Jurnal Kedokteran Hewan - Indonesian Journal of Veterinary Sciences
Not a member yet
    497 research outputs found

    STUDI KERAGAMAN GENETIK Tarsius sp. ASAL KALIMANTAN, SUMATERA, DAN SULAWESI BERDASARKAN SEKUEN GEN NADH DEHIDROGENASE SUB-UNIT 4L (ND4L)

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian ini adalah mengaji keragaman genetik gen ND4L masing-masing spesies Tarsius yang dapat digunakan sebagaipenanda genetik. Hasil polymerase chain reaction (PCR) gen ND4L menggunakan primer ND4LF dan ND4LR diperoleh 478 bp, setelah dilakukan sekuensing didapatkan sekuen gen ND4L sebesar 297 nt. Sekuen gen ND4L disejajarkan berganda dengan primata lain dari Genbank menggunakan Clustal W, dan kemudian keragaman genetik antar spesies dianalisis menggunakan program MEGA versi 5.0 (Nei dan Kumar, 2002). Di antara sampel Tarsius ditemukan satu situs nukleotida beragam, yaitu pada situs ke 162. Jarak genetik berdasarkan basa nukleotida ND4L dihitung menggunakan model dua parameter-Kimura menunjukkan paling kecil sebesar 0%, paling besar 0,3%, dan rata-rata 0,1 %. Pohon filogenetik menggunakan metode Neighbor joining tidak dapat membedakan antara Tarsius dari Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, dan mengelompokkan Tarsius dalam subordo Strepshirrini

    RESPONS METAFISIS TULANG FEMUR DISTALIS TIKUS OVARIEKTOMI YANG MENGKONSUMSI KALSITRIOL

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan untuk mengaji respons metafisis tulang femur distalis tikus ovariektomi yang mengonsumsi suplemen kalsitriolselama enam minggu. Lima belas tikus Wistar umur delapan minggu, secara acak dibagi tiga kelompok (normal/N, ovariektomi/Ov, dan ovariektomi + kalsitriol/OvD) masing-masing 5 tikus. Tikus kelompok N dan Ov diberi pakan standar, sedangkan tikus kelompok OvD diberi pakan standar + kalsitriol. Pada umur 14 minggu, tikus dimasukkan kandang metabolik individu untuk studi balan. Pada hari 4-7 studi balan,setiap hari sisa pakan, urin, dan feses dikoleksi untuk pemeriksaan Ca. Pada akhir penelitian, tikus dieutanasia, tulang femur kanan diambil pemeriksaan histopatologis dengan pengecatan hematoksilin dan eosin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi Ca dan retensi Ca pada tikus OvD tidak berbeda signifikan meskipun cenderung meningkat, sedangkan ekskresi Ca dalam feses dan urin meningkat sangat signifikan (P0,01). Metafisis tulang femur distalis tikus kelompok OvD terlihat zona spikulum tulang trabekula lebih pendek dan berbentuk irreguler, dan rongga sumsum tulang didominasi jaringan adiposit. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa suplementasi kalsitriol selama enam minggu pada tikus ovariektomi menyebabkan osteoporosis pada metafisis tulang femur distalis

    AKURASI METODE OBSERVASI TIDAK KEMBALI BERAHI (NON-RETURN TO ESTRUS) DAN ULTRASONOGRAPHY (USG) UNTUK DIAGNOSIS KEBUNTINGAN KAMBING PERANAKAN ETTAWAH

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah mengetahui akurasi pemeriksaan kebuntingan dengan metode observasi tidak kembali berahi (non-return toestrus) dan ultrasonography (USG) pada kambing peranakan Ettawah (PE). Penelitian ini terdiri atas 2 percobaan. Pada percobaan I, digunakan kambing betina PE sebanyak 24 ekor dan 5 ekor kambing jantan PE sebagai pengusik. Observasi tidak kembali berahi dilakukan 18-24 hari setelah inseminasi buatan secara visual dan dibantu dengan kambing jantan. Kambing yang tidak memperlihatkan gejala berahi pada saat pemeriksaan diberi nilai positif sedang kambing yang memperlihatkan gejala berahi pada saat pemeriksaan diberi nilai negatif. Hasil pemeriksaan ini akan dikonfirmasi dengan pemeriksaan kebuntingan secara ultrasonography (USG). Kambing yang memiliki nilai positif pada observasi tidakkembali berahi tetapi negatif pada pemeriksaan USG diberi nilai positif palsu, sedang kambing yang memiliki nilai negatif pada observasi tidak kembali berahi tetapi positif pada pemeriksaan USG diberi nilai negatif palsu. Akurasi hasil pemeriksaan untuk diagnosis bunting dan tidak bunting masing-masing adalah 93,75 dan 37,50%. Pada percobaan II, digunakan kambing betina PE sebanyak 160 ekor. Pemeriksaan kebuntingan dilakukan menggunakan USG pada waktu yang telah ditetapkan pada kambing yang telah dikawinkan pada waktu yang bervariasi. Estimasi usia kebuntingan ditentukan dengan memperhitungkan lama kebuntingan pada kambing yakni 5 bulan, kemudian diikuti selisih waktu antara kelahiran dengan jadwal pemeriksaan. Hasil positif dari pemeriksaan ditandai dengan bentukan bulat anechoic di sebelah dorsal dari vesika urinaria sedangkan terlihatnya gambaran muskulus mengindikasikan kambing negatif bunting. Hasil pemeriksaan ini akan dikonfirmasi dengan angka kelahiran. Dari hasil penelitian diperoleh akurasi diagnosis bunting adalah 94,3% sedang akurasi diagnosis tidak bunting adalah 100%. Dari 160 ekor kambing yang diperiksa, diperkirakan jumlah kambing yang bunting pada usia 1, 2, dan 3 bulan masing-masing adalah 19, 98, dan 7 ekor kambing

    PERUBAHAN HISTOLOGIS DAN RESPONS IMUNITAS SAPI BALI YANG DIBERIKAN PAKAN CAMPURAN KONSENTRAT

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan histologis dan respons kekebalan sapi bali yang diberikan pakan campuran konsentrat. Sebanyak 12 ekor sapi bali betina berumur 2 tahun, dibagi secara acak atas 3 kelompok perlakuan yaitu kelompok I diberi pakan rumput, kelompok II diberi pakan campuran 2 bagian rumput dan 1 bagian konsentrat, dan kelompok III diberi pakan campuran 1 bagian rumput dan 1 bagian konsentrat. Sebelum diberi perlakuan, dilakukan uji respons kekebalan seluler dengan teknik uji methylthiazol tetrazolium (MTT). Uji respons kekebalan dilakukan kembali pada bulan ke-3 dan sesaat sebelum dilakukan nekropsi. Pada bulan ke-10 dilakukan nekrosi terhadap 2 ekor sapi dari masing-masing kelompok perlakuan. Sisa sapi dari masing-masing kelompok perlakuan dilanjutkan diberi perlakuan untuk penelitian lanjutan. Sapi yang dinekropsi diambil jaringan pencernaan yaitu usus, untuk selanjutnya diproses dalam pembuatan sediaan histologis. Sediaan histologis diwarnai dengan hematoksilin eosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan struktur histologis usus antara ketiga kelompok perlakuan sedangkan respons kekebalan seluler tertinggi pada kelompok yang diberi pakan konsentrat yang lebih banyak

    PERBANDINGAN INTENSITAS BERAHI SAPI ACEH YANG DISINKRONISASI DENGAN PROSTAGLANDIN F2 ALFA DAN BERAHI ALAMI

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan intensitas berahi sapi aceh antara yang disinkronisasi berahi dengan prostaglandin F2 alfa (PGF2) dan berahi alami. Dalam penelitian ini digunakan 20 ekor sapi aceh betina yang dibagi atas dua kelompok. Kriteria sapi yang digunakan adalah umur 5-8 tahun, mempunyai bobot badan 150-250 kg, dan mempunyai minimal dua siklus reguler. Sapi yang digunakan mempunyai skor kondisi tubuh dengan kriteria baik, yaitu 3 atau 4 pada skala skor 5. Pada Kelompok I (KI) sapi disinkronisasi berahi mengunakan PGF2 sebanyak 5 mg/ml secara intramuskular. Pada kelompok II (KII) sapi dibiarkan memperlihatkan gejala berahi alami. Penilaian intensitas berahi dilakukan dengan memberi skor 1, 2, dan 3, berdasarkan kriteria yang dibuat oleh Kune dan Solihati (2007). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan intensitas berahi sapi aceh baik yang disinkronisasi berahi dengan PGF2 dan sapi yang mengalami berahi alami dengan skor intensitas berahi masing-masing adalah 2,400,84 dan 2,700,48

    CELLULAR MECHANISM UNDERLYING EMBRYO-MATERNAL RELATIONSHIP IN INTRASPECIFIC AND INTERSPECIFIC PREGNANCY

    Get PDF
    Mouse and vole embryos were transferred into pseudopregnant CD-1 and scid female mice. Cellular changes involved in the formation of decidua in the pregnant mouse uterus up to day 8 of pregnancy were examined by histological, electron microscopic, and histochemical techniques. On day 6 of pregnancy, the vole embryos were laid in interstitium of antimesometrial side of the uterus, as well as in intraspecific pregnancy. Compared with intraspesific pregnant mouse, blood vessels were numerous in the decidua around the vole embryos in interspecific pregnancy. Both distribution and dilation of the blood vessels were increased on day 8. A part of cells in the inner cell mass had not nuclei, suggesting damaged vole embryos on day 8. At the implantation site, the uterine decidua was invaded by extravillous trophoblast (EVT) cells whose function is to destroy the walls of the uterine spiral. Moreover, this decidua was infiltrated by a population of natural killer (NK) cells and macrophage. These cells were particularly numerous in the decidua basalis at the implantation site where they come into close contact with invading EVT cells. These results suggest that interaction between NK, macrophage, and EVT provides the controlling relationship of embryo-maternal in intraspecific and interspecific pregnancy

    SINKRONISASI ESTRUS DAN PENGAMATAN ULTRASONOGRAFI PEMERIKSAAN KEBUNTINGAN DINI PADA DOMBA GARUT (Ovis aries) SEBAGAI STANDAR PENENTUAN UMUR KEBUNTINGAN

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan untuk mengamati sinkronisasi estrus dan menentukan diagnosis kebuntingan dini pada domba garut (n=3) menggunakan ultrasonografi transrektal. Domba disinkronisasi dengan menggunakan PGF pada fase luteal. Onset dan durasi estrus diamati dengan menggunakan jantan pengusik. Kebuntingan 2a ditentukan dengan tampilan isoechogenic yang dikelilingi oleh tampilan hypoechogenic. Rata-rata onset estrus adalah 3528,7 jam dan rata-rata lama estrus adalah 3313,6 jam. Kebuntingan dini terdeteksi pada hari ke-22 (22,30,6 hari). Perkembangan fetus diikuti dengan peningkatan diameter dan ketebalan uterus. Diameter uterus meningkat dari hari ke-22 (1,80,7 cm) hingga hari ke-42 (5,61,1 cm), dan tebal uterus meningkat dari hari ke-22 (0,80,1 cm) hingga hari ke-42 (2,10,5 cm). Plasentom muncul pada kebuntingan hari ke-34 (0,80,2 cm) dan menunjukkan pola perkembangan yang terus meningkat secara signifikan sampai hari ke-56 (2,70,5 cm; P0,05). Diameter kotiledon hari ke-34 sekitar 0,80,2 cm hingga hari ke-56 (2,70,5 cm) dan hari ke-77 (3,30,4 cm). Dapat disimpulkan bahwa diagnosis positif dari kebuntingan pada domba garut terlihat pada hari ke-12 dan fetus dapat diamati pada hari ke-22

    MORFOLOGI DAN MORFOMETRI PERTUMBUHAN RANGGAH VELVET MUNCAK JANTAN (Muntiacus muntjak muntjak)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan menggambarkan morfologi pertumbuhan ranggah velvet (RV) dua ekor muncak jantan (M1 dan M2) yang dipelihara di kandang penelitian secara terpisah. Tanggal lepas ranggah dan hari pertama percabangan RV serta awal pengelupasan kulit velvet diamati dan dicatat. Pengukuran meliputi panjang dan diameter ranggah velvet utama (RVU) dan ranggah velvet cabang (RVC) dexter et sinister, serta durasi pertumbuhan RV. Rataan SD panjang dan diameter maksimum RVU dan RVC muncak M1 adalah 148,251,12 mm; 46,260,68 mm (panjang), 19,212,35 mm; 9,120,21 mm (diameter) dengan durasi pertumbuhan 104 hari; sedangkan muncak M2 berturut-turut adalah: 146,441,58 mm; 46,941,97 mm (panjang); 13,651,27 mm; 8,490,29 mm (diameter) dengan durasi pertumbuhan 98 hari. Tidak terdapat perbedaan tahapan pertumbuhan RVU dan RVC antara muncak M2 dan M1, namun berbeda pada ukuran RV dan durasi pertumbuhannya. Muncak M2 memasuki ranggah keras setelah pengelupasan kulit velvet lebih cepat dibandingkan M1. Dapat disimpulkan bahwa ukuran pertumbuhan RV berkorelasi erat dengan faktor umur, berat badan, dan postur tubuh muncak jantan

    KEMAMPUAN ANTI MAYOR PHYSIOLOGICAL PROTEIN SUBSTRAT ECTO CYCLIC AMP INDEPENDENT SERIN/THEONIN PROTEIN KINASE (MPS ecto-CIK) DALAM MENGHAMBAT VIABILITAS SPERMATOZOA KAMBING DAN SAPI

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh dosis dan lama inkubasi anti MPS ecto-CIK dalam menghambat viabilitas spermatozoa kambing dan sapi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan pola faktorial yang terdiri atas 2 faktor yakni dosis pengenceran (0, 5, 10, dan 15 l) dan lama inkubasi (5, 30, 60, dan 120 menit) masing-masing 6 kali ulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varian dua arah, yang dilanjutkan dengan uji jarak Duncan dengan taraf signifikansi 5%. Pemberian anti MPS ecto-CIK membran spermatozoa kambing dengan konsentrasi 0, 5, 10, dan 15 l dan lama inkubasi 5, 30, 60, dan 120 menit berpengaruh signifikan terhadap viabilitas spermatozoa kambing dan sapi (P0,05). Perlakuan anti MPS ecto-CIK pada dosis 15 l dan lama inkubasi 120 menit terhadap spermatozoa kambing dan sapi merupakan perlakuan yang paling optimal dalam menghambat viabilitas spermatozoa kambing (45,5011,16 dan 44,879,40%) dan sapi (39,0814,40 dan 36,6711,93%)

    PERSENTASE BERAHI DAN KEBUNTINGAN KAMBING PERANAKAN ETTAWA (PE) SETELAH PEMBERIAN BEBERAPA HORMON PROSTAGLANDIN KOMERSIAL

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan efektivitas pemberian hormon prostaglandin komersial yang berbeda terhadap persentase berahi dan kebuntingan kambing peranakan ettawa. Kambing betina yang digunakanmempunyai kriteria umur 2,5-3,5 tahun, sehat, tidak bunting, minimal 2 bulan pasca partus, sudah pernah beranak, dan mempunyai bobot badan yang relatif sama. Di samping itu digunakan 2 ekor kambing jantan untuk membantu deteksi berahi. Hewan percobaan dibagi atas 3 kelompok perlakuan, masing-masing kelompok terdiri atas 5 ekor kambing. Kelompok perlakuan I diinjeksi dengan 2,5 ml Lutalyse (dinoprost tromethamine 5 mg/ml dan benzil alkohol 1,65%),kelompok perlakuan II diinjeksi dengan 0,5 ml Prostavet (etiproston 5 mg/2 ml dan ethylen dioxy 15 mg/2 ml), dan kelompok perlakuan III diinjeksi dengan 1,5 ml Capriglandin (dinoprost tromethamine 5,5 mg/ml dan benzil alkohol 12,0 mg/ml). Penyuntikan dilakukan 2 kali secara intramuskuler dengan interval 10 hari setelah penyuntikan pertama. Kambing-kambing yang memperlihatkan gejala berahi dikawinkan secara inseminasi buatan. Diagnosis kebuntingandilakukan dengan menggunakan USG 30 hari setelah inseminasi. Data onset berahi dianalisis menggunakan analisis varian, sedangkan persentase berahi dan kebuntingan dianalisis secara deskriptif. Onset berahi ketiga kelompokperlakuan masing-masing adalah 40,80,57 36,00,57 dan 50,41,52 jam (P0,05). Persentase berahi pada ketiga kelompok adalah sama yakni 100%, sedangkan persentase kebuntingan pada kelompok I, II, dan III masing-masing adalah 100, 80, dan 60%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa onset dan persentase berahi tidak dipengaruhi oleh ketiga prostaglandin komersial yang berbeda tetapi berpengaruh terhadap persentase kebuntingan kambing PE

    461

    full texts

    497

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kedokteran Hewan - Indonesian Journal of Veterinary Sciences
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇