Jurnal Kedokteran Hewan - Indonesian Journal of Veterinary Sciences
Not a member yet
497 research outputs found
Sort by
PENGARUH INDUKSI EPIDERMAL GROWTH FACTOR (EGF) TERHADAP PROTEIN Cx43 SELAMA EKSPANSI SEL KUMULUS
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh induksi EGF terhadap lokalisasi Cx43 dan gap junction selama ekspansi sel kumulus. Hasilpenelitian ini menunjukkan bahwa ekspansi sel kumulus mempunyai signifikansi dengan meningkatnya konsentrasi EGF dan waktu kultur. Ekspansi sel kumulus diindikasikan dengan perubahan bentuk sel menjadi memanjang dan menyebar. Ekspresi Cx43 meningkat pada kultur jam ke-5 dan semakin meningkat pada kultur jam ke-10 dengan semakin padatnya protein pada badan sel. Pada kultur jam ke-15 terjadi penurunan ekspresi Cx43 pada badan sel. EGF berpengaruh terhadap peningkatan ekspansi sel kumulus tetapi tidak pada ekspresi Cx43 denganbertambahnya konsentrasi dan waktu kultur. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi antar sel kumulus menurun, karena jarak antar sel yang semakin jauh
IDENTIFIKASI LEUKOSIT POLYMORPHONUCLEAR (PMN) DALAM DARAH SAPI ENDOMETRITIS YANG DITERAPI DENGAN GENTAMISIN, FLUMEQUIN, DAN ANALOG PGF2
Penelitian ini bertujuan mengetahui persentase leukosit polymorphonuclear (PMN) dalam preparat ulas darah sapi endometritis. Enam ekor sapi endometritis dibagi dalam dua kelompok perlakuan. Kelompok I (n=3) diterapi dengan 250 mg gentamisin/ekor, 250 mg flumequin/ekor, dan PGF2 sebanyak 12,5 mg/ekor secara intra uteri. Kelompok II (n=3) diterapi dengan menggunakan antibiotik dengan dosis dan cara pemberian yang sama seperti pada Kelompok I. Hasil penghitungan leukosit diferensial sebelum terapi menunjukkan persentase jumlah limfosit yang lebih tinggi dibandingkan bentuk leukosit lainnya pada Kelompok I dan II masing-masing adalah 62,501,17 dan 63,662,35, sedangkan persentase jumlah neutrofil pada Kelompok I dan II masing-masing adalah 29,330,94 dan 27,330,94. Setelah terapi, tidak ada perbedaan persentase (P0,05) bentuk leukosit antara kedua kelompok perlakuan. Terapi kombinasi antibiotik dan PGF2 pada sapi penderita endometritis tidak menghasilkan perubahan diferensial leukosit termasuk PMN
RESPONS HSP-70 DAN KADAR KORTISOL AKIBAT PEMBERIAN KOMBINASI EKSTRAK JALOH DAN KROMIUM PADA AYAM BROILER YANG MENGALAMI CEKAMAN PANAS
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian kombinasi ekstrak jaloh dan kromium terhadap pembentukan heat shock protein-70 (HSP-70) dan kadar kortisol ayam yang mengalami cekaman panas. Dalam penelitian ini digunakan ayam broiler sebanyak 12 ekor yang dibagi atas empat perlakuan: Perlakuan I (EC), cekaman panas + dan kombinasi 1.000 mg ekstrak jaloh dengan 1.000 g kromium per liter air minum, perlakuan II (E), cekaman panas + 1.000 mg ekstrak jaloh per liter air minum, perlakuan III (KD), cekaman panas + 0,0 mg ekstrak jaloh dan 0,0 g kromium, dan Perlakuan IV (KL), tanpa cekaman panas dan 0,0 mg ekstrak jaloh dan 0,0 g kromium. Masing-masing perlakuan terdiri atas tiga ulangan. Metode pemberian cekaman panas dilakukan dengan meningkatkan suhu dalam kandang pada 331 C selama lima jam per hari dalam waktu lima belas hari. Pemberian kombinasi ekstrak jaloh dan kromium dilakukan dengan cara melarutkannya dalam air minum dan diberikan selama dua jam (pemberian pukul 10.00) sebelum suhu di dalam kandang mencapai 331 C. Pengambilan sampel serum dan jaringan paru dilakukan pada hari ke-15 pelaksanaan penelitian (ayam umur 36 hari). Pengambilan sampel darah dilakukan sebelum ayam dipotong dan jaringan organ paru diambil setelah ayam dipotong. Pada sampel serum dilakukan pemeriksaan kortisol dengan enzymelinkedimmunosorbantassay (ELISA) dan deteksi HSP-70 di dalam jaringan paru dilakukan menggunakan metode imunohistokimia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian cekaman panas pada suhu 331 C selama lima jam per hari dapat meningkatkan pembentukan HSP-70 dalam paru dan kadar kortisol dalam serum. Pemberian ekstrak jaloh secara tunggal lebih efektif menurunkan jumlah HSP-70 pada jaringan paru dibandingkan jika dikombinasi dengan kromium
KEHADIRAN FOLIKEL DOMINAN PADA SAAT INISIASI SUPEROVULASI MENURUNKAN RESPONS SUPEROVULASI SAPI ACEH
Penelitian ini bertujuan mengetahui respons superovulasi dan pengaruh kehadiran folikel dominan pada saat inisiasi superovulasi sapi aceh yang diinduksi superovulasi dengan follicle stimulating hormone (FSH). Dalam penelitian ini digunakan 7 ekor sapi aceh betina yang telah didiagnosis sehat reproduksinya, umur 5-8 tahun, mempunyai berat 150-250 kg, dan mempunyai minimal dua siklus reguler. Seluruh sapi disuperovulasi dengan FSH dosis menurun pada hari ke-9 siklus estrus (3-3, 2-2, 1-1, dan 0,5-0,5) ml. Kehadiran atau ketiadaan folikel dominan pada saat inisiasi superovulasi diobservasi melalui penggunaan ultrasonografi (USG). Sapi yang mempunyai folikel kecil (3-8 mm) berjumlah 10 folikel dikategorikan mempunyai folikel dominan, sedangkan sapi yang mempunyai folikel kecil (3-8 mm) 10 folikel dikategorikan tidak mempunyai folikel dominan. Koleksi embrio dilakukan pada hari ke-7 setelah inseminasi secara non surgical menggunakan kateter Foley. Sapi yang disuperovulasi tanpa kehadiran folikel dominan menghasilkan korpus luteum (6,7+0,58 vs 4,5+1,73),folikel anovulasi (9,7+8,0 vs 19,5+6,8), total embrio (11,0 vs 3,0), dan embrio kualitas baik (6,0 vs 2,0) dibandingkan dengan sapi yang disuperovulasi dengan kehadiran folikel dominan. Dapat disimpulkan bahwa induksi superovulasi dengan FSH dengan kehadiran folikel dominan pada saat inisiasi superovulasi menurunkan respons superovulasi sapi aceh
PENEGUHAN DIAGNOSIS PENYAKIT NEWCASTLE DISEASE LAPANG PADA AYAM BURAS DI BALI MENGGUNAKAN TEKNIK RT-PCR
Penelitian ini bertujuan mendiagnosis kasus newcastle disease (ND) lapangan pada ayam bukan ras yang bersifat akut melalui hasil pemeriksaan di Laboratorium Patologi dan Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana tahun 2008-2009. Sebanyak sepuluh ekor sampel ayam buras telah diperiksa. Gejala klinis yang teramati meliputi: anoreksia, lesu, bersin, batuk, dan diare putih kehijauan dengan diagnosis sementara sebagai penyakit ND yang bersifat akut. Sampel diambil dari organ yang mengalami perubahan patognomonis seperti pada proventrikulus, ventrikulus, seka tonsil, paru-paru dan otak. Perbanyakan virus menggunakan telur ayam bertunas (TAB) umur 10 hari melalui ruang alantois dan diinkubasikan pada inkubator telur suhu 37 C selama 3 hari. Koleksi cairan alantois dilakukan pada hari ke-3, selanjutnya diidentifikasi dengan uji serologi hemaglutinasi (Haemaglutination-Inhibition Test/HA/HI) dengan teknik mikrotiter baku dan dikonfirmasi dengan uji reverse transcriptase-polymerase chain reaction (RT-PCR) menggunakan primer FNDIFP (5-CCCCGTTGGAGGCATAC-3) dan FNDIBP (5-TGTTGGCAGCATTTTGATTG-3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua sampel kasus ayam bukan ras yang diperiksa positif terinfeksi oleh virus penyakit ND akut. Kajian ini mengindikasikan bahwa penyakit ND di Bali masih bersifat endemis
PROFIL DISTRIBUSI INOS DAN KADAR NO PANKREAS TIKUS DIABETES MELITUS HASIL INDUKSI MLD-STZ PASCA PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL TEMUGIRING (Curcuma heyneana)
Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh ekstrak etanol temugiring terhadap distribusi inducible nitric oxide synthase (iNOS) dan kadar nitrogen oksida (NO) pada pankreas tikus diabetes hasil induksi multiple low dose-streptozotocin (MLD-STZ). Tiga macam dosis ekstrak etanol temugiring, yaitu 36, 72, dan 108 mg/kg bobot badan diberikan secara oral untuk terapi tikus diabetes hasil induksi MLD-STZ. Data distribusi iNOS dan kadar NO dianalisis dengan analisis varians jalur tunggal yang dilanjutkan dengan uji Duncan (=0,05). Hasil analisis menunjukkan bahwa ekstrak etanol temugiring berpengaruh sangat nyata (P0,01) terhadap penurunan distribusi iNOS dan kadar NO pada pankreas tikus diabetes hasil induksi MLD-STZ. Dosis 72 mg/kg bobot badan ekstrak etanol temugiring merupakan dosis optimal untuk terapi tikus diabetes hasil induksi MLD-STZ. Disimpulkan bahwa ekstrak etanol temugiring dapat menurunkan distribusi iNOS dan kadar NO pankreas tikus penderita diabetes melitus
EFEK BUBUK TEMPE INSTAN TERHADAP KADAR MALONALDEHID (MDA) SERUM TIKUS HIPERGLIKEMIK
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh bubuk tempe instan terhadap kadar malonaldehid (MDA) pada serum tikus hiperglikemik. Sebanyak 25 tikus jantan Spraque Dawley umur dua bulan digunakan dalam penelitian ini. Tikus dibagi atas lima kelompok perlakuan yaitu A (normal + diet standar), B (hiperglikemik + diet standar), C (hiperglikemik + 20% bubuk tempe segar), D (hiperglikemik + 20% bubuk tempe instan), dan E (hiperglikemik + 35% bubuk tempe instan). Tikus dikondisikan menjadi hiperglikemik dengan induksi streptozotocin dosis tunggal 45 mg/kg bb intraperitoneum. Diet tempe diberikan selama 8 minggu. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa rata-rata kadar MDA kelompok A; B; C; D; dan E masing-masing adalah 2,16; 3,67; 3,13; 3,08; dan 2,98. Substitusi 35% bubuk tempe instan pada diet standar dapat menurunkan kadar MDA serum tikus hiperglikemik yang paling tinggi
DIAGNOSIS CEPAT VIRUS AVIAN INFLUENZA TIPE A SUBTIPE H5 DARI SPESIMEN LAPANGAN DENGAN METODE ONESTEP SIMPLEX RT-PCR
Virus avian influenza (AI) merupakan virus dengan materi genetik RNA single-stranded sense negatif, beramplop yang termasuk dalamfamili Orthomyxoviridae. Onestep simplex reverse transcriptase-polymerase chain reaction (RT-PCR) merupakan salah satu metode diagnosis yang dapat diandalkan untuk mendeteksi virus AI. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menerapkan metode diagnosis cepat virus AI pada spesimen lapangan secara langsung dari pasar unggas berdasarkan amplifikasi RT-PCR gen M dan H5 dengan metode yang berbasis onestep simplex RT-PCR tanpa melalui proses inokulasi dan propagasi virus AI dalam telur ayam berembrio (TAB). Sebanyak 35 sampel spesimen lapangan dari swab trakea unggas yang berasal dari pasar unggas di Terban, Kotamadya Yogyakarta digunakan dalam penelitian ini. Amplifikasi DNA secara onestep simplex RT-PCR pada gen matriks (M) dilakukan terhadap seluruh sampel. Pada sampel-sampel yang menunjukkan hasilpositif pada amplifikasi gen M kemudian dilakukan amplifikasi RT-PCR secara lebih lanjut untuk gen H5 virus AI. Produk hasil amplifikasi RT-PCR gen M dan H5 divisualisasikan menggunakan elektroforesis gel agarose konsentrasi 1% dengan pewarnaan SYBRSafe DNA Gel Staining. Hasil amplifikasi RT-PCR gen M menunjukkan bahwa dari 35 sampel diperoleh 8 sampel positif terinfeksi virus AI tipe A yang ditunjukkan dengan adanya fragmen DNA sebesar 200 bp, sedangkan hasil amplifikasi gen H5 sebanyak 5 dari 8 sampel-sampel tersebut merupakan virus AI tipe A subtipe H5 yang ditunjukkan dengan adanya fragmen DNA sebesar 545 bp. Diagnosis cepat virus AI tipe A subtipe H5 secara langsung dari spesimen lapangan di pasar unggas dapat dilakukan dengan metode onestep simplex RT-PCR, namun metode diagnosis tersebut tidak dapat mendeteksi keberadaan virus AI dalam sampel yang virusnya terlalu sedikit
ANALISIS FILOGENETIK ISOLAT VIRUS AVIAN INFLUENZA SUBTIPE H5N1 ASAL PROVINSI ACEH
Penelitian ini bertujuan melakukan studi filogenetik virus AI tipe A subtipe H5N1 isolat asal Provinsi Aceh yang dapat memberikaninformasi secara molekuler tentang kekerabatan antar isolat virus AI tipe A subtipe H5N1. Sebanyak 11 isolat virus AI asal Provinsi Aceh yang dikoleksi oleh Laboratorium Virologi Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Regional I di Medan, Sumatera Utara selama kurun waktu 2007-2008 digunakan dalam penelitian ini. Metode penelitian meliputi preparasi sampel isolat virus, ekstraksi RNA, amplifikasi gen H,elektroforesis DNA hasil amplifikasi, sekuensing, dan analisis data hasil sekuensing dengan software MEGA 4.0. Hasil sekuensing diketahui bahwa daerah yang teramplifikasi sebesar 191 bp. Hasil allignment dari nukleotida 191 bp ditemukan urutan nukleotida yang menyandi 5 asam amino yang berbeda pada posisi asam amino ke-493, 498, 499, 504, dan 515 antara isolat virus AI subtipe H5N1 asal Provinsi Aceh selama tahun 2007-2008 dengan isolat dari pembanding dari gene bank. Kontruksi pohon filogenetik menunjukkan bahwa virus AI subtipe H5N1 asal Provinsi Aceh tahun 2007-2008 mengelompok secara terpisah dari isolat Indonesia yang lain, tetapi masih dalam klaster virus AI subtipe H5N1 Indonesia
KINERJA REPRODUKSI KAMBING LOKAL YANG DIINDUKSI SUPEROVULASI DENGAN ANTISERUM INHIBIN
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian antiserum inhibin terhadap kinerja reproduksi kambing lokal. Dalam penelitian ini digunakan 12 ekor kambing betina lokal yang dibagi dalam 2 kelompok, kelompok kontrol dan perlakuan (KI dan KII), masing-masing terdiri atas 5 dan 7 ekor kambing. Seluruh kambing diinjeksi dengan 0,5 ml PGF2 (LutalyzeTM) secara intramuskulus, 2 kali injeksi dengan interval 10 hari. Pada kelompok perlakuan (KII), kambing diinjeksi dengan 500 g antiserum inhibin pada hari ke-9 siklus dan diikuti penyuntikan 0,5 ml PGF2 48 jam kemudian. Inseminasi dilakukan 10 jam setelah awal berahi dan diulang 12 jam kemudian. Parameter yang diamati adalah persentase berahi, kebuntingan, kelahiran, kelahiran kembar, jumlah anak total, dan jumlah anak per kelahiran. Hasil penelitian menunjukkan semua kambing (100%) pada kedua kelompok memperlihatkan berahi. Persentase kebuntingan pada KI dan KII masing-masing adalah 60,0 dan 57,1%. Angka kelahiran KI dan KII masing-masing adalah 100% dan persentase kelahiran kembar masing-masing adalah 0,0 dan 50,0%. Total jumlah anak pada KI dan KII masing-masing adalah 3 dan 6, dan rata-rata jumlah anak per kelahiran masing-masing adalah 1,0 dan 1,5 ekor. Perlakuan dengan antiserum inhibin dapat meningkatkan kinerja reproduksi kambing lokal