Jurnal THEOLOGIA
Not a member yet
232 research outputs found
Sort by
TRADISI KRITIK TAFSIR: Diskursus Kritisisme Penafsiran dalam Wacana Qur’anic Studies
Abstract: This paper aims to discuss the methodology of interpretation criticism in the qur'anic studies discourse. As new plots in the Qur'an studies, the interpretation criticism has not been much sought after by Qur’anic scholars. As a consequence, in methodological discourse has not yet found a definite method can be used to criticize an interpretation. As for the thought-provoking critique of the interpretation for this still are sporadic and likely are political-ideological. For that, it needs special attention in developing area studies the Quran towards the study criticism of interpretation. Finally, this paper gives the conclusion that, in the discourse of criticism the methodological framework needed interpretation, as a step towards the operational interpretation of criticism. So, the criticism was done not nuanced political-ideological, but able to uphold the values of objectivity, comprehensiveness, scientific and systematic. There are at least four operational steps in carrying out work interpretation of criticism of the region of ontology, epistemology, and axiology i.e; Firstly, the critic must understand the substance of exegesis are an interpretation as process and interpretation as a product. Secondly, understand the construction of criticism interpretation, namely the construction of the historicity of the critique, the base of criticism, the purpose of criticism, as well as the principles and parameters of criticism. Thirdly, start working with two regions exegesis critique work i.e; intrinsic and extrinsic criticism. Fourthly, give the evaluation and assessment of the object of study of criticism that is good and decent, or perverted and unworthy of being used.Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mendiskusikan metodologi kritik tafsir dalam diskursus wacana Qur’anic Studies. Sebagai wilayah garapan baru dalam studi al-Qur’an, kritik tafsir belum banyak diminati oleh kalangan sarjana al-Qur’an. Akibatnya, dalam wacana metodologis belum banyak ditemukan metodebaku yang dapat digunakan untuk mengkritisi sebuah tafsir. Adapun pemikiran kritik tafsir selama ini masih bersifat sporadis dan cenderung bersifat politis-ideologis. Untuk itulah dibutuhkan perhatian khusus dalam mengembangkan wilayah studi al-Qur’an ke arah studi kritik tafsir. Akhirnya, tulisan ini memberikan kesimpulan bahwa, dalam diskursus kritisisme penafsiran, dibutuhkan kerangka metodologis sebagai langkah operasional kritik tafsir. Sehingga, kritik yang dilakukan tidak bernuansa politis-ideologis, namun mampu mengedepankan nilai-nilai objektivitas, komprehensivitas, ilmiah dan sistematis. Setidaknya terdapat empat langkah operasional dalam melaksanakan kerja kritik tafsir yang bermuara pada wilayah ontologis, epistemologis, dan aksiologis yaitu; Pertama, kritikus harus terlebih dahulu memahami hakikat tafsir yakni tafsir sebagai proses (interpretation as process) dan tafsir sebagai produk (interpretation as product). Kedua, memahami konstruksi kritik tafsir, yaitu historisitas kritik, landasan kritik, tujuan kritik, serta prinsip dan parameter kritik. Ketiga, memulai kerja kritik tafsir dengan dua wilayah kerja yaitu; kritik intrinsik dan kritik ekstrinsik. Keempat, memberikan evaluasi dan penilaian terhadap objek kajian kritik yaitu, baik (maḥmūd) dan layak pakai (maqbūl), atau menyeleweng (munḥarif) dan tidak layak digunakan (mardūd)
AL-UKHUWAH AL-IJTIMA’IYAH WA AL-INSANIYAH
The paradigm of freedom and religious tolerance in Islam contains teachings about human equality. Above equation can be formed brotherhood and friendship among religious social life based on humanity in order to create social order together. Thus from the side of humanity, Islam does not recognize exclusiveness, and from the side of faith, Islam does not recognize intolerance. In social interaction, Islam outlines the people not to argue with the followers of other religions but in a polite way, and ethical, and they should do well, and be fair to other religious communities. Expansion of the actual and empirical interpretation of religious teachings and by adjusting the reality aspects of socioeconomic, political and cultural socialization and assimilation is an effort and cultural assimilation of religious values in the society and the nation in particular in the development, so that religion can be played in development. And the vastness of religious insight of the religion will grow an attitude and an open and inclusive approach to social problems of mankind and humanity.Paradigma kebebasan dan toleransi beragama dalam lslam mengandung ajaran tentang persamaan manusia. Di atas persamaan ini dapat dibentuk persaudaraan dan persahabatan antar pemeluk agama dalam kehidupan sosial berdasarkan kemanusiaan demi terwujudnya ketertiban sosial bersama. Dengan demikian dari sisi kemanusiaan, lslam tidak mengenal eksklusivisme, dan dari sisi akidah, Islam juga tidak mengenal intoleransi. Dalam pergaulan sosial lslam menggariskan kepada umatnya yaitu tidak boleh berbantahan dengan penganut agama lain melainkan dengan cara yang sopan dan etis, dan mereka boleh berbuat baik dan berlaku adil terhadap komunitas agama lain. Perluasan penafsiran ajaran agama secara aktual dan empiris dengan merelevansikannya dengan aspek-aspek realitas sosial ekonomi, politik dan budaya merupakan upaya sosialisasi dan inkulturasi nilai-nilai agama dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa khususnya dalam pembangunan, sehingga agama dapat diperankan dalam pembangunan. Dan keluasan wawasan penganut agama akan ajaran agamanya akan menumbuhkan sikap dan pandangan yang terbuka dan inklusif terhadap masalah-masalah sosial dan kemanusiaan umat manusia
AL-QUR’AN DALAM RUANG KEAGAMAAN ISLAM JAWA: Respons Pemikiran Keagamaan Misbah Mustafa dalam Tafsir al-Iklīl fī Ma’āni al-Tanzīl
Abstract: This study aims to describe the religious thought of an ulama in the face of the diverse social dynamics in the Javanese Islamic are reflected at an interpretation of the Quran. The tradition that developed in Javanese Islamic is one fairly complex dialectic space. This is because the existing of religious traditions in the midst of the Javanese Islamic has various expressions of rituals in religiosity, for example, tahlilan, haul, a pilgrimage to the tomb of trustees and others. The results showed that religious thought of Misbah Mustafa in Tafsir al-Iklil fi Ma'ani al-Tanzil typically displays a distinctive pattern. In this case, the Misbah’s thought not exactly congruent with the construction of traditional Javanese ulama were generally patterned Asy’ariyah (Sunnism), though in many ways still reflects a general pattern of Sunnism. In this case, although much influenced by medieval scholars and Java pesantren, it does not mean Misbah’s thought is replicative. Misbah managed to reconstruct their thinking and consider its relevance to the context of the existing religious social. This is certainly different to most scholars of his day. Thus, the construction of Misbah’s thought in Tafsir al-Iklil is either directly or indirectly has given a new color in the clerical Javanese Islam. In addition, the results of this study also provide the realization that the tradition that developed in Javanese Islamic has a fairly significant influence on the writing of the tafsir of the Quran.Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan respon pemikiran keagamaan seorang ulama dalam menghadapi dinamika keberagamaan masyarakat islam jawa yang tercermin dalam penafsiran al-Qur’an. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hermeneutika al-Qur’an Farid Esack. Dalam hal ini, terdapat proses eisegesis (memasukkan wacana asing ke dalam al-Qur’an) sebelum exegesis (mengeluarkan wacana dari al-Qur’an). Dengan demikian, tafsir al-Qur’an ditempatkan dalam ruang sosial di mana penafsir berada, dengan segala problematika kehidupannya. Sehingga sifatnya tidak lagi kearaban, tetapi spesifik konteks sosial di mana tafsir ditulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran keagamaan Misbah dalam Tafsīr al-Iklīl secara tipikal menampilkan corak yang khas. Dalam hal ini, pemikiran Misbah tidak sebangun persis dengan konstruksi pemikiran ulama tradisonal Jawa yang umumnya bercorak As’ariyah (Sunnism), meskipun dalam banyak hal tetap mencerminkan pola umum Sunnisme. Dalam hal ini, meskipun banyak dipengaruhi oleh ulama-ulama abad pertengahan dan pesantren Jawa, bukan berarti pemikiran Misbah bersifat replikatif. Misbah berhasil merekonstruksi pemikiran mereka dengan mempertimbangkan relevansinya terhadap konteks sosiol keagamaan yang ada. Hal ini tentu berbeda dengan kebanyakan ulama pada zamannya. Dengan demikian, konstruksi pemikiran Misbah dalam tafsir al-Iklīl ini baik secara langsung maupun tidak, telah memberikan warna baru di kalangan msyarakat Islam jawa. Selain itu, hasil studi ini juga memberikan bukti bahwa tradisi yang berkembang pada masyarakat Islam Jawa memiliki pengaruh yang cukup siknifikan dalam penulisan tafsir al-Qur’an.
MENYEMAI NASIONALISME DARI SPIRIT AGAMA: UPAYA MEREDAM RADIKALISME BERAGAMA
Indonesia adalah negara yang paling majemuk. Harus diakui bahwa pengelolaan terhadapnya merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Apalagi meleburkan dalam sebuah pemahaman bahwa dalam kemajemukan tersebut ada kesatuan yang harus dipegang dan diperjuangkan bersama. Oleh kjarena itu, Sumpah Pemuda yang didengungkan pada 28 Oktober 1928 adalah prestasi luar biasa yang patut mendapatkan apresiasi. Demikian pula, kesanggupan para pendiri bangsa, terutama yang berbasis agama Islam, untuk dan demi nasionalisme kemudian mereka menundukkan egoisme karena adanya posisi mayoritasnya juga harus mendapatkan penghargaan. Hanya saja, belakangan ini, di beberapa kalangan semangat nasionalisme sedikit mulai melemah justru karena dipicu oleh semangat keagamaan. Mengingat kondisi demikian, maka perlu ditumbuhkan semangat nasionalisme berbasis spirit agama sehingga menjadi seorang pemeluk agama sejati adalah seorang nasionalis sejat
TOLERANSI BERAGAMA DAN MAHABBAH DALAM PERSPEKTIF SUFI
Dalam kacamata kaum sufi, tidak ada orang lain (the other) di duniaini. Mereka melihat orang lain sebagai sebuah kesatuan makhlukyang bernaung di bawah kasih sayang Tuhan. Landasan cintamerupakan titik berpijak bagi mereka untuk melihat orang lain.Dalam pandangan kaum sufi, semua manusia adalah indah.Keindahan dalam pandangan itulah yang membimbing merekauntuk tidak melihat orang lain secara lebih rendah. Keindahanpandangan itu juga meliputi para penganut agama yang berbedabeda. Ajaran kedamaian, cinta dan kasih sayang yang diususng parasufi, bagian yang cukup menarik untuk disingkap, sekaligus sebagaiupaya membangun hubungan umat beragama yang harmonis.Tulisan ini akan memaparkan kasih sayang dan toleransi beragamadalam persektif tasawuf
RELASI-KONFLIK SUKU QURAISH DAN BANI MUSTALIQ DI ERA NABI MUHAMMAD
This paper examines the role of the prophet Muhammad's preaching in resolving internal conflicts of Quraysh tribe and conflicts between the Quraysh tribe with a descendant of Mustaliq. The goal is to reconstruct their conflicts and Muhammad's position in the middle of the conflict. For that purpose, the data collected from the books of Sirah Nabawiyah as the main source and analyzed so that it can be drawn the conflict relationship between the two tribes and the resolution. The results of the study found the conflict between the Quraysh tribe of the descendant of Mustaliq can be tracked since their ancestors, respectively, before the advent of Muhammad. Fundamental issues regarding with conflicts dealing with political power, self-esteem and group identity. The triggers of conflict that almost rising the violent conflicts between the other were a misunderstanding. In resolving the conflict, the prophet prefers peaceful means despite ever using violence in the form of war.Tulisan ini mengkaji peran dakwah nabi Muhammad dalam menyelesaikan konflik intern suku Quraish maupun konflik antara suku Quraish dengan bani Mustaliq. Tujuannya, merekonstruksi relasi konflik antara mereka dan posisi Muhammad di tengah tengah konflik tersebut. Untuk tujuan itu, data dihimpun dari kitab-kitab Sirah Nabawiyah sebagai sumber utama dan dianalisis sehingga tergambar relasi-konflik tokoh-tokoh dari kedua suku tersebut dan penyelesaiannya. Hasil kajian menemukan, konflik antara suku Quraish dengan bani Mustaliq dapat dilacak sejak nenek moyang mereka masing-masing, sebelum kenabian Muhammad. Issu pokok terjadinya konflik berkenaan dengan persoalan politik kekuasaan, harga diri dan identitas kelompok. Pemicu konflik yang nyaris menimbulkan kekerasan antara lain adalah kesalahpahaman. Dalam menyelesaikan konflik, nabi lebih mengutamakan jalan damai meski pernah menggunakan kekerasan dalam bentuk peperanga
AKAR TERORISME DALAM ISLAM?
Terrorism has been a popular issue since September the Eleven. The incident was followed by a proclamation of war against terrorism by the US governments. The US invited other countries to join the campaign with President George W. Bush's monumental saying "You are either with us or against us". The effort of countering terrorism by the US and other countries with a weapon is likely to be ineffective. Countering terrorism, especially religious motivated terrorism can effectively be conducted by understanding the root causes of terrorism and eliminating what so-called global injustice.Terorisme menjadi isu populer sejak 11 September (2001). Insiden ini diikuti dengan sebuah proklamasi perang melawan terorisme oleh pemerintah USA. USA mengajak negara-negara lain untuk bergabung kampanye dengan perkataan monumental Presiden George W. Bush, ”Anda bersama kami, atau melawan kami.” Usaha menghadapi terorisme oleh USA dan negara-negara lain dengan senjata tampaknya tidak efektif. Melawan terorisme, khususnya terorisme yang dimotivasi oleh agama, bisa efektif dilakukan dengan memahami akar penyebab terorisme dan mengeliminasi apa yang disebut ketidakadilan globa
PLURALISME AGAMA SEBAGAI RAHMATAN LI AL-‘ALAMIN
Pluralism or diversity is something that is inevitable. The religious text in this case al-Qur'an, clearly explain it. The creation of human beings regardless of color, ethnicity, and religion are among the plurality contained in the holy book of Muslims. A plurality of the Qur'an is meant for man to know each other, complementary, and harmonious cooperation between each other. Because, in fact, the plurality is part of a God’s effort to show that Islam is a religion of rahmatan lil 'alamin. The religion that is able to protect mankind. Pluralisme atau kemajemukan adalah sesuatu yang niscaya. Teks agama, dalam hal ini al-Qur’an, secara jelas menerangkan hal tersebut. Penciptaan manusia yang beragam warna kulit, suku bangsa, dan agama adalah di antara pluralitas yang termaktub dalam kitab suci umat Islam itu. Pluralitas ini dimaksudkan al-Qur’an supaya manusia saling mengenal, melengkapi, dan menjalin kerjasama yang harmonis antara satu dengan yang lainnya. Sebab sejatinya, pluralitas adalah bagian dari upaya Tuhan untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan li al’alamin. Agama yang mampu mengayomi segenap umat manusi
KRITIK TERHADAP REKONSTRUKSI METODE PEMAHAMAN HADIS MUHAMMAD AL-GHAZALI
Abstract: Muhammad al-Ghazali is a controversial figure. Some give a positive appreciation to the method of hadith understanding he offered and regarded as a solutive method at the present day. But, other accused him as inkar al-sunnah and regarded his method was inapplicable. According to the author, some ideas of the reconstruction on the method of hadith understanding of Muhammad al-Ghazali still use a positivist paradigm that focuses on objectivity, while there are no objects without a subject. Therefore, in this paper, the author emphasizes the discussion on two points; first, criticizing the application of the method of hadith understanding of Muhammad al-Ghazali; and second, offering the new method of reconstruction using descriptive analysis and explanation method. The author examines the book of Muhammad al-Ghazali and other books that are the result of criticism of the researchers about him. The result, studying and understanding the hadiths requires a set of batiniyah in the form of consciousness and sincere intention, studying the authenticity of the hadith, structural and pragmatic analysis, and the reviewer must verify the results of intellectual activity comprehensively.Abstrak: Muhammad al-Ghazali merupakan tokoh kontroversial. Ada yang memberikan apresiasi positif atas metode pemahaman hadis yang ditawarkannya yang dianggap solutif pada saat sekarang. Namun ada juga yang menuduhnya sebagai inkar al-sunnah dan menilai metode yang ditawarkannya belum aplikatif. Menurut penulis, beberapa tawaran rekonstruksi terhadap metode pemahaman hadis Muhammad al-Ghazali masih menggunakan paradigma positivisme yang menitikberatkan pada objektivitas, padahal tidak ada objek tanpa subjek. Dalam tulisan ini, penulis menekankan dua pembahasan, yakni: mengkritik aplikasi metode pemahaman hadis Muhammad al-Ghazali; dan menawarkan bentuk rekonstruksi metode yang baru dengan menggunakan metode analisis deskriptif dan penjelasan. Penulis mengkaji buku karya Muhammad al-Ghazali dan buku-buku lain yang merupakan hasil kritikan para peneliti terhadapnya. Hasilnya, di dalam mengkaji dan memahami hadis diperlukan seperangkat batiniyah berupa kesadaran dan niat yang ikhlas, mengkaji otentisitas hadis, analisis struktural dan pragmatik, dan pengkaji melakukan verifikasi terhadap hasil aktifitas intelektual (pemahaman) secara komprehensif
REPRODUKSI GENDER MELALUI TRANSMISI TEKS AGAMA
The sustainability and cultural change, including gender, was associated with the delivery of value between generations. The existence of well-established interpretation of the text, which does not allow a new interpretation of the text, which is delivered to religious community make gender values remained relatively unchanged, even continuously reproduced. In this case, the transmitter of religious value, the preachers, seen in the Muslim community as the respectable and credible persons. Therefore, the doctrine they convey tend to be trusted and obeyed, without any possibility of other interpretations. The delivery model of one-direction model of messages delivery with lack of dialogue and participation of the audiences, no chance to new interpretations are another causes that led the concept of gender relatively unchange