Jurnal THEOLOGIA
Not a member yet
232 research outputs found
Sort by
LOGIKA WUJUD SADRA MERETAS NALAR RADIKALISME BERAGAMA
Abstract: Ṣadra was a philosopher whose thought remains unique. Its uniqueness lies in his ability to articulate the various traditions of thoughts that grew and developed rapidly in Persia, the land of his birth. The traditions were peripatetic, illuminative, gnostic, and theological tradition of Islam. It has necessitated Persia as a heterogeneous region. This heterogeneity, to some extent, can susceptibly bring conflict i.e., physical violence from hurting to even casting innocent human life. Indeed, the thought of Ṣadra was born within the era of a deep reflection process responding to the socio-cultural sphere. Also, it answered the issues that emerged at that time i.e., how the heterogeneous condition did not lead to intolerance, violence, and even acts of terror, instead created a safe, peace, and harmonious atmosphere. By his thought, Ṣadra did something very valuable to solve the problems in the country. Sadra’s thought is built up by and inherent with his basic idea, fundamental and logical structure of transcendence which are relevant to be socialized in a plural and heterogeneous society in which conflict and violence are vulnerable. Socialization of logica structure is relevant for attitudes and behaviors of people since they do not appear suddenly, yet are formed due to reason or logic or way of thinking. Thus, the study of the classical intellectual treasures potentially provides a meaningful contribution to be a basic solution for similar problems existing in nowadays.Abstrak: Sadra adalah seorang filosof yang produk pemikirannya tergolong unik. Keunikannya terletak pada kepiawaiannya mendialogkan antar berbagai tradisi pemikiran yang tumbuh dan berkembang pesat di Persia, tanah kelahirannya. Tradisi pemikiran dimaksud adalah tradisi paripatetik, tradisi illuminatif, tradisi gnosis, dan tradisi teologi Islam. Hal ini telah meniscayakan Persia menjadi sebuah wilayah yang heterogen. Heterogenitas rentan memunculkan konflik sampai aksi kekerasan fisik yang seringkali melukai, bahkan melayangkan jiwa manusia tak berdosa. Sesungguhnya pemikiran Sadra lahir sebagai anak zaman dari sebuah proses refleksi mendalam, merespon kondisi sosial-kultural, menjawab persoalan yang berkembang saat itu: bagaimana agar sebuah kondisi yang heterogen tidak melahirkan intoleransi, kekerasan, bahkan aksi-aksi teror, tetapi justru tercipta suasana aman, damai, dan harmonis. Dari pemikiran wujudnya, Sadra melakukan sesuatu yang sangat berharga di negerinya dalam rangka memecahkan persoalan tersebut. Dalam pemikiran wujudnya ini terbangun dan inheren di dalamnya ide dasar, struktur fundamental, struktur logika transendensi yang relevan untuk disosialisasikan dalam masyarakat berbasis plural dan heterogen yang rentan konflik dan kekerasan tersebut. Sosialisasi struktur logika tersebut relevan karena sikap dan perilaku seseorang tidaklah muncul secara tiba-tiba tetapi terbentuk berkat nalar atau logika atau cara berpikir yang dimilikinya. Dari sini maka kajian terhadap khasanah intelektual masa lalu berpeluang bermakna dan bisa memberikan kontribusinya bagi dasar solusi permasalahan senada yang ada pada saat sekarang ini
REKONSTRUKSI TEOLOGI ISLAM KAJIAN KRITIS TERHADAP USAHA PEMBAHARUAN MENUJU TEOLOGI PRAKTIS
Abstract: The terminology of various theology concepts is very basic in human life, especially when man realizes that he is a creature that have duty to submissive and obedient to God as his creator. Talking about the relationship between man and God will, so other beliefs to the prophets, angles, and another creatures should be aroused, We must prove everything of ours believing in the real life. Therefore, the study of theological view, also be associated with the functions and obligations of human beings responsible in this life. There are various concepts of belief in God, the Prophets, Angels, and another creatures, is how to become an habit over the years, it becomes very important to be revitalized in a more meaningful understanding of the¬ dynamics of human daily life. Through that theological beliefs, expected to reflect the improvement of human performance and dedication in order to carry out the mandate as earth’s caliph. Abstrak: Terminologi tentang teologi dengan berbagai kosep dan teorinya merupakan hal yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia, apalagi ketika menusia me-nyadari bahwa dirinya sebagai makhluk memiliki kuajiban untuk tunduk dan patuh kepada penciptanya Tuhan Yang Maha Esa. Berbicara masalah hubungan antara manusia dan Tuhan akan me¬refleksikan kepercayaan lain yang wajib muncul adanya, seperti kepercayaan kepada Nabi, Malaikat dan kepercayaan kepada makhluk halus lainnya. Keper¬cayaan kepada semuanya itu harus di¬buktikan secara nyata dalam kehidupan keseharian manusia. Oleh karena itu dalam penelitian tentang pemikiran teologi, juga harus dikaitkan dengan fungsi dan kwajiban manusia yang bertanggungjawab dalam ke¬hidupan di dunia ini. Berbagai konsep tentang ke¬percayaan kepada Tuhan, Nabi, Malakat dan lain sebagainya yang bersifat transendental sebagai-mana menjadi kebiasaan selama ini, menjadi sangat penting untuk direvitalisasikan dalam pemahaman yang lebih bermakna demi kepentingan di dunia dalam dinamika keseharian manusia. Melalui pembumian keyakinan teologis itu, diharapkan mampu merefleksikan kepada pe¬n-ingkatan kinerja dan dedikasi manusia dalam rang¬ka mengemban amanat ke¬khalifah¬annya di bumi ini. Keywords: ilmu kalam, khalīfah, al-yasar al-Islāmī, teologi praktis, revitalisasi Turaṡ
KONVERGENSI AGAMA DAN SAINS DALAM MELACAK BASIS ONTOLOGI SEMESTA: Tinjauan Hermeneutika Hadis Penciptaan
Abstract: The main purpose of this article (research) is to provide the unity of coherent conceptual frameworks between religion and science on the discourse about the origins of the universe. Contemporary cosmological theories reveal the continuing encounter between physics and theology (religion). The concepts of modern physics show surprising parallels to the ideas expressed in the religious philosophies that the basic features of their worldview are the same. Mystical traditions are present in all religions and they also can be found in the theory of modern physics on the holistic conception of reality. It obviously indicates a new “paradigm”— a new vision of reality. By the “antinomic” principles of light, both religion and science, ontologically, can trace the beginning of the universe, and also unveil the deepest secrets of the laws of physics. Light as the basic ontology of reality in the hadith texts has been used by muslem theosophists (sufi) to formulate their theories of the universe creation, especially, in the sufism of Ibn Arabi. His cosmological concepts are essentially similar to the scientific conceptions of cosmology and completely in accordance with the laws of physics in the very heart of the cosmos itself. At the moment, the integration of religion and science has arrived at the same holistic conception of reality. As the pillar of civilization, both are expected to go hand in hand and form a powerful force for social change in the new conceptual frameworks for ways of life, thought, and consciousness.
Abstrak: Tujuan utama dari artikel (riset) ini adalah untuk membuktikan terdapatnya kesatuan kerangka konseptual yang koheren antara agama dan sains tentang persoalan muasal alam semesta. Teori-teori kosmologi modern menunjukkan adanya titik temu yang berkelanjutan antara sains dan teologi (agama). Konsep-konsep fisika modern memperlihatkan kesejajaran yang menakjubkan terhadap ide-ide yang diungkapkan dalam filsafat agama, yaitu ciri-ciri dasar pandangan mereka yang sama. Tradisi-tradisi mistik yang terdapat dalam agama, juga dapat dijumpai dalam teori fisika modern tentang konsep realitas yang holistik. Ini dapat disebut sebagai paradigm baru-visi baru terhadap realitas. Melalui prinsip “antinomi” cahaya, secara ontologis, agama dan sains keduanya dapat melacak permulaan semesta, juga dapat membuka selubung terdalam dari rahasia hukum alam (sunnatullāh). Cahaya sebagai basis ontology realitas yang terdapat dalam teks-teks hadis, telah digunakan oleh para sufi untuk menformulasikan teori-teori mereka tentang penciptaan semesta, khususnya Ibn Arabi. Secara esensial, konsep kosmologi Ibn Arabi memiliki kemiripan dengan konsepsi dalam sains dan secara sempurna sesuai dengan hukum alam pada aspek yang paling dalam dari kosmos itu sendiri. Saat ini, intregrasi agama dan sains sudah sampai pada kesamaan konsepsi tentang realitas secara holistik. Sebagai pular peradaban, keduanya diharapkan dapat berjalan beriringan dan membentuk sebuah kekuatan penuh bagi perubahan sosial dalam bingkai keonseptual baru terhadap pandangan hidup, pemikiran dan kesadaran
GERAKAN PEMBARUAN TASAWUF DI INDONESIA
Abstract: This article aims to elaborate on Sufism reform movement in Indonesia. There former of Islam in Indonesia realize that Sufism is an integral part of Islam, therefore they are not hostile to Sufism, but tends to purify the Sufism of deviant practices. Irregularities which they saw in the midst of the Muslim community but claimed as part of Sufism must be cleaned. Sufism must be free of elements of heresy or shirk that could tarnish the purity of Islam. In this article, the author presents the figure of Hamka as a representation of Sufism reform movement in Indonesia. Although Hamka very appreciative, even followers of Sufism, he was never affiliated to the sufi order schools anywhere in the world.He also never made a separate congregation flow, as was common in the realm of the sufi order. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengelaborasi gerakan pembaruan tasawuf di Indonesia. Para pembaru Islam di Indonesia menyadari bahwa tasawuf merupakan bagian integral dalam Islam, karena itu mereka tidak memusuhi tasawuf, tetapi cenderung untuk memurnikan tasawuf dari praktik-praktik yang menyimpang. Penyimpangan yang mereka lihat di tengah-tengah masyarakat Muslim tetapi diklaim sebagai bagian dari ajaran tasawuf haruslah dibersihkan. Tasawuf harus terbebas dari unsur-unsur bid’ah atau syirik yang dapat menodai kemurnian ajaran Islam. Dalam artikel ini, penulis menyajikan sosok Hamka sebagai representasi dari gerakan pembaruan tasawuf di Indonesia. Sekalipun Hamka sangat apresiatif, bahkan pengamal tasawuf, ia tidak pernah berafiliasi ke aliran tarekat mana pun di dunia ini. Ia juga tidak pernah membuat aliran tarekat tersendiri, sebagaimana lazimnya dalam dunia tarekat. Keywords: neo-sufisme, bid’ah, al-Quran, al-Sunnah, tarekat
PERGUMULAN ISLAM DENGAN BUDAYA LOKAL Studi Kasus Masyarakat Samin di Dusun Jepang Bojonegoro
Abstract: This article will explain the process of acculturation which is a concept to describe the long process of convergence of two or more values between Islam and local values in which individuals, groups and communities living with the culture he had. The emergence of resistance to the new school, to be understood as part of the community's love for the old values (local). On the one hand, it is a learning process to understand the new values (Islam). In these conditions, it is not appropriate to use claims of winning or losing, between Islam vis a vis local culture. Samin community understanding of the teachings of Islam, with the advantages and disadvantages of a form the beginnings of the community openness to cultures from the outside including the values of Islam. Samin society no longer close themselves from the outside community, slowly began to mingle with other people and being able to adapt to the changes that reaches it. Their understanding of the religion of Islam with regard to faith (theology), worship (ritual), muamalah (social), was inherited by the teachings Saminisme. Islam understood the teachings of Samin frame, so that the integrated nature ajaranlah, but the practice of worship (ritual) Islam has not been implemented. Tempers syncretic practice (Islam typical Samin), because Islam diakomodisasi in accordance with the teachings of Samin. Abstrak: Artikel ini akan menjelaskan tentang proses akulturasi yang merupakan konsep untuk menggambarkan proses panjang bertemunya dua atau lebih tata nilai antara Islam dengan nilai-nilai lokal di mana individu, kelompok dan masyarakat bertempat tinggal dengan budaya yang telah dimilikinya. Munculnya penolakan terhadap ajaran baru, harus dipahami sebagai bagian kecintaan masyarakat terhadap nilai-nilai lama (lokal). Pada satu sisi, ia adalah proses belajar untuk memahami nilai-nilai baru (Islam). Pada kondisi seperti ini, tidak tepat digunakan klaim menang atau kalah, antara Islam vis a vis budaya lokal. Pemahaman masyarakat Samin tentang ajaran Islam, dengan kelebihan dan kekurangannya merupakan wujud dimulainya era keterbukaan komunitas tersebut terhadap budaya-budaya dari luar termasuk di dalamnya nilai-nilai ajaran Islam. Masyarakat Samin tidak lagi menutup diri dari masyarakat luar, secara perlahan mulai berbaur dengan masyarakat lain dan mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang menerpanya. Pemahaman mereka terhadap agama Islam yang berkaitan dengan akidah (teologi), ibadah (ritual), muamalah (sosial kemasyarakatan), masih terwarisi oleh ajaran Saminisme. Islam dipahami dengan bingkai ajaran Samin, sehingga hakekat ajaranlah yang terintegrasi, namun praktek ibadah (ritual) Islam belum dilaksanakan. Terjadilah praktek sinkretis (Islam khas Samin), karena ajaran Islam diakomodisasi sesuai dengan ajaran Samin. Keywords : Islam, budaya lokal, ajaran Samin
METODE MEMAHAMI NAṢ-NAṢ TEOLOGIS: Studi tentang Wacana Inklusif Ahl al-Kitāb
This paper examined how to understand the texts of the Qur'an and Ḥadīth concerning the concept of Ahl al-Kitāb. The concept of the Ahl al-Kitāb becomes frequently debatable for there have been contradictions of the texts with other texts. To avoid contradictory understanding, it can be reached by way of compromising various existing texts. Through this method, it reveals that there is no contradictory theological understanding in the Qur'an and Ḥadīth about how Muslims should behave towards and treat Ahl al-Kitāb. From the texts it precisely shows an understanding that Muslims have to give respect, to recommend for doing good, and to acknowledge the existence of the Ahl al-Kitāb as long as each of them does not meddle in the affairs of each faith. The texts also produce a strong message that alludes to an inclusive teaching of Islam towards Ahl al-Kitāb.Tulisan ini mengkaji tentang cara memahami nash-nash al-Qur’an dan Hadis mengenai konsep Ahl al-Kitāb. Konsep Ahl al-Kitāb selalu menjadi perdebatan karena seolah-olah telah terjadi kontradiksi di antara satu naṣ dengan nash yang lainnya. Untuk menghindari pemahaman yang kontradiktif, bisa ditempuh dengan cara mengkompromikan dan menjama’kan berbagai naṣ yang ada. Melalui metode tersebut ternyata tidak ditemukan kontradiksi pemahaman secara teologis di dalam al-Qur’an dan Hadis mengenai bagaimana seharusnya umat Islam bersikap terhadap Ahl al-Kitāb. Dari naṣ-naṣ itu justeru menunjukkan satu pemahaman supaya memberikan respek, menganjurkan berbuat baik, dan mengakui eksistensi Ahl al-Kitāb yang harus dihormati, selama tidak saling mencampuri urusan keimanan masing-masing. Naṣ-naṣ tersebut juga menghasilkan pesan kuat akan sikap inklusif ajaran Islam terhadap Ahl al-Kitab
MAKNA HIDUP BAGI PENGIKUT AJARAN TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH (TQN) DI SUKAMARA KALIMANTAN TENGAH
Abstrak: Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah yang ada di desa Sungai Pasir Kecamatan Pantai Lunci Kabupaten Sukamara Kalimantan Tengah merupakan salah satu komunitas tarekat yang memiliki ruang gerakan dalam menyebar luaskan serta melestarikan ajaran sufi dengan menggunakan metode dzikir sebagai bentuk pelaksanaan dari ajaran tasawuf. Selain menjalankan aktifitas ritual para anggota tarekat ini juga memiliki dimensi kehidupan yang salah satunya adalah melakukan pemahaman terhadap kehidupan bermakna. Hal ini menjadi sebuah tolak ukur penting dalam meneliti perkembangan keagamaan yang ada di Indonesia. Komunitas tarekat yang ada di desa Sungai Pasir pada dasarnya memiliki ikatan emosional sesama anggota tarekat dengan ikatan normatif yang ada di dalam kelompok mereka sesuai dengan ajaran yang ada di dalam tasawuf. Namun demikian mereka juga memiliki tujuan dari sebuah komunitas yang salah satunya adalah mencapai ridha Tuhan. Keywords: Sukamara, Makna Hidup, Victor Frankl, Guru, murid, manaqiban, dzikir
PEMIKIRAN DAN KONTRIBUSI MUḤAMMAD MUṢṬAFĀ AL-A‘ẒAMĪ DALAM STUDI HADIS
Abstract: It is interesting to study al-A‘ẓamī’s effort in proving the authenticity of hadiths scientifically through the thoughts in his works and his contribution in the study of hadith. Therefore, this study aimed to examine further al-A‘ẓamī’s thoughts and contributions given in the study of hadith, as well as the defense of the critique of the islamicist and muslim thinkers. This study was a research library with a qualitative approach, whereas the method of data collection used was the method of documentation, then the data was analyzed descriptively and critically. The results of this study found that the contributions made by al-A‘ẓamī in the study of hadith are: (1) to show the evidence that the writing of hadith had been made since the time of the Prophet. It was proven by the existence of at least 52 friends who had the documentation of the hadith texts, as well as to clarify and add at least 21 names of friends who had been the secretaries of the Prophet of Allah and had never been revealed by the previous hadith scholar. (2) to describe the 20 arguments showing that the term samā‘ and taḥdīṡ that were not only used for verbal delivery but also for dictating, receiving, and teaching the hadith in written medium. (3) to proove the validity of the isnād through his study of three hadith narrated by hundreds of people in many different areas, (4) to strengthen and develop the ideas of the muḥaddiṡīn through systematic steps to test the hadith critique, including research on the character of the narrators, cross comparison or mu‘āraḍah, and critique of reason. Abstrak: Studi ini bertujuan untuk membuktikan pemikiran dan kontribusi al-A‘ẓamī dalam studi hadis, serta pertahanan dari kritik yang berasal dari Islamis dan pemikir Muslim. Studi juga merupakan riset kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, sedangkan metode koleksi data yang digunakan adalah metode dokumentasi, selanjutnya data tersebut dianalisis secara deskriptip dan kritis. Hasil dari studi ini menemukan bahwa kontribusi yang dilakukan oleh al-A‘ẓami dalam studi hadis adalah: (1) untuk menunjukkan bukti bahwa penulisan hadis dilakukan sejak masa Nabi. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan sedikitnya 52 sahabat yang mempunyai dokumentasi teks-teks hadis, dan juga untuk mengklarifikasi dan menambahkan sedikitnya 21 nama yang menjadi sekretaris Nabi Allah dan tidak pernah dimunculkan oleh para ulama hadis sebelumnya. (2) untuk menggambarkan 20 argumen yang menunjukkan bahwa istilah samā‘ dan taḥdīṡ tidak hanya digunakan untuk penyampaian verbal tetapi juga untuk mendiktekan, menerima, dan mengajarkan hadis dalam medium tertulis.(3) untuk membuktikan validitas isnād melalui studinya dari tiga hadis yang dinarasikan oleh ratusan orang dalam banyak wilayah yang berbeda. (4) untuk memperkuat dan mengembangkan ide-ide muḥaddiṡīn melalui langkah-langkah sistematis untuk menguji kritik hadis, mencakup penelitian tentang karakter para perawi, perbandingan silang atau mu‘āraḍah, dan kritik nalar. Kata-kata Kunci: Contributions, al-A‘Ẓamī, ḥadīṡ, Islamicist, dan samā‘
EPISTEMOLOGI AL-QURAN DALAM MEMBANGUN SAINS ISLAM
Abstract: This article aims to elaborate on the Quran as the basis of Islamic epistemology in building science. The concept of science in the Quran, from the point of view of philosophy. Framework used to analyze this theme is the philosophical framework. In the paradigm of philosophy, science concepts can be classified in three dimensions; the first, an epistemological dimension, namely the study of philosophy from the aspect of how to acquire knowledge. Part of this philosophy is called the theory of knowledge, namely methodology to gain knowledge or science, or how to obtain a true knowledge; second, the ontological dimension, namely the branch of philosophy that discusses the object of study of science, or the nature of the study of science; and the third, axiological dimension, namely the branch of philosophy that discusses the purpose and use value and the value of the benefits of science. Part of this philosophy better known as the theory of value. And what about his role in building the Islamic sciences in Islamic universities in particular and in the Islamic world in general. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengelaborasi al-Quran sebagai landasan epistemologi dalam membangun sains Islam. Konsep ilmu dalam al-Quran, ditinjau dari sudut pandang filsafat. Kerangka yang dipakai untuk menganalisis tema ini adalah kerangka pemikiran filsafat. Dalam paradigma filsafat, konsep ilmu dapat diklasifikasi dalam tiga dimensi; pertama, dimensi epistemologis, yakni kajian filsafat dari aspek bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. Bagian filsafat ini disebut teori ilmu pengetahuan, yaitu metodologi untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, atau cara mendapatkan pengetahuan yang benar; kedua, dimensi ontologis, yakni cabang filsafat yang membahas tentang objek kajian ilmu pengetahuan, atau hakikat segala yang menjadi kajian ilmu; dan ketiga, dimensi aksiologis, yakni cabang filsafat yang mem-bahas tentang tujuan dan nilai guna serta nilai manfaat ilmu pengetahuan. Bagian filsafat ini lebih dikenal dengan teori nilai. Dan bagaimana peranannya dalam membangun sains Islam di perguruan tinggi Islam khususnya dan di dunia Islam pada umumnya. Keywords: al-Quran, ayat al-matluwah, ayat al-majluwah, al-‘ilm, al-ḥikmah, dan al-ma‘rifah
PARADIGMA PEMIKIRAN TAWASSUL DAN TABARRUK SAYYID AHMAD BIN ZAINI DAHLAN DITENGAH MAYORITAS TEOLOGI MADZHAB WAHABY
According to Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan that the essence of Tawassul is part of the method of praying, and part of the methodology turn towards Allah swt, tawassul no meaning to humans or creatures ask when praying. But the essence of tawassul goal is to ask Allah swt. Tawassul not act or something ḍarūri/must be implemented so that no tawassul then his prayers are not accepted, but tawassul is as a medium, the method pray to Allah SWT. No one was Muslims who reject the validity tawassul with deeds. Whoever fasts, prayer, reading the Qur'an or charity means he has tawassul with fasting, prayers, readings, and donations. While the Tabarruk is part of the model tawassul to Allah SWT through atsar of mutabarrak (people taken his blessing) is considered to have the blessing because the mutabarrak to Allah SWT and because mutabarrak loved by Allah SWT like the prophets and servants who are pious. So the essence of tabarruk goal is to ask Allah SWT through his beloved servant. As tabarruk with shaleh people so because they believe in the primacy and closeness to Allah SWT to continue to believe their inability to give the goodness or badness refused except by permission of Allah SWT.Menurut Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan bahwa hakekat tawassul adalah bagian dari metode berdoa, dan bagian dari metodologi menghadap kepada Allah swt, tawassul tidak mempunyai arti meminta kepada manusia atau makhluk ketika berdoa. Namun hakekat tujuan dari tawassul adalah memohon kepada Allah swt. Tawassul tidaklah perbuatan atau sesuatu yang ḍarūri/wajib dilaksanakan sehingga kalau tidak tawassul maka doanya tidak diterima, namun tawassul adalah sebagai media, metode berdoa kepada Allah SWT. Tidak ada seorang pun kaum muslimin yang menolak keabsahan tawassul dengan amal shalih. Barangsiapa yang berpuasa, sholat, membaca Al-Qur'an atau bersedekah berarti ia telah bertawassul dengan puasa, sholat, bacaan, dan sedekahnya. Sedang Tabarruk adalah bagian dari model tawassul kepada Allah SWT melalui atsar dari mutabarrak (orang yang dialap berkahnya) dianggap memiliki keberkahan karena kedekatan mutabarrak kepada Allah SWT dan karena mutabarrak dicintai oleh Allah SWT seperti para Nabi dan Hamba-hamba yang sholeh. Maka hakekat tujuan dari tabarruk adalah memohon kepada Allah SWT lewat hamba yang dicintaiNYA. Adapun tabarruk dengan orang-orang maka karena meyakini keutamaan dan kedekatan mereka kepada Allah dengan tetap meyakini ketidakmampuan mereka memberi kebaikan atau menolak keburukan kecuali atas izin Allah SWT