Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology
Not a member yet
453 research outputs found
Sort by
PENGUKURAN KONSENTRASI KLOROFIL-A DENGAN PENGOLAHAN CITRA LANDSAT ETM-7 DAN UJI LABORATORIUM DI PERAIRAN SELAT MADURA BAGIAN BARAT
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi klorofil-a perairan khususnya selat Madura bagian barat melalui citra satelit Landsat ETM 7 yang nantinya akan dibandingkan dengan hasil penelitian lapang dari analisa laboratorium. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2009 sampai Januari 2010. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan cara membandingkan data hasil analisa citra dengan analisa laboratorium. Pengujian akurasi terhadap hasil analisa citra dan laboratorium menggunakan RMS Error, dimana hasil dari RMS Error adalah 0,934664 yang menunjukkan data yang didapat bagus. Sedangkan untuk analisa statistik diuji dengan uji-t, dari hasil uji-t hasil analisa citra dan laboratorium tidak berbeda nyata (P0,05) dengan rata-rata konsentrasi klorofil-a hasil analisa citra 0,03536 mg/m3 dan rata-rata konsentrasi klorofil-a hasil analisa laboratorium 0,42055 mg/m3. Kata Kunci : Klorofil-a, citra Landsat ETM 7, akurasi.This research aimed to understand the chlorophyll-a concentration in the western Madura Landsat ETM 7 satellite imagery and compared with real field and laboratory measurement. Research was done between December 2009-Januari 2010. RMS error result showed that the data obtained from satellite imagery was good. There was no difference image analysis and laboratory result. Keywords: Clorophyll-a, Landsat ETM 7 imagery, Accuracy.
APPLICATION OF REMOTE SENSING IN MANGROVE STUDIES : A LITERATURE REVIEW
In order to assess the extent of the decline of mangrove ecosystems, extensive mapping and monitoring programs are needed. To monitor the change in large-scale coverage of mangrove areas over certain periods of time, remote sensing technology offers many advantages compared to conventional field monitoring. The main benefit of using remote sensing is related to its speed and continuity in collecting space images of a broad area of the Earth’s surface. With the specific application on mangrove studies, remote sensing enables spatial and spectral information to be collected from the mangrove forests environment mostly located in inaccessible areas, where ground measurements become difficult and expensive. This review of the literature emphasizes the application of remote sensing in change detection and mapping of mangrove ecosystems. Key words : mangroves, remote sensing, mapping, field monitoring, continuity In order to assess the extent of the decline of mangrove ecosystems, extensive mapping and monitoring programs are needed. To monitor the change in large-scale coverage of mangrove areas over certain periods of time, remote sensing technology offers many advantages compared to conventional field monitoring. The main benefit of using remote sensing is related to its speed and continuity in collecting space images of a broad area of the Earth’s surface. With the specific application on mangrove studies, remote sensing enables spatial and spectral information to be collected from the mangrove forests environment mostly located in inaccessible areas, where ground measurements become difficult and expensive. This review of the literature emphasizes the application of remote sensing in change detection and mapping of mangrove ecosystems. Key words : mangroves, remote sensing, mapping, field monitoring, continuity
UJI PERBEDAAN SALINITAS TERHADAP DAYA TETAS TELUR (Hatching Rate) KEPITING BAKAU (Scylla serrata)
Mud crabs (Scylla sp.) is one of marine commodities that is profitable. Mangrove crabs are able to hatch and breed within large variety of salinity. One of the main factors affecting hatching rate and also breeding is salinity. This research is aimed to know the effect of salinity to hatching rate of mud crabs. The design used was complete random sampling through three treatments: those are 15%o, 25%o and 30%o with 3 repetitions. Result of this research shows that hatching rate of mud crabs is affected by salinity. Treatment B (25 %o ) is significantly different with treatment A (15%o) and C (30%o). The most appropriate hatching condition is gained from treatment B with average value 91.8%.Keywords: mud crab, Scylla sp, mangrove
UJI AKTIVITAS EKSTRAK TERIPANG PASIR YANG TELAH DIFORMULASIKAN TERHADAP KEMAMPUAN SEX REVERSAL DAN KELANGSUNGAN HIDUP UDANG GALAH (Macrobrachium rosembergii)
Teripang atau Timun laut (Echinodermata) adalah salah satu jenis komoditi laut yang bernilai domestik maupun internasional sub sektor perikanan yang cukup potensial. Salah satu zat bioaktif yang terkandung dalam teripang adalah senyawa steroid. Penelitian ini bertujuan menentukan tingkat efektivitas ekstrak kasar daging teripang yang telah diformulasikan dalam air media pemeliharaan juvenile udang galah terhadap keberhasilan mendapatkan jantan fenotif. Hipotesa yang dipakai pada penelitian ini adalah bahwa masa aktif pemberian ekstrak kasar daging teripang hasil formulasi yang diberikan dalam air media, efektif dapat berpengaruh dalam perkembangan juvenil menjadi jantan fenotif. Metode perendaman dengan dosis ekstrak teripang 10 mg/L, 15 mg/L dan 25 mg/L, dapat menghasilkan populasi jantan lebih tinggi dari kontrol (kontrol negatif/tanpa perlakuan hormon). Kata Kunci : teripang, steroid, jantan fenoti
ASPEK REPRODUKSI LOBSTER (Panulirus sp.) DI PERAIRAN TELUK EKAS PULAU LOMBOK
Purposes of this research are to know some reproduction aspects of lobster, including sex ratio, gonad maturity level, size of first gonad mature, fekundity, and relationship of length-weight some. This research was conducted in June until November 2009 in Ekas Bay. During research 5 lobsters species were obtained, they are Panulirus homarus, P. versicolor, P. ornatus P. penicillatus and P. longiceps, with their of is well-balanced (1:1). Size of first gonad mature of P. homarus at carapace length 77,44 mm that happened during June - November with fekundity 28.000 - 96.000 granule, P. versicolor at carapace length 82,20 mm that happened during June - September with fekundity 16.500 - 71.000 granule, P. ornatus at carapace length 76,74 mm that happened during September - November with fekundity 47.000 - 87.000 granule, P. penicillatus at carapace length 69,84 mm that happened during June - November with fekundity 31.000 - 150.000 granule and P. longiceps at carapace length 68,47 mm that happened in June - August with fekundity 47.000 - 140.000 granule. Relationship of carapace length and body weight of five species, also male and female was described using linier regression equation and have negative allometrict pattern, where accretion of carapace length was quicker than body weight accretion.Keyword : reproduction aspect, lobster, Ekas Ba
ANALISIS PARAMETER FISIKA KIMIA DI PERAIRAN SUMENEP BAGIAN TIMUR DENGAN MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT TM 5
Perairan Sumenep bagian timur rnerupakan perairan yang berhadapan langsung dengan Laut Jawa, Laut Flores dan Selat Madura. Pada Perairan Sumenep bagian timur ini terdapat aktifitas pelayaran. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui parameter fisika kimia perairan menggunakan citra Landsat TM 5 dan mengetahui tingkat keakurasian citra. Metode yang digunakan yaitu membandingkan data hasil analisis lapang dengan hasil pengolahan citra. Uji akurasi menggunakan RMS error digunakan untuk mengetahui tingkat kesalahan data citra dalam memberikan informasi tentang keadaan suatu objek yang ada di lapang. Dari parameter yang diuji, parameter klorofil-a mempunyai tingkat keakuratan yang paling baik dibandingkan dengan 2 parameter lainnya.Kata kunci: akurasi, RMS error, citra landsat, perairan Sumene
PRODUKSI SERASAH (GUGURAN DAUN) PADA BERBAGAI JENIS MANGROVE DI BANGKALAN
This research was conducted on July to September 2009. Mangrove litterfall were trapped with 30 litter traps which were plotted under mangrove canopy 1.5 m above the ground, hence the traps were avoided from tide. In this research, we use Rhizopora mucronata, Rhizopora apiculata and Bruguera sp. 10 litter traps were used on each species. Litter traps were made from polyetilen with size of 1x1x0,5 m3. Mangrove litterfall were collected every two weeks for 3 months. The production rate of mangrove litterfall in Bangkalan were 4.08-18.38 g/tree/day. The fastest production rate of mangrove litterfall was found on Rhizopora mucronata with 64.56%, followed by Rhizopora apiculata and Brugueira sp with 24.32% and 11.12%, respectively. Key Words : mangrove litterfall, Bangkalan, Rhizopora
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii DAN Eucheuma denticullatum TERHADAP BAKTERI Aeromonas hydrophila DAN Vibrio harveyii
Penelitian tentang Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Rumput Laut Kappaphycus alvarezii dan Eucheuma denticullatum Terhadap Bakteri Aeromonas hydrophila dan Vibrio harveyii dilakukan, mengingat banyak dijumpai penyakit pada usaha budidaya ikan dan udang, terutama bakteri Aeromonas hydrophila dan Vibrio harveyii. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas senyawa bioaktif rumput laut K. alvarezii dan E. denticullatum yang diekstrak menggunakan pelarut metanol dan etanol sebagai antibakteri terhadap A. hydrophila dan V. harveyii. Penelitian dilakukan sebanyak dua tahap, yaitu: (1) Uji aktivitas antibakteri ekstrak rumput laut; dan (2) Analisa senyawa bioaktif yang terdapat pada ekstrak rumput laut, dimana masing-masing tahapan dianalisis menggunakan rancangan acak lengkap faktorial. Hasil penelitian menunjukkan, dua jenis ekstrak rumput laut dengan pelarut metanol dan etanol, mempunyai daya antibakteri terhadap A. hydrophila dan V. harveyii. Ekstrak E. denticullatum dengan pelarut metanol memiliki daya hambat lebih luas dibanding ekstrak K. alvarezii dengan pelarut metanol terhadap A. hydrophila (19.43±0,55 mm). Ekstrak E. denticullatum dengan pelarut metanol memiliki daya hambat lebih luas dibanding ekastrak K. alvarezii dengan pelarut metanol terhadap V. harveyii (19.85±0,23 mm). Asam heksadekanoat merupakan senyawa paling dominan dijumpai pada ekstrak rumput laut K. alvarezii, dan E. denticullatum yang diekstrak menggunakan pelarut metanol. Kata Kunci : Aktivitas Antibakteri, Rumput laut K. alvarezii dan E. denticullatum, Bakteri A. hydrophila dan V. harveyii.
STRUKTUR KOMUNITAS DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI PERAIRAN MUARA SUNGAI PORONG SIDOARJO
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas dan kelimpahan fitoplankton dan faktor yang mempengaruhi di perairan muara sungai Porong Sidoarjo. Metode penelitian dilakukan dengan metode deskriptif yang bersifat ex post facto. Analisis sampel air dilakukan di Laboratorium Tanah dan Laboratorium Ilmu Kelautan Universitas Trunojoyo. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa Struktur komunitas fitoplankton yang ada di perairan muara Sungai Porong terdapat 2 kelas yaitu Bacillariophyceae (14 genera) dan Dinophyceae (2 genera) dengan kelimpahan berkisar antara 18.077 sel/L - 29.305 sel/L. Indeks Keanekaragaman menunjukkan kestabilan populasi rendah dengan indeks keseragaman yang rendah sehingga tidak ada dominansi species. Faktor yang mempengaruhi kelimpahan fitoplankton adalah tingkat kecerahan perairan yang rendah akibat tingginya bahan tersuspensi. Kata Kunci : Struktur Komunitas, Fitoplankton, Muara Sungai Porong
PERBANDINGAN FLUKTUASI MUKA AIR LAUT RERATA (MLR) DI PERAIRAN PANTAI UTARA JAWA TIMUR DENGAN PERAIRAN PANTAI SELATAN JAWA TIMUR
Perairan laut di sisi selatan pulau Jawa Timur mempunyai karakteristik dengan topografi dasar laut yang curam, dan gelombang besar, serta berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Sedangkan perairan Int di sisi utara pulau Jawa Tirnur memiliki karakteristik dengan kondisi topografi dasar laut yang lumayan landai dan bergelombang relatif kecil serta berbatasan langsung dengan lain Jawa. Perbedaan dua karakter ini merupakan hal yang menarik untuk diamati, terutama Muka Air Lain Rerata (MLR). Metode admiralty adalah metode perhitungan pasang surut yang digunakan untuk menghitung dua konstanta harmonik yaitu amplitudo dan kelarnbatan phasa. Perhitungan dengan cara admiralty diperoleh konstanta harmonik yang akan dilanjutkan dengan analisa data dengan menggunakan bilangan Formzahl yakni pembagian antara amplitudo konstanta pasang surut harian utama dengan amplitudo konstanta pasang surut ganda utama. Hasil perhitungan bilangan Formzahl ini akan diketahui tipe pasang surut di perairan Perak Surabaya dan perairan Prigi Trenggalek.Perbandingan tipe pasang surut di perairan utara Jawa (Perak Surabaya) dengan perairan selatan Jawa (Trenggalek) menggunakan bilangan Formzahl tidak menunjukkan perbedaan, berdasarkan penelitian ini maka diperoleh tipe pasang surut antara perairan perak surabaya dengan perairan prigi Trenggalek berkisar antara 0.26-1.5 maka tipe pasang surut antara kedua perairan ini adalah tipe pasang surut campuran condong ke harian ganda. Perbandingan fluktuasi Muka Laut Rata-rata (MLR) di perairan utara Jawa Timur (Perak Surabaya) dengan perairan selatan Jawa Timur (Trenggalek) berdasarkan uji analisa Mann Whitney U-Test diperoleh P0.05 maka dapat disimpulkan bahwa nilai MLR di dua lokasi adalah sama nyata, dan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan metode admiralty, fluktuasi Muka Air Laut Rerata (MLR) di perairan Perak Surabaya rata-rata 1237.76 mm sedangkan rata-rata Muka Air Rerata (MLR) di perairan Prigi Trenggalek berkisar antara 1158.3 mm.Kata kunci: Pasang Surut, Admiralty, Mann Whitney U-Tes