Jurnal Kedokteran Hewan - Indonesian Journal of Veterinary Sciences
Not a member yet
    497 research outputs found

    KINERJA REPRODUKSI TIKUS BUNTING AKIBAT PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL PURWOCEN

    Get PDF
    Pada penelitian ini, purwoceng diberikan pada tikus betina bunting umur 1-13 hari dengan tujuan mengetahui bobot badan, ovarium, dan uterus serta mempertahankan titik implantasi yang terbentuk sebelum masa implantasi. Penelitian ini menggunakan 2 kelompok yaitu kelompok tikus bunting kontrol dan tikus bunting yang mendapatkan purwoceng dengan dosis 25 mg/300 g bobot badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok tikus yang diberi purwoceng cenderung memiliki bobot ovarium dan uterus lebih berat dibandingkan kelompok kontrol. Purwoceng juga menyebabkan jumlah titik implantasi tikus hampir mendekati jumlah korpus luteum yang sudah terbentuk, dan ini menunjukkan bahwa keberhasilan implantasi lebih baik pada kelompok tikus yang diberi purwoceng

    PENGARUH EKSTRAK ETANOL DAUN PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban) TERHADAP GAMBARAN DARAH, AKTIVITAS, DAN FUNGSI KOGNITIF TIKUS

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol daun pegagan terhadap gambaran darah dan peningkatan fungsi kognitif pada tikus. Penelitian ini menggunakan 16 ekor tikus Wistar jantan, dibagi secara acak ke dalam 4 kelompok dan masing-masing diberi ekstrak etanol daun pegagan setiap hari dengan level 0, 100, 300, dan 600 mg ekstrak/kg bobot badan selama 8 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak pada level 300 mg/kg bobot badan meningkatkan nilai packed cell volume (PCV), sel darah merah (SDM), dan nilai hemoglobin (Hb). Pengamatan aktivitas pada kelompok dengan level 300 dan 600 mg/kg bobot badan menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan kelompok kontrol (P0,05). Pemberian ekstrak etanol daun pegagan juga berperan dalam meningkatkan keberhasilan pengenalan lorong target. Hasil di atas mengindikasikan dengan kuat bahwa ekstrak pegagan mempunyai peran penting dalam perbaikan profil hematologi dan meningkatkan fungsi kognitif

    PROBIOTIK LOKAL MENINGKATKAN KANDUNGAN IgA USUS HALUS TIKUS YANG DIINFEKSI ENTEROPATHOGENIC E.Coli (EPEC): STUDI IMUNOHISTOKIMIA

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pemberian probiotik lokal Lactobacillus fermentum (L. fermentum) dan Lactobacillus plantarum (L. plantarum) terhadap profil kandungan IgA usus halus tikus yang diinfeksi enteropatogenik E. coli (EPEC) menggunakan teknik imunohistokimia. Sebanyak 90 ekor tikus jantan galur Sprague Dawley digunakan dan dibagi menjadi enam kelompok perlakuan, yaknikelompok kontrol negatif (A), kelompok perlakuan L. plantarum (B), kelompok perlakuan L. fermentum (C), kelompok perlakuan L. plantarumdan EPEC (D), kelompok perlakuan L. fermentum dan EPEC (E), dan kelompok perlakuan EPEC (F). Perlakuan dilaksanakan selama 21 hari. Deteksi IgA dilakukan dengan teknik imunohistokimia pada jaringan usus halus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan probiotik lokalL. fermentum selama 2-3 minggu, dan perlakuan L. plantarum selama 2 minggu mampu meningkatkan kandungan IgA di usus halus tikus. Pada tikus yang dipapar EPEC, L. fermentum lebih baik dalam meningkatkan kandungan IgA dibandingkan L. plantarum

    EFEK PEMBERIAN HORMON PREGNANT MARES SERUM GONADOTROPIN (PMSG) SEBELUM KAWIN TERHADAP GAMBARAN DARAH MERAH INDUK DOMBA SELAMA PERIODE KEBUNTINGAN

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian hormon PMSG sebelum kawin terhadap gambaran darah merah induk domba bunting. Sebanyak 14 ekor induk domba bunting dengan kisaran bobot badan antara 20-25 kg dikelompokkan ke dalam dua kelompok, masing-masing terdiri atas 7 ekor domba. Perlakuan pertama terdiri atas induk domba bunting hasil perkawinan alami tanpa diberikan hormon PMSG (P0) dan perlakuan kedua terdiri atas induk domba bunting yang diberikan 125 IU PMSG (PG 600, Intervet, Holland) sebelum dikawinkan (P1). Sebelum diberikan hormon PMSG, domba penelitian diserentakkan berahinya dengan menyuntikkan 10 mg/ekor prostaglandin (PGF2, LutalyseTM, Pharmacia Upjohn Company, Pfizer Inc.) sebanyak dua kali dengan interval sebelas hari. Penyuntikan hormon PMSG dilakukan bersamaan dengan penyuntikan hormon PGF2 yang kedua. Domba betina yang estrus dikawinkan secara alami dengan pejantan yang telah diseleksi. Pada hari ke-30 setelah dikawinkan, dilakukan pemeriksaan kebuntingan dan jumlah fetus dengan menggunakan ultrasonografi (USG). Sampel darah untuk pemeriksaan jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin, dan nilai hematokrit diambil pada periode kebuntingan bulan ke-1, 2, 3, 4, dan 5. Perlakuan hormon PMSG sebelum perkawinan meningkatkan jumlah sel darah merah, nilai hematokrit, dan kadar hemoglobin induk domba bunting. Peningkatan jumlah sel darah merah, nilai hematokrit, dan kadar hemoglobin terjadi pada periode awal kebuntingan dan menurun pada akhir masa kebuntingan

    KOMPETENSI AKTIVASI PROTEIN EKSTRAK SPERMATOZOA PADA OOSIT M-II KAMBING BERDASARKAN ANALISIS PROFIL INTENSITAS KALSIUM (Ca+2)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi profil ekstrak spermatozoa (ES) dengan sodium dodecyl sulfate-polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE) elektroforesis dan mempelajari potensi ES dalam aktivasi M-II oosit. Kedua isolat protein total ES (2,5 g/ml) serta protein spesifik 100 kD (1,98 g/ml) disuplemensikan dalam medium aktivasi tissue culture medium (TCM)-199 stok. Intensitas Ca+2 diamati dengan fluo-3 menggunakan confocal laser scanning microscope (CLSM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi ES dan 100 kD protein menghasilkan oosit teraktivasi (cleavage) masing-masing 43,75 dan 2,00%. Intensitas Ca+2 menunjukkan adanya variasi dan pola yang berbeda, yakni intensitas fluoresen lebih tinggi pada oosit teraktivasi

    IDENTIFIKASI PROTEIN PENENTU IMPLANTASI EMBRIO PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus)

    Get PDF
    Penelitian dengan tujuan mengidentifikasi protein penentu implantasi embrio pada tikus Wistar (Rattus norvegicus) dilakukan sebagai upayaeksplorasi agen imunokontrasepsi baru untuk regulasi fertilitas hewan liar. Hewan uji yang digunakan adalah tikus Wistar betina dewasa kelamin dengan bobot badan berkisar 280-300 g. Tikus dibagi dalam dua kelompok, satu kelompok sebagai kontrol (tidak dikawinkan) sedangkankelompok lain adalah kelompok yang dikawinkan. Tikus dipelihara dan dikawinkan dalam kondisi laboratorium yang terkontrol. Kebuntingan ditentukan dengan adanya vaginal plug pada tikus betina setelah dikawinkan. Protein diisolasi dari sampel uterus yang diambil pada umur kebuntingan 3-5 hari. Isolasi dan separasi protein dilakukan berdasarkan manual dan standar protein produk Bio-Rad. Hasil penelitian menunjukkan pita protein yang terekspresi pada hari ke-4 kebuntingan dengan berat molekul berkisar 45 kDa diduga leukemia inhibitory factor

    KAJIAN RISIKO Campylobacter sp. PADA AYAM PANGGANG

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan analisis kuantitatif risiko mengonsumsi ayam panggang apabila terjadi salah penanganan. Proses pemanggangan yang digunakan pada penelitian ini menggunakan suhu dan waktu komersial yaitu 150 C selama 30 menit. Simulasi penambahan kultur Campylobacter sp. 106 cfu/ml sebelum dilakukan pemanggangan dilakukan untuk mengetahui angka reduksi Campylobacter sp. Model probabilitas digunakan untuk memperkirakan variabilitas data yang digunakan pada penelitian ini adalah model beta poisson. Hasil yangdiperoleh adalah terjadi penurunan jumlah mikroorganisme sebanyak 2 log cfu/gram dan peluang sakit bagi manusia yang mengonsumsi daging ayam yang dipanggang berkisar antara 9 dari 1.000 manusia

    IDENTIFIKASI GOLONGAN DARAH DAN KEMUNGKINAN HUBUNGANNYA DENGAN WARNA RAMBUT PADA KUCING DOMESTIK INDONESIA (Felis familiaris)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui distribusi penyebaran golongan darah A, B, dan AB dan mengetahui kemungkinan hubungan antaragolongan darah dengan kemunculan pola warna rambut pada kucing domestik di Indonesia. Pada penelitian ini digunakan 50 ekor kucing domestik yang berasal dari daerah Bogor dan Bekasi. Pemeriksaan golongan darah kucing dilakukan dengan identifikasi golongan darah dengan kit antibodi monoklonal Shigeta(Jepang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua kucing domestik yang diteliti bergolongan darah A dan tidak diperoleh tanda-tanda adanya hubungan antara golongan darah dengan warna rambut. Terdapat sembilan kemunculan warna rambut yang terdiri atas warna tunggal, kombinasi dua warna, dan kombinasi tiga warna

    ASOSIASI POLIMORFISME GENETIKA LOKUS DEOXYNUCLEIC ACID (DNA) MIKROSATELIT GEN BOVINE LYMPHOCYTE ANTIGEN (BoLA) DENGAN KUALITAS SEMEN PADA SAPI BALI

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan informasi dasar mengenai struktur genetika menggunakan marka melokuler DNA mikrosatelit gen bovine lymphocyte antigen (BoLA) dan hubungannya dengan kualitas semen sapi bali. Data diambil dari 8 ekor sapi jantan yang ada di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Inseminasi Buatan, Baturiti, Tabanan, Bali. Hasil pemeriksaan kualitas sperma menunjukkan bahwa volume semen sapi bali 3,0-6,5 ml, konsentrasi spermatozoa 800-11.000 juta sel/ml, dan persentase spermatozoa motil 70-75%. Hasil penelitian pada sapi bali menunjukkan bahwa ketiga lokus mikrosatelit yang digunakan teramplifikasi pada sapi bali dan jumlah alel pada lokus RM185 dan BM1815 adalah 2 sedangkan jumlah alel pada lokus DRB3 adalah 1. Heterozigositas per lokus berkisar 0-0,533. Nilai PIC per lokus antara 0-0,375. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ukuran alel pada ketiga mikrosatelit berpotensi sebagai marka molekuler yang berperan terhadap kualitas semen pada sapi bali

    RESPONS ANTIBODI AYAM PETELUR YANG DIBERIKAN PROTEIN EKSKRETORI/SEKRETORI DAN DITANTANG DENGAN TELUR INFEKTIF Ascaridia galli

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui respons antibodi dalam serum ayam petelur terhadap ekskretori/sekretori, dan ditantang dengan telur infektif Ascaridia galli (A. galli) Sebanyak 12 ekor ayam dibagi dalam empat kelompok. Kelompok pertama adalah ayam yang tidak diimunisasi dan tidak diinfeksi (kontrol), kelompok kedua adalah ayam yang diimunisasi dengan dosis 260 g ekskretori/sekretori larva A. galli, kelompok ketiga adalah ayam yang diinfeksi dengan dosis 1000 telur infektif A. galli, dan kelompok keempat adalah ayam yang diimunisasi dengan dosis 260 g ekskretori/sekretori dan satu minggu kemudian ditantang dengan dosis 1000 telur infektif A. galli. Respons antibodi pada masing-masing kelompok dianalisis dengan uji enzymelinkedimmunosorbantassay (ELISA) setiap satu minggu selama 10 minggu pascainfeksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa imunisasi dan atau infeksi dapat memicu peningkatan titer antibodi serum secara signifikan (P0,05) selama 10 minggu pascainfeksi. Titer tertinggi adalah 2,631,20 OD (optical density) dicapai pada minggu ke-3 pascainfeksi dan titer terendah adalah 1,510,48 OD pada minggu ke-0. Ekskretori/sekretori dapat memicu respons antibodi serum ayam petelur terhadap A. galli

    461

    full texts

    497

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kedokteran Hewan - Indonesian Journal of Veterinary Sciences
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇