Jurnal Kedokteran Hewan - Indonesian Journal of Veterinary Sciences
Not a member yet
497 research outputs found
Sort by
EFEKTIVITAS ENROFLOKSASIN TERHADAP INFEKSI BAKTERI PADA SALURAN PENCERNAAN ULAR SANCA BATIK (Python reticulatus)
Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas enrofloksasin terhadap infeksi bakteri pada saluran pencernaan ular sanca batik (Python reticulatus). Ular yang digunakan berjumlah 10 ekor dan terindikasi klinis mengalami gangguan pencernaan berupa keradangan pada mulut. Sampel yang diambil adalah swab mulut dan kloaka untuk pemeriksaan mikrobiologi berupa isolasi dan identifikasi bakteri pada media brilliant green agar, Mc Conkay agar, triple sugar iron, dan pembiakan isolat murni. Setelah pengambilan sampel semua ular diinjeksi dengan enrofloksasin 5 mg/kg bobot badan, dosis tunggal secara intramuskular anterior. Pengamatan klinis dilakukan hingga semua ular dinyatakan sembuh dari keradangan mulut. Hasil pemeriksaan mikrobiologi menunjukkan adanya bakteri Salmonella sp., E. coli, dan Proteus sp. pada saluran pencernaan ular. Enrofloksasin yang diberikan secara injeksi intramuskular anterior mampu memberikan kesembuhan dalam rentang waktu 4-16 hari setelah pemberian
KONSENTRASI, KEMURNIAN, DAN VIABILITAS SEL LEYDIG HASIL PURIFIKASI DENGAN GRADIEN NYCODENZ DAN KULTUR IN VITRO
Penelitian ini bertujuan isolasi dan purifikasi sel Leydig dengan menggunakan gradien Nycodenz untuk meningkatkan jumlah perolehan selLeydig yang hidup setelah purifikasi dan kultur. Isolasi dan purifikasi sel Leydig dilakukan dengan perlakuan gradien Nycodenz 3 kolom (5, 10, dan 15% sebagai Nycodenz I) dan 5 kolom (4, 8, 10, 12, dan 15% sebagai Nycodenz II) serta gradien Percoll 5 kolom (21, 26, 34, 40 dan 60%) sebagai kontrol. Parameter yang diamati adalah konsentrasi, kemurnian, dan viabilitas sel Leydig setelah isolasi dan purifikasi serta kultur in vitro. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa isolasi dan purifikasi sel Leydig dengan gradien Nycodenz (I dan II) secara nyata (P0,01) menghasilkan konsentrasi sel yang lebih rendah dibandingkan dengan gradien Percoll. Namun penggunaan gradien Nycodenz II c enderungmenghasilkan kemurnian sel yang lebih tinggi (91,40%) dibandingkan dengan Nycodenz I (85,53%). Hasil tersebut tidak berbeda nyata dibandingkan dengan gradien Percoll (92,20%). Viabilitas sel Leydig pada semua perlakuan hampir sama yaitu 98%. Namun demikia n, setelah dikultur selama 3 hari, konsentrasi sel Leydig pada perlakuan Percoll (2,44x106 sel/ml) dan Nycodenz I (3,21x106 sel/ml) secara statistik (P0,05) lebih rendah dan dibandingkan dengan Nycodenz II (3,88x10 6 sel/ml), sedangkan viabilitas sel Leydig setelah dikultur pada gradien Nycodenz I (90,00%) dan Nycodenz II (91,17%) secara sangat nyata (P0,01) menghasilkan viabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan gradien Percoll (82,30%). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan gradien Nycodenz II efektif untuk mempurifikasi sel Leydig dan setelah dikultur menghasilkan konsentrasi dan viabilitas sel yang lebih tinggi dibandingkan dengan gradien Percoll
ISOLASI ANTIBIOTIK REDUKTIOMISIN DARI BAKTERI TERRESTRIAL Streptomyces sp
Penelitian ini bertujuan melakukan isolasi dan penentuan aktivitas mikrobial senyawa bioaktif reduktiomisin dari bakteri Streptomyces sp. Ank181 daratan (terrestrial). Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium kimia organik, Institute of Organic and Biomoleculare Chemistry, University of Goettingen, Germany. Isolat dan subkultur agar bakteri Streptomyces sp. Ank181 diperoleh dari koleksi sampel genus Streptomyces Professor Dr. H. Anke, Institute for Biotechnology and Drug Research, Kaiserslautern, Germany. Struktur reduktiomisin dalam penelitian ini dielusidasi berdasarkan data spektroskopi dan spektrometri massa. Tiga senyawa metabolit sekunder telah berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari bakteri tanah genus Streptomyces sp. Ank181, yaitu reduktiomisin, asam 2,3-dihidroksibenzoat, dan asam indole-3-karboksilat. Hasil uji antimikroba menunjukkan bahwa reduktiomisin bersifat bioaktif terhadap bakteri, jamur dan sitotoksik terhadap Artemia salina
KUALITAS SPERMATOZOA HASIL SEXING MENGGUNAKAN PENGENCER ANDROMED DAN CAUDA EPIDIDYMAL PLASMA-2 (CEP-2) DITAMBAH KUNING TELUR 10%
Penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas spermatozoa setelah sexing dengan gradien albumin (putih telur) menggunakan pengencerandromed dan cauda epididymal plasma-2 (CEP-2) ditambah kuning telur 10%. Pengamatan kualitas spermatozoa meliputi motilitas, viabilitas,abnormalitas, konsentrasi, dan total spermatozoa motil. Gradien albumin dibuat dengan cara mencampur putih telur dengan pengencer andromed atau CEP-2 ditambah kuning telur 10% sehingga menghasilkan konsentrasi putih telur 10, 30, dan 50%. Pengencer andromed menghasilkan motilitas spermatozoa hasil sexing pada lapisan atas yang lebih tinggi daripada pengencer CEP-2 ditambah kuning telur 10%. Pengencer andromed menghasilkan viabilitas, abnormalitas, konsentrasi, dan total spermatozoa motil yang sama seperti pengencer CEP-2 ditambah kuning telur 10%. Pengencer andromed dan CEP-2 ditambah kuning telur 10% dapat mengurangi penurunan kualitas spermatozoa
HUBUNGAN CLONAL METHICILLIN RESISTANT Staphylococcus aureus (MRSA) PADA SAPI DAN MANUSIA
Penelitian ini bertujuan menentukan hubungan clonal methicillin resistance Staphylococcus aureus (MRSA) antara isolat sapi dan manusia.Staphylococcus aureus yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari infeksi kulit manusia di Yogyakarta (10 isolat) dan dari susu sapi perah (11 isolat) yang berasal dari Yogyakarta, Solo, dan Boyolali. Identifikasi bakteri dan uji resistensi S. aureus terhadap methicillin telah dilakukan pada penelitian sebelumnya. Hubungan genetika S. aureus antar isolat sapi dan manusia ditentukan menggunakan teknik single enzyme amplified fragment length polymorphism (AFLP). Hasil penelitian diketahui bahwa berdasar analisis AFLP S. aureus memperlihatkan 15 pola genetika (A sampai O) dan dapat dikelompokkan ke dalam 7 klas (I sampai VII). Staphylococcus aureus isolat asal sapi dari daerah yang berdekatan (Boyolali dan Solo), dapat dikelompokkan dalam 1 klas (kecuali 1 isolat sapi dari Yogyakarta), isolat sapi dan manusia dari Yogyakarta dapat dikelompokkan dalam beberapa klas. Masing-masing klas terdapat isolat S. aureus yang telah resisten terhadap MRSA. Hubungan genotipe S. aureus dalam penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui distribusi clonal antara isolat sapi dan manusia dan dapat digunakan sebagai kontrol adanya infeksi MRSA di Indonesia
PENINGKATAN KUALITAS SEMEN KAMBING BOER DENGAN PEMBERIAN VITAMIN E DAN MINERAL Zn
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penambahan vitamin E dan mineral Zn terhadap kualitas semen kambing Boer. Rancanganyang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yakni P0= tanpa penambahan vitamin E maupun mineral Zn; P1= pemberian vitamin E 50 IU/ekor/hari; P2= pemberian mineral Zn 25 mg/ekor/hari; P3= pemberian vitamin E 50 IU/ekor/hari dan mineral Zn 25 mg/ekor/hari. Penelitian menggunakan 12 ekor kambing berumur 3 tahun, masing-masing perlakuan menggunakan 3 ekor kambing. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian vitamin E dan mineral Zn serta kombinasi keduanya tidak memengaruhi volume semen kambing Boer, tetapi berpengaruh terhadap motilitas dan persentase spermatozoa abnormal (P0,05) dan terhadap persentase spermatozoa hidup (P0,01). Pemberian mineral Zn dan campurannya dengan vitamin E mampu meningkatkan kualitas spermatozoa kambing Boer
PROSPEK SARI BUAH TIN LOKAL (Ficus glumerata Rob) SEBAGAI AGEN PRESERVASI MOTILITAS SPERMATOZOA KAMBING
Penelitian ini bertujuan mengetahui prospek sari buah tin lokal (Ficus glumerata Rob) di dalam pengencer berbasis Tris dan kuning teluruntuk mempertahankan motilitas progresif spermatozoa kambing peranakan Boer yang disimpan pada suhu 4-5 C. Perlakuan yang diberikan adalah perbedaan dosis sari buah tin dalam masing-masing pengencer yakni 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7% (S0, S1, S2, S3, S4, S5, S6, dan S7). Pengamatan motilitas progresif spermatozoa dilakukan segera setelah pengenceran dan setiap 24 jam sampai jam ke-144 setelah pengeceran dan penyimpanan. Persentase motilitas progresifs permatozoa pada kelompok S4 (39,02,33) dan S6 (38,02,49) lebih tinggi dibandingkan S0; S1; S2; S3; dan S5 yakni masing-masing 32,01,86; 30,02,11; 29,01,80; 31,53,66; dan 34,53,02. Persentase motilitas terendah ditunjukkan oleh S7 yaitu 22,03,59. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sari buah tin mampu mempertahankan motilitas progresif spermatozoa kambing dan konsentrasi optimal dicapai pada 4 dan 6%
MOTILITAS DAN VIABILITAS SPERMATOZOA SAPI LIMOUSIN SELAMA PENYIMPANAN PADA REFRIGERATOR DALAM PENGENCER CEP-2 DENGAN SUPLEMENTASI KUNING TELUR
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan kuning telur dalam pengencer CEP-2 terhadap motilitas dan viabilitasspermatozoa sapi Limousin. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 10 kali ulangan dari 10 ejakulat dari sapi yang berbeda. Spermatozoa disimpan selama delapan hari. Motilitas spermatozoa diamati dengan mikroskop cahaya (200x) pada suhu 37 C. Viabiltas spermatozoa diamati dengan pewarnaan eosin-negrosin menggunakan mikroskop cahaya (400x). Hasil penelitian menunjukkan suplementasi kuning telur pada pengencer CEP-2 berpengaruh terhadap motilitas dan viabilitas spermatozoa sapi Limousin selama penyimpanan pada suhu 4-5 C. Konsentrasi kuning telur terbaik adalah 20% dalam mempertahankan motilitas (44,253,92%) dan viabilitas (87,465,40%) spermatozoa sapi Limousin setelah penyimpanan delapan hari pada suhu 4-5 C
EKSTRAK DAUN KESUM (Polygonum minus) MEMPERBAIKI KERUSAKAN PARU MELALUI DITEKANNYA PRODUKSI REACTIVE OXYGEN SPECIES (ROS)
Penelitian ini bertujuan membandingkan efek pemberian fraksi n-heksan, etilasetat, dan metanol dari ekstrak daun kesum dalam memperbaiki kerusakan organ paru akibat paparan benzopirena. Penelitian dilakukan secara in vivo dengan menggunakan hewan model terpapar benzopirena. Pembuatan hewan model kanker terpapar benzopirena dilakukan secara intraperitoneal dengan dosis 200 mg/kg yang dilanjutkan dengan pengobatan menggunakan fraksi n-heksana, etil-asetat, dan metanol dari ekstrak daun kesum. Uji keberhasilan penelitian dilakukan dengan pengukuran kadar malondialdehid (MDA) dan pemeriksaan histologis organ paru dengan pewarnaan hematoksilin-eosin (HE). Kadar MDA tikus kontrol; tikus terpapar benzopirena; tikus terapi fraksi n-heksana; tikus terapi fraksi etil-asetat; dan tikus terapi fraksi metanol masing-masing adalah 8,44; 6,24; 7,21; 8,47; dan 5,27 ppm. Tingkat kerusakan organ paru tikus kontrol, terpapar benzopirena, terapi fraksi n-heksan, terapi fraksi etil-asetat, dan fraksi metanol masing-masing adalah normal (0,728), strong (3,002), light (1,687), moderate (2,600), dan strong (3,060). Fraksi n-heksana merupakan fraksi yang paling bagus dalam memperbaiki kerusakan organ paru hewan model akibat paparan benzopirena
KAJIAN DEOXYRIBONUCLEIC ACID (DNA) BARCODE PADA SPESIES Tarsius bancanus, Tarsius spectrum, DAN Tarsius dianae DENGAN MENGGUNAKAN GEN CYTOCHROME OXIDASE SUB-UNIT I (COX1)
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keragaman genetik gen COX1 pada Tarsius spectrum (T. spectrum), Tarsius dianae (T. dianae), dan Tarsius bancanus (T. bancanus). Sampel yang digunakan adalah 4 sampel jaringan T. spectrum asal Sulawesi Utara, 1 sampel jaringan T. dianae asal Sulawesi Tengah, 2 sampel jaringan T. bancanus asal Lampung, dan 3 sampel jaringan T. bancanus asal Kalimantan. Selanjutnya dilakukan isolasi deoxyribonucleic acid (DNA), amplifikasi dengan teknik polymerase chain reaction (PCR), pengurutan, dan data dianalisis menggunakan program MEGA v. 5.0. Hasil amplifikasi diperoleh produk PCR sebesar 1633 pasang basa (pb), hasil pengurutan DNA ditemukan 240 situs nukleotida dan 16 situs asam amino yang berbeda. Jarak genetika menggunakan Kimura-2 parameter paling tinggi 16,1%, paling kecil 0%, dan rata-rata 8,3%. Pohon filogenetika menggunakan metode Neighbor joining berdasarkan urutan nukleotida dan asam amino COX1 dapat membedakan antara T. bancanus, T. spectrum, dan T. dianae, namun tidak dapat membedakan antara T. bancanus asal Kalimantan dan T. bancanus asal Lampung