Jurnal THEOLOGIA
Not a member yet
    232 research outputs found

    PARADIGMA ANTROPOSENTRIS DALAM MEMAHAMI HADIS-HADIS MUAMALAH

    Get PDF
    Abstract: In this contents, Hadith reflects the different teaching of Islam, including creed, worship, and muamalah. All of that requires a different treatment and understanding the proportionally. This article examines how to understand the Hadiths in the field of muamalah and what is the paradigm construct of it. By using the method of subjective-humanistic hermeneutics, this article produces findings, as follows: first, the Hadiths of muamalah reflect construct of human relationships and it can change according to the changes and development of social life. Therefore, these Hadiths can be understood by using the anthropocentric paradigm, oriented on the needs of humans and make it as a subject and object either of the understanding. Second, this anthropocentric paradigm aims to find the sunnah and host it again in the present day. This anthropocentric understanding holds on to the principles and the universal values contained in the text of the Hadith as well as humanistic social ethics that upholds human values that are fairness, equal and tolerant without discrimination in various fields.Abstrak: Dari segi kandungannya, hadis Nabi mencerminkan muatan ajaran tentang akidah, ibadah dan muamalah. Kesemuanya itu membutuhkan pen­sikapan yang berbeda dan pemahaman yang proporsional. Artikel ini meng­kaji bagai­mana memahami hadis-hadis Nabi dalam bidang muamalah serta bagai­mana konstruksi paradigma yang dimaksud. Dengan menggunakan metode hermeneutika subjektif-humanistik, artikel ini menghasilkan temuan, sebagai berikut: Pertama, hadis muamalah merefleksikan konstruk relasi manusia, dan bisa berubah sesuai dengan perubahan dan perkembangan kehidupan sosial. Oleh karena itu hadis-hadis ini bisa dipahami dengan meng­gunakan paradigma antroposentris, yang berorientasi pada kebutuhan manusia dan menjadikannya sebagai subjek sekaligus objek dalam pemahaman. Kedua, paradigma antropo­sentris ini bertujuan untuk menemukan sunnah Nabi dan meng­hadir­kannya kembali dalam konteks sekarang. Pemahaman antropo­sentris ini berpegang pada prinsip dan nilai-nilai universal yang terkandung dalam teks hadis serta etika sosial humanistik yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan yang berkeadilan, setara dan toleran tanpa diskriminasi dalam berbagai bidang

    CITRA ISLAM DALAM DEMOKRASI DAN TOLERANSI: POTRET SIKAP HIDUP WARISAN RASULULLAH DAN SAHABAT

    No full text
    Democratic life is a dream for every person, every family, all the people and the state. A democratic life will knit a harmonious and peaceful atmosphere. Touches of humanism   instinct will keenly felt when the democratic behavior deeply coloring this life. Touch of affection, love, respect, helpful, gentle, good manners, tolerance and all kinds of noble characters will always be enjoyed by all communities on earth. For a long time, we are always looks for a model of life which is considered to be appropriate and harmonious with human nature. All models of life that had been coloring the world is not spared from the coverage of the series of human lives and almost all the models had been tried to be applied in their life. However, all of them are just trying a model that will certainly not be able to give satisfaction to them. We almost forgot a near-perfect model of life for the prerequisites of democratic life. That's the life model that was exhibited by the Prophet and his companions.Kehidupan demokratis merupakan dambaan bagi setiap insan, setiap keluarga,  segenap masyarakat dan negara. Dalam kehidupam yang demokratis akan terajut suatu suasana yang harmonis dan damai. Sentuhan-sentuhan naluri kemanusiaan akan amat terasa bila perilaku demokratis benar-benar mewarnai kehidupan ini. Sentuhan kasih sayang, sentuhan cinta, saling menghormati, saling menghargai, tolong-menolong, sikap lemah lembut, sopan santun, toleransi dan selaksa pernik-pernik dan aksessori akhlak mulia nan agung akan senantiasa bisa dinikmati oleh segenap komonitas yang mendiami planet Bumi ini. Selama ini, kita selalu mencari-cari dan mereka-reka model kehidupan yang dianggap cocok dan selaras dengan watak manusia. Semua model kehidupan yang pernah mewarnai dunia ini tidak luput dari liputan seri kehidupan anak manusia dan hampir keseluruhannya dicoba untuk diterapkan dalam kehidupan. Namun apa hendak dikata, kesemuanya hanyalah  model coba-coba yang sudah pasti tidak akan bisa memberikan kepuasan bagi si penikmatnya. Kita hampir saja melupakan suatu model kehidupan yang mendekati sempurna bagi prasyarat kehidupan demokratis. Itulah model kehidupan yang diperagakan oleh Rasulullah dan para sahaba

    PEMIKIRAN PEMBARUAN TEOLOGI ISLAM SYAH WALI ALLAH AD-DAHLAWI

    Get PDF
    Pemikiran pembaruan teologi Islam Syah Wali Allah ad-Dahlawi tidak hanya berfokus terhadap ajaran Islam tertentu belaka, tetapi bersifat komprehensif. Baik terhadap aspek politik, pemahaman terhadap ajaran Islam, dan lainnya. Serta menyeru untuk kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, dan mayoritas sahabat dan tabi’in. Aspek politik, ia mengajak kembali pada sistem khulafa’urrasyidin, mendamaikan perbedaan paham yang ada pada mazhab, membersihkan kepercayaan dari non Islam, ijtihad disesuaikan dengan tuntutan zama

    JIHAD DALAM PANDANGAN MUHAMMAD SHAHRUR

    No full text
    The acts of violence and terrorism committed by a group of Muslims is not based on a complete understanding of some important concepts in the Koran as the concept of jihad. This concept is often identified with the support of acts of terrorism and violence in the name of Islam-sanctioned religion. Until now, this view can still be found in some Muslim groups so some efforts to reconceptualize this view are badly needed. The focus of this paper is an attempt of Muhammad Shahrur in reviewing this concept with an approach of inter-textuality that utilizes syntagmatic-paradigmatic analysis to embed chaff theological views of war and campaigning peace Jihad in Islam. Tindakan kekerasan dan terorisme yang dilakukan oleh sekelompok umat Islam didasarkan pada pemahaman yang tidak paripurna terhadap beberapa konsep penting dalam al-Quran seperti konsep jihad. Konsep ini sering diidentikkan dengan dukungan tindakan terorisme dan kekerasan atas nama agama yang direstui Islam. Hingga kini pandangan ini masih dapat ditemukan dalam beberapa kelompok muslim sehingga diperlukan upaya rekonsepsi terhadapnya. Fokus tulisan ini adalah upaya Muhammad Shahrur mengkaji ulang konsep ini dengan pendekatan intertekstualitas yang memanfaatkan analisis sintagmatik-paradigmatik untuk  memadamkan sekam pandangan teologi perang dan mengkampayekan jihad damai dalam Isla

    “AKTIVASI” MAKNA-MAKNA TEKS DENGAN PENDEKATAN KONTEMPORER: Epistemologi Hermeneutika Subjektif-Fiqhiyyah El-Fadl

    Get PDF
    Abstract: This paper aims to review the use of hermeneutics Khaled M. Abou El-Fadl in finding a potential meaning of the text Quran and the hadith in terms of epistemology. It departs from El-Fadl is one of the contemporary Muslim intellectuals who has criticized the authoritarianism of most Muslims to be removed because against God and just believe in the single meanings. Though the text made by God to contain the potential meanings can be harmonized and contextualize the demands of the times. In addition, hermeneutic departing from the study of Islamic law or fiqh, which is often confused with the Quranic text or as fiqh is the text itself. With a philosophical approach based on literature data and discourse analysis found that El-Fadl offers hermeneutics subjective-fiqhiyyah based on the interaction between the text and the interpretive community and "a little concerned" about the role of the author or the Lord so as to present a reinterpretation of the text in the form of the potential meaning of the text which at the same time avoiding the imposition of the single meaning that generally do lending institutions fatwa. Besides that distinguishes it from other contemporary hermeneutics Muslim intellectuals or philosophers west are El-Fadl did not recognize the individual's ability to interpret text, but "community" or in the language of jurisprudence called mujtahid jam'ī and was able to explain the position of God in the stage of interpreting the text without having to remove it as subjective hermeneutics of the West.Abstrak: Tulisan ini bertujuan mengulas hermeneutika yang digunakan Khaled M. Abou El-Fadl dalam menemukan potensi-potensi makna dalam teks Alquran dan hadis ditinjau dari epistemologi. Ini berangkat dari El-Fadl merupakan salah satu intelektual muslim kontemporer yang kritis atas otoritarianisme sebagian umat muslim harus dihilangkan karena melawan Tuhan dan hanya percaya terhadap pemaknaan tunggal. Padahal teks yang dibuat oleh Tuhan mengandung potensi-potensi makna yang bisa diselaraskan dan dikontekstualisasikan dengan tuntutan zaman. Selain itu hermeneutikanya berangkat dari kajian hukum Islam atau fikih yang sering tertukar dengan teks Alquran atau seolah fikih adalah teks itu sendiri. Dengan pendekatan filosofis berbasis data pustaka dan analisis wacana, ditemukan bahwa El-Fadl menawarkan hermeneutika subjektif-fiqhiyyah yang berbasis pada interaksi antara teks dan komunitas interpretasi dan “sedikit peduli” terhadap peran pengarang atau Tuhan sehingga mampu menghadirkan pemaknaan ulang terhadap teks berupa potensi-potensi makna teks yang sekaligus menghindari pemaksaan terhadap pemaknaan tunggal yang umumnya dilakukan lembaga pemberi fatwa. Selain itu yang membedakannya dengan hermeneutika intelektual muslim kontemporer lain atau filosuf Barat adalah El-Fadl tidak mengakui kemampuan individu dalam menafsirkan teks, melainkan “komunitas” atau dalam bahasa fikih disebut mujtahid jam’ī dan mampu menjelaskan posisi Tuhan dalam tahapan menafsirkan teks tanpa harus menghilangkannya sebagaimana hermeneutika subjektif dari Barat

    RELASI MISTICAL EXPERIENCE DAN RIYADLAH AN-NAFS

    Get PDF
    Pengalaman beragama merupakan sebuah pencapaian seseorangkondisi yang menggambarkan hubungan antara sang Khaliq danmakhluknya. Kadang kondisi ini dipahami sebagai pencapaian yangsupranatural dan tidak dapat diperoleh secara tiba-tiba. Seseorangyang mengalami kondisi ini biasanya sedang melaksanakan sebuahritaul yang keagaman keagamaan yang sunguh-sungguh dan sangatserius (muja>hadah) yang memfasilitasi pengalaman terebut.Bahkan, banyak ahli tasawuf menyebutkan bahwa muja>hadahatau sering disebut pula dengan riyadah an-nafs adalah jalan satusatunya mendapatkan pengalaman keagamaan dan pencerahan yangsesungguhnya. Oleh karena itu, riyadah tidak lain merupakanmemperoleh pengalaman keberagamaan dengan melalui upayapembenahan, pembinaan dan peningkatan pribadi seseorang menujukehidupan yang baik

    REAKTUALISASI JIHAD DALAM PERSPEKTIF PERDAMAIAN DAN TOLERANSI

    No full text
    This article discusses the issue of jihad in Islamic sources. This effort is important because of the negative image of the Islamic Jihad command. Presented in this article about the meaning of jihad in Islamic sources and how to interpret contextually jihad with jihad fi sabilillah in accordance with the interests and capacities of each. Jihad does not only means qital or war. Jihad in the Qur'an is also found in other, more beneficial to the institution of humanity. In the contemporary era of jihad environmental, health and scientific innovation become necessary to save a human life.Artikel ini membahas persoalan jihad dalam sumber ajaran Islam. Upaya ini penting dilakukan karena adanya Image Islam yang negatif dari adanya perintah jihad. Dalam artikel ini dikemukakan tentang pemaknaan jihad yang ada dalam sumber ajaran Islam dan bagaimana memaknai jihad secara kontekstual dengan melaksakan jihad fi sabilillah yang sesuai dengan kepentingan dan kapasitasnya masing-masing. Jihad tidak hanya bermkna qital atau berperang. Jihad dalam al-Quran juga ditemukan dalam bentuk lain yang lebih bermanfaat bagi intitusi kemanusiaan. Di era kekinian jihad lingkungan, kesehatan dan inovasi keilmuan menjadi suatu yang penting untuk menyelamatkan kehidupan manusia

    NEO-SKEPTISISME MICHAEL COOK DAN NORMAN CALDER TERHADAP HADIS NABI MUHAMMAD

    Get PDF
    Abstract: This writing studies the ideas of renewed skepticism of Michael Cook and of Norman Calder to the prophetic hadith and to the validity of common link theory. By using the method of comparative analysis, it is found that Cook and Calder are highly skeptical to the prophetic hadith and to the validity of common link theory. Cook and Calder's skepticism even exceed Goldziher's and Schacht's skepticism. Cook and Calder say that common link phenomenon did not indicate that a certain hadith is originated from a key or a common transmitter, but it is the result of a different scenario of the spread of isnād and the result of competition of isnād criticism in the schools of Islamic law (madzāhib) in early Islamic society. Both Cook and Calder hesitate the truth and the validity of common link theory. Therefore, according to them, common link method cannot be used to trace the origin, provenance, and authorship of early hadith.Abstrak: Tulisan ini mengkaji ide-ide neo skeptisisme Michael Cook dan Norman Calder terhadap hadis Muhammad. dan terhadap validitas teori common link. Dengan menggunakan metode analisa komparatif, ditemukan bahwa Cook dan Calder sangat skeptis terhadap hadis Nabi Muhammad. Terhadap validitas teori common link. Skeptisisme Cook dan Calder bahkan melebihi skeptisisme Goldziher dan Schacht. Cook dan Calder berpendapat bahwa fenomena common link tidak menunjukkan bahwa sebuah hadis tertentu itu bersumber dari seorang periwayat kunci atau periwayat bersama, tetapi ia merupakan akibat dari skenario yang berbeda mengenai penyebaran isnād dan akibat dari kompetisi isnād di berbagai aliran fikih Islam (madhāhib) dalam masyarakat Islam awal. Baik Cook dan Calder sama-sama meragukan kebenaran dan validitas teori common link. Oleh karena itu, menurut mereka, metode common link tidak dapat digunakan untuk menelusuri asal mula, sumber dan ke­pengarangan hadis di masa awal

    KRITIK ATAS CORAK PEMIKIRAN TEOLOGI ISLAM KH. SIRADJUDDIN ABAS

    Get PDF
    Abstract: The article aims to elaborate patterns of theological thought of KH Siradjuddin Abbas (1905-1980). In the midst of mainstream theological schools established in the Islamic world: traditionalists (Sunni) and rationalists (Mu'tazila), Abbas turns out consistently defend traditional theology. In theological thinking, Abbas positioned parallel to al-Ash'arite classical theology (Ahl al-Sunnah wa ’l-Jamā’ah). He stressed all a round of God, revelation paced and use the reason is very little. He put God as absolute ruler, do as His Will. Therefore, theology of Siradjuddin Abbas is very strong hold on revelation and theocentric pattern, and everything begins and centered on God, good or bad all determined by God. Thus theology Siradjuddin Abbas less in line with modern thinking, which is progressive and forward the reason. In other words, theology of Siradjuddin Abbas less actual and contextual for the purposes of contemporary social reality if that expected from such thinking is an applicative conceptual thinking.Abstrak: Artikel ini bertujuan mengelaborasi corak pemikiran teologi K.H. Siradjuddin Abbas (1905-1980). Di tengah mainstream aliran teologi yang sudah mapan di dunia Islam: tradisionalis (Sunni) dan rasionalis (Mu’tazilah), Abbas ternyata konsisten membela teologi tradisional. Dalam pemikiran teologinya, Siradjuddin Abbas sejalan dengan pemikiran teologi klasik al-Asy’ariyah (Ahl al-Sunnah wa ’l-Jamā’ah). Ia menekankan segala suatu serba Tuhan, serba wahyu dan sangat sedikit menggunakan akal pikiran. Ia menempatkan Tuhan sebagai berkuasa mutlak semutlak-mutlaknya, berbuat sehendak-Nya. Karena itu, teologi Siradjuddin Abbas sangat kuat berpegang pada wahyu dan bercorak teosentris, dan segalanya bermula dan memusat pada Tuhan, baik atau buruk semua ditentukan oleh Tuhan. Dengan demikian teologi Siradjuddin Abbas yang ber­corak tradisional ini kurang sejalan dengan pemikiran modern, yang bersifat progresif dan lebih mengedepankan akal. Dengan kata lain, teologi Siradjuddin Abbas yang bercorak tradisional kurang aktual dan kontekstual untuk keperluan realitas sosial kontemporer jika yang diharapkan dari pemikiran tersebut adalah sebuah pemikiran yang bersifat konseptual aplikatif

    PEMAHAMAN KEBERAGAMAAN DAN GERAKAN KELOMPOK FPI SURABAYA

    No full text
    Attitudes of FPI (Islamic Defenders Front) in Indonesia so far  impressed 'frontal' and against any form of indecent behavior. Their action, in fact it can be said as one of the deepest expression of a group of Muslims in articulating religious teachings are embraced, or as an attitude of "piety" in viewing of all the different faiths in the belief that he believes. Especially in view of problems that are clearly regarded as a form of disobedience, apostasy and blasphemy. The responses and reactions, as well as research that has been conducted by the author in Surabaya is in order to uphold the principles of faith are considered "correct" earlier. This paper aims to provide comprehensive information on what factors underlie the birth of contemporary religious groups-particularly FPI in Surabaya. And find the religious understanding, activity and movements FPI group in the area. Overview of the results of this study are expected to eventually be able to eliminate the possibility of misunderstanding information is the cause of the onset of prejudice and stereotypes is the first step in conflict or resolve conflicts between religious communities in a comprehensive manner. Therefore, the known diversity of religious groups with the dynamics of movements will make it easier for religious communities to learn from each other. Sikap-sikap FPI (Front Pembela Islam) di Indonesia selama ini terkesan ‘frontal’ dan melawan setiap bentuk kemunkaran. Aksi mereka, sebenarnya bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk ekspresi terdalam dari sekelompok orang muslim dalam mengartikulasikan ajaran-ajaran agama yang dipeluknya, atau sebagai bentuk sikap “kesalehan” dalam memandang setiap keyakinan yang berbeda dengan keyakinan yang diyakininya. Apalagi dalam memandang persoalan yang jelas-jelas dianggap sebagai bentuk kemaksiatan, kesesatan dan penodaan agama. Maka respons dan reaksi mereka, sebagaimana hasil penelitian yang telah dilakukan penulis di Surabaya adalah dalam rangka menegakkan prinsip keimanan yang dianggap “benar” tadi. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi yang komprehensif tentang faktor apa saja yang melatari lahirnya kelompok-kelompok keagamaan kontemporer—terutama sekali FPI di Surabaya. Sekaligus mengetahui pemahaman keagamaan, aktifitas dan gerakan-gerakan kelompok FPI di daerah tersebut. Gambaran hasil penelitian ini pada akhirnya diharapkan mampu mengeliminasi kemungkinan kesalahpahaman informasi yang menjadi sebab timbulnya prejudice, dan stereotype yang merupakan langkah awal terjadinya konflik atau mengatasi konflik antar komunitas agama secara komprehensif. Sebab, dengan diketahui keanekaragaman kelompok-kelompok keagamaan dengan dinamika gerakannya  akan lebih memudahkan masyarakat agama untuk saling belajar satu sama lain

    215

    full texts

    232

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal THEOLOGIA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇