Tugas Akhir Jurusan Teknik Mesin - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
307 research outputs found
Sort by
RANCANG BANGU MESIN PENGAYAK PASIR DENGAN GERAKAN BERPUTAR YANG LEBIH EFEKTIF DA EFISIEN
PENGAYAKAN (SCREENING)BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangYang dimaksud dengan bahan galian adalah bijih (ore), mineral industri (industrial minerals) atau bahan galian Golongan C dan batu bara (coal).Pengolahan bahan galian (mineral beneficiation/mineral processing/mineral dressing) adalah suatu proses pengolahan dengan memanfaatkan perbedaan-perbedaan sifat fisik bahan galian untuk memperoleh produkta bahan galian yang bersangkutan. Khusus untuk batu bara, proses pengolahan itu disebut pencucian batu bara (coal washing) atau preparasi batu bara (coal preparation).Pada saat ini umumnya endapan bahan galian yang ditemukan di alam sudah jarang yang mempunyai mutu atau kadar mineral berharga yang tinggi dan siap untuk dilebur atau dimanfaatkan. Oleh sebab itu bahan galian tersebut perlu menjalani pengolahan bahan galian (PBG) agar mutu atau kadarnya dapat ditingkatkan sampai memenuhi kriteria pemasaran atau peleburan. Keuntungan yang bisa diperoleh dari proses PBG tersebut antara lain adalah :• Mengurangi ongkos angkut. • Mengurangi ongkos peleburan.• Mengurangi kehilangan (losses) logam berharga pada saat peleburan.• Proses pemisahan (pengolahan) secara fisik jauh lebih sederhana dan menguntungkan daripada proses pemisahan secara kimia.Keuntungan dilakukan pengolahan bahan galian :1. Bila jarak antara tambang ke tempat peleburan jauh, dengan adanya pengolahan dapat mengurangi biaya transportasi.2. Untuk melebur perlu flux (bahan imbuh) untuk mengikat gangue mineral agar menjadi slag dan menurunkan titik lebur slag. Dengan adanya pengolahan kadar naik, gangue sedikit dan flux berkurang.3. Kapasitas terbatas, dengan adanya pengolahan, logam yang yang didapat dari hasil peleburan lebih banyak.4. Logam yang hilang bersama slag dengan adanya pengolahan menjadi sedikit.1.2 Rumusan MasalahAdapun masalah ataupun pokok pembahasan dalam tugas ini yaitu :a. Apa yang dimaksud dengan proses pengayakan (screening)?b. Bagaimanakah menggunakan atau memilih screen pada proses pengayakan?c. Apa saja jenis-jenis screen dan bagaimana kriterianya?1.3 Maksud dan TujuanAdapun maksud dan tujuan umum penyusunan tugas ini yaitu :a. Mengetahui pengertian dari pengayakan (screening).b. Mempelajari cara menggunakan dan memilih screen pada proses pengayakan.c. Mengetahui jenis-jenis screen dan kriterianya.BAB IIPEMBAHASAN2.1 Pengertian Pengayakan (Screening)Pengayakan atau penyaringan adalah proses pemisahan secara mekanik berdasarkan perbedaan ukuran partikel. Pengayakan (screening) dipakai dalam skala industri, sedangkan penyaringan (sieving) dipakai untuk skala laboratorium.Produk dari proses pengayakan/penyaringan ada 2 (dua), yaitu :• Ukuran lebih besar daripada ukuran lubang-lubang ayakan (oversize).• Ukuran yang lebih kecil daripada ukuran lubang-lubang ayakan (undersize).Dalam proses industri, biasanya digunakan material yang berukuran tertentu dan seragam. Untuk memperoleh ukuran yang seragam, maka perlu dilakukan pengayakan. Pada proses pengayakan zat padat itu dijatuhkan atau dilemparkan ke permukaan pengayak. Partikel yang di bawah ukuran atau yang kecil (undersize), atau halusan (fines), lulus melewati bukaan ayak, sedang yang di atas ukuran atau yang besar (oversize), atau buntut (tails) tidak lulus. Pengayakan lebih lazim dalam keadaan kering (McCabe, 1999, halaman 386).• Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengayakan, yaitu:a. Jenis ayakanb. Cara pengayakanc. Kecepatan pengayakan]d. Ukuran ayakane. Waktu pengayakanf. Sifat bahan yang akan diayak• Tujuan dari proses pengayakan ini adalah: [Taggart,1927]a. Mempersiapkan produk umpan (feed) yang ukurannya sesuai untuk beberapa proses berikutnya.b. Mencegah masuknya mineral yang tidak sempurna dalam peremukan (Primary crushing) atau oversize ke dalam proses pengolahan berikutnya, sehingga dapat dilakukan kembali proses peremukan tahap berikutnya (secondary crushing). c. Untuk meningkatkan spesifikasi suatu material sebagai produk akhir.d. Mencegah masuknya undersize ke permukaan.Pengayakan biasanya dilakukan dalam keadaan kering untuk material kasar, dapat optimal sampai dengan ukuran 10 in (10 mesh). Sedangkan pengayakan dalam keadaan basah biasanya untuk material yang halus mulai dari ukuran 20 in sampai dengan ukuran 35 in.• Permukaan ayakan yang digunakan pada screen bervariasi, yaitu: [Brown,1950]a. Plat yang berlubang (punched plate, bahan dapat berupa baja ataupun karet keras.b. Anyaman kawat (woven wire), bahan dapat berupa baja, nikel, perunggu, tembaga, atau logam lainnya.c. Susunan batangan logam, biasanya digunakan batang baja (pararel rods). Sistem bukaan dari permukaan ayakan juga bervariasi, seperti bentuk lingkaran, persegi ataupun persegi panjang.Penggunaan bentuk bukaan ini tergantung dari ukuran, karakteristik material, dan kecepan gerakan screen.• Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan material untuk menerobos ukuran ayakan adalah :a. Ukuran buhan ayakanSemakin besar diameter lubang bukaan akan semakin banyak material yang lolos.b. Ukuran relatif partikelMaterial yang mempunyai diameter yang sama dengan panjangnya akan memiliki kecepatan dan kesempatan masuk yang berbeda bila posisinya berbeda, yaitu yang satu melintang dan lainnya membujur.c. Pantulan dari materialPada waktu material jatuh ke screen maka material akan membentur kisi-kisi screen sehingga akan terpental ke atas dan jatuh pada posisi yang tidak teratur.d. Kandungan airKandungan air yang banyak akan sangat membantu tapi bila hanya sedikit akan menyumbat screen.2.2 Memilih Screen pada Proses Pengayakan (Screening)Efektivitas ayakan dihitung berdasarkan rekoveri desired material dalam produk dan rekoveri undesired material di arus reject. Desired mat’l = mat’l dengan ukuran yang diinginkan. Efisiensi screen dalam mechanical engineering didefinisikan sebagai perbandingan dari energi keluaran dengan eneri masukan. Dengan demikian dalam screening bukannya efisiensi melainkan ukuran keefektifan dari operasi.Efisiensi dari proses pengayakan ini bergantung pada: [Brown,1950]a. Rasio ukuran minimal partikel yang bisa melewati lubang ayakan, yaitu: 0,17-1,25 x ukuran lubang ayakan.b. Persentase total area ayakan yang terbuka.c. Teknik pengumpanan dan kecepatan pengumpanan.d. Keadaan fisik dari material itu sendiri (kekerasan bijih, pola bongkahan bentuk partikel seperti bulat, gepeng, ataupun jarum, kandungan air).e. Ada atau tidak adanya penyumbatan lubang screen.f. Ada atau tidak adanya korosi pada ayakan (kawat).g. Mekanisme gerakan pengayakan (getaran).h. Design mekanis dari ayakan tersebut dan Kemiringan ayakan (biasanya 12o-18o).• Faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan screen: a. kapasitas, kecepatan hasil yang diinginkan. b. Kisaran ukuran ( size range), c. Sifat bahan : densitas, kemudahan mengalir (flowability), d. Unsur bahaya bahan : mudah terbakar, berbahaya, debu yang ditimbulkan. e. Ayakan kering atau basah. Kapasitas screen secara umum tergantung pada: [Kelly,1982]1. Luas penampang screen2. Ukuran bahan3.Sifat dari umpan seperti; berat jenis, kandungan air, temperature4.Tipe mechanical screen yang digunakan.Standar ukuran ayakan (screen) Ukuran yang digunakan bisa dinyatakan dengan mesh maupun mm (metrik). Yang dimaksud mesh adalah jumlah lubang yang terdapat dalam satu inchi persegi (square inch), sementara jika dinyatakan dalam mm maka angka yang ditunjukkan merupakan besar material yang diayak.Perbandingan antara luas lubang bukaan dengan luas permukaan screen disebut prosentase opening. Pelolosan material dalam ayakan dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :1. Ukuran material yang sesuai dengan lubang ayakan2. Ukuran rata-rata material yang menembus lubang ayakan3. Sudut yang dibentuk oleh gaya pukulan partikel4. Komposisi air dalam material yang akan diayak5. Letak perlapisan material pada permukaan sebelum diayak Dalam pengayakan melewatkan bahan melalui ayakan seri ( sieve shaker) yang mempunyai ukuran lubang ayakan semakin kecil. Setiap pemisahan padatan berdasarkan ukuran diperlukan pengayakan.screen mampu mengukur partikel dari 76 mm sampai dengan 38 µm. Operasi screening dilakukan dengan jalan melewatkan material pada suatu permukaan yang banyak lubang atau openings dengan ukuran yang sesuai. Ditinjau sebuah ayakan :Fraksi oversize = fraksi padatan yang tertahan ayakan. Fraksi undersize = fraksi padatan yang lolos ayakan. Jika ayakan lebih dari 2 ayakan yang berbeda ukuran lubangnya, maka akan diperoleh fraksi-fraksi padatan dengan ukuran padatan sesuai dengan ukuran lubang ayakan. Pengayakan biasanya dilakukan dalam keadaan kering untuk material kasar, dapat optimal sampai dengan ukuran 10 in (10 mesh).Sedangkan pengayakan dalam keadaan basah biasanya untuk material yang halus mulai dari ukuran 20 in sampai dengan ukuran 35 in.Material yang masukkan ke dalam screening, akan terbagi 2 :• Undersize material, material yang melewati screening (produk)• Oversize material, material yang tertinggal diatas ayakan (screening)Walaupun proses screening ini bisa dalam keadaan basah maupun kering, tetapi dry screening lebih sering digunakan dalam operasi proses mineral.Dalam proses kering, bahan yang akan diayak tidak menggunakan cairan dalam proses pengayakannya. Sedangkan dalam proses pengayakan basah, bahan yang akan diayak ditambah dengan cairan yang bukan pelarut, misalnya air yang bertujuan untuk mencuci bahan tersebut melalui pengayakan Faktor yang Mempengaruhi Proses Pengayakan• Bentuk lubang ayakan bulat, segi empat, kubus, balok, lonjong dsb (yang paling sering digunakan adalah bujur sangkar)• Celah dan interval ayakan mesh : jumlah celah (lubang ayakan) bujur sangkar tiap 1 in arah memanjang.• Ukuran partikel • Kapasitas ayakan dan keefektifan o kapasitas ayakan diukur dengan massa bahan yang diumpankan persatuan waktu dan persatuan luas ayak (bisa dikendalikan dengan mengubah laju umpan)o efektifitas ayakan adalah ukuran keberhasilan ayakan dalam memisahkan bahan A dan B secara teliti (tergantung pada sifat pengoperasiannya)Variabel-variabel dalam Proses Pengayakan• Metode pengumpanan, umpan harus disebar merata dan mendekati ayakan dalam arah paralel pada sumbu vertikal ayakan • Permukaan ayakan • Sudut kemiringan • Kecepatan putar, semakin cepat semakin tinggi kapasitas ayakan. Kecepatan yang baik adalah 0,33 – 0,45 kali kecepatan kritis • Frekuensi getaran, tergantung dari ukuran dan jenisnya. Umpan digetarkan dengan keras tetapi tidak membuat material terlempar ke udara 2.3 Jenis-jenis Screening dan Kriterianya Grizzlies Shaking screens Vibrating screens Revolving screens / trommel Bagian-bagian Screening Secara Umum• 1/3 bagian atas permukaan screening : tempat material dijatuhkan • Bagian opening (pembukaan) :terdiri dari bagian yang bergerak (screen) dan yang tidak bergerak (penampungan)• Bagian Penampungan (discharge chutes)Grizzly Screen• Umpan yang sangat kasar, jatuh pada ujung atas kisi.• Bongkahan yang besar akan menggelinding ke bagian ujung dan bongkahan kecil akan jatuh ke bawah masuk kedalam kolektor (pengumpul) tersendiri.• Jarak antara setiap batang pada bagian atas dibuat cukup lebar dibandingkan bagian bawah agar kuat tanpa terjadi penyumbatan oleh bongkahan yang hanya lolos sebagian.• Jarak antara batang berkisar 2 – 8 inShaking Screens• Ayakan mempunyai bingkai berbentuk segiempat, yang digerakkan Maju Mundur. Keuntungan : hemat tempat dan energi kecil • Kerugian : biaya perawatan tinggi dan kapasitas rendah Vibrating Screens• Ayakan digerakkan naik turun dengan suatu alat bantu.• Mempunyai simpangan getaran yang kecil dengan frekuensi getaran sekitar 1200 – 1800 permenit Revolving Screens / Trommel• Bentuknya silinder atau kerucut yang miring terhadap horizontal• Kemiringan ayakan untuk memudahkan pengeluaran partikel kasar.• Ayakan ini berputar dengan kecepatan rendah, 15 – 20 rpmBAB IIIPENUTUP3.1 KesimpulanDari tugas pengolahan bahan galian tentang pengayakan (screening) tersebut, dapat di ambil kesimpulan yaitu :a. Pengayakan atau penyaringan adalah proses pemisahan secara mekanik berdasarkan perbedaan ukuran partikel. Pengayakan (screening) dipakai dalam skala industri, sedangkan penyaringan (sieving) dipakai untuk skala laboratorium.b. Faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan screen yaitu : kapasitas, kecepatan hasil yang diinginkan, kisaran ukuran ( size range), sifat bahan : densitas, kemudahan mengalir (flowability), unsur bahaya bahan : mudah terbakar, berbahaya, debu yang ditimbulkan. ayakan kering atau basah. c. Ada beberapa jenis screen, diantaranya : Grizzlies, Shaking screens, Vibrating screens, Revolving screens / trommel.DAFTAR PUSTAKAFuehrer, Sang,. 2009. Pengolahan Bahna Galian. http://sangfuehrer.blogspot.com/feeds/posts/default?alt=rss. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2010 pukul 01:38:42 WITAPrabowo, Herjun,. 2009. Perlakuan Mekanik ‘Neraca Bahan pada Pengayakan’. Padang : Akademi Teknologi Industri PadangTambang, Boss,. 2009. Pengolahan Bahan Galian. http://bosstambang.com/component/option,com_jcomments/format,raw/object_group,com_content/object_id,52/task,rss/. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2010 pukul 01:33:48 WIT
PEMANFAATAN TEKNOLOGI MESIN PIPIL SEBAGAI SARANA PENGEFEKTIFAN HASIL PANEN JAGUNG
ABSTRAK Daniel Arisang Setia Kusuma, Irfan Syah Adi Putra. 2013. Pemanfaatan Teknologi Mesin Pipil Sebagai Sarana Pengefektifan Panen Jagung. Tugas Akhir, Progam Studi D3 Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Eddy Sutadji ,M.Pd. (II) Drs. Yuni Sunarto Kata Kunci : mesin pipil jagung Tugas Akhir Mesin Pipil Jagung yang memiliki panjang 800 mm, lebar 330 mm, tinggi 750 mm, daya motor 3/4 HP, kapasitas mesin 2,5 kg/menit. Tujuan alat ini adalah alat yang digunakan untuk memipil jagung yang memisahkan biji jagung dengan tongkolnya. Dalam pengoprasiannya mesin pipil tersebut menggunakan pisau berbentuk silinder yang diputar dengan motor, prosesnya jagung didorong dan akan rontok ketika mengenai pisau yang berputar. Metode pengembangan alat ini adalah dapat diproduksi secara masal, dan dikembangkan dengan kapasitas yang lebih besar dengan daya yang sama. Hasil uji coba menunjukkan biji jagung dapat terpisah dari tongkol dengan baik, yaitu tidak terjadi pecah pada biji jagung. Sedangkan tongkol jagung juga utuh sehingga bisa dimanfaatkan menjadi bahan bakar pengganti minyak. Kesimpulan: Mesin pipil jagung kapasitas 150 kg/jam dengan daya ¾ PK dapat dipergunakan oleh petani maupun UKM (Usaha Kecil Menengah) makanan ringan, dengan harga yang relatif murah, dan ukuran yang tidak terlalu besar mesin pipil ini bisa dimiliki oleh perseorangan atau kelompok
rancang bangun mesin pencacah plastik
ABSTRAK Mada dan Mahar.2013.Mesin Perajang Plastik. Untuk Mempermudah dan Meningkatkan Produktivitas Pengepakan dan Daur Ulang SampahPlastik. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik,Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Sumarli, M.Pd.,M.T. (II) Drs. Maftuchin Romlie, M.Pd. Kata kunci : Plastik, Produktivitas Di kota Malang penggunaan plastik berkembang sangat pesat, halini dapat dilihat dari banyaknya penggunaan peralatan yang terbuat dariplastik. Oleh karena itu, sebagian dari masyarakat yang ada dikota malangmelihat prospek ini dapat dijadikan lahan pekerjaan yang dapatmenghasilkan uang. Pak Edi adalah salah satu contoh pengusaha pengepulsampah anorganik, pak Edi mendapatkan sampah dari setoran parapenyetor sampah, pemulung dan juga dari orang-orang yang langsungmenjualnya ke pak Edi. Pada uunya pak Edi membeli sampah dari sampahplastik dari penyetor seharga Rp. 3000,- per kilogramnya, dan seharinyapak Edi bisa mendaptkan kurang lebih 300 kg sampah plastik. Sampahplastik tersebut tidak di proses sendiri melainkan di jual ke pabrik daurulang di surabaya dengan harga Rp. 3500 / kg, untuk diolah kembalimenjadi bahan baku plastik. Sebelum proses pengiriman sampah, pak Edi dan 4 karyawannyamemilah-milah terlebih dahulu berdasarkan jenis sampah. Misal sampahbotol plastik dimasukan ke dalam satu wadah tersendiri, begitu jugasampah gelas plastik dan juga sampah plastik lainya juga di letakkan padawadah yang berbeda. Dari hasil observasi kami pada pengepul sampah yaitu pak Ediyang berada di daerah pasar baru Dinoyo, kami menemukan fakta bahwatidak adanya mesin pengolahan sampah yang bisa mencacah sampahplastik menjadi bentuk yang lebih kecil, sehingga dalam pengiriman danpengepakan akan lebih mudah dan hemat tempat. Dalam segi ekonomijuga menguntungkan, karena mesin ini menggunakan motor 1 hp dengantegangan 220 V sehingga hemat energi. Manfaat lainya dari mesin iniadalah membuat pengepakan plastik menjadi hemat tempat dan padaproses pengiriman sampah menjadi lebih banyak karena sampah sudahenjadi bentuk serpihan atau bentuknya lebih kecil dari semula. Dari segisumber daya manusia tidak perlu lagi karyawan yang semula 4 oranguntuk memilah sampah menjadi hanya 2 orang, karena sampah tidak perludipilah lagi dan langsung dicacah dan dikemas. Selain itu juga adakemungkinan harga penjualan ke pabrik akan lebih mahal karena sampahsudah berbentuk serpihan kecil
MESIN PENGADUK ADONAN ROTI DENGAN KAPASITAS 20 KILOGRAM SEKALI PROSES
ABSTRAK Adi Pramono, sucahyo.2013 Mesin Pengaduk Adonan Roti dengan Kapasitas 20 Kilogram Sekali Proses.Tugas Akhir Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Basuki, M. Pd Pembimbing (II) Drs. H. Abdul Qolik, MM. M. Pd Kata Kunci: mesin pengaduk, Adonan Roti. Mesin pengaduk adonan roti adalah suatu rangkaian komponen yang digunakan untuk mencampurkan bahan adonan pembuatan roti. Ditinjau dari prinsip kerja, mesin pengaduk adonan roti memiliki prinsip kerja dimana lengan pengaduk berputar dan mengelilingi wadah adonan. Komponen yang terdapat dalam mesin pengaduk adonan roti ini, yaitu : 1) Motor listrik; 2) Puli; 3) Sabuk; 4) Poros; 5) Pasak; 6) Bantalan; 7) Roda gigi; 8) Lengan pengaduk. Dari uraian hasil perhitungan diperoleh ukuran-ukuran dari komponen-komponen mesin pengaduk adonan roti ini, yaitu : 1) Daya motor; 2) Jenis sabuk; 3) Dimensi puli; 4) Dimensi poros; 5) Dimensi pasak; 6) Jenis bantalan; 7) Jenis roda gigi; 8) Lengan Pengaduk. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari Tugas Akhir Mesin pengaduk adonan roti ini, yaitu : Mesin pengaduk adonan roti adalah mesin dengan bentuk modifikasi sederhana yang terdiri dari elemen-elemen yang berputar yang berfungsi sebagai pengaduk untuk mencampur bahan-bahan pembuat roti. Prinsip kerja dari mesin pengaduk adonan roti ini adalah bahan adonan roti yang dimasukkan kedalam wadah aduk. Didalam wadah aduk bahan adonan roti akan dicampur dengan cara diaduk dalam jangka waktu tertentu. Setelah hasil pencampuran adonan sempurna maka hasil adonan bisa diproses untuk selanjutnya dilakukan proses untuk pembuatan roti
Pengaruh Pendinginan Hasil Las Mig (Metal Inert Gas) Dengan Berbagai Media Pendingin Terhadap Kekerasan Jalur Las Dan Sekitarnya
ABSTRAK Rizal, Khoirur A. 2013 Pengaruh Pendinginan Hasil Las Mig (Metal Inert Gas)Dengan Berbagai Media Pendingin Terhadap Kekerasan Jalur Las DanSekitarnya. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, UniveritasNegeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Wahono, S.T., M. Pd., (II) Drs. , HAbdul Qolik, M. M., M. Pd Kata Kunci: Baja St 41, las MIG, logam las, daerah HAZ, media pendingin,kekerasan. Pengelasan MIG merupakan proses penyambungan dua material logamatau lebih menjadi satu melalui proses pencairan setempat, dengan menggunakanelektroda gulungan (filler metal) yang sama dengan logam dasarnya (base metal)dan menggunakan gas pelindung (inert gas ). Las MIG (Metal Inert Gas)merupakan las busur gas yang menggunakan kawat las sekaligus sebagaielektroda. Elektroda tersebut berupa gulungan kawat ( rol ) yang gerakannyadiatur oleh motor listrik. Daerah las-lasan terdiri dari tiga bagian yaitu: daerah logam las, daerahpengaruh panas atau heat affected zone disingkat menjadi HAZ dan logaminduk yang tak terpengaruhi panas. Daerah logam las adalah bagian dari logamyang pada waktu pengelasan mencair dan kemudian membeku. Komposisi logamlas terdiri dari komponen logam induk dan bahan tambah dari elektroda. Daerahpengaruh panas atau heat affected zone (HAZ) adalah logam dasar yangbersebelahan dengan logam las yang selama proses pengelasan mengalami siklustermal pemanasan dan pendinginan cepat sehingga daerah ini yang paling kritisdari sambungan las. Logam induk adalah bagian logam dasar di mana panas dansuhu pengelasan tidak menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan struktur dansifat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Nilai kekerasanhasil pengelasan MIG dengan media pendingin air PDAM pada baja St 41 di jalurlas dan sekitarnya, (2) Nilai kekerasan hasil pengelasan MIG dengan mediapendingin air garam pada baja St 41 di jalur las dan sekitarnya, (3) Nilaikekerasan hasil pengelasan MIG dengan media pendingin Oli pada baja St 41 dijalur las dan sekitarnya, dan (4) Apakah terdapat perbedaan nilai kekerasan hasilpengelasan MIG dengan media pendingin air PDAM, air garam dan oli pada bajaSt 41 di jalur las dan sekitarnya. Penelitan ini menggunakan teknik analisis anava data hasil uji normal laludengan uji regresi. Hasil penelitian rata-rata nilai kekerasan tertinggi pada mediapendingin yang berbeda, yakni pada media air garam mencapai 79,802 HRBkemudian media air PDAM 78,923 HRB, lalu media oli 75,128 HRB yangsemakin rendah. Laju pendinginan berpengaruh terhadap nilai kekerasan dalampengelasan baja St 41, semakin cepat laju pendinginan nilai kekerasan semakintinggi
Hubungan Presepsi Siswa SMP Dengan Minat Melanjutkan Pendidikan Ke SMK Program Studi Keahlian Teknik Bangunan di lumajang
ABSTRAK Yusuf Ridhwan. 2012. Hubungan Presepsi Siswa SMP Dengan Minat Melanjutkan Pendidikan Ke SMK Program Studi Keahlian Teknik Bangunan. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Eko Suwarno, M. Pd (2) Dra. Sri Agrariani Judowati, M. Pd. Kata kunci: Hubungan, Persepi siswa SMP, Minat melanjutkan ke SMK Pendidikan kejuruan di indonesia dilakukan pada tingkat sekolah menengah atau yang biasa disebut Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Lama pendidikan yang ditempuh adalah 3 tahun. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui persepsi siswa SMP dalam melanjutkan ke pendidikan SMK, juga untuk mengetahui minat siswa SMP dalam melanjutkan ke pendidikan SMK Teknik Bangunan Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dalam bentuk angket dan kuesioner. Jumlah populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas IX di SMPN I Tekung dan SMPN 4 Lumajang. Sampel penelitian adalah siswa SMPN I Tekung dan SMPN 4 Lumajang kelas IX yang diambil secara acak. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik Area Sampling dan teknik Random Sampling. Pengumpulan data menggunakan angket kuesioner presepsi dan minat melanjutkan ke SMK dengan skala sangat setuju, setuju, kurang setuju, tidak setuju. Teknik analisis yang digunakan adalah persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi siswa SMP terhadap SMK Teknik Bangunan 1) Sebanyak 3.125% atau sebanyak 3 siswa SMP dari semua sampel yang mempunyai presepsi sangat baik terhadap SMK bidang keahlian Teknik Bangunan. 2) Sebanyak 8.33% atau 8 siswa yang mempunyai presepsi baik. 3) Sebanyak 43.75% atau 42 siswa mempunyai presepsi sedang. Sedangkan minat melanjutkan ke SMK Teknik Bangunan 1) Sebanyak 2.08% atau sebanyak 2 siswa SMP dari semua sampel yang mempunyai minat sangat tinggi terhadap SMK bidang keahlian Teknik Bangunan. 2) Sebanyak 34.37% atau 33 siswa yang mempunyai presepsi baik. 3) Sebanyak 53.15% atau 51 siswa mempunyai presepsi sedang. 4) Sebanyak 10.42% atau 10 siswa mempunyai persepsi yang rendah. Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti menyarankan kepada berbagai pihak: Untuk pihak SMP dan SMK: Dapat memberikan gambaran yang baik terhadap SMK bahwa SMK jika telah lulus dari sekolah tidak menciptakan tenaga kasar tetapi mencetak tenaga ahli yang sesuai dengan bidang dan jurusannya,dan juga lulusan SMK lebih cepat mendapatkan kerja dari pada lulusan SMU karena SMK sudah memiliki keterampilan yang memadai serta perlu diadakan promosi yang gencar baik melalui media elekktronik maupun cetak. Untuk peneliti selanjutnya: dilakukan penelitian yang lebih detail,baik wilayah sampel maupun karakteristik SMP dan SMK yang telah di lakukan penelitia
Mesin Pengaduk Sabun Colek
ABSTRAK Arif Fatkhurrohman, Ali Hasan. 2013. Mesin Pengaduk Sabun Colek. Tugas Akhir, Program Studi D3 Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Siswanto ,M.A. (II) Drs. Yuni Sunarto Kata Kunci : mesin pengaduk sabun colek Tugas Akhir Mesin Pengaduk Sabun Colek yang memiliki panjang 600 mm, lebar 350 mm, tinggi 800 mm, daya motor 1/4 HP, kapasitas mesin 10 kg/jam. Tujuan alat ini adalah alat yang digunakan untuk mengaduk atau meratakan komponen pembuatan sabun colek yang menjadikan hasil campuran lebih homogen. Dalam pengoperasiannya mesin pengaduk sabun colek tersebut menggunakan pengaduk berbahan stainless, prosesnya semua bahan dicampur kedalam bak, kemudian diaduk oleh pengaduk sampai homogen. Metode pengembangan alat ini adalah dapat diproduksi secara masal, dan dikembangkan dengan kapasitas yang lebih besar dengan daya yang sama. Hasil uji coba menunjukkan sabun colek yang dihasilkan kualitasnya baik, yaitu tercampur rata. Kesimpulan: Mesin pengaduk sabun colek kapasitas 10 kg/jam dengan daya 1/4 PK dapat dipergunakan oleh industri rumahan maupun UKM (Usaha Kecil Menengah), dengan harga yang relatif murah, dan ukuran yang tidak terlalu besar mesin pengaduk sabun colek ini bisa dimiliki oleh perseorangan atau kelompok
RANCANG BANGUN MESIN PEMANAS TELUR ASIN
ABSTRAK Sigit Risanggono, Karisma Ari Pribadi. 2012. Rancang Bangun Mesin Pemanas Telur Asin. Tugas Akhir, Progam Studi D3 Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Eddy Sutadji, M.Pd. (II) Drs. Solichin, S.T.,M.kes. Kata Kunci: mesin pemanas telur asin, Tugas Akhir Mesin Pemanas Telur Asin yang memiliki panjang 500 mm, lebar 300 mm, tinggi 400 mm, daya 500 watt, kapasitas 50 butir telur asin. Alat iniadalahalat yang dapatdigunakanuntukmematangkan telur asinmenggunakan sistem perpindahan panas, dengan suhu ± 1000C, sistem pemanas yang digunakan adalah kawat bara, pengaturan suhu menggunakan thermo couple controller, suhu ruangan pemanas di atur oleh sensor panas, daya yang digunakan adalah listrik AC sebesar 500 watt. Tujuandari proses pemanasan teluradalahuntuk mendapatkantelur asin yang berkualitas tinggi dan sesuai dengan fungsi mesin pemanas. Kapasitas 50 butir per jam
Pengembangan Dan Penerapan Modul Pembelajaran Mata Kuliah Autotronik Pada Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Malang
ABSTRAK Lukmana, Fery Nanda. 2013. Pengembangan Dan Penerapan Modul Pembelajaran Mata Kuliah Autotronik Pada Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Otomotif, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Mardji, M.Kes (II) Drs. Imam Muda Nauri, S.T, M.T Kata kunci: pengembangan modul, pembelajaran modul, autotronik Berdasarkan hasil observasi melalui angket pada mahasiswa program studi S1 Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Malang yang sudah menempuh matakuliah autotronik, perlu adanya bahan ajar autotronik yang mendukung dan mempermudah mahasiswa untuk belajar, bahan ajar yang ada harus sesuai dengan materi pokok yang akan dikaji dalam matakuliah autotronik pada S1 Pendidikan Teknik Otomotif. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan modul pembelajaran mata kuliah autotronik bagi mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Malang dan mengetahui penerapan uji coba modul pembelajaran mata kuliah autotronik bagi mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Malang yang pernah mengikuti matakuliah autotronik. Model pengembangan yang digunakan yaitu model pengembangan menurut Pustekom Depdiknas 2008. Langkah langkah pengembangan terdiri dari bedah kurikulum, identifikasi media, pengembangan naskah, produksi, validasi desain, penyempurnaan, ujicoba, dan revisi. Bedah kurikulum dilakukan dengan melihat tujuan dan deskripsi matakuliah Autotronik pada katalog Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Setelah melakukan peninjauan kurikulum, prosedur selanjutnya adalah melakukan identifikasi media. Identifikasi media dilakukan berdasarkan masalah yang ada pada matakuliah autotronik. Pada tahap selanjutnya yaitu pengembangan naskah. Pada tahap pengembangan naskah dilakukan pengembangan komponen modul. Produksi awal yaitu berupa modul pembelajaran Autotronik diproduksi dalam jumlah skala kecil untuk proses validasi. Validasi modul meliputi penilaian modul oleh satu orang ahli media dan materi Autotrotonik. Selanjutnya dilakuakan uji coba lapangan skala kecil produk dilaksanakan pada mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif yang pernah menempuh matakuliah Autotronik berjumlah 20 orang. Setelah uji coba lapangan maka akan didapatkan produk akhir dari modul Autotronik. Berdasarkan analisis data dalam penelitian ini diperoleh data hasil validasi angket dan data hasil validasi modul. Data hasil validasi angket oleh dosen memperoleh persentase 95% yang termasuk kriteria valid. Hal ini berarti bahwa angket sudah layak untuk digunakan sebagai instrument validasi modul yang dikembangkan oleh peneliti. Data hasil validasi modul oleh dosen menunjukkan bahwa modul ini memperoleh persentase 87,8% yang termasuk kriteria valid dan data hasil validasi modul oleh mahasiswa menunjukkan bahwa modul ini memperoleh persentase 86,7% yang termasuk kriteria valid. Berdasarkan hasil analisis data disimpulkan bahwa modul yang telah dikembangkan pada penelitian ini dinyatakan valid dan layak digunakan dalam pembelajaran. Saran untuk pengembangan produk lebih lanjut, modul ini perlu diujicobakan pada lingkup yang lebih luas lagi untuk melihat keefektifan dan keefesienan dari modul terhadap pembelajaran. Selain itu perlu adanya pengembangan modul berbasis CD agar penggunaan di dalam kelas lebih efektif
Hubungan antara Motivasi Belajar dan Penerapan Model Pembelajaran Talking Stick dengan Hasil Belajar Sistem Bahan Bakar Motor Diesel Siswa Kelas XI Teknik Kendaraan Ringan di SMK Al Kaaffah Kabupaten Malang
ABSTRAK Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui bahwa pelaksanaan pembelajaran pada pelajaran produktif siswa kelas XI TKR di SMK Al Kaaffah Kabupaten Malang masih menggunakan metode ceramah. Mengakibatkan siswa kurang antusias, mudah bosan, dan motivasi belajar siswa naik turun saat pembelajaran berlangsung, sehingga berdampak pada hasil belajar siswa rendah. Dari 34 siswa kelas XI, 70,59 % siswa mendapatkan hasil belajar di atas SKM sedangkan 29,41 % siswa mendapatkan hasil belajar di bawah SKM. Demikian perlu dilakukan penerapan pembelajaran yang mampu membuat siswa menjadi lebih aktif, salah satunya dengan penerapan model pembelajaran talking stick. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana motivasi belajar siswa, penerapan model pembelajaran talking stick, hasil belajar siswa, serta untuk mengetahui hubungan antara motivasi belajar siswa dan penerapan model pembelajaran talking stick dengan hasil belajar sistem bahan bakar motor diesel siswa kelas XI Teknik Kendaraan Ringan di SMK Al Kaaffah. Penelitian yang digunakan adalah penelitian hubungan dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian diambil dari keseluruhan jumlah populasi, yaitu siswa kelas XI TKR yang berjumlah 34 siswa. Pengumpulan data motivasi belajar dan penerapan model pembelajaran talking stick dengan menggunakan metode angket, untuk data hasil belajar dengan menggunakan metode tes. Teknik analisis yang digunakan adalah statistik deskriptif untuk mendeskripsikan data penelitian dengan uji korelasional serta uji hipotesis penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) motivasi belajar siswa tinggi, (2) penerapan model pembelajaran talking stick mendapat skor pencapaian baik, (3) hasil belajar siswa tinggi, (4) terdapat hubungan positif yang kuat antara motivasi belajar dengan hasil belajar siswa, (5) terdapat hubungan positif yang kuat antara penerapan model pembelajaran talking stick dengan hasil belajar siswa, (6) terdapat hubungan positif yang sangat kuat antara motivasi belajar dan penerapan model pembelajaran talking stick dengan hasil belajar siswa. Saran yang diberikan yaitu: (1) bagi guru pelajaran produktif, hendaknya model pembelajaran talking stick dijadikan alternatif dalam pembelajaran dan selalu menanamkan motivasi belajar ke siswa, (2) bagi Kepala SMK Al Kaaffah, hendaknya selalu memberi dorongan pada guru untuk menerapkan pembelajaran yang mampu membuat siswa aktif dalam proses pembelajaran, (3) bagi peneliti selanjutnya, direkomendasikan untuk meneliti penerapan model pembelajaran talking stick pada mata pelajaran lain sesuai dalam dua sekolah atau lebih. Kata Kunci: motivasi belajar, model pembelajaran talking stick, dan hasil belaja