Jurnal Kedokteran Hewan - Indonesian Journal of Veterinary Sciences
Not a member yet
497 research outputs found
Sort by
PROFIL LEMAK PLASMA DAN NILAI HEMATOLOGI TIKUS SPRAGUE DAWLEY DENGAN SUPLEMENTASI AMIDA MINYAK IKAN
Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas amida minyak ikan dalam menurunkan konsentrasi kolesterol dan trigliserida plasma danpengaruhnya terhadap nilai hematologi darah. Tiga puluh lima ekor tikus jantan, galur Sprague Dawley, umur 7 minggu dibagi secara acak ke dalam lima kelompok perlakuan. Kelompok kontrol (A) mendapat ransum semi purified yang mengandung 8% minyak jagung. Kelompok perlakuan masing-masing disuplementasi 4,5% minyak ikan (B), 3% minyak ikan+1,5% amida (C), 1,5% minyak ikan+3% amida (D), dan 4,5% amida (E). Ransum perlakuan diberikan selama 6 minggu. Pada akhir penelitian dilakukan pengambilan sampel darah untuk menganalisis nilai hematologi dan profil lemak plasma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi amida minyak ikan dapat mempertahankan jumlah eritrosit dan Hb, namun nilai hematokrit mulai menurun pada suplementasi amida 3% (D), dibandingkan suplementasi minyak ikan (B) dansuplementasi amida 1,5% (C). Jumlah leukosit pada kelompok yang mendapat suplementasi 4,5% amida (E) secara nyata (P0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang diberi minyak ikan (B). Suplementasi amida minyak ikan tidak berpengaruh terhadap konsentrasi kolesterol total dan HDL plasma, namun pada suplementasi 3% amida mulai meningkatkan konsentrasi trigliserida dan LDL plasma secara nyata (P0,05). Disimpulkan bahwa suplementasi amida sebesar 3% mulai memperlihatkan pengaruh negatif terhadap nilai hematologi dan profil lemak plasma
INJEKSI MEDIA KULTUR EMBRIO SUPERNATAN DALAM UTERUS UNTUK MENINGKATKAN ANGKA IMPLANTASI EMBRIO PADA MENCIT
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh injeksi media kultur embrio supernatan ke dalam uterus mencit 2 hari sebelum transfer embrio (TE) terhadap angka implantasi, yang diindikasikan oleh adanya embrio dan leukemia inhibitory factor (LIF) pada uterus. Mencit jenis Swiss Albino dibagi menjadi 2 kelompok yakni kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, masing-masing terdiri atas 30 mencit. Kelompok perlakuan mendapat injeksi media kultur embrio supernatan (MKES) dalam uterus 2 hari sebelum TE sedangkan kelompok kontrol mendapat injeksi media kultur embrio (MKE) dalam uterus 2 hari sebelum TE. Dua hari setelah TE (h6 kebuntingan), mencit diperfusi dengan menggunakan larutan para formaldehid 4% dan diambil uterusnya. Uterus diproses untuk blok parafin dan dipotong dengan mikrotom setebal 5 m. Preparat dideparafinisasi dan diproses imunohistokimia dengan kit ABC dan antibodi LIF. Preparat diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat implantasi embrio, distribusi LIF, dan jumlah LIF di desidua dan non-desidua. Angka implantasi antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol masing-masing adalah 52,77 dan 40,88% (P0,05). Jumlah LIF desidua pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol masing-masing adalah 12,83 dan 8,83 (P0,05) sedangkan jumlah LIF di non-desidua antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol masing-masing adalah 8,00 dan 4,50. Dapat disimpulkan bahwa injeksi media kultur embrio supernatan 2 hari sebelum TE dapat meningkatkan angka implantasi pada mencit
DETECTION OF SAG1 AND BAG1 Toxoplasma gondii DNA PROBES LABELLED WITH DIGOXIGENIN-11-dUTP
The objective of this research was to detect a minimum concentration of the probes that could be used for dot blot hybridization analysis. Themethod required labeled DNA probes. In this study a non-radioactive label of Digoxigenin-11-dUTP was used for labeling the Sag1 and the Bag1 of Toxoplasma gondii DNA probe. Labeling method for the probes was done according to the random primed labeling technique. The result showed that 0.67 pg/l Sag1 probe and 0.58 pg/l Bag1 probe could be detected by anti-Dig-antibody. It could be concluded that 0.67 pg/l Sag1 probe and 0.58 pg/l Bag1 probe could be used to diagnose toxoplasmosis by dot blot hybridization method
PENINGKATAN AKTIVITAS LUTEOLITIK SETELAH PEMBERIAN EKSTRAK VESIKULA SEMINALIS SAPI PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus)
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak vesikula seminalis terhadap penurunan konsentrasi progesteron sertadiameter korpus luteum pada tikus putih. Dalam penelitian ini digunakan 30 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) betina dewasa, galur Wistar, berumur 3-4 bulan dengan berat badan antara 200-250 g dan dibagi atas dua kelompok (K1 dan K2) masing-masing diberi 25 g cloprostenol dan 0,2 cc ekstrak vesikula seminalis secara intravaginal pada hari ke-7 kebuntingan. Tiga ekor tikus masing-masing kelompok dibunuh pada jam ke-0, 3, 6, 12, dan 26. Pemeriksaan progesteron dilakukan menggunakan metode enzymelinkedimmunosorbantassay (ELISA). Konsentrasi progesteron pada kelompok perlakuan PGF2 dan ekstrak vesikula seminalis pada lima periode waktu pengukuran yakni jam ke-0, 3, 6, 12, dan 26 memperlihatkan perbedaan yang signifikan (P0,05). Ekstrak vesikula seminalis mempunyai kemampuan yang sama dengan PGF2 komersial dalam menurunkan diameter korpus luteum yang ditandai secara mikroskopis dengan berkurangnya vaskularisasi darah menuju ovarium (P0,05). Disimpulkan bahwa ekstrak vesikula seminalis mempunyai kemampuan yang lebih baik dibandingkan dengan PGF2 komersial dalam menurunkan konsentrasi progesteron tikus putih dan mempunyai kemampuan yang sama dengan PGF2 komersial dalam menurunkan diameter CL
PROFIL BIOKIMIA DARAH PADA SAPI PERAH YANG MENGALAMI KAWIN BERULANG
Penelitian ini bertujuan mengetahui profil biokimia darah pada sapi perah yang mengalami kawin berulang. Sapi yang digunakan dalampenelitian ini adalah dua puluh ekor sapi perah peranakan Friesian Holstein, berumur 3-8 tahun sudah pernah beranak minimal satu kali, mempunyai siklus reproduksi normal, dan kondisi tubuh sehat. Seluruh sapi dibagi ke dalam dua kelompok yang masing-masing terdiri atas 10 ekor sapi. Kelompok I adalah sapi fertil sedangkan kelompok II adalah sapi yang telah diinseminasi lebih dari tiga kali tetapi belum atau tidak bunting. Profil biokimia darah yang diukur adalah kadar total protein, total kolesterol, glukosa, dan kalsium. Data dianalisis menggunakan t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total protein; total kolesterol; glukosa; dan kalsium pada kelompok I vs kelompok II masing-masing adalah 6,770,38 vs 6,820,821 g/dl (P0,05); 166,0837,06 vs 125,9538,108 mg/dl (P0,05); 68,409,60 vs 48,586,675 mg/dl (P0,01); dan 9,901,43 vs 9,230,94 mg/dl (P0,05). Disimpulkan bahwa sapi-sapi perah yang mengalami kawin berulang mempunyai total kolesterol dan kadar glukosa yang lebih rendah dibanding sapi-sapi perah yang fertil
LEVEL STEROID SAPI ACEH YANG DIINDUKSI DENGAN PREGNANT MARES SERUM GONADOTROPIN (PMSG) DAN FOLLICLE STIMULATING HORMONE (FSH)
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh induksi superovulasi dengan pregnant mares serum gonadothropin (PMSG) dan folliclestimulating hormone (FSH) terhadap peningkatan level steroid sapi aceh. Penelitian ini menggunakan 6 ekor sapi aceh betina dengan status tidak bunting, minimal 2 bulan pasca partus, sudah pernah beranak, dan sehat secara klinis. Sapi dibagi atas dua kelompok, masing-masing 3 ekor untuk tiap kelompok. Pada kelompok I, sapi diinjeksi dengan 1.500 IU PMSG pada hari ke-9 yang diikuti dengan penyuntikan 5 ml prostaglandin pada hari ke-11. Pada kelompok II, hari ke-9 sampai hari ke-12, sapi diinjeksi dengan FSH dua kali sehari (pagi dan sore, 08.00 dan 16.00 WIB) menggunakan dosis bertingkat yakni 3-3, 2-2, 1-1, dan 0,5-0,5 ml. Pada hari ke-11 sapi diinjeksi dengan 2,5 ml prostaglandin (pagi dan sore, 08.00 dan 16.00 WIB). Koleksi darah untuk pemeriksaan estrogen dilakukan ketika sapi memperlihatkan gejala berahi (saat inseminasi) setelah pemberian PMSG dan FSH yang diikuti dengan pemberian prostaglandin (berahi sesudah superovulasi) sedangkan koleksi darah untuk pemeriksaan konsentrasi progesteron dilakukan pada hari ke-7 setelah inseminasi. Pengukuran konsentrasi estrogen dan progesteron dilakukan dengan metode enzymelinkedimmunosorbanassay (ELISA). Konsentrasi estrogen pada saat estrus setelah induksi superovulasi dengan PMSG dan FSH masing-masing adalah 89,462,46 dan 54,62+9,91 pg/ml sedangkan konsentrasi progesteron pada hari ke-7 setelah inseminasi masing-masing adalah 14,782,33 dan 17,405,8 ng/ml. Hormon PMSG mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam meningkatkan konsentrasi estrogen pada saat berahi tetapi hormon FSH mempunyai kemampuan yang lebih baik dibandingkan dengan hormon PMSG dalam meningkatkan konsentrasi progesteron hari ke-7 setelah inseminasi
PEMERIKSAAN PROFIL HORMON PROGESTERON SELAMA SIKLUS ESTRUS TIKUS (Rattus norvegicus) BETINA MENGGUNAKAN PERANGKAT INFRAMERAH
Penelitian ini bertujuan memperoleh profil fluktuasi kadar hormon ovari sepanjang siklus estrus. Sampel darah yang berasal dari sepuluhekor tikus betina diambil selama tiga siklus estrus dan dianalisis menggunakan perangkat inframerah. Kadar progesteron selama tiga siklus memiliki kisaran 6-11 ng/ml pada masa estrus dan meningkat menjadi 32-49 ng/ml pada saat non-estrus
TINGKAT PERKEMBANGAN AWAL EMBRIO SAPI IN VITRO MENGGUNAKAN MEDIA TUNGGAL BERBAHAN DASAR TISSUE CULTURE MEDIUM (TCM) 199
Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan perkembangan awal embrio sapi in vitro menggunakan media tunggal untuk maturasi, fertilisasi, dan kultur berbahan dasar tissue culture medium (TCM) 199. Oosit sapi dikumpulkan dari rumah potong hewan dengan teknik aspirasi dan diklasifikasikan berdasarkan kekompakan sel kumulus dan sitoplasma yang homogen. Oosit dimaturasi pada medium TCM 199 yang disuplementasi dengan 10 IU/ml pregnant mares serum gonadotropin (PMSG), 10 IU/ml human chorionic gonadotropin (hCG), dan 10% fetal bovine serum (FBS), dilakukan selama 24 jam pada inkubator 5% CO2, 39 C. Fertilisasi dilakukan pada dua media yang berbeda yaitu media rutin fertilisasi dan media berbahan dasar TCM 199 dengan suplemen bovine serum albumin (BSA) dan heparin. Setelah fertilisasi, kumulus sel dihilangkan (denudasi), kemudian dikultur pada media TCM 199 yang disuplementasi dengan asam amino esensial dan non-esensial serta 10% FBS selama 3 hari. Hasil penelitian menunjukkan tingkat maturasi oosit pada sistem yang digunakan mampu mendukung 81,5% oosit mencapai tahap metafase II (M-II). Tingkat pembelahan embrio lebih tinggi pada media rutin dibandingkan dengan media TCM 199 yakni masing-masing 44,4 dan 23,2%. Jumlah embrio tahap 4-8 sel pada kedua perlakuan tidak berbeda nyata. Dapat disimpulkan media tunggal berbasis TCM dapat digunakan untuk produksi embrio in vitro
ULTRASTRUKTUR OOSIT KAMBING PASCA KRIOPRESERVASI DENGAN METODE VITRIFIKASI
Tujuan penelitian adalah mengetahui ultrastruktur oosit pasca vitrifikasi menggunakan transmisi elektron mikroskop. Ovarium dikumpulkan dari rumah potong hewan dan oosit dikoleksi dengan cara aspirasi dari folikel menggunakan jarum ukuran 18 G. Setelah dilakukan klasifikasi kualitas oosit, maka oosit yang berkualitas A dimaturasi secara in vitro. Oosit hasil maturasi dipaparkan ke dalam larutan vitrifikasi yang mengandung 30% EG + 0,5 M sukrosa dengan lama waktu paparan 3 menit, oosit dimasukkan ke dalam ministraw 0,25 cc (French straw), kemudian dipaparkan pada uap nitrogen selama 10 detik dan dimasukkan dalam kontainer nitrogen cair. Setelah 3 minggu ministraw diambil dan dilakukan penghangatan (warming) di udara selama 10 detik, dimasukkan dalam waterbath suhu 35 C selama 30 detik. Isi ministraw dituangkan ke dalam cawan petri dan oosit dibilas dua kali dengan sukrosa 0,5 M. Selanjutnya dilakukan pengamatan ultrastruktur oosit dengan transmisi elektron mikroskop. Hasil penelitian menunjukkan oosit hasil vitrifikasi mempunyai zona pelusida yang abnormal (fraktur), mem bran plasma mengalami lisis, beberapa butir korteks mengalami degenerasi dan perpindahan butir korteks di ruang perivitelin. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perubahan ultrastruktur pada oosit setelah vitrifikasi
PERANAN HEMAGLUTININ Staphylococcus aureus DALAM PROSES ADHESI PADA SEL EPITEL AMBING SAPI PERAH
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kemampuan hemaglutinin pada Staphylococcus aureus (S. aureus) dalam proses adhesi. Uji adhesi pada sel epitel ambing dilakukan dengan menggunakan metode Velentine-Weiggand. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa S. aureus yang memiliki hemaglutinin menunjukkan kemampuan adhesi yang jauh lebih baik (380 bakteri/20 sel) dibandingkan dengan yang tidak memiliki hemaglutinin (56 bakteri/20 sel)