Jurnal Kedokteran Hewan - Indonesian Journal of Veterinary Sciences
Not a member yet
497 research outputs found
Sort by
PEMILIHAN ADJUVANT PADA VAKSIN AVIAN INFLUENZA
Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan respon antibodi yang ditimbulkan oleh vaksin AI dengan seed virus AI H5N1 Indonesia yang dicampur dengan adjuvant berbeda. Formula vaksin yang dicobakan pada penelitian ini adalah monovalen dan polivalen. Tiga isolat virus HPAI subtipe H5N1 yang digunakan adalah Chicken/Denpasar/Unud-01/2004, Chicken/Klungkung/Unud-12/2006, dan Chicken/Jembrana/Unud-17/2006. Adjuvant yang digunakan yaituFreund's complete dan incomplete adjuvant, aluminium hidroksida, dan immunostimulating complexs (Iscoms). Vaksin monovalen dibuat dengan cara masing-masing isolat virus AI yang telah diinaktivasi dicampur dengan masing-masing adjuvant. Vaksin campuran (polivalen) dibuat dengan mencampur ketiga isolat dengan masing-masing adjuvant. Vaksin disuntikkan secara subkutan pada ayam layer jenis Isa Brown umur 3 minggu dan diulang pada umur ayam 5 minggu masing-masing sebanyak 0,5 ml/ekor. Pengambilan serum untuk pengujian titer antibodi dilakukan setiap 1 minggu setelah vaksinasi. Pengujian antibodi poliklonal dilakukan dengan uji hambatan hemaglutinasi (HI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayam percobaan yang divaksinasi dengan adjuvant aluminium hidroksida mempunyai GMT anti-H5 paling tinggi baik pada vaksin monvalen atau polivalen. Adjuvant aluminium hidroksida adalah adjuvant terbaik untuk pembentukan antibodi anti-AI subtipe H5N1 pada ayam
PRESERVASI DAN KRIOPRESERVASI SEMEN SAPI LIMOUSIN DALAM BERBAGAI BAHAN PENGENCER
Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis bahan pengencer yang paling baik untuk mempertahankan kualitassperma sapi Limousin selama penyimpanan dan pembekuan. Dalam penelitian ini digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 penggunaan bahan pengencer yaitu P =Andromed ; P =triskuning telur; P =susu skim, dan 4 kelompok 1 2 3waktu koleksi sebagai ulangan. Hasil penelitian menunjukkan pengencer Andromed memberikan pengaruh terbaik terhadap kualitas spermatozoa. Motilitas spermatozoa dengan pengencer Andromed selama penyimpanan 18 jam, setelah ekuilibrasi, dan setelah thawing masing-masing adalah 61,45; 73,13; dan 48,13%. Persentase spermatozoa hidup dengan pengencer Andromed selama penyimpanan 18 jam, setelah ekuilibrasi, dan setelah thawing masing-masing adalah 83,25; 81,88; dan 55,53%. Persentase spermatozoa abnormal dengan pengencer Andromed selama penyimpanan 18 jam, setelah ekuilibrasi, dan setelah thawing masing-masing adalah 4,60; 10,73; dan 11,70%
RESPON ESTRUS PADA KAMBING PERANAKAN ETTAWA DENGAN BODY CONDITION SCORE 2 DAN 3 TERHADAP KOMBINASI IMPLANT CONTROLLED INTERNAL DRUG RELEASE JANGKA PENDEK DENGAN INJEKSI PROSTAGLANDIN F2 ALPHA
Penelitian ini bertujuan mengetahui respon estrus pada kambing Peranakan Ettawa (PE) dengan Body Condition Score (BCS) 2 dan 3 terhadap implant Controlled Internal Drug Release (CIDR) jangka pendek dikombinasikan dengan injeksi prostaglandin F alpha (PGF a). Sebanyak 10 ekor kambing PE betina dibagi 2 2dalam 2 kelompok perlakuan berdasarkan BCS, yaitu kelompok I dengan BCS 2 (kondisi kurus), berat badan antara 25-30 kg (n=5) dan kelompok II dengan BCS 3 (kondisi ideal) berat badan antara 35-40 kg (n=5). Semua kelompok perlakuan disinkronisasi dengan implant CIDR (berisi 1,3 g progesteron) secara intravaginal jangka pendek selama 10 hari dan 48 jam sebelum pencabutan CIDR, kambing diijeksi dengan PGF a. Deteksi estrus dilakukan setiap hari dengan interval 6 jam dimulai dari pencabutan CIDR sampai 60 2jam setelah pencabutan CIDR. Data onset dan durasi estrus dianalisis menggunakan independent sample T-test sedangkan tanda-tanda visual estrus dianalisis secara deskriptif. Respon estrus semua kelompokperlakuan adalah 100%. Onset dan durasi estrus antara BCS 2 dan 3 masing-masing adalah 21,601,47 vs 13,201,20 jam dan 27,603,06 vs 32,401,47 jam. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kombinasi implant CIDR jangka pendek dan injeksi PGF a efektif untuk sinkronisasi estrus pada kambing PE dengan 2BCS 2 dan 3
INHIBIN B: KANDIDAT KONTRASEPSI PRIA BERBASIS HORMON PEPTIDA
Penelitian ini bertujuan mengetahui efek injeksi inhibin B sebagai kandidat kontrasepsi pria berbasis hormonpeptida terhadap berat badan, berat dan panjang testis, dan duktus epididimis. Sebanyak 24 ekor tikus (Rattusnovergicus) jantan strain Wistar berumur 4 bulan dengan berat badan 150-200 g dikelompokkan secara acak ke dalam 4 kelompok, yaitu kontrol (KO), KI, KII, dan KIII. Kelompok kontrol, tikus hanya diinjeksi dengan 0,1 ml PBS tanpa inhibin B; Kelompok KI, KII, dan KIII tikus diinjeksi dengan 25, 50, dan 100 pg inhibin B/ekor. Injeksi dilakukan secara intra peritoneal sebanyak 5 kali dengan selang waktu 12 hari selama 48 hari. Injeksi pertama, isolat inhibin B dilarutkan dalam PBS sebanyak 0,05 ml dan diemulsikan dengan 0,05 ml Freud's complete adjuvant (FCA). Pada injeksi kedua, ketiga, keempat, dan kelima menggunakan inhibin B dalam PBS 0,05 ml dan diemulsikan dengan 0,05 ml Freud's incomplete adjuvant (FICA). Pada hari keenam setelah injeksi terakhir, tikus dikorbankan secara dislocatio cervicalis setelah terlebih dahulu dilakukan penimbangan berat badan. Berat testis dan duktus epididimis ditimbang dengan menggunakan timbangan elektrik, sedangkan diameter dan panjang testis dan duktus epididimis diukur dengan menggunakan jangka sorong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata (P0,05) antara kelompok kontrol dan perlakuan terhadap berat badan, berat, panjang, dan diameter testis dan duktus epididimis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa inhibin B berpotensi dikembangkan sebagai kandidat kontrasepsi pria berbasis hormon peptida yang aman dan reversible
IDENTIFIKASI GROWTH DIFFERENTIATION FACTOR-9 (GDF-9) DARI MATURASI IN VITRO OOSIT SAPI DENGAN TEKNIK IMUNOSITOKIMIA
Penelitian ini bertujuan mengindentifikasi GDF-9 di dalam oosit yang berasal dari preantral folikel sapi yang dimatangkan secara in vitro. Penelitian ini menggunakan metode imunositokimia ikatan antara molekul avidin dan biotin yang terkandung dalam antibodi sekunder bentuk kompleks avidin-biotin. Ovarium sapi diambil dari rumah potong hewan (RPH) Pegirian Surabaya. Penelitian ini menggunakan 105 oosit matang yang berasal dari 62 ovarium. Hasil imunositokimia menunjukkan bahwa 77,14% GDF-9 teridentifikasi
RESPON ANTIBODI SERUM AYAM Breakel Silver TERHADAP VAKSIN AVIAN INFLUENZA
Tujuan penelitian ini adalah menguji imunogenitas dari vaksin komersial Avian Influenza (AI)berdasarkan respon imunitas humoral ayam petelur terhadap AI. Sebanyak 20 ekor ayam petelur jenis breakel silver dibagi ke dalam dua kelompok masing-masing berjumlah 10 ekor. Pada kelompok pertama, ayam divaksinasi dengan vaksin komersial AI (H5N1). Pada kelompok kedua, ayam tidak divaksinasi. Sampel darah dari kedua kelompok ayam dikoleksi dan dievaluasi titer antibodinya dengan teknik Hemaglutination Inhibition (HI). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa vaksin komersial AI (H5N1) bersifat imunogen yang baik karena dapat memicu pembentukan respon humoral protektif ayam petelur yang ditandai dengan peningkatan titer antibodi serum ayam yang divaksin
INHIBIN B MENGHAMBAT EKSPRESI MOLEKUL PROTAMINE P2 DI DALAM KEPALA SPERMATOZOA TIKUS (Rattus norvegicus)
Penelitian ini bertujuan mengetahui efek inhibin B terhadap ekspresi protamine P2 di dalam kepala spermatozoa pada kauda epididimis. Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus jantan berumur 4 bulan yang dikelompokkan secaraacak ke dalam 4 kelompok (KO, KI, KII, dan KIII), setiap kelompok terdiri atas 6 ekor tikus. Kelompok KO merupakan kelompok kontrol hanya diinjeksi dengan PBS. Kelompok KI, KII, dan KIII diinjeksi dengan inhibin B dengan dosis masing-masing adalah 25, 50, dan 100 pg/ekor. Tikus diinjeksi sebanyak 5 kali secara intra peritoneal dengan interval waktu pemberian 12 hari selama 48 hari. Injeksi pertama, inhibin B dicampur dengan 0,05 ml PBS dan 0,05 ml CFA. Injeksi kedua hingga kelima, inhibin B dicampur dengan 0,05 ml PBS dan 0,05 ml IFA. Pada hari ke-6 setelah injeksi inhibin B terakhir, hewan coba dikorbankan secara dislocatio cervicalis lalu jaringan kauda epididimis dikoleksi dan difiksasi dengan paraformaldehid 4%. Setelah melalui proses dehidrasi, jaringan blok di dalam parafin dipotong dengan ketebalan 6 mikron dan diwarnai secara imunohistokimia dengan menggunakan antibodi anti protamine P2. Pengamatan secara imunohistokimia menunjukkan adanya ekspresi protamine P2 di dalam kepala spermatozoa pada semua kelompok perlakuan. Akan tetapi, seiring dengan penambahan dosis inhibin B menyebabkan terjadinya penurunan tingkat ekspresi protamine P2 di dalam kepala spermatozoa pada kauda epididimis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa injeksi inhibin B dengan dosis 100 pg/ekor menurunkan secara nyata jumlah ekspresi protamine P2 di dalam kepala spermatozoa pada epididimis (P0,05) dibanding KO
PENAMBAHAN PROTEIN INSULIN LIKE GROWTH FACTOR-I COMPLEX DALAM PENGENCER PEMBEKUAN SEMEN TERHADAP KUALITAS SPERMATOZOA KAMBING PADA WAKTU EKUILIBRASI
Penelitian ini bertujuan mengisolasi protein Insulin Like Growth Factor-I (IGF-I) complex untukmeningkatkan kualitas semen beku kambing pada waktu ekuilibrasi setelah penambahan protein IGF-I complex. Penelitian ini terdiri atas 2 tahap yaitu isolasi protein IGF-I complex dari plasma seminal kambing dan aplikasi terhadap prosesing pembekuan semen. Pada tahap pertama dilakukan identifikasi IGF-I complex dengan menggunakan gel native polyacrylamide gel electrophoresis dan isolasi IGF-I complex. Pada tahap kedua dilakukanaplikasi penambahan protein IGF-I complex pada prosesing semen beku. Semen dikoleksi dengan menggunakan vagina buatan dan kemudian disentrifus selama 5 menit dengan kecepatan 1800 rpm. Kemudian semen dibagi menjadi tiga kelompok. Pada kelompok I, II, dan III ditambahkan protein IGF-I complex masing-masing 0, 12, dan 618 ng/ 3X10 sperma. Selanjutnya dilakukan ekuilibrasi selama 1 jam dan dilanjutkan dengan evaluasi motilitas, viabilitas, dan membran sperma. Hasil penelitian menunjukkan perbedaaan motilitas, viabilitas, dan membran sperma yang signifikan (P0,05) di antara tiga kelompok perlakuan. Dapat disimpulkan bahwa penambahan protein IGF-I complex dapat meningkatkan kualitas semen beku kambing pada fase ekuilibrasi
PENENTUAN WAKTU TERBAIK PADA PEMERIKSAAN KIMIA URIN UNTUK DIAGNOSIS KEBUNTINGAN DINI PADA SAPI LOKAL
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui waktu terbaik untuk mendapatkan akurasi tertinggi pada pemeriksaan kimia urin untuk diagnosis kebuntingan dini pada sapi lokal. Pemeriksaan urin dilakukan sesuai prosedur yang dikembangkan oleh Cuboni-Lunaas.Waktu koleksi urin adalah pada bulan ke-1, 2, dan 3 setelah inseminasi. Hasil positip dari pemeriksaan ditunjukkan oleh terbentuknya fluoresensi pada larutan. Hasil pemeriksaan ini dikonfirmasi dengan pemeriksaan kebuntingan secara manual. Akurasi metode diagnosis dengan kimia urin pada waktu pemeriksaan pada bulan ke-1, 2 dan 3 pasca inseminasi masingmasing adalah 75,0; 87,5; dan 100% untuk mendiagnosis sapi bunting dan 0,0; 100,0; dan 100,0 % pada untuk mendiagnosis sapi yang tidak bunting. Waktu pemeriksaan dengan akurasi terbaik untuk diagnosis bunting diperoleh pada bulan ke-3 sedang untuk diagnosis tidak bunting diperoleh pada bulan ke-2 pasca inseminasi
The Effect of Centrifugation on Semen Quality of Peranakan Ettawah Goat's Post Thawing
The aim of the research was to determine the optimum of centrifugation on the quality of Peranakan Ettawah goat's spermatozoa prepared for in vitro fertilization preparation.The research of material was frozen semen ofPeranakan Ettawah goat produced by Artificial Insemination Center in Singosari with minimum post thawing motility in 40%. The method of the research was an experiment method with the four treatment, i.e: 1000 (P1), 1500 (P2), 2000 rpm (P3) of different centrifugation. The variable observes were spermatozoa motility, spermatozoa viability, and abnormal morphology of spermatozoa. Data obtain was analyzed statistically using Completely Randomize Design and continued with Tukey test. The result showed that on the upper layer of each treatment (P1, P2, and P3) obtained 55,723,55; 69,553,35; and 55,192,72% for spermatozoa motility, 62,995,87; 73,994,36; and 57,399,22% for spermatozoa viability, and 7,193,64; 8,842,65; and 6,403,00% for abnormal morphology of spermatozoa, descriptively. While on the lower layer the result showed 55,593,99; 68,633,88; and57,612,20% for spermatozoa motility, 70,057,47; 77,441,08; and 69,9311,98% for spermatozoa viability, and 10,366,20; 9,553,27; and 8,092,80% for abnormal morphology of spermatozoa, desciptively. It was concluded that centrifugation in 1500 rpm showed the highest motility and viability on the upper layer and lower layer