Jurnal THEOLOGIA
Not a member yet
    232 research outputs found

    TRADISI PENULISAN DALAM PROSES TRANSFORMASI HADIS

    Get PDF
    Abstract: The Orientation of present paper to be researching and discussing on hadith transformation through writing tradition. In the early of this process, dominant paradigm in classical hadith scholars in hadith transformation based on oral tradition without writing tradition until second half century. This not without strong argument, there is hadith statement on prohibiting of hadith writing. This phenomena has impact on authenticity the materials of hadith after their codification. In historically context, writing of hadith happened in middle of conflict moslem in political and school of thought. The alleged wholesale fabrication of hadith in seen as result of the activities of group of scholars and foremost as result of interpretation from point of view of praxis. Abstrak: Orientasi dari paper sekarang ini untuk meneliti dan mendiskusikan tentang transformasi hadis sepanjang tradisi penulisan. Dalam proses awal dari proses ini, paradigma yang dominan di kalangan ulama hadis dalam transformasi hadis berdasarkan pada tradisi lisan tanpa tradisi tulis hingga paroh abad kedua. Ini bukanlah tanpa argumen yang kuat, ada pernyataan hadis mengenai larangan penulisan hadis. Fenomena berpengaruh pada otensitas material-material hadis setelah kodifikasi mereka. Dalam konteks sejarah, penulisan hadis terjadi di tengah konflik kaum Muslim di bidang politik dan mazhab pemikiran. Terjadi pemalsuan hadis besar-besaran yang dilihat sebagai hasil dari aktivitas-aktivitas kelompok ulama dan terkemuka sebagai hasil dari interpretasi berdasarkan sudut pandang praksis. Kata-kata Kunci: hadis, sunnah, al-Quran, Kutubi, ahl al-ra’y, ahl al-ḥadīṡ

    INSĀN KĀMIL: ANTARA MITOS DAN REALITAS

    Get PDF
    Abstract: Islam as a religion delivered by Muhammad saw. bin Abdullah (w.632) is based on the revelations he received from God. At the end of his age, the religion is stated as a perfect religion because it contains a description of all aspects of life (tibyanan likulli syai'). To become the most religionist in Islam, every Moslem should follow the religious way he was because he is a good example (uswatun hasanah), especially the religious rituals dimension. The implication is clear that looking for other models of religious practices except him are certainly would not be the best because there is no guarantee of truth. Over time, many factors occur in the dynamics of the history of Moslem. The values of Islam built by the Messenger have changed a lot in the society. Muhammad position as the top model has shifted into the lower one. The concept of insān kāmil (perfect man) pops out then. They are also the 'loyal followers' of the Messenger of Allah, introducing the idea of speculative-philosophical-mystical religious rituals and a very extreme and radical practice of religious rituals if measured from his norm and religious practices. Nevertheless, the mass movement of Moslem under the shadow of the perfect man considered as something between a myth and reality refer to the texts of the Quran and al-sunnah. Abstrak: Islam sebagai agama disampaikankan oleh Muhammad saw. bin Abdullah (w.632) atas dasar wahyu yang ia terima dari Tuhan. Pada usia akhir-akhir hayatnya, agama ini dinyatakan sebagai agama yang sempurna karena memang mengandung penjelasan semua aspek kehidupan (tibyanan likulli syai’). Untuk menjadi agamawan yang paling baik di dalam Islam, setiap muslim supaya mengikuti cara ia ber¬agama karena ia adalah contoh yang baik (uswatun hasanah), khususnya dimensi ritual keagamaan. Implikasinya mencari model praktik-praktik keberagamaan selain beliau tentu tidak akan menjadi yang paling baik karena tidak ada jaminan kebenarannya. Seiring perjalanan waktu, banyak faktor terjadi dalam dinamika sejarah umat Islam.Nilai-nilai yang dibangun oleh pembawa Islam pun banyak yang berubah. Posisi Muhammad saw. sebagai top model dalam beragama tergeser pada peringkat yang lebih rendah. Konsep insān kāmil bermunculan. Mereka yang juga ‘pengikut setia’ Rasulullah, memper¬kenalkan gagasan spekulatif-filosofis-mitis dan praktik ritual keagamaan yang sangat eks¬trim dan radikal jika diukur dari norma dan praktik keberagamaan beliau. Meski¬pun demikian, gerakan massal umat Islam di bawah bayang-bayang insān kāmil yang jika ditimbang dengan neraca teks-teks al-Quran maupun al-sunnah dapat dinyatakan sebagai sesuatu antara mitos atau realitas. Keywords:uswatun hasanah, penggeseran nilai, insān kāmil, praktik keberagamaan, mitos

    KERUSAKAN LINGKUNGAN: EPISTEMOLOGI SAINS ISLAM DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA

    Get PDF
    Abstract: This article examines the challenges of environmental degradation and arguing to retun back to the Quran as a search of epistemological foundation of science and a necessary strong foundation in managing the balance of carrying for the earth and environmental crisis. This study also explores the principles of Islamic in view of the environmental approach such as the understanding keywords about the God creation (Ilm-al-Khalq), which can be laid as foundations such as tawḥīd, which encourage the belief that the only the Creator with all power single, the khalifah (caliph) that empasis on man responsibility, mīzān which refers to maintaining a balance and keeping the fitrah as ordered of (human) nature in order to maintain the patterns of life and the integrity of God's creation. Abstrak: Artikel ini menguji tantangan-tantangan degradasi lingkungan dan mengajukan pendapat untuk kembali kepada al-Quran sebagai sebuah cara mencari dasar epistemologi sains dan sebuah dasar yang kuat dalam mengelola keseimbangan bagi bumi dan krisis lingkungan. Studi ini mengeksplorasi prinsip-prinsip Islam dalam memandang terhadap pendekatan lingkungan seperti adanya pemahaman kata-kata kunci tentang ciptaan Tuhan (‘Ilm al-Khalq), yang bisa ditempatkan sebagai dasar-dasar, yang mendorong keimanan sehingga hanya ada Sang Pencipta dengan kekuatan yang tunggal, sang khalifah yang menekankan pada tanggung jawab manusia, mīzān yang merujuk pada mempertahankan keseimbangan pola-pola kehidupan dan integritas makhluk Tuhan. Keywords: Islamic epistemology, science, lingkungan, khalīfah, mīzān

    KATA “ALLAH” DALAM AL-QURAN DAN ALKITAB Kajian Terhadap Pelarangan Menggunakan Kata “Allah” Bagi Selain Muslim

    Get PDF
    Abstract: This study appears due MUIS Malaysia ban the use of the word "Allah" for the citizens is not Islam. This study examined for the purposes of the establishment of religious tolerance based on the understanding of religion. This paper seeks to explain that the word "Allah" contained in the Qur'an and the Bible, by limiting the study of the Qur’an and the Bible, to formulate the concept of "Allah" who became God for Muslims. This study found that the word "Allah" though not derived from Arabic, he eventually became part of the Arabic language of the Koran. He also became the name of God for Muslims. Furthermore, the authors found that in addition to Muslims, Christians and Jews may use the word "Allah" to indicate their God. When a Christian used to indicate the name of Jesus, it is also allowed as a form of tolerance. As the infidels Quraish mention sculpture as a means of worshiping God. Abstrak: Kajian ini muncul akibat pelarangan MUIS Malaysia dalam penggunaan kata "Allah" bagi warga bukan Islam. Kajian ini dikaji untuk keperluan tegaknya toleransi beragama berdasarkan pe¬mahaman agama. Tulisan ini berupaya menjelaskan bahwa kata "Allah" tertuang dalam Al-Quran dan Alkitab, dengan membatasi telaah pada Al-Quran dan Alkitab, merumuskan konsep "Allah" yang menjadi Tuhan bagi Muslim. Penelitian ini menemukan bahwa kata "Allah" walau bukan berasal dari bahasa Arab, ia akhirnya menjadi bagian dari bahasa Quran yang Arab. Ia juga menjadi nama Tuhan bagi umat Islam. Lebih jauh lagi, penulis menemukan bahwa selain Muslim, umat Nasrani dan Yahudi boleh menggunakan kata "Allah" untuk me-nunjukkan Tuhan mereka. Bila seorang Kristiani meng-gunakannya untuk menunjuk¬kan nama Yesus, itu juga dibolehkan sebagai wujud toleransi. Sebagaimana kaum kafir Quraisy me¬nyebutkan patung sebagai sarana me-nyembah Allah. Keywords: Allah, Al-Quran, Alkitab, God, Islam, Kristen

    LIBERASI TEOLOGI DI IRAN PASCA-REVOLUSI: Telisik Pemikiran Abdul Karim Soroush

    Get PDF
    Abstract: This paper will discuss the identity struggle and discourse of thought in the Islamic world, especially in the Islamic civilization and culture of Iran. That is, by trying to explain various religio-philosophical discourse presented by Soroush to restore Iranian civilization from an identity crisis, psychological deterioration, to the ontological dislocation that have obscured the authenticity of existential society. This paper will also explain why Soroush calls for new directions in theology and Islamic political discourse, particularly in Iran, which is supported by various philosophical discourse. By involving the philosophy of science (epistemology) in understanding human religiosity, Soroush philo­sophical thought also necessitates a new perspective of looking at reality, both the reality of individual, social, or global.Abstrak: Tulisan ini akan mengurai pergulatan identitas dan wacana pemikiran di dunia Islam, khususnya di kancah peradaban dan kebudayaan Iran. Yaitu de­ngan berusaha menjelaskan pelbagai wacana filsafat-keagamaan yang di­ketengah­kan Soroush untuk memulihkan peradaban Iran dari krisis identitas, keterpurukan psikologis, hingga dislokasi ontologis yang telah mengaburkan otentisitas eksistensial masyarakatnya. Tulisan ini juga akan menjelaskan mengapa Soroush menghendaki adanya arah baru dalam diskursus teologi dan politik Islam, khususnya di Iran, yang ditopang oleh pelbagai wacana filosofis. Dengan melibatkan filsafat ilmu (epistemologi) dalam memahami religiusitas manusia, pembacaan Soroush juga meniscayakan suatu perspektif baru dalam memandang realitas, baik realitas individual, sosial, maupun global

    FILSAFAT CINTA MUHAMMAD IQBAL

    Get PDF
    Abstract: In the academic world, Iqbal is known as a poet, philosopher, sufism, historian, and politician. The professions which he elaborated could reach the peak levels in their respective fields of life. In addition to his character, the concept he introduced and the reflection of his life were not only a synergy with Islamic law that derived from the Qur'an and As Sunnah, but also indeed both codices that leads his way of life. Due to these facts, he was dubbed as greatest Mujaddid in 20-th century.One of the concepts that makes him well recognized is the concept of love as expressed in a series of poems and was described as' ishq. 'Ishq is given from birth as God's grace by which will be cultivated and tested during the life to encounter all forms of humanity impairment leading to the perfection of life with the title 'the perfect Man’. Inside there is a blend of love and sense of intellect, love and reason, vision and power that are manifested in acts of prayer and work of scientists, and crystallized in the life of mysticism and scientism. Abstrak:Dalam dunia akademik, Iqbal dikenal sebagai penyair, filosof, sufisme, sejarawan, dan politikus. Profesionalisme yang ia tekuni mencapai tingkat puncaknya di atas masing-masing bidang kehidupan ini, di samping karakternya, baik level konseptual maupun refleksi hidupnya, bukan hanya sinergi dengan syariat Islam yang bersumber kepada Al-Quran dan sunnah Rasululillah, melainkan memang kedua naskah kuno itulah yang menuntun jalan hidupnya.Pantas kalau ia digelari mujaddidterbesar di abad 20.Satu diantara konsep yang menjadikan ia memperoleh nama besar adalah konsepnya tentang cinta yang diungkap dalam rangkaian puisi dan ia sebutnya sebagai ‘isyq. ‘Isyq diperoleh sebagai bawaan lahir dari rahmat Tuhan yang dengannya dipupuk dan diuji dalam medan kehidupan sambil menepis segala bentuk pelemahkan kemanusian menuju ke-sempurna-an hidup dengan predikat ‘the perfect Man’. Di dalamnya berpadu antara cinta dan akal intelek, love and reson, vision and power yang diwujudkan dalam tindak shalat dan kerja ilmuwan, dan mengkrital dalam kehidupan mistisime syar’i Keywords: cinta, intelek, the Perfect Man, khalīfah Allāh, waḥdah al-wujūd

    BERTUHAN TANPA AGAMA?

    Get PDF
    Manusia adalah makhluk misterius, karena dibekali fakultas akal yang bisa melahirkan pemikiran-pemikiran yang sangat menge-jutkan penalaran awam. “Against religion, why we should try to live without it? “, “Spirituality yes, organized religion no “, “God is dead “ dan be¬la¬¬kangan “Bertuhan tanpa agama" adalah contoh-contoh pemi¬kir¬an yang dilahirkan oleh manusia lewat fakultas akal yang dimilikinya itu. Contoh-contoh itu bisa diambil nilai po¬sitif¬nya yaitu ba¬gaimana menjadikan agama resmi yang di¬peluk manusia ini fungsional untuk kebaikan ma¬nusia. Agama harus mem¬bawa kebaikan bagi peme¬luk¬nya khususnya dan manusia umum¬nya, kare¬na agama haki¬kat¬nya adalah ajaran-ajaran berupa petunjuk-petunjuk yang misinya mem¬ba¬ha¬gia¬kan manu¬sia. Sebab kalau tidak diambil nilai posi¬tifnya, pernyataan-pernyataan seperti itu akan mem¬buat para agamawan keba¬karan jenggot. Demi¬kian juga, pernyataan-pernyataan tersebut harus dipahami secara filosofis karena per¬nyataan-per¬¬nyataan ter¬sebut dalam dunia filsafat merupakan hal yang abash-absah saja. Kata Kunci: Impossible being, necessary being, al-Iktinah, eksis¬ten¬¬sialisme, Prima Caus

    MENYOAL KESENJANGAN ANTARA DAS SOLLEN ISLAM DENGAN DAS SEIN PRAKSIS KEHIDUPAN KAUM MUSLIMIN

    Get PDF
    Abstract:This paper embarks from the question why the valuable Islamic ethics cannot be ethos grounded in the nation-state Muslim majority country-including in Indonesia? Phenomena such as the majlis taklim, majlis dhikr, interest pilgrimage exceeds the quota, the Islamic banking activity is equally excited, is real. However, it is not enough. Muslims should master the science, economics, and the strategic role of national politics. Islamic ethics is Dassollen, the Muslims condition is DasSein. ProphetMuḥammad has abled to unite Das sein andDassollenin his life, because Islam hasbecomehis bloodso that he is a mirror and store front of Islampar excellence. Muslims, as his follower, not been able todo like him. Al-Amir ArsalanSyākib, Muḥammad ‘Abduh, MohammadIqbal, Muḥammadal-Ghazālī, Ḥassan Ḥanafihavetried to formulatehow tobridge the gapbetween Das sollenandDasSein forMuslims. Theyhave adeep concern about thewide gapbetweenDasSeinpraxis in life of Muslims with DassollenIslamicteachings in slogan ya’lu walā yu’la ‘alaih. Whileatthe same timetheyseehowthe berufethos of Calvinismcouldencouragethe ethos ofmoderncapitalismto its adherentsin Western Europe, a Zen Buddhistethoscouldpushthe Japaneseintothe Asiantigers, andspirit Confucius encouragethe Korean peopleintothe Asiandragon. Abstrak:Tulisan ini berangkat dari pertanyaan mengapa etika Islam yang adiluhung itu tidak bisa membumi menjadi etos bangsa di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim–termasuk di Indonesia. Fenomena seperti majlis taklim, majlis zikir, minat menunaikan ibadah haji melebihi kuota, aktivitas perbankan syariah tak kalah bersemangat, adalah nyata. Namun, itu tidak cukup. Umat Islam seharusnya lebih dari itu dalam penguasaan ilmu pengetahuan, ekonomi, dan peran strategis politik kebangsaan. Etika Islam itulah Das Sollen, keadaan kaum Muslimin itulah Das Sein. Muhammad Rasulullah telah mampu menyatukan Das Sein dan Das Sollen dalam hidupnya. Hal itu dikarenakan Islam telah menjadi darahnya sehingga beliau adalah cermin dan etalase Islam par excellence. Kaum Muslimin, sebagai pengikutnya, belum mampu berbuat seperti uswah mereka itu. Al-Amir Syakib Arsalan, Muhammad Abduh, Mohammad Iqbal, Muhammad al-Ghazali, Hassan Hanafi telah berusaha menformulasikan bagaimana menjembatani jurang pemisah antara Das Sollen dan Das Sein kaum Muslimin itu. Semuanya itu karena didorong oleh keprihatinan melihat betapa dalam dan menganganya jurang antara Das Sein praksis kehidupan Umat Islam dengan Das Sollen ajaran Islam yang ya’lu wa lā yu’lā ‘alaih itu. Sementara di saat yang bersamaan mereka melihat betapa etos beruf Calvinisme bisa mendorong etos Kapitalis¬me modern bagi pemeluknya di Eropa Barat, etos Buddha Zen bisa mendorong bangsa Jepang menjadi macan Asia, dan spirit Konfucian (Kong Hu Cu) mendorong bangsa Korea menjadi dragon Asia. Keywords:filsafat Islam, dialektika sirkular, etika Islam, filsafat Iqra’, Das Sollen, dan Das Sein

    LEGALITAS RIWAYAT ASBĀB AL-NUZŪL Telaah historis konteks turunya ayat al-Quran

    Get PDF
    Abstract: Asbāb al-Nuzūl (occasions of revelation) is event becoming background send down the verse of the Quran. Scope solution of Asbāb al-Nuzūl only relating to event degrading of the verse of the Quran especially in event relation and word expression, that include texts or materials. This science is very importance in order to interpret the verses of the Quran. This is not mean that it is to generalize interpretation entire verses of the Quran with Asbāb al-Nuzūl, because there is not all verses of the Quran send down with Asbāb al-Nuzūl. But, for the verses of the Quran have Asbāb al-Nuzūl, that its interpretation is more authentic. Abstrak: Asbāb al-Nuzūl adalah peristiwa yang menjadi latar belakang turunnya ayat al-Quran. Ruang lingkup pembahasan Asbāb al-Nuzūl hanya berkaitan dengan peristiwa diturunkannya ayat al-Quran terutama dalam hubungan peristiwa dan ungkapan kata, baik teks ayat, maupun redaksi ayat. Ilmu ini sangat penting dalam rangka menafsirkan ayat-ayat al-Quran. Hal ini bukan berarti menggeneralisasi keharusan menafsirkan seluruh ayat al-Quran dengan Asbāb al-Nuzūl, karena tidak semua ayat al-Quran turun disertai dengan Asbāb al-Nuzūl. Akan tetapi bagi ayat-ayat al-Quran yang memiliki Asbāb al-Nuzūl, maka penafsirannya akan lebih otentik. Kata-kata Kunci: asbāb al-nuzūl, ‘ulūm al-Qur’ān, ilmu Ma‘ānī dan Ilmu Bayān, Nabi Muḥammad, dan sahabat

    TEOLOGI KEMANUSIAAN STUDI ATAS PEMIKIRAN ALI SYARIATI

    Get PDF
    Abstak:Kontribusi Ali Syari’ati dalam melakukan revolusi intelektual dikalangan kaum terpelajar Iran, menjelang revolusi fisik 1979, diakui sangat besar pengaruhnya dimana bibit-bibit untuk melakukan revolusi memang sudah ia tanamkan jauh sebelumnya. Adapun ciri khas tulisan-tulisan dan ceramah-ceramah Syaria’ti adalah ”menggerakkan”. Ia memang seorang cendekiawan sekaligus ulama Islam yang tidak suka melihat status quo, kemandekan dan kejumudan. Salah satu tema sentral gagasan Syari’ati adalah keberpihakannya yang begitu besar kepada kaum yang lemah dan tertindas, sekaligus upayanya yang begitu keras untuk mengeluarkan kaum tersebut dari ketertindasan dan kebodohan, sebagaimana yang akan dibahas dalam artikel ini. Kata kunci: teologi, kemanusiaan, rausanfikr, kaum tertindas, pergerakan

    215

    full texts

    232

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal THEOLOGIA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇