik berdasarkan nilai pH, konsentrasi asam laktat dan N-Ammonia, serta senyawa nitrogen bukan protein. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap, perlakuan yang diuji adalah persentase penambahan molases sebanyak 0%, 1 %, 2 %, 3 % dan 4 % pada proses ensilase, setiap perlakuan diulang 4 kali. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam dan uji Beda Nyata Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan molases sampai 4 % pada proses ensilase menghasilkan kualitas silase jerami Ubi Jalar yang baik, ditunjukkan oleh nilai pH sebesar 3,62 dengan peningkatan kandungan asam laktat mencapai 1,84 % yang terjadi pada penambahan molases sebesar 3 %, namun mengalami penurunan pada perlakuan penambahan molases sebanyak 4 %, penurunan kandungan N-ammonia mencapai 3,56 mM/liter, dan senyawa nitrogen bukan protein 0,32 %. Dengan demikian, molases sebagai karbohidrat mudah larut dapat ditambahkan pada proses ensilase jerami Ubi Jalar sebanyak 3 % dari berat substrat untuk mempercepat terbentuknya asam laktat sehingga derajat keasaman pada substrat dapat diturunkan dan kerusakan zat makanan dalam jerami ubi jalar dapat dihindarkan.Kata Kunci : Molases, ensilage, kualitas, silase, jerami, ubi jalar
Pengaruh lama fermentasi dan pemberian aditif molases atau lumpur kecap terhadap fermentabilitas dan kandungan protein kasar silase rumput gajah cv. taiwan
Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh lama fermentasi dan pemberian aditif molases atau lumpur kecap terhadap fermentabilitas dan kandungan protein kasar silase rumput Gajah cv. Taiwan. Dua puluh empat unit percobaan rumput Gajah yang homogen dialokasikan secara acak ke dalam 8 macam perlakuan lama fermentasi yaitu 3, 6, 9, dan 12 minggu dengan menggunakan aditif molasses dan lumpur sawit sebanyak 5%. Data yang telah terkumpul dilakukan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan mempengaruhi kandungan asam laktat dan ammonia silase (P<0,05), namun tidak berpengaruh nyata terhadap nilai pH dan protein kasar. Asam laktat tertinggi (P<0,05) diperoleh pada perlakuan penggunaan lumpur sawit pada lama fermentasi 3 minggu, sedangkan nilai ammonia tertinggi (P<0,05) diperoleh pada perlakuan penggunaan lumpur kecap pada lama fermentasi 12 minggu. Semakin lama fermentasi akan semakin meningkat kadar ammonia. Kesimpulan, menunjukkan bahwa jenis aditif dan lama ensilase memberikan pengaruh terhadap kandungan asam laktat dan ammonia namun tidak terhadap nilai pH dan protein kasar. Hubungan antara lama waktu dengan kadar ammonia/N-NH3adalah pada penggunaan molasses y=0,4094x+3,0083, R² = 0,8927, r = 0,945, sedangkan lumpur kecap y = 0,3156x + 3,4167, R² = 0,6487, r = 0,805
Pengaruh Lama Pengukusan terhadap Suhu Gelatinisasi, Retensi Bahan Kering dan Energi Metabolis Tepung Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) pada Ayam Broiler
ABSTRAKPenelitian untuk mengetahui suhu gelatinisasi dan retensi tepung ubi jalar (Ipomoea batatas L.) pada ayam broiler akibat pengukusan dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas Non Ruminansia dan Industri Makanan Ternak Universitas Padjadjaran Jatinangor. Ubi jalar diberi empat perlakuan, yaitu tanpa pengukusan, dan pengukusan selama 15, 30, dan 45 menit. Suhu gelatinisasi tepung umbi ubi jalar diukur menggunakan Pertens Rapid Visco Analizer. Pengukuran retensi bahan kering dan energi metabolis ransum dilakukan dengan metode koleksi total. Ayam pedaging strain Cobb sebanyak 20 ekor yang berumur 5 minggu ditempatkan pada 20 kandang individu yang terbuat dari kawat dengan ukuran 55 x 35 x 60 cm. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa suhu gelatinisasi ubi yang dikukus nyata berbeda (P0,05). Retensi bahan kering, energi metabolis (EM), dan energi metabolis terkoreksi nitrogen (EMn) pada pengukusan selama 15 menit semuanya nyata lebih tinggi (P0,05) dari ubi jalar yang dikukus. Pengukusan selama 15 menit cukup untuk meningkatkan retensi ubi jalar.
Pengaruh Pemberian Indigofera zollingeriana dan Mineral terhadap Kadar Kalsium Darah dan Susu Sapi Perah
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Indigofera zollingeriana, Zinc, dan Selenium terhadap kadar kalsium darah dan susu sapi perah laktasi. Penelitian menggunakan 20 ekor sapi perah Friesian Holstein dengan usia kebuntingan 7-8 bulan dari BPPIB TSP Bunikasih. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap. Data dianalisis dengan Uji Sidik Ragam. Perlakuan terdiri dari empat perlakuan yaitu, P0 = 45% Rumput Gajah + 55% Konsentrat, P1 = 45% Rumput Gajah + 40% Konsentrat + 15% I. zollingeriana, P2 = 45% Rumput Gajah + 55% Konsentrat + 40 ppm Zn dan 0,3 ppm Se, P3 = 45% Rumput Gajah + 40% Konsentrat + 15% I. zollingeriana + 40 ppm Zn dan 0,3 ppm Se. Setiap perlakuan memiliki 5 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian I. zollingeriana, Zinc, dan Selenium tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kadar kalsium darah dan susu pada sapi perah. Kesimpulan dari penelitian bahwa pemberian I. zollingeriana, Zinc, dan Selenium tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kadar kalsium darah dan susu pada sapi perah. Selanjutnya, tidak ditemukan korelasi antara kadar kalsium darah dan susu pada minggu pertama setelah beranak (P>0,05)
PROFIL ERITROSIT AYAM BROILER YANG DIBERI PAKAN KOMBINASI TEPUNG DAUN KELOR (Moringa olifiera) DAN ONGGOK YANG DIFERMENTASI DENGAN Chrysonilia crassa
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan fermentasi onggok dan tepung daun kelor (Moringa oleifera) menggunakan Chrysonilia crassa terhadap profil eritrosit ayam broiler. Penelitian ini menggunakan 200 ekor ayam broiler strain Lohman dengan bobot awal rata-rata 46,28 ± 0,86 gram. Pakan disusun dari bahan-bahan yang diramu menjadi pakan basal yang mengandung PK 20-22% dan EM 2900-3000 kal/g. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Ransum perlakuan berupa T1 (Pakan Basal), T2 (Pakan Basal + Antibiotik 0,1%), T3 (Pakan Basal + Onggok fermentasi 20%) dan T4 (Pakan Basal + Onggok fermentasi 20% + Probiotik 0,1%) yang diberikan pada umur 8 – 35 hari. Parameter yang diukur meliputi total eritrosit, hemoglobin, hematokrit dan indeks eritrosit (Mean Corpuscular Volume (MCV), Mean Copuscular Hemoglobin (MCH) dan Mean Corpuscular Hemogblobin Concentration (MCHC)). Data yang diperoleh dianalisis keragamannya pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan fermentasi onggok dan tepung daun kelor tidak memberikan pengaruh nyata terhadap total eritrosit, hematokrit dan indeks eritrosit, namun berpengaruh sangat nyata terhadap hemoglobin. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan fermentasi tepung daun kelor dan onggok tidak mempengaruhi kadar eritrosit ayam broiler
Pengaruh Imbangan Protein dan Energi Terhadap Efisiensi Penggunaan Ransum Domba Garut Jantan Periode Pertumbuhan
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengukur nilai efisiensi penggunaan ransum yang mengandung berbagai imbangan protein dan energi (Total Digestible Nutrients) pada domba Garut jantan periode pertumbuhan. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan rancangan percobaan Rancangan Acak lengkap. Perlakuan pada penelitian ini adalah pemberian ransum domba Garut jantan periode pertumbuhan yang mengandung berbagai imbangan protein (12 %, 14 %, dan 16 %) dengan TDN (60 % dan 65 %), setiap perlakuan diulang sebanyak 4 (empat) kali. Peubah yang diukur adalah jumlah konsumsi bahan kering ransum, pertambahan bobot badan, dan konversi ransum untuk melihat tingkat efisiensi penggunaan ransum. Jumlah konsumsi bahan kering tertinggi diperoleh pada perlakuan pemberian ransum dengan imbangan 12 % protein dan 60 % TDN, yaitu 973,26 g/ekor/hari, pertambahan bobot badan tertinggi diperoleh pada perlakuan pemberian ransum dengan imbangan 16 % protein dan 65 % TDN, yaitu 114,28 g/ekor/hari, dan nilai konversi ransum terbaik diperoleh pada perlakuan pemberian ransum dengan imbangan 14 % protein dan 60 % TDN, yaitu 8,32. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ransum dengan imbangan 12 % – 16 % protein dan 60 – 65 % TDN memberikan pengaruh terhadap efisiensi penggunaan ransum, dan nilai efisiensi penggunaan ransum paling tinggi pada domba Garut jantan periode pertumbuhan diperoleh pada pemberian ransum dengan imbangan 14 % protein 60 % TDN. Kata Kunci : protein, energi, domba
Pengaruh Konsentrasi Asam Sulfat (H2so4) Terhadap Rendemen, Mutu Fisik, dan Mutu Kimia Gelatin dari Limbah Shaving Kulit Kambing Pickel
Salah satu alternatif penanganan limbah padat industri pengolahan kulit yang ekonomis dan bermanfaat adalah melalui pembuatan gelatin. Penelitian pembuatan gelatin dari limbah shaving kulit kambing pikel dengan konsentrasi asam sulfat sebagai bahan perencdam telah dilakukan dengan tujuan mengetahui pengaruh konsentrasi asam sulfat terhadap mutu kimia dan mendapatkan tingkat persentase konsentrasi asam sulfat terbaik. Penelitian dilakukan secara eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan 5 tingkat perendaman asam sulfat yaitu 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5%. Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Variabel yang diukur adalah rendemen, kekuatan gel, viskositas, kadar air, pH, dan kadar sulfit gelatin. Penggunaan asam sulfat konsentrasi 2% merupakan konsentrasi terbaik dengan menghasilkan rendemen (26,03%), viskositas (6,75 cP), kekuatan gel (53,35 g bloom), kadar air (3,91%), pH (2,84), dan kadar sulfit (292,5) mg/kgKata kunci: Asam Sulfat, Gelatin, Kulit Kambing Shaving Pickel