Jurnal Kedokteran Hewan - Indonesian Journal of Veterinary Sciences
Not a member yet
497 research outputs found
Sort by
PERUBAHAN KUALITAS SPERMATOZOA DAN JUMLAH SEL-SEL SPERMATOGENIK TIKUS YANG TERPAPAR ASAP ROKOK
Penelitian ini bertujuan mengetahui efek asap rokok terhadap perubahan kualitas spermatozoa dan jumlah sel-sel spermatogenik. Penelitian
ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan asap rokok 10 batang/ekor/hari selama 2,5 jam dalam smoking chamber
terhadap 24 ekor tikus jantan yang dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing 6 ekor dalam tiap kelompok. Kelompok P1 adalah kelompok yang
tidak diberi perlakuan (kontrol), P2 adalah kelompok yang dipapar asap rokok selama 20 hari, P3 adalah kelompok yang dipapar asap rokok
selama 40 hari, P4 adalah kelompok yang dipapar asap rokok selama 60 hari. Parameter yang diamati adalah kualitas spermatozoa dan jumlah
sel-sel spermatogenik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaparan asap rokok dapat menurunkan konsentrasi spermatozoa dan viabilitas
spermatozoa serta meningkatkan abnormalitas spermatozoa. Disimpulkan bahwa pemaparan asap rokok 10 batang/ekor/hari menyebabkan
penurunan kualitas spermatozoa dan jumlah sel-sel spermatogenik yang tidak kembali ke kondisi normal setelah proses penyembuhan
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN KARI (Murraya koenigii) TERHADAP Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Pseudomonas sp.
Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri, konsentrasi efektif, dan pengaruh peningkatan konsentrasi ekstrak etanol daun kari (Murraya koenigii) terhadap daya hambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Pseudomonas sp. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi agar. Parameter yang diukur adalah besarnya diameter daya hambat yang terbentuk di sekitar kertas cakram. Hasil uji aktivitas antibakteri dianalisis dengan metode one way anova dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak 12,5; 25; dan 50% telah memberikan aktivitas daya hambat pertumbuhan bakteri uji. Konsentrasi efektif yang dapat menghambat bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli pada konsentrasi 50%, sedangkan bakteri Pseudomonas sp. pada konsentrasi 12,5; 25; dan 50%. Peningkatan konsentrasi ekstrak daun kari menunjukkan semakin luas diameter zona hambat pertumbuhan bakterinya. Penghambatan yang terjadi pada bakteri Staphylococcusaureus, Escherichia coli, dan Pseudomonas sp. tersebut, membuktikan bahwa daun kari mengandung senyawa aktif yang bersifat antibakteri, seperti flavonoid, fenol, alkaloid, dan saponin
BRIGHTNESS-MODE EKOKARDIOGRAFI DOMBA JAWA JANTAN EKOR TIPIS
Penelitian ini bertujuan mencitrakan jantung domba jawa ekor tipis (DET) secara ekokardiografi. Domba ekor tipis jantan sebanyak lima ekor dengan berat 14-16 kg berumur 10-12 bulan digunakan dalam penelitian ini. Domba dipegang dan dibaringkan pada meja khusus tanpa sedasi ataupun pembiusan. Organ jantung domba dicitrakan menggunakan ultrasonografi brightness-mode (B-mode). Transduser cembung dengan frekuensi 2,5-4 MHz digunakan untuk mencitrakan jantung pada posisi right parasternal (RPS) view dan left parasternal (LPS) viewdengan posisi long axis (LAx) dan short axis (SAx). Hasil pencitraan ekokardiografi menunjukkan bahwa bagian-bagian dari organ jantung yang tersusun atas cairan terkesan anechoic, sedangkan bagian yang tersusun atas jaringan lunak terkesan hypoechoic dengan derajat ekogenisitas yang bervariasi. Bagian-bagian struktur jantung dapat dibedakan menurut ruang jantung atrium kanan, ventrikel kanan, atrium kiri dan ventrikel kiri. Bagian-bagian jantung yang dapat dicitrakan seperti septa jantung, otot papilaris, katup jantung semilunaris, katup jantung mitralis, katup jantung trikuspidalis, pembuluh darah vena paru-paru dan aorta. Ekokardiografi B-mode pada organ jantung domba jawa ekor tipis dapat mencitrakan dengan baik struktur ruang, otot, katup dan pembuluh darah besar dengan derajat ekogenisitas yang bervariasi
RESPONS SEL EPITEL USUS (CMT-93) TERHADAP NUTRASETIKAL GALOHGOR
Penelitian ini bertujuan membandingkan pengaruh nutrasetikal galohgor dalam bentuk serbuk (GS) dan ekstrak (GE) terhadap proliferasi, morfologi, dan ekspresi gen Aldh1a2 pada sel epitel usus (CMT-93). Galohgor serbuk (GS) dibuat dengan menghancurkan semua bahan dandikeringkan menggunakan drum-dryer sedangkan GE dibuat dengan mengeringkan semua bahan dengan oven, digiling, dan dimaserasi dengan etanol selama 3x24 jam. Perlakuan didasarkan pada konsentrasi akhir -karoten yang berasal dari GS dan GE masing-masing sebesar 0,5; 1,5; dan 5,0 M dalam larutan medium Dulbecco's Modified Eagle's medium (DMEM) yang dilengkapi serum (10%). Analisis proliferasimenggunakan asai 3-(4,5-dimethylthiazol-2-yl)-2,5-diphenyltetrazolium bromide (MTT), dan ekspresi gen dianalisis dengan reverse transcriptasepolymerase chain reaction (RT-PCR). Hasil penelitian meunjukkan bahwa GE pada konsentrasi tinggi (5,0 M) secara signifikan (P0,05) dapatmenekan proliferasi dan memengaruhi morfologi sel CMT-93. Beta-karoten dalam GE dan GS memengaruhi ekspresi gen Aldh1a2 pada sel epitel usus CMT-9
REVALENSI PORCINE CIRCO VIRUS SECARA SEROLOGIS PADA PETERNAKAN BABI DI BALI
Penelitian ini bertujuan mengetahui seroepidemiologi infeksi porcine circo virus (PCV-2) dua pada peternakan babi di Bali. Pada penelitian ini sampel yang dianalisis sebanyak 295 sampel. Sampel berasal dari peternakan babi rakyat sebanyak 98 dan dari peternakan babi intensif sebanyak 197. Sampel berasal dari delapan kabupaten dari sembilan kabupaten yang ada di Bali. Deteksi antibodi dilaksanakan dengan uji enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dan deteksi virus dilakukan dengan polymerase chain reaction (PCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seroprevalensi antibodi anti-PCV-2 adalah 84,1%, dengan sebaran di peternakan rakyat dan peternakan intensif masingmasing sebesar 70,4 dan 91,2%. Semua peternakan babi intensif menunjukkan antibodi positif. Prevalensi virus PCV-2 di seluruh Bali sebesar 1,7% dengan sebaran pada peternakan rakyat peternakan intensif masing-masing sebesar 3,1 dan 1,0%. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa infeksi PCV-2 pada peternakan babi di Bali bersifat endemis
KONSENTRASI GONADOTROPIN RELEASING HORMONE (GnRH) EKSTRAK OTAK SAPI PERANAKAN FRIESIEN HOLSTEIN BETINA FASE FOLIKULER DAN LUTEAL
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kandungan gonadotropin releasing hormone (GnRH) ekstrak jaringan otak sapi dewasa pada fase
folikuler (ovari berfolikel) dan fase luteal (ovari berkorpus luteum). Pada penelitian ini digunakan 2 buah otak sapi perah peranakan Friesien
Holstein (FH) dewasa dengan umur 7-8 tahun yang pada saat disembelih kondisi ovarinya menunjukkan fase folikuler (1 buah otak) dan fase
luteal (1 buah otak). Analisis kandungan GnRH dilakukan dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) indirect. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa konsentrasi GnRH bagian otak sapi pada fase folikuler vs fase luteal berturut-turut untuk bagian otak parietal lobe of
cerebral hemisphere, corpus callosum, thalamus, hipothalamus, pituitary gland (hipofise), midbrain, cerebellum, pons, dan medulla oblongata
masing-masing adalah 260 vs 270, 110 vs 170, 230 vs 320, 1590 vs 1310, 840 vs 1250, 530 vs 810, 200 vs 480, 230 vs 100, dan 220 vs 70 g/ml.
Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa semua bagian otak sapi yang diamati mengandung GnRH dengan konsentrasi yang berbeda antara fase
folikuler dengan fase luteal
SEBARAN GLYCOCONJUGATE PADA SEL EPITEL OVIDUK KANCIL (Tragulus javanicus)
Penelitian ini bertujuan mengetahui distribusi glycoconjugate yang terekspresi pada sel epitelium oviduk kancil (Tragulus javanicus). Dalam
penelitian ini digunakan satu oviduk kancil yang berasal dari satu ekor kancil b etina dewasa berumur lebih dari satu tahun. Sampel difiksasi
dengan larutan Bouin dan diproses menurut standar histologi sampai menjadi blok parafin dan dipotong dengan ketebalan 5 m. Jenis lektin yang
digunakan adalah biotinylated (Con A, PNA, RCA, UEA I, dan WGA) dengan dosis masing-masing sebanyak 15 g/ml. Hasil penelitian
diketahui bahwa glycoconjugate dengan residu gula galaktosa, glukosa, manosa, N-asetilgalaktosamin, N-asetilglukosamin, fukosa, dan asam
sialat ditemukan pada bagian apikal sel epitel dan di dalam sitoplasma. Glycoconjugate dengan residu gula N-asetilgalaktosamin merupakan
glycoconjugate yang paling banyak ditemukan di bagian apikal sel epitel dan di dalam sitoplasma dibandingkan dengan glycoconjugate dengan
residu gula lainnya
APLIKASI FOURIER TRANSFORM INFRARED (FTIR) DAN PENGAMATAN PEMBENGKAKAN GENITAL PADA SPESIES PRIMATA, LUTUNG JAWA (Trachypithecus auratus) UNTUK MENDETEKSI MASA SUBUR
Penelitian ini bertujuan mengetahui gugus fungsi penanda yang merepresentasikaan hormon metabolit E1C dan PdG serta bilangan gelombangnya pada urine yang didukung dengan pengamatan genitalia untuk memastikan pendeteksian masa subur pada lutung jawa (Trachypithecus auratus). Sampel urine dan pengamatan genitalia diperoleh dari 2 (dua) ekor lutung jawa betina di Pusat Primata Schmutzer, Kebun Binatang Ragunan, Jakarta. Sampel urin diambil setiap hari dan dilengkapi dengan pengamatan genitalia. Hasil menunjukkan bahwa gugus fungsi penanda yang merepresentasikan E1C dan PdG pada lutung jawa sama dengan yang teridentifikasi pada tikus namun dengan bilangan gelombang berbeda. Hormon metabolit E1C direpresentasikan melalui gugus fungsi alkil, aromatik, dan hidroksil pada bilangan gelombang 596 cm-1, 698 cm-1, 3599 cm-1, dan PdG direpresentasikan melalui gugus fungsi alkil dan aldehid pada bilangan gelombang 1450 dan 1699 cm-1. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa gugus fungsi penanda yang teridentifikasi oleh fourier transform infrared (FTIR) dapat berlaku secara universal, namun bilangan gelombang yang merepresentasikannya bersifat spesifik spesies
AKTIVITAS GLIAL FIBRILLARY ACIDIC PROTEIN PADA OTAK MARMUT (Cavia porcellus) SEBAGAI MODEL PENYAKIT ALZHEIMER DENGAN DEPLESI HORMON TESTOSTERON
Penelitian ini bertujuan mengarakterisasi marmut sebagai hewan model untuk penyakit Alzheimer dengan mengamati histopatologis otak dan aktivitas seluler glial fibrillary acidic protein (GFAP) pada otak yang diakibatkan oleh deplesi hormon testosteron. Dua belas marmut dibagi dua kelompok berdasarkan umur, yaitu enam marmut umur 16-32 bulan dan enam marmut umur 32-48 bulan. Deplesi testosteron dilakukan dengan cara kastrasi. Dua marmut dari setiap kelompok dinekropsi untuk koleksi sampel otak pada waktu satu, tiga, dan lima bulan setelah kastrasi. Bagian otak yang diambil adalah korteks, lobus parietalis, temporalis, dan hipokampus. Sampel otak dilakukan evaluasi patologis dengan pewarnaan hematoksilin dan eosin dan immunohistokimia dengan antibodi GFAP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deplesi testosteron dapat menyebabkan kerusakan otak yang ditandai oleh kematian sel neuron, peningkatan aktivitas sel-sel glia dan ekspresi GFAP pada jaringan otak.Kesimpulan penelitian adalah penurunan kadar testosteron dalam plasma darah menyebabkan terjadinya kematian sel neuron dan peningkatan aktivitas sel-sel glia pada otak
ANALISIS MIKROBIOLOGI SUSU KAMBING PERANAKAN ETTAWA (PE) DARI KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA
Tujuan penelitian ini mengetahui kualitas mikrobiologi susu kambing mentah yang diambil langsung dari ambing. Dalam penelitian ini
digunakan 50 sampel susu kambing peranakan Ettawa (PE). Sampel dianalisis terhadap total plate count (TPC), jumlah Staphylococcus sp.,
jumlah koliform, Escherichia coli (E. coli), dan Salmonella sp. berdasarkan reaksi biokimia. Rerata untuk TPC; Staphylococcus sp.; total
koliform masing-masing adalah 1,65x10
3
; 5,75x10
3
; 1,3x10 cfu/ml, sedangkan E. coli dan Salmonella sp. adalah negatif. Berdasarkan Standar
Nasional Indonesia (SNI) No 01-6366-2000 tentang persyaratan susu segar, maka TPC, koliform, E. coli, dan Salmonella sp. memenuhi standar,
sedangkan Staphylococcus sp. melebihi ambang batas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa susu kambing mentah yang diambil langsung dari
ambing masih layak konsumsi