Jurnal THEOLOGIA
Not a member yet
    232 research outputs found

    INTEGRASI HERMENEUTIKA DAN TAFSIR Pembaharuan Metodologi Tafsir

    Get PDF
    Abstract: Renewal of interpretation method require to continue remember to the number of novelty which emerge and not yet been met in a period of the Messenger of God (Rasūl Allāh), friend of ṡe Messenger, and the next generation. Beside, growth of science obliging ṡe understanding of al-Quran also use the sciences utilize to open contents exist in depth so that problems which not yet been “read” in that Holy Book texts can comprehend by people in this time. One other require to be considered is to take things which either from method of hermeneutic to be integrated with interpretation method, though part of it refuse with reason of feebler visible. This article will elaborate integration of hermeneutic with interpretation and some assumed the example more relevant for context nowadays and can be made by alternative interpret choice. Abstrak: Pembaharuan metode tafsir perlu terus dilakukan mengingat banyaknya hal-hal baru yang muncul dan belum ditemui di masa Rasul, sahabat dan generasi berikutnya. Di samping itu, perkembangan ilmu pengetahuan yang mengharuskan pemahaman al-Quran juga menggunakan ilmu-ilmu tersebut guna menguak kandungan-kandungan yang ada di dalamnya sehingga persoalan-persoalan yang belum “terbaca” dalam teks-teks Kitab Suci itu bisa dipahami oleh umat saat ini. Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah mengambil hal-hal yang baik dari metode hermeneutika untuk diintegrasikan pada metode tafsir, meskipun sebagiannya menolak dengan alasan yang tampak lebih lemah. Tulisan ini akan menguraikan integrasi hermeneutika dengan tafsir dan beberapa contohnya yang dianggap lebih relevan untuk kontek kekinian dan dapat dijadikan alternatif tafsir pilihan. Kata-kata Kunci: Integrasi, Tajdīd, Hermeneutik, Tafsir, al-Żikr, dan ta’wīl

    STRATEGI REGULASI EMOSI DAN PERILAKU KOPING RELIGIUS NARAPIDANA WANITA DALAM MASA PEMBINAAN Studi Kasus: Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II A Bulu Semarang

    Get PDF
    Abstract: This article aims to elaborate emotion regulation strategies and religious coping of inmates in Clas II A women’s prison of Bulu Semarang. Staying at detention center or prison definitely makes someone stress and automatically influences to their social life, health-physics, and psychic. Moreover for new inmates (unrecidivist), the effect can be worse. The new athmosphere of the jail can make them feel meaningless, useless, bore, and give up. It means they get both of physics and psychology punishment. Therefore the inmates should be able to control their emotion and be adaptive in their ‘new live’. This ability is called emotion regulation. Surely, the good ability will help them to face many kinds of stressors in their life. This study describes emotion regulation strategies and religious coping of women inmates. because as known in most of the society, the women are more sensitive than the men. The method of this research is qualitative. The Informants of this study are inmates of Clas II A women’s prison of Bulu Semarang which taken by random system. The researcher finds that the inmates will be easier to face stressors if they have good-emotion regulation. such as having positive thinking and controlling their attitude and feeling. But if they con not regulate their emotion well, they will be easy to feel anxiety, depression and distress. They are also will be more more aggresive. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengelaborai strategi regulasi emosi dan koping religius narapidana wanita dalam masa pembinaan. Hidup dalam rutan, penjara atau lembaga pemasyarakatan (Lapas) pasti menimbulkan berbagai tekanan yang akan berdampak pada kehidupan sosial, keadaan fisik dan juga psikis narapidana, apalagi bagi narapidana baru (bukan residivis). Dampak fisik dan psikologis yang dialami oleh narapidana dapat membuat mereka merasa tidak bermakna (meaningless) yang ditandai dengan perasaan hampa, gersang, bosan, dan putus asa. Konflik batin seperti perasaan sedih, menyesal, khawatir, tertekan, merasa terbatasi, rindu keluarga, jenuh dan perasaan tidak mengenakkan lainnya muncul dalam diri mereka. Ini artinya bagi sebagian besar narapidana, penjara bukan saja hukuman fisik (serba terbatas) melainkan juga hukuman psikologis. Untuk itu narapidana harus memiliki kemampuan untuk bisa mengontrol emosi mereka agar tetap efektif dan adaptif dalam tekanan, kemampuan ini disebut regulasi emosi. Kemampuan regulasi emosi yang baik tentu akan sangat membantu narapidana dalam menghadapi masa-masa yang sulit dan penuh tekanan dalam masa pembinaan. Keywords: coping religious, narapidana, stressor, hukuman psikologis, hukuman fisik

    FUNGSI TASAWUF TERHADAP PEMBENTUKAN AKHLAK (ETIKA) KERJA:Studi pada Murid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah di Kota Pontianak Kalimantan Barat

    Get PDF
    Abstract: Every adult male who works with various types of background work is a form of responsibility to provide for his family members . Observing one's work activities , this study analyzed the work activities on college institutes followers of Qadiriyah Naqsyabandiyah (QN) in Pontianak city. The research analyzes using perspective of Sociology of Religion , how functions can Sufism moral formation (ethics ) working his followers . Furthermore, this study used a qualitative approach comes with a descriptive method. Networking research data using the snowball technique in college institutes informant followers of Qadiriyah Naqsyabandiyah As-Salam and An-Nuur in Pontianak city QN flow assuming a more dominant in Pontianak. The next stage of data were analyzed using qualitative analysis. The results of the research—stageportrait of detainees practice Sufism by iḥsān; students were guided by mursyid (teacher like procession allegiance) and remembrance procession done consistently implications for morality (ethics) work has a spiritual dimension and Islamic values. Morality (ethics) refers to the working properties such as the nature of the Prophet Muhammad,ṣiddiq (right ), amanah (trust), faṭanah (intelligence) and tablīgh (sermons/promotion) which is still relevant today. When performing work activities of Qadiriyah Naqsyabandiyah (QN)followersfeel have the power within themselves so that they always feel to be watched. They are careful in their work and always maintain appropriate behavior Islamic morality . Abstrak: Setiap laki-laki dewasa yang bekerja dengan berbagai latar belakang jenis pekerjaan adalah sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk memberi nafkah anggota keluarga¬nya. Mencermati aktivitas kerja seseorang, kajian ini meng¬analisis aktivitas kerja pada pengikut perguruan tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah (QN) di kota Pontianak. Adapun pisau analisis penelitian menggunakan persfektif Sosiologi Agama, bagimana fungsi tasawuf dapat pembentukan akhlak (etika) kerja para pengikutnya. Selanjutnya penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dilengkapi dengan metode deskriptif. Penjaringan data penelitian ini meng¬gunakan teknik snow ball yakni pada informan pengikut perguruan tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah As-Salam dan An-Nuur di kota Pontianak dengan asumsi aliran QN lebih dominan di Pontianak. Tahapan selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif. Hasil penelitian mengambarkan tahapan-tahahan pengamalan tasawuf oleh ikhsan/murid yang dibimbing oleh mursyid/guru seperti prosesi bai’at (ikrar) dan prosesi zikir yang dilakukan secara konsisten berimplikasi pada akhlak (etika) kerja yang mempunyai dimensi spiritual dan nilai-nilai Islami. Akhlak (etika) kerja merujuk sifat-sifat Nabi Muhammad Saw seperti sifat ṣiddiq(benar), amanah (tangungjawab), faṭanah (kecerdasan) dan tablīgh (promosi) yang masih relevan hingga kini. Ketika melakukan aktivitas kerja para pengikut QN merasa mempunyai kekuatan spiritualdi dalam dirinya, yakni merasa selalu ada yang mengawasi. Mereka berhati-hati dalam bekerja dan selalu menjaga perilakunya sesuai akhlak Islami. Keywords: tasawuf, tarekat, akhlak, etika

    GAP ANTARA DAS SOLLEN DAN DAS SEIN ILMU-ILMU KEAGAMAAN ISLAM: Perspektif Filsafat Ilmu

    Get PDF
    Abstract: Since the Muslim Reformers launched the campaign of calling to return the glory of Islam back to Muslim people like what had been reached in classic era, the call came into nothing. The backwardness, ruin, and destruction in all aspects of life in Middle era could not have been completely overcome. The scientifical sphere which is hoped to be real means to reach the glory and get rid of these destructions,does not work as what has been hoped. Accordingly, nothing of what was mentioned by Thomas S. Kuhn as Shifting Paradigm happens, because the scientifical anomalies could not be overcome and in turn the crisis accumulates that lead to no scientifical revolution. In this case, Islamic sciences in general and Islamic religious sciences in particular do not develop. The religious sciences taught in Islamic University nowadays are those taught in classic era. The slogan of modern Islam “ the door of Ijtihad must be open ” changes that of middle era “ The door of Ijtihad must closed ” really be campaigned, but has no longer effect. Consequently, Islamic religious sciences have no relevance to their users. They taste very heavenly not worldly. That is what the writer means as the gap in Islamic sciences. Abstrak: Sejak para pemabaharu Muslim di abad 19 M mendengungkan ajakan untuk mengembalikan kejayaan Islam sebagaimana yang telah dicapai di era klasik, ajakan itu seperti belum menghasilkan apa yang diharapkan. Ke¬terpuruk¬an, keterbelakangan di berbagai bidang yang mereka sejak era pertengahan belum bisa sepenuhnya teratasi. Bidang keilmuan yang mestinya menjadi lokomotif dan garda depan untuk menggapai kejayaan yang bisa mengusir keterpurukan dan keterbelakangan tersebut, juga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pada gilirannya, tidak terjadi apa yang disebut oleh Thomas S. Kuhn sebagai Shifting Paradigm, karena anomali-anomali yang di dalamnya tidak bisa diatasi sehingga krisis menumpuk namun tidak terjadi revolusi ilmiah. Secara demikian rupa, sehingga ilmu-ilmu keislaman terutama ilmu agama menjadi mandeg. Ilmu-ilmu agama yang diajarkan di Perguruan Tinggi Agama Islam adalah juga masih yang digagas para pendahulu di era klasik. Semboyan era modern “ Pintu Ijtihad harus dibuka “ menggantikan semboyan era pertengahan “ Pintu Ijtihad Tertutup “ memang sudah dicanangkan, namun nuansanya Pintu Ijtihad itu masih terus tertutup. Akibatnya, ilmu-ilmu agama Islam seperti putus relevansi dengan masyarakat penggunanya. Ilmu-ilmu agama terasa melangit, padahal penggunanya ada di bumi. Itulah yang dimaksud dengan gap dalam ilmu-ilmu Islam

    MEMBACA AYAT-AYAT AL-QURAN DENGAN PERSPEKTIF IAN G. BARBOUR

    Get PDF
    Asbtract: This aticle aims to understand the science verses of the Quran with Ian G. Barbour perspective. To elaborate the problem, I used the qualitative research with hermeneutic analysis. There are three findings important in the research. Firstly, regarding the relation between religion and science Ian G. Barbour divided four typologies: conflict, independence, integration, and dialogue. Secondly, regarding to the Quran verses in the line with Barbour’s thought to be found that some possibilities the science explain the scientific verses of the Quran. Thirdly, with Barbour’s perspective it was found the fact that relation the Qur’an and the science were conflict, independence, and integration. Abstrak: Artikel ini bertujuan memahami ayat-ayat sains dengan perspektif Ian G. Barbour. Untuk menjelaskan masalah ini, saya menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan analisis hermeneutik. Adapun temuan yang diperoleh dari penelitian ini adalah: Pertama, dalam mengemukan hubungan antara agama dan sains, Ian G. Barbour membagi ke dalam empat tipologi (konflik, independen, integrasi, dan dialog). Ia melihat bahwa keempat tipologi ini dijumpai di kalangan saintis dan agamawan. Kedua, Berkaitan dengan ayat-ayat al-Quran yang senada dengan pemikiran Ian G. Barbour memang ditemukan adanya kemungkinan sains menjelaskan ayat-ayat ilmiah dalam al-Quran. Ketiga, dengan perspektif Ian G. Barbour, ditemukan fakta bahwa relasi al-Quran dan sains berada pada tipologi konflik, independen, dan integratif. Konflik terjadi ketika sains berbicara tentang alam yang terbebas dari campur tangan Tuhan; independensi terjadi ketika berkaitan dengan teori evolusi Darwin. Namun, integrasi terjadi juga ketika sains mampu memecahkan informasi-informasi ilmiah yang disajikan al-Quran. Keywords: al-Quran, sains, dialog, integrasi, independen

    ISLAM: MEMBENTUK SAINS DAN TEKNOLOGI

    Get PDF
    Abstract: The establishment of science-technology Islam originated from the transcendental consciousness that God acts directly provide instruction to people in his capacity as al-'Alim and al-Mu'allim al-Nās with inspiration pattern into intuition or follow the instructions of the Quran on the basis of faith in the verses relating to science-technology. God teaching techniques outlined by humans with the conceptualization, theorization, saintifikasi, and technologization the verses of Allah either paragraph quraniyyah and kauniyyah. Starting point is the establishment of science-technology read. Results of reading will get something, a concept, or a variable. Thus, the more the reading of a Muslim will increasingly have something, concepts or variables. If the reader can find the basic relationship of two or more things, concepts, variables, then he can find one unit theory. Segususan systematic theory will result in one branch of science. Human intellectual activity that knows no stopping, then starting from only one branch of science will continue to be found various kinds of science. The next route, childbirth science technology. And, science-technology school of Islam embraced the benefits of technology for the service in order to obtain marḍatillah. Abstrak: Rute pembentukan sains-teknologi Islam berawal dari kesadaran transendental bahwa Allah berperan langsung memberikan pengajaran kepada manusia dalam kapasitasnya sebagai al-‘Alim dan al-Mu’allim al-nās dengan pola pengilhaman ke dalam intuisi atau mengikuti petunjuk al-Quran atas dasar iman dalam ayat-ayat yang berkaitan dengan sains-teknologi. Teknik pengajaran Allah dijabarkan oleh manusia dengan jalan konseptualisasi, teorisasi, saintifikasi, dan teknologisasi terhadap ayat-ayat Allah baik ayat quraniyyah maupun kauniyyah. Dan, sains-teknologi Islam menganut mazhab manfaat teknologi untuk ibadah dalam rangka memperoleh marḍatillah. Keywords: konsep, teori, sains, teknologi, marḍatillah

    PINTU-PINTU MENUJU TUHAN Telaah Pemikiran Hamka

    Get PDF
    Abstract: Tauḥīd is a teaching that is most influence to galvanize the soul so strong and steadfast. Soul freedom, independence, personal, and loss of fear to face all hardships of life, the courage to face all the difficulties, so that did not differ between the living dead, the origin to seek Allah's pleasure, is the former doctrine of monotheism which rarely peerless in this life struggle manusia. This article will elaborate Hamka’s thought in aspects of divinity, which is how people can come to God with a wide variety of street or door. Hamka stated that to reach God can be reached with a variety of doors: art, philosophy, the question of the nature of life, mysticism, and the way nature. These doors have their own way in the process of finding God. By providing these doors, through which every person will surely have their own experiences with the Lord. Abstrak: Tauḥīd adalah ajaran yang sangat besar pengaruhnya bagi menggembleng jiwa sehingga kuat dan teguh. Kebebasan jiwa, kemerdekaan, pribadi, dan hilangnya rasa takut menghadapi segala kesukaran hidup, keberanian menghadapi segala kesulitan, sehingga tidak berbeda di antara hidup dengan mati, asal untuk mencari rida Allah, adalah bekas ajaran tauḥīd yang jarang taranya dalam perjuangan hidup manusia. Artikel ini berusaha mengelaborasi pemikir¬an Hamka dalam aspek ketuhanan, yakni bagaimana manusia dapat sampai kepada Tuhan dengan berbagai macam jalan atau pintu. Hamka menyatakan bahwa untuk mencapai Tuhan dapat ditempuh dengan berbagai pintu: seni, filsafat, pertanyaan hakikat hidup, tasawuf, dan jalan fitrah. Pintu-pintu ini mempunyai caranya masing-masing dalam proses menemukan Tuhan. Dengan menyediakan pintu-pintu ini, setiap orang yang melaluinya pastilah akan mempunyai pengalaman masing-masing bersama dengan Tuhan tersebut. Keywords: Cinta, seni, fitrah, falsafah, Tuhan, tauhid

    IBN MISKAWAIH Filsafat al-Nafs dan al-Akhlāq

    Get PDF
    Abstract: Ibn Miskawayh known not only in philosophy but also in other fields of scientific disciplines, such as history and Arabic literature. Even through one of his master piece, entitled Tahżīb al-Akhlāq wa Tatkhīr al-A’rāq name is becoming increasingly popular in many parts of the world. On this occasion the author deems it necessary to show the figure of Ibn Miskawayh by stressing his thoughts on the study of the study of nafs philosophy and morals. According to Ibn Miskawayh explained that between the soul and the sense that one is.That is the soul and intellectin his view can not be distinguished. Even sense to him it is one of the power of the forces that existin the soul and is a manifestation of the existence of the soul it self. Thus it can be said that there a son bagi¬nya is one proof for the existence of the soul. Abstrak: Ibn Miskawaih dikenal tidak hanya dalam bidang filsafatnya melainkan juga dalam bidang disiplin keilmuan lainnya, seperti sejarah dan sastra Arab. Bahkan melalui salah satu master piece-nya yang berjudul Tahżīb al-Akhlāq wa Tatkhīr al-A’rāq namanya menjadi semakin populer di berbagai belahan dunia. Dalam kesempatan ini penulis memandang perlu untuk menampilkan sosok Ibn Miskawaih ter¬sebut dengan stressing kajian pada telaah pemikirannya tentang filsafat al-nafs dan al-akhlak-nya. Menurut Ibn Miskawaih menerangkan bahwa antara jiwa dan akal itu satu adanya. Artinya jiwa dan akal dalam pandangan¬nya tidaklah dibedakan.Bahkan akal baginya justru merupakan salah satu daya dari daya-daya yang ada dalam jiwa dan merupakan manifestasi dari adanya jiwa itu sendiri. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa akal bagi¬nya me¬rupakan salah satu bukti bagi adanya jiwa. Keywords: akhlak, filsafat, Yunani, al-nafs, al-akhlā

    BEDIUZZAMAN SAID NURSI’S METHODOLOGY IN THE DISCOURSE OF MORAL EDUCATION IN HIS THEMATIC EXEGESIS, RASĀ’IL AL-NŪR

    Get PDF
    Abstract: This work investigates the approach used by Imam Bediuzzaman Said Nursi in the discourse on Islamic morality, and to understand his lively scriptural approach to the moral values in which it makes one’s life meaningful and purposeful. This work is aimed to highlight distinctive aspects and features of his approach and methodology used in his Qur’anic exegesis, Rasail al-Nur, which relate to the moral education. It discusses the background, the reason and the purpose behind Imam Bediuzzaman’s approach to the issue at hand. It is also important to note down that his writing is not the result of a merely intellectual enterprise, but also the living answers to problems he has personally experienced. The thesis follows library and textual analysis to address the main problematic. Hence, it concludes that it is necessary to situate Imam Bediuzzaman’s work within the context of Tauhid (Divine Unity) framework, which constitutes the background of his entire system of thought. Indeed, Imam Bediuzzaman’s approach provides a scaffold for a profound understanding and interpretation of the concept of morality and its impact on one’s life and social fabric. Abstrak: Karya ini menginvestigasi pendekatan yang digunakan oleh Imam Bediuzzaman Said Nursi dalam wacana moralitas Islam, dan untuk memahami pendekatan kitab sucinya yang cemerlang terhadap nilai-nilai moral yang membuat kehidupan seseorang bermakna dan bermanfaat. Karya ini juga dimaksudkan untuk menyoroti aspek yang khas dan berbeda dari pendekatan dan metodologi yang digunakannya dalam penafsiran al-Quran, Rasā’il al-Nūr, yang dikaitkan dengan pendidikan moral. Di sini akan dibahas tentang latar belakang, alasan dan tujuan dibalik pendekatan Imam Bediuzzaman terhadap isu tersebut. Juga, penting dicatat bahwa tulisannya bukanlah hasil dari keberanian intelektual semata-mata, melainkan jiga jawaban-jawaban langsung terhadap persoalan-persoalan yang dialaminya secara pribadi. Tesis ini mengikuti analisis pustaka dan tekstual yang difokuskan pada problematika utama. Karena itu, penting utuk menempatkan karya Imam Bediuzzaman dalam konteks kerangka Tauhid, yang merupakan latar belakang dari seluruh sistem pemikirannya. Memang, pendekatan Imam Bediuzzaman menyediakan sebuah penopang untuk sebuah pemahaman dan interpretasi yang mendalam terhadap konsep moralitas dan pengaruhnya bagi kehidupan dan sistem sosial. Keywords: the Qur’an, Rasā’il al-Nūr, New Said, moral education, and jihād

    TAKDIR DAN KEBEBASAN MENURUT FETHULLAH GÜLEN

    Get PDF
    Abstract:Destiny and free will is one of issues in Islamic theology which is still discussed by Moslem theologian up to now. This discussion has yielded some streams with its argumentation respectively. Included who intense to discuss this issue is muḥammad Fethullah Gülen. At a glance, he offers to explain the issue in his own way without following one of the streams. He introduces some key terms, like Imām Mubīn, Kitāb Mubīn, Lauḥ Maḥfūẓ, Formal or Theoretical Destiny, actual destiny. Terms are Gülen’s exclusive. The article will elaborate the explaination of Gülen relating to the destiny and free will. The purpose is to map what is he follows the streams or he has interpretation in himself. For this reason, I will spread out briefly views of theologian before, i.e. these streams of Mu’tazili, al-Asy’arite, Matūridite Samarkand dan Matūridite Bukhārā. By this way it will be seen clearly where is the position of Gülen and what is contribution of his thinking. Abstrak: takdir dan kebebasan adalah isu teologi Islam yang masih diperbincangkan oleh para teolog hingga sekarang. Perdebatan ini telah melahirkan berbagai aliran dengan pen¬dapat¬nya masing-masing. Termasuk yang juga intens mem¬bahas isu ini adalah Muḥammad Fethullah Gülen. Sekilas, ia berusaha menjelaskan isu ini dengan caranya sendiri tanpa mengikuti salah satu aliran tersebut. Ia mengenalkan be¬berapa istilah kunci, seperti Imām Mubīn, Kitāb Mubīn, Lauḥ Maḥfūẓ, takdir formal, takdir teoritis, dan takdir aktual. Istilah-istilah ini merupakan khas Gülen. Tulisan ini akan mengelaborasi penjelasan Gülen mengenai takdir dan ke¬bebas¬an tersebut. Tujuannya adalah memetakan apakah ia mengikuti aliran-aliran teologi yang sudah ada ataukah ia mempunyai pemaknaan sendiri ter¬hadap persoalan ini. Untuk alasan ini, penulis akan me¬mapar¬kan secara singkat pendapat para teolog sebelumnya, yakni aliran-aliran Mu’tazi¬lah, al-Asy’ariyah, Mātūridiyah Samarkand dan Mātūridiyah Bukhārā. Dengan cara ini akan terlihat dengan jelas di mana¬kah posisi Gülen dan apa kontribusi dari pemikirannya itu. Keywords: Imām Mubīn, Kitāb Mubīn, Lauḥ Maḥfūẓ, takdir formal, takdir aktual

    215

    full texts

    232

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal THEOLOGIA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇