Jurnal THEOLOGIA
Not a member yet
    232 research outputs found

    KIDUNG RUMEKSA ING WENGI KARYA SUNAN KALIJAGA DALAM KAJIAN TEOLOGIS

    Get PDF
    Abstract: this article aim to explore of Kidung Rumeksa Ing Wengi that written by Sunan Kalijaga, one of Walisongo members (the nine saints) at Java. In this Kidung, Sunan Kalijaga discussed on the dangerof night which came from genie (jin), satan, and man. To ward off the danger, he advocated Muslims to read it at night. For this reason, for Moslem Javaneseespecially, this Kidung is recognized the most sacral and they always read it every night to get the protection from God. Abstrak: artikel ini bertujuan mengeksplorasi Kidung Rumeksa Ing Wengi yang ditulis oleh Sunan Kalijaga, salah satu anggota dari Walisongo (sembilan wali) di Jawa. Dalam Kidung ini, Sunan Kalijaga membahas tentang bahaya malam hari yang berasal dari jin, setan, dan manusia. Untuk menangkal bahaya tersebut, iamenganjurkan umat Islam untuk membacanya pada malam hari. Untuk alasan ini, bagi Muslim Jawa khususnya, Kidung ini sangat sakral dan mereka selalu membacanya setiap malam untuk mem¬peroleh perlindungan dari Tuhan. Keywords: Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Ahlu al-Sunnah wa al-Jamā`ah, Tuhan, manusia

    EPISTEMOLOGI TAFSIR AL-QURAN FARID ESACK

    Get PDF
    Abstract: Epistemologi cally speaking, Esack’s herme¬neu-tics is based on reception hermeneutics which is populer in the hand of Biblical hermenut, Fran¬cis Shcussler-Fiorenza. In this herme¬neutics, the truth of the holy books are seen in an eye of how far can the hermeneutics solve the actual human problems. This is wholly different from that of revelationist who put very huge burden on the discourse on God and how is He present and being involve in the world. Some other hermeneuts also contributed in a different level. In his hermeneutics, Esack put the three basic elements of hermeneutics namely the text-its author, inter-preters, and an on going interpreta¬tive activity itself. His basic assumption is a particular, contextual and practical inter¬pretation. In South Africa’s context, Esack tried to transform the context of oppression and dehumanization by apartheid into a critical interpretative model. This thought is based on a non prophetic human experience which is ba¬sically interpretative and socially-culturally contex¬tual. By this, it is impossible to sustain the existence of a static, universal, united and free-value interpretation. Reversally, this pursued a contextual-particular, temporal and “bias” interpretation. Abstrak: Pembicaraan secara epistemologis, hermeneutika Farid Esack berdasarkan pada hermeneutika resepsi yang populer di tangan ahli hermeneutika Biblikal, Francis Shcussler-Fiorenza. Dalam hermeneutika ini, kebenaran dari kitab-kitab suci dilihat dari sebuah pandangan sejauh mana bisa hermeneutika memecahkan persoalan-persoalan manusia aktual. Secara keseluruhan ini berbeda dari pewahyu yang meletakkan sangat besar dalam wacana tentang Tuhan dan bagaimana Dia menghadirkan dan terlibat di dunia ini. Beberapa hermeneutika yang lain juga berkontribusi pada level yang berbeda. Dalam hermeneutikanya, Esack me¬nempat¬kan tiga unsur dasar hermeneutika, yaitu pengarang teks itu sendiri, penafsir, dan berlanjut pada aktivitas interpretatif sendiri. Asumsi dasarnya adalah partikular, kontekstual dan interpretasi praktis. Dalam konteks Afrika Selatan, Esack mencoba mentransformasi konteks penindasan dan dehumanisasi oleh apartheid [politik pemisahan pen¬duduk yang bukan berkulit putih di Republik Afrika Selatan] ke dalam sebuah model interpretatif kritis. Pemikiran ini berdasarkan pada pengalaman manusia yang non profetik yang pada dasarnya merupakan konteks interpretatif dan kontekstual secara sosio-kultural. Melalui ini memungkinkan untuk mempertahankan eksistensi statik, universal, keutuhan, dan interpretasi bebas nilai. Sebaliknya, ini berlanjut ke sebuah konteks-partikular, interpretasi “bias” dan temporal. Keywords: Reception hermeneutics, Present Context, Contex-tual-practical Interpretatio

    MASHSHA’IYAH: MAZHAB AWAL FILSAFAT ISLAM

    Get PDF
    Abstract: The development of Islam in the golden age was certainly spotted by philosophy (i.e. islamic philosophy), besides having been marked by political and economic progress as well as the advance of sciences in all fields. The advance of Islamic philosophy was marked by the emergence of various thoughts called as schools of Islamic philosophy, like Masysya'iyah (Peripatesism), Isyraqiyyah (Illuminasionism), and 'Irfaniyyah (Gnosticism). The Peripatic school is distinctly characterized by its argumentative and rational emphasis, and its use of Aristotelian logic through a reliable verification. This more applicable method has accordingly made the school get more support, from either its quantity or quality, than other two schools, i.e. Isyraqiyyah and ‘Irfaniyah/Gnosticism. Abstrak: Perkembangan Islam pada zaman keemasan, selain ditandai dengan kemajuan politik dan ekonomi, juga ditandai dengan perkembangan ilmu pe¬ngetahuan dalam semua bidang, termasuk dalam bidang filsafat Islam. Kemajuan filsafat Islam ini ditandai dengan bermunculan berbagai corak pemikiran yang juga disebut dengan mazhab filsafat Islam, seperti Mashsha’iyah (Peripatesisme), Isyrāqiyyah (Illuminasionisme), dan ‘Irfāniyyah (Gnosisme). Ciri khas mazhab peripatesis ialah semangatnya yang rasional argumentatif, menggunakan logika Aristoteles dengan pembuktian yang teruji dan rasional. Cara kerja yang lebih aplikatif ini membuat mazhab peripatesis lebih mendapat dukungan yang lebih banyak secara kuantitas dan kualitas dibanding dua mazhab lainnya, yaitu Isyrāqiyyah dan Gnosisme

    HADIS PREDIKTIF DALAM KITAB AL-BUKHARI

    Get PDF
    Abstract: This study of predictive hadith in the book al-Bukhārī give results; first, that all the predictive sanad are sīngle transmission (aḥad). The predictive hadith through sīngle transmission cannot be credible when it occurs tadlīs, suspicion and ghaira ittiṣāl (not continued). Second, the predictive of matan hadith is a tradition which should not be leaned by the Prophet. However, it is learned by the companions of the Prophet. Is name is mauquf hadith, If is leaned by tabi'in or itba' tabi'in generation, it is called a maqtu’. The state of validity in matan predictive Hadith, depends on the state of the validity in sanad of Hadith. The state of avoiding disability (‘illat) of hadith sanad, is very decisive against the state on the validity of hadith matan, However, the state of validity on the hadith sanad is not necessarily a validity on the hadith matan. Therefore, some of predictive of hadith in book of Sahih al-Bukhari found disability in sanad of Hadith and in matan of hadith. In short, the direct or indirect predictive hadith in the the book of al-Bukhārī has disability ('illat), because it contains the contrary to the Qur'an, a political nature, and theological and dogmatic feud. Abstrak: Studi terhadap hadis prediktif dalam kitab al-Bukhārī ini memberi tiga hasil; pertama bahwa semua sanad predikif itu merupakan transmisi tunggal (aḥad). Hadis prediktif melalu transmisi tunggal tidak kredibel ketika terjadi tadlīs, kecurigaan, dan ghaira ittiṣāl (tidak bersambung). Kedua, bahwa matan hadis prediksi sebuah hadis yang seharusnya tidak di-marfu‘-kan kepada Nabi, tetapi merupakan hadis mauquf yang disandarkan kepada sahabat, dan maqtu‘ yang disandarkan kepada tābi‘īn atau itba‘tābi‘īn. keadaan kredibilitas matan hadis prediksi, tergantung pada keadaan kriteria sanad hadis. Kriteria terhindar dari ‘illat (cacat) pada sanad hadis adalah sangat menentukan terhadap keadaan kredibilitas matan hadis, tetapi keadaan kredibilitas pada sanad hadis tidak serta merta menjadi kredibilitas pada matan hadis. Sebagian matan hadis prediktif dalam kitab Ṣaḥīḥ al-Bukhārī mempunyai ‘illat dalam sanad hadis dan ‘illat dalam matan hadis. Matan hadis-hadis prediksi yang diteliti baik secara langsung maupun tidak langsung adalah mengandung ‘illat karena bertentangan dengan al-Quran, mengandung hal-hal yang bersifat politis, serta mengandung pertentangan teologis dan dogmatis. Keywrods: Hadis, Sunnah, Kriteria, Sanad, Matan, dan Predikti

    ILMU ḤUḌŪRĪ Khazanah Epistemologi Islam

    Get PDF
    Abstract: Knowledge of the presence (ḥuḍūrī) with mystical experience as describe above is deemed the most popular models of knowledge in Islamic philosophy at the same coloring methodology and epistemology of Islam. Through logical arguments, semantic analysis and epistemo¬logy sharp Suhrawardī considered very successfully demonstrate authenticity huduri science as a science model of non-representational. Among the classical epistemological problems that have not been resolved until now -but able to be dissected in clear and distinct- is about the relationship of subject and object of knowledge, that is the problem more acute in modern Western philosophy. What is interesting is when when to review the issues very carefully and consistently Mehdi directing and bringing the students (who interest in Islamic philosophy) into the recesses of the inner world and the dialogue with the depth of their own existence. It is undeniable that Ha'iri Mehdi Yazdi take existentialist philosophy illumination Suhrawardī and MullaṢadrā as a main reference, as he learned the lesson of Plato, Aristotle, Plotinus, Ibn Sīnā, and al-Ṭūsī, citing the idea of a number of Western philosophers were actually familiar with the science huduri that he wanted to offer. However unique, he expertly directs their ideas to the conclusion that it is inevitable for us to acknowledge the existence of non - phenomenal knowledge. Abstrak:Pengetahuan dengan kehadiran (ḥuḍūrī) dibarengai pengalaman mistik seperti yang paprkan diatas dipandang model pengetahuan yang paling populer dalam filsafat Islam sekaligus mewarnai metodologi dan epistemologi Islam. Melalui argumen-argumen logis, analisis semantik dan epistemologi yang tajam Suhrawardī dipandang sangat berhasil mendemonstrasikan keautentikan ilmu huduri sebagai sebuah model ilmu non-representasional. Diantara problem-problem klasik episte-mologis yang belum terselesaikan hingga kini—tetapi mampu dibedah secara clear dan distink—adalah tentang hubungan subjek dan objek pengetahuan, yang problemnya makin akut dalam filsafat Barat modern. Yang menarik adalah ketika ketika mengulas masalah-masalah itu Mehdi sangat cermat dan konsisten mengarahkan dan membawa para murid-muridnya (peminat filsafat Islam) memasuki relung-relung dunia batin dan berdialog dengan kedalaman eksistensi mereka sendiri. Tak dapat dipungkiri bahwa Mehdi Ha’iri Yazdi mengambil filsafat iluminasi Suhrawardī dan eksistensialis MullaṢadrā sebagai acuan utamanya, seraya memetik pelajaran dari Plato, aristoteles, Plotinus, Ibn Sīnā, dan al-Ṭūsī, mengutip gagasan sejumlah filosof Barat yang sebetulnya asing dengan ilmu ḥuḍūrī yang hendak ia tawarkan. Akan tetapi uniknya, dengan piawai ia mengarahkan gagasan-gagasan mereka kepada penarik¬an kesimpulan bahwa adalah tak terelakkan bagi kita untuk mengakui eksistensi pengetahuan non-fenomenal itu. Keywords: ilmu ḥuḍūrī, khazanah, epistemologi, cogito ergo sum, atheisme

    SIGNIFIKANSI REVITALISASI TASAWUF HAMKA DAN SAID NURSI BAGI KEHIDUPAN MASYARAKAT KONTEMPORER

    Get PDF
    Abstract: This article makes an attempt to solve problems by discussing the 20th tasawuf reformation of Hamka and Said Nursi. The academic problems are: Why did Hamka and Said Nursi reform tasawuf by returning to Al-Qur’an and Sunnah?; What are the tasawuf reformation constructions of Hamka and Nursi?; What is the relevance of their tasawuf reformation in the contemporary religious life? In order to understand, elaborate, interpret, make meanings, and reveal the relevance to the contemporary social life, this article employs historical, philosophical, and integrative-interconnectivity approaches.The article finding shows that both Hamka and Said Nursi gave constructive critics and tasawuf reformation due to the factors of conditional-contextual, internal-substantial, and spiritual drought of the 20th century Muslim society. Both Hamka and Nursi made greater attempts to do Sufism ijtihad in formulating their Sufism discourse with moderate patterns so that they could be accessed by all society levels. Therefore, this moderate tasawuf can play more positive functional roles for extensive contemporary society with all aspects. Abstrak: Artikel ini berusaha memecahkan masalah dengan mendiskusikan reformasi tasawuf abad XX yang dilakukan oleh Hamka dan Said Nursi. Persoalan akademiknya adalah mengapa Hamka dan Said Nursi mereformasi dengan kembali kepada al-Quran dan Sunnah; apakah relevansi reformasi tasawuf mereka dalam kehidupan religious kontemporer? Untuk memahami, mengelaborasi, menafsirkan, mencari makna, dan memunculkan relevansi bagi kehidupan social kontemporer, artikel ini menggunakan pendekatan-pen-dekatan sejarah, filosofis, dan interkonektivitas-integratif. Temuan artikel ini menunjukkan bahwa Hamka dan Said Nursi memberikan kritik-kritik konstruktif dan reformasi tasawuf mereka berkaitan dengan faktor-faktor kondisional-kontekstual, internal-substansial, dan kekeringan spiritual masyarakat Muslim abad XX. Hamka dan Said Nursi telah melakukan usaha-usaha besar untuk ijtihad tasawuf dalam memformulasikan wacana tasawuf mereka dengan pola-pola moderat sehingga mereka bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat. Karena itu, tasawuf moderat ini bisa memainkan peranan fungsional yang lebih positif bagi masyarakat kontemporer yang lebih luas dengan semua aspek. Keywords: sufisme, Hamka, Said Nursi, sufisme populer

    KEHIDUPAN SUFISTIK PADA PONDOK PESANTREN BIBAḤRI ‘ASFARAḤ SANANREJO, TUREN, MALANG

    Get PDF
    Abstract: The article will explore the sufi’s life at the Islamic boarding school (pesantren) Bibaḥri ‘Asfarah Sanarejo, Turen, Malang. The focus of study is the practies and how they practice to become a sufi, how their circumstance of mind when practicing, and how their circumstance of mind after practicing. The santri who never studying at the Pesantren can be divided three categories: al-Fussāq, al-Fusyl, and al-Abriyā’. The method used to a sufi’s life are mapped in two kinds of practices namely inward (bāṭiniya) and outward (lahiriya) practices. The inward practices include ṣalawat (prayer for the Prophet Muhammad pbuh), istighāṡah (mass prayer), asmā’ al-ḥusnā (reciting name of God), Yāsīn recital. The outward practices include spiritual traveling, cleaning the pesantren environment, installing paving and ornaments, making bricks, taking care of animal, becoming a sectary and treasures of the pesantren. Those inward practices are called riyāḍah (the spiritual excercise). The soul circumstances (aḥwāl) while performing those practices could be described that they feel muḥāsabah (introspective), wuṣūl (pure), happy, excited, khauf (fearful), and rajā’ (hopeful). Asbtrak: Artikel ini akan memaparkan kehidupan sufistik di Pondok Pesantren Bibaḥri ‘Asfarah Sanarejo, Turen, Malang. Fokus bahasan adalah amalan-amalan dan tata cara para santri dalam mengamalkan ajaran tasawuf sehingga mereka layak disebut sufi, keadaan jiwa selama dan setelah mereka mengamal ajaran tasawuf. Santri yang belum mondok dibagi dalam tiga kelompok: al-Fussāq, al-Fusyl, dan al-Abriyā’. Jalan yang santri tempuh menuju kehidupan sebagai sufi, antara lain, melalui pengamalan-pengamalan yang dipetakan menjadi dua jenis: pengamalan bersifat lahiriah dan batiniah. Yang termasuk pengamalan batiniah adalah pengamalan ṣalawat, istighāṡah, asmā’ al-ḥusnā, membaca surat Yāsīn; sedangkan pengamalan lahiriahnya adalah musafir, membersihkan lingkungan pondok, memasang paving dan ornament, mencetak bata, memelihara binatang, sekretaris, dan bendahara pondok. Pengamalan lahiriah ini disebut riyāḍah. Keadaan-keadaan jiwa mereka (aḥwāl) mengamalkan ajaran tasawuf akan merasakan pengalaman-pengalaman spiritual (spiritual experience) seperti muḥāsabah, wuṣūl, senang, gembira, khauf, dan rajā’. Di lain pihak, para santri yang telah mengamalkan ajaran tasawuf tersebut akan mengalami perubahan yang baru seperti merasa senang, gembira, beriman, ṣaddiq, tenteram, wuṣūl, yakin, tawaḍu’, zuhud, dan ikhlas. Keywords: al-Fussāq, al-Fusyl, al-Abriyā’, tasawuf, dan sufi

    PROFESI SEBAGAI TAREKAT

    Get PDF
    Abstract: Generally in the teachings of any religion, both divine religions such as Islam, Christianity and Judaism, or earth religions such as Hinduism, Buddhism there is a polarization between religion and economic activity. So that all activities which seeking riches is viewed negatively and not in accordance with the lofty ideals of spirituality. In the teachings of Islamic religion there is also tendency that sees economic activity as an activity that is in appropriate for a religious. By using content analysis, the studies illustrate that everyone can make his profession as a path to God. Provided that each profession held by Islamic guidance, according to the Qur'an and the Hadith. Abstrak: Dalam ajaran keagamaan secara umum, baik agama-agama samawi seperti Islam, Kristen dan Yahudi, maupun agama bumi seperti Hindu, Buddha dan lain sebagainya terdapat anti-nomi antara agama dan kegiatan ekonomi. Sehingga seluruh kegiatan yang mencari kekayaan dipandang negatif dan tidak sesuai dengan cita-cita luhur spiritualitas. Dalam ajaran Agama Islam juga terdapat tendensi yang cukup kuat yang memandang kegiatan ekonomi sebagai aktifitas yang tidak pantas bagi manusia yang taat beragama. Dengan menggunakan analisis isi (content analysis), setudi ini menggambarkan bahwa, setiap orang bisa menjadikan profesinya sebagi jalan menuju kepada Allah. Asalkan setiap apa yang menjadi aktifitas keseharianya dilaksanakan berdasarkan tuntunan Islam, sesuai dengan al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad. Keywords: profesi, wirid, al-Quran, hadis, tarekat

    NEGARA ADIL MAKMUR DALAM PERSPEKTIF FOUNDING FATHERS NEGARA INDONESIA DAN FILOSOF MUSLIM

    Get PDF
    Abstract: This article elaborates on the concept of a fair and prosperous among the Indonesian founding fathers with the Muslim philosophers. Basic concepts of the founding fathers is Pancasila in which there is the word ‘fair’. The word ‘fair’ is also a very serious discussion among Muslim philosophers. The Muslim philosophers underlined that fair is one of the basics of leadership exemplified by the Prophet Muhammad while leading the people of Madina multi-ethnic and multi-religious, and this of course is relevant to the context of Indonesia's multi-religious, multi-ethnic and multi-class. For founding fathers, desire to create a fair society and a prosperous lofty ideals and key for the Indonesian nation. Therefore, they feel how much suffering people of Indonesia as a nation occupied by foreign interchangeably. In the occupation of Indonesia was treated unfairly, and natural wealth confiscated. This goal was already thought by the Muslim philosophers. Therefore, in comparing the two is where the significance of the concept of a just and prosperous one. Abstrak: Artikel ini akan mengelaborasi konsep negara adil dan makmur antara founding fathers (Para Pendiri Bangsa) Indonesia dengan para para filosof Muslim. Asas konsep founding fathers adalah Pancasila yang di dalamnya terdapat kata adil. Kata adil juga menjadi pembahasan yang sangat serius di kalangan filosof Muslim. Para filosof Muslim menggarisbawahi bahwa adil merupakan salah satu asas kepemimpinan yang diteladankan oleh Nabi Muhammad saat memimpin masyarakat Madinah yang multi-agama, dan ini tentu saja relevan dengan konteks Indonesia yang multiagama, multi-etnik, dan multi-golongan. Bagi founding fathers, keinginan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur merupakan cita-cita luhur dan utama bagi bangsa Indonesia. Sebab, mereka merasakan betapa menderitanya bangsa Indonesia ketika dijajah oleh bangsa asing yang silih berganti. Dalam penjajahan itu bangsa Indonesia diperlakukan tidak adil, dan kekayaan alam dirampas. Keinginan seperti ini ternyata sudah pula menjadi pemikiran para filosof Muslim. Karena itu, di sinilah signifikansi membandingkan kedua konsep adil dan makmur tersebut

    MISTIK SUNAN BONANG

    Get PDF
    Abstract: This article will explain the mystical teachings of Sunan Bonang. He is a member of the Board Walisongo, which has a major role in the process of Islamization in Java. In preaching Islam, he is not only a cultural approach, but by creating songs and gending; he is also very closely related to the mystical teachings. In a mystical concept, humans must do the cleaning him self well so that it can unite with God. Mystical of Sunan Bonang can not classified as pantheism, but rather based on the Shari'a. He emphatically stated that there was separation between God and man, not fused together so that it difficult to separate between them. His teachings are very common among Walisogo which is to up hold the Sufism teachings of Ahlu al-Sunnah wa al-Jamā’ah. Abstrak: Artikel ini akan menguraikan ajaran mistik Sunan Bonang. Ia adalah salah satu anggota Dewan Walisongo, yang memiliki peran besar dalam proses islamisasi di Jawa. Iatidak hanya melakukan pendekatan kultural, menciptakan tembang dan gending-gending, tetapi ia juga sangat lekat dengan ajaran mistiknya. Dalam konsep mistiknya, manusia harus melakukan pembersihan diri dengan baik sehingga bisa bersatu dengan Tuhan. Mistik Sunan Bonang bukan tergolong pantheisme, tetapi lebih berdasarkan pada syariat. Ia dengan tegas menyatakan adanya pemisah antara Tuhan dan manusia, bukan lebur menjadi satu sehingga sulit memisahkan antara keduanya. Ajaran seperti ini sudah sangat umum di kalangan Walisogo yang memang memegang teguh ajaran tasawuf Ahlu al-Sunnah wa al-Jamā’ah. Keywords: Mistik, Pantheisme, Syariat, Tuhan, Walisongo

    215

    full texts

    232

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal THEOLOGIA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇