Jurnal Kedokteran Hewan - Indonesian Journal of Veterinary Sciences
Not a member yet
    497 research outputs found

    ISOLASI DAN KARAKTERISASI HEMAGLUTININ Staphylococcus aureus PENYEBAB MASTITIS SUBKLINIS PADA SAPI PERAH

    Get PDF
    Dalam penelitian ini isolasi dan karakterisasi hemaglutinin Staphylococcus aureus dilakukan dengan teknik afinitas kromatografKarakterisasi hemaglutinin yang dihasilkan dilajutkan dengan teknik elektroforesis menggunakan metode sodium dodecyl sulphate gelelectrophoresis (SDS-PAGE) dan dilanjutkan untuk melihat pengaruh suhu dan enzim terhadap aktivitas hemaglutinin. Hasil penelitiamenunjukkan bahwa komponen hemaglutinin Staphylococcus aureus yang telah diisolasi memiliki berat molekul 46 kDa. AktivitStaphylococcus aureus dalam meghemaglutinasi hilang pada pemanasan 60 C dan pengaruh enzim proteolitik. Hasil ini mengindikasikabahwa hemaglutinin Staphylococcus aureus adalah protein

    EFEKTIVITAS PENTAGAMAVUNON-0 TERHADAP PENGHAMBATAN EKSPRESI SIKLOOKSIGENASE-2 PADA MODEL KANKER KOLON TIKUS

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan menentukan efektivitas pentagamavunon-0 (PGV-0) terhadap penghambatan ekspresi siklooksigenase-2 (COX-2) pada kanker kolon tikus Wistar. Pada penelitian ini digunakan 20 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi secara acak dalam 4 kelompok perlakuan. Kelompok I merupakan kontrol negatif, kelompok II kontrol positif, kelompok III diberi PGV-0 40 mg/kg BB selama 15 minggu, dan kelompok IV diberi PGV-0 40 mg/kg BB selama 25 minggu. Pemberian PGV-0 dilakukan secara oral dua kali seminggu. Induksi kanker kolon dilakukan dengan cara injeksi subkutan DMH 60 mg/kg BB, satu kali seminggu selama 15 minggu. Pada minggu ke-26, semua hewan coba dieutanasia, kolon difiksasi dalam formalin 10% untuk selanjutnya diamati perubahan makroskopik dan mikroskopik. Penilaian ekspresi COX-2 dilakukan dengan menggunakan metode Dukes stage dan skor imunoreaktivitas (IRS). Hasil penelitian ini memperlihatkan pemberian PGV-0 selama 25 minggu menurunkan jumlah nodul kanker kolon dari 5 ke 2 (berkurang 60%); diameter kanker kolon (pxl) dari 0,712 mm ke 0,0043 mm (berkurang 99,31%). Pemberian PGV-0 selama 15 minggu hanya menurunkan jumlah nodul 10% dan area kanker kolon dari 0,712 mm ke 0,0062 mm (99,07%). Skor imunoreaktivitas COX-2 diekspresikan oleh kelompok III dan IV adalah 4 dan 5. Gambaran histologis dari kolon mendukung hasil di atas. Pemberian PGV-0 efektif menurunkan jumlah dan area nodul kanker kolon melalui penghambatan ekspresi COX-2

    IDENTIFIKASI PROTEIN EPIDERMAL GROWTH FACTOR (EGF) 46 kDa HASIL MATURASI OOSIT SAPI SECARA IN VITRO

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi suatu protein dengan berat molekul 46 kDa yang diduga sebagai epidermal growth factor(EGF) yang diisolasi dari oosit sapi yang telah dimaturasi secara in vitro dengan metode elektroforesis. Ovarium sapi yang berasal dari rumah potong hewan, diaspirasi pada folikel dengan diameter permukaan 5 mm menggunakan spuit dan jarum. Oosit dimaturasi dalam tissue culture medium (TCM) 199 selama 22 jam pada suhu 38,5 C di dalam inkubator CO2. Preparasi protein dengan berat molekul 46 kDa menggunakansodium dodecyl sulphate polyacrilamide gel elektroforesis (SDS PAGE). Berdasarkan perhitungan jumlah regresi dari protein marker, didapatkan 12 fraksi protein yaitu BM 172,7; 153,09; 118,24; 102,43; 89,27; 59,75; 46,41; 43,82; 40,2; 36,06; 23,45; dan 18,42 kDa. Protein dengan berat molekul 46,41 kDa yang tampak pada pita protein dapat diidentifikasi sebagai protein yang diduga EGF yang berperan dalam proses maturasi oosit

    PERAN OVISIDAL HERBAL SERBUK BIJI PEPAYA MATANG DAN ALBENDAZOL TERHADAP DAYA BEREMBRIO TELUR CACING Ascaris suum SECARA IN VIVO

    Get PDF
    Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui pemberian herbal serbuk biji pepaya matang secara oral pada babi ascariasis terhadap dayaberembrio telur cacing pada tinja dan pada uterus cacing yang keluar dari babi yang diobati tersebut. Pada percobaan ini sebanyak 24 ekor babi Landrace betina dengan bobot badan 10-15 kg, umur 15 minggu yang terinfeksi cacing Ascaris suum (A. suum) secara alami, dengan egg per gram (EPG) berkisar 250-2500 butir. Babi tersebut dibagi menjadi empat kelompok perlakuan (P0, P1, P2, dan P3) masing-masing terdiri dari 6 ekor. Kelompok P1 dan kelompok P2 mendapat perlakuan dengan herbal serbuk biji pepaya matang per oral dengan dosis masing-masing 1 dan 3 g/kg bobot badan (P2) selama 3 hari berturut-turut. Kelompok P3 mendapat perlakuan dengan albendazol dosis 0,5 mg/kg bobot badan (Zodalben 0,04 ml/kg bobot badan) sedangkan kelompok P0 bertindak sebagai kontrol tanpa pengobatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengobatan dengan herbal serbuk biji pepaya matang pada babi ascariasis ternyata mampu menurunkan daya berembrio telur cacing dalam tinja babi dan dalam uterus cacing secara efektif sehingga dapat digunakan untuk pengendalian askariasis pada babi

    MENCIT (Mus musculus) GALUR BALB-C YANG DIINDUKSIKAN STREPTOZOTOSIN BERULANG SEBAGAI HEWAN MODEL DIABETES MELITUS

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui persentase peningkatan sel beta Langerhans pankreas yang mengalami nekrosis setelah diinduksistreptozotosin berulang.Tiga puluh ekor mencit jantan galur Balb-c, umur 12-14 minggu dengan bobot badan 30-40 g dikelompokkan menjadi 2kelompok perlakuan.Kelompok I (KI)diberikan pelarut streptozotosin danKelompok II (KII) diberikan streptozotosin dengan dosis 40 mg/kg bbdalam 50 mM natrium sitrat buffer pH 4,5.Semua perlakuan diberikan secara intraperitoneum selama 5 hari berturut-turut. Pemeriksaan kadarglukosa darah dan berat badan dilakukan pada hari ke-0, 7, 14, 21, dan 28 sesudah pemberian perlakuan. Hewan percobaan dari masing-masingkelompok dieutanasiasebanyak 2 ekor pada hari ke-7, 14, 21, dan 28 setelah pemberian perlakuan untuk pewarnaan Gomori. Data pengamatanberat badan adalah42,862,3 vs 32,787,4 gdan kadar glukosa darah puasa 95,892,5 vs 255,7787,60 mg/dl menunjukkan perbedaan yangsignifikan (P0,05) antara kedua kelompok perlakuan, sedangkan persentase sel beta yang mengalami nekrosis antara kedua kelompok perlakuan4,570,47 vs 64,114,10juga menunjukkan perbedaan yang signifikan (P0,05). Induksi dosis rendah streptozotosin secara berulang dapatmenyebabkan peningkatan persentase nekrosis sel beta Langerhans pankreas

    IDENTIFIKASI DAN KARAKTERISASI FENOTIPE Staphylococcus aureus ASAL KASUS BUMBLEFOOT DAN ARTHRITIS PADA BROILER

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan karakterisasi Staphylococcus aureus (S. aureus) yang berasal dari kasus bumblefoot dan arthritis. Dalam penelitian ini digunakan 10 isolat S. aureus yang terdiri atas lima hasil isolasi asal kasus bumblefoot dan lima hasil isolasi asal kasus arthritis pada ayam broiler. Identifikasi S. aureus dilakukan melalui uji fermentasi manitol salt agar (MSA), pewarnaan Gram, uji koagulase, clumping factor, dan uji katalase. Karakterisasi fenotipe S. aureus yang dilakukan meliputi sifat hemolisis pada plat agar darah, sifathidrofobisitas, dan kemampuan hemaglutinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua isolat S. aureus mampu memfermentasi MSA, positif uji koagulase, clumping factor, dan katalase. Staphylococcus aureus mampu menghemolisis plat agar darah dengan memperlihatkan sifat -hemolisin (80%), -hemolisin (10%), and -hemolisin (10%). Semua isolat S. aureus (100%) bersifat hidrofil dan mampu mengaglutinasi sel darah merah kelinci

    GAMBARAN KLINIS SAPI PIOMETRA SEBELUM DAN SETELAH TERAPI DENGAN ANTIBIOTIK DAN PROSTAGLANDIN SECARA INTRA UTERI

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran klinis sapi pyometra sebelum dan setelah diterapi dengan antibiotik dan prostaglandin. Dalampenelitian ini digunakan enam ekor sapi betina yang didiagnosis menderita piometra berdasarkan pemeriksaan secara klinis dan ultrasonografi pada organ reproduksi. Sapi tersebut dibagi ke dalam dua kelompok perlakuan, masing-masing 3 ekor sapi untuk tiap kelompok. Kelompok I diterapi dengan 5 ml antibiotik (gentamicine, flumequine) ditambah 15 ml NaCl fisiologis dan PGF2 (Luprostiol) 12,5 mg secara intra uteri,sedangkan kelompok II diterapi hanya dengan menggunakan antibiotik. Hasil penelitian menunjukkan pada sapi yang didiagnosis piometra ditemukan adanya cairan yang penuh mengisi uterus (100%), korpus luteum persisten pada salah satu ovarium (100%), discharge di sekitar ekor, perineum, dan vulva yang berwarna kuning (50%), krem (33,3%), dan hijau keabu-abuan (16,6%). Sapi yang diterapi dengan antibiotik dan PGF2 menyebabkan pengeluaran leleran yang lebih cepat dan lebih banyak dibandingkan sapi yang diterapi hanya dengan antibiotik

    PENGOPTIMALAN KINERJA MOTORIK PADA PENUAAN FISIOLOGIS DAN PENUAAN AKIBAT STRES OKSIDATIF DENGAN ALANIN-GLUTAMIN DIPEPTIDA DAN HUBUNGANNYA DENGAN PERBAIKAN FUNGSI HIPOKAMPUS

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan membuktikan pengaruh alanin-glutamin dipeptida 7% terhadap perbaikan fungsi hipokampus melalui pengamatanbeberapa parameter kinerja motorik seperti jarak tempuh (JT), waktu stereotipe (WT), waktu ambulatori (WA), dan waktu istirahat (WI). Penelitian ini dilakukan dengan memberikan alanin-glutamin dipeptida 7% selama 12 hari pada tikus umur 12 dan 24 bulan yang mengalami penuaan fisiologis dan penuaan akibat stres oksidatif. Pengamatan terhadap semua parameter kinerja motorik dilakukan dengan alat Opto-Varimex yang dikoneksikan dengan software Autotract. Hasil penelitian menunjukkan alanin-glutamin dipeptida 7% berpengaruh terhadap perbaikan kinerja motorik pada kondisi penuaan fisiologis dan penuaan akibat stres oksidatif

    PROLIFERASI DAN DIFERENSIASI SEL TULANG TIKUS DALAM MEDIUM KULTUR IN VITRO YANG MENGANDUNG EKSTRAK BATANG Cissus quadrangula Salisb. (SIPATAH-PATAH)

    Get PDF
    Penelitian mengenai pengaruh ekstrak batang Cissus quadrangula Salisb. (sipatah-patah) terhadap tingkat proliferasi dan diferensiasi sel-sel tulang tikus (Sprague Dawley) prepuber umur empat minggu menggunakan sistem kultur in vitro. Sel-sel tulang dikultur dalam medium dulbeccos modified eagles medium (DMEM) yang diberi tambahan newborn calf serum (NBCS) 10%, non essential amino acid (NEAA) 10%, NaHCO3, ITS 1 l/ml (mengandung insulin 5 g/ml, transferin 10 g/ml, selenium 5 g/ml; Sigma St Louis USA), dan 50 g/ml gentamisin (mDMEM), dengan dan tanpa ekstrak Cissus quadrangula (CQ). Penelitian terdiri atas lima perlakuan yakni kontrol positif (mDMEM + deksametason 10-8 M), kontrol negatif (mDMEM), dan tiga konsentrasi CQ: mDMEM + CQ 0,3 mg/ml; mDMEM + CQ 0,6 mg/ml; dan mDMEM + CQ 1,2 mg/ml. Kultur dilakukan dalam inkubator CO2 5%, pada suhu 37 C selama tujuh hari. Parameter yang diamati adalah konsentrasi sel, komposisi, diameter osteoblas, dan diameter osteosit. Konsentrasi sel dihitung menggunakan hemositometer Newbauer. Komposisi osteoblas dan osteosit ditentukan berdasarkan pengamatan morfologi di bawah mikroskop cahaya. Diameter sel diukur menggunakan eyepiece micrometer. Data dianalisis menggunakan analisis varians dan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak Cissus quadrangula Salisb. pada konsentrasi 0,3 mg/ml; 0,6 mg/ml; dan 1,2 mg/ml secara signifikan dapat meningkatkan proliferasi sel tulang; dan pada konsentrasi 0,6 mg/ml mampu menginduksi diferensiasi osteoblas menjadi osteosit (P0,05). Disimpulkan bahwa pemberian ekstrak Cissus quadrangula pada konsentrasi 0,6 mg/ml ke dalam medium kultur dapat meningkatkan proliferasi dan diferensiasi osteoblas

    EKSPRESI PROTEIN ADHF36 PADA PERUBAHAN OSMOLARITAS SERTA pH LINGKUNGAN HIDUP SALMONELLA TYPHI SECARA IN VITRO

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengamati stabilitas ekspresi protein AdhF36 Salmonella typhi pada perlakuan osmolaritas dan pH dengan metodeeksperimen laboratorium-eksploratif. Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan ekspresi protein AdhF36 Salmonella typhi pada perlakuan osmolaritas dengan pH. Hasil SDS-PAGE menunjukkan bahwa pita protein AdhF36 tetap terekspresi pada perlakuan osmolaritas 50-350 mM, sebaliknya pita protein ini tidak terdeteksi pada perlakuan pH 4,5-6,0. Hal ini didukung oleh hasil uji Western Blot yang berhasil mendeteksi protein AdhF36 hanya pada perlakuan osmolaritas. Hasil ini membuktikan bahwa Salmonella typhi lebih toleran terhadap perubahan osmolaritas dibandingkan dengan pH

    461

    full texts

    497

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kedokteran Hewan - Indonesian Journal of Veterinary Sciences
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇