Jurnal Ilmiah Mahasiswa AGROINFO GALUH
Not a member yet
1079 research outputs found
Sort by
ANALYSIS BREAK-EVEN POINT OF TOFU AGROINDUSTRY
The tofu agroindustry Sumber Rezeki is one of the tofu industries that is still active in Balokang Village, Banjar District, Banjar City which has been established since 1999 until now, but until now the craftsmen do not know clearly about financial management, profits and business success. Research purposes is to find out: (1) the cost and income of tofu agroindustry; (2) the amount of R/C; and (3) the amount of the break-even point of revenue, the break-even point of production volumes and the break-even point of prices in one production process. The type of research used is a qualitative method. The results showed: (1) The production cost of the tofu agroindustry "Sumber Sustenance" which was issued in one production process was Rp. 4,135,312.27, the production produced was 65 buckets of tofu or 18,785 pieces of tofu with a price of one bucket Rp. 90,000. The income obtained by the craftsmen is Rp. 5,950,000 and the amount of income earned is Rp. 1,814,687.73 in one production process. (2) The R/C value is 1.43, which means that for every one rupiah spent, an income of 1.43 will be obtained. So that the income of tofu agroindustry Sumber Sustenance is Rp. 0.43; (3) The break-even point of the tofu agroindustry “Sumber Rezeki” is reached at a sales value of Rp. 595,744.3 and a minimum production volume of 6.61 buckets or 1,910 pieces of Tofu with a minimum price of Rp. 63,620.19
ANALISIS TATA NIAGA BAWANG MERAH DI DESA SIDOMULYO KECAMATAN BELITANG KABUPATEN OKU TIMUR
Penelitian ini memiliki arahan untuk menganalisis keragaan saluran pemasaran bawang merah di Desa Sidomulyo Kecamatan Belitang Kabupaten OKU Timur, menganalisis efisiensi saluran pemasaran bawang merah di Desa Sidomulyo Kecamatan Belitang Kabupaten OKU Timur dilihat dari margin pemasaran dan farmer’s share. Data diperoleh dengan cara menyebarkan kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukkan Peragaan pada tataniaga bawang merah terdapat 3 pola system tata niaga. Pola 1 terdapat 3 lembaga yaitu tengkulak, pedagang besar dan pengecer, pola ke II, tengkulak dan pedagang pengecer. Kemudian pola ke III tanpa lembaga pemasaran yakni petani langsung ke konsumen, 2 pola tataniaga yang efisien adalah pola system tataniaga III yaitu pola system tanpa lembaga pemasaran, dimana petani menjual langsung ke konsumen
STRUKTUR DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN PETANI JAGUNG DI DESA KARANGPARI KECAMATAN RANCAH KABUPATEN CIAMIS
Kebutuhan jagung di Kabupaten Ciamis untuk pemenuhan produksi pakan ternak masih belum terpenuhi oleh produksi domestik, padahal Ciamis merupakan sentra produksi peternakan di Jawa Barat akan selalu membutuhkan jagung sebagai bahan baku pakan ternak. Penelitian dilakukan untuk mengetahui besarnya biaya, penerimaan, dan pendapatan usahatani jagung di Desa Karangpari Kecamatan Rancah Kabupaten Ciamis, struktur pendapatan petani jagung di Desa Karangpari Kecamatan Rancah Kabupaten Ciamis, dan distribusi pendapatan petani jagung di Desa Karangpari Kecamatan Rancah Kabupaten Ciamis. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Jumlah petani responden sebanyak 32 orang diambil menggunakan perhitungan rumus slovin dengan tingkat kesalahan sebesar 15 persen dari total populasi petani jagung sebanyak 115 orang. Penelitian ini mencakup data primer dan sekunder, kemudian dianalisis secara deskriptif. Ditemukan dari hasil penelitian bahwa pendapatan rata-rata petani jagung sebesar Rp. 25.563.956,- `per tahun, berasal dari penerimaan total Rp. 43.284.375,- dan total biaya rata-rata sebesar Rp. 17.720.419. Struktur pendapatan petani jagung bersumber dari sektor pertanian yang memberikan kontribusi 60,88% . Yaitu berasal dari usahatani jagung sebesar 41,34%, usahatani padi sebesar 7,31% dan peternakan sebesar 12,22%. Dan sektor non pertanian dengan kontribusi sebesar 39,12%. Distribusi pendapatan petani jagung di Desa Karangpari Kecamatan Rancah Kabupaten Ciamis mempunyai rendahnya ketimpangan, dengan nilai Indek Gini Ratio sebesar 0,08.
ANALISIS EKONOMI USAHA TAMBAK UDANG VANNAME DI DUSUN SEGUNTING, KECAMATAN CERME, KABUPATEN GRESIK, JAWA TIMUR
Udang merupakan salah satu komoditas utama dalam industri budidaya perikanan, sehingga membuka peluang bagi kalangan masyarakat untuk membudidayakannya. Tujuan dari penelitian ini yaitu: Untuk mengidentifikasi usaha tambak udang vanname dan Menganalisis besar biaya pendapatan usaha dari udang vanname di Dusun Segunting, Desa Tambak Beras. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani tambak udang di Dusun Segunting yang berjumlah 20 orang. Sampel berjumlah 20 orang. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Analisis data penelitian ini menggunakan, yaitu analisis deskriptif dan analisis pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan. 1) Pendapatan petani tambak udang vanname di Dusun Segunting dalam dua kali produksi sebesar Rp 130.460.000,00. 2) Usaha tambak udang vanname di Dusun Segunting, Kecamatan Cerme layak untuk dikembangkan dan dijadikan sebagai usaha dibidang perikanan. Dengan nilai R/C ratio 1,81 > 1
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN KARET MENJADI UBI KAYU DI DESA NEGARARATU KECAMATAN SUNGKAI UTARA KABUPATEN LAMPUNG UTARA
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik petani yang mengalih fungsi lahan karet menjadi ubi kayu dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi alih fungsi lahan karet menjadi ubi kayu di Desa Negararatu Kecamatan Sungkai Utara, Kabupaten Lampung Utara. Penelitian dilakukan di Desa Negararatu, Kecamatan Sungkai Utara Kabupaten Lampung Utara. Teknik pengambilan sampel pada penelitian dilakukan dengan metode pengambilan sampel acak sederhana. Sampel terdiri dari 63 orang. Pengambilan data dilakukan pada bulan November 2021 sampai dengan Januari 2022. Analisis data yang digunakan dalam penelitian menggunakan regresi linier berganda. Berdasarkan hasil penelitian, (1) mayoritas tingkat pendidikan petani alih fungsi lahan adalah Sekolah Dasar sebesar 46,03 persen, umur petani alih fungsi berusia 45-54 tahun atau tergolong usia produktif, mayoritas petani alih fungsi memiliki tanggungan anggota keluarga sebanyak 1-2 orang sebesar 50,79 persen, luas lahan yang dimiliki petani alih fungsi berkisar 0,50-1,00 hektar dengan status kepemilikan lahan milik sendiri, dan jumlah pengalaman usahatani karet mayoritas 1-10 tahun sebanyak 27 orang dan jumlah pengalaman usahatan karet mayoritas 1-10 tahun sebanyak 27 orang, (2) faktor-faktor yang memengaruhi alih fungsi lahan karet menjadi ubi kayu di Desa Negararatu Kecamatan Sungkai Utara Kabupaten Lampung Utara adalah harga ubi kayu, penerimaan ubi kayu dan biaya usahatani karet
DINAMIKA KELOMPOK DAN PARTISIPASI PETANI DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PEDESAAN (PUAP) DI DESA DANASARI KECAMATAN CISAGA
Program PUAP yang diimplementasikan secara temporer dan instan, membuat kelompok menjadi statis dan partisipasi masyarakat menurun, mengakibatkan masyarakat menjadi ketergantungan terhadap bantuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dinamika kelompok tani, mendeskripsikan tingkat partisipasi petani dalam program PUAP dan menganalisis hubungan dinamika kelompok dengan tingkat partisipasi petani dalam program. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan metode survey. Survey dilakukan di Desa Danasari Kecamatan Cisaga terhadap 41 anggota kelompok tani yang diambil secara simple random sampling dari 512 orang populasi. Data primer yang dikumpulkan dari responden dengan menggunakan kuesioner kemudian ditabulasi dan dianalisis secara statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat dinamika kelompok dalam indikator tujuan kelompok dengan nilai tinggi skor 7-9 sebanyak (78,05%), struktur kelompok dengan nilai tinggi skor 7-9 sebanyak (85,37%), fungsi dan tugas dengan nilai sedang skor 4-6 sebanyak (56,10%), efektivitas kelompok dengan nilai tinggi skor 7-9 sebanyak (92,68%). Tingkat partisipasi petani dalam program PUAP di Desa Danasari Kecamatan Cisaga dengan partisipasi petani pada tahap perencanaan dengan nilai sedang skor 4-6 sebanyak (56,10%), Tahap pelaksanaan dengan nilai tinggi skor 7-9 sebanyak (70,73%), tahap pemantauan dan evaluasi dengan nilai tinggi skor 7-9 sebanyak (65,37%), dan tahap pemanfaatan hasil dengan nilai tinggi skor 7-9 sebanyak (78,05%). Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara dinamika kelompok dengan tingkat partisipasi petani pada program PUAP, sehingga menunjukan semakin tinggi dinamika kelompok maka semakin tinggi pula tingkat partisipasi petani
ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN BUAH MANGGIS DESA BANTARKALONG KECAMATAN CIPATUJAH KABUPATEN TASIKMALAYA
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui (1) Mengetahui jenis saluran pemasaran serta pelaku pemasaran yang terlibat. (2) Mengetahui efisiensi pemasaran berdasarkan harga yang diterima petani (Farmer’s Share) dengan rasio keuntungan biaya. Penelitian ini dilakukan di Desa Bantarkalong Kecamatan Cpatujah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara kepada 22 orang petani, 3 orang pedagang pengepul, 6 orang pedagang besar dan 2 orang pedagang pengecer. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dan kualititatif dengan menggunakan rumus margin pemasaran dan efisiensi pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan berhasil mengidentifikasi bahwa terdapat 3 jenis saluran pemasaran manggis, yaitu; Saluran 1 pembudidaya menjual ke pengepul menjual ke pengecer diperoleh total margin Rp.9.000 dengan farmer’s share 71,87 persen dan rasio keuntungan terhadap biaya sebesar 24 persen. Saluran 2 pembudidaya menjual ke pengecer diperoleh total marjin Rp.6.000 dengan Farmer’s share 80,64 persen dan rasio keuntungan 25,85 persen. Saluran 3 pembudidaya menjual ke pedagang besar dengan total margin Rp.7,000 dengan farmer’s share 78,12 persen dan rasio keuntungan biaya 25,80 persen. Berdasarkan efisiensi pemasaran bahwa ketiga saluran pemasaran tersebut telah efisien. Akan tetapi jika dilihat berdasarkan harga yang diterima petani saluran kedua merupakan yang paling efisien.
Hubungan Persepsi Masyarakat terhadap Peran Pendamping dalam Mengembangkan Kinerja BUMDes di Kabupaten Lampung Barat
Persepsi adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang menimbulkan reaksi-reaksi yang berlangsung dalam diri seseorang sehingga seseorang tersebut dapat memahami segala sesuatu yang ada dilingkungannya melalui indera yang dimilikinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan persepsi masyarakat terhadap peran pendamping dan hubungan persepsi masyarakat terhadap peran pendamping dalam mengembangkan kinerja BUMDes. Penelitian ini dilakukan di 15 BUMDes yang tersebar di 15 kecamatan di Kabupaten Lampung Barat pada bulan September-Oktober 2022. Responden pada penelitian ini sebanyak 75 orang yang terdiri dari pengurus dan anggota BUMDes. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode survey dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi masyarakat yaitu umur, tingkat pendidikan, lama bekerja dan partisipasi masyarakat, sedangkan pendapatan tidak berhubungan. Persepsi masyarakat terhadap peran pendamping memiliki hubungan sangat nyata terhadap kinerja BUMDes dengan hubungan 87,8 persen
STRATEGI PEMASARAN KAPULAGA (Studi Kasus di Desa Pasawahan Kecamatan Banjaranyar Kabupaten Ciamis)
Kapiulaga merupakan produk hortikultura unggul dan berdaya saing (komoditas ekspor) sebagai bahan baku untuk obat, rempah, sampai kosmetik. Peluang pengembangannya masih terbuka lebar mengingat kebutuhan kapulaga terus meningkat setiap tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang dimiliki oleh petani di Desa Pasawahan Kecamatan Banjaranyar Kabupaten Ciamis, dan merumuskan strategi pemasaran yang relevan digunakan oleh petani Desa Pasawahan Kecamatan Banjaranyar Kabupaten Ciamis. Penelitian ini di desain deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus di Desa Pasawahan Kecamatan Banjaranyar Kabupaten Ciamis dengan mengambil 7 orang petani kapulaga sebagai responden yang ditentukan secara purposive. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan matrik IFE dan EFE kemudian dianalisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Faktor internal (kekuatan dan kelamahan) berada diposisi kuat, yaitu positif 2,36. Faktor eksternal (peluang dan ancaman) berada diposisi peluang yang kuat, yaitu 2,2. Strategi pemasaran yang relevan digunakan oleh petani Desa Pasawahan Kecamatan Banjaranyar Kabupaten Ciamis, dalam memaksimalkan kekuatan internal yang positif yaitu 2,36 ini menutupi kelemahan (-) dan peluang eksternal 2,2 menutupi ancaman(-) yang artinya berada di Kuadran I pada diagram SWOT. Kuadran I pada diagram SWOT merupakan situasi yang sangat menguntungkan, dimana perusahaan memiliki peluangan dan kekuatan sehingga dapat mengotimalkan peluang yang ada. Dalam kondisi ini maka strategi yang harus diterapkan adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif. Strategi pertumbuhan pada Matriks IE adalah desain untuk mencapai pertumbuhan, baik dalam penjualan, aset, profit, maupun kombinasi dari ketiganya. Hal ini dapat dicapai dengan cara menurunkan harga, mengembangkan produk baru, menambah kualitas produk atau jasa, atau meningkatkan akses ke pasar yang lebih luas. MATRIKS SWOT menghasilkan 4 alternatif strategi yang dapat diterapkan, baik strategi SO,WO, ST, dan WT. Kata kunci : Strategi, Pemasaran, Kapulaga. ABSTRACT RIDWAN ANDRIANTO. 2022. Cardamom Marketing Strategy (Case Study in Pasawahan Village, Banjaranyar District, Ciamis Regency). Under the guidance of TRISNA INSAN NOOR and IVAN SAYID NURAHMAN. Cardamom is a superior and competitive horticultural product (export commodity) as a raw material for medicines, spices, and cosmetics. Development opportunities are still wide open considering the need for cardamom continues to increase every year. This study aims to identify internal and external factors owned by farmers in Pasawahan Village, Banjaranyar District, Ciamis Regency, and formulate relevant marketing strategies used by farmers in Pasawahan Village, Banjaranyar District, Ciamis Regency. This research is a qualitative descriptive design using a case study approach in Pasawahan Village, Banjaranyar District, Ciamis Regency by taking 7 cardamom farmers as respondents who were determined purposively. The data collected includes primary data and secondary data. The data obtained were analyzed using IFE and EFE matrices and then SWOT analysis. The results showed that the internal factors (strengths and weaknesses) were in a strong position, namely positive 2.36. External factors (opportunities and threats) are in a strong opportunity position, namely 2.2. The relevant marketing strategy is used by farmers in Pasawahan Village, Banjaranyar District, Ciamis Regency, in maximizing positive internal strengths, namely 2.36, covering weaknesses (-) and external opportunities 2.2 covering threats (-) which means they are in Quadrant I in the SWOT diagram. . Quadrant I on the SWOT diagram is a very profitable situation, where the company has opportunities and strengths so that it can optimize existing opportunities. In this condition, the strategy that must be applied is to support an aggressive growth policy. The growth strategy in the IE Matrix is designed to achieve growth, both in sales, assets, profits, or a combination of the three. This can be achieved by lowering prices, developing new products, increasing product or service quality, or increasing access to a wider market. The SWOT MATRIX produces 4 alternative strategies that can be applied, both SO, WO, ST, and WT strategies. Keywords: Strategy, Marketing, Cardamom