Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah
Not a member yet
282 research outputs found
Sort by
Pengaruh Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Potensi Erosi Tanah Di Das Sibau Kabupaten Kapuas Hulu
DAS Sibau merupakan salah satu daerah aliran sungai yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu dengan pola penggunaan lahan yang intensif dan terus mengalami perubahan seiring dengan bertambahnya jumlah dan kebutuhan penduduk. Perubahan penggunaan lahan yang disebabkan oleh aktivitas antropogenik secara umum dapat menyebabkan potensi erosi tanah yang bersifat fluktuatif dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang lainnya. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan dan pengaruhnya terhadap potensi erosi yang ditimbulkan. Penelitian ini menggunakan SIG (System information Geografis) dengan metode USLE (Universal Soil Loss Equation) dengan parameter erosivitas Hujan (R), erodibilitas tanah (K), kemiringan lereng (LS) dan pengunaan lahan (CP), perhitungan potensi erosi yang dilakukan yaitu tahun 2009, 2015 dan 2018. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa penggunaan lahan di DAS Sibau masih didominasi oleh hutan, dengan perubahan lahan terbesar tahun 2009 hingga 2015 yaitu lahan terbuka (245,48%), sedangkan tahun 2015 hingga 2018 yaitu lahan terbuka mengalami penurunan (83,15%), kemudian peningkatan pada kebun campuran (149,45%) dan pertanian lahan kering sebesar (496,74%). Tingkat Bahaya Erosi (TBE) DAS Sibau masih tergolong aman karena didominasi oleh kategori sangat ringan dan ringan
Analisis Polutan Udara (CO, NO2, SO2, PM10, PM2,5 dan TSP) di Industri Galangan Kapal serta Pengaruhnya terhadap Lingkungan Kerja
Galangan kapal merupakan salah satu industri yang memenuhi reparasi bagi kapal-kapal yang melakukan bongkar muat di pelabuhan. Dampak dari aktivitas industri galangan kapal terhadap lingkungan dan kesehatan, ialah partikulat debu dan gas oksida dari proses pengelasan. Penelitian dilakukan untuk menganalisis konsentrasi polutan udara karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO2), sulfur dioksida (SO2), dan partikel material < 10 µm (PM10), partikel material < 2,5 µm (PM2,5) dan total suspended particulate (TSP) serta pengaruhnya terhadap lingkungan kerja. Pengambilan sampel udara dilakukan pada 3 titik sampling, sedangkan pengaruh konsentrasi polutan terhadap lingkungan kerja diperoleh dari wawancara terhadap para pekerja di PT. Kapuas Cahaya Bahari (KACABA). Berdasarkan hasil yang diperoleh, diperoleh bahwa konsentrasi polutan udara di PT. Kapuas Cahaya Bahari (KACABA) masih memenuhi baku mutu udara ambien Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021. Polutan dengan konsentrasi tertinggi adalah karbon monoksida (CO) dan total suspended particulate (TSP) pada titik sampling 2 sebesar 2,66 µg/m3 dan 36,9 µg/m3. Polutan yang paling tinggi pada titik sampling 1 dan titik sampling 3 adalah Total Suspended Particulate (TSP), sebesar 50,40 µg/m3 dan 53,88 µg/m3. Konsentrasi polutan masih di bawah baku mutu sehingga tidak ada pengaruh siginifikan yang dirasakan oleh para pekerja selama bekerja.Kata kunci: galangan kapal, polutan udara, pengaruh kesehatan
Redesain Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan Penambahan Unit Biodigester Skala Komunal Kapasitas 5 m3
IPAL as a wastewater treatment facility from MCK activities in Sindangsari Village has been managed by KSM Amanah since 2013 and is still operating today. This WWTP accepts domestic waste input of 14,656 m3/day from 50 house connections and communal toilets with a total of 200-230 users per day. The management unit in the WWTP uses the DEWATS system which is equipped with a settler, biodigester, and ABR as a multilevel sedimentation and filtration tank. Communal MCK consists of 5 bathrooms and 1 operational room which is still functioning today. The condition of ABR is already filled with mud and there is a lot of garbage in it, so this condition can reduce the effectiveness of the existing WWTPs. For this reason, the domestic liquid waste produced must go through several processing stages so that the content of domestic liquid waste that will be disposed of to the environment is safe or can even be reused and as much as possible provides additional benefits in the form of biogas. The purpose of this study is to evaluate the domestic WWTP used and compare it with the domestic wastewater quality standards listed in the Minister of Environment and Forestry Regulation No. 68 of 2016. In addition, to maintain the MCK facilities that have been built, it is necessary to provide SOP guidance for both users and managers. Keywords: WWTP; DEWATS; domestic waste Abstrak IPAL sebagai fasilitas pengolahan air limbah dari aktivitas MCK di Kelurahan Sindangsari dikelola oleh KSM Amanah sejak tahun 2013 dan masih beroperasi sampai saat ini. IPAL ini menerima masukan limbah domestik sebesar 14,656 m3/hari dari 50 sambungan rumah dan MCK Komunal dengan total pengguna sebanyak 200-230 orang per hari. Unit pengelolaan yang terdapat pada IPAL menggunakan sistem DEWATS yang dilengkapi bak settler (pengendap), biodigester, dan ABR sebagai bak pengendapan bertingkat dan penyaringan. MCK Komunal terdiri dari 5 kamar mandi dan 1 ruang operasional yang masih berfungsi sampai saat ini. Kondisi ABR sudah dipenuhi lumpur dan terdapat banyak sampah di dalamnya sehingga kondisi ini dapat mengurangi efektivitas IPAL yang sudah ada. Untuk itu, limbah cair domestik yang dihasilkan harus melalui beberapa tahapan pengolahan agar kandungan limbah cair domestik yang akan dibuang ke lingkungan aman atau bahkan dapat dimanfaatkan kembali serta sebisa mungkin memberikan manfaat tambahan berupa biogas. Tujuan dari penelitian ini sehingga untuk mengevaluasi IPAL domestik yang digunakan dan dibandingkan dengan baku mutu air limbah domestik yang tercantum pada Permen LHK No. 68 tahun 2016. Selain itu, untuk menjaga fasilitas MCK yang sudah dibangun, perlu diberikan pengarahan SOP baik bagi pengguna dan juga pengelola. Kata Kunci: IPAL, DEWATS, limbah domestik, biogas
Analisis Kesediaan Membayar (Willingness To Pay) Masyarakat Kecamatan Sambas Terhadap Biaya Retribusi Kebersihan
Kecamatan Sambas memiliki permasalahan kebersihan yaitu kurangnya sarana dan prasarana sehingga pelayanan kebersihan belum mencapai wilayah yang memiliki jalan sempit, terutama masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Masyarakat tersebut umumnya tidak membayar retribusi kebersihan di mana merupakan kewajiban setiap masyarakat Sambas dan diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum. Penelitian ini menggunakan metode valuasi non-pasar sebagai salah satu tolak ukur yang dijadikan persepsi dalam pemberian harga pada barang dan jasa yang dihasilkan, konsep ini disebut willingness to pay atau keinginan seseorang membayar jasa, sehingga dapat dijadikan acuan Pemerintah Kabupaten Sambas dalam menentukan harga retribusi sesuai dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dalam membayar retribusi kebersihan, mengestimasi nilai rata-rata Willingness To Pay (WTP) yang dibayarkan oleh masyarakat, dan menganalisis persepsi masyarakat Sambas terhadap pengelolaan sampah. Metodelogi pada penelitian ini dengan menggunakan regresi logistik untuk menganalisis hubungan karakteristik sosial ekonomi masyarakat dengan kesediaan membayar, dan menghitung nilai rata-rata nilai estimasi retribusi kebersihan. Perhitungan biaya retribusi kebersihan responden yang bersedia membayar terdapat pada nilai Rp7.000/rumah sehingga hasil estimasi iuran retribusi sebesar Rp80.509.800/bulan. Faktor sosial ekonomi yang berpengaruh terhadap kesediaan membayar adalah usia, lama tinggal, dan pendapatan.
Hubungan Kondisi Sanitasi Lingkungan dan Perilaku Keluarga dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota Pontianak
Kejadian DBD erat kaitannya dengan faktor sanitasi lingkungan dan perilaku atau kebiasaan keluarga yang dapat menyebabkan perkembangbiakan vektor nyamuk Aedes aegypti dan menjadi masalah penyakit yang selalu terjadi di setiap tahun termasuk di Kota Pontianak yang termasuk daerah endemis DBD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kondisi sanitasi lingkungan dan perilaku keluarga dengan kejadian DBD di Kota Pontianak Tahun 2020. Penelitian ini bersifat observasional dengan desain penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan case control menggunakan teknik total sampling yaitu pengambilan keseluruhan kelompok kasus yang pernah terkena DBD dan untuk pengambilan kelompok kontrol atau yang tidak pernah terkena DBD menggunakan matching dengan perbandingan 1:1 antara kelompok kasus dan kontrol. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji statistik mendapatkan data adanya keterkaitan antara tempat penampungan air (p=0,002), sistem pembuangan sampah (p=0,029), kebiasaan menggantung pakaian (p=0,029), keberadaan jentik nyamuk (p=0,049), kebiasaan penggunaan obat/anti nyamuk (p=0,04) dan tidak ada hubungan antara pencahayaan (p=1,000) dengan kejadian demam berdarah dengue di Kota Pontianak. Dari hasil penelitian diharapkan pihak instansi kesehatan lebih mengintensifkan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan pemeriksaan jentik berkala, dan masyarakat lebih memperhatikan kegiatan PSN secara mandiri dan teratur
Pengaruh Waterfront Terhadap Kondisi Lingkungan Sosial Kelurahan Benua Melayu Laut
Waterfront is a concept to support the availability of open spaces in Pontianak City. Besides functioning ecologically, Waterfront can also function aesthetically and economically so that its existence affects the social environment. One of the most popular Waterfront locations for visitors is the Waterfront in Benua Melayu Laut Ubran Village. The study aims to determine the effect of the Waterfront on the conditions of the social environment in Benua Melayu Laut Urban Village. The analysis used is the frequency distribution and composite index. The results showed that the effect of Waterfront on social environmental conditions was high with an index value of 3.01. This influence can be in the form of a positive or negative influence. Positive influences include increased public awareness of the social environment, increased sense of responsibility in maintaining environmental quality, a high sense of care among fellow citizens and increased cooperation in improving environmental quality and aesthetics. The magnitude of this positive influence can have implications for the comfort and safety of the social environment. Meanwhile, the negative effects that can occur are high conflicts and unfair competition which have an effect on the decline in the social security of the Waterfront Benua Melayu Laut
Pembuatan Pupuk Kompos Cair dari Air Buangan Industri Tahu
Abstract Cleaner production is an environmental processing strategy that is implemented on an ongoing basis to increase eco-efficiency in order to reduce risks to human health and the environment. The tofu industry in its production process produces waste, both solid and water. Disposal of waste directly to water bodies will damage the environment by creating unpleasant odors and the hot temperature of waste water which can affect the growth of aquatic biota. Tofu production produces 150 L of liquid waste from the soaking and filtering process. Meanwhile, 50 kg of solid waste is produced from milling soybeans. Solid waste will be used as animal feed and liquid waste will be processed into liquid compost. Keywords: Tofu Production, Cleaner Production, Liquid Compos, Waste Minimization, Mass Balance. Abstrak Produksi bersih merupakan strategi pengolahan lingkingan yang diterapkan secara berkelanjutan untuk meningkatkan ekofisiensi agar dapat mengurangi resiko terhadapat kesehatan manusia dan lingkungan. Industri tahu dalam proses produksinya menghasilkan limbah, baik padat maupun air. Pembuangan limbah langsung ke badan air akan merusak lingkungan dengan timbulnya bau tidak sedap dan suhu air limbah yang panas dapat mempengaruhi pertumbuhan biota air. Produksi tahu menghasilkan limbah cair sebanyak 150 L dari proses perendaman, dan penyaringan. Sedangkan limbah padat yang dihasilkan sebanyak 50 kg yang berasal dari penggilingan kacang kedelai. Limbah padat akan dijadikan pakan ternak dan limbah cair akan diolah menjadi pupuk kompos cair. Kata Kunci : Industri Tahu, Produksi Bersih, Pupuk Kompos, Minimasi Limbah, Neraca Massa
Analisis Kualitas Air Danau Hanjalutung, Kelurahan Petuk Katimpun, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air Danau Hanjalutung yang berada di Kelurahan Petuk Katimpun, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah dan membandingkan dengan Standar Baku Mutu Air yang ditetapkan oleh Pemerintah yaitu PP No. 82 Tahun 2001 terutama standard kualitas air untuk Kelas II dan Kelas III. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air (parameter fisika dan kimia) seperti pH, Nitrat, Pospat, BOD, COD, TDS, dan TSS masih dibawah standar baku mutu yang ditetapkan oleh Pemerintah yaitu untuk Kelas II dan Kelas III, sedangkan suhu, kecerahan, kedalaman dan DO masih memenuhi satandar baku mutu untuk Kelas II dan Kelas III