Jurnal THEOLOGIA
Not a member yet
    232 research outputs found

    ISLAM RADIKAL VS ISLAM RAHMAH KASUS INDONESIA

    Get PDF
    Momentum kebebasan demokrasi memberi angin segar bagi kelompok fundamentalis-radi­kal merangsek ke tengah publik untuk menyua­ra­kan aspirasi politis-ideologisnya. Sialnya, cara, gaya, karakter atau pendekatan yang digunakan kerap berseberangan dengan iden­ti­tas dan bangunan budaya bangsa ini. Kekerasan kerap menjadi menu tidak asing lagi yang melekat dalam tubuh kelompok fundamentalis-radikal. Dengan berjubahkan agama dan atas nama agama, Islam sebagai agama  rahmah dan toleran menjadi kabur dibumi Indonesia ini, tertutupi oleh merebaknya fenomena radikali­tas dan ekstrimitas kelompok-kelompok funda­men­talis-radikal. Bukan hanya itu, logika radi­kalitas kelompok fundamentalis-radikal pun berjalan diatas logika demokrasi dan kebebasan menyuarakan pendapat, walau harus mengor­ban­kan keadaban dan keluhuran agama dan bangsa in

    KEMAJEMUKAN AGAMA MENURUT IBN AL-‘ARABI

    No full text
    Ibn al-'Arabi> considers that religious pluralism is inevitable necessities. His opinion is actually rooted in his main Sufi he achieved wah}dat al-wuju>d. With such diversity, it is not necessary to the claims of truth (truth claim) on a particular religion. All religions should live together in harmony for the worship of the same God, who is called by different names attributed to differences in the perception of God as well as differences in appearance (tajalli) of God. The understanding of causality religious diversity will make believers can appreciate the existence differences.Ibn al-‘Arabī  menganggap bahwa keberagaman agama merupakan suatu keniscayaan yang tak terelakkan. Pendapatnya tersebut sebenarnya berakar dari konsep utama pemikiran sufistik yang dicapainya yakni wah}dat al-wuju>d. Dengan keragaman tersebut, maka tidak diperlukan adanya klaim-klaim kebenaran (truth claim) pada agama tertentu. Semua agama yang ada harus hidup harmonis sebab sama-sama melakukan penyembahan kepada Tuhan yang sama, yang disebut dengan nama-nama berbeda disebabkan adanya perbedaan persepsi terhadap Tuhan dan juga perbedaan penampakan (tajalli>) Tuhan. Pemahaman terhadap kausalitas keberagaman agama akan membuat penganut agama dapat menghargai perbedaan yang ada

    PAHAM INGKAR SUNAH DI INDONESIA (STUDI TENTANG PEMIKIRANNYA)

    Get PDF
    Paham Ingkar Sunah Indonesia timbul dari ketidak tahuannya tentang status Sunah dalam beragama dan tentang fungsi Sunah  terhadap al-Qur’an. Semangat belajar mereka hanya pada  al-Qur’an. Tetapi  sayangnya mereka sangat minim penguasaan ilmu-ilmu dasar untuk memahami al-Qur’an seperti bahasa Arab,  tata bahasa dan  sastranya, ilmu-ilmu Tafsir dan lain-lain. Mayoritas  ide-ide penolakan  Sunah ditransfer dari orientalis yang sengaja meng­hembuskan di dunia Islam untuk menyesatkan umat. Inti  pandangan mereka  bahwa dalam beragama  hanyalah al-Qur’an karena kesem­pur­­naannya sedangkan Sunah atau hadis dipan­dang sebagai dongeng yang diciptakan oleh se­bagian umat Islam belakangan. Mengikuti Hadis mimicu perpecahan umat yang  meneybabkan kelemahan dan kehancuran uma

    KONTEKSTUALITAS DAN HISTORISITAS MATAN HADIS-HADIS PEPERANGAN TERHADAP NON-MUSLIM

    Get PDF
    Abstract: Some hadiths of warfare against non-Muslims often used as a reference by radical groups in carrying out their jihad actions.They do not read hadiths thoroughly and just focus on the text, regardless of the historicity and aspects of the language. Moreover, they also did not read hadiths of religious tolerance and attitudes of Rasulullah PBUH while interacting with non-Muslims. This study aims to answer the question of what is the contextual understanding of hadiths of hostility towards non-Muslim? It is library research. It uses hadiths of hostility towards non-Muslims from al-kutub al-tis’ah as a primary source and uses criticism of matan hadith as the research approach. By using content analysis method, it finds that hadiths of hostility towards non-Muslims broadly have a meaning that Rasulullah PBUH commanded to fight the polytheists who were hostile until they are willing to say two sentences creed. Thus, the hadiths intended only for non-Muslims who fight against Muslims, which they have chosen to start a fight and did not accept the way of peace. Therefore, not all of non-Muslims are worthy/ appropriate to be hostile or to be fought either. Furthermore, fighting any non-Muslims who do not fight Muslims is contrary to the texts and scholarly consensus.Abstrak: Beberapa hadis tentang perang melawan non-Muslim sering diguna­kan sebagai acuan oleh kelompok-kelompok radikal dalam melakukan tindakan jihad mereka. Mereka tidak membaca hadis secara menyeluruh dan hanya fokus pada teksnya, terlepas dari historisitas dan aspek bahasa. Selain itu, mereka juga tidak membaca hadis tentang toleransi dan sikap Rasulullah saat berinteraksi dengan non-Muslim. Penelitian ini bermaksud untuk menjawab pertanyaan; bagaimana pemahaman kontekstual hadis-hadis tentang per­musuh­an terhadap non-Muslim? Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, yang mengguna­kan hadis tentang  permusuhan terhadap non-Muslim dalam al-kutub al-tis'ah se­bagai sumber utama, dan menggunakan kritik matan hadis sebagai pendekatan penelitian. Dengan menggunakan analisis konten, Penelitian ini menemukan; hadis tentang permusuhan terhadap non-Muslim secara luas memiliki makna bahwa Rasulullah diperintahkan untuk memerangi kaum kafir yang me­musuhi sampai mereka bersedia untuk mengatakan dua kalimat syahadat. Dengan demikian, obyek  hadis tersebut ditujukan hanya untuk non-Muslim yang me­merangi umat Islam, yang mereka telah memilih untuk memulai perkelahian dan tidak menerima jalan damai. Oleh karena itu, tidak semua non-Muslim layak/ tepat untuk dimusuhi, bahkan harus diperlakukan secara baik. Di samping itu, memerangi setiap non-Muslim yang tidak memerangi umat Islam bertentangan dengan teks dan konsensus ilmiah

    DECLARATION TOWARD A GLOBAL ETHIC OF THE PARLIAMENT OF THE WORLD’S RELIGIONS AND BUILDING WORLD PEACE

    Get PDF
    Tulisan ini  membahas Etika Global Deklarasi Parlemen Agama-agama Dunia dan signifi­kan­sinya bagi penciptaan dunia yang damai, dalam pengertiannya sebagai  negative peace ataupun positive peace. Ada beberapa nilai yang harus ada dalam dunia yang damai, yaitu: non-keke­rasan, kesejahteraan ekonomi, keadilan sosial, keseimbangan ekologis, dan kesetaraan, khu­sus­­nya keseteraan gender. Nilai- nilai ini pulalah yang dipromosikan oleh Deklarasi Etika Global  yaitu, komitmen pada budaya non-kekerasan dan hormat pada kehidupan,  komitmen pada bu­daya solidaritas dan tata ekonomi yang adil, komitmen pada budaya toleransi dan hidup yang benar, dan komitmen pada budaya per­samaan hak dan kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan. Dengan demikian jelaslah signifikansi deklarasi etika global bagi upaya penciptaan dunia yang dama

    KONSEP ISLAM DAN IMAN Analisis Pemikiran Inklusivisme Muhammad Shahru>r

    No full text
    The basic question being answered in this paper is how to construct inclusiveness thinking of Muhammad Shahrur about Islam and Iman (faith) he explores from the Quran? And what are the implications of such thinking. From his depth studies of the Quran, Shahrur believes that salvation doesn't only belong to one religion or the salvation of Muslims alone but it can also be found in a religion other than Islam. Anyone who surrenders to God believes in the Day of Judgment and doing a good deed, according to Shahrur, referred to as Muslims. It does not distinguish who he was and comes from what kind of formal religion. That is the conclusion found from his thoughts about religious attitudes. Pertanyaan mendasar yang hendak dijawab dalam tulisan ini adalah bagaimana konstruk pemikiran inklusivisme Muh}ammad Shah}ru>r tentang Islam dan iman yang dieksplorasinya dari al-Quran? Dan  apa implikasi dari pemikirannya tersebut. Dari kajianya yang mendalam terhadap al-Quran, Shah}ru>r berkeyakinan bahwa keselamatan tidak hanya milik satu agama atau orang Islam saja tetapi keselamatan itu bisa pula ditemukan di dalam agama selain Islam. Siapa  saja yang pasrah kepada Tuhan beriman kepada hari akhir, dan beramal saleh, menurut Shah}ru>r, disebut sebagai seorang Muslim. Ia tidak membedakan siapa orang itu dan berasal dari agama formal apa, demikian kesimpulan yang ditemukan dari buah pikirannya tentang sikap keberagamaan

    UTOPIA KHILĀFAH ISLĀMIYYAH: Studi Tafsir Politik Mohammed Arkoun

    Get PDF
    Abstract: This paper aims to study Muhammed Arkoun’s political interpretation thought about the ideal state. He shows that each political contestation often uses religion as a legitimation of political interest. Many of discourses in Qur’an, such as old narratives of Qur’an (amtsal al-Qur’an), is often presented to modify the existing political conditions. Moreover, some of the terms of Quranic discourse, like as ‘Muslim’ or ‘Kafir’ (infidel), is always in a binary position to create sharp differences between the militant and the opposition. The Qur'anic discourses, intentionally or not, since the time of revealing of the Qur’an has been dragged into the political territory as well the theological territory, so it is able to change the profane history into the sacred story with the great power of sacralization. Although the Qur’an is within the dialectic area, some of Islamist always reduces the meaning of Qur’an to support their agenda in realizing the Islamic State (Khilafah Islamiyah). For Arkoun, that desire is a utopian politics idea and nothing more than an interpretation of religious texts. There is no agreement among the people about the ideal state concept. Therefore, Arkoun offers the concept of ideal state is if religious authorities and political authorities apply their function professionally yet integrated.Abstrak: Tulisan ini menggagas pemikiran tafsir politik Muhammed Arkoun tentang negara ideal. M. Arkoun menggambarkan bahwa dalam setiap kontestasi politik sering menyeret agama sebagai legitimasi pemangku kepentingan. Wacana-wacana dalam al-Qur’an seperti teladan-teladan kuno (amthāl al-Qur’an) sering dihadirkan untuk memodifikasi kondisi politik yang ada. Selain itu, beberapa istilah dalam wacana al-Qur’an, seperti ‘Muslim’ dan ‘kafir’, diposisikan biner untuk menciptakan perbedaan tajam antara kelompok militan dan oposan. Wacana-wacana qur’ani tersebut, dengan sengaja atau tidak, sejak masa turunnya ayat telah diseret masuk ke dalam wilayah politik sekaligus wilayah teologis, sehingga mampu mengubah sejarah yang profan menjadi kisah sakral dengan kekuasaan sakralisasi yang besar. Meskipun al-Qur’an berada dalam ruang dialektis yang bebas, oleh sebagian kelompok Islamis pemaknaan al-Qur’an direduksi dan dibawa untuk mendukung agenda mewujudkan Islamic State (negara Islam). Bagi Arkoun, keinginan tersebut merupakan gagasan politik yang utopis dan tak lebih dari sebuah interpretasi atas teks agama. Tidak ada kesepakatan di kalangan umat mengenai konsep negara ideal. Karena itu, Arkoun menawarkan konsep negara ideal adalah jika otoritas keagamaan dan otoritas politik berlaku sesuai dengan fungsinya namun tetap terintegrasi

    PEMIKIRAN ISLAM PROGRESSIF: Dua Dekade Pemikiran dan Gerakan Jaringan Islam Liberal (JIL)

    No full text
    Theologically, Islam is one (single) and absolutely true. However, historically, after being understood, and translated into the reality of life in the dimensions of space and time, Islam is not a single, but wide in variety or has plural form and manifest in at least three schools of thought, the traditional Islamic revivalist Islam (fundamentalism), and Islam liberal (progressive). Group of the Liberal Islam Network (JIL) represents the latter mindset. Although it is relatively young, only 10 years old, JIL became popular because it brings new ideas that often arouse controversy in the community. The progressive thoughts carried out by JIL concerning the four areas. First, the reformation in politics, JIL forwards the idea of secularism. Second, in the field of social reforms and civic religion, JIL brought the idea or concept of pluralism. Third, reforms in individual freedom, JIL put forward the idea of liberalism both in thought and action. Fourth, reforms in the field of women, JIL brought the idea of gender equality. These thoughts get some pros and cons in the community. Some denounce and condemn it, but others appreciate and support it. In such an atmosphere, JIL continues to grow as a progressive Islamic thought and movements in Indonesia.Secara teologis, Islam adalah satu (tunggal) dan mutlak benar. Namun, secara historis, setelah dicoba dihayati, dipahami, dan diterjemahkan dalam realitas kehidupan dalam dimensi ruang dan waktu, Islam tidak tunggal, tetapi beragam alias plural yang mewujud dan mengejawantah setidak-tidaknya dalam tiga aliran pemikiran, yaitu Islam tradisional, Islam revivalis (fundmentalisme), dan Islam liberal (progresif). Kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL) mewakili pola pemikiran yang terakhir. Meski usianya relative muda, baru 10 tahun, JIL menjadi popular karena mengusung pemikiran-pemikiran baru yang sering memunculkan kontroversi dalam masyarakat. Pembaharus pemikiran yang diusung JIL menyangkut empat bidang. Pertama, pembaruan dalam bidang poiitik. Di sini, JIL mengedepankan gagasan sekularisme. Kedua, pembaruan dalam bidang social agama dan kemasyarakatan. Di sini, JIL mengusung ide atau konsep pluralisme. Ketiga, pembaruan dalam kebebasan individu. Dalam hal ini, JIL mengedepankan gagasan liberalism baik dalam berpikir maupun bertindak. Keempat, pembaruan dalam bidang perempuan. Di sini JIL mengusung ide kesetaraan gender. Pemikiran pembaharuan JIL ini mendapat pro dan kontra dalam masyarakat. Sebagian mencela dan mengecamnya, tetapi sebagian lagi memberi apresiasi dan mendukungnya.Dalam suasan semacam itu, JIL terus tumbuh sebagai pemikiran dan gerakan Islam progresif di Indonesia

    TAFSIR AYAT-AYAT KASIH SAYANG DALAM MASYARAKAT PLURAL

    Get PDF
    Islam sangat menghargai harkat kemanusiaan universal, menganjurkan hidup dengan damai dan saling menyayangi. Melakukan  kekerasan dan pembunuhan terhadap seorang manusia tanpa ada alasan yang benar, sama halnya dengan telah membunuh manusia sejagat. Namun, di tengah riuhnya tuntutan tersebut, muncul para­doks: yaitu intensitas ritual keagamaan menjadi sangat romantik dan marak, namun dalam kehi­dup­an sehari-hari belum mampu melahirkan ke­sa­lehan diri, apalagi kesalehan sosial. Ke­hi­dup­an beragama tampak meriah dalam rutinitasnya, namun tanpa disertai dengan keprihatinan dan tanggung jawab sosial. Tulisan berikut adalah upaya sederhana menggali dan menafsirkan ayat-ayat al-qur’an yang terkait dengan cara hidup yang damai dan kasih sayang dalam masyarakat yang plura

    TASAWUF SEBAGAI SOLUSI BAGI PROBLEMATIKA KEMODERNAN: Studi Pemikiran Tasawuf M. Amin Syukur

    Get PDF
    Abstract: This article aims to elaborate Sufism thought of Amin Syukur. Hepositioned Sufismas one of the solutions to the problems of modernity who have lost the vision of divinity that result in psychological symptoms, namely spiritual emptiness. Then, the people would become stress and worry wart because of their hopless feeling. For this reason, M. Amin Syukur endorsed the problems of modernity with always optimistic, positive thinking, resting every intention and good deeds only to worship God and sharing (solidarity) for fellow creatures of God. In addition, he recommends to remember (al-żikr) to Godhowever, whenever, and wherever. Remembering God can calm the soul (sakīna) and mind that will affect the nerve, the nerve will affect the glands, the glands will produce healthy liquid. Healthy liquid which is a calm soul effect which will make man have the "immune power" against all diseases. In medical the termis called psycho-neuroen docrine immunology. Furthermore, according to Amin Syukur, problems of modernity can besolved by Sufism through methods like ma'rifa Allāh obtained via stairs of ma'rifa al-nafs, ma'rifa al-nās, and ma'rifa al-kawn. Abstrak: Artikel bertujuan untuk mengelaborasi pemikiran tasawuf Amin Syukur. Ia memposisikan tasawuf sebagai salah satu solusi terhadap problematika kemodernan ini yang sudah kehilangan visi keilahian yang mengakibatkan timbulnya gejala psikologis, yaitu adanya kehampaan spiritual. Akibatnya, orang akan menjadi stres dan gelisah karena merasa tidak mempunyai pegangan hidup. Untuk alasan ini, Untuk alasan ini, M. Amin Syukur mengarahkan penyelesaian problematika kemodernan ini dengan selalu optimis, berpikir positif, menyandarkan setiap niat dan perbuatan baik hanya untuk ibadah kepada Allah dan berbagi (solidaritas) untuk sesama makhluk ciptaan Allah. Selain itu, ia juga menganjurkan untuk selalu ingat (al-dzikr) kepada Allah bagaimana pun, kapan pun, dan dimana pun. Mengingat Allah dapat menenangkan (sakīnah) jiwa dan pikiran yang akan berpengaruh pada syaraf, syaraf akan memengaruhi kelenjar, kelenjar akan mengeluarkan cairan yang sehat. Cairan sehat yang merupakan efek jiwa tenang ini akan menjadikan orang memiliki "daya kebal" terhadap segala penyakit, yang dalam istilah medis disebut psycho neuroen dokrin immunology. Lebih jauh lagi, menurut M. Amin Syukur, problematika kemodernan ini dapat diselesaikan dengan tasawuf melalui metode ma'rifah Allāh yang diperoleh melalui tangga ma'rifah al-nafs, ma'rifah al-nās, dan ma'rifa al-kawn. Keyword: Sufism, ma'rifah al-nafs, ma'rifah al-nās, ma'rifa al-kawn, and immune power

    215

    full texts

    232

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal THEOLOGIA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇