Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah
Not a member yet
282 research outputs found
Sort by
Analisa Pengaruh Suhu, Salinitas dan pH Terhadap Kualitas Air di Muara Perairan Belawan
Kualitas air menjadi tolak ukur utama keberlanjutan ekosistem perairan muara baik parameter fisik, kimi, dan biologi air. Diantara parameter lingkungan yang berlaku di muara; suhu, pH, dan salinitas merupakan parameter kunci untuk mngontrol komponen yang ada di kolom air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara suhu, pH, dan salinitas terhadap kualitas air di Muara Belawan. Data yang digunakan pada penelitian ini meliputi data sekunder yaitu data kualitas air dari buku pengelolaan dan pemantauan lingkungan pelabuhan Tahun 2015 hingga 2018. Sedangkan metode yang digunakan untuk menganalisis pengaruh menggunakan metode Pearson Product Moment. Konsentrasi tertinggi yaitu pada daerah dumping untuk sedimen alur pelayaran (stasiun 14) dengan nilai suhu (28,53 °C), pH (7,35), dan salinitas (7,58 ‰). Sedangkan konsentrasi terendah terdapat di bawah jembatan Sungai Deli dengan nilai suhu (28,53°C), pH (7,35), dan salinitas (7,58 ‰). Korelasi yang sangat tinggi yaitu salinitas dan suhu bernilai 0,891 serta salinitas dengan pH bernilai 0,849. Korelasi yang tinggi yaitu pH dan suhu bernilai 0,665. Parameter suhu, ph, dan salinitas saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Perubahan salah satu parameter akan mempengaruhi parameter lainnya dan berdampak pada perubahan kualitas air
Studi Penentuan Lokasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah Tahap Regional Berdasarkan SNI No. 19-3241-1994 dengan Sistem Informasi Geografis di Kecamatan Silat Hilir Kabupaten Kapuas Hulu
Kabupaten Kapuas Hulu memiliki 1 (satu) TPA sampah yang beroperasi, berada di Desa Sibau Hulu, Kecamatan Putussibau Utara. TPA sampah sibau hulu bersistem terbuka sehingga tidak sesuai dengan arahan UU No. 18 Tahun 2008 dan RTRW Kabupaten Kapuas Hulu. Oleh karena itu, Kabupaten Kapuas Hulu membutuhkan TPA sampah baru. Maka perlu dilakukan penelitian untuk menentukan lokasi alternatif TPA sampah baru. Penelitian akan dilakukan di Kecamatan Silat Hilir di Kabupaten Kapuas Hulu dengan jumlah penduduk pada tahun 2021 sebanyak 19.912 jiwa. Penentuan lokasi TPA sampah dilakukan berdasarkan Tahap Regional SNI No. 19-3241-1994 dengan analisis geospasial yaitu Sistem Informasi Geografis berupa aplikasi Arc.Map 10.8. Parameter kriteria regional yang digunakan pada penelitian ini antara lain: 1) ke miringan lereng; 2) potensi banjir; 3) jarak terhadap badan air; 4) jarak terhadap permukiman; 5) kawasan budidaya pertanian; 6) kawasan hutan; dan 7) jarak terhadap perbatasan daerah. Lokasi dianggap layak untuk dijadikan TPA sampah apabila memenuhi keseluruhan parameter tersebut dengan metode kuantitatif binary. Sehingga didapatlah hasil lokasi layak TPA sampah di Kecamatan Silat Hilir seluas 375,33 ha
Perencanaan Instalasi Pengolahan Air Sederhana Untuk Masyarakat Desa Kuala Behe Kecamatan Kuala Behe Kabupaten Kuala Behe
Desa Kuala Behe memiliki IPA IKK dengan kapasitas pengolahan 10 liter/detik dan melayani 1.630 jiwa dari 3.950 jiwa total keseluruhan penduduk yang ada di Desa Kuala Behe. Perencanaan ini diharapkan mampu menghasilkan sebuah rancangan teknologi yang sederhana, pengolahan air yang akan direncanakan berupa pengolahan sederhana skala komunal untuk 100 Kepala Keluarga (KK) non perpipaan. Perencanaan ini bertujuan untuk menentukan metode rancangan tepat guna yang sesuai dengan luas lahan. Kebutuhan air di Desa Kuala Behe ini sebesar 2,5 liter/detik. Hasil analisis menunjukan parameter-parameter yang tidak memenuhi karakteristik diantaranya adalah E. Coli (26 CFU/100 mL), kadmium (0,0558 mg/L), besi (2,4833 mg/L), timbal (0,0956 mg/L), warna (462 Pt-Co Unit), dan TSS (277,8 mg/L) berdasarkan syarat kualitas air bersih Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021 Kelas 1. Instalasi ini direncanakan sesuai dengan SNI 6774:2008, dengan metode pengolahan konvensional lengkap yaitu unit koagulasi menggunakan pengadukan cepat tipe hidrolis yang memanfaatkan gravitasi pada terjunan air, dengan menggunakan koagulan tawas, flokulasi menggunakan vertical baffled channel, sedimentasi menggunakan plate settler, filtrasi menggunakan sistem saringan pasir cepat, desinfeksi menggunakan desinfektan kimia berupa larutan kaporit dan terakhir adalah unit reservoir. Dengan luas lahan yang digunakan 110, 331 m2
Biokonsentrasi Faktor Logam Berat Timbal (Pb) pada Ikan di Pantai Kemiren Cilacap, Jawa tengah
Kegiatan industri di Kabupaten Cilacap seperti pembangkit listrik tenaga uap dan proses kilang minyak bumi yang mayoritas menggunakan batu bara sebagai bahan bakar berpotensi menyumbang limbah padat yang mengandung logam berat seperti timbal (Pb). Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui biokonsentrasi faktor logam timbal pada ikan tongkol, tuna dan kembung di Pantai Kemiren, Cilacap, Jawa Tengah. Sampel air diambil sebanyak 2 liter pada 3 titik lokasi daerah perairan pasang surut Pantai Kemiren. Sampel ikan berupa hasil tangkapan ikan yang terdiri dari 3 jenis ikan konsumsi di TPI Pantai Kemiren, Cilacap. Sampel air dan ikan dianalisis kadar Pb nya dengan Spektroskopi Serapan Atom. Hasil penelitian ini menemukan bahwa air laut di Pantai Kemiren telah mengalami pencemaran timbal dengan konsentrasi rata-rata sebesar 0,213 ppm. Konsentrasi rata-rata logam berat Pb dalam sampel ikan tongkol, tuna dan kembung di TPI Pantai Kemiren berturut-turut adalah 1,585 ppm, 1,561 ppm, dan 0,978 ppm yang memiliki konsentrasi yang cukup tinggi dan melebihi baku mutunya. Nilai biokonsentrasi faktor logam Pb dalam ikan di TPI Pantai Kemiren mengalami penurunan dengan urutan ikan tuna > ikan tongkol > ikan kembung, dimana hasil ketiganya masuk dalam kategori akumulasi rendah
Optimalisasi Penggunaan Pompa Untuk Sistem Penyaliran Tambang PT. Hasindo Mineral Persada
Sistem penyaliran merupakan upaya pengedalian terhadap debit limpasan. Debit limpasan jika tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan banjir area penambangan. Salah satu upaya untuk pengendalian banjir dengan sistem pemompaan. Kegiatan pemompaan untuk mengendalikan volume air di area penambangan, supaya air yang masuk dalam jumlah berlebih tidak membajiri area penambangan yang dapat mengganggu bahkan menghentikan dari aktivitas penambangan. Tujuan dari penelitian adalah analisis optimalisasi sistem pemompaan. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan empiris. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah (1) debit aktual pompa 42,2852m3/jam; (2) Head aktual pompa 7,3218 m; (3) Waktu pemompaan 41,85 jam dengan kebutuhan pompa 4; (4) Efisiensi pompa 21%; (5) Hasil optimalisasi sistem pompa: debit pompa 80m3/jam, head pompa 10,3355 m, waktu pemompaan 22,12 jam dengan kebutuhan pompa unit, efisiensi pompa 56,25%
Pemanfaatan Lempung sebagai Penyumbang Partikel Tersuspensi dalam Pengolahan Air Limbah Rumah Tangga
Household waste is waste originating from kitchens, bathrooms, laundry, former household industrial waste and human waste. Household waste is generated every day and the amount is too much to match the population and has the potential to pollute and poison the environment. Management of household waste in order to reduce the impact on the environment and public health. The method used in this study is a batch system through a coagulation-flocculation process. The first step is by adding chlorine and lime to reduce the color intensity, then clay to increase the content of suspended particles, and adding alum as a coagulant. Coagulant added based on variations and followed by fast stirring at 200 rpm and slow stirring to enlarge the floc. The ratio of coagulant addition is 2:0.3:1:1 and 2:0.5:1:1. Based on the results of the analysis, it was found that domestic waste that has been treated has 2 parameters that comply with regulations, namely BOD and pH. The added coagulant has a less significant impact on the turbidity, TSS, and color parameters. Meanwhile, the BOD and pH values decrease
Adsorpsi Ion Besi Pada Lindi Menggunakan Zeolit Alam Teraktivasi Asam Klorida (HCl)
Lindi merupakan limbah cair dari perkolasi air hujan dengan sel sampah yang mengalir pada aliran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) berlokasi di Batu Layang, memiliki kandungan ion besi yang tinggi. Pada penelitian ini dilakukan penurunan ion besi pada lindi TPA Batu Layang, Kalimantan Barat, menggunakan zeolit alam teraktivasi dengan metode adsorpsi. Zeolit alam diaktivasi dengan HCl 1 M untuk menghilangkan zat - zat pengotor dan meningkatkan kinerja adsorpsi. Karakterisasi adsorben zeolit alam teraktivasi dipelajari dengan menggunakan instrumen Gas Sorption Analyzer (GSA). Penurunan konsentrasi ion besi diukur menggunakan instrumen Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Kondisi optimum adsorben pada variasi waktu kontak 60, 90, 120, 150, dan 180 menit, dan massa adsorben 0,25; 0,5; 0,75; 1 dan 1,25 gram. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik luas permukaan zeolit alam sebelum aktivasi sebesar 0,9808 m2/g dan setelah dilakukan aktivasi yaitu sebesar 2,6398 m2/g. Hasil total volume pori sebelum aktivasi sebesar 0,0054 cc/g dan setelah diaktivasi yaitu sebesar 0,0069 cc/g. Efektivitas penyerapan ion besi pada lindi dengan perbandingan 1 : 25 (g/mL) oleh adsorben zeolit alam teraktivasi pada waktu kontak optimum 60 menit dan massa adsorben 1,25 gram adalah sebesar 50,61%
Dampak Penggunaan Kemasan Guna Ulang Terhadap Pengurangan Sampah Kemasan Sekali Pakai (Studi Kasus Konsumen Layanan Alner di Jakarta)
Penelitian ini menggali potensi penggunaan kemasan guna ulang dalam mengurangi sampah kemasan di Indonesia, dengan fokus pada solusi yang ditawarkan oleh perusahaan rintisan bernama Alner. Dua partisipan dipilih sebagai studi kasus, dan pola konsumsi mereka dianalisis sebelum dan setelah menggunakan sistem kemasan guna ulang Alner. Hasilnya menunjukkan pengurangan signifikan dalam pembuangan sampah kemasan, dengan penghematan hampir 480 gram per bulan atau 5,76 kilogram per tahun untuk setiap partisipan. Dalam skala yang lebih luas, jika 1% populasi Indonesia mengadopsi sistem ini, pengurangan total sampah kemasan bisa mencapai 15.552 ton per tahun. Selain itu, penggunaan kemasan guna ulang juga berpotensi mengurangi emisi CO2 hingga 70-80% dibandingkan dengan kemasan sekali pakai. Kesimpulannya, sistem kemasan guna ulang, seperti yang diaplikasikan oleh Alner, memiliki potensi yang signifikan untuk mengurangi generasi sampah kemasan dan berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Diperlukan dukungan lebih lanjut dari pemerintah, industri, dan konsumen, serta penelitian lebih lanjut untuk mengatasi hambatan dan meningkatkan efektivitas sistem ini dalam konteks spesifik Indonesia
Analisis Kualitas Air Baku dan Kebutuhan Air Bersih Sebagai Dasar Perencanaan Sistem Pengolahan Air Bersih di Desa Sungai Rengas
Desa Sungai Rengas merupakan desa yang mempunyai potensi untuk berkembang karena wilayahnya yang berdekatan dengan Kota Pontianak. Mayoritas penduduk menggunakan air sungai dan air sumur sebagai sumber utama untuk aktivitas sehari-hari, karena hingga saat ini masyarakat Desa Sungai Rengas masih belum menperoleh akses pelayanan air bersih. Tujuan dari perencanaan ini yaitu mengetahui kualitas air baku, menghitung kebutuhan air bersih yang dapat digunakan pada perencanaan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Bersih Desa Sungai Rengas. Metode yang digunakan pada perencanaan ini adalah pengumpulan data sekunder yang bersumber dari BPS Kabupaten Kubu Raya dan Bisnis plant PERUMDA Tirta Raya, pengumpulan data primer berdasarkan (SNI) 6989.57.2008 dan (SNI) 8066 : 2015 serta metode Jar Test. Hasil uji kualitas air Sungai Kapuas yang akan digunakan sebagai air baku, menunjukan bahwa parameter Padatan Terlarut Total (TDS), Padatan Tersuspensi Total (TSS), Derajat Keasaman (pH), dan Total Coliform telah memenuhi standar baku mutu air baku. Sedangkan parameter Warna, Kekeruhan, Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD), Oksigen Terlarut (DO) dan Besi (Fe) belum memenuhi standar baku mutu persyaratan air air baku. Berdasarkan hasil perhitungan debit kebutuhan air bersih pada tahun 2035 pada saat harian maksimum sebesar 77,68 L/det dan debit jam puncak sebesar 101,32 L/det
Evaluasi Strategi Penanganan Permukiman Kumuh Dalam Mendukung Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup Di Kelurahan Karang Anyar Pantai Kota Tarakan
The city of Tarakan is one of the target cities for migrants (urbanists) to live in. The economic limitations of migrant communities and local communities to have decent housing will then trigger the growth of new slum settlements. The aim of the study is to evaluate slum management strategies, identify environmental conditions and reformulate slum management program strategies. The research method uses a qualitative descriptive approach. Research tool with Questionnaire and Laboratory Analysis. The research locus was in 12 RT in the Karang Anyar sub-district, Tarakan City. Communal WWTP wastewater samples, solid waste data, river water and clean water. Data analysis used the Pollution Index, Sanitation Risk Index, Quality Standards and Analytical Hierarchy Process (AHP) methods. The results of the research on the evaluation of slum management strategies with a score of 18 so that they are still in mild slum conditions. There are four aspects of the performance achievement level with the realization of a very high performance achievement rate of above 90%, one aspect of a high performance achievement level of above 76%, and the environmental road aspect with an achievement level of 54.01% is a low level of realization. Results Identification of environmental conditions at inlets, outlets, bodies of water with parameters COD, TSS, Ammonia, Oil and Grease did not meet quality standards and analysis of Pollution Index (Pi) in Light Polluted conditions. The quality of waste management is based on the Sanitation Risk Index (IRS) score for 12 RTs with an average high-risk area. Clean Water Quality with parameters (Total Coliform and E. Coli) results meet drinking water quality standards. From the results of the AHP analysis, the Infrastructure and Facilities Development Strategy is a top priority. Consistency value of 0.05 or <0.1 comparison matrix is consistent