Jurnal Kedokteran Hewan - Indonesian Journal of Veterinary Sciences
Not a member yet
497 research outputs found
Sort by
EVALUASI KIT DETEKSI CEPAT TERHADAP SAMPEL OTAK ANJING TERINFEKSI VIRUS RABIES
Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi kit deteksi cepat Anigen rapid test kit rabies Ag dalam mendeteksi virus rabies pada sampel otakanjing yang diperoleh dari lapangan yang meliputi batas deteksi, kecepatan reaksi, uji reaksi silang, uji sensitivitas, dan spesifisitas. Batas deteksi ditentukan dengan pengenceran secara serial kontrol positif virus rabies dan selanjutnya diuji dengan rapid test kit sesuai petunjuk produsen. Uji reaksi silang dilakukan dengan canine parvovirus, Escherichia coli, dan Salmonella sp. Uji sensitivitas dan spesifisitas dilakukan terhadap sampel otak yang telah dikonfirmasi positif rabies dengan uji fluorescent antibody technique. Konfirmasi uji rapid test tersebut dilakukan dengan reverse transcriptase polymerase chain reaction. Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Anigen rapid test kit rabies Ag mampu mendeteksi sampel yang mengandung virus rabies dengan titer 0,5 x log 106,5/0,03 ml, dengan rata-rata kecepatan reaksi 1,8 menit 29,35 detik (kurang dari 2 menit). Di samping itu Anigen rapid test kit rabies menunjukkan tidak terdapat reaksi silang dengan canine parvovirus, Escherichia coli, dan Salmonella sp. serta mempunyai sensitivitas 92,30% dan spesifisitas 97,90
GAMBARAN INVOLUSI UTERUS KAMBING KACANG (Capra sp.) BERDASARKAN PENGAMATAN DENGAN ULTRASONOGRAFI TRANSKUTANEUS
Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran involusi uterus kambing kacang berdasarkan pengamatan dengan ultrasonografi (USG) transkutaneus. Hewan yang digunakan adalah 1 ekor kambing kacang betina pascapartus dengan status melahirkan normal dan melahirkan satu ekor anak. Kambing diperiksa dalam posisi berbaring (lateral recumbency). Pengamatan involusi uterus dilakukan setiap hari, dimulai dari hari pertama pascapartus sampai tidak ada lagi pengurangan diameter lumen kornua uterus. Pada hari pertama sampai hari ke-7, gambaran karunkula (hypoechoic), lokia (anechoic), lapisan miometrium, dan endometrium (hypoechoic) yang dipisahkan oleh lapisan pembuluh darah (anechoic) terlihat jelas dengan diameter lumen kornua uterus menurun dari 87,6 menjadi 52,8 mm. Pada hari ke-8 diameter lumen 45,4 mm menurun menjadi 38,4 mm pada hari ke-14. Lokia dan lapisan miometrium masih terlihat sedangkan lapisan pembuluh darah dan karunkula sudah tidak terlihat. Pada hari ke-15 diameter lumen 35,5 mm menurun menjadi 19,3 mm pada hari ke-20 dengan lapisan uterus, lokia, lapisan pembuluh darah, dan karunkula sudah tidak terlihat. Ukuran diameter lumen kornua uterus mengalami penurunan setiap hari dan berhenti mengalami penurunan pada hari ke-20 dengan diameter 19,3 mm. Penelitian ini memperlihatkan bahwa proses involusi uterus kambing dapat diamati dengan metode USG transkutaneus
DETEKSI VIRUS AVIAN INFLUENZA SUBTIPE H5N1 DI BEBERAPA PASAR UNGGAS HIDUP DALAM WILAYAH PROVINSI JAWA BARAT SEKITARNYA
Pada penelitian ini dilakukan identifikasi virus avian influenza (AI) subtipe H5N1 pada unggas dan lingkungan pasar untuk mengetahui peran pasar sebagai sumber penularan virus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengambilan sampel swab kloaka unggas dan lingkungan di beberapa pasar di wilayah Jawa Barat dan Tangerang. Sampel selanjutnya dilakukan isolasi ribonucleic acid (RNA) dan dilakukan reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) dengan menggunakan primer AI subtipe H5N1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa virus AI/H5N1 terdeteksi pada unggas dan lingkungan pasar. Disimpulkan bahwa pasar dapat menjadi sumber penularan virus AI subtipe H5N1 terhadap unggas lainnya
PENGARUH IMPLANTASI POROUS TANTALUM BERLAPIS HIDROKSIAPATIT TERHADAP GAMBARAN DARAH MERAH TIKUS SPRAGUE DAWLEY
Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran darah merah pada tikus yang diimplan porous tantalum berlapis hidroksiapatit. Dalam
penelitian ini digunakan 12 ekor tikus jantan, galur Sprague Dawley, umur 3 bulan yang dibagi dalam tiga kelompok yaitu kelompok kontrol
tanpa implant (K1), kelompok implan porous tantalum (K2), dan kelompok implan porous tantalum berlapis hidroksiapatit (K3). Pengambilan
darah dilakukan melalui vena pada ekor di hari ke-0 sebelum pemasangan implan, ke-14, dan ke-30 setelah pemasangan implan. Pengamatan data
parameter darah merah meliputi jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin (Hb), dan persentase hematokrit. Hasil perhitungan jumlah sel darah
merah, kadar Hb, dan hematokrit menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (P>0,05) pada masing-masing kelompok perlakuan kecuali jumlah sel
darah merah pada kelompok tikus yang yang diimplan dengan porous tantalum tanpa lapis meningkat pada hari ke-30 dan menunjukkan
perbedaan dibandingkan kelompok lainnya (
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN VAKSIN DNA DALAM PAKAN PADA IKAN MAS YANG DIINFEKSI KOI HERPESVIRUS
Penelitian ini bertujuan menentukan frekuensi pemberian vaksin DNA koi herpesvirus (KHV) yang menghasilkan kelangsungan hidup tinggi pada ikan mas yang diinfeksi KHV. Frekuensi pemberian vaksin yaitu vaksinasi satu kali seminggu (K1), vaksinasi dua kali seminggu (K2), vaksinasi tiga kali seminggu (K3), ikan tidak divaksin dan diuji tantang KHV (K4), dan ikan diinjeksi dengan larutan phosphate buffered saline (K5). Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari secara satiasi.Mortalitas pada K1; K2; K3; dan K4 masing-masing adalah 33,335,77; 20,0010,00; 6,67 5,77; dan 43,335,77%, sedangkan kelangsungan hidup relatif (RPS) K1; K2; dan K3 masing-masing adalah 23,0713,32; 53,8423,07; 84,6013,32%. Disimpulkan bahwa pemberian pakan mengandung vaksin DNA anti-KHV dengan frekuensi tiga kali dalam satu minggu efektif meningkatkan kelangsungan hidup ikan mas yang diinfeksi KHV
PERKEMBANGAN EMBRIO SAPI SETELAH FERTILISASI MENGGUNAKAN METODE INTRACYTOPLASMIC SPERM INJECTION (ICSI) DAN AKTIVASI DENGAN STRONTIUM
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh kombinasi intracytoplasmic sperm injection (ICSI) dan aktivasi dengan strontium untuk
mengetahui perkembangan pronukleus dan perkembangan embrio sampai tahap blastosis. Kombinasi ICSI dan strontium 20 mM meningkatkan
perkembangan pronukleus 2-PN mencapai 43,59%. Hasil perkembangan embrio pada perlakuan kombinasi ICSI dan strontium 20 mM mencapai
tingkat perkembangan 2-4 sel (50,5%), 8-16 sel (43,73%), dan blastosis (15,63%). Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah kombinasi ICSI
dengan aktivasi strontium 20 mM mampu menghasilkan perkembangan in vitro embrio sapi yang lebih baik
DINAMIKA OVARIUM SAPI ENDOMETRITIS YANG DITERAPI DENGAN GENTAMICINE, FLUMEQUINE DAN ANALOG PROSTAGLANDIN F2 ALPHA (PGF2) SECARA INTRA UTERUS
Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas pengobatan endometritis dengan menggunakan kombinasi antibiotik (gentamicine,
flumequine) dan analog prostaglandin F2 alfa (PGF2) berdasarkan pengamatan dinamika ovarium dengan metode ultrasonografi (USG). Enam
ekor sapi endometritis dibagi dalam 2 kelompok perlakuan. Kelompok I (K1, n= 3) diterapi dengan 250 mg Gentamicine, 250 mg Flumequine,
dan 12,5 mg PGF2 secara intra-uterus. Kelompok II (K2, n= 3) diterapi menggunakan antibiotik dengan dosis dan cara pemberian yang sama
seperti pada Kelompok I. Hasil pengamatan terhadap sapi-sapi endometritis K1 dan K2 memperlihatkan rataan panjang siklus estrus selama 18
hari. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata (P>0,05) terhadap kelas folikel pada kedua kelompok perlakuan.
Folikel besar (DF) dan folikel besar kedua (SF) pada ke-3 gelombang folikel yang muncul tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata antara K1
dan K2 (P>0,05), tetapi terdapat perbedaan yang nyata (
TINGKAT MATURASI IN VITRO PADA OOSIT SAPI SILANGAN SIMMENTAL PERANAKAN ONGOLE DAN LIMOUSIN PERANAKAN ONGOLE
Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat maturasi oosit sapi Simmental Peranakan Ongole (SimPO) dan Limousin Peranakan Ongole (LimPO) secara in vitro. Oosit dari Ovarium sapi yang berasal dari rumah potong hewan (RPH), dikelompokkan berdasarkan jenis sapi PO (kontrol), SimPO dan LimPO. Oosit diaspirasi dari ovarium dengan syringe 5 ml dan jarum 18 G. Oosit dengan kualitas A dan B yang digunakan dalam penelitian ini. Oosit dikultur dalam media maturasi TCM 199 100 l drop dan dilapisi minyak mineral, diinkubasi pada suhu 38,5 C, CO2 5% dan kelembaban 95% selama 24 jam. Tingkat maturasi in vitro ditentukan dengan pewarnaan aceto orcein 1% untuk melihat tahapan maturasi dengan adanya perubahan konfigurasi kromosom dan membran inti berupa germinal vesicle, germinal vesicle breakdown, metafase I, anafase/telofase I, dan metafase II. Hasil penelitian menunjukkan tingkat maturasi in vitro oosit yang mencapai metafase II dari oosit sapi PO lebih tinggi secara signifikan dibandingkan sapi SimPO dan LimPO
PENINGKATAN TNF- DAN INDEKS APOPTOSIS PADA TULANG MENCIT YANG DIINFEKSI Toxoplasma gondii
Penelitian ini bertujuan mengetahui peningkatan tumor necrosis factor-alpha (TNF-) dan indeks apoptosis pada tulang mencit yang diinfeksi Toxoplasma gondii (T. gondii). Tiga puluh dua ekor mencit dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok 1 (K1), merupakan kelompok kontrol, tidak diinfeksi sedangkan Kelompok 2 (K2) diinfeksi dengan 10 takizoit T. gondii secara intraperitoneal. Enam hari setelah infeksi mencit dikorbankan, diambil tulang femur dan dilakukan pembuatan preparat histologis dengan pengecatan immunohistochemistry (IHC) dan Tunel assay. Hasil penelitian menunjukkan jumlah sel tulang yang mengekspresikan TNF- pada K2 (27,046,92) berbeda sangat nyata dibandingkan dengan K1 (11,423,92). Indeks apoptosis pada K1 dan K2 masing-masing adalah 9,173,04 dan 16,283,37. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa infeksi T. gondii meningkatkan TNF- dan indeks apoptosis sel tulang femur
EVALUASI STATUS VIRULENSI ISOLAT Bacillus anthracis ASALNUSA TENGGARA DAN PAPUA MENGGUNAKAN METODE POLYMERASE CHAIN REACTION MULTIPLEX
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi status virulensi 22 isolat Bacillus anthracis (B. anthracis) asal Nusa Tenggara dan Papua menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) multiplex dengan dua pasang primer nukleotida yang memiliki target amplifikasi gen spesifik pada kedua plasmid. Ektraksi DNA dilakukan dengan metode lisis panas. Pasangan primer PA5 dan PA8 digunakan untuk mengamplifikasi gen pagA pada pXO1, sedangkan pasangan primer 1234 F dan 1301 R mengamplifikasi gen capABC pada pXO2. Hasil reaksi PCR menghasilkan dua pita DNA berukuran sekitar 600 dan 800 bp pada 20 isolat. Namun, dua isolat lain, masing-masing hanya memiliki salah satu dari kedua ukuran pita DNA tersebut. Sebagian besar koleksi isolat asal Nusa Tenggara dan Papua (91%) masih memiliki kedua plasmid secara lengkap (pXO1+/2+) dan karena itu bersifat virulen, sedangkan dua isolat lain (9%) telah kehilangan salah satu plasmid virulennya sehingga bersifat avirulen. Disimpulkan bahwa PCR multiplex dengan dua pasang primer dengan target amplifikasi pada plasmid dapat digunakan untuk evaluasi status virulensi isolat B. anthraci