Jurnal Kedokteran Hewan - Indonesian Journal of Veterinary Sciences
Not a member yet
497 research outputs found
Sort by
DETEKSI BRUCELOSIS PADA SUSU SAPI DENGAN UJI POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR)
Penelitian ini bertujuan mendeteksi brucelosis pada sampel susu sapi dengan uji polymerase chain reaction (PCR) dan membandingkan tingkatsensitivitas dan spesifisitasnya dengan metode milk ring test (MRT). Sebanyak 24 sampel susu sapi yang dikoleksi secara aseptik dari lapang diuji PCR dan MRT. Hasil pengujian menunjukkan bahwa 79,17% (19/24) sampel susu positif brucelosis dengan uji PCR dan 83,33% (20/24) dengan uji MRT. Sensitivitas dan spesifisitas PCR mendeteksi brucelosis masing-masing sebesar 75 dan 100% dibandingkan dengan uji MRT
PENENTUAN AFLATOKSIN B1 PADA MAKANAN OLAHAN KACANG TANAH DENGAN MENGGUNAKAN ENZYME-LINKED IMMUNOSORBENT ASSAY (ELISA)
Penelitian ini bertujuan mengetahui kontaminasi Aspergillus flavus dan konsentrasi aflatoksin B1 pada jenis makanan berbahan baku kacang tanah yang dipasarkan di Banda Aceh. Pengambilan sampel dilakukan di pasar tradisional dan swalayan di Banda Aceh. Sampel diisolasi dan diidentifikasi A. flavus serta dideteksi AFB1 dengan menggunakan metode enzym-linked immunosorbent assay (ELISA). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dari 15 sampel makanan berbahan baku kacang tanah, 73,33% (11 sampel) terkontaminasi aflatoksin B 1 dengan konsentrasi yang bervariasi. Walaupun terkontaminasi aflatoksin B1, namun sebanyak 86,67% sampel makanan berbahan baku kacang tanah masih aman dikomsumsi sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pemerintah yaitu maksimal 20 ppb
GANGGUAN FUNGSI HATI INDUK BUNTING AKIBAT PEMBERIAN KARBON TETRAKLORIDA
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gangguan fungsi hati yang terjadi akibat pemberian karbon tetraklorida (CCl4) pada berbagai tingkatan dosis terhadap induk bunting. Karbon tetraklorida dosis tunggal 0,014 dan 0,14 ml/20 g bobot badan mencit diberikan secara intraperitoneum pada mencit bunting, lalu diamati kerusakan yang terjadi pada hati. Kerusakan hati ditandai dengan peningkatan kadar enzim alanin transaminase (ALT), aspartat transaminase (AST) dalam serum, dan gambaran histopatologi hati. Dibandingkan dengan kont rol, pemberian CCl4 dosis 0,014 ml/20 g bobot badan mengakibatkan peningkatan ALT dan AST, bahkan pada dosis 0,14 ml/20 g bobot badan mengakibatkan induk mati dalam waktu kurang dari 24 jam setelah perlakuan. Gambaran histopatologis sel-sel hati pada kelompok mencit bunting yang mendapatkan CCl4 0,014 ml/20 g bobot badan menunjukkan terjadinya steatosis. Dapat disimpulkan bahwa pemberian karbon tetraklorida pada induk bunting menimbulkan kerusakan seiring peningkatan dosis yang diinduksikan, bahkan berakibat kematian
PEMBERIAN EKSTRAK EPIDIDIMIS BERPOTENSI MENINGKATKAN KUALITAS SPERMATOZOA KAMBING JANTAN LOKAL
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak epididimis (EE) terhadap peningkatan kualitas spermatozoa kambing jantan lokal. Dalam penelitian ini digunakan 12 ekor kambing jantan lokal, berumur 1,5 tahun dengan bobot badan 10-15 kg dan dibagi atas empat kelompok (K0, KP1, KP2, dan KP3). Kelompok K0, hanya diinjeksi dengan NaCl fisiologis sedangkan kelompok KP1, KP2, dan KP3 diinjeksi EE masing-masing 1, 2, dan 3 ml/ekor selama 13 hari berturut-turut. Pada hari ke-14, dilakukan pengambilan semen kambing dengan elektroejakulator dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan kualitas spermatozoa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian EE dengan dosis 1 dan 3 ml/ekor EE selama 13 hari berturut-turut menyebabkan peningkatan kualitas spermatozoa dibanding kelompok kontrol. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa EE berpotensi meningkatkan kualitas spermatozoa pada kambing jantan lokal
TINGKAT FERTILISASI OOSIT DOMBA DARI OVARIUM YANG DISIMPAN PADA SUHU DAN WAKTU YANG BERBEDA SECARA IN VITRO
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh suhu dan waktu penyimpanan ovarium terhadap tingkat fertilisasi oosit secara in vitro pada domba. Ovarium dibawa dari rumah potong hewan (RPH) dalam medium NaCl fisiologis pada suhu yang berbeda yaitu 27-28 C, 36-37 C, dan 4 C. Oosit kemudian dikoleksi dari setiap kelompok berdasarkan waktu penyimpanan yang berbeda yaitu 2-4, 5-7, dan 8-10 jam setelah domba dipotong. Oosit dikoleksi dan dimaturasi secara in vitro dalam inkubator 5% CO2, 38,5C selama 28 jam. Oosit kemudian difertilisasi ke dalam drop spermatozoa selama 14 jam dalam inkubator CO2 5%, 38,5 C. Tingkat fertilisasi dievaluasi berdasarkan jumlah pronukleus yang terbentuk. Tingkat fertilisasi oosit yang dikoleksi dari ovarium yang disimpan pada suhu 27-28 C tidak berbeda dengan tingkat fertilisasi oosit yang disimpan pada suhu 36-37 C dan pada suhu 4 C, 2-4 jam setelah kematian hewan (masing-masing 53; 66,66; dan 63%) (P0,05). Tingkat fertilisasi oosit mulai mengalami penurunan pada tiga kelompok perlakuan setelah ovarium disimpan selama 8-10 jam, tingkat fertilisasi oosit yang disimpan pada suhu 27-28 C; 36-37 C; dan suhu 4 C masing-masing berturut-turut sebesar 9,8; 22,22; dan 12,24%. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa penyimpanan ovarium pada suhu 27-28 C dan 36-37 C selama 5-7 jam dapat mempertahankan kompetensi oosit dibandingkan dengan penyimpanan pada suhu 4 C
EFEKTIVITAS TERAPI RAT BONE MARROW MESENCHYMAL STEM CELL PADA TIKUS (Rattus norvegicus) MODEL TERATOGENIK PARTICULATE MATTER TERHADAP EKSPRESI TNF- , BAX, DAN BCL-2 PLASENTA
Tujuan penelitian ini adalah membuktikan potensi dan efektivitas rat bone marrow mesenchymal stem cell (rbmmsc) sebagai terapi pada kasus teratogenik selama kebuntingan dengan melihat ekspresi tumor necrosis factor (TNF-), Bax, dan Bcl-2. Dua puluh empat ekor tikus bunting model teratogenik dibagi menjadi empat kelompok perlakuan yang berbeda yaitu P1-Kontrol (dipapar carbon black dosis 532 mg/m3 selama 4 jam pada umur kebuntingan ke-6 s/d ke-11 + Injeksi MEM 0,1 ml), P1-Terapi (dipapar carbon black dosis 532 mg/m3 selama 4 jam pada umur kebuntingan ke-6 s/d ke-11 + rbmmsc dengan dosis 1x106 sel/0,1 ml), P2-Kontrol (dipapar carbon black dosis 532 mg/m3 selama 4 jam pada umur kebuntingan ke-6 s/d ke-17 + Injeksi MEM 0,1 ml), P2-Terapi (dipapar carbon black dosis 532 mg/m3 selama 4 jam pada umurkebuntingan ke-6 s/d ke-11 + rbmmsc dengan dosis 1x106 sel/0,1 ml). Data yang didapatkan kemudian dianalisis menggunakan uji MannWhitney. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian terapi rat bone marrow mesenchymal stem cell pada tikus model teratogenikparticulate matter tidak berpengaruh dalam menurunkan parameter ekspresi TNF- dan Bax, serta meningkatkan ekspresi Bcl-2 pada plasenta
DIFERENSIAL LEUKOSIT DAN KETAHANAN HIDUP PADA UJI TANTANG Aeromonas hydrophila IKAN NILA YANG DIBERI STRES PANAS DAN SUPLEMENTASI TEPUNG DAUN JALOH DALAM PAKAN
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek suplementasi tepung daun jaloh (Salix tetrasperma Roxb) (TDJ) dalam pakan terhadap nilai
diferensial leukosit dan ketahanan hidup setelah uji tantang dengan Aeromonas hydrophila pada ikan nila (Oreochromis niloticus) yang dipelihara
pada akuarium diberi peningkatan suhu lingkungan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial 2x4. Faktor pertama adalah
penambahan jumlah tepung daun jaloh dalam pakan yaitu: 0% (P1), 5% (P2), 10% (P3), dan 15% (P4) dari berat pakan dan faktor kedua adalah
suhu air dalam akuarium yaitu 291 C (S1) dan 351 C (S2), sehingga didapat 8 kombinasi perlakuan yaitu: P1S1, P2S1, P3S1, P4S1, P1S2,
P2S2, P3S2, dan P4S2 dengan ulangan 10 ekor ikan per perlakuan. Sebanyak 80 ekor ikan nila dengan bobot badan 40-50 g secara acak dibagi ke
dalam 8 perlakuan. Perlakuan dilakukan selama 30 hari. Pada hari ke 31 dilakukan pengambilan sampel darah dan uji tantang. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa suplementasi pakan dengan TDJ pada konsentrasi 5-15% tidak berpengaruh terhadap nilai diferensial leukosit ikan nila yang
dipelihara pada suhu lingkungan yang berbeda. Suplementasi TDJ dalam pakan sebanyak 5-10% dapat mengurangi kematian ikan akibat infeksi
Aeromonas hydrophila terutama pada suhu 351 C. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ikan nila yang dipelihara pada akuarium
dengan suhu air 351 C dan diberi pakan yang disuplementasi TDJ 5-10% dapat meningkatkan daya tahan tubuh ikan nila
ANALISIS KEMIRIPAN GENETIKA ANTARA KAMBING PERANAKAN ETTAWA HASIL KAWIN ALAM DENGAN INSEMINASI BUATAN BERDASARKAN RAPD
Analisis genetika menggunakan random amplified polymorphic DNA (RAPD) untuk mengetahui kemiripan genetika antara kambing
peranakan Ettawa (PE) hasil inseminasi buatan (IB) dan kawin alam (KA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 20 primer OPA hanya 10
primer yang bisa digunakan untuk mengamplifikasi fragmen deoxyribonucleic acid (DNA) dalam kelompok kambing PE, yang terdiri atas 21
kambing hasil KA dan 19 kambing hasil IB. Berdasarkan profil DNA yang diperoleh dan hasil analisis dengan software numerical taxonomy and
multivariate analysis system (NTSYS) disimpulkan bahwa hubungan genetika antara kambing PE hasil kawin alam dengan inseminasi buatan
adalah sebesar 48% dan dikategorikan rendah
OVSYNCH DAN INSEMINASI BUATAN PADA INDUK KUDA WARMBLOODYANG DIINDUKSI OVULASI DENGAN HUMAN CHORIONIC GONADOTROPIN DOSIS JAMAK
Penelitian ini bertujuan mengamati pola pertumbuhan folikel dan keberhasilan inseminasi buatan dengan semen cair pada induk kuda warmblood yang disinkronisasi estrus dan ovulasi (ovsynch). Induk kuda berjumlah lima ekor berumur 6-18 tahun digunakan dalam penelitian ini. Sinkronisasi estrus dilakukan pada induk kuda yang memiliki korpus luteum berdiameter minimal 3,0 cm dengan injeksi prostaglandin 7,5 mg secara intramuskular. Induksi ovulasi dilakukan dengan memberikan hCG 1500 IU secara intravena 48 jam setelah sinkronisasi estrus dan diulang setiap 24 jam sampai terjadinya ovulasi folikel (dosis jamak) yang diamati dengan ultrasound. Inseminasi buatan dilakukan berulang mengikuti setiap pemberian hCG sampai terjadinya ovulasi dengan dosis inseminasi 1,5x109 spermatozoa. Sinkronisasi estrus dan ovulasi dengan menggunakan hCG dosis jamak menghasilkan ovulatori dominan folikel berdiameter 4,810,92 cm dan korpus rubrum berdiameter 3,820,45 cm serta menghasilkan 60% kebuntingan. Kesimpulan sinkronisasi ovulasi dengan pemberian hCG dosis jamak pada kuda warmblood yang diinseminasi buatan dengan semen cair efektif menghasilkan kebuntingan yang tinggi
DEFORMASI SENDI TARSUS PADA PREPARAT KAKI BELAKANG KUDA DELMAN
Penelitian ini bertujuan mempelajari deformasi sendi tarsus yang mengalami tarsitis kronis. Penelitian ini dilakukan dengan mengamati perubahan ukuran sendi tarsus pada preparat kaki belakang kuda delman dan deformasi skelet sendi tarsus pada kuda delman. Dari hasil penelitian ditemukan adanya pembesaran di bagian medial tarsus kuda dan pembesaran pada lingkar tarsus kuda 3-7 cm dari bentuk normal dengan rata-rata lingkar tarsus kuda delman 23,18 cm dan rata-rata lingkar tarsus pada kuda yang mengalami tarsitis 27,83 cm. Kelainan berupa perlekatan tulang (ankylosis) dan pertumbuhan tulang baru (exostosis) pada permukaan tulang-tulang sendi tarsus kuda. Pada gambaran radiografiditemukan adanya penyempitan ruang sendi, kerusakan permukaan tulang dan pertumbuhan tulang baru yang abnormal. Deformasi yang terjadipada sendi tarsus preparat kaki belakang kuda delman diduga disebabkan oleh aktivitas yang berat semasa hidupnya